Part 3 : Friends and Love

Tittle : Friends and Love
Author : Ichen Aoi a.k.a Kim Seoyeon
School : Horikoshi Gakuen
Cast Boys:
Yuto Nakajima / Yamada Ryosuke / Chinen Yuri / Daiki Arioka / Yabu Kota / Kei Inoo
Cast Girl:
Aoi Amakusa (ichen) / Dizura Hizaki (dinda) / Kazune Akihime (bella) / Ichigo Misaki (any) / Yuki Tachibana (dea) / Hyakka Ameryu (piluu) / Momoyuki Sakurai (dheika)

(Song : My Dear – L’Arc~En~Ciel)

Kazu melihat bekas lukanya dicermin besar dilantai dasar.
“Ahh~ hidung ku jadi begini”
Kazu berjalan dengan kesal sambil menundukkan wajahnya.
*bruk!*
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”
Kazu histeris karena hidungnya yang masih nyut-nyutan itu terlibat insiden tabrakan dengan orang yang belum ia ketahui siapa pastinya. Mendengar teriakan Kazu, Chinen langsung menutup kedua telinganya.
“Kyaaaaaaaaaaaaa!! Hidung ku bisa patah kalau kau tabrak sekasar itu!!”
Kazu terlalu fokus dengan hidungnya yang sekarang jadi serupa hidung rusa natal milik Santa Clause. Chinen meletakkan telunjuknya dibibir Kazu, berusaha membuatnya diam dan berhenti berteriak tidak jelas. Kazu menatap kedepan dengan perlahan. Ia mendapati seorang Yuri Chinen didepannya.
“Hidung mu masih sakit ya?? Mungkin aku bisa bantu mengobati sebagai rasa tanggung jawab ku karena menabrak mu yang sedang terluka begini”
Chinen mengajak Kazu keluar gedung sekolah dan duduk ditaman depan sekolah mereka itu. Ia mengeluarkan sebuah tissue dan sesuatu seperti krim pasta gigi.
“Kau diam sebentar ya. Aku akan membersihkannya dulu dengan alcohol”
Chinen menumpahkan sedikit alcohol ditissue yang ia keluarkan tadi lalu menggosoknya perlahan ke hidung Kazu. Sementara Kazu sendiri sibuk mengatur detak jantungnya yang nyaris copot. Luka membawa berkah, pikir Kazu dalam hati.
“Kalau krim ini dingin kok. Jadi tenang saja”
Chinen tersenyum lalu mengoleskannya dengan perlahan dan proses perawatan selesai.
“Ini kegunaannya apa?” Kazu iseng mencari bahan obrolan.
“Agar tidak bengkak. Mungkin besok sudah sembuh. Kazu, aku duluan ya”
Chinen mengambil ranselnya, tersenyum kemudian sedikit membungkuk dan pergi. Kazu dapat merasakan sesuatu. Dia tidak menyukai seorang Chinen Yuri. Dia bukan juga fans seorang Chinen Yuri. Tapi, dia sangat mencintai Chinen Yuri. Karena masa lalu mereka yang mungkin sudah dilupakan cowok manis itu.
***
(Song : Blurry Ice – L’Arc~En~Ciel)

Kebetulan Yuki satu tempat les dengan Yabu jauh sebelum mereka satu sekolah di Horikoshi Gakuen. Hari ini mereka memiliki jadwal les bersama sehingga ada kesempatan untuk pulang bersama. Yabu memang selalu menunggu Yuki sampai ia menaiki shinkansen. Ia sangat menjaga Yuki dimana pun mereka bersama.
“Senpai! Senpai ambil kelas IPA terus”
“Tentu saja, aku kan mau jadi dokter Hhaa…”
“Kenapa sekarang jadi seorang idola?”
“Hanya iseng”
Yabu tersenyum sambil menyerahkan kopi gelas hangat pada Yuki.
“Payah sekali!”
Yuki membuat ekspresi kesal dengan wajah kembungnya. Sehingga membuat Yabu mencubit kedua pipinya yang menggembung itu.
“Kau ini! Jadi mirip ikan louhan!”
“Nani?!! Seenaknya saja senpai mengatai ku seperti itu! Sungguh tidak berkeprimanusiaan!!”
“Lho? Apa hubungannya??”
Yuki terlanjur kesal. Ia mengalihkan pandangannya kesisi lain. Membuat Yabu merasa bersalah. Akhirnya cowok itu merangkul bahu Yuki. Membuat Yuki sedikit melunak. Sampai shinkansen datang.
“Senpai aku pulang dulu ya”
“Hati-hati ya”
Yabu melambaikan tangannya. Yuki membalasnya sambil tersenyum senang. Bagaimana pun juga, sudah menjadi sebuah kebahagiaan bila harus bersama senior tercinta.
***
(Song : Kaze ni Kienaide – L’Arc~En~Ciel)

“Misa-chan! Hari ini pulang bareng yuk!”
Daiki mengemasi barang-barangnya. Mereka baru saja menyelesaikan tugas penelitian Fisika yang tertunda. Mereka ini satu kelompok kerja.
“Boleh~ kau bawa sepeda?” Misa merapikan tataan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. Ia juga merapikan almamaternya.
“Bawa. Aku meminjamnya dari Takaki-Kun”
“Baiklah tak masalah”
Mereka berdua keluar laboratorium. Lalu berjalan menuju paskiran sepeda. Misa menunggunya didepan gerbang sementara Daiki mengambil sepedanya. Daiki tiba dengan sepeda sambil tersenyum.
“Silahkan tuan putri~”
Ucapan Daiki membuat Misa tersenyum tipis. “Apa sih?”
Daiki hanya menanggapinya sambil tersenyum lebih lebar. Misa pun duduk dibelakang sepeda. Daiki mengayuh sepedanya perlahan sambil menikmati matahari senja dipinggir sungai.
“Misa, kau ingat tidak kalau dulu kita sering bersepeda ditepian sungai ini?”
Misa mendengarkan ucapan Daiki. Ia membiarkan angin menyentuh wajahnya dan memainkan rambut panjangnya itu.
“Tentu saja. Aku juga ingat saat pertama kalinya kau belajar sepeda. Sungguh memalukan. Kau terus terjatuh diatas rerumputan”
“Tapi kau mengajari ku dengan sabar. Makanya sekarang aku bisa mengendarai sepeda dan memboncengi mu seperti ini”
“Daiki, kau selalu membuat ku tersenyum dengan tiap kata-kata mu”
“Sungguh? Senang sekali mendengarnya”
“Hhaa… kenapa?”
“Berarti aku selalu berbuat kebaikan pada mu yang bisa menambahkan tiap catatan kebaikan ku untuk bekal di akhirat nanti”
“Benar juga. ah~ kau diuntungkan dalam hal ini”
Misa tersenyum menatap pemandangan sore itu. Daiki merasa waktu saat itu cukup berharga untuk dilewatkan begitu saja.
“Misa, bisakah kau memeluk ku dari belakang sana?”
“Apa?! Untuk apa?!”
“Sudahlah~ bersiap ya”
“Tunggu!!”
Daiki mengayuh sepedanya secepat mungkin membuat Misa terpaksa harus memeluknya mereka tertawa bersama langit senja dan matahari senja sebagai saksi serta angin yang menerbangkan suara kebahagiaan sepasang sahabat kecil itu.
***
(Song : Honey – L’Arc~En~Ciel)

Yamada mencari Zura dipelosok sekolah. Dan ternyata ia menjumpai siswi itu sedang sibuk didepan kandang kelinci peliharaan sekolah.
“Zura-chan!”
Sapaan Yama membuat Zura menoleh.
“Hei! Ada apa?”
Yama mendekatinya lalu mengelus kepala salah satu kelinci itu.
“Kau sering merawatnya?”
“Iya. Mereka ini manis sekali, aku tertarik merawat mereka”
“Kenapa tidak memelihara kelinci dirumah?”
“Tidah mau. Aku punya pengalaman sedih dengan kelinci ku terdahulu. Jadi aku tidak mau memeliharanya sendirian lagi. Kalau disekolah kan aka nada banyak orang yang merawatnya” Zura memberikan penjelasan panjang lebar.
Yama hanya mengangguk sambil memandangi gadis disampingnya.
“Oh ya, ada keperluan apa mencari ku?” Zura baru ingat untuk menanyakan keperluan Yama.
“Tidak ada. Aku jadi ingin belajar merawat kelinci”
“Boleh saja. Aku akan mengajari mu” Zura tersenyum.
“Kau mau mengajari ku??” Yama tampak tidak percaya.
Zura menjawabnya dengan anggukkan sambil tersenyum meyakinkan. Membuat Yama meninju udara dengan kepalannya.
“Kau kenapa?”
“Tidak. Hanya melemaskan otot tangan”
“Yama-kun, kita tidak akan bekerja berat kok”
Zura menggelengkan kepalanya disambut Yama yang jadi salah tingkah. Akhirnya mereka berdua menghabiskan waktu sore itu dengan merawat tujuh ekor kelinci milik sekolah.
***
(Song : Link – L’Arc~En~Ciel)

Seperti biasa, Hyakka selalu mampir ke kantin sekolah tiap usai jam pelajaran terutama hari ini. Dia harus mengisi perutnya yang kosong karena ia baru saja menguras otaknya untuk mengerjakan makalah penelitian yang sedang jadi proyek ahir tahunnya.
*pluk!*
Seseorang menepuk bahunya pelan. Hyakka menoleh untuk melihat siapa yang sedang mengganggu makan sorenya. Ternyata ia adalah Kei Inoo senpai.
“Hyakka-can!”
Sapanya sambil tersenyum. Hyakka balas tersenyum.
“Senpai duduk saja disitu. Aku sendirian kok”
Hyakka rupanya mengerti maksud Kei yang ingin numpang duduk itu. Kei langsung duduk sambil nyengir dan meminum jus jeruk milik Hyakka.
“Kebiasaan! Beli sendiri donk senpai~”
“Nanti deh ya. Kan Cuma minta sedikit”
Kei tersenyum membujuk Hyakka yang pasang wajah cemberut. Ia mencolek bahu Hyakka, sedikit menggodanya untuk membuat kohai-nya itu kembali tersenyum.
“Iie!!”
“Ahh~ kamu jangan marah beneran gitu donk, Hyakka-chan~”
“Ck!”
Kei mengacak-acak rambut panjang Hyakka yang dikuncir dua.
“Ah!! Senpai!! Kau baru saja merusak tataan rambut ku!!”
Hyakka mengacungkan garpu didepan Kei dengan penuh ancaman. Kei mengelak sambil tertawa. Hyakka malah makin kesal dibuatnya.
“Sabar-sabar. Sebagai tanda permintaan maaf, aku akan mengantar mu pulang dengan shinkansen. Ok?”
Hyakka diam. Mempertimbangkan tawaran Kei senpai.
“Ok!” jawabnya beberapa saat sambil mengangguk. Usai makan, Kei langsung menggandeng Hyakka pulang sambil tertawa-tawa karena sikap kesal Hyakka yang masih dipertahankannya.
***
(Song : Nexus – L’Arc~En~Ciel)

Momo pergi ke Mall Venus untuk mencari dress keluaran terbaru salah satu butik langganannya. Sang pemilik toko sudah sangat hafal dan mengenalnya. Karena Momo memang selalu jadi orang pertama yang membeli produk keluaran butik itu.
“Gomen ne~ aku bisa ambil yang ini?” Momo menunjuk sebuah dress keluaran terbaru yang baru saja dipajang dietalase toko.
Sang pramuniaga tersenyum lalu membungkus dress itu. Ia membayarnya dikasir.
*bruk!*
Tas belanjaan Momo jatuh dilantai mall. Ada seseorang yang menabraknya lalu membantunya berdiri. Momo tidak menunjukkan kemarahannya, ia sibuk membersihkan seragam sekolahnya.
“Momoyuki Sakurai??”
Momo terkejut mendengar namanya disebut. Ternyata yang menabraknya adalah Chinen Yuri. Momo agak terkejut namun ia dapat menguasai dirinya.
“Bagaimana kau tahu?”
“Hhaa… Entahlah. Aku hafal hampir semua pelajar di Horikoshi Gakuen”
Chinen tersenyum membuat mata kucingnya tampak sangat imut!! (mata Chinen mirip kucing ama anjing kecil!! Imut!!  *I love you Chi~*).
Momo mengangguk sambil terpesona dengan senyuman Chinen.
“Mau beli pakaian??” Momo mencari bahan pembicaraan.
“Iya. Aku mau beli kaos untuk dipakai sehari-hari”
“Kenapa tidak memesan lewat manager mu?”
“Kata Yabu senpai, kami tidak boleh terlalu bergantung pada manajer. Kami harus belajar mandiri mengurus keperluan sendiri”
Momo hanya mengangguk mendengar penjelasan Chinen. Kemudian Chinen teringat sesuatu.
“Ah ya! Aku dan group masih harus tampil diacara tv. Untuk promosi single terbaru kami. Mata ashita” Chinen sedikit membungkuk, tersenyum lalu berlari pergi.
Momo memilin rambut panjangnya sambil berkata pelan.
“Imut, cerdas dan mandiri. Ku rasa aku menyukainya”
***
Hey! Say! JUMP dormitory…

“Senpai~ aku lelah~ rasanya aku sudah sangat hafal dance Arigatou itu” Ryutaro duduk dipojok ruang latihan. Bergabung dengan Yama, Yuto dan Chinen yang sedang menikmati takoyaki yang dibawa managernya.
Yabu mendekati mereka lalu mengusap kepala member termuda mereka itu.
“Sabarlah~ tunjukkan yang terbaik pada para fans”
“Kalian tahu?? Ini berguna sambil menghapal lirik lho!” Hika menunjukkan ekspresi lucunya yang biasa membuat Keito menghadiahinya jitakan pelan.
“Senpai! Kau akan membuat ku tersedak. Aku kan sedang makan nasi!” gerutu Keito.
Lalu dimana Kei Inoo dan Yuya Takaki??
Mereka sedang sibuk dengan hadiah baru yang diberikan pihak manajemen 10 perangkat lengkap computer beserta software games.
“Apa ini bisa ditaruh dikamar ita masing-masing?” Daiki bertanya dengan penuh harap.
“Iyalah~ mana mungkin dipasang ditengah ruang latihan begini??” Hika memutar bola matanya. Yabu dan yang lainnya hanya tersenyum.
“Brarti satu kamar dua computer untuk masing-masing orang. Bantu aku mengangkatnya ke tiap kamar” Kei memberikan komando.
Semua mengerjakannya dibantu beberapa staf yang dikirim oleh pihak Johnny’s Assosiation Company pusat. Kini computer itu sudah masuk kekamar masing-masing dan Kei sibuk memprogram mereka satu per satu, dibantu Chinen dan Yuto.
Sementara itu yang lain hanya melihat cara kerja mereka bertiga.

♫J! Johnny’s! U! Ultra! M! Music! P! Power!♫

Kei mengangkat telepon yang masuk ke HPnya.
“Konbanwa~… Eh? Hyakka? Oh… iie, Doushite? … aku kesana!”
Kei Inoo berdiri lalu menatap member JUMP satu per satu.
“Aku harus keluar. Chii, Yuu dan Yama bisa menyelesaikan semua ini kan?”
Ia menatap Chinen, Yuto dan Yama yang balas mengangguk. Kei tersenyum lalu ia mengambil jaketnya dan pergi.
***
“Apa ada sesuatu yang gawat??”
“Entahlah. Aku pergi ke apartemennya dan aku mendengar suara barang-barang pecah”
Hyakka tampak panik. Kemudian mereka masuk ke apartemen tempat tinggal Aoi. Rupanya pintu kamarnya tidak dikunci. Mereka masuk dan mendapati Aoi bersimbah darah.
“Ada apa ini?!” Hyakka langsung berlari mendekatinya.
Aoi hanya menggeleng. Sementara Kei menelepon yang lainnya.
Dalam beberapa saat kemudian Yuki, Momo, Zura, Kazu dan Misa sudah tiba disana dalam keadaan berantakan karena panik.
“Apa yang terjadi?” Misa menatap Aoi yang masih duduk dilantai.
“Tidak ada” jawabnya singkat sambil memalingkan pandangannya dari yang lain.
“Aku tidak percaya!” tuntut Kazu.
“Sudah ku bilang tidak ada apa-apa! Kalian pulang saja!”
Aoi berdiri. Kini mereka tahu darimana asal darah itu. Dari tangannya.
“Kau tampak gagal bunuh diri” ejek Yuki.
“Bukan urusan mu dan aku tidak pernah mencoba untuk bunuh diri!” Aoi menatapnya sedikit marah. Tapi kenyataannya memang ia tidak pernah ingin bunuh diri. Dia hanya ingin melukai sesuatu dari bagian terpenting hidupnya yaitu tangan kanannya. Ada sesuatu yang tidak diketahui teman-temannya itu. Sesuatu yang akan selalu ia sembunyikan dari yang lainnya.
Yang lain memilih diam lalu membantu Aoi membereskan ruangan itu. Misa membantunya membersihkan darah ditubuhnya itu.
“Kau kenapa?” Misa masih mencoba bicara dengannya.
“Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit badmood saja hari ini”
“Ini bukan yang pertama kan?”
“Darimana kau tahu?”
“Banyak bekas luka dijari mu”
“Sudahlah”
Misa memilih diam. Karena percuma meminta Aoi bicara. Ia akan terus mempertahankan apa yang ingin ia sembunyikan. Jika terus memaksanya maka ia bisa marah besar.
Mereka keluar dan ruangan sudah tampak rapi seperti sedia kala.
“Kau tinggal sendiri?” Kei menatap Aoi yang masih tampak datar.
“Ya. Sekarang lebih baik kalian pulang. Ini sudah malam. Aku sudah tidak apa-apa”
“Kau yakin?” Momo menatapnya sedikit khawatir.
Aoi hanya mengangguk. Mereka memutuskan pulang. Memberikan waktu untuk Aoi sendirian. Mereka tidak tahu kalau Aoi sedang menangis tanpa suara saat ini. Ada sesuatu yang selalu menjadi beban fikirannya.
***
Kei mengantarkan Hyakka pulang malam ini. Kei tampak mengkhawatirkannya.
“Sudah sampai. Terimakasih telah mengantar ku”
Hyakka tersenyum kecil. Pikirannya masih tertinggal diapartemen Aoi. Kei menyadari itu, ia mengecup kening Hyakka. Membuat gadis itu terkejut dan mundur beberapa langkah.
“Senpai?”
“Aku hanya sedikit mengkhawatirkan mu. Aku yakin dia bisa mengurus masalahnya sendiri”
Hyakka mengerti maksud baik Kei. Ia tersenyum lalu melambaikan tangannya pada Kei yang berjalan semakin menjauh. Ia memasuki rumahnya untuk beristirahat.
***
Pagi ini Chinen memarkir mobilnya didekat Horikoshi, menunggu seseorang muncul. Dan benar saja, yang ditunggunya tampak berlari dari kejauhan. Kazu. Chinen menunggu Kazu pagi ini karena dia tahu kalau siswi itu akan tiba sangat telat, seperti biasanya.
“Ahayou Kazuchan~”
Sapaan Chinen dari dalam mobilnya membuat Kazu merasa antara bersyukur dan malu. Tanpa pikir panjang Kazu membuka pintu mobil itu lalu masuk.
“Aku tahu kau akan meminta ku masuk dan menolong ku karena aku telat lagi!”
Kepanikan Kazu mengalahkan rasa segan sukanya pada Chinen.
“Bagaimana kalau aku tidak berniat begitu?” ucap Chinen sambil tersenyum.
Kazu menoleh, wajahnya memerah karena malu dan bingung.
“Eh….” Ia kehilangan kata-katanya.
“Bercanda. Tapi aku sedang tidak ingin kesekolah hari ini”
“Lalu?”
“Aku tidak akan mampir kesekolah. Kau juga bisa dihukum kan Kazu?”
Mendengar ucapan Chinen, Kazu jadi berfikir dua kali lipat untuk kesekolah hari itu.
“Lalu kita mau kemana?”
“Shibuya. Ada sesuatu yang mau ku beli disana. Kau mau menemani ku?”
“Baiklah”
Akhirnya Kazu menyetujui ajakan Chinen. Dan ini pertama kalinya bagi Chinen, pelajar tercerdas nomor satu di Horikoshi Gakuen bolos bersama Kazu. Teman seangkatan yang baru saja dikenalnya.
***

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s