A Story about Love [Part III]

Title                 : A Story about Love [Part III]

Author :           Siska Sri Wulandari

Cast I    :

Jinyoung (B1A4)

Shin Ri Young

Gongchan (B1A4)

Cast II      :

No Minwo (Boyfriend)

Hwang Sung Young

:Jungmin (Boyfriend)

Han Jihye

Cast III       :

Onew (Shinee)

Han Hwa Sook

Taemin (Shinee)

Sudah satu minggu Ri Young terbaring di rumah sakit. Satu minggu pula aku terus menemaninya. Bahkan orang tuanya berpikir bahwa aku adalah kekasih Ri Young. Tapi entah kenapa aku sama sekali tidak menyanggah hal tersebut. Aku hanya menjawabnya dengan seulas senyum, yang aku sendiri tidak tahu apa arti senyum ku tersebut. Saat itu aku bermaksud mengembalikan buku perpustakaan. Di sudut ruangan aku melihat Ri Young yang masih asyik membaca dan aku pun menghampirinya. Wajahnya terlihat pucat sekali, aku pun mengajaknya untuk menghirup udara segar. Saat dia bangkit dari tempat duduknya ia limbung dengan darah yang menetes segar dari hidungnya. Aku pun panik dan segera membawanya ke rumah sakit. Tidak ada satu pun yang tahu tentang penyakit Ri Young selain aku dan orang tuanya. Ri Young sengaja merahasiakannya pada semua orang. Jikalau pun aku tahu, itu hanya karena aku tidak sengaja memergokinya sedang check kesehatan di rumah sakit dua minggu yang lalu.

“Kau dimana? Kenapa akhir-akhir ini kau tidak pernah berkumpul lagi dengan kami.” Jinyoung menghempaskan tubuhnya di kursi setelah membaca pesan singkat dari Gongchan. “Sampai kapan kau akan merahasiakan ini Ri Young. Kau salah kalau kau takut untuk menyatakannya. Kau bilang kau hanya ingin Gongchan mengetahui perasaanmu padanya. Berarti tidak penting bagaimana perasaan Gongchan padamu.” Kata Jinyoung pelan sambil memandang ruang rawat Ri Young yang masih belum boleh dijenguk oleh siapapun.

Jinyoung mondar-mandir di sepanjang koridor. Dia bingung apa yang harus dia lakukan. Membalas pesan Gongchan dan mengatakan kondisi Ri Young padanya atau berbohong tentang keberadaannya sekarang. Tiba-tiba Gongchan menelepon Jinyoung. Hampir saja Jinyoung menjatuhkan ponselnya Karena kaget. “Angkat tidak ya?” gumam Jinyoung sambil memutar-mutar ponselnya.

“Ya! Mentang-mentang sudah punya kekasih kau melupakan teman-temanmu ya!” teriak Gongchan di seberang sana.

“Apa maksudmu?” tanyaku sambil duduk dikursi di pinggiran koridor.

“Kau pasti sekarang sedang berkencan dengan Ri Young kan?” tebak Gongchan yang diikuti kekeh tawa Baro.

“Gongchan…” aku menggantung kata-kataku.

“Bwo? Kenapa kau menggantung kata-katamu, cepat lanjutkan.” Kata Gongchan tidak sabar.

Jinyoung menarik napasnya panjang-panjang. “Ada gadis yang mencintaimu.” Kata Jinyoung dengan cepat sehingga membuat Gongchan sedikit berpikir lama mencerna kata-kata Jinyoung barusan.

“Ahh, itu kan sudah biasa.” Kata Gongchan sambil tertawa.

“Maukah kau menemuinya?” Tanya ku padanya.

“Untuk apa? Tanya Gongchan bingung.

“Ahh, mungkin memang tidak seharusnya aku mengatakannya.”

“Kenapa? Apa gadis itu seseorang yang kau kenal?” Tanya Gongchan penasaran.

“Aku sedang sibuk, nanti aku akan menghubungimu.” Jinyoung langsung memutuskan teleponnya.

Dengan tatapan kosong Jinyoung menatap koridor yang sepi. Tiba-tiba air matanya menetes. “Aku rasa kebaikan ku selama ini padanya bukan hanya sekedar rasa kasihan.” Gumamnya sambil mengacak-acak rambutnya seperti orang frustasi.

***

Sementara itu di tempat Gongchan dan Baro…

“Sepertinya Jinyoung sudah ketularan sifat anehmu Baro.” Kata Gongchan sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.

“Enak saja, Jinyoung hyung itu jauh lebih aneh dariku.” Bela Baro.

“Haah, tapi kenapa Ia tidak menceritakan hubungannya dengan Ri Young pada kita ya.”

“Hmmb, mungkin hyung sedang mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya.” Jawab Baro.

Gongchan menatap Baro dengan ekspresi tidak percaya. Kemudian di pegangnya kedua pipi Baro. “Kau baik-baik saja kan? Sepertinya matahari tidak akan terbit lagi besok.” Goda Gongchan.

“Ya!!” teriak Baro sambil menepis tangan Gongchan dan memukul-mukul Gongchan dengan buku. Sedangkan Gongchan hanya terkekeh-kekeh bahagia.

***

“Hahaha, aku orang pertama yang mengetahuinya!” teriak Minwoo sambil memeluk Jungmin.

“Paboo, lepaskan aku!” Jungmin melepaskan tangan Minwoo yang bergelayutan di lehernya.

“Padahal aku ingin Sung Young yang menjadi orang pertama tapi dari tadi malam ponselnya tidak aktif.” Kata Jihye lirih sambil menatap log panggilan keluarnya ke nomor Sung Young di ponselnya.

“Sudahlah chagi, mungkin dia sedang sibuk.” Jungmin merangkul yeojachingunya itu sambil tersenyum. Ya, tadi malam Jungmin dan Jihye baru saja resmi menjadi sepasang kekasih.

“Yaa!! Jangan mesum di pagi buta begini!” Teriak Minwo sewot dengan ekspresi yang dilebai-lebaikan.

“Tutup mulutmu No Minwo!” bentak Jungmin sambil menjitak kepala adiknya itu dan menjepit kepala Minwo dengan lengannya. Minwo hanya bisa meminta ampun namun Jungmin sama sekali tidak menggubrisnya.

***

Sementara itu Sung Young sedang sibuk dengan artikel-artikel mading minggu ini. Sung Young merupakan anggota pers mading di sekolahnya dan hari ini adalah jadwalnya untuk menyusun mading sehingga ia datang lebih awal untuk menempel mading.

“Noona.” Seseorang memanggil Sung Young dari belakang.

Tapi Sung Young tidak menggubrisnya karena sedang sibuk berkutik dengan artikel-artikel yang menumpuk.

“Noona.” Panggil suara itu lagi.

“Hmmb.” Sung Young menoleh dan mengambil paku yang diapitnya di antara bibirnya karena tangannya sudah tidak cukup lagi untuk memegang paku tersebut.

“Ada apa Young Min? aku sedang sibuk, nanti saja kalau mau bicara.” Jawab Sung Young sambil tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Sung Young sama sekali tidak sadar dengan bawaan Young Min yang membuat Young Min semakin gugup.

Tak lama setelah itu, Minwo, Jungmin dan Jihye tiba dan berdiri tidak jauh dari mading.

“Apa yang dilakukan Young Min dengan benda-benda itu?” Tanya Minwo pada dirinya sendiri.

Beberapa siswa mulai berkumpul dan memperhatikan Young Min yang sedang berdiri tepat di belakang Sung Young dengan wajah merah sambil menggenggam erat boneka dan seikat bunga yang dibawanya.

“Aigoo! Apa Young Min akan melakukannnya sekarang!” teriak Minwo sambil memegang kepalanya dengan ekspresi syok.

“Ada apa?” Tanya Jihye pada Minwo.

“Young Min itu menyukai Sung Young noona.” Jawab Minwo sambil terus memperhatikan Young Min yang sudah mulai panas dingin karena Sung Young hampir menyelesaikan pekerjaannya.

“Bwoo?” Tanya Jihye kaget.

“Selesai” sahut Sung Young girang sambil membersihkan tangannya dan menoleh ke arah Young Min sambil tersenyum.

“Eh, apa itu?” Tanya Sung Young sambil menunjuk boneka dan seikat bunga yang dipegang oleh Young Min.

“Ini untukmu noona.” Kata Young Min sambil menyodorkan boneka dan bunga yang ia bawa dan kemudian menunduk dengan cepat.

“heekh?” Sung Young mengambil kedua benda tersebut dengan ragu.” Tapi hari ini bukanlah hari ulang tahunku.” Sahut Sung Young. Jelas sekali dia bingung dengan pemberian Young Min tersebut.

Young Min mengangkat kepalanya dangan wajah seperti kepiting rebus.

“Noona, bolehkah aku menjadi namjachingumu?” Tanya Young Min polos.

Sung Young tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan Young Min barusan. Bagaimana tidak, Young Min menggunakan kata “boleh” untuk mengatakan pengakuan seperti itu.

“Hei, Young Min, berhentilah menjahili noona mu ini.” Kata Sung Young dengan masih terbahak sambil mengacak-acak rambut Young Min dengan tangan kanannya.

“Aku serius noona.” Raut wajah Young Min berubah menjadi serius.

Tawa Sung Young hilang seketika. Boneka dan seikat bunga yang tadi depegang Sung Young di tangan kirinya terjatuh ke lantai.

*Sung Young POV*

Aigoo!!! Bocah ini benar-benar serius dengan kata-katanya. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin dia bisa menyukaiku. Selama ini aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri. Dari dulu aku memang dekat dengannya karena kami sama-sama anggota pers mading, tapi aku sama sekali tidak menyangka dia bisa memiliki perasaan seperti itu padaku. Lagipula aku ini punya prinsip. Tidak boleh berpacaran dengan laki-laki yang lebih muda dariku. Adik kelasku lagi!!

*END POV*

“Maaf aku tidak bisa.” Kata Sung Young memecah keheningan yang sempat terjadi di antara mereka selama beberapa detik.

“Kenapa noona?” Tanya Young Min berusaha menutupi raut kekecewaannya.

“Kau tidak perlu tahu.” Jawab Sung Young dingin.

“Tentu kau harus memberikan alasan kenapa kau menolakku.”

Sung Young menghela napas. “Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan laki-laki yang usianya di bawahku.” Jawab Sung Young dingin dan meninggalkan Young Min yang mulai berkaca-kaca.

***

“Taemin.” Kataku sambil menghentikan langkahku.

“Ada apa Hyung?”  tanya Taemin sambil ikut menghentikan langkahnya juga.

“Kau janji kan tidak akan menyukainya?” tanyaku malu-malu.

“Dia siapa? Tetanggamu itu maksudmu Hyung?”

Aku hanya mengangguk pasti. Anak lemot seperti Taemin pasti tidak akan berpikir macam-macam.

“Hyung cemburu ya..?” goda Taemin

“Aish, kenapa untuk urusan seperti ini pergerakan syaraf otaknya jadi lebih cepat.” Batinku.

“Anii!! Aku hanya tidak mau kau sampai menyukai gadis aneh itu.” Jawabku sekenanya.

“Aneeh?” tanya Taemin bingung.

“Ya, dia itu sangat aneh! Sangat, sangat aneh. Dia lebih menyukai orang yang tidak pernah dilihatnya secara langsung daripada orang yang sering menghabiskan waktu bersamanya yang tanpa dia sadari selalu mencuri-curi pandang padanya!” jelas ku berapi-api.

Hening.

Sedetik kemudian aku baru sadar kalau aku baru saja menggali liang kuburku sendiri.

“Kalau begitu Hyung jangan pernah meninggalkan aku berdua saja dengannya. Aku takut dengan yeoja yang aneh.” Kata Taemin sambil menggandengku.

Aku membelalak. Entah harus senang atau menangis punya dongsaeng yang kerja otaknya semakin hari semakin lamban mengikuti pergerakan usianya. Tapi tak apalah, justru karena kelemotannya itu aku berhasil keluar dari lubang yang baru saja aku gali sendiri.

***

*Onew POV*

Sudah kuduga, sudah kuduga! Tidak akan ada yang bisa lari dari pesona Hwa Sook. Wajahnya terlalu manis untuk tidak dipandang meski hanya sedetik. Sudah lebih dari setengah jam kami duduk bertiga di café ini. Tunggu! bertiga? Arghh aku rasa mereka tidak menganggap keberadaanku. Dari tadi mereka saling memandang dengan tatapan malu-malu. Berbincang-bincang dengan dialog tanpa aku ikut berpartisipasi di dalamnya. Membicarakan hal-hal yang tidak membutuhkan tokoh tambahan seperti aku sukses membuatku jengkel. Apa-apaan ekspresi malu-malu si Hwa Sook dan Taemin itu! Tatapan mereka seperti orang yang sedang jatuh cinta! Dasar Taemin, padahal dari awal sudah kuperingatkan jangan sampai menyukai Hwa Sook, tapi apa nyatanya? Dia malah senyum-senyum seperti itu. Menjengkelkan sekali. Hello…Hello…Hello! (*Parto mode on#Plaak. Abaikan) Aku ini sang leader apa tidak bisa sedetik saja kalian melirikku dan bersimpati dengan kondisiku yang saat ini sangat menggenaskan???

*END POV*

“Braaak!” aku membanting meja dan melihat sinis ke arah mereka berdua yang akhirnya mau melihatku.

“Wae?” tanya Hwa Sook dan Taemin serempak.

Aku semakin jengkel melihat kekompakan mereka. Segera ku pasang tampang sok imut dihadapan dua manusia yang sedang kasmaran itu agar tidak menimbulkan kecurigaan.

“Tiba-tiba aku baru ingat kalau aku ada janji dengan seseorang.” Kataku berbohong sambil mengeluarkan kunci mobil dan memberikannya pada Taemin.

“Pakai ini untuk mengantar Hwa Sook pulang.” Kataku sambil tetap memasang tampang sok imut. Melihat ekspresi Taemin yang seolah ingin bertanya “aku akan naik apa?” maka tanpa menunggu pertanyaan itu terlontar dari mulutnya aku segera menyambung kalimatku. “Tenang saja Taemin, aku bisa naik taxi.” Kataku sambil beranjak dari kursiku. Padahal aku berharap mereka mencegahku. Tapi nyatanya mereka malah bahagia atas kepergianku. Tentu saja mereka bahagia! Bahagia sekali bisa berbincang sepuasnya sambil saling memandang malu-malu tanpa perlu khawatir ada pengganggu seperti aku. Padahal tadi sebelum bertemu dengan Hwa Sook Taemin terus bergelayut di lenganku dan terus memohon-mohon dengan manjanya agar aku tidak jauh darinya. Tapi! Setelah mengetahui sosok Hwa Sook dia langsung mengabaikan aku! Dasar sial!” gerutuku dalam hati.

“Haa, andai aku bisa sedikit lebih jujur pada diriku sendiri pasti aku tidak perlu ragu menunjukkan rasa cintaku pada Hwa Sook secara terang-terangan.” Gumamku sambil terus berusaha mengatur detak jantung yang semakin berdebar tak karuan karena kecemburuanku yang kian tak terkontrol.

***

“Dreet…Drett…” aku merasakan sesuatu bergetar dari balik saku celanaku. Ternyata ada pesan singkat yang baru saja masuk. Pengirimnya adalah Taemin. ”Huft, menjengkelkan sekali.” Batinku. Tiba-tiba ada pesan singkat lagi yang masuk. Haa, Hwa Sook. “Kenapa dalam hal mengirimi pesan pun mereka sangat kompak.” Batinku lagi. Pertama-tama aku membaca pesan dari Taemin.

“Hyung, terima kasih ya. Aku sangat senang ^^.”

Kemudian pesan dari Hwa Sook.

“oppa, terima kasih ya, aku sangat senang ^^ .

“Apa-apaan mereka! Mengirimiku pesan secara bersamaan. Sekarang isinya pun sama persis! Aku yakin Taemin benar-benar menyukai Hwa Sook. Sudah tidak ada lagi harapan untukku.” Teriakku sambil melempar ponselnya ke tengah jalan sehingga hancur berkeping-keping. “Hatiku sama dengan ponsel itu. Hancur berkeping-keping” gumamku sambil menatap nanar ponsel yang baru saja aku beli seminggu yang lalu.

***

TBC…

3 comments

  1. chyshinji · June 25, 2011

    Bwahaha,, makin kocak aja,, itu Taem lemot apa lemot? Aigooo…. Ampe ketawa tiwi bacanya… Onyunya juga kocak… Aigoo… Kok Sung Young ga mau ama dongsaeng? Kan dia jg suka Minwoo… Ga pgen apa pacaran ama Minwoo besok2? Lanjut ya thorr!!

  2. Laras Poenya Justin · June 28, 2011

    waah onew cemburunya mpe segitunya . wkwkwkwk

  3. Kiseopielovers · August 12, 2011

    hello hello i’m back.
    hahaha….uda lama tak main kesini.
    critanya bagus euy

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s