A Story about Love [Part V]

Title : A Story about Love [Part V]

Author : Siska Sri Wulandari

Cast I : Jinyoung (B1A4)

: Shin Ri Young

: Gongchan (B1A4)

Cast II : No Minwo (Boyfriend)

: Hwang Sung Young

: Jungmin (Boyfriend)

: Han Jihye

Cast III : Onew (Shinee)

: Han Hwa Sook

:Taemin (Shinee)

Mungkin masih ada yang masih bingung sama FF ini karena cast yg terlalu banyak. Pokoknya di sini ada tiga kisah dengan cast yang beda-beda & masing-masing kisah sama sekali gag saling berhubungan dengan kisah yang lain. ^^

***

Setelah mengambil beberapa buah buku aku menutup pintu lokerku dan mendapati Gongchan masih berdiri di depan lokernya sambil memegang sepucuk surat. Karena penasaran aku berjalan mendekatinya.

“Dari penggemarmu lagi?” tanyaku sambil menyenggol lengannya.

“Yaah, tentu saja.” Jawabnya sambil membolak-balik surat tersebut.

“Cepat baca!” Perintahku padanya.

“Ahh, untuk apa? Hanya membuang-buang waktu saja. Pasti isinya juga sama dengan penggemar-penggemarku yang lain. Tolak Gongchan sambil bersiap membuang surat tersebut ke tong sampah yang berada tak jauh darinya.

“Belajarlah untuk menghargai orang lain. Mungkin, bagimu surat ini tidak penting. Tapi bagaimana dengan si pengirim, mungkin ia sampai tidak bisa tidur semalaman memikirkan reaksimu ketika membaca surat ini.” Tahanku sambil memegang tangannya.

“Brisik! Pagi-pagi sudah menceramahiku.” Jawab Gongchan malas dan membuka amplop surat tersebut.

Aku hanya berdiri sambil melipat tanganku di depan dada menunggu Gongchan selesai membaca surat tersebut dan sesekali mencari ke sekeliling dimana keberadaan Baro. Si Hamster itu dari tadi tidak keliahatan sama sekali batang hidungnya, padahal biasanya dialah yang selalu datang lebih awal ke kampus. “Apa dia sakit?” gumamku. “Ahh, tapi mana mungkin anak hiperaktif seperti dia bisa sakit. Kalau sakit jiwa mungkin sudah dari dulu.” Batinku lagi. Kuperhatikan ekspresi bingung Gongchan.

“Ada apa?” tanya ku sambil mengintip isi surat tersebut dari samping.

Gongchan hanya menatapku sambil menautkan kedua alisnya dan menyodorkan surat tersebut padaku.

Aku pun membaca isi surat tersebut dengan perlahan.

“Terima kasih karena telah menjadi cinta pertamaku. Aku sadar kalau aku tidak pantas untuk mencintai orang sepertimu. Tapi, aku harap oppa masih mau menyimpan surat ini agar bisa mengenangku. Jika ada suatu keajaiban, aku ingin sekali mengabiskan hari terakhirku denganmu. Tapi aku tahu itu mustahil. Terima kasih telah menjadi bagian terindah dalam hidupku. Oppa, kau adalah kenangan terindah yang tak terlupakan semasa hidupku. Sekali lagi terima kasih.”

Entah kenapa jantungku berdegup sangat kencang ketika membaca surat tersebut. Aku seolah mengenal siapa pemilik surat tersebut.

“Tidak ada nama pengirimnya?” tanyaku pada Gongchan.

Gongchan hanya menjawabnya dengan anggukan.

Dari kejahuan aku melihat Ri Young yang masuk ke dalam kelasnya. Ri Young, ya, aku yakin, pemiik surat ini adalah Ri Young. “Pernyataan macam apa ini. Ia bahkan tidak mencantumkan namanya. Bodoh sekali. Apa hanya sebatas ini keberaniannya.” Gumamku kesal.

“Jinyoung, kau kenapa?” tanya Gongchan sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Aku pun segera tersadar dari lamunanku.

“Kau baik-baik saja kan?” tanyanya khawatir.

Tanpa mengucapkan apa-apa, aku memberikan kembali surat tersebut padanya dan mengisyaratkan untuk segera masuk kelas.

Aku dan Gongchan berdiri membatu di ambang pintu menyaksikan fenomena yang hanya akan terjadi sekali seumur hidup ini. Baro! Seorang Baro duduk manis di depan mejanya sambil belajar. “Omo, jangan-jangan dia kerasukan setan.” Kataku pelan pada Gongchan.

Aku dan Gongchan saling bertukar pandang dan sedetik kemudian kami menyeringai.

“Pasti karena gadis yang bernama.” Kata ku terputus agar Gongchan yang menyambungnya.

“Kim Junha!!!.” Sambung Gongchan histeris.

Kami pun tertawa terbahak-bahak sambil memperhatikan ekspresi Baro yang sepertinya frustasi sekali dengan buku yang ada di hadapannya.

“Waah, waah, bahkan demi cinta pun seekor keledai sepertimu sampai rela menyiksa diri sendiri dengan bergaul bersama buku-buku itu.” Goda Gongchan sambil mengacak-acak rambut Baro.

Baro menoleh dan kaget dengan kedatangan kami. “Keledai katamu!” bentak Baro marah.

“Gongchan, jangan terlalu jujur seperti itu.” Tambah Jinyoung sambil terbahak.

“Kalian benar-benar menyebalkan! Bukannya mendukung malah menghina. Setidaknya aku harus punya modal untuk bisa menyatakan cinta pada gadis selevel dia.” Bela Baro.

“Kau akan menyatakan perasaanmu pada Kim Junha ?” tanyaku sambil menarik buku yang tadi dibacanya karena penasaran buku apa itu.

“Tentu saja. Kau pikir untuk apa aku menyukai dia jika hanya untuk dipendam. Pengecut sekali.” Jawab Baro.

Buku setebal ensiklopedia yang kupegang jatuh kelantai dan menimbulkan suara yang cukup keras. Aku benar-benar tidak menyangka dengan jawaban Baro barusan.

“Jinyouung Hyuung!! Apa-apaan kau ini. Kalau sampai rusak kau harus menggantinya. Ini buku perpustakaan.” Omel baro sambil memungut buku tersebut.

Aku segera menuju ke tempat dudukku tanpa mempedulikan Baro yang masih sibuk dengan ocehannya. Pengecut, kata itu memang sangat pantas untukku. Seorang Baro pun bahkan lebih bijaksana dalam menghadapi perasaannya, sedangkan aku, aku hanya bisa bicara. Aku memang pengecut. Aku hanya seorang pengecut yang bertopengakan kata “berkorban”.

***

Di Taman Kota….

Entah kenapa aku suka sekali berkunjung ke sini sendirian. Memperhatikan anak-anak kecil yang asik berlarian ke sana-kemari tanpa beban sedikit pun, membuat aku berpikir untuk kembali ke zaman itu. Masa di mana tidak pernah memikirkan beban hidup. Hanya menghabiskan waktu dengan bermain dan bermain.

Sebuah balon berwarna biru mendarat tepat di pangkuanku. Aku menengadahkan kepalaku ke atas langit dan kemudian mencari ke sekeliling siapakah pemilik balon ini, tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda seseorang yang baru saja kehilangan balonnya. Ada sepucuk kertas yang diikat di bawah tali balon tersebut, aku pun segera membuka dan membacanya.

“Meski tetap Tuhan yang menentukan tapi dengan kondisimu ini kau harus berhati-hati dengan waktumu.” Aku masih mengingat jelas kalimat yang keluar dari seseorang yang selama ini selalu ada untukku. Dia benar, berhati-hati dengan waktu. Bagiku waktu lebih mengerikan dibanding kematian. Sebelum semuanya berakhir aku ingin meminta maaf pada semua orang yang kukenal dan menjadi yang terbaik pada hari terakhirku. Oh, ya, ada satu harapan lagi, di hari terakhirku aku ingin sekali berkencan dengan seorang laki-laki bernama Gongchan. Haha, lucu memang. Itu benar-benar mustahil untuk gadis sepertiku. Balon, jika kau bisa menyampaikan do’aku pada yang di atas, aku akan sangat berterima kasih padamu. Haha, lagi-lagi aku berpikir yang tidak-tidak. Tiga hari. Dokter bilang aku hanya punya waktu tiga hari ^^”

Air mataku menetes deras saat membaca surat tersebut. Aku berlari kencang berusaha mencari keberadaannya yang mungkin tidak jauh dari taman tapi hasilnya nihil sampai akhirnya ponselku bergetar tanda ada sms yang masuk.

“Oppa, terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Maaf jika aku selalu menyusahkanmu. Aku sudah mengirimi Gongchan surat yang berisi tentang perasaanku padanya tanpa menyebutkan identitas karena aku pikir itulah yang terbaik. Maafkan semua kesalahanku ya, dan aku harap kau tersenyum ketika mengunjungi tempat peristirahatan terakhirku.”

*Jinyoung POV*

Aku tidak bisa mencegah kematiannya. Aku tahu aku tidak akan bisa membuat dia bertahan lebih lama jika itu bukan kehendak Tuhan. Tapi kenapa dia harus mengatakan hal seperti ini melalui sms. Bukankah lebih baik dia menemuiku. Aku tidak akan membiarkannya terus-terusan menghindar. Aku pasti akan menemukannya. Pasti!

*END POV*

“Oppa, pinjami aku uang untuk memperbaiki ponselku. Tolonglah dongsaengmu yang malang ini, aku janji akan segera menggantinya.” Rengekku pada kakak laki-laki ku satu-satunya sambil menarik-narik kaosnya karena dia selalu lari jika aku meminta uang padanya.

“Tidak mau. Kau pasti tidak mau membayarnya!” tolak kakakku sambil meronta-ronta berusaha melepaskan diri.

Kegiatan tarik-menarik kami pun terhenti ketika melihat ibu masuk membawa seseorang yang aku kenal. Karena kaget, genggamanku pun melemah dan membuat kakakku berhasil kabur setelah berhasil menjungkalkan aku karena terlalu keras ketika menarik tubuhnya. Aku pun hanya meringis kesakitan sambil memegangi pantatku sedangkan ibuku hanya menggeleng-geleng melihat tingkahku dan kakakku tadi seraya berlalu.

“Apa yang kau laku…?” kata-kataku terputus ketika aku mengingat janjiku tadi siang dengan Young Min. Aigoo, terpeta dengan jelas di wajah Young Min bahwa dia sangat kecewa karena aku melupakan janjiku.

“Seharusnya aku memang tidak terlalu banyak berharap.” Kata Young Min sambil menatapku datar dan beranjak keluar.

“Young Min, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar lupa.” Kataku sambil menarik lengan kanannya.

“Lupa atau sengaja melupakannya?” tanyanya sambil tersenyum kecut.

“Aku benar-benar lupa. Tolong maafkan aku. Beri aku waktu setengah jam untuk bersiap-siap.” Pintaku memohon.

Young Min hanya mengangguk dan kemudian aku menyuruhnya untuk menunggu di dalam.

*Young Min POV*

Aku tahu dia tidak pernah mempedulikan aku. Tapi entah kenapa aku tidak bisa membencinya, justru semakin menyukainya. Aku tidak mungkin bisa menolak semua permintaannya. Aku tahu, aku bodoh, tapi aku lebih suka seperti ini. Menghabiskan waktu bersama gadis yang aku cintai meskipun sadar gadis tersebut tidak pernah mencintaku. Egois sekali memang.

*END POV*

***

Young Min sama sekali tidak bisa melepaskan pandangannya sedetik pun pada Sung Young yang tengah duduk manis di dalam bus sambil melihat keluar jendela.

“Maaf ya, aku mengajak noona jalan tapi harus naik bus.” Kata Young Min dengan nada menyesal.

“Haha, untuk apa minta maaf. Aku suka.” Jawabku sambil terus memperhatikan benda bergerak di luar.

Ketika mendengar jawaban Sung Young rasanya Young Min sudah tidak ada di bumi lagi. Ingin sekali dipeluknya kakak kelasnya yang sangat dicintainya itu.

***

Salah satu alasan Young Min menyukai Sung Young adalah karena mereka memiliki banyak kesamaan sehingga selalu nyambung ketika sedang ngobrol. Salah satunya adalah sama-sama suka menonton film action. Untuk itu mereka memutuskan untuk menonton film action. Sebelum film dimulai mereka duduk-duduk di luar terlebih dahulu. Tiba-tiba ada yang menghampiri mereka. Sung Young syok saat melihat dua manusia yang ada di hadapannya yang sedang bergandengan tangan mesra. Yang perempuan terlihat sangat manja sekali bergelayutan di lengan yang laki-laki.

“Air mata, kumohon jangan keluar. Kenapa harus sekarang aku mengetahui kenyataan bahwa…” gumamku lagi sambil menghela napas berulang-ulang kali.

“Noona, malam ini kau tidak boleh mengecewakan Young Min.” kata laki-laki yang tak lain adalah Minwo sambil tersenyum padaku.

Aku hanya tersenyum kecut tanpa sedikit pun mau memandang gadis yang ada di sampingnya. Mana mungkin bisa aku sanggup memandang gadis itu.

“Oh, yha. Kenalkan ini pacarku, Park Hyura.” Katanya lagi sambil menyodorkan tangan pacarnya tersebut kepadaku.

“Ya, aku tahu, aku tahu. Tak perlu kau kenalkan pun aku sudah tahu kalau gadis manja yang bergelayutan di lenganmu itu adalah pacarmu. Kau pikir aku bodoh!” gumamku lagi. Hatiku benar-benar panas.

Aku menjabat tangan gadis tersebut sambil berusaha menahan tangis. Dia, orang yang sangat aku cintai, ternyata telah memiliki kekasih. No Minwo, terima kasih, terima kasih, terima kasih banyak karena membuatku mempunyai alasan yang kuat untuk berhenti mencintaimu meski aku tahu aku tidak akan semudah itu bisa melupakanmu.

Tiba-tiba Young Min merangkul pundakku dan mengajak untuk masuk karena sebentar lagi film akan dimulai. Aku sama sekali tidak menolak ketika Young Min merangkulku. Aku benar-benar terluka. Rasanya ingin sekali menangis, tapi aku tidak mungkin melakukannya di sini. Setidaknya dengan Young Min merangkulku membuatku merasa lebih kuat.

***

Aku sama sekali tidak fokus dengan apa yang sedang aku tonton. Aku melirik Young Min yang tampak serius sekali. Aku ingin meminta pulang tapi aku tidak enak hati. Aku lirik jam tanganku, film baru akan selesai satu jam lagi.

“Haah, aku benci diriku sendiri.” Keluhku sambil bersender.

“Noona, bosan yha?” tanya Young Min tiba-tiba yang mengagetkanku.

“Ahh, anii. Hanya sedikit capek saja.” Jawabku berbohong.

“Kalau noona lelah, biar kita pulang saja.” Katanya lagi.

“Tidak, aku benar-benar tidak apa-apa. Lanjutkan saja menontonnya.” Bohongku lagi sambil mengarahkan kepalanya menghadap ke depan lagi.

Tapi bukannya menghadap ke depan dia malah mengecup keningku. Sontak aku kaget dan melotot kepadanya. Meskipun gelap aku yakin dia bisa melihat ekspresi kagetku.

“Mianhee, noona. Aku tidak bisa menahan diri.” Katanya menyesal.

“Young Min… Ahh, kau!” aku menghentikan kata-kataku dan menarik nafas dalam-dalam. “Berhentilah menyiksa dirimu sendiri. Lupakan aku dan cari gadis lain yang mencintaimu.” Kata ku pelan. Aku sama sekali tidak bisa marah padanya.

“Berulang kali aku mencoba, tapi tidak bisa.” Jawabnya lirih.

“Kau sama denganku dan kesamaan kita itu yang membuat kita semakin tidak mungkin untuk bersama.” Jawabku lirih.

“Apa orang itu Minwoo?” tanya Young Min sambil terus menatapku.

“Haa? Haha, yang benar saja. Aku tidak mungkin menyukai laki-laki yang lebih muda dariku.” Lagi-lagi aku berbohong.

“Bolehkah aku mengetahui siapa orangnya?” tanyanya lagi.

“Jangan buat aku semakin sulit melupakannya.” Jawabku sambil berpura-pura menonton.

“Baiklah. Jika Noona sudah bisa melupakannya, segera beri tahu aku ya.” Katanya lagi sambil tersenyum tapi aku tidak meresponnya sama sekali.

***

Aku membatu ketika melihat gadis manis, ahh tidak aku tidak boleh mengatakannya manis, yang kini berdiri di hadapanku. Sepertinya hanya aku yang syok akan kedatangannya. Semua member tampak menyambut hangat kedatangan Hwa Sook. Ya, sejak Taemin akrab dengan Hwa Sook, dia sudah beberapa kali membawa Hwa Sook ke dorm Shinee sehingga semua member sudah mengenalnya.

“Apa yang kau lakukan di sini. Kau tahu kan kami ada konser. Jangan mengganggu.” Hardikku pada Hwa Sook yang masih berdiri sambil senyam-senyum pada semua member.

“Hyuung, kenapa bilang begitu? Dia kan hanya datang untuk memberikan dukungan pada kita.” Taemin membela Hwa Sook yang diikuti anggukan oleh Key dan Minho.

“Memangnya kita mau kampanye? Sehingga harus mendatangkan bala dukungan seperti dia?” tanya ku sinis. Entah kenapa setiap melihat Hwa Sook berkunjung untuk mengunjungi kami, ahh ralat bukan KAMI tapi TAEMIN bawaanku selalu marah-marah seperti ahjuma-ahjuma yang sedang datang bulan. Aku tahu aku cemburu tapi semakin aku berusaha untuk melupakannya malah membuatku semakin membencinya.

“Sepertinya kedatanganku sama sekali tidak diharapkan ya?” tanya Hwa Sook lirih sambil menatap ku.

“Ten..” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku Jonghyun segera membungkam mulutku dengan kedua tangannya.

“Haha, tentu saja tidak. Kami senang dengan kedatanganmu.” Jawab Jonghyun masih tetap membungkam mulutku.

“Hmpph, Hmph,” aku meronta-ronta agar Jonghyun melepaskannya tapi ia sama sekali tidak mempedulikannya.

“Hwa Sook, duduk sini.” Ajak Taemin sambil menepuk-nepuk sofa tepat di sampingnya.

Melihat itu aku semakin lemas dan berhenti meronta-ronta dan membuat Jonghyun melepaskan tangannya.

“Kalau memang tidak bisa untuk dilupakan jangan kau paksa hyung.” Bisik Jonghyun tepat di telingaku.

Aku menoleh dan menatapnya bingung.

“Aku lelah harus berpura-pura tidak tahu terus.” Tambah Jonghyun lagi sambil menghela napas.

“Pura-pura apa?” tanyaku berusaha berharap bahwa tebakanku bahwa dia telah mengetahui aku mencintai Hwa Sook itu salah.

“Gadis itu.” Jawab Jonghyun santai sambil mengarahkan pandangannya pada Hwa Sook.

Aku membuang muka dan menghempaskan diriku di atas sofa sambil melihat Hwa Sook yang asyik bercanda dengan Taemin, key dan Minho. “Sejak kapan kau menyadarinya?” tanyaku pada Jonghyun yang juga ikut memperhatikan mereka.

“Sejak kau meminta Taemin untuk menandatangani DVD Hwa Sook. Hyung… aku sudah mengenalmu bertahun-tahun tidak mungkin aku tidak menyadarinya.”

“Tapi yang lain tidak tahu.” Jawabku asal.

“Cepat atau lambat semuanya pasti akan terungkap.”

“Tidak akan. Aku sudah memutuskan tidak akan mengungkapkannya.” Jawabku sambil beranjak dari duduk dan bermaksud keluar dari ruang tunggu dan menghirup udara segar di luar sebelum akhirnya kata-kata Jonghyun menghentikan langkahku.

“Apa susahnya sih mengatakan “Saranghee”.” Kata Jongyun keras dengan tujuan semua orang yang ada di sana mendengarnya.

Aku menatapnya sinis karena kesal atas perbuatannya barusan. “Kau bisa mengatakan seperti itu, karena kau tidak merasakannya!” bentakku karena sudah kehilangan kesabaran.

“Lantas? Apa kau pikir keputusan yang kau ambil itu tepat?” Jonghyun balik bertanya dengan nada sinis.

“Apa pun yang aku lakukan, sudah aku pikirkan matang-matang.” Jawabku tak kalah sinis.

Jonghyun berdiri dan memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya. “Karena Hyung sudah berkata begitu jangan pernah datang padaku jika semuanya semakin menghancurkanmu!” kata Jonghyun sinis sambil menatap Taemin dan Hwa Sook bergantian.

“Tidak akan” jawab ku pelan sambil keluar dari ruang tunggu. Selama ini Jonghyun lah yang paling dekat denganku. Apa-apa aku selalu bercerita padanya. Jika sedang ada masalah pun selalu dia yang menjadi kotak curhatku. Bagaimana bisa aku harus memendam masalahku sendiri. Selama ini aku sudah cukup tersiksa dengan memendam masalah ini sendirian dan bermaksud menceritakannya pada Jonghyun. Tapi sekarang semuanya jadi semakin berantakan.

“Kalian kenapa?” tanya Minho dengan ekspresi kaget dan langsung berjalan mendekati Jonghyun.

Jonghyun hanya mengangkat kedua bahunya sambil kembali duduk dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

***

Di atas panggung selesai konser…

Taemin turun dari panggung dan masuk ke backstage kemudian kembali lagi sambil membawa… “Gleek” aku menelan ludah melihat apa yang dilakukan Taemin.

“Apa dia akan melakukannya di sini?” tanyaku pada diriku sendiri sambil melihat kearah penonton yang sangat histeris melihat apa yang dilakukan oleh Taemin.

“Bahkan dia lebih berani dari yang aku pikirkan.” Ledek Jonghyun padaku.

“Bagaimana kalau nanti penonton menyerang Hwa Sook.” Kataku lagi dengan nada khawatir.

“Bahkan di saat seperti ini pun tetap mengkhawatirkan Hwa Sook. Tapi berlagak untuk melupakannya. Itu mustahil.” Ledek Jonghyun lagi.

“Jonghyuun, berhentilah memanas-manasiku seperti itu.” Kataku sambil menatap Jonghyun yang berdiri tepat di sampingku.

“Aku tidak punya hyung yang PENGECUT!” celetuk Jonghyun sambil menatapku sinis sedangkan aku hanya bisa menundukkan kepalaku saat mendengar kata-katanya.

***

TBC…..

Sebenarnya author pengen buat readers penasaran di part Onew dkk, tapi kayaknya udah terbaca sama readersnya deh alurnya jadi percuma juga TBC. Tapi karna udah capek, ya udah TBC aja ya.#dibakar readers. T_T Ya, sudahlah. Semoga nggak bosen untuk nunggu part selanjutnya… Bye.. Gomawo J jangan lupa RCL J

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s