My Lovely Teacher (Part IX/b)


Title     : My Lovely Teacher (Part IX/b)

Author : Siska Sri Wulandari

Cast      : Myung Soo Infinite

            : Hana

            : Wohyun Infinite

Cameo : Hoya Infinite, Hara & Jiyoung.

Kedua alis Myung Soo terpaut. Aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan.

“Memangnya siapa yang mengira kita seperti itu?” tanyaku pada Hoya yang masih saja tertawa.

Myung Soo menatapku ketika aku menanyakan hal tersebut dengan wajah memerah. sedangkan Hoya masih terus tertawa sambil sesekali melihat kearahku dan Myung Soo.

Hoya merangkulku dan itu membuat wajah Myung Soo semakin memerah.

“Kau ingin aku yang mengatakannya atau kau yang akan mengatakannya sendiri?” Tanya Hoya pada Myung Soo.

“Apa-apaan orang yang baru saja aku ketahui ternyata bernama Hoya ini. Apa dia tahu kalau aku menyukai Hana. Tapi bagaimana mungkin dia tahu, apa gelagatku terlalu kelihatan ya?” Gumam Myung Soo.

“Terlihat jelas sekali kalau kau itu ..” Hoya menghentikan kata-katanya lalu melihatku sambil tersenyum-senyum aneh.

“Apa, lanjutkan kata-katamu Hoya!” pintaku tak sabar.

“Apa?Apa orang ini akan mengatakan pada Hana kalau aku menyukai Hana. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan. Tidak mungkin aku melakukan pengakuan dengan cara seperi ini. Haah, aku benar-benar gugup, aku belum siap.” Gumam Myung Soo lagi.

“Hey! Myung Soo katakan sesuatu.” Celetuk Hoya.

“E..E.. aku, aku..” suara Myung Soo hampir tak terdengar.

“Kau sedang berbisik ya.” Seruku. Aku mulai jengkel dengan situasi ini. Situasi dimana hanya aku satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa. “Bicaralah dengan jelas” tambahku.

“Rasanya memang harus aku yang mengatakannya.” Tambah Hoya.

“Jangaan!!” teriak Myung Soo.

Aku hanya terdiam melihat respon Myung Soo barusan.

“Aku, aku, sebe..sebenarnya aku me…menyukaimu Hana.” Seru Myung Soo sambil menundukkan wajahnya dan meremas jemarinya.

Keadaan hening.

Aku menatap Hoya yang akhirnya berhenti tertawa.

“Hahaha, kau pasti bercanda kan Myung Soo. Kau memang aneh.” Kataku. Anak ini benar-benar menyebalkan. Setelah selama ini selalu menghujaniku dengan masalah-masalahnya sekarang malah membuat lelucon menjengkelkan seperti itu.

“Jleess” wajah Myung Soo semakin merah. Jantungnya berdetak 1000 kali lebih cepat dibanding saat dia menyatakan perasaannya tadi. “Apa? Dia beranggapan bahwa aku hanya bercanda. Yang benar saja gadis ini.” Myung Soo semakin salah tingkah.

Hoya melepaskan rangkulannya dan menatapku serius. Dia seolah tak percaya dengan jawabanku barusan. Aku hanya mendelik.

“Ya, sudah aku permisi dulu.” Kata Myung Soo sambil mengambil jaketnya diatas sofa.

“Eh, secepat itukah? Bukankah kau mau mentraktirku makan?” tanyaku.

“Babo! Bagaimana aku bisa memungut sahabat sebabo dia. Dia ini memang tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu saja.” Gumam Hoya sambil menepuk jidadnya.

*Myung Soo POV*

Hah? Traktir katanya. Kapan aku mengatakan akan mentraktirnya. Jelas-jelas tadi aku mengajaknya makan malam. Apa dia sama sekali tidak bisa membedakan yang mana namanya ajakan kencan dan yang mana ajakan traktiran. Aku semakin galau. Bingung. Malu. Andai orang yang bernama Hoya itu tidak memaksaku untuk mengatakannya sekarang pasti masalahnya tidak akan serumit ini. Perasaanku benar-benar seperti benang kusut.

*END POV*

Ibu datang dengan secangkir teh hangat. Melihat Myung Soo yang beranjak pergi ibu bingung.

“Lho? Sudah mau pulang ya? Cepat sekali.” Tanya ibuku.

“Maaf ya tante, tiba-tiba saya ada urusan mendadak.” Jawab Myung Soo sambil menyalami dan mencium tangan ibuku.

“Bwoo? Sesopan itukah Myung Soo pada ibuku? Tapi kenapa kepadaku dia selalu saja melawan dan berlaku tidak sopan. Anak ini benar-benar harus diwaspadai.” Gumamku tanpa berusaha untuk mencegahnya.

“Apa dia siswa yang digosipkan berpacaran denganmu itu? Siapa namanya? Wo, Woyun?” Tanya ibuku.

“Wohyun umma, Wohyun. Dia itu Myung Soo. Murid yang paling bermasalah dikelasku.” Jawabku sambil meminum teh yang tadi dibuatkan oleh ibu untuk Myung Soo.

“Hoo, lumayan tampan juga.” Tambah ibuku sambil berlalu.

“Pleetakk!” Hoya menjitak kepalaku.

“Wae?” tanyaku heran.

“Apa kau tidak bisa lebih peka terhadap perasaan laki-laki ya?” Tanya Hoya kesal sambil mengacak-acak rambutnya seperti orang frustasi.

“Ommoo!! Kau mengangggap serius kata-kata bocah itu barusan?”

“Aigoo!! Hana! Kalau kau bukan sahabatku sudah kutelan kau hidup-hidup.” Pekik Hoya

Malam itu kami habiskan dengan pertengkaran yang berujung dengan benjolan dimasing-masing kepala kami. Hara memarahi kami habis-habisan karena keributan yang kami buat. Hoya pulang dengan lemas karena mendapatkan jitakan keras oleh Hara dan aku masuk kamar sambil memegangi benjolan kepalaku yang merupakan hasil karya Hara. T_T

***

Myung Soo berjalan gontai sambil menendang-nendang kerikil di jalan. Haa, Hana, Hana, kau benar-benar berhasil membuatku gila. Apa kau betul-betul tidak bisa memahami perasaanku. Bercanda katamu. Apa wajahku yang sudah seperti kepiting rebus itu masih bisa kau anggap bercanda. Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau pikirkan. Wanita memang sulit dimengerti.

***

“Sial, kenapa harus mogok disaat seperti ini.” gerutu Wohyun sambil menendang ban mobilnya. “Ponselku mati lagi.!”

Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti tepat di hadapan Wohyun. Orang tersebut membuka kaca helmnya. Wohyun sangat senang saat mengetahui ada orang yang datang. Tapi saat melihat wajah orang tersebut, raut wajah Wohyun jadi berubah.

“Pergilah, aku tidak butuh bantuanmu.” Kata Wohyun.

Tanpa basa-basi orang tersebut menutup kaca helmnya dan bersiap menyalakan motornya.

“Hey, kau benar-benar mau pergi ya.” Teriak Wohyun.

“Bukankah kau tidak membutuhkan bantuanku?”

“Ani, aku benar-benar butuh bantuan.” Wohyun memelas.

Orang tersebut turun dari motor dan segera memeriksa mobil Wohyun. “Dasar anak manja, menyelesaikan hal seperti ini pun kau tidak bisa.” Cibir orang tersebut.

“Hmmb, Myung Soo ternyata kau baik juga ya.” Seru Wohyun sambil tersenyum.

Myung Soo menoleh. “Jangan tersenyum seperti itu kepadaku.” Sergah Myung Soo.

“Mianneso.”

“Bwo??”

“Aku tahu kau berubah jadi cuek dan dingin seperti ini pasti sejak ditinggal oleh ayahmu. Aku sama sekali tidak bermaksud merusak keluargamu. Aku tidak tahu bahwa umma memilih laki-laki yang telah berkeluarga. Sebenarnya aku berharap bisa menjadi saudaramu. Tapi kau selalu saja bersikap dingin padaku. Aku kesepian Myung Soo. Aku selalu saja ditinggal sendirian di rumah. Mereka selalu sibuk bekerja. Mereka terlalu tergila-gila pada harta dan tidak pernah mempedulikan aku.

“Coba kau hidupkan mesinnya.” Kata Myung Soo tanpa merespon kata-kata Wohyun.

“Kau sama sekali tidak mau mendengarku?”

Myung Soo melihat jam tangannya. “Waktuku tidak banyak.”

Wohyun masuk ke dalam mobil dan mencoba menghidupkan mesinnya dan ternyata berhasil. Wohyun keluar dari mobil dan melihat Myung Soo sedang memakai helmnya.

“Bisakah setidaknya kita menjadi seorang teman?” Tanya Wohyun memelas.

“Kau meminta pada orang yang salah.” Jawab Myung Soo singkat sambil melaju kencang.

Wohyun menghela napas. “Apa aku tidak pantas menjadi temanmu, Myung Soo.” Gumam Wohyun.

***

Esoknya…

“Dimana ya? Aku benar-benar lupa meletakkannya dimana. Haduh, kenapa aku bisa sebabo ini sih.” Omel Hana pada dirinya sendiri sambil mengubek-ubek isi tas dan dompetnya.

“Apa yang kau cari?” Myung Soo tiba-tiba muncul di belakangnya.

“Haa, KTP, KTP ku. Aku kehilangan KTP ku.” Kataku panik.

“KTP?” Tanya Myung Soo mencoba meyakinkan.

“Nee.”

Myung Soo mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya.

“Apa kau lupa bahwa KTP mu aku yang pegang.” Seru Myung Soo kesal.

“Aigoo!! Aku lupa. Sini, ini sudah seminggu kan.”Aku merebut KTP ku dari tangannya.

“Apa semudah itu kau melupakan benda penting seperti ini.”

“Aku hanya lupa.” Belaku.

“Apa kau menganggapnya tidak penting?” Tanya Myung Soo sinis.

“Aku..” Myung Soo memotong omonganku.

“Ya, benda berharga seperti itu pun tidak kau anggap penting apalagi orang seperti aku.” Myung Soo menatapku dalam.

“Aigoo, tatapan apa itu. Tidak seperti biasanya yang selalu menatapku dingin, kali ini Myung Soo menatapku dengan tatapan, Hmmb seperti tatapan penuh harap. Tapi kenapa dia menatapku seperti itu.” Gumamku.

“Aku bukan tipe orang yang suka bermain-main pada perasaan. Kalau aku bilang suka itu berarti aku memang suka.” Kata Myung Soo sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

Aku kaku. Benar-benar kaku. Apa itu artinya dia menyukaiku. Tidak, aku tidak boleh berpikir yang macam-macam. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Bisa kau perjelas. Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” Kataku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

“Yaa!! Kau benar-benar ingin membuatku gila Ya!” teriak Myung Soo sambil menghentakkan kakinya dan meninggalkan ku.

“Haa!! Kenapa sih dia selalu marah-marah. Memangnya apa yang salah dari kata-kataku barusan. Aku kan hanya minta dia memperjelasnya tapi kenapa malah seperti itu. Aku hanya tidak ingin terjadi kesalah pahaman di antara kami berdua. Lagipula tidak mungkin orang seperti Myung Soo menyukaiku. Kalau pun iya, mana ada orang yang selalu memarah-marahi orang yang disukainya!”gerutuku dalam hati.

***

Pesta Pernikahan Hara…

            Aku suka, aku suka. Suka sekali dengan konsep pernikahan kakakku. Pesta resepsinya dilakukan di luar ruangan (outdoor) dan mengusung konsep pesta kebun dan didominasi dengan warna putih. Semua meja dan kursi diselimuti dengan kain putih yang telah diatur sedemikian rupa sehingga tampak begitu apik. Altarnya terlihat begitu indah dengan dikelilingi pilar-pilar yang telah dibalut dengan kain putih dan membentuk pita yang menghadap ke sebuah kolam ikan yang di sekelilingnya dipenuhi dengan bunga-bunga mawar yang sedang bermekaran. Di pohon-pohonnya pun sudah di hiasi dengan dengan gantungan-gantungan serta lampu warna-warni yang menciptakan suasana romantis-magis. Tak lupa pula bunga-bunga indah yang ditata di setiap sudut. (Maaf kalau dalam pendeskripsiannya sangat jelek. Karena author sama sekali nggak tahu menggambarkan pesta pernikahan yang romantis. Hehe, sekali lagi maaf yha. ^^)

            Aku duduk di bagian paling depan menghadap altar. Di sampingku ada ibu dan seluruh keluarga jauh juga keluarga Jung Min oppa. Aku tidak sabar melihat kakakku dan Jung Min mengikat janji suci di hadapan kami semua. Pasti akan sangat romantis sekali pikirku. Ibu berdiri ketika seseorang datang dan saling bercengkrama dengan orang tersebut. Aku menoleh.

“Oh God!! Dia datang, dia datang! Tapi aku tidak melihat putranya. Haa, baguslah, mungkin dia tidak datang.” Aku sangat senang karena Wohyun tidak datang.

“Ehem, kau cantik sekali mengenakan gaun putih seperti itu. Kau terlihat seperti seorang putri.”

Aku kenal suara itu. Aku menoleh kebelakang.

“Kau!” pekikku.

“Hey, jangan buat keributan. Aku tidak menyangka kau akan menjadi adik ipar Jung Min.” kata Wohyun sambil duduk disampingku.

“Siapa yang menyuruhmu duduk disitu?” tanyaku ketus sambil memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Lho? Memangnya ada larangan ya untuk duduk disini?”

Aku menghentakkan kakiku dan berniat pindah ke tempat lain tapi Wohyun menahanku dengan memegang lenganku. Disaat yang bersamaan Pak Hanbul melihat adegan itu dan tersenyum padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyum simpul. “Haa, pasti Ayah Wohyun akan berpikir yang tidak-tidak!” desisku.

“Hari ini kita harus menjalani peran sebagai pasangan kekasih dihadapan appa ku.” Jelas Wohyun sambil menarik tanganku dan mendudukkan aku.

Aku hanya pasrah dan duduk diam tanpa mau sedikit pun menoleh kearahnya.

Sesaat kemudian Jung Min oppa memasuki altar. Dia tampak tampan sekali dengan setelan jas hitam berbahan sutra yang sangat pas ditubuhnya yang atletis. Setangkai bunga disematkan disela-sela saku jasnya.

“Dia tampan sekali.” Kataku pelan karena terpesona dengan kesempurnaan Jung Min oppa.

“Jangan memuji laki-laki lain dihadapan kekasihmu.” Protes Wohyun.

“Kita kan hanya pura-pura.” Balasku ketus.

“Ya, walau hanya pura-pura tapi tetap saja hari ini kau adalah kekasihku dihadapan appaku.” Balasnya enteng.

Aku mendengus kesal mendengar respon Wohyun barusan. Tak beberapa lama Hara datang memasuki altar. Dengan gaun putih menyapu lantai Hara memperlihatkan liuk tubuhnya yang indah. Simple namun terlihat elegan. Mereka pun segera mengikarkan janji suci dan resmi menjadi suami istri. Semua orang bertepuk tangan riuh.

            Selanjutnya adalah acara hiburan. Di panggung yang terletak di samping altar terihat beberapa laki-laki sedang mempersiapkan alat musik mereka. Aku memperhatikan baik-baik siapa mereka.”Aigoo!! ternyata itu adalah bandnya Myung Soo, entah apa namanya. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi salah satu pengisi acara pernikahan kakakku. Aku memegang kepalaku dengan kedua tanganku. “Dunia ini ternyata begitu sempit.” Gumamku.

            Myung Soo sudah siap dengan gitarnya.

“Sebelumnya kami ingin mengucapkan selamat menempuh hidup baru bagi kedua mempelai yang baru saja sah menjadi pasangan suami istri dan semoga selalu berbahagia.” Myung Soo membukanya sebelum mulai menyanyi.

“Lagu ini, khusus aku persembahkan pada seorang gadis yang amat sangat aku cintai, namun sayang gadis tersebut tidak pernah menyadarinya.” Sambung Myung Soo lagi sambil mengedarkan matanya kepada seluruh tamu dan berhenti cukup lama saat melihatku.

Entah kenapa aku merasa gadis yang dimaksud itu adalah aku. “Tapi masa iya aku? Apa dia serius dengan kata-katanya kemarin.” Gumamku.

“Kau tahu siapa gadis yang dia maksud?” Tanya Wohyun.

Aku menggeleng tanpa sedikitpun menoleh.

Tiba-tiba Wohyun menggenggam tanganku.

“Jangan lepaskan, kalau kau ingin tahu jawabannya.” Bisik Wohyun di telingaku.

Aku berusaha untuk melepaskan genggamannya, tapi Wohyun malah semakin erat menggenggamnya dan membuatku pasrah.

TBC…

Gomawo ^^

5 comments

  1. chyshinji · May 31, 2011

    Aigoo Hanaaa,, kok ga peka bgt siiich? Padahal kan Myung Soo udah udah berani ngmg tuuh… Wohyun,, berhenti kamu godain Hana, yeoja laen aja, kekeke

    • idolfanfiction · June 1, 2011

      wah.. sabar eonnie🙂
      heheh, tunggu authornya ajj yah unnie,🙂
      gomawo for comment ^^

  2. idolfanfiction · June 2, 2011

    Iya, author jg bingung knp ada cewek kyk Hana..
    klo gag mau sm Myung Soo, ywdah Myung Soo nya ksh k author aja #Plaak
    Gomawo for read ^^
    _Siska_

  3. siryeo · December 11, 2011

    wohyun kaya.a tau perasaan myungsoo deh…

  4. kyuwonhae · August 6, 2012

    aiisshhh… T’jd prang lg nnti y antra myung soo dan wohyun . Krna mrka m’cntai gdis yg sma😦

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s