A Story about Love [Part VII]

Title : A Story about Love [Part VII]

Author : Siska Sri Wulandari

Cast I : Jinyoung (B1A4)

: Shin Ri Young

: Gongchan (B1A4)

Cast II : No Minwo (Boyfriend)

: Hwang Sung Young

: Jungmin (Boyfriend)

: Han Jihye

Cast III : Onew (Shinee)

: Han Hwa Sook

: Taemin (Shinee)

Mungkin masih ada yang masih bingung sama FF ini karena cast yg terlalu banyak. Pokoknya di sini ada tiga kisah dengan cast yang beda-beda & masing-masing kisah sama sekali gag saling berhubungan dengan kisah yang lain. ^^

***

Sesampainya di Korea…

Untuk yang kesekian kalinya aku menghubungi Ri Young. Tapi sama sekali tidak ada hasilnya. Ponselnya masih tidak aktif. Kuputuskan untuk menelepon Gongchan, aku mau mengajaknya untuk bertemu Ri Young, tapi sampai pada panggilan yang kelima Gongchan tak kunjung mengangkat teleponnya. Akhirnya sebagai jalan terakhir aku menekan angka dua.

“Yobboseoyo Hyuuung..” sapa suara di seberang sana dengan genitnya.

“Dimana? Dimana Gongchan sekarang?” tanyaku panik.

“Dia sedang di Namsan Tower hyung. Tapi jangan ganggu dia.”

Tanpa menghiraukan larangan Baro aku segera memutuskan telepon dan memanggil taxi untuk segera menuju ke Namsan Tower.

“Hyung, Hyung. Aish. Selalu tidak mau mendengarkanku.” Gerutu Baro yang kesal karena aku tiba-tiba memutuskan teleponnya.

***

“Hah, Hah, Hah.” Tanpa mempedulikan napasku yang semakin tersengal-sengal aku tetap berlari mencari keberadaan Gongchan. Aku terus berlari dan berlari sampai tiba-tiba aku merasa lemas dan jatuh tersungkur. Aku rasa tenagaku sudah tidak bersisa lagi. Bahkan untuk menghela napas pun aku sudah tak sanggup lagi. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada dua orang yang sepertinya sepasang kekasih. Mereka sedang duduk di bangku yang tak jauh dari tempat aku terjatuh. Aku terus memperhatikan pasangan tersebut. Yang perempuan terlihat sedang menyuapi yang laki-laki. Mereka tertawa renyah. Kemudian sang laki-laki mengecup kening gadis tersebut. Karena gelap aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa mereka. Tapi entah kenapa mataku terus memaksa untuk memperhatikan mereka. Tiba-tiba sang laki-laki menghadap ke belakang sekilas. Aku mengucek-ucek mataku. Menggeleng-gelengkan kepalaku. “Tidak mungkin, tidak mungkin itu Gongchan. Apa ini firasat burukku tentang Gongchan tempo hari.” Gumamku sambil merogoh saku jaketku dan membuka sms dari Baro yang tadi belum sempat aku baca.

“Hyuung, selalu saja menutup telepon tiba-tiba. Hari ini adalah kencan pertama Gongchan dengan pacar barunya. Jadi jangan ganggu dia. Kalau kau merindukannya temui saja aku sebagai penggantinya. Aku sangat merindukanmu Hyuung. Dua hari serasa setahun. Tidak melihat senyummu sehari saja aku bisa gila. Hehehe. “

Ponselku jatuh dari genggamanku. Kenapa Gongchan harus punya kekasih di saat seperti ini. Tidak mungkin aku merusak kencan mereka. Tiba-tiba ponselku berdering. Mataku hampir saja keluar mendapati id yang terpampang di layar ponselku. Aku segera mengangkatnya.

“Ri Young, Ri Young kau ada dimana? Kenapa beberapa hari ini aku tidak bisa menghubungimu. Kau baik-baik saja kan? Ri Young, jawablah pertanyaanku. Aku menghujani Ri Young dengan pertanyaan-pertanyaan yang satu pun belum sempat dijawabnya.

“Jinyoung..” jawab suara di seberang sana sambil menahan tangis.

“Deeg” Suara itu. Apa yang terjadi padamu Ri Young.

“Jinyouuungg, segeralah ke rumah sakit. Ri Young sekarat.”

Setelah mendengar kata-kata ibu Ri Young aku merasa mendapat kekuatan. Segera aku berlari menuju rumah sakit. Tidak aku pedulikan kondisi tubuhku yang benar-benar lemah. Sejak di pesawat aku belum ada makan. Hampir 5 jam lebih aku terus berlari dan berlari tanpa henti.

***

Sesampainya di rumah sakit…

Aku menghentikan lariku. Mulai berjalan terseok-seok sambil memegang dinding koridor sebagai penyanggaku. Kulihat keluarga Ri Young yang tengah berdo’a. Ibunya menangis di pelukan ayahnya. Adiknya yang masih duduk di bangku SMA pun tampak berusaha menahan tangis sambil meremas-remas ujung seragamnya. Aku rasa karena dia laki-laki. Ia ingin tampak tegar di hadapan keluarganya. Aku terus berjalan tanpa menyapa satu pun dari mereka. Langkahku terhenti di depan pintu ruang UGD. Kulihat dari kaca pintu, Ri Young sedang terbaring tak berdaya berbalutkan kabel-kabel di mana-mana. Terlihat beberapa suster dan seorang dokter yang terlihat sangat gelisah.

“Kau harus hidup. Kau harus memperjuangkan hidupmu Ri Young. Shin Ri Young, aku yakin kau pasti kuat.” Desisku sambil meraba kaca pintu dengan air mata yang membanjir. Aku ingin berada di sampingnya. Aku ingin memeluknya. Aku ingin mengatakan kalau aku mencintainya. Tiba-tiba dokter terlihat sangat panik dan mulai memompa jantung Ri Young. Aku menggedor-gedor pintu UGD. “Buka, buka pintunya!” teriakku. Aku mencintaimu Shin Ri Young! Aku mencintaimu! Sangat mencintaimu!!!” tepat saat aku menyelesaikan kalimatku. Garis lurus telah menghiasi layar monitor alat pendeteksi detak jantung (ngarang.com-soalnya nggak tahu nama alatnya apaan#Pllaak) Tubuhku melemas. Entah kerasukan apa aku mendobrak pintu ruang UGD tersebut dan menerobos masuk. Semua yang ada di sana hanya bisa melihatku kaget. Para suster dan dokter pun memberikan ku jalan untuk bisa menghampiri Ri Young. Kulihat wajah gadis manis itu memucat. Tiada senyum lagi tersungging dari bibir tipisnya. Tubuhku membatu. Aku tak sanggup melihatnya seperti itu. Aku terduduk lemas sambil mengepalkan kedua tanganku.

“Ternyata aku memang pengecut. Bahkan sampai saat terakhir pun aku tetap tidak bisa menyatakan perasaanku. Bahkan, untuk memeluknya yang terakhir kali pun aku tidak punya kekuatan.” Aku menyalahkan diriku sendiri sambil meninju-ninju lantai.

“Peluklah dia untuk yang terakhir kalinya. Relakan dia dengan tenang. Lepaskan dengan senyum.” Dokter Han memegang pundakku berusaha menguatkan ku.

Aku berusaha berdiri. Berjalan gontai sambil menatap lurus tubuh Ri Young yang kini sudah tak bernyawa lagi. Segera aku jatuhkan tubuhku di atas tubuhnya yang ringkih itu. Memeluknya. Mengusap rambutnya dan mengecup keningnya berkali-kali, membasahi seluruh tubuhnya yang kini telah kaku dengan deras air mataku yang tak terbendung lagi. Hal yang tidak pernah kulakukan padanya. Pelukan terakhir katanya. Ini bahkan pelukan pertama dan terakhirku padanya.

***

Aku tercengang saat menyadari Minwoo tidak membawaku ke UKS melainkan ke taman belakang sekolah. Entah apa tujuannya, bahkan karena aku terlalu menikmati berada di dalam rangkulannya aku sampai tidak sadar bahwa kami telah melewati UKS.

“Kenapa ke sini?” tanyaku sambil berusaha menahan rasa sakit.

Minwo hanya diam dan tersenyum kemudian mendudukkan aku di bawah pohon yang rindang.

“Tunggu di sini sebentar ya noona.” Minwo berlari menuju ke gedung utama sekolah.

“Aduh, apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh bocah itu sih.” Ringisku sambil mengipasi lututku yang berdarah.

Tak lama setelah itu, Minwo tiba dengan kotak P3K di tangan kanannya dan mulai mengobati lukaku.

“Kenapa tidak ke UKS?” tanyaku sambil mengamatinya yang telaten sekali mengobatiku.

Minwo tidak menjawab. Ia malah senyum-senyum sambil membersihkan lututku dengan alkohol. Mulai muncul hal-hal aneh di otakku.

“Apa foto yang dimaksud itu memang fotoku?” Minwo berhenti membersihkan lukaku dan menatapku sambil tersenyum.

“Foto apa?” aku bertanya panik. Jangan-jangan dia mendengar apa yang dikatakan Saengi oppa tadi malam.

“Yang tadi malam noona perebutkan dengan Young Saeng hyung.” Minwo masih menatapku dengan tatapan polosnya.

“Haah, ani, kau, kau salah dengar.” Jawabku tergagap.

Minwo tersenyum simpul. “Padahal aku harap itu memang aku.” Katanya sambil melanjutkan membersihkan lukaku.

“Bwoo?” kataku kaget berharap aku tidak salah dengar.

Minwo menempelkan hansaplast di lututku dan sedikit menekannya sehingga aku berteriak kesakitan.

“Hahaha.” Minwo tertawa keras dan ikut menyandarkan dirinya pada pohon yang melindungi kami dari teriknya matahari pagi, tapi entah kenapa aku justru merasa itu bukan tawa bahagia.

“Tidak kah noona ingat tempat ini?” Minwo menatap ke sekeliling.

“Apanya?” tanyaku bingung.

“Senior paling galak yang sampai membuatku pingsan karena berlari mengelilingi lapangan bola sebanyak 10 kali.” Minwo menengadahkan kepalanya seolah mengingat-ingat masa lalu.

Aku berpikir sejenak. Mengais-ngais(?) kejadian lalu pada saat masa orientasi. Ya, aku ingat, senior yang dimaksudnya itu adalah aku. Hari itu merupakan hari kedua masa orientasi, dan Minwo datang terlambat. Meski baru hari kedua, dia telah berhasil mengumpulkan noona fans termasuk para senior mos tentunya kecuali aku sehingga tidak ada yang tega menghukumnya. Karena kesal jadi akulah yang menghukumnya dengan memerintahkannya untuk lari keliing lapangan sebanyak 10 kali. Aku juga ingat, pada putaran yang kedelapan ia tumbang. Dan di taman inilah pertama kali kami bertemu. Aku ingat , waktu itu Hyun Seong memanggilku untuk menghukum Minwo karena tidak ada senior lain yang mau melakukannya sedangkan saat itu Hyun Seong harus mengurusi junior lainnya. Aku tersenyum saat mengingat masa itu.

“Namja lemah.” Candaku, tapi Minwo tak bergeming. Aku lihat dia merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah karet rambut.

“Kalau ini, masih ingat tidak?” Minwo menyodorkan karet rambut itu dengan tatapan penuh harap aku ingat dengan karet rambut tersebut.

Kuperhatikan karet rambut tersebut dengan saksama dan mengambilnya. Aku bolak-balik dan berusaha mengingat-ingatnya. “Inikan…”kataku terputus karena kaget.

“Noona masih ingat?” tanya Minwo girang tapi dengan mata yang berkaca-kaca.

Aku heran. Harusnya kan mataku yang berkaca-kaca, tapi kenapa malah dia yang seperti itu, batinku.

“Maukah noona melakukannya sekali lagi?”

“Hahaha, kau baik-baik saja kan?” aku meletakkan tangan kananku di keningnya untuk memastikan dia tidak sakit.

“Sejak itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan noona. Satu-satunya senior yang tetap galak padaku meskipun semua senior wanita yang lain selalu memanjakanku.” Cairan bening yang harusnya pantang dikeluarkan laki-laki mengalir deras dari sudut matanya tanpa malu-malu.

Aku tersentak dan menjauhkan tangan ku dari keningnya. Apa itu artinya dia juga menyukaiku? Apa artinya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Hatiku mulai bersorak.

“Sejak saat itu aku mulai sadar bahwa aku tidak hanya menyukai noona, tapi lebih dari sekedar suka. Aku senang sekali saat bisa berada di dekat noona, walaupun mungkin noona tidak pernah menyadari keberadaanku. Sempat aku memutuskan untuk menyatakan cinta pada noona, tapi melihat sikap noona yang begitu jutek padaku, membuatku beranggapan bahwa noona membenciku. Terlebih lagi ketika aku mengetahui Young Min menyukai noona membuatku semakin membulatkan tekad untuk melupakan noona karena aku pikir sudah tidak ada harapan. Aku pikir noona juga menyukai Young Min karena selama ini kulihat kalian sangat akrab.” Minwo menghapus air matanya dengan kasar.

Aku terdiam. Ingin sekali aku mengatakan bahwa sebenarnya aku juga menyukainya. Ahh, tidak, tidak, lebih dari rasa suka. Aku mencintainya. Tapi belum sempat aku mengatakannya mulutku terkunci rapat saat mendengar kalimat berikutnya.

“Tapi, untunglah sekarang aku sudah bisa melupakan noona.” Minwo menatapku sambil tersenyum dengan sisa air mata yang masih membasahi sedikit pipinya.

“Deeg” Untuk yang kesekian kalinya aku tersentak. Apa itu artinya dia sudah tidak menyukaiku lagi.

“Aku harap ini tidak membebani noona ya.” Minwo menatapku.

Aku membeku. Cintaku hilang begitu saja. Hilang sebelum aku sempat memperjuangkannya.

“Apa kau sudah tidak mencin, ahh maaf maksudku menyukaiku lagi?” tanyaku pelan sambil menatap karet rambut tersebut.

“Mungkin belum sepenuhnya bisa aku melupakan noona. Tapi aku akan berusaha keras untuk itu dan belajar untuk mencintai Hyura dengan tulus.”

Aku rasa mataku memerah karena berusaha menahan tangis. Mungkin beginilah akhir cintaku. Ternyata orang yang aku cintai juga pernah mencintaiku. “Kenapa harus terselip kata pernah” gumamku sambil mengumpat diriku sendiri. Hatiku benar-benar hancur. Lebih hancur daripada saat mengetahui dia telah memiliki kekasih. Aku mulai menyesali segala sikapku padanya. Andai aku tidak mati-matian menutupi perasaanku padanya pasti semuanya tidak akan berakhir tragis seperti ini. Mungkin sekarang aku dan Minwo. Ahh, mungkin… Aku tidak mau mengkhayalkan kemungkinan itu karena itu terlalu menyakitkan mendapati beginilah faktanya.

Minwo memiringkan tubuhnya sehingga kini kami saling berhadapan. Kutatap karet rambut berwarna biru itu dan kusematkan untuk menguncir poninya yang hampir menutupi seluruh keningnya. Muncul bayang-bayang masa lalu. Di saat Minwo mulai menyukaiku tapi aku belum memiliki perasaan apa-apa padanya. Aku menghukumnya. Menguncirkan karet rambut keponinya. Karet rambut milikku. Karet rambut yang langsung aku lepaskan dari rambut legamku. Mendandaninya seperti wanita dan menyuruhnya tetap begitu hingga pulang. Kini, aku juga melakukannya. Menguncirkan karet rambut berwarna biru itu di poni yang hampir menutupi seluruh keningnya. Di saat aku mencintainya dia malah telah membuang rasa cintanya padaku. Andai cintaku tidak datang terlambat. Andai aku tidak. Ahh, andai dan andai. Aku benci berandai-andai. Karena kini semuanya sudah tidak ada gunanya lagi.

“Aku tidak pernah membencimu.” Aku memalingkan wajahku. Tak sanggup rasanya harus memandangnya lagi.

“Jinnja?” Minwo terdengar girang sekali ketika mendengar aku mengatakan hal tersebut.

“Hanya aku yang salah bersikap. Mulai hari ini aku janji tidak akan memperlakukanmu seperti itu lagi.” Setelah merasa cukup kuat aku memandang Minwo sambil tersenyum. Aku harap senyumku kali ini adalah sebuah senyuman yang tulus. Senyuman tulus pertama yang bisa aku berikan padanya, No Minwoo.

***

Aku memperhatikan seisi kamarku. Aku tersenyum simpul melihat isi kamarku. Hampir semua hiasan yang ada di dalam kamarku adalah pemberian Hwa Sook. Dulu, sebelum aku menjadi artis Hwa Sook sudah terlebih dahulu mengenalku. Ketika aku baru pindah ke sini dialah yang membantuku mendekor kamarku. Semua, tanpa terkecuali. Semua adalah hasil tangan Hwa Sook dan aku. Rasanya ingin sekali kembali ke masa-masa itu.

Aku meraih bingkai foto yang terletak di buffet di samping tempat tidurku. Aku pandangi kedua wajah yang ada di dalam foto tersebut. “Senyumku mungkin tidak akan pernah sama lagi seperti saat itu”. Gumamku sambil mengusap-usap fotoku dan Hwa Sook. Aku mengeluarkan foto tersebut dari dalam bingkai dan meremas-remasnya. “Tidak seharusnya aku menyimpan foto ini.” Aku melemparkan foto tersebut ke tong sampah yang ada di pojokan ruangan, aku baru sadar kalau air mata sudah membasahi pipiku. “Memang tidak akan ada yang lebih setia dari ayam. Cinta, persahabatan semua itu hanya akan menyakitiku.” Gumamku lirih sambil mentertawai diriku sendiri.#sarap

“Yobboseoyo” sapaku pada manager yang meneleponku.

“Oneew, urus magnae mu itu. Pusing sekali aku melihat wajahnya dengan yeoja itu berserakan dimana-mana. Tidak di media massa, media elektronik selalu gossip mereka yang dibicarakan. Pihak wartawan pun selalu menerorku tentang hubungan mereka. Kalau begini terus bisa-bisa aku mati sebelum waktunya.”

“Haha, biarkan mereka menikmatinya, kita tidak punya hak untuk melarang mereka selama dia masih bisa bersikap professional dan tidak mengganggu pekerjaannya.” Jawabku sok tegar.

Kliik

Aku langsung memutuskan telepon dan melepaskan batrenya. Hari ini aku benar-benar tidak ingin mendengar keluhan-keluhan tentang mereka lagi.

***

Aku baru saja akan mengeluarkan mobil dari garasi tapi aku membatalkannya ketika melihat Hwa Sook yang baru saja turun dari mobil Taemin. Ekspresinya terlihat begitu riang, setelah melambai-lambaikan tangannya pada Taemin yang masih ada di dalam mobil Hwa Sook beranjak masuk ke dalam rumahnya. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat setengah kepala mobilku yang sudah menjulur keluar dari halaman. Khawatir dia akan menghampiriku, aku pun segera melaju kencang untuk menghindarinya. Aku masih bisa melihat ekspresi bingungnya dari kaca spion.

“Mianhee Hwa Sook. Aku tidak ingin menambah lukaku lagi.” Kataku lirih yag masih memperhatikannya dari kaca spion.

***

Ckckck, kenapa langkah kakiku selalu membawaku kepada dirinya. Bahkan, ketika aku pergi ke toko kaset pun aku masih dipertemukan dengan Hwa Sook. Aku sedikit menaikkan masker yang aku gunakan untuk menutupi sebagian wajahku. Aneh, ya memang aneh. Di tengah musim panas begini aku memakai masker, kaca mata hitam, topi dan syal tebal. Tidak akan ada manusia lain yang berdandan seperti ini di saat musim panas. Aku hanya ingin melihat-lihat apakah DVD kami masih laku di pasaran pasca pelepasan masa kejombloan Taemin(?). Kurang kerjaan sekali memang. Ya, aku memang kurang kerjaan. Sejak Taemin mempublikasikan hubungannya dengan Hwa Sook secara terang-terangan, kami harus vakum sementara waktu sampai masyarakat bisa menerima hal tersebut terutama shawol. Bahkan sangking kekurangan pekerjaan aku sampai punya banyak waktu luang untuk mengurusi ayam-ayam peliharanku(?)

Aku berdiri di samping Hwa Sook yang tentu datang kemari untuk membeli DVD Shinee. Aku lihat dia mengelus-elus wajah Taemin di cover DVD. “Ya ampun, kenapa tidak mengelus Taemin yang asli saja sih, bikin malu saja”. Gerutuku. Tiba-tiba segerombolan siswi berseragam SMA menghampiri Hwa Sook.

“Hey, kau yang bernama Han Hwa Sook?” tanya gadis berbadan gembul dengan nada angkuh.

“Nee, ada apa?” tanya Hwa Sook.

“Dasar tidak tahu malu, masih berani bertanya lagi. Apa kau pikir kau pantas untuk Taemin!” bentak gadis berambut ikal yang roknya paling pendek diantara yang lain. Mungkin dia adalah ketua genknya karena dandanannya lah yang paling mencolok.

“Taemin yang memilihku.” Jawab Hwa Sook santai.

“Yaa! Bagus Hwa Sook, lawan mereka!”, Aku menyemangati Hwa Sook dari dalam hati.

“Plaak.” Gadis berambut ikal itu menampar Hwa Sook.

Aku berniat untuk menghampiri mereka tapi sayang aku kalah cepat dengan Taemin yang tiba-tiba muncul di permukaan.

“Yaa!!!, apa yang kalian lakukan pada yeojachinguku!” bentak Taemin sambil menekankan kata-kata yeojachinguku. “Gwenchana?” tanya Taemin lembut pada Hwa Sook sambil mengelus pipi Hwa Sook yang merah karena ditampar tadi.

Yaa, sikap kepahlawanan yang luar biasa Taemin! Tapi, hal tersebut cukup menyita perhatian pengunjung. Tanpa perlu diaba-aba semua pengunjung mengelilingi kami. Ada yang merekamnya, mengambil gambar dan lain sebagainya, sedangkan aku masih terpaku melihat mereka.

“Mianhee, tapi Hwa Sook memang pilihanku. Aku sangat mencintainya. Kalau kalian juga mencintai aku dan Shinee maka kalian juga harus mencintai orang-orang yang kami cintai, termasuk Hwa Sook. jebaal.” Taemin berbicara dengan air mata yang berlinang.

DEEGG

Anak itu benar-benar berani mengambil resiko atas cintanya. Berbeda sekali dengan aku yang begitu pengecut. Mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Aku pun memutuskan untuk meninggalkan kerumunan dan keluar.

Di dalam mobil aku langsung membuka semua atributku. Sulit, sulit sekali rasanya bernapas. Sesak sekali rasanya. Udara memenuhi paru-paruku. Persendianku terasa lepas. Hwa Sook memang hanya pantas untuk Taemin. Seseorang yang akan mampu melindunginya meski badai apapun yang menghantam. Bukan aku, laki-laki pengecut yang selalu takut akan resiko.

***

TBC…

Satu part lagi bakalan ending…

Bagaimana nasib Jinyoung setelah ditinggal mati oleh Ri Young…?

Apakah Sung Young dan Onew akan tetap memendam perasaan mereka..?

Sad or Happy ending…?

Tunggu di A Story about Love Last Part…

Annyeong ^^

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s