Monkey D’April (Part 3)

Annyeong readers..

Udah siap untuk part 3 fanfic kami yang luar biasa (?) ini? Yeheeee.. *bersorak (dilemparin sendal) Untuk part 3 ini, author bolak balik baca ulang untuk dapetin hasil yang (menurut author) ok laah. Hampir 1 minggu untuk ngedit + copas doang😀

***

Title: Monkey D’April

Title Adapted: One Piece (Monkey D’Luffy)

Creator: Finorita Eka Sari (finorita @twitter) | Nadya Febiriani (nadya940201 @twitter)

Editor: Nadya Febiriani

Cast: Infinite | Choi Aprilia

“masalah apa lagi yang akan diberikannyaaaa? HAAAH~!” gumam L seraya tertegun melihat April yang cepat akrab dengan member lain. “buuk.. buuk..” Sunggyu hanya bisa tersenyum dan menepuk punggung L.

“tenang sajaa.. ayooo!” seru Suggyu mengajak L pergi.

“Aaaaaaaaaaaargh~” keluh L pasrah.

***

“yaa.. kita sampai..”

“jadi ini dorm kalian? Tidak terlalu besar, tapi aku suka tempat ini.. oooo..”, komentarku.

“bersantailah April..” kata Sunggyu

“oo oppa, apa ada supermarket didekat sini?”, tanyaku.

“sebelah kiri, ujung komplek ini. Tidak terlalu jauh. Kau mau kesana? Perlu ditemani?” jawab Woohyun lalu menawarkan diri untuk menemaniku.

“dia kan monyet, tidak perlu berjalan..” sahut L, mendekatkan wajahnya, “benar begitu kan, April, si Monyet? Heheheh” lanjutnya. Aku hanya tersenyum pahit. Aku mengambil dan membuka dompetku, Sungyeol oppa lewat dibelakangku tidak sengaja melihat poto-poto yang kupajang.

“wooo~ poto siapa itu? Wajahnya seperti familiar..” serunya seraya mengambil dompetku.

“oppa, mengagetkan saja!” jawabku. “ini kau, April? Benar-benar tidak berubah.” Balasnya sambil menggelengkan kepala.

“tentu sajaa, itu poto SMA ku, oppa.. kekeke.” Ujarku lalu terkekeh. Semua tertawa, Sungyeol hanya tersenyum malu masih sambil melihat-lihat isi dompetku.

“L, lihat! 21 April 1994.” Terang Sungyeol berbisik dengan L yang juga mengintip dibelakang.

“ya. Batam, hyung?” tanya L.

“Ya April, dimana itu Batam?” Sungyeol bertanya padaku.

“Batam itu sebuah kota di Indonesia yang berbatasan dengan Singapore.” Jelasku, mereka hanya mengangguk. “Aaaaah~ ottohke! Kartu pelajarku??! Oppa, jangan liat fotonyaaa!” seruku tiba-tiba seraya mau merampas kartu pelajarku, tapi Sungyeol dan L dengan cepat menghindar. Suasana yang tadinya tenang langsung pecah, untuk pergi ke supermarket saja sudah tak terpikir lagi.

“Apa? apaaa?” tanya member lain penasaran.

“ada apa dengan fotonya?” tanya Sungyeol. Hoya dan Dongwoo memegangiku untuk menghalangiku mengambil kartu itu. Sementara member lain berkerumun penasaran.

Semua tertawa terbahak-bahak, “yahahaa~~! Apa.. Apa ini?!!” tanya sunggyu

“kakaka kenapa mukanya seperti tertarik-tarik?!! Seperti bolaa~~” gelak Hoya sambil mencubit-cubit pipiku. Semua benar-benar kompak menertawaiku. “oppaaa! Aaa.. aaa.. aaa.. (in Indonesia) benar-benar memalukan!” aku hanya mengkerutkan alis sambil tersenyum malu.

“YA monyet bodoh! Kami sebelumnya tidak memperhatikan itu. Kau sendiri yang memancingnya. Heheh”, L  mengejekku.

“aaa~ ottohke?!! (In Indonesia) bodohnya aku!” aku menutup wajahku malu.

“Monyet, apa yang kau bilang? Mengesalkan sekali.” Sewot L.

“Apa itu April? Jangan gunakan bahasa lain..” sambung Sunggyu.

“haaah~~ mianhaeyo kekeke”, ujarku sambil menyengir lebar.

Pukul 21.15 pm..

“ooo gosh~” kataku tiba-tiba. “gosh?” tanya Woohyun.

“aa? Gosh?”, Sunggyu sepertinya juga bingung.

“sudah jam segini. Aku harus pulang, oppa. Gooosh~ ibu dan ayah pasti marah.”, ujarku panik.

“ho? Kenapa kenapa?” tanya Sungjong heboh.

“ibu dan ayahmu galak?” lanjut Sunggyu

“Aniya! Aku janji akan ada di rumah menunggu ayah pulang kerja untuk makan malam bersama. Oppadeul, aku pulang. Gomawo.. sampai jumpa lagi.” Seruku sambil berjalan ke pintu. “lain kali akan kutraktir kalian makan. Ok? Telpon aku yaaaa”.

“untuk apa kami meneleponmu hanya untuk makan?! Tidak penting sekali. Siapa kau?” potong L.

“oppaaaaa.. aku sudah jadi teman kalian kan? Ya kan? Ya kan? Em?” tanyaku manja.

Mereka terhenti sejenak, berpikir. “em. Yaaa. Tentu sajaaaa..” seru yang lain. “ceh! Menggelikan sekali tingkahmu, monyet!” sahut L

“uuuummm..” jawabku sambil mengerutkan alis

“eeehheeeeey~~ ok. Sudah sudah. April, hati-hatilah di jalan” kata Sunggyu

“yaaa. Bye oppa..” aku pergi sambil tersenyum. Baru sampai di gerbang, aku berhenti dan kembali lagi, “ah camkkanman! Oppaaaaaaa~~~” teriakku.

“em?”. “ya?”. “woo~ kenapa?” mereka terkejut dan berbalik badan dengan ekspresi panik.

“ahaha.. aku tidak tau arahnyaaa.. dimana halte bisnya? Hahaaa” aku menunduk sambil menutup mulut malu.

“hahahaaaaaaa~”. “menakutkan saja.. hahaha..”. “heeeeey apa iniii?” seru mereka tertawa

“kekeke oppa, minhae..” tanpa kuduga L tiba-tba turun kearahku.

“monyet bodoh. Ayo ikut aku..” L langsung menarik tanganku, member lain hanya terdiam menganga melihat kami pergi.

***

“oppa lepaskan tanganku. Sakit!” seruku. “oh maaf..” singkatnya lalu memasukkan tangannya kedalam kantung celana dan berjalan dengan penuh karisma menatap kedepan.

“kau akan mengantarku? Ohoho.. apa jaraknya jauh? Atau, kau tunjukkan saja jalannya”, tanyaku. L hanya diam. “oppaaa? Kau butuh istirahat kan? Eh?” tanyaku lagi, tapi pertanyaanku tetap tidak direspon olehnya.

“monyet diamlah, in bukan hutan!” jawab L dengan suara keras. Aku kaget dan memukul lengannya. “sekarang siapa yang berisik?!!” aku membela diri

“ah ya. Aku akan mengantarmu. Jadi ikuti saja. Jangan marah. Maaf. Daaaan, itu juga sakit.” Lanjutnya sambil memegang dan menggelengkan kepalaku.

“maaf. kekeke oppa, menurutku kau sangat karismatik. Tapi kau terlalu kaku. Naif sekali. Kita kan sudah berteman, rilex laaaah..”, ujarku, sedikit malu.

“hey. Tadi kau sangat cerewet, dan sekarang kau menasehatiku?! Benar-benar, monyet… em, tapi benar juga. Kalu begitu, Aku boleh berbuat apa saja didepanmu, apapun kepadamu?!” Jawabnya dengan senyum misterius.

aku hening, memikirkan maksud kata-katanya.

“heh? Jangan berbuat macam-macam oppa. Ingat! Aku ini seorang perempuan.. pikirkan itu! Hem?!” balasku dengan nada bijaksana orangtua menasehati anak-anaknya

“kakaka lambat sekali kau berpikir? Dasar monyet! Haeeeeh~! Memang apaaa yang kau pikirkaaan? Kau pikir aku sepertimu? Melakukan hal bodoh?” jawabnya sambil mengusap wajahku. “aaaaaaah~!”

“oppa, aku tidak bodooooh..” jawabku memaksa

“tapi kau sangat manja, seperti anak-anak, sampai terlihat bodoh.”

“uh? Seperti itu ya? Terlihat sekali?” tanyaku, L melihatku dengan tatapan tajam. “uh aaa.. aaa.. aku mengerti kekeke.. oya oppa, aku senang sekali bisa bertemu dengan kalian, kalian seperti oppa yang sebenarnya buatku. Dari dulu aku selalu ingin punya abang. Mari kita berteman..” Kataku serius

“hmmmm…” jawab L singkat, aku melihatnya bingung.

“haaaah.. sebenarnya aku tidak terlalu tertarik, tapi hyung terlihat senang, jadi aku juga ikut senang. Umm kami semua tidak punya adik perempuan, tapi tingkahmu sangat berani dengan umur yang sangat muda. mungkin mereka akan menganggapmu seperti adik sebenarnya.” Jelasnya

“benarkah? Oppa berpikir seperti itu? Haaaah sepertinya aku benar-benar akan menyayangi kalian. Sebelumnya aku tidak pernah berteman dengan orang yang jauh lebih tua dariku, rasanya canggung, seperti om-om (atau paman?) kekeke bodoh ya? Tapi, oppa, gomawo..” balasku dengan senyum senang selama perjalanan.

Setelah mendengar L oppa bicara tadi, baru aku tau, L oppa tidak seperti yang terlihat selama ini, semakin sering aku bertemu dengan mereka, mungkin L oppa akan lebih terbiasa. Begitu juga aku. Hmm.. aku rasa berteman dengan orang yang lebih tua, bagus juga.

***

Pagi hari beberapa hari kemudian, April menelepon L..

“hah? Monyet, Benarkah?” teriak L senang yang membuat member lain terkejut melihatnya.

“Iyaaa~ aku buru-buru oppa…..”

“L? April?” bisik Sunggyu. “benar April?” sahut Woohyun. “hey! Kami juga ingin bicara! L!” lanjut Suggyu, diikuti member lain yang mengerubungi L.

“apa oppa yang lain ada disitu?”

“eh? he’eeeemm..”

“baiklah, aku titip salam saja. Oppa, doakan aku ya! Ah~ rasanya sudah waktunya aku pergi. Nanti kukabari lagi. Daaaaaaah..”

“hem. Oppa mengerti. Daaah..” balas L, kami mengakiri percakapan dan menutup telpon.

***

“hyung! Apa yang kalian lakukan? Gerah sekali kita berkerumun seperti ini!”

“kenapa kau tutup telpon nya? Kami juga ingin bicara dengan april. Aish~~” Woohyun sewot

“hyung, aku tidak bisa menahannya, dia harus buru-buru pergi.”

“kenapa dia buru-buru seperti itu?” sahut Sungyeol

“apa? apa yang dikatakan april?” tanya Suggyu.

“pagi ini dia akan menjalani wawancara masuk universitas Seoul.” Jawab L menggantung

“sudah begitu saja?” seru member lain karena tak percaya, L hanya tersenyum sambil memperhatikan hyungnya dari kiri ke kanan, suasana hening, “aku serius!” bantahnya, membuat semakin tak percaya.

“Heeeeeeey~! Benar seperti itu?” Sungyeol langsung bergurau dengan menikam L dari belakang.

“katakan pada hyung! Benar? Kau membuat kami tidak percaya!” tanya Sungyeol dengan suara ala-ala screamer. Semua tertawa ngakak sambil ikut mengerubungi L. “aku, aku SERIUUUUUS! (frozen) Dia minta kita mendoakannya, tentu saja.” Jawab L dengan nada suara seperti kucing terjepit pintu karena kesakitan. “uhuk.. uhuuuk..” Sungyeol menepuk-nepuk punggungnya. Para hyung melepaskannya sambil menjawab “ooooooo~~” tanpa merasa bersalah setelah menganiaya L.

“April minta kita menjemputnya dan membuat pesta” kata L dengan serius masih sambil memegang lehernya. “heh? Haaa?” Hyungnya hanya menatap L dengan hening (dan berpikir ‘apa sempat?’). L perlahan-lahan berdiri, berjalan mundur menuju kamar, memperhatikan hyung-hyung yang hening menatapnya, “aa.. aaah.. yang itu aku hanya bercanda! Kakakaka (‘DAAARR~’)” seru L buru-buru dengan girang mengerjai hyungnya sambil membanting pintu. Member lain langsung tertawa, merasa lega karena itu tidak benar, mengingat jadwal mereka hari ini lumayan padat.

***

Keesokan harinya pukul 11.30 pm, woollim Entertainment..

“ya oppa?”

“Choi Aprilia..” jawab L

“bukan, aku monyet! Kekeke apa? kenapa seperti itu nada bicaranya? Seperti mafia saja kekeke” balasku sambil tertawa.

“kakaka monyet! kau di hutan? Apa sedang sibuk? Ayo kita makan siang bersama..” ajak L

“ah tidak. Aku sedang di rumah membaca buku. Em baiklah, aku yang pilih tempatnya. Ok”

“kenapa perasaanku jadi tidak enak?! (tertawa) Heh! ya baiklah. Dimana tempatnya?”

“heeey~ percaya padaku oppa. Setengah jam lagi kita bertemu di Bright Cafe, tidak jauh dari perusahaan, hanya 2 blok di belakang. Jangan telat ya oppa? hehee”

“ya baiklah. Kalauu kau yang telat, terima akibatnya! Sampai jumpa! Em, tapi disana ada pisang untuk monyet kan?!” jawab L mengancam sambil terus saja meledekku

Pukul 12.02 pm..

“gawat! Aku sudah terlambat.. huuuu..” gumamku sambil membuka pintu cafe

“April! Disini..” aku melihat Sungjong dan Hoya oppa melambaikan tangan menyuruh aku kesana. Aku menghampiri mereka dengan rasa degdegan, aku berhenti tepat di depan mereka, aku melihat wajah L oppa samar-samar yang menatapku dengan mengerikan, “gosh! Selamatkan akuuu~! Huuuuh..” gumamku sambil menghela napas.

“apa yang barusan kau katakan april? Huh?” tanya Dongwoo oppa

“ah? Tidaaaak.. tidak adaa.. hehe..” jawabku dengan senyum cemas

“April, ayo.. disini..” Sunggyu dan Hoya oppa menyuruhku duduk tepat disebelah L oppa aku semakin cemas, hanya senyum sana sini ga jelas. Rasanya ingin berteriak, lompat keatas meja dan berlari keluar, pikiranku bercampur aduk.

 

To Be Continue…

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s