My Lovely Teacher (Part X/b)

Title     : My Lovely Teacher (Part X/b)

Author : Siska Sri Wulandari

Cast     : Myung Soo Infinite

            : Hana

            : Wohyun Infinite

Cameo : Hoya Infinite, Hara, Jiyoung & Infinite member

Annyeong…

Aku kembali lagi dengan FF aku yang kayaknya mau ngalahin episodenya Cinya Fitri #Plaak, korban sinetron alay Indonesia. Semoga para readers nggak bosen ya dengan FF gaje ini.. Oke Cekidot…🙂

Hari ini adalah hari pertama di musim dingin. Salju sudah menyelimuti seisi Seoul. Setiap kali aku berbicara selalu keluar uap dari dalam mulutku. Hari ini juga merupakan hari kedua aku tidak bertegur sapa dengan Myung Soo. Bahkan saat di dalam kelas pun ia terlihat seperti tidak menyadari keberadaanku. Hari ini badanku terasa seperti membeku mungkin pertanda aku akan terserang flu.

Sesampainya di sekolah…

            Semua siswa dikumpulkan di aula sekolah karena hari ini ada pidato dari kepala sekolah. Aku duduk di kursi paling depan bersama dengan para guru dan staff yang lainnya. Setelah kepala sekolah menyudahi pidatonya Jiyoung mengangkat tangannya dan meminta izin untuk berbicara di podium.

“Selamat pagi Pak Kepala sekolah, Bapak dan Ibu guru yang saya hormati juga teman-teman yang saya sayangi.”

Firasatku tidak enak. “Apa ini ada hubungannya denganku?” gumamku dalam hati.

“Hari ini, saya akan mengungkapkan identitas yang sebenarnya dari seseorang yang yang selama ini kita anggap sebagai panutan. Yaitu Bu Hana.” Kata Jiyoung sambil melihatku sinis.

“Deg, apa ini? Jangan-jangan dia…”

Tiba-tiba fotoku sudah terpampang di layar proyektor. Foto  dimana aku mengenakan jaket almater kampusku. Kemudian diikuti dengan foto kartu pelajarku. Tanggal lahirku terpampang jelas di sana. Juga beberapa foto-foto ku saat di kampus.

“Dia, bukanlah tamatan S1! Tapi dia masih berstatus sebagai mahasiswi semester 1 di Universitas Seoul. Selama ini dia menipu kita.” Jiyoung memperkeras suaranya.

Semua mata tertuju padaku. Terdengar bisik-bisik siswa yang membicarakan aku. Guru-guru pun tampak begitu terkejut. Terjadi keributan saat beberapa siswa tidak menerima karena telah dibohongi dengan mencercaku. Aku tidak sanggup berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menangis. “Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga.” Jiyoung menambahkan.

“Tenang! Tenang semuanya!” kepala sekolah mengambil mike yang dipegang oleh Jiyoung. “kau kembali ke tempatmu!” Perintah kepala sekolah. “Kalau sampai kalian membuat keributan lagi, kalian akan menerima sanksi. Biar saya selaku kepala sekolah yang akan menyelesaikan masalah ini.” Suara lantang kepala sekolah membuat siswa tidak berani lagi berkomentar apa-apa.

Kepala sekolah menyuruhku untuk mengikutinya ke ruang kepala sekolah. Masih banyak siswa yang mencibirku secara diam-diam ketika aku berjalan melewati mereka satu persatu.

*Myung Soo POV*

Bagaimana Jiyoung bisa mendapatkan foto-foto itu. Anak itu benar-benar keterlaluan. Pasti ini ada kaitannya dengan hubungannya dan Wohyun. Pasti Hana sangat syok. Jangan-jangan kepala sekolah akan memecatnya. Aku belum siap kehilangan dia. Aku belum siap tidak melihat senyumnya lagi disetiap pagi. Jujur aku akui selama dua hari ini aku berusaha untuk menepiskan bayang-bayangnya dalam hidupku tapi selama dua hari itu juga aku merasa seperti di neraka. Aku tidak bisa melupakannya. Tidak bisa!!!

*END POV*

“Myung Soo, bagaimana ini?” Tanya Sungyu sambil menyikutku.

Aku hanya menatapnya sekilas kemudian aku mengedarkan mataku pada teman-teman sekelasku yang lainnya. Tidak ada sedikit pun sorot kemarahan dari wajah mereka. Mungkin mereka sama denganku, mereka sudah tidak peduli bagaimana pun latar belakang Hana. Mereka hanya tahu kalau Hana adalah seorang guru yang akan selalu mendukung mereka. Aku terduduk lemas sambil mengacak-acak rambutku. Aku tidak tahu bagaimana cara menolongnya. Seisi sekolah sudah tahu siapa dia sebenarnya. “Lantas apa yang bisa aku lakukan.” Gumam Myung Soo.

*Wohyun POV*

Apa? Hana masih seorang mahasiswi? Ya Tuhan, aku akui kecewa akan kebohongannya. Tapi kenapa semuanya harus terungkap dengan cara seperti ini. Jiyoung pasti melakukannya karena dia benar-benar menganggap Hana penyebab aku memutuskannya. Dia benar-benar membuat amarahku meluap.

*END POV*

*Jiyoung POV*

Sekarang kau benar-benar berakhir Hana. Kau pasti akan segera ditendang oleh kepala sekolah. Itulah akibatnya karena kau tidak menurutiku. Semua orang akan membencimu. Tidak akan ada yang membelamu. Bahkan Wohyun sekalipun.

*END POV*

Di luar ruang kepala sekolah banyak siswa yang berkumpul. Terutama siswa XII E. Mereka ingin mengetahui apa yang kepala sekolah dan guru bicarakan di dalam. Myung Soo terlihat begitu cemas dan terus mondar-mandir. Tiba-tiba pintu terbuka. Wajah mereka menegang. Berharap yang keluar adalah Hana. Tapi ternyata yang keluar adalah Pak Sung Yeol.

“Apa yang kalian lakukan disini? Cepat masuk ke kelas kalian masing-masing.” Perintah Pak Sung Yeol.

Para siswa pun bubar kecuali Myung Soo.

“Hei, kenapa kau masih di sini?” Tanya pak Sung Yeol.

“Apakah Bu Hana akan dipecat?” Tanya Myung Soo.

Pak Sung Yeol menghela nafas, terdiam sebentar seolah mencari suaranya. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Aku berharap tidak. Tapi aku rasa mungkin sedikit mustahil.” Jawabnya sambil menepuk pundak Myung Soo dan kembali masuk ke dalam ruangan kepala sekolah.

***

Di dalam kelas…

“Apa Bu Hana akan dikeluarkan dari sekolah?” Tanya Sunggyu dengan nada lirih.

Sunjong menoleh ke belakang. “Aku harap tidak, aku sudah mulai terbiasa dengannya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib kita tanpa bimbingannya.” Kata Sunjong.

“Myung Soo, kenapa kau diam saja?” sikut Sunggyu.

“Aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku juga tidak tahu harus melakukan apa.” Jawab Myung Soo.”

***

“Kreek” pintu ruang kepala sekolah terbuka. Aku berjalan gontai menuju ke ruanganku. Aku harus membereskan barang-barangku. Kepala sekolah bahkan tidak mengizinkan aku untuk berpamitan kepada siswa-siswaku. Setelah selesai berkemas Pak Sung Yeol dan Bu Gyuri mengantarkan ku ke pintu gerbang. Anginnya sangat menusuk sampai ke rusuk. Aku benar-benar belum sanggup meninggalkan sekolah ini. Bagaimana aku harus melanjutkan kehidupan keluargaku. Tak terasa air mataku jatuh. Bu Gyuri langsung memelukku.

***

Sementara itu di dalam kelas XII E…

“Bukankah itu Bu Hana.” Kata Myung Soo sambil terus melihat keluar dari jendela di sebelah tempat duduknya.

Seisi kelas langsung melihat ke luar jendela. Myung Soo berlari keluar bermaksud mengejar Bu Hana dan diikuti oleh siswa yang lain termasuk Jiyoung. Namun sayang sesampainya mereka, Bu Hana sudah berada di luar gerbang dan satpam tidak mengizinkan mereka untuk keluar gerbang.

“Bu Hana.” Teriak Myung Soo.

Hana menoleh dengan air mata yang masih membanjir.

“Kau akan meninggalkan kami?” Tanya Sunjong. Air mata Sunjong jatuh. Semua siswi mulai menangis.

“Mana janjimu? Kau bilang kau akan selalu mendampingi kami.” Tambah Myung Soo. Air matanya turun dengan deras.

Aku berusaha tersenyum, tapi sulit, sulit sekali menggerakkan bibir ini untuk tersenyum. Sekujur tubuhku terasa membeku.

“Maafkan aku, kalian akan baik-baik saja tanpa aku.”  Jawabku sambil melanjutkan langkahku yang tadi terhenti.

Para siswa memberontak agar pagar dibuka tapi hasilnya nihil. Satpam tetap tidak mau membukakan pintu. Pak Sung Yeol dan Bu Gyuri pun masih ada di situ untuk menyaksikan kepergian Hana.

*Hana POV*

Maafkan aku, maafkan aku. Aku ingin sekali mengucapkan kata perpisahan pada kalian semua tapi lidahku terlalu kelu untuk mengatakannya. Aku belum sanggup berpisah dengan kalian. Aku akui kelakuan kalian selama ini selalu membuatku hampir gila, tapi tidak bisa kuelakkan kebersamaan yang kita lalui memang sangat berkesan dan membuat rasa sayang itu timbul. Rasa sayang antara guru dan murid. Aku harap kalian tidak membenci dan melupakan aku. Karena tidak akan ada satu pun dari kalian yang akan aku lupakan.

*END POV*

Salju turun semakin lebat seolah ikut bersedih atas kepergian Hana. Kepala sekolah sebenarnya juga tidak mau mengeluarkan Hana. Tapi penipuan bukanlah sebuah kesalahan yang bisa ditolerir. Menurutnya Hana adalah guru yang luar biasa. Dia mampu mengurus kelas XII E Tapi peraturan adalah peraturan. Bagaimana pun kondisinya Hana memang harus dikeluarkan.

***

Universitas Seoul…

Meskipun hari ini sangat sulit bagi Hana ia tetap masuk kuliah. Ketika istirahat rektor memanggil Hana. Ternyata Hana mendapatkan program beasiswa untuk melanjutkan studynya di Universitas Cambridge.

“Waah, kau hebat Hana.” Kata Hoya senang sambil membaca ulang surat undangan beasiswaku tersebut.

“Apa menurutmu aku harus mengambil beasiswa itu?” tanyaku sambil membereskan buku-bukuku.

“Tentu saja, ini adalah kesempatan emas.”

“Lantas bagaimana dengan ibuku?” Tanya ku lemas sambil kembali duduk.

“Ibumu bisa tinggal dengan kakakmu kan.” Jawab Hoya enteng.

“Myung Soo?” Tanya ku pelan sambil menerawang.

“Kau tidak pergi untuk selamanya, Hana.”

“Tapi dia belum tahu tentang perasaanku padanya.”

“Katakanlah, katakan sebelum kau menyesal.” Nasihat Hoya.

“Tapi aku takut jika bertemu dengannya justru aku tidak sanggup untuk pergi.”

“Hana, dengar.” Kata Hoya sambil memegang bahuku. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Akan lebih meringankan beban ibumu kalau kau mendapat beasiswa. Kau juga tidak perlu capek-capek lagi bekerja hanya untuk biaya kuliah.”

“Tapi..”

“Pikirkan baik-baik. Masih ada waktu dua minggu. Sambung Hoya.

***

Hari ini hari pertama siswa kelas XII menghadapi ujian akhir mereka. Semua siswa tampak tegang dan deg-deg-an. Sebelum mereka ujian, kepala sekolah mengumpulkan mereka di lapangan untuk memberikan sedikit pengarahan. Semua kelas didampingi oleh wali kelasnya masing-masing. Hanya kelas XII yang tidak memiliki wali kelas.

“Apa pun yang terjadi kita harus bisa membuktikan pada bu Hana kalau kita akan baik-baik saja tanpa dia. Kita tidak boleh mengecewakannya lagi.” Kata Myung Soo yang diikuti anggukan dari teman-temannya yang lain.

“Masih saja memikirkan si penipu itu.” Hardik Jiyoung sambil mengipas-ngipas dirinya menggunakan buku.

Semuanya melihat sinis tapi Jiyoung tidak menggubrisnya dan masih sibuk dengan umpatannya sendiri.

Myung Soo sengaja tidak menghubungi Hana sampai ujian selesai. Namun setelah ujian selesai nomor Hana sama sekali tidak bisa dihubungi. Hal ini membuat Myung Soo khawatir dan langsung menuju ke rumah Hana. Tapi sesampainya di sana yang didapatinya hanya sebuah rumah yang kosong.

“Kemana dia?” gumam Myung Soo sambil mondar-mandir di halaman rumah Hana. Hoya kebetulan lewat dan segera menghampiri Myung Soo.

“Kau mencari Hana?” Tanya Hoya.

Myung Soo terkejut dengan kedatangan Hoya yang tiba-tiba. Dia hanya mengangguk.

“Dia dan ibunya sudah pindah ke rumah kakaknya. Ehmm, bukan dia tapi hanya ibunya. Dia ikut tinggal sementara di sana hanya untuk menunggu waktu keberangkatan saja.” Jelas Hoya.

“Keberangkatan?” Tanya Myung Soo dengan nada kaget.

Hoya mengangguk lemah.”Dia akan melanjutkan studynya di Universitas Cambridge.”

“Bwoo?” Myung Soo melongo.

“Temui dia di alamat ini.” Kata Hoya sambil memberikan alamat rumah hara kepada Myung Soo.

“Gomawo.”

“Ya, aku mendukungmu. Hwaaiting!! “ Hoya menyemangati Myung Soo.

***

“Kau tidak akan menghadiri upacara pelepasan kami?” Tanya Myung Soo sambil melihat Hana yang tetap tidak mau menatapnya.

“Hari itu tepat dengan jadwal penerbanganku.” Jawabku sambil memainkan daun bunga melati yang ada di sampingku.

“Kalau begitu kau sama saja dengan penipu.” Myung Soo bangun dari tempat duduknya. “Bukankah kau berjanji akan selalu menjadi wali kelas kami sampai kami lulus.” Tambah Myung Soo.

“Tapi aku sudah dipecat.” Jawabku masih berusaha untuk tidak menatapnya.

“Datanglah sebagai tamu. Setidaknya ucapakan kata perpisahan untuk kami. Kau datang tiba-tiba dalam kehidupan kami. Mengubah segalanya. Sekarang setelah kau berhasil mengambil hati kami kau campakkan kami begitu saja.” Myung Soo menarik badanku dan menghadapkan aku tepat di hadapannya.” Tatap aku Hana!” kata Myung Soo.

Aku tetap tidak mau menatapnya. Aku tidak bisa melihat tatapannya. Aku tidak bisa.

“Jika semudah itu mengatakan kata perpisahan, sudah aku katakan pada kalian semua dari kemarin.” Jawabku.

“Kau takut akan perpisahan? Kalau begitu batalkan niatmu untuk pergi.”

“Tapi aku masih punya cita-cita Myung Soo.” Aku menatap matanya.

Myung Soo melepaskan tangannya dari bahuku dan sedikit melonggarkan jaraknya padaku.

“Ya, aku tahu, aku tidak mungkin bisa menghentikannya. Baikah sebelum pergi adakah kata-kata terakhir yang ingin kau katakan?” Tanya Myung Soo dengan nada penuh harap.

Aku terdiam. Aku ingin mengatakan “Sarangheyo” padanya. Tapi untuk apa aku mengatakan kata itu kalau aku akan pergi meninggalkannya. Itu hanya akan semakin menghancurkan hati kami. Mungkin akan lebih baik kalau perasaan ini aku simpan sendiri. Daripada aku terus-menerus menyakitinya.

“Aku menggeleng.”

Myung Soo yang dari tadi menunggu jawabanku merasa kecewa dan mencoba untuk tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu.” Katanya sambil melangkah pergi. Baru beberapa langkah Myung Soo berdiri dan membalikkan tubuhnya kebelakang.

“Gomawo.” Katanya sambil tersenyum dan dengan cepat membalikkan tubuhnya lagi dan melanjutkan langkahnya. Dan di saat itu pula air mataku jatuh. Saat melihat senyumnya aku benar-benar merasa bersalah padanya. “Haruskah semuanya berakhir dengan cara seperti ini?” gumamku sambil terus menatap kepergiannya.

***

TBC…

Gomawo bagi yang masih mau baca…

Jangan lupa ninggalin jejak yha. Jejak apa aja boleh kok#Apaan sih gaje!!

7 comments

  1. chyshinji · June 10, 2011

    Hanaaa,, argghh knpa ga ngomong? Jiyoung nyebelin banget ih

  2. idolfanfiction · June 16, 2011

    Hehe..
    sabar chingu🙂

  3. siryeo · December 11, 2011

    susah banget sih hana buat ngomong kaya gitu… #gregetan

  4. Eunji Choi · March 2, 2012

    Kalo aku jadi Hana udah ngomong dari kpn tau kali.. *ehh* *digorok inspirit*

  5. kyuwonhae · August 6, 2012

    lanjutttt lah🙂

  6. Amel Lee · August 18, 2013

    Terharu pas adegan di gerbang itu… berasa ikut dalam cerita saat murid muridnya nya menangis dibalik jeruji pintu gerbang *apa dah*
    Hikes hikes T_T keep fighting thor!😉

  7. Barom yu · December 31, 2014

    Aaaa jantung gue deg2-an baca part ini -______-
    Jiyoung bener2 jahattt gara2 dia semua nya hancurr.. aaa hana lola nih cuman bilang Saranghae doang huuzz ><

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s