[Yoona-Kibum] 14 Days, 13 Letters and 1 Present – Oneshoot

Title : 14 Days, 13 Letters and 1 Present

Author : Shin Rae Na (Kansa Ahsani Maf’ula)

Cast :
Yoona SNSD
Kibum Super Junior
Sooyoung SNSD

Length :
Oneshoot

*****

14 hari?
Bolehkah aku meminta waktu lebih dari itu?
Bolehkah aku mencintainya lebih dari 14 hari?
Aku ingin hidup, hidup untuk mencintainya. Aku ingin hidup untuk melihat dan memuji dirinya.
Bolehkah Tuhan?

*****


> Seoul Art Unniversity

“YA! IM YOONA!” Pekik Sooyoung pada Yoona yang duduk disampingnya. Sooyoung bangkit dan menatap geram pada Yoona. Sedangkan Yoona hanya terkikik geli melihat tingkah laku sahabatnya itu. “YA! Jangan tertawa Yoona. Kau membuatku ingin sekali membunuhmu, kau mengerti?”

 

“Mianhae.. Habis, kau lucu sekali Youngie..” Masih menahan tawanya agar Sooyoung tak semakin geram padanya. Sooyoung mendengus kesal dan ia kembali duduk dikursinya. “Mana ada namja yang menyukaimu kalau kau begini? Huh?” Tantang Yoona sedikit mengejek. Sooyoung memalingkan pandangannya dari Yoona.

 

“KIBUM SUNBAENIM!” Teriak Sooyoung lantang. Yoona segera menghentikan tawanya. Ia menangkap sosok namja tampan dan sangat manis. Yoona tidak mengalihkan pandangannya pada Kibum sedikitpun. Masih betah memandang wajah yang tersenyum itu. “Yoona! Look at your face. Wajahmu memerah baby..” Ledek Sooyoung.

 

“Hah?” Yoona tersentak kaget. Sedangkan Sooyoung tersenyum puas. Pembalasan untuk Yoona karena sudah meledek Sooyoung tadi. “Kau balas dendam padaku Sooyoung?” Menatap tajam pada Sooyoung. Dibalas dengan mehrong oleh Sooyoung.

 

“Kalau kau menyukainya, kau jujur saja padanya. Lagipula, itu tidak merugikanmu kan? Kau bisa lega. Tidak ada hal yang mengganjal lagi di hatimu. Jeongmal paboya..” Rutuk Sooyoung. Sungguh! Yoona sangatlah keras kepala. Bahkan pada perasaannya.

 

“Aish! Kenapa kau yang jadi kesal seperti itu? Lagipula, aku terlalu malu untuk menyatakan perasaanku padanya terlebih dahulu. Aku ini yeoja tahu!” Ujar Yoona kesal. Ia memanyunkan bibirnya kedepan. Sooyoung menghembuskan nafas beratnya.

 

“Oke, ini terserah padamu. Tapi, jujur itu lebih baik menurutku. Dan sekarang, tidak ada namanya gensi. Yeoja menyatakan cintanya pada namja terlebih dahulu, itu sudah biasa.” Ujar Sooyoung pada akhirnya. Yoona tidak bisa menyangkal. Bahwa yang di katakan Sooyoung itu ada benarnya.

 

 

[Yoona POV]

 

Confession?

 

Right now?

 

Aigoo~ bahkan saat dia mengajari akting de kelasku, aku gugup melihatnya. Apalagi aku berbicara dan menyatakan perasaanku padanya? Sulit dipercaya kata-kata itu akan keluar dari mulutku. Dan juga, dia adalah pangeran di kampus. Banyak yeoja yang suka padanya, merebutkannya. Aku tidak punya nyali untuk mengatakan bahwa aku mencintainya, bahkan.. SANGAT mencintainya. Ayolah~ dia sangat pintar, tampan, manis, dan anak orang kaya. Too perfect!

 

Dia sangat pintar juga. Kenapa dia malah ingin menjadi seorang aktor? Seharusnya, dia jadi dokter saja. Pantas sekali pekerjaan itu untukknya. Dia pintar semua mata pelajaran. Tsk! Bahkan aktingnya sangatlah bagus. Jinjja! Dia benar-benar mengagumkan.

 

“YOONA!”

OMO! Panggilan Sooyoung membuatku kaget. Ani.. Dia tidak memanggil, tapi dia berteriak. Dan itu tepat di telingaku. Suaranya melengking. Dasar, Choi Soo Young!

 

“Wae?”

 

“Waktu istirahat sudah hampir habis. Jangan melamun saja, ayo kembali ke kelas!”

 

Waktu istirahat hampir habis? Aku tidak menyadarinya. Terlalu asyik memikirkan Kibum Sunbaenim. Kuambil tas slempangku yang tergeletak dimeja. Berjalan sedikit cepat karena Sooyoung sudah sedikit jauh dari tempatku berada. Anak ini!

 

Tunggu!

 

Aku merasa pusing. Ada apa ini? Aku merasakan tubuhku linglung. Sooyoung-ah, jangan berjalan cepat-cepat. Sungguh! Kepalaku berat sekali. Aku sudah tidak kuat..

 

BRUKK!

 

[End POV]

 

 

BRUKK!

Sooyoung mengehntikan langkahnya. Dia membalikkan badanya. Matanya membulat melihat seorang yeoja sudah tergeletak tak berdaya dilantai. Banyak mahasiswa yang mengelilinginya.

 

“Yoona? YOONA!” Sooyoung berlari ke tempat Yoona berada. Yoona pingsan di koridor sekolah. “Im Yoona! Jangan menakutiku seperti ini. Bangunlah..” Ujar Sooyoung panik. Ia mengguncang tubuh Yoona dihadapannya.

 

“Dia kenapa?” Tanya seorang namja kepada Sooyoung. Ikut mengecek keadaan Yoona yang belum tersadar.

 

“Kibum sunbaenim? Aku juga tidak tahu, sunbae. Tiba-tiba saja dia pingsan sunbae.” Jawab Sooyoung masih dengan raut wajah khawatir sekaligus panik.

 

“Baiklah, aku akan menggendongnya ke ruang kesehatan. Sementara kau Sooyoung, hubungi orang tuanya segera.” Ujar Kibum. Ia sudah membopong badan Yoona yang lemas ke ruang kesehatan. Sementara Sooyoung mengikuti Kibum sambil menghubungi keluarga Yoona.

 

 

*****

 

> Ruang Kesehatan

 

 

“Bagaimana? Kau sudah menghubungi orang tua Yoona?” Tanya Kibum pada Sooyoung yang duduk disebalah ranjang Yoona. Kibum menyandarkan badannya pada tembok di dekat pintu masuk ruang kesehatan. Ia melipat tangannya didepan dada.

 

“Sudah sunbaenim. Orang tua Yoona sudah berangkat kemari, mungkin sebentar lagi sudah berangkat.” Jawab Sooyoung. Kibum hanya mengangguk dan tersenyum tipis pada Sooyoung. “Eum.. Sunbae, gamsahamnida telah mau membawa Yoona kemari. Bahkan, sunbae telah menggendongnya kemari. Jeongmal gamsahamnida..”

 

“Eoh? Aniyo. Aku hanya membantu. Tidak perlu sungkan seperti itu. Kalian adalah hoobae-ku. Kita semua saudara disini.” Ujar Kibum sambil tersenyum kembali. Entahlah, dia tampak berkali-kali lebih manis ketika tersenyum. Sooyoung hanya membalasnya dengan anggukan.

 

Cklek!

 

“Annyeonghaseyo..” Sapa Sooyoung dengan sopan pada orang tua Yoona yang baru saja memasukki ruangan kesehatan. Kibum ikut membungkuk pada mereka. Kedua orang tua Yoona tersenyum getir, menghampiri anak mereka yang tertidur di ranjang dengan seprai putih itu. “Eum.. Sebaiknya ahjumma dan ahjusshi menemani Yoona. Saya dan Kibum sunbaenim keluar saja.”

 

“Ne.” Jawab Appa Yoona. Tampak jelas dari wajah beliau, bahwa beliau sangat khawatir dengan anak satu-satunya. Anaknya yang paling disayangi.

 

Sooyoung menarik lengan Kibum untuk keluar dari ruangan. Kibum hanya menurut. Blam! Kibum menutup pintu ruangan. Sooyoung melepaskan lengan Kibum saat mereka sudah diluar ruangan. Suasana di antara mereka hening sejenak.

 

“Orang tua Yoona tampak sangat khawatir pada Yonna. Semoga dia lekas siuman.” Ujar Kibum. Ia masih memandangi keluarga Yoona dari kaca jendela. Yoona belum tersadar. Kibum membalikkan badanya menghadap Sooyoung. “Jangan terlalu khawatir, dia pasti akan segera siuman dan kembali bersamamu.”

“Ne, sunbaenim. Aku permisi terlebih dahulu. Pasti dosen mencariku dan Yoona.” Ujar Sooyoung lirih. Kibum hanya mengangguk. Kini, hanya tinggal Kibum berdiri di depan ruang kesehatan.

 

‘Cepatlah bangun, hoobae..’ Gumam Kibum dalam hati dan berjalan pergi.

 

 

*****

 

> Rumah Sakit

 

“Sebenarnya saya tidak tega mengatakan ini, Tuan. Tapi.. Saya harus mengatakan sesuatu.” Ujar Dokter Kim pada Mr. Im, appa Yoona. Raut wajah Dokter Kim berubah menjadi serius. “Yoona hanya mempunyai waktu 14 hari lagi untuk dipertahankan. Saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Kanker otaknya sudah menjalar kemana-mana, sulit untuk disembuhkan.”

 

“Apa? Dokter, itu tidak mungkin!”

 

 

[Yoona POV]

 

Rumah sakit.

 

Aku sekarang berada di rumah sakit. Sangat membosankan! Maka dari itu, aku memutuskan untuk berjalan ke ruang Dokter Kim. Dokter keluargaku. Dia bekerja dirumah sakit ini. Dan dia yang merawatku selama aku sakit. Kulihat ruangan Dokter Kim terbuka sedikit. Umma dan Appa ada disana. Lebih baik aku masuk saja.

 

“Sebenarnya saya tidak tega mengatakan ini, Tuan. Tapi.. Saya harus mengatakan sesuatu.”

 

Eoh? Sepertinya pembicaraan di antara mereka dengan serius. Lebih baik, aku tidak mengganggu mereka dulu. Aku tunggu disini saja.

 

“Yoona hanya mempunyai waktu 14 hari lagi untuk dipertahankan. Saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Kanker otaknya sudah menjalar kemana-mana, sulit untuk disembuhkan.”

 

DEG!

14 hari?

 

Aku hanya punya waktu sesingkat itu untuk hidup. Cobaan apa lagi ini Tuhan? Hanya 2 minggu? Kenapa harus sesingkat iru Tuhan? Bahkan, aku belum sempat membelikan rumah yang besar untuk keluargaku. Dan, Sooyoung.. Dia sahabatku. Aku tidak ingin meninggalkannya. Kibum sunbaenim? Haruskah aku meninggalkan cintaku juga?

 

“Apa? Dokter, itu tidak mungkin!”

 

“14 hari, dokter? Sesingkat itu?”

 

Umma..

 

Appa..

 

Maafkan aku, aku membuat kalian semua repot dan terbebani. Aku bukan anak yang baik, apakah Tuhan tidak menyayangiku? Bahkan, aku belum bisa membuat kedua orang tuaku tersenyum. Pantaskah aku disebut anak?

 

Tuhan..

 

Berikanlah aku waktu yang banyak. Aku ingin membahagiakan orang tuaku. Mereka sangat menyayangiku, kenapa aku tak bisa membalasnya? Aku ingin membuat mereka tersenyum. Berikanlah aku waktu yang bayak Tuhan..

 

“Hiks.. Hiks..”

 

Tuhan.. Tolonglah aku.. Jebal..

 

[End POV]

 

 

“Umma.. Appa..” Panggil Yoona lirih. Kedua orang tuanya beserta Dokter Kim terkejut melihat Yoona yang sudah berdiri di ambang Pintu. “Aku rela kalau hidupku hanya tinggal menghitung hari. Karena aku sudah tidak kuat dengan rasa sakit ini. Dokter Kim, anda sudah berperan penting dalam penyembuhan penyakit ini. Walaupun tidak bisa sembuh, saya tetap berterima kasih.”

 

“Yoona..” Sang Appa menghampiri anaknya perlahan. Yoona hanya tersenyum miris. Satu, dua, tetesan air mata mulai menghiasi wajah cantik Yoona.

 

“Gwenchana. 14 hari ini, pasti akan indah dari hari sebelumnya. Umma dan appa juga Dokter Kim tak perlu khawatir dengan itu. Semua pasti berjalan dengan biasa.” Ujar Yoona menenangkan. Greb! Sang appa memeluk Yoona erat. Biarkanlah semua berjalan dengan normal. 14 hari ini, Yoona 14 hari kemudian tetap Yoona yang sekarang bukan? Pasti.

 

 

*****

 

> Keesokan harinya, Universitas

 

 

“Oke Yoona, 14 hari untuk menuju ketenangan. Fighting!” Ujar Yoona menyemangati dirinya saat berjalan memasuki area kampusnya. “Annyeonghaseyo..” Sapa Yoona pada security di depan gerbang. Hanya di balas dengan senyuman dan anggukan. Yoona berjalan menjauh.

 

“YOONA!!” Panggil Sooyoung histeris saat Yoona memasukki kelasnya. Yoona hanya tersenyum menanggapi Sooyoung. Yeoja itu menghampiri Yoona yang masih berdiri di ambang pintu. “Aigoo~ Kau sudah baikan Yoong? Kau membuat ku khawatir padamu.”

 

“Mianhae.. Oh ya! Kemarin yang membawa ku ke ruang kesehatan siapa? Tidak mungkin itu kau, Youngie. Kau menggendongku selama 10 detik sudah terjatuh, apalagi bermenit-menit. Naik tangga lagi.” Ujar Yoona. Kini, memandangi Sooyoung yang hanya tersenyum jahil. “Ya! Beritahu aku, siapa dia?”

 

“Kibum Sunbaenin.” Pelan tapi tepat. Tepat sekali membuat Yoona membuka lebar mulutnya. Terkejut? Iya. Senang? Sudah pasti. Muka Yoona berubah merah malu. “Omo! Lihat mukamu, merah. Kau malu Yoona? Atau kau senang?” Goda Sooyoung. Menyenggol pundak Yoona asal.

 

“Youngie hentikan! Jangan sep–”

“Annyeong.. Kau sudah membaik Yoona?” Entah mengapa perkataan Yoona terhenti saat melihat Kibum berdiri disampingnya. Kibum menyapa dan tersenyum pada Yoona, tentu dengan Sooyoung juga.

 

“An.. Annyeonghaseyo, Sunbaenim. Ne, sudah sunbae. Semuanya sudah baik-baik saja.” Ujar Yoona sambil tersenyum tipis. “Eum.. Sunbae, bisakah aku bicara dengan sunbae? Hanya berdua?”

 

“Bisa. Kau bisa menemuiku saat kuliah hari ini selesai. Temui aku di ruang latihan teater.” Jawab Kibum. Ia melirik pada Sooyoung yang hanya terkikik geli. “Baiklah, aku pergi ke kelas dulu. Sampai nanti.” Pamit Kibum dan berlalu pergi dari hadapan Yoona dan Sooyoung.

 

“Kau ingin berbicara apa dengan  Kibum sunbaenim? Hayo!” Tanya Sooyoung penuh selidik. Sooyoung mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Yoona. Menatap tajam pada Yoona yang tak merespon perkataan Sooyoung.

 

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya. Kau tak perlu tahu Young~ suatu saat, kau pasti akan tahu sendiri.” Ujar Yoona. Kemudian pergi meninggalkan Sooyoung.

 

“Ya! Im Yoona!”

 

 

*****

 

> Ruang Latihan Teater

 

 

Kibum sedang menghafalkan sebuah teks drama yang akan ia tampilkan. Ia duduk di bangku tengah ruangan. Ruangan itu sepi. Hanya terdengar suara lirih Kibum. Sesekali Kibum menatap ambang pintu ruang itu. Menunggu seseorang masuk, dan menemuinya.

 

Klekk!

 

“Sunbaenim..”

 

“Masuklah Yoona..”

 

Kibum melipat kembali kertas yang ada ditangannya. Ia bangkit dari duduk dan meletakkan kertas itu di kursi yang ia duduki. Yoona menghampiri Kibum perlahan. Sekaligus mengedarkan pandangan matanya keseluruh ruangan.

 

“Jadi ini ruang latihan sunbae?” Tanya Yoona. Masih asyik memandangi sekeliling ruangan. Bersih dan rapi. Semua barang yang ada di tata, sehingga terkesan bersih dan terurus. “Rapi sekali sunbae. Siapa yang membersihkan ruangan ini?”

 

“Ne. Yang membersihkan ruangan? Kita bersama. Semua yang memakai dan menghuni ruangan ini bertanggung jawab atas itu. Memang di ruang latihan dance tidak seperti itu?” Kibum balik bertanya. Tersenyum simpul pada Yoona.

 

“Semua yang membersihkan aku dan Sooyoung. Dan itu kami lakukan setengah hati. Tak ada yang membantu lagi.” Yoona mengerucutkan bibirnya imut. Kibum kembali terseyum. Tak lelahkah ia tersenyum? Sudah kebiasaan. “Ohh.. Sunbae, aku kesini hanya ingin mengatakan terima kasih dan memberikan ini”

 

“Mwoya?” Tanya Kibum saat Yoona menyodorkan sebuah amplop berwarna biru langit pada padanya. Ia meraih amplop itu dan hendak membukanya.

 

“JANGAN DIBUKA SUNBAE!” Pekik Yoona. Ia menahan tangan Kibum yang hendak membuka amplop yang ia berikan. “Tunggu penjelasanku sunbae..” Kibum mengangguk dan kini menatap Yoona. Yoona menarik nafasnya. “Tunggulah sampai surat itu mencapa 13 buah sunbae. Barulah sunbae boleh membukanya.”

 

“Hah? Kenapa seperti itu?” Kibum penasaran. Yoona hanya tersenyum manis.

 

“Sunbae akan tahu nanti. Baiklah, aku pulang dulu sunbae. Annyeonghaseyo..”

 

 

*****

 

13 buah surat dalam 14 hari.

 

Bisakah kau sampaikan perasaanku padanya?

 

Perasaan yang sudah lama kupendam di dalam hati.

 

Aku ingin dirinya tahu bahwa dia begitu berharga

 

Berharga dimataku dan juga hatiku.

*****

 

“Kibum sunbaenim!”

 

Kibum menoleh kebelakang. Ia melihat seorang yeoja menghampirinya. Kibum tersenyum simpul. Ia bangkit dari duduknya di ruang latihan teater. Meletakkan kertas skenarionya di meja. Siapa lagi kalau bukan Yoona yang datang menghampirinya. Yoona memegang amplop ungu di tangannya.

 

“Waeyo?”

 

“Surat lagi sunbae. Surat ke-6 untuk sunbae. Warna ungu!”

 

Yoona tersenyum. Menyodorkan amplop ungu itu pada Kibum. Kibum menerima surat itu dan membalas senyum Yoona. Ia mengacak rambut Yoona gemas. Kibum menaruh surat itu di tas-nya. Kembali menghadap Yoona yang setia tersenyum.

 

“Aku menunggu surat itu terkumpul 13 buah.”

 

“Eum. Sunbae, apa sunbae akan ikut lomba teater 9 hari lagi?”

 

“Ne. Yoona, mau belajar teater?”

 

“Boleh.”

 

 

*****

 

-Kibum POV-

 

Sudah 5 hari dia tidak masuk sekolah. Aku jadi semakin khawatir padanya. Seandainya aku punya nomor ponselnya, mungkin aku sudah menghubunginya saat ini. Ya, seorang Im Yoona. Entahlah, aku merindukannya mengulurkan surat dengan berbagai macam warna padaku. Aku juga merindukan senyumnya, manis sekali.

 

“Sunbaenim.” Panggil seseorang menepuk pundakku. Aku membalikkan bdanku mentap orang yang memanggilku. Oh, dia Sooyoung. “Ini. Ada titipan dari Yoona.” Dia menyerahkan 5 surat berwarna warni padaku. Aku tersenyum dan mengangguk padanya.

 

“Gomawo, Sooyoung-ah. Oh ya! Dimana Yoona sekarang? 5 hari kan dia sudah tidak masuk sekolah?” Ujarku. Sejak saat tadi raut wajah Sooyoung menjadi muram. Biasanya, dia tidak seperti ini, Dia selalu ceria. Apa karena Yoona?

 

“Dia di rawat di rumah sakit sunbaenim. Dia tidak pernah bercerita padaku kalau punya sakit anemia ringan. Dia bukan sahabat yang baik.” Sooyoung menundukkan kepalanya. Ada nada kecewa saat dia berkata seperti itu. “Sebaiknya, sunbae menemuinya. Datanglah ke alamat ini.” Sooyoung meyodorkan secarik kertas padaku. Aku mengambil kertas itu dari tangan Sooyoung dan membacanya.

 

“Oh. Baiklah, gomawo.” Aku tersenyum. Salahkah aku ingin menemuinya? Sepertinya tidak apa-apa.

 

-End POV-

 

 

*****

 

Cklek!

 

“Sunbaenim?”

 

Kibum tersenyum melihat Yoona, begitupun Yoona yang tersenyum melihat kedatangan Kibum. Perlahan Kibum menghampiri Yoona yang sedang duduk di pinggir ranjang. Ia duduk di kursi yang ada dihadapan Yoona. Kibum mengangkat wajahnya, menatap Yoona.

 

“Aku meminta surat yang ke 13. Aku sudah tidak sabar untuk membukanya.”

 

“Sunbae, jangan dibuka hari ini. Karena besuk akan ada kejutan untukmu. Ini, surat ke 13. Jangan dibuka dulu.”

 

“Kejutan? Kurasa, aku menyukai itu.”

 

Chu~

 

“Sun..sunbae..”

 

Kibum hanya tersenyum dan meninggalkan Yoona saat ia telah mencium Yoona. Yoona memegang bibirnya. Hanya ciuman biasa. Detik kemudian, Yoona tersenyum atas perlakuan Kibum. Toh! Dia bahagia dengan itu.

 

“Gomawo sunbae.”

 

Yoona merebahkan tubuhnya kembali ke ranjangnya. Ia menatap ke langit-langit kamar rawat itu. Tiba-tiba, tangan Yoona mencengkram bed cover itu kencang. Yoona memegang kepalanya yang terasa berat.

 

“Um..mmaa..sakiiitt”

 

 

*****

 

Kibum berjalan dengan santai melewati koridor rumah sakit. Ruang 24. Itulah kamar rawat Yoona. Perlahan Kibum membuka pintu itu. Ia melihat Yoona sedang berdiri di jendela kamar rawat. Kibum menghampiri Yoona.

 

“Waeyo?”

 

“Sunbae? Ohh.. Aniya~ hanya menikmati pemandangan kendaraan di kota Seoul dari lantai 4 ini.”

 

“Eum~ Yoong, hari ini aku akan lomba teater. Do’akan aku agar bisa menang.”

 

“Pasti sunbae. Buatlah sekolah kita bangga akan prestasi yang kau buat. Dan.. Ini kejutan dariku sunbae. Jangan dibuka disini. Bukalah kotak ini dulu sunbae, jangan suratnya.”

 

Yoona menyerahkan sebuah kotak persegi berwarna merah pada Kibum. Kibum menyambut kotak itu. Yoona masih tersenyum dengan lepas, begitu juga dengan Kibum. Senyuman mereka sama-sama menawan.

 

“Gomawo. Aku pergi dulu, Yoong. Jangan lupa, do’akan aku!”

 

Yoona mengangguk. Kibum mulai melajukan langkahnya pergi meninggalkan Yoona di dalam ruang rawat itu. Saat Kibum sudah berada di luar, ia berdiam diri didepan pintu. Serasa berat untuk meninggalkan tempat itu.

 

“Aku tidak tega meninggalkannya. Orang tuanya sedang beli makan diluar. Dia, didalam sendiri. Perasaanku tidak enak.”

 

 

*****

Kibum duduk didepan kaca rias. Penampilannya akan dimulai 10 menit lagi. Kibum membuka ranselnya dan mengeluarkan 13 surat yang ia dapat dari Yoona. Tangan Kibum meraih kotak merah disamping kanannya. Perlahan ia membuka kitak itu.

 

“Water globe? Yeppeo~”

 

Kibum mulai mengarahkan tangannya untuk membuka surat yang ada didalam kotak itu. Secarik kertas ia keluarkan dari amplop yang ada dikotak. ‘Sunbae, bukalah 13 suratku dan urutkan. Akan membentuk beberapa kalimat yang ingin kusampaikan.’ Begitulah isi kertas itu. Kibum membuka satu persatu 13 surat itu dan menjajarkannya dilantai. Ia mulai membaca apa yang tertulis dalam 13 surat itu.

 

[Annyeonghaseyo Kibum Sunbaenim. Bolehkah aku mengatakan sesuatu? Pasti boleh, hehehe. Sunbaenim, menurutku kau begitu sempurna. Senyumanmu sangatlah manis dan membuat sunbae terlihat lebih tampan. Bolehkah aku mengatakan seperti itu sunbae? Aku sangat menyukai senyuman itu. Mungkin, suatu saat nanti aku sudah tidak bisa melihatnya lagi. Aku sudah tidak bisa memuji senyum itu kembali. Aku harus pergi ke suatu tempat yang indah dan tenang sunbaenim. Tapi, sunbae harus berjanji untuk tidak melupakan Im Yoona. Dan sebelum aku pergi, ada suatu hal yang harus kukatakan pada sunbae. Sunbae adalah orang pertama dan terakhir yang kucintai selama aku hidup didunia. Saranghamnida sunbaenim, terima kasih telah lahir untuk kucintai. Im Yoona]

 

“Tempat indah dan tenang? Mungkinkah..”

Kibum segera mengambil jaket hitamnya dan berlari keluar ruang rias. Beberapa temannya memanggil namanya untuk kembali, namun Kibum tidak meghiraukan itu. Yang ada dipikirannya ada Yoona, hanya Yoona. Kibum membuka pint mobilnya dan melajukannya. Ia mengendara dengan cepat menuju rumah sakit.

 

“Jebal.. Tunggu aku Yoong, jangan tinggalkan aku. Jebal..”

 

Kibum turun dari mobilnya dan langsung berlari ke ruang rawat Yoona. Kosong. Ruangan itu kosong. Kibum berlari mencari suster dan menanyakan kamar yang ditempati Yoona 1 jam yang lalu.

 

“Ruangan itu sudah kosong 30 menit yang lalu. Yoona-shi, sudah meninggal. Permisi.”

 

“Meninggal?”

 

Tes!

Tes!

Tes!

 

Kibum merasakan air matanya sudah membasahi pelupuk matanya. Bahkan kini, kakinya sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Ia terduduk di depan ruangan Yoona. Air matanya bertambah deras saat sepintas bayangan Yoona menghampirinya.

 

“Yoong, kenapa kau tinggalkan aku? Kau kejam Yoong!”

 

 

*****

Kibum mengusap batu nisan Yoona sambil tersenyum miris. Senyuman Yoona masih terlihat jelas dipikirannya saat ini. Wajahnya, tawanya, semuanya.. Semua masih terekam baik oleh pikiran Yoona. Tes! Satu air mata membasahi pipi kirinya.

 

“Kau tega meninggalkanku, saat aku ingin mengatakan.. Nado saranghae Im Yoona. Come back to me please..”

Isak tangis KIbum semakin menggelegar. Air matanya tak bisa berhenti mengalir dipipinya yang mulus. Tangan Kibum mencengkram kerah bajunya sendiri. Berusaha meredam isak tangisnya yang semakin besar saja.

 

“Yoong..”

 

Bukan akhir yang baik bagi Kibum ataupun Yoona. Walaupun mereka tidak bisa bersama saat ini, pasti suatu saat takdir akan mempertemukan kita kembali untuk hidup bersama. Dan, kalaupun nanti bertemu, pasti dengan hari dan waktu yang lebih tepat dan baik. 14 hari, 13 surat dan 1 hadiah. Bersejarah dalam hati ataupun pikiran, bukan sebuah cinta yang ambal-ambal. Namun, sebuah kisah cinta yang suci dan terbaik. 14 hari paling mengesankan, 13 surat yang membuka segalanya, 1 hadia h bisa membuat kita tersenyum. Abadi.. Itulah kata cinta.

 

 

-FIN-

Haii.. Haii..

#plakk!

Chingudeul, gimana dengan FF ini?

Jelek yah?

Mianhamnida kalo jelek, kayaknya aku cuma author FF spesialis SeoKyu deh..

 

 

Readers, ada yang nunggu ‘It Should Be Nine’ sama ‘The One I Love’ ndak? Kayaknya, 2 FF itu bakalan lama deh. 2 minggu yang lalu, FF itu udah siap publish. Tapi, ternyata FD-ku yang ada FF itu diformat sama chingu aku. Di laptop, gag ada salinannya. Waktu itu, aku ngetik di laptop temenku. Huhuhu~ Mianhamnida ya readers..

Author janji bakalan dikerjain secepatnya. Gamsahamnida~

13 comments

  1. Snowers Jung · November 7, 2011

    Tothor mah tega TT sedih…😥 pas baca ini yang ada di kepala kok malah lagunya Kiss- Because i’m a girl ya? Hhahhaha

  2. GameAh · November 14, 2011

    So sad😦 tapi kereen~ daebakk^^

  3. driceny · November 26, 2011

    meninggal?
    meninggal?
    kenapaaaaa sedihhhh begini~~~
    tapi bagusss

  4. Putry boO · December 13, 2011

    hiaaa,yez yez yez y0ona dead…
    Kibum cuma pnx siw0nie tw!!#plak
    Haha,bysa pnxkt fuj0shi kumat…
    Tyskan kansa deabak… #kibarbendera

  5. snowhitelf · December 24, 2011

    huaaa sedihh amat ni ff
    kasian amat kibum gak bisa nyatu ama yoona
    kangen kibummm
    daebak
    i❤ yoonbum

  6. renitas25 · January 22, 2012

    jarang aku nemuin fic couple Yoona – Kibum sekarang,
    eh aku pikir yg matinya itu si Kibum…🙂

  7. diannaidya · April 27, 2012

    bener bener keren. daebak! baru nemuin ini. kebetulan lagi dengerin lagu 2am yang i wonder if you hurt like me. bener bener bikin nangis. (y)

  8. djklover · June 16, 2012

    Sedih amat ini bikin aku nangis :’)

  9. rizky maulidya ashadi · November 13, 2012

    ceritanya sama kayak 49 days

    tapi SOSWET

  10. Marwah DeerBurning · February 17, 2013

    DAEBAAKK!! sampe Nangis bacanya… good job thor,fighting!😀

  11. myeondeong · September 7, 2013

    sedihh ,, ooohh jd surat2nya disusun baru bisa kebaca apa yg pengen yoona bilang

  12. vankaka · June 22, 2014

    sad ending-_- YoonBum harus happily ever after loh–‘
    keep writing!! ^^

  13. yoongchoi · December 6, 2014

    Aku suka apapun ff yg ada yoona eonni, makasih os nya thor

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s