Part 5 : Friends and Love

Tittle : Friends and Love
Author : Ichen Aoi a.k.a Kim Seoyeon
School : Horikoshi Gakuen
Cast Boys:
Yuto Nakajima / Yamada Ryosuke / Chinen Yuri / Daiki Arioka / Yabu Kota / Kei Inoo
Cast Girl:
Aoi Amakusa (ichen) / Dizura Hizaki (dinda) / Kazune Akihime (bella) / Ichigo Misaki (any) / Yuki Tachibana (dea) / Hyakka Ameryu (piluu) / Momoyuki Sakurai (dheika)

Begitu bel istirahat berbunyi, Yuki langsung bergegas meninggalkan kelas untuk menemui senpainya. Mereka biasa makan siang bersama dikantin sekolah.
“Senpai~”
Yuki memanggil Yabu dari kejauhan saat senpainya itu keluar dari kelasnya.
“Yuki-chan! Mari makan siang!”
“Ok! Yabu senpai traktir aku ya??”
“Ckckckck kau ini”
“Kan senpai yang ngajak duluan. Kalau aku yang ngajak duluan baru bayar masing-masing” Yuki tersenyum sambil memperlihatkan sisi kawaiinya. Membuat Yabu (lagi-lagi) mengacak rambut panjangnya.
“Senpai!!!”
“Habisnya kamu ini benar-benar lucu sih!”
“Bukan berarti senpai bisa merusak tataan rambut ku!! ini butuh waktu laaaaammmmm….”
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya. Yabu langsung menutup mulut Yuki dari belakang sambil mendorongnya perlahan. Bahkan Yabu ini tersenyum melihat tingkah kohainya. Ia tahu kalau Yuki akan menceramahinya soal seberapa lama prosesnya menata rambut panjang itu.
“Yabu-kun! Hari ini pun tetap mesra ya?” tegur salah satu teman sekelas Yabu.
“Hhaa… Kau ingin tipsnya??” Yabu melepas Yuki yang tampak kesal.
“Ah tidak perlu. Kalau kau bagi nanti aku dan Wako akan jadi pasangan yang lebih romantic dari kalian hHaa… selamat makan siang ya” temannya Yabu berlalu.
Yuki menatap Yabu, “Senpai? Apa teman-teman mu mengira kita pacaran?”
“Sepertinya begitu. Biarkan saja. Yuk makan!” ajak Yabu sambil mendorong-dorong bahu Yuki dari belakang. Tanpa tahu kalau Yuki sedang mempertanyakan bagaimana sebenarnya hubungan antara dia dan senpainya itu.
***
“Misa, kau ingin makan bersama dengan ku dan Zura?” Daiki menawarkan ajakan makan bersama mengingat tadi pagi Misa tiba-tiba saja menangis tanpa alasan yang jelas. Jadi Daiki agak khawatir meninggalkannya sendiri.
“Zura? Tidak usah. Aku akan makan sendiri dikantin. Mungkin aku akan pergi bersama Aoi”
“Oh… baiklah kalau begitu. Apa kau yakin aku tidak perlu menemani mu?”
Daiki masih berusaha meyakinkan Misa. Meski dalam hati dia ingin sekali Misa bilang kalau saat ini dia memerlukan Daiki. Namun Misa sendiri sedang tidak ingin menemui Zura, karena akan membuatnya semakin mengingat Yama. Ia tahu kalau Zura sangat menyukai Daiki. Namun bagaimana dengan Yama. Ia tidak yakin untuk meminta Yama menyerah atas Zura toh pada kenyataannya Yama tida begitu mengenal Misa.
“Kau yakin tidak apa-apa Misa-chan?”
Misa mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban untuk Daiki. Kemudian Misa mendorong Daiki keluar kelas. Daiki masih menatap pintu kelasnya dengan bingung. Ia menghela nafas berat lalu pergi kekelas 2B.
***
Yuto menghampiri kelas Aoi. Ia menemukan Aoi sedang menggerutu tidak jelas.
“Bagaimana sih Kazu? Pake acara bolos segala! Sama Chi pula! Haduh! Kekantin sendirian deh. Oh iya, kekelas Momo aja deh”
Aoi melangkah menuju depan pintu kelasnya namun ia malah mendapati Yuto sedang tersenyum disana. Membuat Aoi tidak bisa keluar.
“Misi donk!”
“Aoi…”
“Awas gak!!”
Yuto terkejut dan memberikan Aoi jalan keluar. Aoi melangkah menuju kantin, dibelakangnya masih ada Yuto yang setia mengikuti.
“Yuto! Berhenti mengekor!”
“Aku juga ingin kekantin kok”
Karena kesal, Aoi hanya membeli roti dikantin lalu pergi dari kantin dan Yuto masih mengikuti dibelakangnya. Membuat Aoi kesal bukan main. Aoi berhenti lalu duduk ditangga yang menuju arah loteng sekolah. Yuto berdiri didepannya, bersender pada pegangan tangga.
“Kenapa hanya makan roti?”
“Aku sudah kenyang”
“Tapi kan kita masih belajar sampai siang nanti. Apa kau sedang diet?”
“Heh?! Kau ini kenapa sih? Mengikuti ku terus lalu bertanya sana-sini”
“Aku hanya sedang melakukan penelitian”
“Penelitian?”
“Ya, bagaimana cara makan orang yang tangannya terluka”
“Berisik!”
*drrrtt drrrrtt*
HP Aoi bergetar disakunya. Aoi melihat pesan yang masuk. Nomor tak dikenal. Ia membacanya. Dalam sekejab air mukanya berubah drastis. Ia meninggalkan HPnya begitu saja lalu berlari meninggalkan Yuto yang sedang dalam kebingungan.
“Kenapa sih dia ini? HPnya sampai terlupakan begini”

Sementara itu Aoi terus berlari sekuat tenaga. Untuk kesekian kalinya ia akan meloloskan diri dari Horikoshi sebelum jam pulang lewat pintu belakang.
***
“Misa~ apa kau melihat Chinen?” Momo tampak uring-uringan siang ini. Dia belum menemukan Chinen sejak pagi tadi. Misa hanya menggeleng.
“Kemana ya kira-kira?”
“Mana aku tahu” jawab Misa singkat sambil meminum colanya.
Momo diam menatap sekeliling kantin. Ia hanya melihat Yabu senpai dan Yuki serta Yama yang sendirian.
“Aku hanya melihat Yuki. Mana Zura, Aoi, Hyakka dan Kazu?”
Momo baru menyadari ketiadaan teman-teman yang biasa bersama dengannya itu.
“Kalau Kazu tampaknya hari ini tidak masuk. Aoi tadi sih ku lihat sedang bertengkar lagi dengan Yuto. Hyakka palingan bersama Kei Inoo senpai. Zura makan siang bersama Daiki”
“Nani?? Dai-kun?? Ku pikir dia kekasih mu!”
Perkataan Momo membuat Misa sedikit terkejut. Namun Misa kembali bersama makanannnya. Momo masih terlihat cemberut. Dia menatap HPnya penuh harap Chinen tahu nomornya entah dari mana lalu menghubunginya dan memintanya agar tidak usah khawatir. Namun, siapa Momo bagi Chinen? Hanya sekedar teman satu angkatan. Lain dengan Momo yang mulai menyukai Chinen, pelajar perfect di Horikoshi Gakuen (tidak termasuk tinggi badan ).
“Kau tidak latihan cheers?” Misa mencoba mencari topic. Karena dia sendiri cukup bosan.
“Sore ini. Kau mau mendaftar?” tawar Momo.
“Tidak. Terimakasih. Aku tidak suka berteriak sambil bernyanyi dipinggir lapangan”
“Haduh… kami ini mensuport team basket” bantah Momo.
“Bagi ku malah hanya terlihat sedang berteriak sambil membuat formasi tidak jelas” lanjut Misa cuek. Pikirannya sedang melayang. Entah bersama Daiki atau Yama.
“Ah~ kau tidak tahu dunia cheers” Momo putus asa. Percuma membantah Misa yang nyaris selalu berfikir serba real. Lagipula dia sedang tidak berniat berdebat dikantin.
***
“Bagaimana? Enak tidak??” Zura menatap Daiki menanti pujian keluar dari mulut cowok manis itu. Daiki mencicipinya sekali lagi lalu tersenyum sambil mengangguk.
“Ya. Kau memasak semua ini sendirian?” Daiki menatap dengan sedikit kagum.
“Tentu saja!” Zura mengangguk dengan semangat.
Zura salah mengartikan pujian Daiki. Sedangkan Daiki sangat menghargainya sebagai seorang teman, pikirannya sendiri masih melayang-layang pada Misa.
Hyakka menghampiri mereka berdua.
“Dai-kun! Zura-chan! Aku keluar sebentar ya”
“Mau ketempat Inoo senpai?” ledek Daiki. Hyakka tersenyum sambil mengangguk.
“Dai-kun! Titip Zura ya. Hheee… jya~”
Hyakka keluar kelas sambil sedikit melompat-lompat riang. Wajah Zura sedikit memerah gara-gara ucapan Hyakka.
“Jadi sekarang aku punya tanggung jawab dikelas 2B. menjaga Zura-chan?” Daiki menoleh kearah Zura yang sibuk menyembunyikan wajahnya.
“Tidak usah didengar Hyakka memang suka begitu kok” Zura tersenyum salah tingkah sambil menyuap ramen gulung kemulutnya sendiri sementara Daiki seperti bias, tidak memperhatikannya karena pikirannya masih sama. Melayang kepada Misa.

Kebetulan saat itu Yama sedang ingin mencari Yuki. Dia mau mengambil data yang dititipkan Yabu senpai untuknya. Ia memasuki kelas 2B dan melihat Zura sedang bersama Daiki. Ia mundur beberapa langkah lalu memutuskan untuk menyapa keduanya seperti biasa.
“Daaaii-kun!” Yama menepuk bahu Daiki pelan.
“Yama-kun!” Daiki tersenyum menatap teman satu groupnya itu.
“Yamada? Ada keperluan apa?” Zura menatapnya denganwajah innocent.
Yama sebenarnya ingin bertanya soal masalah pagi ini. Tampaknya Zura sendiri tidak mengingat janji-janjinya.
“Ehm… Yuki-chan ada? Aku ingin mengambil data yang dititipkan oleh Yabu senpai”
“Ia sedang makan siang bersama Yabu senpai” jawab Zura.
Sudah tidak ada alasan Yama disana. Ia berbalik untuk pergi namun Daiki yang tidak peka itu malah mengajak Yama untuk makan siang bersama.
“Yama-kun! Sini makan bersama kami. Ini masakan Zura-chan lho!”
Yama belum sempat menolaknya namun Daiki sudah berdiri dan memberika tempat duduknya pada Yama. Zura sedikit terkejut.
“Yama-kun! Zura-chan! Aku mau pergi mencari Misa sebentar. Aku masih mengkhawatirkannya. Dia sedang tidak dalam keadaan yang baik. Gomen ne~”
Daiki pergi meninggalkan Zura bersama Yama. Zura menghela nafas berat.
“Doushite?” tanya Yama dengan sedikit gugup.
Zura hanya menggeleng sambil tersenyum getir.
***
“Senpai aku…”
Hyakka menghampiri kelas Kei Inoo senpai. Namun kata-katanya terhenti saat melihat Inoo sedang tertawa bersama salah satu siswi dikelasnya. Mereka tampak sangat akrab sekali.
“Hyakka-chan?”
Kei Inoo menyadari kehadiran Hyakka yang tiba-tiba. Ia tersenyum menatap kohainya itu.
“Senpai… aku…”
“Oh ya, kau bilang ingin bicara sesuatu dengan ku. Apa itu sekarang?”
Hyakka membuka mulutnya hendak bicara, namun kembali diam dan menggeleng.
“Baiklah. Hyakka, kekantin yuk! Aku mau beli minuman”
Inoo langsung menggandeng Hyakka pergi. Membuat Hyakka terpaksa melupakan pertanyaannya sejenak. Namun ia masih penasaran.
“Inoo senpai~ apa hubungan antara senpai dengan manager club basket?”
Hyakka selalu mendengar desas-desus soal senpai idolanya ini. Ia dikabarkan berpacaran dengan Yukiko, manager club basket.
“Dia itu ehm… koibito…”
Inoo Kei menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia hanya sedikit malu dan bingung menjelaskannya. Kei Inoo memang orang yang sedikit tertutup. Dia menjadi sebuah misteri dengan ketampanannya.
Hyakka sedikit tersentak.
“Senpai… lupakan soal pembicaraan yang ingin ku utarakan pada mu”
“Kau kenapa Hyakka-chan?”
Hyakka hanya menggeleng sambil tersenyum. Ia melepaskan genggaman Kei senpai.
“Senpai~ aku harus kembali kekelas. Ku rasa tiba-tiba saja aku tidak enak badan”
Inoo mengangguk lalu membiarkan Hyakka pergi. Siswi itu berjalan dengan sangat cepat menuju kamar mandi wanita. Ia melihat wajahnya dicermin. Matanya memerah. Ia menangis.
“Hiks… bagaimana bisa Yukiko senpai menjadi kekasihnya?! Padahal dia baru satu tahun disekolah ini! Sedangkan aku? Aku disini bersama Inoo senpai sudah dua tahun. Aku selalu memperhatikannya tiap ia tampil dilapangan. Yukiko senpai hanya anak baru di Horikoshi Gakuen!”
Akhirnya Hyakka hanya bisa menangis.
***
NB :
Meski partnya lagi Jepang gini, musiknya tetep Korea hHee…
Yuk mari bacanya sambil dengerin Grumbling by Leeteuk (Super Junior) feat. Krystal (F(x)). Jadi lebih meresapi coz suara oppa sama eonni tuh halus banget!! 
Silahkan baca~

“Doushite?? Doushite…??”
Aoi menatap tangan kanannya. Mengalihkan perhatiannya sejenak dari kanvas. Sebuah lukisan setengah jadi itu sudah terlihat bagus. Ia mengambil pisau karter yang tersedia diruang kesenian. Pisau untuk memotong-motong kertas.
Ia menatapnya sejenak.
“Gomen ne~ aku tidak butuh semua ini. Melakukan semua ini semakin membuat ku mengingat mu, onichan”
Aoi menetaskan air matanya lagi. Air mata itu jatuh dijemari-jemari lihai yang biasa ia gunakan untuk mengetik cerita dan menggambar atau membuat kreasi apapun. Baginya, tangan dan jari-jarinya adalah anugrah. Hanya itu bakat yang ia punya. Kenyataannya ia memang lemah dalam segala hal kecuali seni.
Aoi memejamkan matanya lalu menahan perih dan sakit. Ia baru saja menyayat jemari tangan kanannya dengan perlahan satu per satu.
“Argh..”
Ia terus melanjutkannya. Bayangan masa lalunya terus berkilat-kilat dalam otaknya.
“Onichan!”
Darah segar mengalir kekanvas dan menetes dipalet cat minyaknya. Kali ini ia mencoba menyayat telapak tangannya.
*brak!*
“Aoi!!”
Yuto datang lalu memukul tangan kiri Aoi. Membuat pisau karter itu jatuh kelantai.
“Kau kenapa sih? Kau sudah gila?! Kau bisa mati kehabisan darah”
Yuto panik melihat darah mengalir deras dari kelima jari tangan kanannya.
“Aku sudah pernah bilang jangan pernah mencampuri urusan ku lagi Yuto!!”, Aoi berteriak kesal. Yuto tidak memperdulikan ucapan Aoi. Ia membuka kemeja seragamnya lalu merobeknya dan membalut tangan kanan Aoi agar darahnya berhenti. Kini Yuto hanya mengenakan kaos biru dan celana seragamnya.
“Kau ini kenapa selalu mencampuri urusan ku?” kali ini suara Aoi sudah melemah.
“Sudahlah lebih baik kau diam, Aoi. Aku akan membawa mu kerumah sakit”
Yuto memapah Aoi keluar ruangan. Darah itu menetes dilantai.
“Yuu…”
Aoi pingsan ditangan Yuto. Membuatnya harus menggendong Aoi untuk pergi kerumah sakit.

“Onichan~”
“Aoi! Sini!”
Kakaknya tersenyum manis sambil memberikan lambaian pada adiknya.
“Onichan selalu saja pulang sore hari begini!”
Aoi mendecak kesal. Ini hari pertamanya di SMP dan dia ingin keluarganya menjadi yang pertama menyambut kepulangannya. Namun tidak dengan onichannya, ia datang sangat terlambat dari jam pulang seharusnya.
“Hhaa.. Gomen ne~ yang pentingkan tadi pagi onichan sudah melihat seragam baru Aoi”
Ia mengacak rambut Aoi yang dikepang dua.
“Onichan!!” Aoi langsung mendengus kesal.
“Kenapa kau pulang selarut ini?” Ibunya bertanya dengan sedikit keheranan.
“Uhm.. ada sedikit urusan diluar” ia bersandar pada bahu ibunya.
“Onichan! Ajari aku melukis lagi”
“Hummmm… gimana ya?? Onichan capek sekali Aoi”
Ia pura-pura kelelahan dengan tiduran ditatami.
“Onichan~ itukan salah onichan sendiri”
Aoi kesal. Ia naik menuju kamar tidurnya lalu menutup pintu dengan kesal.
“Ibu jangan bilang ya, kalau aku sedang menyiapkan sebuah lukisan dirinya sebagai kado”
“Oh… dasar kau ini! Kazuya, makan dulu sana”
“Ibu~ terimakasih ya buat tangan kanan ku yang super hebat ini!”
“Kazuya~ yang pandai melukis itu ayah mu bukan ibu”
Wanita paruh baya itu menyiapkan makan malam untuk putranya tercinta. Sementara Aoi sudah sibuk dengan komputernya untuk mengobati rasa kesal kepada kakaknya.
Keesokkan harinya dikabarkan kalau Kazuya meninggal karena kecelakaan saat ia sedang berlari menyebrang jalanan menuju rumahnya. Dan semua itu karena ia terburu-buru menyiapkan hadiah kejutan untuk ulangtahun adiknya.
***

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s