Part 7 : Friends and Love [Last Part]

Tittle : Friends and Love
Author : Ichen Aoi a.k.a Kim Seoyeon
School : Horikoshi Gakuen
Cast Boys:

Yuto Nakajima / Yamada Ryosuke / Chinen Yuri / Daiki Arioka / Yabu Kota / Kei Inoo
Cast Girl:
Aoi Amakusa (ichen) / Dizura Hizaki (dinda) / Kazune Akihime (bella) / Ichigo Misaki (any) / Yuki Tachibana (dea) / Hyakka Ameryu (piluu) / Momoyuki Sakurai (dheika)
New Cast :
1. Rui Mitsuzaki (Dika)
2. Himeka Shizuka (Wiyan)

Song :
Prisoner of Love by Utada Hikaru
For Once by T-Max
Because I didn’t Know to Love by FT Island
Hope is a Dream That’s Doesn’t by Kyuhyun Super Junior

Yuki sudah satu bulan ini masih dalam keadaan koma. Dan semua itu cukup membuat Yabu sedikit terpuruk, ia menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjaga Yuki. Bahkan pihak manajemen Johnny’s Entertainment memutuskan untuk memberikan cuti bagi Yabu.
Seperti biasa, hari ini pun dia mengunjungi rumah sakit tempat Yuki dirawat.
*bruk!*
“Gomen ne~” ucapnya tanpa menoleh sedikit pun.
“Yabu-kun?”
Suara seorang gadis membuatnya menoleh, bagaimana dia bisa tahu namaku?, pikir Yabu.
“Kau Yabu Kota Hey! Say! JUMP?? Aku fans mu!” seru gadis berseragam itu.
“Iya. Aku…”
“Aku mau minta tanda tangan mu! Bolehkan?” seru gadis itu kembali riang, membuat Yabu tidak bisa bilang kalau dia sedang terburu-buru saat ini.
“Hajimemashite. Watashi wa Rui Mitsuzaki desu”
Ia mengulurkan tangannya. Yabu menyambutnya singkat. “Aku buru-buru. Ada yang mau ku jengguk disini. Gomen ne~”. Dengan segera Yabu menghilang dari pandangannya. Rui masih tersenyum menatap kertas dan tanda tangan Yabu.
“Ternyata kalau dari dekat dia jauh lebih tampan dan manis! Aku akan kesini lagi besok. Siapa tahu bisa bertemu dengannya”
Rui melangkah dengan riang saat meninggalkan rumah sakit itu.

“Yuki, aku datang”
Yabu membuka pintu kamar itu dan mendapati Yuki tengah duduk sambil menatap jendela.
“Yu-chan?” tanyanya tidak percaya.
Gadis itu menoleh dan menatapnya dengan bingung.
“Kau… siapa?” perkataan yang keluar dari mulut Yuki membuat Yabu sedikit tersentak. Ada rasa sedih dan bersalah disana. Ia tidak pernah menyangka kalau Yuki akan melupakannya, benar-benar melupakannya.
*tok! tok!*
Kazu dan Chinen memasuki ruangan itu bersama. Dibelakang mereka muncul Momo.
“Moshi moshi Yabu senpai, Yuuuu….Yuki?!” Kazu langsung berlari kearah Yuki dan memelukknya erat. Yuki tersenyum.
“Gomen ne~ aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir” seru Yuki sambil tersenyum manis. Membuat Yabu semakin tidak mengerti.
“Yuki? Kau tahu? Yabu senpai tiap hari disini bersama mu dan menjaga mu” Momo menatap Yabu dan Yuki bergantian.
“Momo-chan, siapa Yabu senpai?”
Semuanya tercengang mendengar pertanyaan Yuki. Mereka berharap dapat melihat kilatan iseng dimata gadis itu, sayangnya tidak sama sekali. Malah menunjukkan keseriusan dan kebingungan.
“Yuki!!!” Zura berhamburan masuk dengan berisik lalu memeluknya.
“Yu-chan?!” Aoi juga turut serta. Satu menit kemudian semua sudah berkumpul disana. Momo sudah menceritakan semuanya pada yang lain soal Yuki yang entah kenapa melupakan Yabu senpai. Yabu keluar untuk mencari dokter. Yuto, Yama dan Chinen ikut bersamanya.

“Senpai! Tunggu kami donk!” keluh Yama.
“Senpaaaiiii~” Chinen mengatur nafasnya dengan susah payah.
Mereka langsung menghampiri dokter yang menangani Yuki. Yabu langsung menuntut penjelasan. Dokter itu menarik nafas dalam-dalam.

“Saya sudah pernah bilang sebelumnya. Benturan dikepalanya membuatnya kehilangan sebagian memori dari ingatannya. Terutama kejadian baru-baru ini. Dan ada kemungkinan karena shock, ia melupakan orang yang bersamanya saat tragedy itu terjadi”
Usai memberi penjelasan, dokter itu pergi dengan mereka berempat untuk memeriksa keadaan Yuki. Dan besok Yuki bisa pulang kerumahnya dengan sebagian ingatannya.
***
Keesokkan harinya…

“Kau sudah tidak marah lagi dengan ku kan?”
Yuto mensejajari langkah Aoi yang tidak menoleh sama sekali. Ia terlalu focus untuk berjalan kearah gerbang depan. Ia tidak ingin gerbang sekolah dikunci disaat dia masih berada diluar sekolah. Yuto menyentuh bahunya pelan.
“Eh? Kau?” hanya itu yang keluar dari mulutnya.
*ting tong ting tong*
“Huaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” Aoi langsung menarik Yuto secara refleks menuju gerbang Horikoshi yang mulai menutup dengan perlahan.
Akhirnya mereka tiba, seperti biasa. Sebelum benar-benar masuk kelingkungan sekolah mereka harus membungkun 90° menghadap gedung sekolah sebagai tanda mereka menghormati sekolah tempat mereka memperoleh pendidikan (ini tradisi Horikoshi Gakuen turun temurun).
“Kau membuat ku lelah” keluh Yuto.
Aoi baru menyadarinya, ia melepaskan tangan Yuto. “Kenapa kau bisa ada disamping ku?”
“Karena kau yang menarik ku” jawab Yuto sambil terengah-engah.
“What?! Ah sudahlah, lupakan saja”
Aoi melanjutkan langkahnya untuk mencapai tangga Horikoshi namun Yuto lagi-lagi menahannya. Kali ini ia pasang tampang kelelahan usai ber-sprint singkat.
“Kenapa lagi?”
“Kau harus bantu aku ke kelas, karena aku lelah sekali”
“Bukan urusan ku! menjauhlaahh~ jaga jarak mu 1 meter dari ku”
“Dasar gadis tidak bertanggung jawab!”
“Nani?! Seenaknya saja”
“Kau ingin melihat ku pingsan disini huh?” geretak Yuto.
Aoi tidak memperdulikannya. Ia terus melanjutkan langkahnya. Rupanya Yuto mendapat ide untuk memberi gadis itu sedikit pelajaran.
*bruk!*
Aoi langsung menoleh kebawah tangga. Ia mendapati Yuto dalam keadaan pingsan.
“Heh?! Kau! Yuto! Bangun! Hey!”
Aoi kebingungan. Ia menyetop orang-orang yang kebetulan lewat.
“Tolong bantu aku bawa dia keklinik kesehatan!!!” pintanya dengan panik. Dan mereka membawa Yuto ke klinik kesehatan sekolah. Tentu saja Aoi jadi merasa bersalah.
“Mana aku tahu dia selemah ini!!!” sesalnya sambil terpaksa mengurus Yuto.
***
Daiki menghampiri Misa yang tampak sedikit kesulitan.
“Ada apa? Apa aku bisa membantu mu?”
Misa menoleh dan ia bisa menjumpai wajah manis Daiki yang tersenyum disampingnya.
“Entahlah~ aku tidak bisa mengerjakan soal latihan ini sejak kemarin” keluh Misa sambil menghenyakkan tubuhnya dikursi. Bukannya tidak mampu, ia terlalu memikirkan Yama dan perasaannya. Semua itu membuatnya kehilangan konsentrasi.
“Kau ini pelupa ya? Ini kan sama seperti cara yang biasanya”
Daiki menerangkan soal yang dianggap sulit itu. Misa memaksa penjelasan itu agar terekam diotaknya yang sedang penuh dengan masalah-masalah tentang hatinya.
*pluk*
Hapusan Misa jatuh kelantai. Sedetik kemudian Daiki dan Misa mengambilnya bersamaan, tangan mereka bersentuhan. Daiki menatap Misa sejenak begitu pula sebaliknya. Mereka sedang bermain dengan pikiran mereka masing-masing.
“Ehm!” intrupsi Hyakka sambil nyengir.
Membuat Daiki dan Misa sadar lalu tertawa bersama.
“Kau ini kenapa sih Dai-kun?”
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu pada mu Misa-chan”
Daiki mencium dahinya. Membuat Misa terdiam.

Sementara itu didepan pintu kelas 2B, Zura melihat semuanya. Ia mundur dengan perlahan lalu berlari. Yama kebetulan melihat gadis itu berlari dan ia mengikutinya sampai ke loteng.
***
Yama dapat mendengar isakan diujung sana. Zura tampak sedang duduk bersandar pada teralis besi, ia menunduk dan menangis. Yama melangkah dengan perlahan agar tidak mengganggunya.
“Siapa? Jangan sembunyikan langkah mu. Aku tidak keberatan jika kau ingin mengejek ku karena aku menangis saat ini”
Rupanya Zura dapat merasakan kehadiran seseorang disisinya. Ia bicara tanpa menoleh sedikit pun. Ia sudah bisa menerima perasaan Daiki, namun ia belum bisa ikhlas melepasnya.
“Ini aku. Aku tidak bermaksud begitu”
“Yama-kun?”
“Boleh aku duduk disini?” Yama bertanya dengan sedikit gugup.
“Silahkan saja”
“Ada apa? Kau bisa cerita dengan ku”
“Aku baik-baik saja. Terimakasih atas perhatian mu” Zura tersenyum.
Yama tidak semudah itu percaya. Ia langsung memeluk Zura dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya dipelukkannya. Ia telah berjanji akan menjadi sandaran Zura, kapan pun dan dimana pun.
***
“Chinen-kun! Aku ingin bicara dengan mu sebeentaarr saja~”
Momo sejak tadi membuntuti Chinen terus. Sebenarnya Chinen sedikit risih namun ia tidak bilang apa-apa. Dan satu hal yang kalian tahu soal sikap Chinen yang satu ini, dia t-e-r-l-a-l-u-b-a-i-k-h-a-t-i. Akhirnya Chinen menemukan siapa yang dia cari.
“Kazuchan!”
Chinen langsung menghampiri Kazu yang tampak sibuk dengan beberapa temannya yang kemudian langsung izin pergi takut mengganggu Chinen dan Kazu. Sedangkan Momo pasang wajah cemberut.
“Ada apa?” ia melihat Chinen dengan sedikit berdebar-debar dan gugup.
“Aku dapat tiket gratis konser Arashii senpai. Apa aku bisa mengajak mu pergi nanti?” chinen memamerkan senyuman manisnya.
“Arashii?! Tentu saja!” Kazu menyambutnya dengan antusias.

Sementara itu Momo menata mereka berdua dengan kesal.
“Huh! Lihat saja nanti! Aku tidak akan tinggal diam” ia pergi dengan kesal. Sederet rencana mengganggalkan date Chinen bersama Kazu berkilatan diotaknya.
***
Hyakka masih ingat jelas kalau dulu ia senang sekali mampir didepan kelas Inoo Kei, karena dia punya alasan sendiri. Namun sekarang alasan itu hilang dengan perlahan, meski jelas sekali hatinya masih ingin membawa langkahnya kesana, sama seperti saat ini.
Hyakka berdiri mematung didekat lorong yang mengarah kekelas 3A.
*bruk!*
“Aku tidak mau dengar lagi, Kei!”
“Yukiko! Kamu ini kenapa sih?”
“Kei, aku kan sudah bilang kalau aku tidak suka sikap mu itu”
“Tapi aku kan hanya bertanya”
“Kau membuat ku terkekang!”
“Aku hanya ingin tahu!”
Yukiko menabrak Hyakka lalu pergi tanpa minta maaf sedikit pun. Ia dapat melihat Kei memukul pintu kelas dengan kepalan tangannya. Ia memutuskan untuk menghampirinya.
“Senpai… ada apa?”
“Hyakka!”
Kei langsung memeluk Hyakka begitu melihat gadis itu berdiri dihadapannya. Ia memejamkan matanya dan berusaha melupakan semua masalahnya. Ia tidak menyadari kalau Hyakka meneteskan air matanya. Perlahan tangannya bergerak untuk memeluk senpainya itu.
***
“Aku tidak tahu kalau ternyata kau sangaaaatt perhatian”
Yuto membuka matanya saat Aoi sedang mulai mengompresnya.
“Kau?! Kau membohongi ku?”
“Aku hanya sedikit bercanda” Yuto pasang wajah iseng.
Aoi langsung melemparkan handuk kecil untuk kompresan itu kepada Yuto.
“Aku benar-benar membenci mu!”
Ia keluar ruangan serba putih itu. Sampai didepan pintu…

♫Deaeta kiseki ni donna ketemo, imi na iyo kimi wa sono mama ga ichiban~♫

HP Aoi berdering. Nomor tidak dikenal masuk.
“Ohayou, Aoi desu… Eh? Aku tidak… Ka-zu-ya? … Gomen ne~ dia kakak ku… baiklah, jika kakak yang minta aku akan lakukan. Aku akan bekerja sama dengan kalian… Arigatou”
*klik!*
Lagi-lagi sebuah tawaran masuk. Ia tidak pernah tahu kalau kakaknya bekerja diberbagai tempat dan meminta perusahaan-perusahaan seni itu untuk bekerjasama dengannya. Kini dia harus bertarung lebih keras. Melepaskan mimpinya sebagai seorang pelukis seperti kakaknya atau terus mengenang kematian kakaknya yang dia anggap sebagai kesalahannya. Aoi hanya menarik nafas dalam lalu pergi.
***
“Bibi~”
Seorang gadis cantik memasuki kediaman keluarga besar Yamada.
“Siapa ya?”
“Bibi, ini Hime. Himeka Shizuka”
Wanita paruh baya itu langsung memeluk gadis tersebut dengan hangat.
“Bibi sudah dengar dari orangtua mu kalau kau akan liburan di Tokyo. Kamu bisa tinggal disini. Oh ya, kamu bisa menunggu Ryosuke pulang sekolah. Tapi kau harus bawa barang-barang mu kedalam”
Wanita paruh baya itu tersenyum sambil meminta salah satu pengurus rumah itu untuk mengantar Himeka kekamar yang akan ditempatinya nanti.
“Konnichiwa~ Tadaimaaa~”
Suara Yamada Ryosuke terdengar dari depan pintu kediaman keluarga besar Yamada itu. Ya, Yama adalah salah satu penghuni dirumah itu. Ibunya keluar bersama dengan Hime.
“Ryosuke, ini sahabat kecil mu. Himeka”
“Hime-chan?”
“Kyaa! Ryo-kun, kau tumbuh jadi tampan begini. Aku merindukan mu”
Hime langsung memeluk Yama dengan riang. Yama meminta agar Hime melepaskan pelukannya itu. Maklum saja, Yama masih lelah karena baru pulang dari Horikoshi.
“Sekolah mu di Sydney?”
“Tenang saja. Aku sedang liburan. Jika aku betah, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk tinggal disini, bersama mu” Hime langsung menggandeng Yama erat.
“Ryosuke! Himeka! Makan dulu”
“Iya”
Mereka memasuki rumah besar itu. Kehadiran Himeka adalah pertanda badai bagi hubungan Yama dan Zura. Tepat saat Zura mulai memikirkan sesuatu tentang Yama.
“Ku rasa, aku harus mulai membuka hati ku untuk Yama-kun”
***
“Rui, kau mau pindah sekolah lagi?”
“Iya papa. Aku mau dipindahkan ke Horikoshi Gakuen. Please~”
“Boleh saja. Tapi dengan satu syarat”
“Nani?”
“Kamu harus rajin belajar!”
“Tentu saja! Arigatou papa”
Rui memeluk ayahnya hangat disambut gelengan heran ibunya. Yabu senpai~ kini aku selangkah lebih dekat dengan mu, batin Rui.

Sedangkan Yuki sama sekali belum mengingat siapa Yabu. Dan Yabu masih berusaha membuatnya agar mengingat semuanya.
“Satu hal yang harus kau tahu, Yuki-chan. Aku sangat menyayangi mu” bisiknya pelan.
–END—
Huffhhh…
Cast-nya muakin buanyuak aju-aaa… Hheee…
Rehat yaaa~ Udah ending nih minna-saaaannn~ hUhHaaa…
Udah ahhhh~ ending begini aja. Biar kalian puas coz gak ada yang jadian wkwkwkwk

RCL yaa~
*tetumbenan, pengen niru author lain hHaaa…*

Sayonaraaa~ *author menghilang satu tahun*

One comment

  1. margareth · March 7, 2012

    mau liad ending nya hwaaaaaaaa >.<

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s