Part 4 : Friends and Love

Tittle : Friends and Love
Author : Ichen Aoi a.k.a Kim Seoyeon
School : Horikoshi Gakuen
Cast Boys:
Yuto Nakajima / Yamada Ryosuke / Chinen Yuri / Daiki Arioka / Yabu Kota / Kei Inoo
Cast Girl:
Aoi Amakusa (ichen) / Dizura Hizaki (dinda) / Kazune Akihime (bella) / Ichigo Misaki (any) / Yuki Tachibana (dea) / Hyakka Ameryu (piluu) / Momoyuki Sakurai (dheika)

(Song : Time)

Zura menemui Daiki pagi ini. Seperti biasa, ia selalu mencari kesempatan untuk mendekatinya. Sementara Yama sendiri sibuk merawat kelinci dibelakang sekolah. Ia memiliki janji dengan Zura disana. Mereka berjanji akan bertemu pagi ini untuk merawat kelinci-kelinci disana. Namun Zura belum juga datang padahal Yama sudah disana sejak setengah jam yang lalu.
“Usagi~ (nama kelincinya) apa kau tahu dimana Zura?”
Yama bertanya pada salah satu kelinci putih gemuk itu sambil memberikannya wortel segar yang tadi pagi dibelinya disupermarket dekat asrama JUMP.
Kebetulan Misa lewat untuk membuang sampah, hari ini giliran dia piket kelas. Ia melihat Yama sendirian sedang jongkok didepan kandang kelinci. Misa berniat menegurnya.
“Yamada?”
Yama menoleh karena ada yang menyebutkan namanya. Misa tersenyum.
“Eh?? Ehm.. Misaki??”
“Sedang apa disini?”
“Mengurus kelinci-kelinci ini. Kau sendiri?”
“Piket kelas. Aku sedang membuang sampah”
Yama mengangguk mendengar penjelasan Misa.
“Oh ya, Misa. Kau tahu dimana Zura? Aku ada keperluan dengannya”
Yama baru ingat kalau Misa ini temannya Zura juga. Jadi tidak ada salahnya kalau ia menanyakan keberadaan Zura. Siapa tahu Misaki tahu sesuatu.
“Tadi aku melihatnya bersama Daiki”
Jawab Misa dengan sedikit heran. Ekspresi Yama berubah. Misa tidak bisa mengartikan ekspresi itu. Yang ia tahu adalah Yama tidak bicara apa pun padanya selama lima menit terus merawat kelinci-kelinci itu lalu pergi begitu saja. Seolah Misaki tidak ada disana. Satu hal yang langsung disadari Misa saat itu. Sesuatu yang nyaris membuat jantungnya berhenti.
“Yama… apa kau menyukai Zura-chan?”
Misa bicara pelan pada kelinci-kelinci didepannya.
***
Yuki melangkah dengan sedikit melompat. Ia sedang bahagia. Dalam perjalanan sekolah ia menemukan sesuatu yang menarik. Gantungan HP kembar berlambang hati yang sepasang. Kita tahu kemana tujuannya. 3B. Kelas Yabu Kota.
“Senpai~”
Seru Yuki dari depan kelasnya. Tentu saja seisi kelas itu tahu hanya satu orang yang akan dicari Yuki yaitu Yabu.
“Fans mu datang tuh!” celetuk salah satu siswa dikelas itu, menggoda Yabu.
“Kau cemburu?” balas Yabu tak kalah isengnya.
Ia keluar kelas untuk menemui Yuki.
“Ada apa?”
“Senpai! Aku beli ini saat perjalanan kesekolah pagi ini”
Yuki mengeluarkan sepasang gantungan yang tadi dibelinya.
“Hanya satu?” Yabu kebingungan.
“Senpai norak deh! Nih liat!”
Yuki membelah lambang hati itu dan kini jadi separuh hati.
“Yang kanan untuk ku dan yang kiri untuk senpai” Yuki memberikannya pada Yabu.
“Oh… Arigatou” Yabu menerimanya sambil tersenyum.
Namun Yuki menariknya lagi, membuat Yabu bingung.
“Senpai, mana HP mu??”
Yabu mengeluarkan HP dari sakunya. Yuki mengambilnya lalu memasangkannya.
“Ingat, jangan sampai hilang ya senpai”
Yuki tersenyum senang. Yabu mengangguk lalu mengacak rambut Yuki, seperti biasanya.
“Senpai~ hilangkan kebiasaan buruk mu itu!!”
Dan Yuki selalu berhasil dibuatnya kesal. Yabu tertawa pelan.
“Ekspresi kesal mu selalu lucu! Kembalilah kekelas mu atau kau akan telat masuk jam pelajaran pertama”
“Belum bel senpai~”
“Eh? Sudah bel sejak 15 menit yang lalu kok”
“WHAT?! Kenapa tidak bilang dari tadi?! Aish! Jya nee!”
Yuki langsung lari secepat kilat menuju kelasnya. Jam pertama adalah Kyoko Sensei. Guru cantik nan galak yang mengajar sastra Jepang. Dan Yuki tidak ingin mencari masalah dengan sensei satu ini.
***
(Song : Planetarium – Ai Otsuka)

*bruk!*
“Aw!” Aoi tidak sengaja menabrak Yuto. Pertemuan yang tidak disengaja selalu terjadi antara mereka. Aoi memegangi tangan kanannya yang diperban oleh Misa, kemarin malam. Ia menyembunyikannya kebelakang tubuhnya, tidak ingin mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Yuto.
“Ah~ gomen ne~” Yuto masih sedikit gugup jika bertemu dengan Aoi gara-gara kejadian sepulang sekolah kemarin.
“Tidak apa” Aoi mempercepat langkahnya untuk kembali kekelasnya sendiri.
Namun Yuto langsung menahannya, ia melihat perban ditangan siswi itu. Aoi berusaha melepaskan tangan Yuto.
“Aku harus kembali kekelas”
“Tidak bisa. Ada apa dengan tangan mu?”
“Tidak ada apa-apa”
Yuto menyudutkannya. Aoi masih diam. Ada ekspresi menahan kemarahan diwajahnya.
“Kau berusaha melukai diri mu sendiri?”
“Bukan urusan mu!”
“Aku hanya…”
“Pergi! Aku hanya butuh i-pod ku, lalu urusan kita selesai”
Aoi berusaha mengalihkan perhatian kearah hutang-piutang diantara mereka. Yuto diam, didalam tasnya sudah ada i-pod baru. namun jika ia memberikannya sekarang, maka tidak akan ada alasan lagi baginya untuk menemui Aoi baik sengaja maupun tidak.
“Oh! Mungkin aku baru bisa mengembalikannya bulan depan”
“Kalau begitu diamlah. Jauhi aku sampai bulan depan”
Aoi mendorong Yuto lalu berjalan dengan cepat agar Yuto tahu kalau dia ingin sendiri saat ini. Sedangkan Yuto hanya bisa menggenggam bungkusan didalam tasnya dengan perasaan bimbang, ia tidak ingin semuanya berakhir sampai Aoi bisa terbuka padanya. Entah sejak kapan seorang Yuto bisa sampai memikirkan seorang gadis seperti ini. Yang ia tahu saat ini adalah ada sesuatu yang sedang disembunyikan Aoi. Hanya itu.
***
Zura pergi dengan riang ke kelas Daiki. Ia ingin mengajak Daiki makan bersama istirahat siang nanti. Ia menemukan Daiki tengah sibuk dengan tugas teman-temannya, ia adalah ketua kelas 2B.
“Dai-kun!”
Zura menyapanya dengan penuh senyuman membuat Daiki menyadarinya lalu menoleh.
“Hei Zura-chan. Ada apa?”
Zura tidak menjawab pertanyaan Daiki langsung, melainkan mengambil kursi terdekat dan duduk disampingnya. Daiki melirik Zura sejenak, agak heran namun kembali tersenyum.
“Zura-chan, kau malah terlihat habis melakukan tugas berat. Langsung duduk tanpa menjawab pertanyaan ku ckckckck”
Zura tersenyum lalu mengambil buku-buku pelajar 2B.
“Aku kesini Cuma mau bilang nanti siang makan bekal bareng yuk! Hanya itu. Tapi kau terlihat sibuk dan aku akan membantu mu Dai-kun”
“Kau ada-ada saja. Arigatou. Oh ya, tapi aku tidak membawa bekal”
Daiki, dibantu Zura, sibuk menyortir tugas-tugas kelas 2B untuk mendeteksi siapa yang belum mengumpulkan tugas Bahasa Inggris kemarin.
“Dai-kun! Kau pikir aku mengajak mu dengan tangan kosong?? Aku bawa bekal cukup banyak untuk kita. Kebetulan bekal hari ini aku yang masak Hhee… Jadi kau harus berikan komentar mu ya”
Namun Daiki tidak lagi focus dengan Zura begitu melihat Misa memasuki kelas dengan wajah kusut dan sedih. Hal ini membuat Daiki bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan teman masa kecilnya itu.
“Misa…” Daiki menggumam pelan.
“Nani?”
Rupanya Zura tidak begitu memperhatikan perubahan sikap Daiki. Dia terlalu sibuk menceritakan soal masakannya itu. Pertanyaan Zura membuat Daiki tersadar kalau disampingnya masih ada Zura.
“Eh? Iie. Baiklah, aku akan makan siang dengan mu. Nanti siang aku kekelas mu. Gomen ne~ sekarang aku sedang ada urusan. Biarkan saja semua tugas ini aku yang urus Zura-chan”
Tatapan Daiki masih tertuju pada Misa yang kini duduk dikursinya sendiri. Zura tersenyum sambil mengangguk. Ia berdiri. “Aku akan tunggu kau kekelas ku. Jya ne~”
Zura meninggalkan kelas itu. Daiki mendekati Misa.
“Misa ada apa?”
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit mengantuk”
Misa tersenyum menatap Daiki. Ia tidak ingin membuat Daiki khawatir.
“Tapi tidak seperti kau yang biasanya”
Daiki masih tampak khawatir, dia tidak mudah percaya dengan ucapan Misa kali ini. Karena wajahnya tidak menunjukkan kalau dia baik-baik saja. Mengingat Daiki hafal benar soal kebiasaan Misa. Kali ini tebakannya tidak mungkin salah, Misa sedang memiliki masalah.
“Misa-chan…”
“Dai-kun… hiks…”
Misa menunduk lalu menangis pelan. Daiki langsung mendorong Misa kedalam pelukkannya.
***
Jam 12.00 (Jam istirahat sekolah)…

Chinen dan Kazu masih berada di Shibuya. Saat ini mereka sedang berada ditoko es krim.
“Kau mau rasa apa?” tawar Chinen.
“Uhm.. coklat” Kazu tampak bingung memilih menu es krim disana.
“Kau harus coba yang ini, Cocholate vanilla caramel” Chinen menunjuk gambar es krim menarik didaftar menu. Kazu mengangguk setuju.
Selang beberapa saat, es krim sudah tiba dihadapan mereka. Mereka menikmati es krim siang itu sambil tertawa. Saat ini di Tokyo masih musim panas jadi menikmati es krim adalah jalan yang paling tepat saat itu.
“Apa yang kau sukai dari Horikoshi?” tanya Kazu iseng-iseng.
“Uhm.. seragamnya, senseinya juga semua yang ada disana. Aku menyukainya. Kau sendiri?” Chinen balik bertanya sambil menikmati biscuit yang jadi hiasan die s krimnya.
‘Karena ada seorang Chinen Yuri’, ucap Kazu hanya dalam hati. Namun tentu saja dia tidak berani mengatakannya karena sama saja secara tidak langsung ia menyatakan perasaannya pada Chinen. Kazu menghela nafas sejenak.
“Humph… Karena ada sebuah kenangan yang ku kejar disana”
“Eh? Apa itu?” Chinen tampak tertarik namun Kazu membuat mimik iseng.
“Aku tidak akan memberitahukannya pada siapa pun termasuk dirimu hHaa…”
Kazu tertawa kecil sambil menyuap es krim ke mulutnya. Membuat bibirnya kini belepotan es krim. Chinen yang melihatnya malah ikut tertawa.
“Hhaa… Makan es krimnya tidak usah sampai berkumis begitu Kazuchi”
*deg!*
Kazu tersentak karena Chinen baru saja memanggilnya Kazuchi. Dan yang mengetahui hal itu hanya mereka berdua, sejak dulu. Kazuchi adalah nama panggilan kesayangan Chinen untuk Kazu. Kazu-Chinen itulah artinya. Sejak masa SD dulu, ada satu hal yang paling berharga bagi Kazu. Seorang anak laki-laki ceria yang selalu memanggil namanya sambil tersenyum. Seorang anak laki-laki yang selalu membuatnya tertawa. Seorang anak laki-laki yang berhasil membangkitkannya dari rasa shock yang amat sangat.

Beberapa tahun yang lalu..
“Kau lihat anak itu?”
“Ah~ anak itu yang sudah satu bulan tidak masuk sekolah”
“Ku dengar dia kehilangan orang tuanya”
“Ku dengar hanya dia yang selamat dari kecelakaan itu”
“Kasihan sekali”
Bisik-bisik terus mengikuti tiap langkah Kazu, murid SD berusia 7 tahun. Ia sendirian. Ia ingin sendirian. Teman-temannya pun membiarkan dia sendirian. Kazu saat ini tinggal bersama paman dan bibinya. Namun hari ini dia akan diberikan pada orang tua asuhnya. Kazu tidak suka dioper-oper begini. Dia lebih suka bersama kedua orang tuanya atau saudaranya. Sayangnya mereka tidak begitu memperdulikan keadaan si kecil Kazu. Ia berjanji dalam hatinya untuk takkan pernah tersenyum tanpa orang tuanya. Namun semua itu berubah saat seorang anak laki-laki duduk disampingnya dan mengikutinya tiap saat.
Ia selalu menceritakan hal-hal lucu pada Kazu. Sampai-sampai mereka membuat panggilan khusus satu sama lain, Kazuchi dan Yuka. Awalnya Chinen tidak suka dengan panggilan Yuka, seperti perempuan. Yuka adalah singkatan dari Yuri –Kazu, dipenggal dari nama panjangnya Chinen Yuri. Sejak saat itu semuanya berubah drastis. Kazu kembali menemukan senyumnya sampai kepergian Chinen Yuri ke Amerika 3 bulan setelah mereka bersahabat.

Sekarang…
Kazu tanpa sadar meneteskan air matanya. Ia merindukan semua masa lalunya bersama Chinen namun Chinen tidak pernah menyadari hal itu atau memang dia tidak mengingatnya.
“Kau kenapa Kazu-chan?”
“Yu…ka…”
“Nani?”
“Gomen ne~ mata ku kemasukan debu, ku rasa”
“Oh… ku pikir kamu menangis. Oh ya, biar ku bersihkan sisa es krim dibibir mu”
Chinen mengambil tissue lalu membersihkan sisa-sisa es krim yang menempel dibibir Kazu. Kazu dapat melihat mata Chinen yang jernih. Ia tidak akan membebankan Chinen akan kenangan yang ia cari. Biarkan Chinen sendiri yang mengingatnya.
***

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s