Part 3 : Complicated Story

Tittle : Complicated Story (Special Maknae)
Cast : Changmin DBSK
Taemin SHINee
Mir MBLAQ
Dongho U-Kiss
Seohyun SNSD
Sulli F(x)
Author : Ichen Aoi a.k.a Kim Seoyeon

Changminlah yang pertama kali menemukan Tiffany dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia membawa yeoja itu kerumah sakit. Mir dan Taemin menyusul bersama Dongho kerumah sakit.
“Hyung bagaimana keadaan noona?”
Ketiga namja itu tampak khawatir. Changmin mengusap kepala mereka satu per satu.
“Tenang saja, dia baik-baik saja”
Ada nada getir dalam suara Changmin sehingga dongsaengnya tidak bisa begitu saja mempercayainya. “Hyung beritahu kami” Dongho meminta hyungnya bicara jujur.
Dokter keluar dan meminta mereka ber-empat masuk. Disana Tiffany tampak sangat pucat. Yeoja itu tersenyum menatap saudara-saudaranya.
“Oppa, saengie. Waktu ku tak banyak, aku sudah tidak bisa lagi menjaga kalian. Jika sesuatu terjadi nanti, ku minta agar kalian tetap tinggal bersama bersama Changmin oppa. Kita saudara, jangan sampai kita terpisahkan satu sama lainnya. Hanya itu permintaan ku”
“Jangan banyak bicara lagi. Kau harus istirahat” Changmin mengusap kepala Tiffany dengan lembut.
“Aku hanya ingin kalian tahu kalau aku dan oppa sangat menyayangi kalian bertiga”
Mir, Taemin dan Dongho mengangguk.
Lalu alat deteksi detak jantung menandakan garis lurus. Tiffany meninggal dengan wajah tersenyum.
***
Upacara pemakaman selesai, keempat namja itu kembali kerumah mereka.
Changmin menatap dongsaengnya yang tampak suram, “Mir, Taemin dan Dongho. Ingat! Apapun yang terjadi tetaplah bersama ku. kalian mengerti?”
“Ne~ arra” ucap mereka serempak.
***
Changmin menarik Seohyun keruangannya.
“Seohyun, saya minta kau tidak lagi memintanya untuk mengingat kenangan kalian itu!”
“Oppa? Waeyo?”
“Jangan banyak bertanya! Aku tidak ingin Dongho melepas dirinya dari kami”
Changmin menyuruh Seohyun keluar dari ruangannya. Yeoja itu bingung dan merasa sedih. Air matanya menetes mengingat masa kecilnya dengan Dongho. Sementara itu Changmin menatap foto dia dan saudara-saudaranya sambil bergumam pelan, “Tiffany, ku harap aku bisa menjaga dongsaeng-dongsaeng kita tanpa mu. Semoga Taemin dan Dongho tidak mengingat apapun soal itu”. Ia benar-benar bimbang dan bingung.
Seohyun melangkahkan kakinya sambil meneteskan air mata. Ia masih mengingat jelas semuanya, semua yang dikatakan si kecil Shin Dongho padanya.

Beberapa tahun yang lalu…
Sebuah TK dipesisir desa Korea tampak sedang sibuk dalam jam pelajarannya. Seorang yeoja mungil menangis dibawah pohon. Ia mendengar suara langkah kaki mungil lainnya. Tampaklah seorang namja yang seumuran dengannya.
“Waeyo?”
“Gwaenchana yo~”
“Bilang saja pada ku”
“Shin Dongho, aku baik-baik saja”
“Seohyun, appa ku bilang jangan pernah menyembunyikan hal yang membuat mu sedih”
Yeoja itu diam beberapa saat lalu menangis. Tangan mungil Dongho meraihnya.
“Appa ku dan umma ku bertengkar lagi hiks…”
“Tenanglah”
“Aku sedih sekali melihatnya”
“Seohyun, karena kau sedang sedih aku akan membuat mu tersenyum. Ambillah!”
Dongho mengeluarkan sebuah gantungan berbentuk daun segi empat dari sakunya.
“Jika kau sedih, tatap gantungan itu lalu panggil nama ku. aku akan datang menghiburmu”
“Kau janji?”
“Ne~”
Sepasang jari kelingking yang mungil saling terkait membuat janji. Dongho adalah namja pertama yang menghiburnya saat ia sedih, itu sebabnya Seohyun sangat menyukainya sejak kecil.
***

Changmin mengambil keputusan kalau dia akan memisahkan dongsaengnya satu sama lainnya. Ia mengumpulkan mereka diruang keluarga. Mereka bertiga terkejut.
“Mwo?!”
“Itu sudah jadi keputusan ku!”
“Hyung, kami sudah terbiasa bertiga” Mir mengeluh.
“Aku akan dikembalikan ke Amerika lagi?” Dongho menghela nafas berat.
“Aku tidak mau ke Jepang” Taemin langsung menolak.
“Kalian harus mandiri. Ingat satu hal, jangan pernah putus hubungan. Kita harus saling menghubungi satu sama lain. Tiap liburan aku akan mengirimkan uang saku untuk kalian pulang ke sini” Changmin mulai mencatat anggaran biaya yang akan ia keluarkan untuk adik-adiknya itu.
“Hyung! Aku menolak! Aku tidak akan ke Australia!” Mir berdiri, ia sudah mengambil keputusan.
“Hyung, aku tidak mau di Amerika. Disana sepi sekali tanpa kalian” Dongho mengeluh.
“Aku belum terbiasa tanpa Mir hyung” Taemin memilin kaosnya.
Changmin menatap mereka satu per satu. Ia sebenarnya tidak ingin memisahkan mereka begini namun ia lebih tidak ingin mereka berpisah selama-lamanya jika tahu beberapa hal yang sebenarnya. Ia tak akan bisa kehilangan dongsaengnya satu per satu.
“Kalian bisa memikirkan hal ini lagi. Ini untuk masa depan kalian. Aku memberikan kalian waktu dua minggu lagi diKorea. Ku harap kalian bisa mengambil keputusan yang terbaik” Changmin pergi meninggalkan ketiganya.
Mereka terhenyak dalam pikiran masing-masing. Malam itu tak seorangpun dari mereka yang bisa memejamkan matanya. Kekhawatiranlah yang terus menghantui mereka.
***
Disekolah…

-Taemin POV-
Aku selalu merasa ada yang aneh antara hubungan ku dengan hyung-hyung ku juga Dongho. Sebenarnya ada apa ini? Tak ada seorangpun yang berniat memberitahu ku. membuat kepala ku semakin sakit saja.

“Taeminie~ main sepak bola yuk!”
Mir sudah tiba dibelakangnya dengan senyum sumringah.
“Hyung?? Baiklah~ ajak Dongho juga sana!”
“Aku tidak mau!” rupanya Dongho sudah ada dibelakang mereka.
“Mau kemana kau?” Taemin menatapnya bingung.
“Aku mau pergi bersama Seohyun, ada sesuatu yang ku cari”
“Wah~ sudah baikan rupanya. hHaa…” Mir tertawa lepas dan membuatnya dihadiahi sebuah jitakan dari Dongho yang mendengus kesal.
“Main sana! Aku sibuk!” Dongho pergi meninggalkan Mir yang masih tertawa sedangkan Taemin hanya tersenyum melihat tingkah mereka.

Kelas…

-Dongho POV-
Aku harus menemui Seohyun, hanya dia yang tahu bagian dari ingatan ku yang hilang. Ya! Hanya dia. Aku yakin dia bisa membantu ku mengingatnya. Aku yakin!

-Seohyun POV-
Perkataan Changmin oppa membuat ku tidak bisa lagi memaksa Dongho mengingat semuanya. Aku takut. Aku tidak mengerti apa maksudnya, namun entah mengapa aku jadi takut kalau Dongho akan hancur. Aku tidak ingin itu terjadi, melihatnya saja sudah membuat ku bahagia. Lebih baik aku diam.

“Seohyun! Kau mau pergi dengan ku kan?”
“Eh? Dongho?”
“Ku mohon. Antar aku kedesa tempat kita bertemu”
“Maksudmu?”
“Ku mohon~ hanya kau yang bisa ku harapkan saat ini. Bantu aku”

-Seohyun POV-
Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak tahu, aku masih bingung. Changmin oppa memintaku diam sedangkan Dongho berusaha mencari tahu. Aku harus bagaimana?
“Kau tidak mau membantu ku?”
Tatapan mata itu? Tatapan kesedihan, aku tidak bisa membiarkannya begini. Maafkan aku oppa, aku memilih membantu Shin Dongho.
***
(Song : Snow Flakes by Park Hyo Shin)

“Kau ingat? Dulu kita selalu main sepak bola seperti ini!”
Mir tampak bahagia mengingat masa kecilnya. Taemin berusaha mengingat-ngingatnya.
“Taemin! Oper bolanya!”
“Ne!”
Namja itu mengoper bola kesiswa yang lain. Selang beberapa saat kemudian, tim Mir dan Taemin menang. Mir langsung memeluknya. Tiba-tiba saja Taemin mengingat kilasan masa lalunya. Kepalanya sakit. Ia terjatuh.
“Taeemin?”
“Hyung? Aku…”
“Waeyo?”
“Aniya hyung”
Taemin berdiri. Mir menatapnya dengan bingung.
“Aku baik-baik saja”
“Kau yakin?”
“Ne”
“Aku hyung mu dan aku akan menjagamu juga menyayangi mu. Jadi jangan pernah merasa sendirian lagi ya. Kau bisa berbagi dengan ku”
Taemin terkejut, dia pernah mendengar kata-kata yang hampir sama dimasa kecilnya. Bagian yang sengaja ia lupakan. Namun ingatan itu kini kembali. Taemin tersenyum menenangkan Mir yang tampak sangat khawatir. Namja itu meninggalkan hyungnya menuju kran air. Air matanya menetes, ia membasuh mukanya agar tidak ada yang mengetahui kalau seorang Lee Taemin sedang menangis. Ia baru ingat siapa dirinya, siapa keluarganya dan siapa sebenarnya saudara-saudaranya itu.

15 tahun yang lalu…
Seorang anak berusia dua tahun tersesat. Ia ditemukan seorang wanita penuh wibawa yang membantunya mencari orangtuanya namun sayang sekali orang tuanya tidak ditemukan dimanapun. Maka wanita itu membawanya pulang.
“Annyeonghaseyo~”
“Umma!”
“Ahjumma”
“Changmin tidak perlu sesungkan itu pada ku. Kau putra ku juga. Kau kan hyungnya Mir”
“Ne~ u…umma…”
Anak berusia enam tahun itu tampak canggung berbeda dengan saudarinya yang langsung memeluk wanita paruh baya itu.
“Changmin, Tiffany dan Mir. Perkenalkan, ini adik baru kalian. Namanya Taemin”
Mir langsung memeluknya sambil tersenyum manis.
“Aku Mir, mulai hari ini aku hyung mu dan aku akan menjagamu juga menyayangi mu. Jadi jangan pernah merasa kesepian lagi ya”
Taemin menyambut keluarga barunya sambil tersenyum bahagia.

Masa sekarang…
Taemin baru menyadari kalau dia bukanlah bagian dari keluarga itu. Ia bukan saudara Mir. Mir bukan hyungnya. Namun ia terlanjur terbiasa berada disisi hyungnya itu. Ia terbiasa meminta bantuan pada hyungnya itu. Selama ini ditanamkan dalam ingatannya kalau Mir adalah kakak kandungnya. Hanya itu.
“Hyung”
Ia menangis diatas westafel. Sementara itu Mir merasakan degupan yang tiba-tiba datang dijantungnya. Perasaan dan pikirannya langsung mengarah pada Taemin dan Dongho.
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
***
(Song : Love Song by Luna Sea)

Dongho tiba didesa itu.
Beberapa orang mengenalinya dan Seohyun.
“Selamat datang kembali”
Semua menyambutnya hangat. Seohyun dan Dongho sampai berulangkali membalas senyuman dan sapaan penduduk desa itu.
“Shin Dongho?”
“Iya saya Dongho, ada apa Ahjumma?”
“Kau kemari ingin berkunjung kemakam orang tua mu ?”
“Makam orangtua saya? Apa mereka dimakamkan disini?”
“Lho? Memangnya hyung mu tidak bilang ya?”
Dongho hanya menggeleng. Wanita paruh baya itu mengantarnya kesebuah pemakaman umum. Ia meninggalkan Dongho dan Seohyun. Rupanya makam orangtuanya bersebelahan.
“Appa, umma…”
Namja itu bersimpuh didepan makam orangtuanya. Namun ia masih tidak bisa mengingat kenapa orangtuanya bisa meninggal. Ia meminta Seohyun untuk menemaninya keliling desa berharap akan ada yang mengetahui tentang hal itu.
Ia diantarkan seorang wanita tua menuju sebuah jalan. Namun wanita itu tidak menjelaskan apapun. Dia hanya minta agar Dongho mengingatnya sendiri.
“Kau ingat sesuatu?”
“Aniya”
Seohyun menatap namja didepannya dengan heran dan khawatir. Sebuah mobil melaju cepat dan membuat Dongho melompat menyelamatkan Seohyun. Keduanya selamat namun ada satu hal yang merasuki ingatannya. Teriakan anak kecil.

-Dongho POV-
Kepala ku sakit. Namun aku yakin aku tadi mendengar teriakan akan kecil. Aku tidak mungkin salah mendengar. Akan kecil itu seperti ku kenal. Aku mengenalnya.
Sebuah cahaya memasuki ingatannya. Kali ini Dongho dapat melihatnya dengan jelas. Kepalanya sakit dan ia pingsan. Seohyun dan beberapa penduduk desa membawanya kerumah sakit terdekat.
***
Beberapa tahun yang lalu…
“Appa! Umma! Aku mau pergi menemui Seohyun dulu ya”
Si Kecil Dongho tampak bersemangat. Ia manatap kedua orangtuanya dengan penuh senyuman.
“Aku boleh ikut?” Taemin mengerjapkan mata kecilnya.
“Aniya hyung! Aku kan mau menemui seorang yeoja. Tunggu aku ya”
“Jangan lama-lama atau kita tidak jadi pindah ke Seoul”
“Ne arra hyung! Aku tidak akan mengecewakan Changmin hyung”
Dongho mungil tersenyum, ia berlari keluar pagar. Umma dan appanya keluar rumah karena ada sesuatu yang tertinggal olehnya.
“Mana Dongho? Gantungan bintangnya jatuh! Sudah susah payah umma dan appa cari ditoko kemarin karena dia yang minta”
“Dia suda berlari ketaman” Taemin menunjuk keluar gerbang.
“Dasar anak nakal!”
Ummanya berlari mengejar Dongho dan mendapati putranya sedang menyebrang sambil berlari tanpa memperhatikan lampu lalu lintas. Itulah kebiasaan buruk Dongho, selalu tidak peduli dengan sekelilingnya. Ummanya berlari kearahnya, tepat saat itu sebuah truk besar melaju kearah mereka. Tanpa disadari appanya juga menyusul dan melihat semua itu.
“Hye Rin! Donghooooooooooo!”
Lelaki paruh baya itu berlari kearah istri dan anaknya. Dalam sekejab bus itu menabrak ketiganya. Dongho shock, ia melihat darah membanjiri jalanan.
“Dongho, simpan ini baik-baik” ummanya menatapnya sambil tersenyum untuk yang terakhir kalinya sedangkan appanya sudah lebih dulu menghadap yang kuasa. Ia melihat kematian orangtuanya didepan matanya sendiri.
Dongho pun masuk rumah sakit. Ia benar-benar terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri. Hanya tinggal umma kandung dari Changmin dan Tiffany juga umma kandung Mir yang tersisa. Untuk menghilangkan ingatannya, kedua umma angkatnya itu membawa mereka pindah ke Seoul.
***
“Seohyun, aku membunuh orangtua ku sendiri”
Dongho sadar dari pingsannya. Ia menutup wajahnya. Seohyun langsung medekatinya.
“Apa yang kau bicarakan?”
“Aku mengingatnya dimana hari aku berjanji akan menemui mu membawa gantungan itu yang satunya. Appa dan umma menyelamatkan ku dari kecelakaan mereka meninggal didepan mata ku. karena aku! Aku membunuh mereka!”
Dongho menggigil. Seohyun sangat ketakutan dan khawatir, ia memeluk namja itu.
“Tenanglah~”
“Aniya! Aku membunuh orangtua ku sendiri”
“Kau tidak membunuh siapa pun”
“Aku membunuh mereka!”
“Aniya!”
Seohyun menangis sambil memeluk Dongho yang menggigil hebat.

Sementara itu…
“Hyung! Aku tidak menemukan Taemin”
“Mworago Mir?! Bukankah seharusnya dia bersama mu?”
“Dia hilang saat…”
Ucapan Mir terpotong dengan kehadiran Taemin.
“Aku disini”
Changmin dan Mir langsung memeluknya bergantian.
“Kenapa kau membuat kami cemas?!”
“Kau membuat ku bersalah karena tidak bisa melindungi mu!”
Mir mengguncang tubuhnya. Taemin tertunduk. Changmin baru menyadari kalau Dongho tidak ada bersama mereka.
“Dimana Dongho?”
“Dia pergi bersama Seohyun”
“MWO?! Kapan?”
“Tadi saat jam istirahat kedua” Mir menjawabnya dengan bingung.
“Kalian ikut aku! Kita pergi menyusul mereka”
Changmin membawa kedua dongsaengnya pergi dengan mobil kecepatan tinggi.
***
“Tinggalkan aku sendiri”
“Kau yakin Dongho”
“Sangat yakin”
Seohyun terpaksa meninggalkan Dongho sendirian.
“Aku akan mencari makan siang”
Dongho mengangguk. Ia pergi diam-diam menuju tempat dimana orangtuanya meninggal. Ia berdiri cukup lama disisi jalan itu. Ia melangkah perlahan ketengah jalan sambil bergumam pelan
“Appa umma… aku bersama kalian”
Sebuah mobil sedan melaju cepat dan menabrak namja itu. Dengan segera ia dilarikan kerumah sakit yang sama karena memang didesa itu hanya ada satu rumah sakit.

Seohyun menghubungi Changmin.
“Oppa~ Dongho kecelakaan dia mencoba bunuh diri… ia… cepatlah datang”
***
Beberapa jam kemudian Dongho sadar, disekelilingnya sudah ada Changmin, Mir, Taemin dan Seohyun. Ia mengerjapkan matanya.
“Kenapa aku masih disini?”
“Babo! Kau mebuat kami takut dan khawatir” Changmin menahan air matanya. Ia menatap Dongho yang penuh perban.
“Kau tahu kan kalau kami takkan bisa kehilangan mu?” Mir tersenyum sambil mengusap kepala dongsaengnya itu. Muncul kecemburuan dihati Taemin. Ia satu-satunya orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan mereka bertiga.
“Hyung, aku ingin menanyakan sesuatu pada kalian” Taemin membuka mulutnya. Semuanya menatap dengan heran.
“Ada apa?”
“Siapa aku?”
Mir dan Changmin saling pandang. Dongho bingung.
“Hyung, apa yang kau bicarakan?”
Seohyun memilih diam karena ini uurusan keluarga mereka dan tidak ada hubungannya dengan dirinya. Teamin menarik nafas dalam dan rasanya Changmin mengerti kemana arah pembicaraan Taemin. Ia memutuskan untuk jujur dan menceritakan semuanya.
Seisi ruangan itu diam setelah mendengar penjelasan Changmin.
“Bagaimana pun kita saudara. Taemin kau adalah titipan umma. Umma menitipkan mu pada kami terutama Mir. Dan kau, Dongho. Appa dan umma menitipkan mu pada kami dengan kasih sayangnya. Mereka mengorbankan nyawanya demi kamu, agar kamu bisa hidup bersama kami. Jangan pernah berfikir kalau Taemin adalah bagian yang terpisah dari kami dan Dongho, kau bukanlah seorang pembunuh. Kalian berdua adalah titipan. Mir, satu hal yang tidak kau ketahui kalau aku selalu memantau kalian setiap hari lewat cara yang tak terduga. Aku tahu kau masih menyalahkan dirimu atas meninggalnya umma mu. Namun kau tahu kalau kau bertanggung jawab penuh atas Taemin. Noona yang terus menghantui mu sudah ku bereskan. Jadi jangan pernah khawatirkan hal itu lagi”
Mir, Taemin, Dongho dan Seohyun menatap saudara tertua mereka dengan bingung.
“Hyung kau…”
“Kalian pikir aku hanya seorang guru biasa? Jika iya, mana bisa aku membiayai kalian bertiga? Satu hal yang tidak kalian bertiga ketahui. Appa dan ketiga umma kita memiliki empat perusahaan berbeda. Appa terlalu hidup dengan berlimpah harta sehingga dia memilih untuk memiliki tiga istri yang sama kayanya. Mereka berempat menitipkan segalanya pada ku sampai kalian cukup dewasa untuk memegang masing-masing perusahaan itu. Akulah yang bertanggung jawab penuh pada kalian. Kalian bertiga titipan appa dan umma juga Tiffany. Aku menyewa banyak orang untuk mengawasi kalian tanpa menyentuh kalian”
Semuanya diam.
“Hyung maafkan aku. Aku akan berusaha melupakan kecelakaan itu” Dongho tersenyum.
“Aku juga akan melupakan semuanya. Aku adalah saudara kalian. Selamanya begitu. Mianhae hyung” Taemin menundukkan kepalanya.
“Aku juga akan berhenti menyalahkan diri ku. hyung terimakasih telah merawat kami”
Mir menepuk pelan bahu Changmin. Namja itu memeluk ketiga dongsaengnya.

Sementara itu disekolah tersebar kabar bahwa Dongho telah membunuh orangtuanya sendiri, Taemin anak haram dan Mir adalah penjual diri. Semua ini sudah pasti perbuatan Sulli yang gerah dengan sikap Seohyun yang terus-terusan berada disisi ketiga pangeran yang selalu memperdulikannya.
“Setelah kalian kembali. Kalian akan terkejut dengan hadiah dari ku. dan kalian akan menyesal karena telah mengabaikan ku”
***
Hari-hari sekolah kembali seperti biasanya.
Keempat namja bersaudara itu dan Seohyun baru kembali kesekolah setelah menghilang selama tiga hari lamanya. Image pangeran langsung jatuh menjadi sampah akibat gossip buruk yang beredar.
“Mereka itu ternyata bersaudara”
“Tidak mirip ya satu sama lain”
“Menyedihkan sekali”
“Iya, yang satu penjual diri”
“Pembunuh orang tua. Bayangkan saja”
“Dan yang lebih menyedihkan lagi ada anak haram disana”
Bisik-bisikan terus mewarnai langkah mereka. Akhirnya kabar itu sampai pada Changmin. Ia meminta agar semua siswa-siswi dikumpulkan dihall.
“Selamat siang semuanya. Saya mengumpulkan kalian disini untuk membersihkan nama baik ketiga dongsaeng saya”
Dengungan suara langsung terdengar diseluruh hall.
“Saya harap kalian tenang. Ketiga pangeran kalian adalah dongsaeng saya”
Lagi-lagi aula bergemuruh,
“Saya tidak minta kalian berkomentar!”
Semuanya diam karena bentakan Changmin.
“Saya tidak bisa menerima kalau kalian bilang Mir menjual dirinya. Kalian tidak tahu yang sebenarnya. Dia dijebak. Lalu Taemin adalah bagian dari kami. Dia bukan anak haram! Dia adalah dongsaeng ku. Dan Dongho bukanlah seorang pembunuh. Orangtua kami yang memilih menyelamatkannya. Bagaimana jika kalian berada diposisi mereka bertiga??! Saya kecewa dengan semua ini. Saya akan memberhentikan segala macam bentuk bantuan dari perusahaan saya kepada sekolah ini. Karena guru-guru mulai bicara yang tidak-tidak tentang dongsaeng saya. Terimakasih atas kerjasamanya selama ini. Saya akan mengirim mereka bertiga ke Amerika bersama Seohyun. Dan saya tahu dalang dibalik semua ini adalah Sulli. Maka saya menjaminnya kalau saudari tidak akan bisa melanjutkan sekolah dimana pun diKorea ini. Terimakasih!”
Semuanya geger.
“Apa hyung tidak berlebihan” Mir menatapnya khawatir.
“Harga diri kalian lebih penting” Changmin mengurus surat-surat pindahan keempatnya.
Mulai besok adalah lembaran baru bagi mereka memulai kehidupan di Amerika.
–END–
Maaf ya kali ini ceritanya agak membingungkan hHee…
Abis mepet mau namatin buat ff baru ^^

See you on the next fanfiction.. ^^

3 comments

  1. siryeo · December 14, 2011

    huwa…
    Pengen baca sequel.a…
    Changmin top banget deh…

  2. trinity · March 12, 2013

    Hyaaa..keren banget thorr😀 cuma feelnya kurang dapet thorr😀 tapi tetep bagus kok

  3. Aan's L-hope · November 2, 2014

    Huahhhh… Kereennnn ff nya!!
    apalagi changmin… benar” hyung yg Super duper tangguh:-)

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s