A Story about Love [Part VI]

Title                 : A Story about Love [Part VI]

Author             : Siska Sri Wulandari

Cast I              : Jinyoung (B1A4)

                        : Shin Ri Young

                        : Gongchan (B1A4)

Cast II             : No Minwo (Boyfriend)

                        : Hwang Sung Young

                        : Jungmin (Boyfriend)

                        : Han Jihye

Cast III           : Onew (Shinee)

                        : Han Hwa Sook

                        :Taemin (Shinee)

Mungkin masih ada yang masih bingung sama FF ini karena cast yg terlalu banyak. Pokoknya di sini ada tiga kisah dengan cast yang beda-beda & masing-masing kisah sama sekali gag saling berhubungan dengan kisah yang lain. ^^

***

Sesampainya di rumah…

“Aku pulang.” Kataku tak bersemangat karena terlalu lelah mencari Ri Young namun sama sekali tidak membuahkan hasil. Aku membelalakkan mataku ketika melihat koper-koper yang berserakan di ruang tamu. Kemudian ibu datang menghampiriku yang masih mematung di depan pintu.

“Ahh, Jinyoung, kau sudah pulang. Cepat mandi 1 jam lagi kita akan berangkat. Tenang saja semua barang-barangmu sudah ibu bereskan!” perintah ibu sambil mengelus-elus wajahku. “Kucel sekali anak umma. Bergegaslah!” perintah ibu lagi.

Aku tersentak mendengar kalimat ibu. Berangkat? Kemana? Untuk apa?

“Memangnya kita mau kemana umma?” tanyaku dengan nada sedikit khawatir.

“Oh, ya ampun umma lupa ya memberitahumu. Adik ayahmu yang paling kecil besok akan menikah jadi hari ini kita harus berangkat ke sana.” Kata ibuku lagi sambil mendorong-dorong tubuhku agar segera naik ke kamarku yang ada di lantai dua untuk segera mandi.

“Bukankah dia tinggal di Jepang?” tanyaku bingung sambil menuruti dorongan ibu dan menaiki tangga dengan perlahan.

“Iya, makanya kita berangkat dari sekarang agar tidak terlambat.” Jawab ibuku lagi sambil tersenyum.

“Apa? Berapa hari kita di sana?” aku benar-benar terkejut dengan keberangkatan yang mendadak ini.

“Hanya tiga hari. Ayahmu juga harus bekerja kan. Kau juga tidak mungkin lama-lama izin kuliah.” Jawab ibuku sambil menepuk-nepuk kedua pipiku.

*Jinyoung POV*

Jepang?  Tiga hari? Lantas bagaimana dengan Ri Young. Di surat itu dia bilang kalau waktunya hanya tinggal tiga hari lagi. Bagaimana kalau Tuhan menjemputnya lebih cepat. Bagaimana kalau aku tidak bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Bagaimana kalau aku benar-benar kehilangan dia. Aku harus menemukannya. Harus. Aku pun segera turun lagi dari anak tangga ketiga dan kemudian berlari menuju keluar rumah dan segera naik ke atas motorku. Dengan cara apapun aku harus menemukannya. Harus. Terdengar suara ibuku yang berteriak memanggil namaku, tapi aku tetap melaju pergi.

*END POV*

“Bisakah aku meminta alamat seorang pasien yang bernama Shin Ri Young. Dia penderita kanker.” Tanyaku dengan napas yang masih tersengal-sengal pada resepsionis rumah sakit.

“Maaf, kami tidak bisa memberikan alamat pasien kepada sembarangan orang.” Kata resepsionis itu ramah.

“Apa kau bilang? Tidak bisa? Aku ini keluarganya. Aku benar-benar membutuhkan alamat itu karena aku tidak bisa menghubunginya sedangkan aku…” aku menghentikan kata-kataku yang lebih tepatnya bentakan saat melihat resepsionis itu ketakutan. “Arrghhh..” teriakku. “ Aku hanya ingin bertemu dia untuk yang terakhir kalinya.” Suaraku sedikit melembut sambil memijit-mijit keningku berusaha untuk menahan marah.

“Ma- maaf tuan. Sa-saya tetap tidak bisa memberikan alamatnya.” Resepsionis itu tetap pada pendiriannya.

“Berikan alamatnya.” Tiba-tiba suara seseorang menghentikan perdebatan kami.

Aku menoleh, dan ternyata dia adalah dokter yang selama ini merawat Ri Young.

Setelah mendapatkan alamat Ri Young dan mengucapkan terima kasih pada dokter Han, aku segera membawa motorku kencang ke alamatnya. Tapi untuk yang kesekian kalinya aku merasa usahaku sia-sia. Ri Young dan keluarganya sedang mengunjungi rumah neneknya yang ada di daerah Busan, itulah informasi yang aku dapat dari tetangganya.

“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” teriakku sambil menjambak-jambak rambutku sendiri karena frustasi. Beri aku satu kesempatan untuk bertemu dengannya. Sekali saja, setidaknya izinkan aku untuk bisa menyatakan perasaanku padanya. Hanya itu, hanya itu!”

“Dreet Dreet Dreet” tiba-tiba ponselku bergetar. Ternyata ayah yang menelepon.

“Jinyoung! Kau ada dimana. Kita harus segera berangkat!” teriak ayah yang membuatku harus menjauhkan polselku dari  telingaku. Jelas sekali dari nada bicaranya kalau beliau sangat marah.

“Ne, appa. Sebentar lagi aku sampai.” Jawabku lesu dan langsung memutuskan telepon. Selama di perjalanan aku sama sekali tidak bisa konsentrasi. Selalu terbayang-bayang wajah Ri Young dibenakku. “Argh,” untuk yang kesekian kalinya aku mengumpat pada diriku sendiri.

***

Kenapa jadi aku yang tegang melihat mereka. Mereka yang mengucap janji kenapa jadi aku yang keringat dingin. Lagi-lagi aku menggelengkan kepalaku untuk menepis semua khayalanku.” Ya Tuhan, kenapa aku harus membayangkan pengantin itu adalah aku dan Ri Young.” Gumamku sambil menepuk-nepuk telapak tanganku sendiri. Pandanganku masih lurus ke depan menyaksikan sepasang pengantin itu mengucap janji setia. Aku memperhatikannya sampai-sampai tidak menyadari keadaan sekitarku.

Kulihat sang Pendeta yang tiba-tiba menghentikan kata-katanya dan melihatku dengan tatapan aneh. Kedua mempelai pun menatapku dengan tatapan kesal. Aku yang sama sekali belum menyadari kenapa mereka melihatku dengan cara seperti itu berusaha mencari jawaban dengan melihat para tamu. Lagi-lagi tatapan aneh dan kesal terlukis dengan jelas dari wajah para tamu menghujaniku. Kulihat ayahku yang mengarahkan tangan kanannya ke telinganya seperti orang yang sedang menelepon.

“namjadeul chim heullimyeo neoman bwa

love me love me love me

love me love me baby”

Untuk yang kesekian kalinya ponselku berdendang ria di tengah-tengah khidmadnya upacara pernikahan. Ternyata inilah yang menjadi alasan kenapa aku menjadi pusat perhatian. Aku lupa mengubahnya ke silent mode. Karena terlalu khidmad menikmati upacara pernikahan aku sampai tidak sadar kalau ponselku berdering. Dengan gerakan cepat segera kurogoh saku jasku dan mencari keberadaan ponselku. Setelah berhasil menemukannya aku segera beranjak dari dudukku dan segera berjalan mencari tempat sepi untuk menerima telepon sambil terus-menerus membungkuk pada semua orang dan menyempilkan senyum dalam setiap langkahku.

“Yoboseoyo.” Kataku.

“ Ahh, hyung, kau tidak masuk kuliah?” tanya seseorang di seberang sana.

“Ne, aku sedang ada di Jepang menghadiri pernikahan adik appaku.”

“Cih, tidak ada mengabari sama sekali. Aku sepi sekali tanpamu hyuuung.” Kata Baro manja.

“Menjijikkan sekali nada bicaramu itu.” Cibirku karena merasa aneh dengan nada bicaranya barusan.

“Hahaha. Oh ya, semalam Gongchan. Aish, sudah dulu ya hyung, dosennya sudah masuk. Nanti aku akan meneleponmu lagi. Sarangheee.” Baro menutup teleponnya dengan buru-buru.

“Ada apa dengan Gongchan? Apa terjadi sesuatu hal yang buruk padanya. Tunggu, apa kata terakhir bocah itu barusan. “Saranghee”. Ihh, benar-benar menjijikkan.” Sungutku yang baru menyadari kata terakhir Baro tadi.

***

Ini hari kedua aku di Jepang. Hari ini entah kenapa beberapa kali detak jantungku berdegup sangat kencang. Perasaan tidak enak pun beberapa kali sempat merasukiku. Aku khawatir ini ada hubungannya dengan Ri Young. Aku pun membulatkan tekadku untuk meminta kepada orang tuaku agar aku kembali ke Korea hari ini.

“Tidak bisa, kalau Appa bilang besok ya besok.” Kata ayahku tegas tanpa sedikit pun berpaling dari koran yang sedang dibacanya.

“Tapi ini darurat appa. Ada hal  penting yang harus segera aku lakukan.” Kataku memelas.

Ayah melipat lembaran Koran dan menatapku tajam.

“Tidak bisakah kau bersabar? Apa kau pikir urusanmu itu lebih penting daripada keluargamu sendiri?” Ayah memang sangat keras.

“Bagaimana bisa aku duduk bersantai di sini sambil tertawa riang sedangkan sahabatku sedang meregang nyawa di sana. Tidakkah appa berpikir itu lebih penting daripada bersenang-senang di sini.” Intonasiku terdengar seperti membentak yang membuat ayah tersentak dan seluruh anggota keluarga yang sedang berkumpul di ruang tamu melihat ke arah kami.

“Jinyoung.” Ibu terpogoh-pogoh menghampiri kami yang tiba-tiba suasananya menjadi memanas. Bisa dibilang inilah kali pertama aku membatah perkataan ayahku. Demi seorang Shin Ri Young aku melakukan ini, demi dia, maka itu aku tidak akan melepaskannya, tidak akan.

Ayah berusaha mengendalikan emosinya. “Kabari Ayah kalau kau sudah sampai di Korea.”

Aku mengangguk mantap, dan aku pun segera membereskan barang-barangku dan terbang ke Korea. Ri Young tunggulah kedatanganku.

***

Ommo!! Aku benci diriku sendiri. Sangat benci! Ahh, menjijikkan sekali aku. Stalker! Entah sejak kapan aku mulai menggeluti profesi itu. Foto-foto yang baru saja aku print tanpa melihat hasilnya segera aku campakkan, berhamburan menutupi ubin kamarku. Aku melihat kesal tab-tab yang aku buka pada internetku. Saking kesalnya aku segera menutup laptopku tanpa mematikannya terlebih dahulu. Aku, Hwang Sung Young kini telah menjadi seorang stalker! Setelah mengenal kekasih Minwoo aku jadi sangat intensif berkunjung ke account jejaring sosial Minwo dan kekasihnya. Dengan penuh kecemburuan aku membaca satu persatu wall-wall mereka. Menikmati kemesraan mereka dari album-album mereka. Bahkan aku sampai mual ketika membaca gombalan-gombalan Minwo pada kekasihnya itu. Setiap hari melihat perkembangan facebook dan twitter mereka. Jika tiba-tiba status “relationship” mereka berubah menjadi “single” mungkin aku orang pertama yang mengklik tombol like!  Selama ini aku tidak pernah mengecek status Minwo karena memang tidak pernah ada gossip yang beredar bahwa ia telah memiliki kekasih. Betapa bodohnya aku selama ini mempertahankan perasaan cintaku pada seseorang yang telah memberikan hatinya pada gadis lain. Bahkan aku sampai menyimpan foto-foto mereka dalam folder tersendiri dan mencetaknya!

“Sung Young, Jihye meneleponmu.” Kakakku Young Saeng menerobos masuk  ke kamarku dan menginjak foto-foto Minwo dan Hyura yang berserakan di lantai. Aku melirik kakinya dan menyeringai “wajah mereka memang pantas untuk diinjak.” Gumamku kesal.#dihajar girl friends

Aku mengambil ponsel kakakku “Ada apa Jihye?”

“Gyaaa, sejak kapan dongsaengku mengoleksi foto-foto seperti ini?” teriak Young Saeng oppa histeris sambil melihat foto-foto tadi yang kini sudah dikumpulkannya di dalam genggamannya.

“Kau sedang apa?”tanya Jihye heran yang terkejut mendengar teriakan Young Saeng oppa.

Tanpa menjawabnya aku segera menghampiri oppa ku yang sedang dugem (duduk gembel) sambil terus melihat foto-foto itu. “Apa yang kau lakukan oppa? Ahh, jangan mencampuri urusan adik perempuanmu.” Teriakku sambil tetap menggenggam ponsel yang masih terhubung dengan Jihye dan menarik-narik foto tersebut tapi ternyata tenagaku memang tidak akan pernah bisa  mengalahkan tenaganya.

“Bukankah ini adik pacar Jihye, kalau tidak salah namanya Jung Min. Iya Jung Min, si nama pasaran itu. Bahkan aku kenal 3 orang yang bernama Jung Min di kampusku. Young Saeng oppa berkata santai tanpa rasa berdosa sama sekali.

“Seperti ada seseorang yang menyebut namaku?” aku mendengar tidak terlalu jelas suara di seberang sana karena letak ponsel yang berada tidak tepat di telingaku.

“Jihye, kau ada di mana?” tanyaku panik.

“Di rumah Jung Min. Kami sedang apa pesta kebun dan ingin mengajakmu. Di sini juga ada Young Min dan…” Jihye

menggantung kata-katanya karena tidak enak menyebutkan nama seseorang yang pasti akan membuatku terluka. “Hyura.” Sambungnya lirih.

“Apa telepon ini kau speaker?” tanyaku lagi dengan tingkat kepanikan 501%.

“Eh, hehe.” Jawab Jihye dengan nada bersalah.

“Klik” tanpa aba-aba segera aku putuskan telepon.

Aku menatap gusar oppa ku yang masih dengan pedenya tetap berada di kamarku dan mengamati foto-foto itu dengan tampang polos yang membuatku semakin kesal. Tiba-tiba Jihye menelepon lagi tapi aku mengabaikannya.

“Kalau Jihye menelepon atau mengirimu sms yang mencariku katakan kalau aku sedang liburan di Planet Pluto.” Bentakku sambil mengusir oppa ku yang masih tidak sadar bahwa baru saja dia menjorokkan ku ke Black Hole.

***

Aku masih duduk di atas jok motor Young Saeng oppa lengkap dengan helm yang masih menghiasi rambut ekor kudaku.

“Heey, turun kita sudah sampai.” Saengi oppa membuyarkan lamunanku.

“Bisakah kau antarkan aku pulang lagi oppa?” tanyaku memelas sambil mengeratkan pelukanku di  pinggangnya.

“Kau gila ya!”  Saengi oppa berusaha melepaskan tanganku yang masih melingkar erat di pinggangnya.

“Aku mau berhenti sekolah. Aku tidak mau sekolah lagi. Aku tidak mau sekolah di sini lagi.” Rengekku. Tiba-tiba aku berubah menjadi sangat kekanak-kanakan.

“Yaa! Ri Young, jangan gila di saat seperti ini! Aduuh, aku bisa terlambat ke kampus. Saengi oppa mulai hilang kesabarannya sambil melihat jam tangannya.

“Oppa!” teriak seorang gadis yang sangat kukenal dengan girangnya.

“Kenapa mereka selalu muncul dan mengganggu kejiwaanku di saat yang tidak tepat.” gumamku kesal.

“Yaa, Sung Young sedang apa kau? Apa oppamu baru saja mendapatkan kekasih jadi kau tidak rela melepaskannya.” Goda Jihye yang diikuti gelak tawa Jung Min dan adiknya, No Minwo!”

Mereka benar-benar seperti satu keluarga. Kemana-mana selalu bertiga. “jangan ganggu aku! Sana, sana pergi.” Usirku pada mereka.

“Ayo kita masuk bersama noona.” Tawar Minwo sambil tersenyum, yah aku akui manis.

“Sana, masuk bersama teman-temanmu.” Saengi oppa terlihat semakin kesal karena tiba-tiba pelukanku semakin erat.

Dengan terpaksa aku turun dari atas motor dan memanyunkan bibirku ke arah Saengi oppa.

“Belajar yang benar sana!” Saengi oppa melepaskan helm yang kupakai sambil tersenyum.

“jangan pernah tersenyum lagi di hadapanku.” Balasku kesal dan segera berjalan mendahului Jihye dan keluarganya (?).

“Sung Young!” teriak Jihye dari belakang tapi aku pura-pura tidak mendengarnya dan terus berjalan tanpa

memperhatikan selokan kecil yang ada di hadapanku yang sukses membuatku terperosok. “Ya, Tuhan, rasanya jika terus-terus begini aku benar-benar ingin bermigrasi ke Planet Pluto”.

“Noona? Kau baik-baik saja?” Minwo membantuku berdiri.

“Sung Young, lututmu berdarah, ayo kita ke UKS.” Ajak Jihye dengan nada khwatir.

“Biar aku saja yang mengantarkannya.” Balas Minwo.

Argghh, bocah imut ini, ahh maap ralat, bocah menyebalkan ini benar-benar membuat kejiwaanku semakin terganggu.

“ahh, tidak usah, aku baik-baik saja.” Bantahku sambil berusaha berdiri dengan darah yang masih menetes segar dari lututku.

“Bagaimana kau bisa berkata seperti itu di saat seperti ini?” Minwo tiba-tiba memapahku.

Aku melongo, Jihye melongo bahkan Jung Min pun melongo. Ahh, bukan, Jung Min hanya menguap.

Memang dasar aku seorang pekerja keras yang tetap teguh memegang pendirianku (baca: keras kepala) dengan kasar aku berusaha untuk melepaskan rangkulan Minwo, tapi ternyata aku memang sangat lemah, Minwo malah merangkulku dengan sangat kuat.

“Bisakah noona sekali saja bersikap baik padaku?” Minwo menatap wajahku yang mungkin sudah tidak beraturan lagi bentukknya karena berusaha menahan rasa malu, rasa sakit dan rasa lapar (?)

“Bahkan noona tidak pernah mengizinkan aku untuk menunjukkkan perhatianku padamu.” Sambungnya.

Lagi-lagi aku melongo, Jihye melongo dan Jung Min sibuk dengan rambut keritingnya yang tertepa hembusan angin.

Tanpa melakukan perlawanan lagi aku menuruti Minwo. Entah kenapa rangkulannya terasa begitu hangat. Ingin sekali aku menyenderkan kepalaku ke pundaknya tapi tiba-tiba terlintas wajah Hyura dibenakku. “Ahh, aku bahkan tidak bisa menahan perasaanku di saat seperti ini. Mungkin hal ini jugalah yang dirasakan oleh Young Min saat di bioskop kemarin.

Jung Min pun menarik Jihye yang masih melongo. “Khajja Chagi, biar Minwo yang mengobati Sung Young.”

***

“Perkenalkan gadis ini adalah Han Hwa Sook. Mulai malam ini dia adalah yeojachinguku.” Taemin memegang erat tangan Hwa Sook dan mengangkatnya ke atas. Sontak para penonton yang notabenenya adalah shawol langsung berteriak histeris. Bahkan ada yang sampai meraung-raung (lebay) dan nangis guling-guling -.- karena mendengar pengakuan Taemin barusan.

“Aku minta maaf kalau telah mengecewakan kalian semua. Tapi aku jugalah laki-laki normal yang tentunya juga bisa jatuh cinta. Meski aku sudah punya kekasih kalian semua para shawol tetap tak akan tergantikan olehku. Hwa Sook adalah matahariku dan kalian semua adalah bulanku. Kalian berdua adalah bagian dari hidupku yang tak bisa aku tinggalkan, karena aku tidak akan bisa bernapas tanpa kalian.

Pernyataan yang mendadak tersebut membuat para shawol sangat histeris dan tidak mampu membendung air mata dan emosi mereka.

“Sepertinya mereka sudah resmi berpacaran sebelum malam ini.” Jonghyun berbisik sambil melirik Onew yang masih membatu.

“Benar-benar tragis” gumam Onew.

“Hyung, katakan sesuatu untuk menenangkan penonton” Minho menggamit lengan Onew.

Dengan penuh ketabahan hati Onew mengangkat mike ke depan mulutnya. Menatap satu persatu member Shinee berusaha mengumpulkan kekuatan untuk bicara.

“Aku tahu ini berat untuk kalian semua.” Onew menghentikan kata-katanya dan menghela napas berulang-ulang kali. “Begitu pun juga dengan aku.” Lagi-lagi Onew terdiam. Semua member Shinee menatapnya bingung. Onew melirik Jonghyun yang sepertinya sangat bahagia karna berpikir bahwa Hyung kesayangannya itu akan mengakui perasaannya yang sejujurnya meskipun terlambat. Ya, setidaknya dia akan merasa lebih lega.

“Haha, bagaimana aku bisa menerima ini dengan lapang dada jika aku didahului oleh dongsaengku yang paling kecil. Apa aku terlihat cukup tegar untuk mengatakan ini?” air mata Onew mulai menetes yang membuat shawol semakin histeris. Jonghyun terlihat sangat kesal karena ternyata Onew malah semakin menutupi perasaannya.

“Tapi bagaimana pun juga kami adalah laki-laki normal yang tentunya akan jatuh cinta pada seorang yeoja. Hanya seorang. Jadi tidak mungkin kami menikahi kalian semua. Kalian terlalu banyak dan kami tidak sanggup jika harus berpoligami sebanyak ini.” Onew tersenyum dengan air mata yang masih mengalir. Mendengar perkataan Onew barusan membuat para shawol menjadi sedikit lebih tenang. Jonghyun bersiap untuk memotong pembicaraan Onew tapi tiba-tiba Minho menghentikannya.

“Aku rasa dia cukup dewasa untuk menghadapi ini.”

“Kau tahu?” Jonghyun menatap Minho ragu.

“Instingku jauh lebih tajam darimu. Bahkan aku lebih awal mengetahuinya daripada mu hyung.”

“Lantas kenapa kau bersikap acuh tak acuh seperti ini?”

“Aku bukannya bersikap acuh tak acuh, tapi aku hanya mengizinkan Onew hyung untuk mengikuti kata hatinya.”

“Kata hati kau bilang? Ini hanya akan semakin melukainya!” Jonghyun mulai naik darah.

“Kita tidak bisa memaksakan perasaan orang lain. Jika dia berpikir inilah yang terbaik maka biarkan dia tetap berpikir seperti itu. Aku yakin, dia melakukan ini bukan karena dia pengecut. Justru karena dia sangat tegar dan kuat. Dia hanya ingin menjaga perasaan Taemin dan Hwa Sook.”

“Kalau dia mengatakannya dari awal pasti tidak seperti ini kejadiannya.” Jonghyun semakin ngotot.

“Tetap akan seperti ini. Tidak akan ada yang berubah. Dia mengatakan dari awal pun perasaan Hwa Sook tidak akan berubah. Justru itu akan membuat Hwa Sook jadi segan padanya”.

“Egois sekali kau Minho! Apa kau pikir memendam perasaan cinta itu perkara yang mudah.!” Jonghyun semakin emosi karena jalan pikiran Minho yang dianggapnya sangat egois.

“Itulah perasaan manusia. Tidak ada yang lebih memahami selain diri kita sendiri. Menyatakan cinta itu tidak sesederhana yang kau pikirkan hyung.” Minho menepuk-nepuk pundak Jonghyun.

“Apakah dia akan baik-baik saja?” Jonghyun mulai menerima pendapat Minho.

“Tentu.” Minho tersenyum. “Baginya perasaan orang lain jauh lebih berharga dari perasaannya sendiri.” Sambung Minho.

 

*Onew POV*

Benar apa yang dikatakan oleh Jonghyun aku hanya laki-laki pengecut. “Saranghee”, tidak bisakah aku mengataan kata itu dengan mudah. Tapi semua ini aku lakukan demi Hwa Sook dan Taemin. Aku tidak mau hanya karena aku hubungan kami semua jadi hancur berantakan. “Saranghee, Saranghee, Saranghee, Saranghee” Kau dengar itu Jonghyun. Aku bisa mengatakan Saranghee. “Cinta itu tidak perlu hanya ucapan di bibir tapi dari hati.” Gumamku sambil memegang dadaku yang terasa sesak.

*END POV*

 

Tak beberapa lama sesudah itu, Jonghyun melantunkan lagu stand by me dan berjalan mendekati Onew. “Kau hebat hyung.” Bisik Jonghyun disela-sela lagu.

Onew hanya bisa tersenyum kecil dan ikut bernyanyi bersama Jonghyun. Menghabiskan malam konser dan berusaha menerima pasangan baru yang sedang berbahagia.

***

TBC…

Mungkin sekitar satu atau dua part lagi FF ini bakalan tamat…

Jadi tunggu Episode-episode selanjutnya (?)

Hehe, Gomawo ^^

Jangan lupa RCL🙂

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s