My Lovely Teacher (Part IX/a)


Annyeong….

Mianhe, baru bisa ngepost FFnya sekarang…

Soalnya beberapa hari ini author lagi sibuk (Sok sibuk banget sih) & sedang mengalami stress tingkat tinggi karena snmptn T_T *teringat kesalahan fatal yang ngebuat semuanya jadi gagal

( Jiaah, malah curcol) *digebukin readers

Ok deh langsung aja Cekidot…

Title        : My Lovely Teacher (Part IX/a)

Author    : Siska Sri Wulandari

Cast       : Myung Soo Infinite

              : Hana

             : Wohyun Infinite

Cameo: Hoya Infinite, Hara, ibu hana & Jiyoung.

            Sudah 15 menit aku masih tetap dengan posisi awalku. Duduk diam tanpa ada yang bereaksi. Aku menghela nafas. Aku perhatikan satu persatu siswa yang berada di dalam kelasku. Pemandangan yang sama saat pertama kali aku datang ke sekolah ini. Tidak ada yang mempedulikan aku, mengacuhkan aku dan tidak menganggap keberadaanku. Tapi seminggu setelah kedatanganku aku sudah mampu beradaptasi dengan mereka, mungkin karena perbedaan usia yang tidak terlalu mencolok. Tapi sekarang, karena gossip itu semuanya hancur begitu saja. Kepercayaan mereka terhadapku sirna sudah. Mereka mencapku sebagai guru yang tidak punya harga diri. Rasanya ingin sekali aku mengundurkan diri dari sekolah ini tapi itu tidak mungkin. Bagaimana dengan keluargaku, dan bagaimana dengan janjiku terhadap Myung Soo. Hmmb, aku baru sadar kalau Myung Soo tidak ada di dalam kelas.

            Seseorang mengetuk pintu. Aku segera melihat ke arah pintu. Panjang umur rupanya si Myung Soo. Ia terlihat begitu berantakan dan bajunya sudah dibasahi keringat. Ketika melihatnya tanpa disangka kami beradu pandang. Ciih, tatapan macam apa itu. Melihat ku dengan tatapan dingin seperti itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun aku menggerakkan tanganku mengisyaratkan dia untuk duduk.

*Myung Soo POV*

Aigoo!!! Dasar bodoh, bodoh, bodoh!!!. Kenapa aku malah melihatnya dengan ekspresi mengerikan seperti itu. Padahal aku berniat untuk tersenyum kepadanya. Tapi kenapa malah ekspresi macam itu yang keluar. Kenapa rasanya sulit sekali menggerakkan bibir ini agar tersenyum. Pasti dia berpikir aku membencinya. Myung Soo Babo, Babo, Babo!

*END POV*

“Kami tidak mau diajar oleh guru penggoda seperti kau!” Jiyoung memecahkan keheningan kelas sambil bangkit dari kursinya.

Aku menatapnya. Aku ingin sekali memakinya atas apa yang telah dia lakukan padaku. Tapi tidak bisa. Aku tidak ingin ada yang tahu siapa sebenarnya biang kerok masalah ini. Gara-gara itu malah air mataku yang menetes. Aku berusaha untuk menghentikan air mata ini, tapi kenapa malah makin deras.

            Tiba-tiba Myung Soo menghampiriku dan memberikanku sehelai sapu tangan. Aku mengambilnya ragu. Kemudian Myung Soo dengan lantangnya berkata.

“Tidak seharusnya kita memperlakukan Bu Hana seperti ini. Bagaimana pun juga dia adalah wali kelas kita.”

“Wali kelas macam apa dia!” Jiyoung semakin ngotot.

“Kenapa kau terlihat begitu membencinya. Sadarkah kau akan betapa baiknya dia terhadap kita. Apakah pernah ada guru yang memperlakukan kita seperti caranya memperlakukan kita.” Suara Myung Soo semakin lantang.

“Seharusnya dia bisa memberikan contoh yang baik pada kita, bukan malah membuat aib seperti ini.” Balas Jiyoung tak mau kalah.

“Kita semua tidak akan bisa sampai seperti sekarang tanpa dia.”

“Memangnya apa yang telah dia lakukan pada kita Kim Myung Soo!” Jiyoung semakin ngotot.

“Cuma dia guru yang selalu mengajar kita. Cuma dia satu-satunya guru yang masih mau memperlakukan kita dengan baik. Tanpa dia aku rasa kita semua tidak akan pernah punya semangat untuk mengikuti ujian akhir. Sekarang mungkin kau belum merasakannya tapi setelah kau tahu betapa tulusnya dia kau akan menyeal karena pernah mengatakan hal seperti itu.”

“Hentikan, aku angkat bicara. Dengan suara yang masih sengau.” Hentikan perdebatan kalian. Mungkin memang saya tidak pantas menjadi guru.”

“Kata siapa ibu tidak pantas menjadi Guru?” Sunjong bersuara.

“Kami semua menyayangimu.” Sunggyu menambahkan.

Seluruh siwa menyemangatiku. Myung Soo kemudian menatapku dan, satu keajaiban lagi terjadi. Kim Myung Soo sang ice prince tersenyum. Aku terus menatapnya memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Dia memang tersenyum. Senyum pertamanya yang aku lihat.

*Myung Soo POV*

Apa tadi aku melakukannya dengan benar. Tapi kenapa ia melihatku dengan tatapan aneh seperti itu. Seolah berkata “Apa yang dilakukan anak ini?” Memangnya aneh ya kalau aku tersenyum. Tapi ya sudahlah, yang penting sekarang keadaannya sedikit membaik. Aku benci saat air matanya menetes. Aku lebih suka saat ia memarahiku dengan nada khawatir.

*END POV*

 

“Aku berterima kasih kepada kalian semua. Tanpa kalian ibu bukan apa-apa.” Aku membungkuk sebagai bentuk rasa terima kasihku pada mereka. Tiba-tiba seisi kelas berhambur dan memelukku. Kecuali dua orang, Jiyoung dan Myung Soo. Aku lihat Jiyoung yang keluar dengan kekesalan yang meluap-luap. Sepertinya bocah nakal bernama Myung Soo itu mulai mengalami perubahan. Dia sekarang jadi lebih memperhatikan sekitarnya.

***

            Huft, menyebalkan. Kakakku memintaku untuk menemaninya melihat-lihat gaun pernikahan. Lebih tepatnya hanya dijadikan sebagai tukang bawa-bawa barang sedangkan dia dengan pujaan hatinya bermesraan sambil melenggang santai menyusuri setiap toko.

            Tibalah kami di sebuah toko gaun pernikahan yang ke 25. Kakakku itu memang orang yang sangat banyak pertimbangan. Ia akan sangat menyesal jika barang yang dia beli kalah bagus dengan barang di toko lain yang belum sempat ia masuki. Mungkin kalau bisa ia akan mengelilingi semua mall yang ada di Seoul.

            Melihat sofa yang berada di pojok ruangan aku merasa seperti menemukan harta karun. Mataku berbinar-binar seolah tak percaya akhirnya aku bisa mengistirahatkan kakiku yang sudah mau rontok. Lega sekali rasanya bisa duduk. Karena kelelahan aku memejamkan mataku sebentar. Namun, beberapa saat kemudian aku merasa ada yang berhembus di telingaku. Ketika aku membuka mata aku melonjak kaget. Hampir saja aku terjengkang sangking kagetnya.

“Tidak kusangka akan secepat ini kau ingin menjadi istriku.” Kata orang tersebut sambil terkekeh.

“Yaa!! Apa yang kau lakukan di sini?”

“Menemanimu mencari gaun pernikahan kita.” Jawabnya asal.

“Wohyun, candaanmu itu tidak lucu!”

“Haha, kau ini selalu saja marah-marah padaku.” Katanya sambil mengacak-acak rambutku.

“Ini,” Wohyun menyodorkan sekotak pizza. Aku terbelalak. Perutku memang sudah dari tadi berdemo minta diberi makan.

“Tadi, tidak sengaja aku melihatmu dan terlihat jelas kalau kau sangat lapar makanya aku membelikan pizza untukmu.” Sambung Wohyun lagi sambil memotong seditit pizza dan menyuapkannya padaku. Tapi aku tidak mempedulikannya dan memotong untuk bagianku sendiri. Setelah aku selelai memotong pizza Wohyun menarik tangan kananku yang memegang pizza dan memasukkan pizza yang ada di dalam tanganku ke mulutnya.

“Hehe,” cengirnya.

“Kau ini benar-benar menjengkelkan seka…” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku Wohyun sukses memasukkan pizza kemulutku dan berhasil membuatku bungkam.

Wohyun menyandarkan dirinya dan melipat kedua tangannya di depan dan aku masih sibuk dengan pizzaku.

“kadang, aku tidak percaya kalau ibu lebih tua dariku.”

Aku langsung tersedak mendengar perkataannya barusan. Wohyun segera menyodorkan minuman padaku.

“Makan itu pelan-pelan.” Cibirnya.

Ini bukan masalah kecepatan makanku tapi kata-katanya barusan benar-benar membuatku terkejut.

“Kenapa ibu memilih menjadi guru SMA? Mendidik anak SMA itu kan sangat sulit.”

“Yah, hanya lowongan itu yang ada.” Jawabku sambil berusaha tenang.

“Apakah ibu akan menghalalkan berbagai cara agar bisa mendapatkan pekerjaan? Dengan menipu misalnya.”

Ya, Tuhan. Apa sebenarnya yang mau dikatakan oleh anak ini. Kenapa kata-katanya begitu berbelit-belit. Aku takut ujung-ujungnya dia mengatakan kalau dia sudah tahu identitasku yang sebenarnya. Aku berpura-pura membersihkan sisa makanan di mulutku.

“Apakah kalau statusku bukan sebagai muridmu, kau mau menjadi kekasihku?” Tanyanya lagi dengan nada yang sangat serius.

Jlegaar!! Pertanyaan macam apa itu. Aku harus menjawab apa. Bukan, bukan menjawab tapi aku harus bisa mencerna baik-baik perkataannya barusan. Apakah itu sebuah pertanyaan atau yang lebih tepatnya sebuah pernyataan cinta.

“Sudahlah,” Wohyun beranjak dari duduknya.”Aku tahu ibu pasti akan menolakku.”

“Menolak?”  tanyaku polos.

“Nee, ibu pikir tadi aku sedang apa?”

“Maksudmu, kau…” aku tidak berani melanjutkan kata-kataku.

“Yah, setidaknya aku sudah lega karena telah mengutarakannya. Aku tidak perlu jawabannya. Aku hanya ingin ibu tahu letak ibu di hatiku. Mungkin ibu berpikir bahwa aku main-main, tapi aku berani bersumpah bahwa aku benar-benar serius. Cinta itu memang tidak bisa ditebak. Pada siapa, kapan, dimana dan kapan datangnya ” Setelah berkata seperti itu Wohyun membalikkkan badannya dan berjalan keluar tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.

***

“Tinggalkan dia atau lebih baik kau berhenti saja.” Jiyoung berkata lantang sambil melotot.

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan Jiyoung.” Jawabku

“Tidak seperti yang ku pikirkan? Lantas seperti apa?”

Aku mengalihkan pandanganku.

“Kenapa kau tidak berani menatapku?” katanya ketus

“Apa menurutmu aku salah?” tanyaku sambil menatap matanya yang mulai berair.

“Cihh, masih berlagak sok suci!”

“Apa aku salah berusaha untuk mempertahankan siswaku sendiri? Kau tahu, kau akan dikeluarkan dari sekolah apabila pemilik saham tahu bahwa kau lah yang telah menyebarkan gossip itu. Aku dan Wohyun terpaksa berpura-pura pacaran hanya untuk melindungimu. Membuat seolah-olah gosip itu adalah fakta dan meyakinkan pemilik saham bahwa tidak ada satu orang pun yang dipersalahkan atas gosip tersebut.”Air mataku lagi-lagi tumpah. Beberapa hari ini aku benar-benar merasa menjadi wanita lemah yang cengeng.

“Itu hanya alasanmu saja kan?”

“Aku tidak peduli meskipun kau tidak mempercayaiku. Tapi aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyayangimu, menyayangi kalian semua.” Aku meninggalkan Jiyoung yang masih terpaku tidak percaya dengan kata-kataku tadi.

***

Seminggu lagi kakakku akan menikah. Haa, meskipun aku sering bertengkar dengannya tapi aku masih belum siap untuk ditinggalkannya. Karena setelah ia resmi menjadi istri kak Jung Min maka ia akan tinggal bersama Jung Min. Itu artinya aku hanya tinggal berdua saja dengan ibu. Ibu pun harus bekerja keras sendiri mengurus toko bunga. Aku hanya bisa membantu ibu saat hari libur saja. Aku melihat-lihat undangan yang baru tadi pagi selesai dicetak. Kubaca satu persatu nama tamu undangan. Tiba-tiba aku berhenti di sebuah nama. “

“Park Hanbul”. Aku mencoba mengulang nama tersebut.”Sepertinya aku pernah mendengar nama ini.” Gumamku. Dengan susah payah aku berhasil menemukan ingatanku tentang orang yang bernama Park Hanbul.”Aigoo.!!” teriakku. Ibu langsung datang menghampiriku dengan terpogoh-pogoh.

“Umma, siapa Park Hanbul?” tanyaku cepat sambil mengacung-acungkan undangan atas nama Park Hanbul tersebut.

“Pemilik saham terbesar di sekolahmu. Dia adalah teman dekat ayah Jung Min.” jawab ibu santai.

Undangan yang ada di tanganku jatuh ke lantai. Aku merasa lemas. Jika Pak Hanbul datang kemungkinan ia juga akan membawa anaknya. Kekacauan apalagi nanti yang akan dibuat oleh Wohyun. Andai aku punya pohon mangga di samping rumah, pasti aku akan segera gantung diri disana.

***

“Hanaaa, ada yang mencarimu.” Teriak ibu dari bawah.

“Haa, pasti Hoya.” Gumamku sambil meletakkan majalah yang sedang aku baca di atas tempat tidur. Aku berjalan perlahan menuju ruang tamu bermaksud mengejutkan Hoya. Tapi semakin aku dekat dengan sofa tempat Hoya duduk, kenapa aku merasa bahwa itu bukan postur tubuh Hoya sehingga aku memutuskan untuk membatalkan niatku untuk mengagetkannya. Orang tersebut menoleh. Aku merasa waktu berhenti. Bagaimana bisa bocah ini sampai ke rumahku.

Seperti biasa dengan ekspresi dinginnya ia menatapku dengan tatapan aneh.

“Myung Soo?” kataku pelan tidak percaya siapa yang saat ini sedang berada dihadapanku.”

“Ayo kita makan malam.” Katanya dingin

Aku melongo. Baru kali ini ada orang yang mengajak makan malam tapi seperti ngajak kelahi.

“Kau sakit?” kataku sambil memegang keningnya.

“HAAA!!” teriak seseorang sambil mengagetkanku dari belakang.

“Hoya!!!” teriakku kesal sambil memukul-mukul Hoya.

“Ah, tidak seharusnya aku mengajak seseorang yang sudah punya kekasih.” Kata Myung Soo.

Hoya terbahak, aku melongo tidak mengerti.

“Siapa? Aku dan Hana?” Tanya Hoya sambil menunjuk aku.

“Apanya?” tanyaku.

“Aku ini bukanlah kekasih Hana. Kami ini hanya sahabat saja.”

Kedua alis Myung Soo terpaut. Aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan.

“Memangnya siapa yang mengira kita seperti itu?” tanyaku pada Hoya yang masih saja tertawa.

Myung Soo menatapku ketika aku menanyakan hal tersebut dengan wajah memerah. sedangkan Hoya masih terus tertawa sambil sesekali melihat kearahku dan Myung Soo.

***

TBC dulu yha..

Hehe, Gomawo J

6 comments

  1. chyshinji · May 22, 2011

    Hwahaha… Myung Soo udah berani ngajak ngedate… Lebih agresif lagi donk, tar kalah ama Wohyun… Kalo besok ketemu Park Hanbul bisa bisa semuany kebongkar donk? Author & admin, hwaiting bwt lanjutannya!!

  2. idolfanfiction · May 22, 2011

    Haha, iya, ntar Hana brhasil drebut Wohyun pla…
    kekeke..
    gomawo🙂
    *Siska*

  3. kiseopielovers · May 22, 2011

    aq lbh suka Hana ama Myungsoo.
    drpd ama si woohyun playboy ikan teri

  4. idolfanfiction · May 22, 2011

    hehe..
    kita liat aja siapa plihan hti Hana..#jiaah, kt”nya…
    *Siska*^^

  5. siryeo · December 11, 2011

    hana….
    Myungsoo bisa stres lama2 tuh…
    Hana yg terlalu polos apa bodoh…
    Ketauan myungsoo yg nanya…

  6. Barom yu · December 31, 2014

    Myungsoo oppa langsung to the point yehett.. suka deh sana cowok begini gak bertele2 hihihi
    duhh bakal perang dunia ke 3 deh ini >< kalo sampe hanbul dateng ke pernikahan kk hana

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s