Part 2 : Complicated Story

Tittle : Complicated Story (Special Maknae)
Cast : Changmin DBSK
Taemin SHINee
Mir MBLAQ
Dongho U-Kiss
Seohyun SNSD
Sulli F(x)
Author : Ichen Aoi a.k.a Kim Seoyeon

“Dari mana saja kalian malam-malam begini baru pulang?”
Rupanya Tiffany menunggu mereka. Mir, Taemin dan Dongho hanya diam sambil mengambil gelas minuman yang disediakan Tiffany. Yeoja itu tidak pernah bisa marah pada dongsaeng-dongsaengnya itu. Meski beda ibu, dia sangat menyayangi keluarganya itu.
“Noona, aku lelah sekali”
Dongho mulai mengeluh. Bibirnya dimonyongkan tanda dia sedang kesal. Meskipun begitu, hal ini malah membuatnya terlihat dua kali lipat lebih manis. Tiffany langsung duduk disampingnya sambil mengusap kepala saengnya itu dengan lembut. Dongho hanya diam dengan wajah kusutnya.
“Biasa noona~ kan sekarang kami sekelas dengan Seohyun”
Mir tertawa kecil sementara Taemin sedang sibuk dengan cemilannya. Tinggal Changmin yang belum pulang dari kencannya.
“Seohyun? Aku dengar dia sudah sangat cantik sekarang ini” Tiffany berdiri membawa satu poci jus jeruk yang mungkin akan menyegarkan namja-namja itu.
“Memang! Aku malah heran Dongho secuek itu padanya” Taemin menyandarkan tubuhnya disofa lalu Mir memintanya agar Taemin memijat bahunya.
“Karena aku tidak tahu penyebab dia bisa sesuka itu pada ku” Dongho kesal sambil meminum susu yang disediakan noonanya. Tiffany berusaha mengingat-ingat masa kecil mereka. Lalu ia menatap Dongho dengan serius. Mir dan Taemin merasa kalau noona mereka ini memiliki jawaban.
“Mworago noona?” tanya Dongho dengan serius.
“Nothing! Aku hanya ingat kalian teman sejak kecil, hanya itu”
Semuanya langsung mendesah nafas kesal.

-Changmin POV-
Wah~ dongsaeng ku sudah berkumpul semuanya~ Bagaimana kalau aku sedikit memberikan kejutan pada mereka ini? Mereka pasti senang kalau aku membawakan benda yang mereka inginkan. Aku akan mengejutkan mereka secara tiba-tiba. Pasti menyenangkan.

-Taemin POV-
Hawa ini!
Hyung pulang. hHaa… dia berniat mengejutkan kami rupanya. Kita lihat saja siapa yang akan terkejut hari ini.

Rupanya timing Changmin dan Taemin berbarengan sehingga mereka teriak bersama.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Tiffany, Mir dan Dongho langsung menutup telinganya masing-masing lalu tertawa terbahak-bahak.
“Ya ampun! Kalian akur sekali! Aku senang melihatnya” Tiffany tersenyum cerah.
Sementara Changmin dan Taemin mengelus dadanya masing-masing, berusaha menenangkan diri dari keterkejutan yang sengaja mereka buat.

Dongho memperhatikan tas bawaan Changmin.
“Hyung? Itu apa?”
Seperti biasa, Dongho tidak pernah menunggu jawaban untuk bertindak. Ia membuka bungkusan itu dan mendapati ada empat I-phone kembar disana.
“Hyung mau menjualnya?” Mir menimang salah satunya.
“Aniya~ kalian pikir aku sales?? Itu untuk kalian satu per satu”
“Jjinja?!” Mir, Tiffany dan Taemin berseru bersamaan sedangkan Dongho sudah mengambilnya satu dan mulai sibuk melihat fitur-fiturnya.
“Tumben oppa melakukan hal seperti ini?” Tiffany menatapnya penuh tanda tanya.
“Haduh~ aku kan sayang kalian. Jadi aku teruuuuuss memikirkan kalian” Changmin tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
Ide jail Mir, Taemin dan Dongho muncul, mereka langsung mencium pipi Changmin dengan brutal. Changmin hanya bisa berusaha memisahkan diri dari ketiga dongsaengnya itu. Tiffany tertawa lalu terbatuk, cairan merah keluar dari mulutnya.
“Aku ke kamar mandi dulu ya”
“Ne~”
Ke empat namja itu terlalu sibuk sehingga tidak memperhatikan keadaan Tiffany.
***
Keesokkan harinya…

-Seohyun POV-
Rasanya aku jadi lelah mencaari perhatian Shin Dongho. Ku rasa dia benar-benar lupa pada ku. memang dia selalu begitu. Harusnya aku tahu kalau waktu itu dia hanya berniat membantu ku saja. Aku memang bodoh mengharapkan yang lebih darinya.

*bruk!*
Seohyun dan Sulli jatuh dilantai. Mereka saling tatapan dengan penuh kesal.
“Yah! Apa yang kau lakukan? Menabrak ku seenaknya!” Sulli langsung membentak Seohyun.
“Mwo?! Kau yang tidak menggunakan mata mu untuk melihat kemana langkah mu!” Seohyun tidak mau kalah dari Sulli.
“Dasar wanita jalang! Kau terus-terusan menempel pada Dongho, apa kau tidak lihat ekspresi kesalnya kepada mu, Seohyun?!” Sulli terlanjur kesal dan mengeluarkan caci makiannya. Seohyun tidak terima dirinya dikatai seperti itu. Ia menampar Sulli tepat saat Mir, Taemin dan Dongho lewat.
“SEOHYUN!!” Mir berteriak dan berlari menghampiri kedua yeoja itu.
Taemin dan Dongho menyusul dibelakang Mir. Seohyun dan Sulli menoleh. Seohyun terkejut melihat kehadiran ketiga bersaudara itu.
“Apa yang kau lakukan??” Taemin menatapnya dengan sedikit marah.
“Seohyun, aku tidak pernah meminta mu menampar yeoja manapun kan?” Dongho menatapnya dalam. Seohyun berdiri sambil membersihkan seragamnya.
“Bukan begitu, dia duluan yang menghina ku”
“Tapi itu memang kenyataan!” Sulli merasa menang karena ketiga namja itu menatap Seohyun dengan tatapan marah dan kecewa.
“Memangnya Sulli bilang apa pada mu?” Mir bertanya pada yeoja itu sambil memegang bahunya.
“Dia bilang aku …”
Seohyun belum sempat menyelesaikan kata-katanya namun Sulli langsung berpura-pura mengaduh perutnya sakit. Ketiga namja itu mendekatinya.
“Perut ku tiba-tiba saja sakit, aku tidak bisa jalan. Aw!”
“Aku dan Taemin akan mencari dokter. Ini kan hari libur dokter UKS” Mir menyarankan. Dongho mengangguk lalu menggendong Sulli. Taemin dan Mir pergi. Seohyun memegang tangan Dongho.
“Jangan! Biarkan dia jalan sendiri”
“Tidak bisa, dia sakit Seohyun”
Dongho berjalan menuju UKS sedangkan Seohyun menatapnya diam, air matanya mengalir perlahan.

Ruang kelas…
“Mir ke karaoke yuk malam ini”
“Aku tidak bisa, Hye Rin”
“Kau tidak pernah mau diajak keluar malam ya?”
Yeoja itu cemberut. Mir hanya tersenyum menanggapinya.
“Dia akan menemani mu kapan pun asal bukan dimalam hari” Dongho menatap Mir dan yeoja itu bergantian. Mir mengangkat bahunya sedangkan Taemin masih sama, diam sambil membaca bukunya. Mir menyenderkan tubuhnya sambil menatap langit biru diluar sana. Ia memegangi bibirnya dengan jari telunjuknya. Lalu memejamkan matanya. Tak ada seorang pun yang tahu akan apa yang sedang dipikirkan Mir.
***
Seohyun izin pulang lebih cepat, dia pergi menemui Tiffany. Tentu saja sebelum Mir, Taemin dan Dongho pulang.
“Eonni”
“Seohyun!”
Tiffany memeluk yeoja itu lalu mempersilahkannya masuk.
“Tumben kamu kesini. Ada apa?”
“Eonni aku ingin menanyakan sesuatu. Kenapa Dongho melupakan ku?”
“Maksudnya?”
“Ia tidak mengingat semuanya. Semua hal yang kami lakukan bersama”
Tiffany menghadap Seohyun lalu menatapnya dengan tatapn sedih. Ia mengajak Seohyun ketaman belakang rumahnya.
“Dia bukannya sengaja melupakan mu. Tapi ada sesuatu yang membuatnya ingin melupakan semua itu. Termasuk kenangan kalian bersama didesa dulu”
“Mwo?”
“Dia kehilangan orang tuanya. Didepan matanya. Dia shock sekali waktu itu dan ia kehilangan sebagian ingatannya. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi hari itu. Yang ku tahu, appa dan umma mengalami kecelakaan karena menolong Dongho. Aku tidak tahu pastinya”
Tiffany memetik sebuah bunga berwarna putih lalu memetik kelopaknya satu per satu. Ia menatap Seohyun sejenak.
“Seohyun, bisa kau pulang dan tinggalkan aku sendiri?”
Seohyun menatap Tiffany dengan heran. Namun ia mengangguk dan pamit pergi. Tiffany menatap langit biru dan darah dari mulutnya menetes direrumputan.
***
Mir pulang kemalaman dan ia sendirian. Ini pertama kali baginya semenjak hari itu ia tidak pernah lagi mau keluar dimalam hari dan kini dia terpaksa harus melakukannya. Ia tidak mungkin menginap disekolah malam ini. Noona dan hyungnya akan sangat mengkhawatirkannya setengah mati.
Ia terus melangkahkan kakinya dengan perlahan sambil sesekali menghembuskan nafas berat.

-Mir POV-
Kenapa aku harus pulang semalam ini? Ah~ aku tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi. Aku benar-benar takut sekali. HP ku lowbat jadi aku tidak bisa meminta hyung menjemput ku. maka aku harus berani pulang sendiri malam ini.

Seorang yeoja yang sedang mabuk menghampirinya. Mir mundur beberapa langkah dan memasang kewaspadaannya. Semakin yeoja itu mendekat, ia semakin merasa mengenalinya. Dan Mir memang benar-benar mengenalinya. Yeoja itu tersenyum lalu memeluk Mir yang masih menggenakan seragamnya.
“Hai, sudah lama tidak bertemu dengan mu lagi, Mir”
“Lepaskan aku!”
Mir mengingatkan yeoja itu.
“Waeyo? Kau melupakan yang waktu itu? Kejam sekali”
“Lupakan! Waktu itu kau membuat ku mabuk dan hal itu bukan keinginan ku!”
Mir mendorong yeoja itu agar menjauhi dirinya.
“Kau yakin? Sayang sekali, aku tidak bisa melupakannya. Kau memang seorang pencium yang tangguh dan aku menikmatinya”
“Berhenti membicarakan hal itu! Kau membuat ku takut keluar dimalam hari!”
Yeoja itu malah tertawa. Ia membelai wajah Mir. Namja itu tampak panic sekali.
“Mir, kau tampak tampan sekali dalam seragam mu”
“Diam!”
Mir menghentakkan yeoja itu dan membuat yeoja itu jatuh dijalanan. Namun yeoja itu tidak tinggal diam, dia menarik kaki Mir yang hendak melangkah dan membuatnya terjatuh.
“Aku mau kau lakukan itu lagi pada ku. cium aku Mir!”
“Hentikan!”
Yeoja itu mencium Mir dengan paksa. Mir menghentaknya hingga membentur aspal jalanan. Namja itu lari sekencang mungkin untuk menghindari yeoja itu.

Dirumah…
“Kenapa Mir belum pulang juga dan sama sekali tidak mengabari kita” Changmin menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tengah malam.
“Dongho, Taemin dank au, Tiffany. Tidurlah, biar aku yang akan menantinya”
“Tidak perlu hyung, aku disini”
Mir tiba dan tampak berantakan. Changmin menatapnya khawatir. Tiffany mengambilkannya minum.
“Hyung, aku dan Dongho kembali kekamar” Taemin mengajak Dongho untuk tidur.
Tiffany pun kembali kekamarnya usai membuatkan Mir minuman. Changmin menatap saengnya.
“Kau kenapa?”
“Gwaenchana hyung”
“Kau yakin?”
“Ne~ aku mau istirahat”
“Baiklah aku juga akan kembali kekamar ku”
Changmin pergi. Mir melangkah kedalam kamarnya. Ia masuk kekamar mandi lalu merendam tubuhnya yang masih mengenakan seragam lengkapnya. Berkali-kali ia membasuh bibirnya sambil sesekali meneteskan air mata.

Satu tahun yang lalu…
Seperti biasa, si playboy Mir baru pulang dimalam hari. Ia selalu mengencani yeoja-yeoja disekolahnya yang minta ditemaninya main kekaraoke atau hanya sekedar berbelanja. Mir tampak lelah, sampai ada seorang noona menghampirinya. Dandanannya begitu memukau namja manapun yang meliriknya.
“Annyeonghaseyo”
“Annyeong”
“Kau tahu alamat ini?”
Noona itu mengeluarkan kartu nama. Mir menggeleng. “Aku tidak tahu”. Noona itu tampak kecewa dan kesulitan. Karena tidak tega, akhirnya Mir mengantarnya mencari alamat itu. Namun noona itu malah mampir kemini market dan membeli dua botol bir.
“Untuk apa beli itu?” Mir menainya dengan heran.
“Aku haus. Kau mau?”
“Aku tidak bisa minum itu. Aku bisa mabuk”
“Jangan bercanda, minum satu teguk tak akan membuat mu tak sadarkan diri”
Noona itu memaksa Mir meminumnya. Dalam sekejab namja itu tak sadarkan diri. Dan ia dibawa noona itu menuju sebuah hotel tanpa sepengetahuan Mir.
Ia terbangun dini hari dan mendapati dirinya berantakan dengan seorang yeoja terlelap disampingnya. Mir panic bukan main, ia langsung membersihkan dirinya dan meninggalkan yeoja itu. Sesampainya dirumah, appanya langsung menamparnya keras. Ia melihat disana ada ketiga ummanya dan keempat saudaranya.
“Darimana saja kau Mir?!”
“Appa, aku…”
Dongho mendekatinya dengan penciuman yang tajam.
“Hey hyung, kau bau alcohol”
Mir terkejut begitu juga dengan ketiga ummanya. Changmin menarik Dongho dan Taemin agar berdiri didekatnya, ia tahu kalau appanya akan sangat marah.
“Mir! Aku tidak pernah mendidik mu menjadi seorang pemabuk!”
“Sudahlah appa~ berikan Mir satu kesempatan” umma kandung Mir memohon pada lelaki paruh baya itu. Mir hanya menunduk sementara itu, Changmin, Tiffany, Taemin dan Dongho hanya menatapnya dengan sedih.
“Berhenti membela anak sepertinya! Dia ini kurang kamu didik! Bagaimana kalau nanti Taemin dan Dongho menirunya?! Kau pikir ini perbuatan yang baik?!” lelaki itu balik memarahi wanita yang tadi membela putranya. Mir langsung memeluk ummanya itu.
“Appa! Hentikan! Jangan bentak umma seperti itu”
“Beraninya kau membantah ku!”
“Sudah! Jangan bertengkar lagi. Ku mohon maafkan Mir”
*plak! Plak!*
Tamparan mendarat dipipi Mir dan Ummanya. Kerumunan bubar. Dan yang tidak disangka, keesokkan paginya umma kandung Mir ditemukan meninggal karena bunuh diri akibat merasa gagal mendidik Mir. Sejak itulah ia menjelma menjadi anak yang baik.
***
Sulli melihat kejadian semalam saat Mir berciuman dengan seorang noona. Ia memikirnya terus, berusaha mencari jawaban apakah penglihatannya salah atau benar.

-Mir POV-
Gara-gara semalam aku jadi tidak enak badan. Lagi-lagi aku mimpi saat umma meninggal. Menyesakkan sekali. Saat ini hanya tinggal ummanya Changmin hyung. Hanya beliau yang kami punya dan aku tidak ingin mengecewakannya. Bagaimana pun juga, dia umma ku.

*pluk!*
Seseorang menepuk bahunya. Ternyata dia Sulli.

“Waeyo?”
“Aniya~ aku hanya ingin bertanya, dimana kau semalam?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku rasa aku melihat mu bersama seorang noona”
Mir terkejut. Tak seorang pun mengetahui masalah ini termasuk keluarganya. Kilatan balik ingatannya saat ia membuka pintu kamar ummanya untuk pamit berangkat sekolah membuat kepalanya sakit. Ummanya gantung diri didepan matanya. Mir terhuyung, kebetulan Changmin lewat lalu menahan adiknya itu.
“Hyung?”
Mir menatap hyungnya, ia masih memegangi kepalanya. Sulli tampak panic. Taemin dan Dongho baru saja tiba sambil membawa empat bungkus roti untuk sarapan mereka. Taemin memberikannya pada Changmin satu dan Dongho menatap Mir yang dipapah Changmin.
“Waeyo hyung?”
Sulli terkejut mendengar Dongho memanggil Mir dengan sebutan hyung.
“Hyung?”
Keempat namja itu menoleh dan menyadari kehadiran Sulli. Seohyun mendengarnya, ia langsung mendekati keempat bersaudara itu.
“Oppa, ada apa ini?”
“Seohyun? Mir tampaknya tidak enak badan” Dongho tampak gugup.
Seohyun menarik Taemin dan Dongho lalu menatap Changmin dan Mir.
“Lebih baik kita keruang kesehatan sekarang”
Ia tersenyum menatap Sulli yang masih bingung. Mereka pergi.

-Sulli POV-
Rasanya ada yang disembunyikan. Tapi aku masih tidak mengerti. Hyung? Aku rasa aku mendengarnya begitu. Atau mungkin aku salah dengar. Lagipula aku baru menyadari mengapa Changmin oppa, walikelas kami bisa sedekat itu dengan mereka bertiga dan mereka selalu bersama. Ah~ mungkin saja mereka membentuk semacam genk kan?
***
Seperti biasa, Tiffany sendirian dirumahnya…
Ia tampak pucat namun tetap membersihkan rumahnya. Yeoja ini memang tidak pernah keluar rumah. Ia lebih memilih menghabiskan waktunya merawat oppa dan dongsaengnya.
“Kepala ku pusing. Aku butuh obat yang dibelikan oppa”
Ia mencari dilaci kamarnya, namun ia tidak menjumpainya. Ia hanya mendapati botol obat yang kosong. Darah menetes dari hidungnya.
“Ah~ pusing sekali”
Tiffany duduk dilantai kamarnya. Darah terus mengalir dari hidungnya sampai ia pingsan.
***
Dongho termenung ditaman belakang sekolahnya. Ia duduk dibawah pohon sambil memikirkan kata-kata Seohyun saat mengantar hyungnya ke ruang kesehatan tadi.
Satu jam yang lalu…
“Kau melupakan ku”
“Mwo?”
“Kau lupa akan kenangan kita didesa”
“Kenangan apa?”
“Kau lupa ini?”
Seohyun mengeluarkan sebuah gantungan berbentuk daun helai empai. Dongho diam, ia tidak mengingat apapun soal benda itu.
“Kau berjanji akan kembali hari itu tapi kau…”
“STOP IT!!”
“Shin Dongho? Waeyo?”
“Ah~ biarkan aku sendiri”
Tanpa sadar kakinya telah membawanya ketaman belakang sekolah.

Saat itu ia menyandarkan dirinya dipohon rindang itu, ia mengeluarkan HPnya disana ada dua buah gantungan HP. Yang satu berbentuk daun helai empat dan sebuah bintang. Daun itu mirip dengan milik Seohyun lalu bagaimana dengan bintang? Ada apa dengannya? Sekujur tubuh Dongho tiba-tiba saja menggigil dan mengeluarkan keringat dingin. Ia membenamkan kepalanya dalam lipatan tangannya. Ia membiarkan angin dan dedaunan menyentuhnya. Ia tidak sanggup memikirkan hal yang ia nginkan, ia sadar ia kehilangan sesuatu dalam ingatannya.
***
Taemin diam dipojok kelas. Kali ini bukan untuk belajar, ia penasaran dengan benda yang ditemukannya pagi ini digudang. Sebuah kotak suara yang bertuliskan namanya ‘Lee Taemin’. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Ia tidak begitu ingat masa kecilnya, yang ia tahu saat ditengah hujan salju seorang wanita paruh baya memanggilnya lalu membawanya kesebuah rumah yang besar. Disana ia menjumpai wajah-wajah yang tidak biasa dilihatnya. Setelah itu yang dia tahu hanya satu hal seorang namja yang lebih tua darinya memeluknya hangat.
Mir membuka pintu kelas dan mendapati saengnya dipojok kelas. Ia menghampirinya lalu tersenyum.
“Taemin, kau tidak ingin pulang?”
“Hyung? Aku hanya sedang berfikir”
“Berfikir tentang apa?”
“Entahlah~ pikiran ku sedang kacau”
“Tenanglah Taeminie~ dimana Dongho? Tasnya masih ada”
Mir mengambil tas Dongho lalu membawanya disusul Taemin. Mereka meninggalkan note dipapan tulis kalau mereka membawa tas Dongho pulang.
***

One comment

  1. siryeo · December 14, 2011

    seru…seru…
    Kenapa lagi taemin?
    Dongho bakal inget lagi ga?

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s