Part 6 : Friends and Love

Tittle : Friends and Love
Author : Ichen Aoi a.k.a Kim Seoyeon
School : Horikoshi Gakuen
Cast Boys:
Yuto Nakajima / Yamada Ryosuke / Chinen Yuri / Daiki Arioka / Yabu Kota / Kei Inoo
Cast Girl:
Aoi Amakusa (ichen) / Dizura Hizaki (dinda) / Kazune Akihime (bella) / Ichigo Misaki (any) / Yuki Tachibana (dea) / Hyakka Ameryu (piluu) / Momoyuki Sakurai (dheika)

Hari ini seperti biasa, Yuki dan Yabu pulang bersama. Namun kali ini mereka menyempatkan diri untuk mampir kebeberapa toko pernak-pernik.
“Senpai! Lihat itu!!”
Yuki mendekati sebuah etalase toko.
“Apa lagi?”
Yabu tersenyum melihat tingkah kohainya itu.
“Cincin itu lucu ya!!” Yuki menatap Yabu dengan mata gemerlapan.
“Hhaa… Yuki mau itu??”
“Iie!”
“Lho?”
“Aku mau pakai itu hanya bersama koibito ku”
Yuki menggandeng Yabu ketoko lain. Mereka berhenti disebuah restoran sushi.
“Kita makan dulu disini!”
Kali ini Yabu yang menariknya masuk restoran. Sementara Yuki hanya bisa menurut. Mereka memesan dua buah sushi dan vanilla late.
“Yuki-chan, bagaimana kalau aku belikan cincin tadi untuk mu?”
Yuki menggeleng, “Tidak boleh. Aku kan sudah bilang, aku hanya mau koibito ku yang membelinya dan memakaikannya untuk ku”
Yabu mengangguk tanda mengerti.
Pesanan mereka tiba. Yabu langsung berdiri, “Yuki, bisa tunggu sebentar?”
Yuki mengangguk dengan bingung. Sedangkan Yabu langsung melesat pergi.

Beberapa saat kemudian Yabu datang sambil terengah-engah berusaha mengatur nafasnya.
“Senpai darimana? Kenapa terlihat sangat lelah?”
“Aku jalan-jalan mencari udara diluar ehh… malah ketemu JUMPers diluar sana. Terpaksa aku berlari untuk menghindari mereka” Yabu menjelaskannya sambil mengatur nafas dalam posisi duduk. Yuki memberikan minuman mineral, ia selalu membawanya ditas karena ia seorang cheers jadi dia butuh asupan air putih yang banyak agar kondisinya tetap fit.
“Arigatou”
Yuki mengangguk. Yabu sudah berhasil menguasai dirinya.
“Yuki, ada yang ingin ku katakan pada mu. Aku hanya bilang satu kali”
“Eh?? Pelit sekali senpai ini!”
“Haduuuhh~ makanya dengarkan baik-baik ya?”
Yuki mengangguk pelan. Yabu mengatur nafasnya dan detak jantungnya yang mulai tidak beraturan itu. Ia berharap suara degupan jantungnya yang seperti pukulan drum Yuto tidak sampai terdengar Yuki. Ia dapat merasakan keringat dingin mengalir dibelakang tubuhnya.
“Mana ku tahu akan sesulit ini” gerutu Yabu pelan.
Membuat Yuki menatapnya dengan bingung dan penuh tanda tanya.
“Ichiban mite kara watashi no kokoro ga moo wakarimashitaka. Anata no ureshii to muji wa masumasu ai tsukurimasu (Sejak pertama kali melihat mu hati ku sudah tahu. Keceriaan dan kepolosan mu membuat ku semakin mencintai mu)….”
Yabu belum sempat menyelesaikan kata-katanya namun Yuki sudah tersedak sushinya duluan. Membuat tenggorokannya tercekat makanan itu. Yabu panik dan memberikannya minuman sambil memukul-mukul punggungnya pelan.
“N-n-na-nani?”
“Aku kan sudah bilang hanya satu kali! Just one time!”
Yabu mengalihkan pandangannya. Ia sadar benar bahwa wajahnya memerah semerah tomat.
“Mou ichido senpai~”
“T-i-d-a-k-m-a-u! aku hanya bilang dan tidak meminta mu menjadi…”
“Koibito?” selidik Yuki.
“Yu-chan!”
“Aih senpai~ itu panggilan sayang mu untukku sekarang? Hhaa…”
Yabu diam. Ia mengatur perasaannya antara malu dan kesal. Bagaimana bisa disaat penting begini Yuki malah tertawa dan menggodanya seperti itu? Rupanya Yuki menyadari Yabu yang jadi diam. Ia berdiri lalu mencium pipi Yabu dengan lembut.
“Senpai~ you’re the only one” ucapnya sambil tersenyum didepan Yabu.
Hal ini membuat Yabu manatap Yuki setengah tidak percaya.
“Yah senpai! Aku tidak sedang bercanda!”
Rupanya kali ini Yabu berniat mengerjainya lagi. “Kau tidak mungkin serius!”.
Yuki terkejut ia pasang tampang meyakinkan dan nyaris ingin menangis. Namun Yabu memang tidak tahan jika melihat gadis didepannya ini menangis maka ia tersenyum.
“Sudahlah~ aku percaya. Oh ya, aku belikan sesuatu untuk mu”
Yabu mengeluarkan sesuatu dari tas sekolahnya.
“Ini!”
Sepasang cincin idaman Yuki yang tadi mereka lihat dietalase toko bersama. Yuki menatap Yabu dengan mata yang berkaca-kaca. Kemudian ia langsung memeluk Yabu. Dan senpainya itu balas mengusap kepalanya dengan lembut. Kali ini Yuki tidak protes seperti biasanya, ia terlalu bahagia hingga tidak bisa berkata apa pun.
***
*cup!*
Chinen mencium dahi Kazu tepat didepan rumah Kazu. Membuat Kazu sedikit terkejut. Ia diam beberapa saat. Ia disadarkan oleh tatapan Chinen.
“Doushite?”
“Iie”
“Kau terkejut Kazu-chan?”
“Eh…”
Ucapan Kazu menggantung. Membuat Chinen menatapnya lebih lekat. Kazu dapat merasakan sekujur tubuhnya memanas saking groginya. Ia jadi tampak kaku.
“Gomen ne~ aku tidak tahu kalau kau tidak suka”
“Bukannya begitu, aku hanya…”
Kazu mencari kata-kata yang tepat namun ia tidak menemuinya diotak maupun dilidahnya. Ia kembali diam. Sedangkan matahari senja sudah mulai mengintip.
“Kau tidak ingin masuk kerumah mu?” Chinen bertanya dengan sedikit heran sambil tersenyum, membuat Kazu sadar dari rasa bingungnya.
“Ah!! Iya! Rumah ku ya… ya… ehm… Chi~ arigatou”
Chinen tersenyum sambil mengangguk. Kazu melambaikan tangannya dengan sedikit ragu namun Chinen melambaikan tangannya dengan semangat.
“Mata ashita~”
“Mata ashita~”
Kazu memasuki rumahnya dengan langkah melambung. Ia tersenyum bahagia.
“Chi-kun!”
Hanya itu yang keluar dari mulutnya sambil melangkah dengan riang. Karena ia tinggal sendirian maka rumahnya hanya satu lantai namun terbilang cukup luas. Orang tua angkatnya saat ini sedang diHokkaido bersama keluarga besarnya. Kazu tidak bisa ikut karena masih harus sekolah karena masa ujian akhir kelas semakin mendekat. Dan masa-masa akhir tahunnya di Horikoshi akan segera tiba.

Chinen memikirkan sesuatu didalam mobilnya.
“Rasanya ada yang terlupakan tentang Kazu. Namun aku sedikit bingung. Ada apa sebenarnya. Kok rasanya aku sudah mengenal Kazu sejak lama ya?”
Chinen menyerah untuk berfikir, ia mengangkat kedua bahunya bingung lalu mengatur posisi tubuhnya agar nyaman tidur didalam mobil pribadi itu.
***
♫ Iya da yo furasetari.. Mujaki ni hito ni kobicha.. Amakute suppai toko.. Nokoshite oite (SHADOU)♫
Misa mengangkat telepon masuk diHPnya. Disana tertera nama Yama-kun. Misa agak enggan untuk mengangkatnya namun HPnya terus berdering sebanyak 3 kali. Akhirnya ia memberanikan diri untuk mengangkatnya.
“Moshi moshi Yama-kun… Malam ini? … baiklah~”
‘Ada apa dengan Yama-kun? Kenapa ia ingin bertemu dengan ku?’. Dengan segera Misa mengganti pakaiannya. Kemudian telepon masuk lagi. Kali ini dari Daiki.
“Dai-kun? … aku tidak bisa. Gomen… entahlah, Yama-kun meminta ku menemuinya. Aku tidak tahu untuk apa… Aku akan mengabari mu dengan segera. Arigatou~”
Usai memutus telepon Daiki, Misa langsung bergegas keluar rumah.
“Mommy, aku keluar sebentar ya!”
“Jangan sampai larut malam ya, Misa”
“Aku mengerti”
Misa mencium pipi ibunya lalu pergi diiringi tatapan heran ayahnya.
“Misa mau kemana?”
“Entahlah. Dia bilang hanya sebentar”
“oh… sudah besar ya dia”
Orangtuanya tersenyum lalu kembali melanjutkan aktifitas masing-masing.
***
Hyakka dan Aoi pergi keluar. Mereka memutuskan untuk ke Mall 109 di Shibuya. Mereka ingin membeli gadget baru. kebetulan, Kei Inoo dan Yukiko malam ini pergi nonton film bersama. Mereka bergandengan tangan. Aoi menatap escalator naik disampingnya.
“Hyakka.. itu kan…”
Ucapannya terhenti saat melihat Hyakka menatap kearah yang sama dengannya. Matanya merah, sebulir air mata jatuh dipipinya. Aoi mengerti. Ia langsung membawa Hyakka ketempat lain.
“Kau tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja Aoi-chan”
“Aku rasanya tidak begitu yakin”
“Sudahlah”
Rupanya usaha mereka sia-sia saja karena Kei dan Yukiko kini berpapasan dengan mereka. Yukiko tersenyum melihat juniornya, ia menyapa keduanya.
“Hai Hyakka! Hai Aoi!”
“Senpai~” ucap Hyakka dan Aoi bersamaan sambil tersenyum.
“Kalian mau kemana?” Kei bertanya pada keduanya.
“Mencari gadget baru” Hyakka menjawabnya dengan senyuman yang dipaksakan.
“Kau kenapa? Sakit?” Kei meletakkan tangannya didahi Hyakka. Hyakka sedikit menjauh.
“Aku baik-baik saja. Kami duluan ya senpai”
Hyakka menarik tangan Aoi pergi. Setelah diluar jangkauan kedua senpainya Hyakka menangis sambil berjongkok, bersandar pada tembok.
“Sudahlah. Lebih baik kau bilang padanya agar hati mu lega”
“Aku tidak bisa”
Aoi hanya bisa diam melihat temannya menangis begitu. Ia tahu kalau Hyakka sedang ingin merenungkan perasaannya sendiri dan memutuskan apa yang terbaik untuknya.
***
Momo keluar untuk membuang sampah sambil membeli telur diminimarket. Ia berpapasan dengan Chinen. Momo menyapanya dengan riang.
“Chiiiinen-kun!”
“Momo-chan??”
Momo menjulurkan tangannya untuk menjabat Chinen yang membalasnya juga.
“Kenapa kau bisa disini?” Momo mensejajari langkah Chinen.
“Rumah ku kan diblok A. kamu?”
“Aku diblok C. Ternyata kita ini tetangga ya?”
Momo menatap Chinen dengan tatapan yang berbinar-binar.
“Kau mau kemana?” Chinen melihat Momo yang bawa-bawa bungkusan besar.
“Haduh! Sampai lupa! Aku mau buang sampah lalu ke minimarket membeli telur”
“Aku juga mau ke minimarket. Kita bisa kesana bersama” tawar Chinen.
“Ok! Temani aku buang sampah dulu” pinta Momo.
Chinen mengangguk lalu mengantar Momo ketempat pembuangan kemudian mereka pergi ke minimarket bersama.
***
Zura mencari udara segar. Ia iseng jalan-jalan dipinggiran kota. Dipikirannya ada Daiki.
“Dai-kun selalu mementingkan Misa-chan dibandingkan aku. Sedikit menyebalkan” gerutunya sambil menendang-nendang kaleng minuman.
*pluk!*
Kaleng itu mendarat dikepala seorang cowok yang sedang membetulkan tali sepatunya.
“Aduh!” serunya.
Zura langsung mendekatinya untuk meminta maaf. “Gomen! Gomen~”
“Iya” jawab cowok itu singkat. Sedetik kemudian mereka saling memandang satu sama lain.
“Yama-kun?”
“Zura-chan?”
Mereka berdua berdiri bersamaan.
“Mau kemana?” tanya Yama dengan sedikit gugup.
“Tidak ada. Aku hanya jalan-jalan iseng saja” Zura tersenyum.
“Sendirian?” tanya Yama lagi. Disambut Zura dengan anggukkan. Mereka diam beberapa saat. “Doushite? Kau mau menemani ku?” Zura menatap Yamada iseng.
“Eh?? Aku boleh menemani mu?” Yama berusaha meyakinkan pendengarannya.
Zura mengangguk sambil tersenyum. Mereka menyusuri pinggiran kota Tokyo sambil berbagi cerita satu sama lain.
“Kau tahu Yama-kun? Aku menyukai seseorang tapi dia terus memikirkan orang lain”
Zura menghela nafas berat. Yama jadi tahu kalau Zura sedang menyukai orang lain. Zura menoleh pada Yama, ia tidak menyadari kalau Yama sedang sedikit merenung.
“Bagaimana dengan mu, Yama-kun?”
“Sama saja dengan mu, Zura”

Mereka tidak menyadari kalau Misa berada diseberang jalan melihat semua ini. Sekujur tubuhnya menggigil. Maklum saja malam ini mulai pergantian musim dingin. Misa tahu satu hal saat melihat semua ini. Yama akan melupakan janjinya untuk meminta Misa bertemu dengannya. Misa memutuskan berbalik arah untuk pulang dan melupakan semuanya.
“Semua sudah berakhir Yamada Ryosuke” bisiknya pelan.
***
Sudah satu minggu Yabu dan Yuki jadian dan berita ini pun sudah tersebar keseantro Horikoshi Gakuen. Hubungan mereka makin hari terus membaik. Hari ini pun mereka tampak pulang bersama, Yabu merangkul Yuki. Ia melihat toko bunga diseberang jalan.
“Yu-chan tunggu disini sebentar ya?” pinta Yabu.
Yuki mengangguk dengan bingung. Yabu menyebrangi jalan. Yuki menantinya diseberang jalan sambil memperhatikan seekor anak kucing yang imut.
“Kawaii!” seru Yuki. Ia jongkok lalu mengelus bulu kucing kecil itu. Kucing kecil itu terus melangkah menyebrangi jalan. Yuki menyadari kalau ada sebuah mobil melaju dengan kencang. Secara refleks Yuki mencoba menyelamatkan kucing itu.
*blasssttt*
Yuki pingsan berlumuran darah. Yabu langsung berlari, membiarkan bunga mawar yang baru saja dibelinya jatuh ditrotoar. Ia langsung menggendong Yuki , menyetop taksi dan membawanya kerumah sakit.
***
(song : Endless Dream by Hey! Say! JUMP)

Aoi, Kazu, Hyakka, Zura, Misa dan Momo sudah berada dirumah sakit tempat Yuki dirawat. Mereka langsung datang bergerombol saat Yabu menelepon Misa. Lalu member JUMP yang satu sekolah dengan mereka juga hadir disana. Yabu sejak tadi masih duduk dengan wajah pucat karena kepanikannya. Dia belum mengganti seragamnya yang berlumuran darah.
“Senpai~ ini ku bawakan baju ganti” Yuto memberikan baju ganti untu Yabu.
“Arigatou” jawab Yabu lemah namun belum beranjak dari duduknya.
Terpaksa Inoo Kei menarik Yabu agar ia mau berganti pakaian. Yang lainnya terus menunggu dokter keluar dari ruangan didepan mereka.
Daiki terus mendampingi Misa sejak tadi. Membuat Zura terus-terusan melirik mereka. Pintu ruangan itu terbuka, menampakkan seorang dokter yang melangkah keluar.
“Bagaimana keadaan teman kami, Dok?” Kazu langsung memburu dokter itu.
“Dia mengalami koma. Doakan saja kesembuhannya. Selain itu ia mengalami sbenturan dikepalanya, ada kemungkinan ia akan kehilangan ingatannya” Dokter itu menatap pelajar didepannya satu per satu. Ia tidak menemukan orangtuanya. “Dimana orangtuanya?”.
“Mereka sedang dalam perjalanan ke Jepang” jawab Aoi singkat.
Mereka semua diizinkan masuk keruangan tempat Yuki dirawat.
“Yuki-chan!”
“Yu-chan!”
“Yuki!”
Kazu, Momo, Zura dan Misa langsung mendekati Yuki. Sementara Aoi memberikan mereka keleluasaan, dia tidak ingin mengganggu Yuki yang dia anggap sedang istirahat. Sementara itu pikiran Hyakka sedang tidak ada ditubuhnya. Ia menatap Kei Inoo sejak tadi.
Yabu masuk. Semua memberikan jalan.
Ia duduk disamping tempat tidur Yuki lalu menggenggam tangannya hangat.
“Yuki, ku mohon sadarlah. Aku tidak pernah membayangkan kau akan pergi meninggalkan ku. Bangun dan tersenyumlah. Beritahu akau kalau semua ini hanya mimpi buruk ku saja”
Air matanya jatuh ketangan gadis yang kini tengah terbaring lemah. Ia yakin kalau Yuki mendengarnya dan mencari jalan pulang untuk kembali padanya. Yab yakin sekali akan hal itu, sampai saatnya tiba, Yabu akan terus menunggu.
***
“Ku lihat kau lelah. Aku akan mengantar mu pulang, Hyakka” tawar Inoo sambil menatap kohainya dengan sedikit khawatir. Hyakka hanya diam.
“Hyakka-chan? Kau sehat? Aku sudah menduganya, kau pasti sedang sakit”
Inoo langsung merangkul Hyakka keluar ruangan.
“Minna-san! Aku akan mengantar Hyakka pulang. Dia sedang tidak enak badan”
Yang lainnya mengangguk sebagai tanda mengerti.
“Senpai…” Hyakka baru menyadarinya dan ingin menolaknya namun Inoo Kei keburu menariknya pergi. Mereka jalan keparkiran. Kebetulan hari ini Inoo sedang membawa mobilnya sendiri.
“Masuklah. Kita bisa bicara selama perjalanan”
“Senpai…”
“Sudahlah Hyakka. Aku benar-benar tidak mengerti kamu yang sekarang!”
Ia membuka pintu mobil lalu membiarkan Hyakka masuk. Mereka pun pergi dari rumah sakit.
“Hyakka, sebenarnya ada apa dengan mu?”
“Tidak ada apa-apa senpai”
“Aku mengenal mu jadi aku tahu dirimu”
Mendengar hal itu membuat Hyakka menatap Inoo Kei dengan sedikit emosi.
“Senpai tidak sepenuhnya mengenal ku!”
“Hyakka? Ada apa dengan mu?”
Inoo menatapnya heran. Hyakka tidak menjawabnya. Akhirnya mereka hanya diam selama perjalanan itu.
***
“Kau butuh makan”
Yuto mendekati Aoi. Gadis itu hanya diam.
“Hei! Ao-chan??”
“Aku tidak lapar. Kau saja makan sendiri sana!”
Aoi keluar ruangan mencari tempat duduk. Yuto mengikutinya.
“Kenapa kau mengikuti ku terus?”
“Aku hanya ingin mencegah mu melakukan hal gila seperti kemarin lagi”
Yuto menghenyakkan dirinya disamping Aoi. Gadis itu menatap kosong kedepan.
“Yuto, kau tidak tahu seberapa dalam penyesalan dan rasa sayang ku pada onichan”
Ini pertama kalinya Aoi meneteskan air mata didepan orang. Hal ini embuat Yuto bingung. Ia bingung antara memeluknya atau hanya mengusap kepala gadis disampingnya. Namun ia memutuskan untuk memeluknya saja.
“Sudahlah Ao-chan”
Ia dapat merasakan kalau tubuh yang dipeluknya sedikit bergetar karena sedang menangis. Yuto hanya bisa diam sambil terus berusaha menenangkannya.
***
“Kazu-chan! Apa kau bisa menemaniku makan diluar sebentar? Kita akan kembali lagi kesini” ajak Chinen yang sejak tadi perutnya berbunyi tak karuan.
“Baiklah” putus Kazu. Namun Momo langsung memutuskan untuk ikut bersama mereka.
“Apa aku boleh ikut?” tanyanya penuh harap.
“Silahkan saja” jawab Chinen singkat sambil menarik Kazu pergi. Mereka bertiga keluar. Kini diruangan itu tinggal Yabu, Yama, Daiki, Misa dan Zura.
“Misa, kau mau keluar?” tawar Daiki. Misa hanya menggeleng pelan berharap Yama tidak menyadari kecanggungannya. Namun dalam detik yang sama Yama berfikiran untuk minta maaf atas kejadian yang lalu. Ia melupakan janjinya dengan Misa. Dan selama satu minggu ini Misa terus menghindarinya. Zura sendiri sudah mulai mengerti kalau Daiki menyukai orang lain yaitu, Misa.
“Kalian bisa pergi makan menyusul yang lain” Zura tersenyum kepada Daiki dan Misa.
“Aku akan menemani mu” tawar Daiki lagi.
“Baiklah” akhirnya Misa memutuskan untuk keluar saat menyadari kalau Yama ingin bicara dengannya. Kemudian membuat Yama kembali diam dan mundur.
Yabu menoleh pada Yama dan Zura. “Kalian juga istirahatlah dulu. Carilah makan siang”
“Aku akan mencari makan siang untuk senpai juga. Tunggu ya” Zura tersenyum ceria lalu menarik Yama pergi. Mereka menyadari kalau Yabu ingin sendiri disana bersama Yuki yang masih tidak sadarkan diri.
***

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s