A Story about Love [Part IV]

Title                 : A Story about Love [Part IV]

Author             : Siska Sri Wulandari

Cast I

: Jinyoung (B1A4)

: Shin Ri Young

: Gongchan (B1A4)

Cast II

: No Minwo (Boyfriend)

: Hwang Sung Young

: Jungmin (Boyfriend)

: Han Jihye

Cast III

: Onew (Shinee)

: Han Hwa Sook

:Taemin (Shinee)

Annyeong….

Admin bawa kelanjutan FF A Story about Love. Mungkin masih ada yang masih bingung sama FF ini karena cast yg terlalu banyak. Pokoknya di sini ada tiga kisah dengan cast yang beda-beda & masing-masing kisah sama sekali gag saling berhubungan dengan kisah yang lain. ^^

Oh, ya, buat para penggemar Baro & Gongchan untuk part ini mereka nggak nongol karena memang lagi nggak dibutuhin#Dibacok Baro & Gongchan. Tapi mungkin di part selanjutnya mereka bakalan lebih sering lagi muncul J. Gomawo ^^ Happy Reading…

***

Aku masih berada di depan pintu hinga seseorang memanggilku. “Jinyoung, masuklah nak.” Panggil ibu Ri Young. Satu jam yang lalu Ri Young baru saja sadarkan diri. Aku senang, bahagia, sangat bahagia malah. Tapi entah kenapa aku tidak punya cukup keberanian untuk menemuinya. Membiarkan diriku bergelayut dalam perasaanku yang aku sendiri tidak mampu untuk menahannya. Aku memang tak sepandai Ri Young dalam menyembunyikan perasaan.

Untuk yang kesekian kalinya, masih dengan pemilik suara yang sama orang tersebut memanggilku untuk masuk ke dalam. Aku tidak punya muka untuk menemui Ri Young. Aku benar-benar pengecut. Selama ini aku selalu memarahi dan mendesaknya agar segera mengatakan perasaannya pada Gongchan. Cinta yang tak tersampaikan jauh lebih menyakitkan dibanding cinta yang tak terbalaskan. Selalu kata-kata itu yang aku ucapkan pada Ri Young. Tapi sekarang? Setelah akhirnya salah satu perasaan galauku bisa aku terjemahkan dengan baik, kini aku merasa terjebak dalam kata-kataku sendiri. Cinta, cinta itu membingungkan, menyakitkan dan indah. Hmmb, indah. Mungkin pada akhirnya akan terasa indah meski dibumbui dengan rasa bingung dan sakit. Tapi, cintaku ini benar-benar membingungkan dan menyakitkan tanpa ada tambahan kata indah karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah mencapai titik itu.

Dengan perlahan aku melangkahkan kakiku. Berjalan perlahan tanpa berusaha untuk mencari wajah gadis yang selama satu minggu ini membuatku merasa benar-benar khawatir. Aku menghela napas ketika sampai di samping tempat tidur Ri Young. Baru saja aku ingin membuat percakapan dengan orang tua Ri Young justru mereka pamit untuk keluar. Sial. Aku yakin pasti yang mereka pikirkan adalah untuk membiarkan sepasang kekasih berdua saja. KEKASIH! Kata yang tidak pernah kusanggah dari mulut mereka selama seminggu ini. Entah kenapa aku senang mendengar kata itu.

“Terima kasih ya selama seminggu ini oppa selalu menungguiku.” Ri Young berkata pelan karena kondisinya yang belum pulih seutuhnya.

Aku hanya mengangguk tanpa melihat wajahnya.

“Oppa kelelahan ya? Pulanglah. Aku jadi merasa tidak enak merepotkanmu.” Kata Ri Young lagi sambil berusaha bangkit dari tidurnya.

Aku membantunya untuk duduk. Wajahnya masih pucat namun ia masih berusaha untuk tetap tersenyum. “Aku ingin minta maaf padamu.” Kataku kemudian.

“Maaf? Untuk apa?” tanyanya bingung sambil menatapku seolah berusaha membaca pikiranku.

“Apakah ia bisa membaca ekspresiku? Semoga tidak. Aku ini tidak bisa menyembunyikan perasaanku dengan baik. Semoga meskipun dia pintar menyembunyikan perasaannya tapi dia tidak mampu membaca perasaan yang berusaha disembunyikan orang lain.”gumamku.

Ri Young menggamit lenganku dengan ekspresi penasaran.

“Haa, lupakan. Sekarang aku mau bertanya padamu. Apakah tidak apa-apa jika seseorang menyukai seseorang yang telah menyukai orang lain?”

“rumit sekali.” Jawabnya singkat.

“Perasaan manusia itu tidak ada yang sederhana semuanya pasti rumit.” Jawabku sambil menarik kursi dan duduk di samping tempat tidurnya.

“Apa seseorang itu adalah oppa?” tanyanya tiba-tiba dengan ekspresi biasa saja seolah pertanyaanku itu adalah perkara mudah.

“Kenapa kau jadi balik bertanya?” aku jadi salah tingkah.

“Haha, maaf aku hanya penasaran. Tapi aku rasa orang itu pasti bukan oppa. Kau punya segalanya untuk bisa menjadi pacar idaman. Tidak perlu repot-repot menyukai orang lain yang tidak menyukaimu karena semuanya pasti menyukaimu.” Jawabnya santai sambil tertawa-tawa kecil.

“Apa itu tadi yang kutanyakan padamu?” aku mendelik kepadanya.

“Ahh, maaf. Namanya juga perasaan suka. Setiap orang tentu punya hak untuk memiliki perasaan itu, tidak peduli meskipun yang disukai itu telah menyukai orang lain.

“Apakah orang tersebut juga boleh menyatakan perasaannya?”

“Tentu saja boleh. Bukankah cinta yang tak tersampaikan jauh lebih menyakitkan dibanding cinta yang tak terbalaskan?” Ri Young mengutip kalimat yang selama ini selalu aku katakan padanya.

“Tapi bagaimana ketika kau menyatakan perasaanmu padanya justru membuat hubungan kalian menjadi canggung.” Tanyaku lagi.

“Apa ini cinta yang tumbuh pada sepasang sahabat?” tanyanya polos.

Aku menatapnya. Dia benar-benar tidak menyadari bahwa yang sedang kami bahas ini adalah tentang diriku, dirinya dan Gongchan.

“Mungkin iya mungkin juga tidak. Tapi mungkin lebih condong kepada cinta yang terlambat.”

“Cinta yang terlambat? Apa itu?” tanyanya dengan nada mengejek.

“Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Lekaslah pulih dan segera nyatakan perasaanmu pada Gongchan.” Kataku sambil beranjak pulang.

“Apa kau benar-benar tidak mengizinkan aku untuk memendam rasa itu?”

Aku menoleh cepat padanya. “Jangan terlalu menyiksa dirimu sendiri.” Jawabku sambil tersenyum padanya.

“Jika aku mati sebelum mengatakannya, kau mau menggantikan aku?”

Aku terdiam. Mati katanya. Tempo hari, aku yang mengatakan kata itu dengan begitu enteng padanya, sekarang kenapa dia begitu enteng mengatakan kata itu. Aku menghela napas dan membalikkan badanku menghadap pintu.

“Tidak.” Jawabku singkat. “Aku pulang dulu.” Pamitku tanpa sedikit pun menoleh kepadanya.

“Oh, iya. Maaf ya kalau orang tua ku sampai menganggapmu sebagai pacarku.” Katanya lagi.

Aku hanya mengangguk pelan sambil melambaikan tanganku.

“Besok, kupastikan tidak lagi.” Sambungnya.

*Jinyoung POV*

“Besok? Apa secepat itu. Izinkan aku merasa bahagia lebih lama lagi ketika orang tuamu menyangka seperti itu. “gumamku dalam hati. Tapi sudahlah, toh sudah kuputuskan untuk tidak menyatakan perasaanku padanya. Biarlah cinta ini terus kupendam untuk selamanya. Menyakitkan memang, tapi ketika sudah tidak ada pilihan lain, jalan yang menyakitkan pun harus ditempuh. Aku tidak ingin setelah dia mengetahui perasaanku, ia justru merasa terbebani. Sisa hidupnya tidak lama lagi, harusnya aku isi dengan kebahagiaan bukannya malah menambah bebannya. Akan lebih baik kalau yang mengalah itu aku.

*END POV*

***

Aku menghentikan langkahku saat melihat tiga makhluk yang sangat kukenal. Sahabatku Jihye, bocah yang paling ingin aku hindari Minwo dan kakak bocah itu Jungmin. Tapi aku rasa kini dia juga sudah resmi menjadi pacar Jihye. Tentu, jika tidak, mana mungkin mereka bergandengan tangan seperti itu. Melihat ekspresi mereka, aku tahu apa yang akan mereka katakan. Jadi sebelum mereka mengatakan apa-apa, aku mencuri start terlebih dahulu.

“jangan tanya kenapa!” bentakku sambil meninggalkan mereka yang masih terbengong.

***

Kukeluarkan semua isi dompetku berharap keajaiban akan datang dan isi dompetku jadi bertambah. Saat ini kantongku sedang kritis, padahal aku sangat membutuhkan uang untuk memperbaiki ponselku yang semalam jatuh di kolam renang. T_T  Tiba-tiba Jihye sudah duduk di sampingku sambil menatapku nanar.

Aku menoleh. “Apa-apaan tatapanmu itu?” tanyaku padanya dengan sedikit kesal.

“Dosa ya kalau kita menyukai laki-laki yang lebih muda?” tanyanya sambil tetap menatapku nanar.

“Aku memegang prinsip seperti itu, toh aku juga tidak menyukainya.” Jawabku enteng tanpa rasa bersalah sama sekali.

“Tidakkah kau merasa bersalah pada Young Min?”

“Untuk apa. Jujur itu lebih baik kan?”

“Setidaknya kau menolaknya dengan cara yang lebih baik.”

“Sudahlah! Berhenti memojokkan aku!” bentakku pada Jihye.

Tiba-tiba Minwo masuk ke dalam kelasku yang notabenenya adalah seniornya tanpa sedikit pun merasa takut. Yaah, aku rasa ia tidak perlu takut, semua orang mengidolakannya.

“Noona!” bentakknya ketika sampai di mejaku.

Aku kaget. Inilah kali pertama Minwo membentakku. Tidak, lebih tepatnya kali pertama aku mendengar Minwo membentak orang lain.

“Tidak bisakah noona sedikit saja menjaga perasaan Young Min?” tanyanya dengan nada tinggi.

“Memang apa urusannya denganmu?” tanyaku ketus.

“Jelas saja ini urusanku. Young Min itu adalah sahabatku. Sudah dari dulu dia menyukai noona. Mengagumi noona dan memuja-muja noona. Dan setelah berhasil mengesampingkan rasa takutnya dia menyatakan perasaannya pada noona, tapi noona menghancurkannya begitu saja!”

“Salahku jika aku tidak menyukainya?” tanyaku nyolot sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya.

“Sung Young!” teriak Jihye.

“Apa?” aku juga membalasnya dengan teriakan.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau jadi tidak berperasaan seperti ini. Kau bukan Sung Young yang aku kenal.” Jihye mulai menangis.

“Ada apa denganku? Ada apa? Bisakah kalian berhenti memojokkan aku!” bentakku sambil memandang Minwo dan Jihye secara bergantian. “Bisakah kalian memikirkan dari kondisiku. Kondisiku jauh lebih tersiksa!” bentakku sambil berlari keluar kelas.

“Buuk” tiba-tiba aku menabrak Jungmin.

“Gwenchana?” tanyanya sambil membantuku berdiri.

Aku menepiskan tangannya dengan kasar dan kembali berlari tanpa arah.

Kemudian Jungmin mendekati Jihye yang sedang menangis.

“Kalian bertengkar?” tanya Jungmin pada Jihye sambil melirik Minwo yang masih emosi.

“Chagi.” Kata Jihye manja.

Jungmin pun segera menarik Jihye dalam pelukannya dan tak mempedulikan bahwa semua mata penghuni kelas saat itu sedang menjadikan mereka objek tontonan yang menarik.

“Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri.” Kata Jungmin sambil mengelus-elus kepala Jihye.

“Kau mau kemana?” tanya Jungmin saat melihat Minwo beranjak keluar kelas.

“Aku mau kembali ke kelasku.” Jawab Minwo singkat dengan emosi yang masih belum bisa ia kontrol.

***

*Sung Young POV*

Aku tahu aku salah. Aku tahu seharusnya aku menolak Young Min dengan cara yang lebih baik. Aku juga tahu tidak seharusnya aku membentak Jihye dan Minwo, aku tahu kalau aku yang salah, aku tahu itu. Tapi entah kenapa hatiku tetap bersi keras tidak mau disalahkan. Aku menyukai Minwo tapi tetap berusaha membantahnya karena perbedaan usia yang hanya setahun. Tiba-tiba Young Min menyatakan perasaannya padaku di saat aku masih harus bergelut pada perasaan sukaku pada Minwo. Datang di saat yang tidak tepat membuat Young Min jadi terkena imbasnya. “Mianhee, Mianhe Young Min.” Gumamku.

*END POV*

***

Aku menyodorkan kertas memo pada Jihye yang bertuliskan “mianhe”.

Jihye pun segera membalas memo tersebut. “Aku tidak pernah marah padamu. Seharusnya kau minta maaf pada Young Min.”

Aku menatapnya dan berbisik karena takut terdengar oleh guru yang saat ini sedang mengajar, “benarkah kau tidak marah?”

Jihye mengangguk sambil tersenyum.

“Tentu, nanti aku pasti akan segera meminta maaf pada Young Min.” bisikku lagi.

***

Aku berdiri di depan kelas Young Min untuk  menunggunya keluar. Sebenarnya sudah sejak 10 menit yang lalu bel pulang berbunyi, tapi sepertinya kelas Young Min sedang ada sedikit pelajaran tambahan. Tak lama setelah itu keluarlah Young Min dan Minwo bersamaan. Ya, mereka memang teman akrab. Kemana-mana selalu bersama. Sama seperti aku dan Jihye dulu. Ya, dulu. Karena sekarang Jihye sudah berpacaran dengan Jungmin tentu mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama.

“Young Min.” panggilku sambil tersenyum.

Young Min menatapku ragu dan seperti mau menghindariku. Ya, aku tahu, aku memang pantas dihindari. Minwo pun mendorong-dorong Young Min agar menghampiriku.

“Harus dengan apa aku membayar kesalahanku tadi?” tanyaku sambil tersenyum manis padanya. Kulihat wajahnya memerah. “Aku sangat menyesal karena tadi memperlakukanmu seperti itu. Aku janji akan menuruti semua permintaanmu asal kau mau memaafkanku.” Sambungku lagi sambil terus menyunggingkan senyum.

Wajah Young Min tampak ragu. Kemudian Minwo berceletuk, “Nanti malam jalan-jalanlah dengannya.”

Refleks aku dan Young Min melihatnya secara bersamaan dengan ekspresi terkejut.

“Bukankah noona bilang apa pun?” tanya Minwo.

“Tapi, kenapa malah kau yang memutuskan?” aku balik bertanya.

“Apakah noona mau mengabulkannya?” tiba-tiba Young Min bersuara.

“Ohh, tentu saja. Aku kan sudah janji.” Jawabku masih sambil tetap tersenyum, meskipun senyum kali ini senyum terpaksa.

*Sung Young POV*

Pasti Minwo ingin mendekatkanku dengan Young Min. Ya, sudahlah, toh Cuma malam ini. Young Min juga sudah tahu kalau aku tidak menyukainya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin perasaanku pada Minwo tidak akan pernah tersampaikan. Sudah saatnya aku menyimpan cintaku padanya. Ya, hanya untuk disimpan. Bukan untuk dinyatakan dan bukan untuk dibalas. Sakit memang. Tapi sepertinya takdir tidak mengizinkanku untuk menyatakan isi hatiku padanya. Yang jelas No Minwo, kau punya tempat khusus dihatiku selamanya.♥♥♥

*END POV*

***

Angin malam semakin agresif mengusirku untuk segera beranjak dari sini. Tapi aku tetap berusaha melawan hawa dingin yang semakin tak bersahabat. Sudah satu minggu berlalu sejak Hwa Sook berkenalan dengan Taemin. Sejak perkenalan mereka, Taemin tak henti-hentinya menanyakan segala informasi tentang Hwa Sook. Mulai dari makanan kesukaannya, warna favoritnya, tempat yang paling disukainya dan sebagainya. Sebenarnya aku tidak ikhlas memberikan informasi seperti itu kepada Taemin, tapi apalah daya, tidak mungkin aku menolak untuk memberi tahunya. Mereka pun jadi sering jalan bersama. Seperti hari ini, Taemin mengajak Hwa Sook untuk menonton. Malam ini aku ingin memberikan sesuatu pada Hwa Sook makanya aku sengaja menunggu di depan rumahnya.

Dari kejauhan aku melihat sosok yang dari tadi aku tunggu berjalan ke arahku. Wajahnya terlihat begitu bahagia.

“Onew, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hwa Sook bersemangat.

Aku memperhatikan boneka yang saat ini sedang dipegang Hwa Sook. Sadar diperhatikan, tanpa ditanya Hwa Sook langsung menjelaskan asal muasal boneka itu.

“Ini, hadiah dari Taemin. Lucu kan?” tutur Hwa Sook senang sambil menyodorkan boneka tersebut kepadaku.

*Onew POV*

Aku melirik hadiah yang kubawa untuk Hwa Sook  yang kuletakkan di pinggir kursi tempat tadi aku duduk. Sama. Hadiah pemberianku sama dengan hadiah pemberian Taemin. Boneka kelinci berwarna merah muda. Ya, aku ingat bahwa aku telah memberi tahukan pada Taemin semua tentang kesukaan Hwa Sook. Tapi, kenapa bisa-bisanya kami memberikan hadiah yang sama pada saat yang bersamaan pula, jadi kuurungkan niatku untuk memberikan boneka itu.

*END POV*

“Onew..? kenapa kau diam saja.” Hwa Sook mengguncang-guncang tubuhku.

“Haa? Apa? Maaf, maaf.” Jawabku gugup.

“Kau ini kenapa sih?”

“Tidak apa-apa, lupakan saja.”

“Oh, ya tujuanmu ke sini untuk apa?”

Aku terdiam. Apa yang harus aku jawab. Tiba-tiba tanpa disengaja aku melontarkan pertanyaan bodoh. “Kau sudah siap menjadi pacar Taemin?” tanyaku refleks.

“Maksudmu?” tanyanya bingung.

“Pendekatan yang kalian lakukan sekarang untuk itu kan?”

“Mungkin…” jawab Hwa Sook malu-malu.

“Taemin itu bukanlah orang biasa, dia seorang artis terkenal yang punya banyak fans dimana-mana. Apakah kau sudah siap dengan segala konsekuensinya?”

“Seperti antis misalnya?”

“Ya, kau tahu kan bagaimana para fans sangat kecewa jika idolanya memiliki kekasih. Bahkan akan banyak antis yang bermunculan.”

“Ya, tentu saja. Aku juga seorang fans fanatik.” Jawabnya sambil tersenyum nakal. “Dulu aku juga seperti itu. Kesal sekali jika idolaku dekat dengan wanita lain. Tapi itu dulu, sebelum aku bisa berpikir secara dewasa. Artis itu tetaplah manusia biasa. Tentu tetap membutuhkan seorang pendamping hidup. Siapa pun pilihan mereka pasti itu yang terbaik. Dan kalau pun ada yang tidak setuju dengan hubungan kami, itu hak mereka.” Sambungnya sambil tersenyum.

“Tapi, bagaimana jika antis itu melukaimu?”

“Haha, kan ada Taemin yang akan melindungiku. Meskipun ia tampak kekanak-kanakan tapi dia benar-benar laki-laki yang bertanggung jawab.” Hwa Sook tertawa renyah.

Aku hanya menarik sedikit ujung bibirku. Mencoba tersenyum tapi gagal. Sakit sekali hati ini mendengarnya memuji Taemin seperti itu.

“Apa tujuanmu menungguku hanya untuk bertanya hal seperti itu?”

“Mungkin.” Jawabku singkat.

“Mungkin?” tanyanya bingung.

“Kalau kau terluka karena antis atau apa pun karena hubungan kalian nanti, aku akan selalu ada untukmu. Jangan berpikir yang macam-macam aku hanya memberikan servis karna kau adalah tetanggaku.” Jawabku sambil mengacak rambutnya pelan.

“Haha, kau lucu sekali. Aduh, dingin sekali. Ayo masuk ke dalam.” Ajaknya sambil menarikku.

“Tidak usah, ini sudah larut, jadi aku mau langsung pulang ke dorm.”

“Ahh, padahal banyak yang ingin aku ceritakan padamu. Tapi ya sudahlah.” Katanya dengan nada kecewa.

*Onew POV*

Apa-apaan kata-kataku barusan “kalau kau terluka karena antis atau apa pun karena hubungan kalian nanti, aku akan selalu ada untukmu. Jangan berpikir yang macam-macam aku hanya memberikan servis karna kau adalah tetanggaku.” Aku benar-benar bodoh. Kalimat sok tegar seperti itu justru membuatku semakin menderita. Ya, Tuhan… Andai ada alat untuk bisa membuat seseorang menjadi lebih berani, pasti akan kugunakan alat itu untuk menyatakan perasaanku pada Hwa Sook. Sesak sekali menyimpan perasaan cinta secara diam-diam. Tapi, jika dengan menyimpannya akan lebih baik mungkin aku akan tetap melakukannya. Selama di luar aku masih bisa tersenyum aku tidak peduli meskipun hatiku menangis. Mengungkapkan cinta itu tak semudah mengemut permen [?]. Semoga kabar mereka jadian tidak secepat yang aku pikirkan.

*END POV*

TBC…

Maaf ya kalau Part ini terlalu panjang. Author juga bingung kenapa bisa jadi sepanjang ini T_T Semoga nggak ngebosenin & masih setia ngikutin Part selanjutnya ya. Jangan lupa RCL yha. (Read, Comment, Like), hehe.. itu semua sangat berarti untuk author. Gomawo ^^

2 comments

  1. chyshinji · July 1, 2011

    Huhu,, part Jin Young bener bener menyedihkan… Kenapa baru sekarang sadar ama perasaanny? Ri Young juga gak peka banget sih…
    Nih, Jin Young, Sung Young ama Onew pada kompakan memendam rasa ya Thor? Huhu, pdhl pengen couple Sung Young No Minwoo…
    Lanjuuutt yaaa^^

  2. Kiseopielovers · August 12, 2011

    bagus non!tingkatkan

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s