It Should Be Nine [Part 3]

Title :It Should Be Nine Part

Author :
Kansa Ahsani Maf’ula
Alfabeta

Main Cast :
Jessica SNSD
Donghae Super Junior
SNSD Members
Ashley (Kang Seo Young)

Support Cast :
SM Town Artist

align=”center”>*****

 

Jessica menghapus air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. Perlahan Jessica mulai bangkit an berjalan keluar bandara. Setelah ada taksi yang menghampiri, Jessica masuk dan taksi melesat pergi. Di dalam taksi, Jessica terus memandangi luar jendela. Sesekali ia tersenyum bila teringat kenangannya di Korea tiga tahun silam. Pandangannya kini berhenti ketika matanya menangkap barisan balon berwarna pink.

 

“SONE?” Jessica tersentak. Ia terdiam. Pikirannya berjalan tak tentu arah di otaknya. “Arghh!! Kenapa aku sangat cengeng hari ini?” Keluh Jessica saat ia tersadar, pipinya sudah terbasahi oleh air mata yang mengalir. Mengalir dengan derasnya. “Ahjussi, saya berhenti disini saja. Ini uangnya.. Gamsahamnida ahjusshi..” Ujar Jessica sembari menyerahkan beberapa lembar won pada supir taksi. Jessica keluar dari taksi itu. Ia berjalan pelan kerah kerumunan balon berwarna pink diseberang jalan.

 

“So Nyeo Shi Dae! So Nyeo Shi Dae! So Nyeo Shi Dae” Riuh teriakan SONE -fans SNSD- yang membahana, mengelilingi Namsan Tower. Jessica berjalan pelan, mendekati kerumunan SONE. Perlahan, Jessica menerobos kerumunan itu. Sedikit susah memang, mengingat banyaknya orang disini. Namun, ia berhasil berdiri di barisan paling depan.

 

“Aku merindukan moment seperti ini. Dimana saat semua fans mendukungku, juga SNSD.” Batin Jessica. Ia menghela nafas beratnya. Berjalan menjauhi kerumunan fans SNSD. Ia memilih duduk di bangku bawah pohon taman. “Berbeda dengan hidupku di Amerika. Mereka tidak mengenaliku dan menyanjungku.”

 

 

[Flashback]

 

(Note : Ini cerita flashback Jessica waktu dia hidup di Amerika.)

 

 

Jessica melangkahkan kakinya keluar dari bandara. Ia menghentikan taksi, dan menumpanginya. Jessica lalu memberikan sebuah kertas berisikan alamat yang akan dituju pada sopir taksi itu. Jessica tersenyum saat sopir taksi itu mengangguk mengerti.

 

“Yes, miss.”

 

“Thank you.”

 

Jessica memandang keluar kaca jendela taksi. Sungguh berbeda dengan suasana Korea. Apakah ia terlalu kejam meninggalkan Korea? Egoiskah? Tak ada yang tahu pemikiran Jessica Jung. Jessica masih memandangi keluar. Entah mengapa, ia mulai merasa lebih baik dari sebelumnya.

 

“Oke. Aku sekarang adalah Jung Sooyeon. Bukan Jessica SNSD. Rubah hidupmu sekarang, atau tidak sama sekali Sooyeon.” Ujar Jessica dalam hati. Kali ini wajahnya di hiasai dengan senyuman cantiknya. Hanya menyemangati diri untuk memulai suasana yang baru. Bukankah hari esok lebih baik?

 

 

*****

 

> Boston University

 

Jessica melangkahkan kakinya menuju ruang kelas yang akan menjadi kelas barunya ini. Jessica mengatur nafasnya sebelum ia mengetuk pintu itu. Bahkan tangannya sudah berkeringat karena ia sedang gugup. Akankah orang disini mengenalinya? Mungkinkah?

 

Tok! Tok! Tok!

 

“Come in.” Terdengar sahutan dari dalam. Jessica segera membuka pintu itu perlahan. Semua mata yang ada dikelas itu memandanginya. “Can you introduce yourself?” Tanya seorang dosen pada Jessica yang masih diam. Jessica mengangguk. Kini ia berbalik menghadap mahasiswa yang akan menjadi temannya itu.

 

“Hi, my name is Jung Sooyeon. From South Korea. You can call me Sooyeon. I hope we can become good friends. Thanks a lot.”Ujar Jessica sambil menyunggingkan senyumannya.

 

“Is there any question?”

 

Hening.

 

Tak ada jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan dosen disamping Jessica ini. Semua murid hanya fokus pada buku mereka. Entah itu dibaca atau hanya sekedar dipandang. Jessica masih mempertahankan senyumnya. Menatap bergantian teman sekelasnya.

 

“Sooyeon, you can sit next to Ashley.”

 

“Ohh, thank you..”

 

Jessica melangkahkan kakinya ke arah siswa yang duduk di pojok belakang. Seorang yeoja. Dosen tadi memanggilnya Ashley. Jessica sudah berada disamping Ashley. Masih ragu untuk duduk ditempat kosong itu. Lebih memilih bertanya dulu.

 

“Can I..”

“Berbicaralah bahasa Korea. Aku mengerti bahasa Korea.”

 

“Eoh? Jinjja? Baiklah. Bolehkah aku duduk disini? Disampingmu.”

 

“Silahkan. Lagipula songsaengnim yang menyuruhmu duduk disampingku. Selamat datang…”

“Eum, gomawo.”

 

 

*****

 

Jessica membersihkan apartemen yang ia tinggali di Amerika. Sewa selama 3 tahun sudah dibayar oleh Lee Soo Man. Ia hanya tinggal menempati dan menikmati.Setelah selesai membersihkan apartemennya, Jessica merebahkan dirinya sebentar disofa.

 

“Jessica Jung! Kau pasti bisa melewati semua ini. Kau orang yang kuat.” Ujar Jessica menyemangati dirinya. Mengepalkan tangannya ke udara. “Apartemen yang nyaman. Semoga aku bahagia disini. Sehingga tidak teringat Korea sama sekali.” Tersenyum kecil.

 

Drrtt~ Drrtt~ Drrtt~

 

Ponsel Jessica bergetar lama. Menandakan adanya panggilan masuk. Jessica bangkit dan meraih ponselnya yang ada di ranjangnya. Ia menatap layar ponselnya. ‘My Fishy calling’, Jessica tersenyum. Menekan tombol berwarna hijau dan menempelkannya ditelinga kanannya.

 

 

“Yeobseyo?”

 

“Chagiii~~!! Aku merindukanmu. Sangat, sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu disana? Bagaimana kuliahmu?”

 

“Semua berjalan baik oppa. Bukankah oppa sedang sibuk dan akan comeback? Aku melihat beritanya di internet.”

 

“Ne. Bagitu melelahkan, Sica. Kita semua sedang beristirahat sebentar.”

“Baiklah. Beristirahatlah dengan benar, oppa. Jangan terlalu lelah. Ingat kesehatanmu, My Fishy.”

 

“Ne, arraseo chagiya~”

Pip!

 

 

Jessica menutup sambungan teleponnya dengan Donghae. Ia terdiam sejenak. Ada sesuatu yang sedang ia pikirkan. Jessica mengambil album foto di meja belajarnya. ‘Happy Time. Forever So Nyeo Shi Dae’, begitulah judul album fotonya. Perlahan Jessica membuka album foto itu. Seakan takut akan merusaknya. Foto demi foto ia pandangi, seperti alunan musik yang berputar dengan teratur.

 

“Bahkan aku tak ingat untuk bertanya tentang keadaan kalian. Apakah aku terlalu kejam?” Ujar Jessica lirih. Masih membuka album foto itu dengan penuh sayang. Tes! Satu tetesan air mata mengalir dipipinya. “Entahlah. Melihat kalian, hatiku terasa tak menentu. Sesak. Sakit. Itulah yang kurasakan sekarang. Aku akan berjuang dan bertemu kalian suatu saat nanti. Mianhae, aku membuat kalian khawatir. I’m done!”

 

Sreekk!!

 

Jessica melempar album foto itu ke bawah tempat tidurnya. Mengusap air matanya kasar. Seperti pantang untuk menangis. Ia memejamkan matanya sejenak untuk meredam emosi-nya yang sedikit labil belakangan ini. Memilih untuk tidur kembali. Mengistirahatkan pikiran juga raganya.

 

 

*****

 

Jessica sedang duduk sambil membaca buku di bawah pohon. Hanya taman universitas yang cukup luas untuk dijadikan background. Masih asyik dengan buku yang ia baca. Sangat serius. Jessica membaca teliti setiap kata-kata yang ada di buku itu.

 

“Soo Yeon!”

 

Seorang yeoja cantik memanggil Jessica dari kejauhan. Jessica menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Tersenyum ketika melihat Ashley berjalan ke arahnya sekarang.

 

“Serius sekali kau membaca buku itu. Apakah aku mengganggumu?” Tanya Ashley sembari duduk disamping Jessica. Jessica menggeleng sambil tersenyum.

 

“Tidak sama sekali. Tumben kau sudah datang. Mimpi apa kau semalam sehingga bisa datang sepagi ini?” Ledek Jessica sehingga membuat Ashley tertawa. Jessica pun ikut tertawa menatap temannya itu.

 

“Aku bermimpi bertemu dengan Jessica SNSD. Hahaha~ Aku terlalu jauh bercandanya..”

 

DEG!

Jessica terdiam.

 

Jessica SNSD? Itu berarti dia kan? Jung Soo Yeon?

 

“Soo Yeon! Kenapa? Waeyo?” Ashley mengibaskan tangannya di depan wajah Jessica. Saat melihat yeoja itu tiba-tiba terdiam.

 

“Ashley, aku ingin bercerita tentang sesuatu. Bolehkah?” Tanya Jessica. Ashley hanya mengangguk tanda ia setuju dengan Jessica.

 

“Ashley, aku..aku..adalah..ehm..” Jessica tampak sangat gugup. Cara berbicaranya pun sudah terbata-bata. “aku..adalah.. Jessica SNSD.” Lanjut Jessica. Dia memalingkan wajahnya dari tatapan kaget Ashley.

 

“Apa? Kau benar-benar Jessica?”

 

“Ne. Tapi, kau harus merahasiakan ini. Aku takut identitasku terbongkar. Hanya kau yang aku beritahu masalah ini.”

 

“Aku sudah ada feeling kalau kau adalah Jessica. Tapi, aku tepis semua itu. Baik! Aku akan merahasiakan hal ini dari orang lain. Kau bisa percaya padaku.”

 

“Gomawo.”

 

 

*****

 

“Soo Yeon, sebaiknya kita mengerjakan tugas ini di rumahku saja. Sekalian aku menjaga rumahku. Orang tuaku sedang ada di Korea 5 hari ini.” Ujar Ashley sambil mengutak-atik ponselnya.

 

“Boleh. Aku ingin tahu dimana rumahmu. Ayo~!!” Jessica menarik lengan Ashley dengan cepat. Menyuruhnya untuk segera berdiri dan pergi dari kelas mereka.

 

 

-Ashley’s House-

 

“Waw~ rumahmu besar sekali. Bagus pula. Aku menyukai rumahmu..” Ujar Jessica terkagum-kagum. “Oh ya! Aku penasaran, kenapa kau bisa bahasa Korea? Dan orang tuamu senang sekali ke Korea?”

 

“Ohh.. Aku belum pernah bercerita tentang itu yah? Baiklah, aku bisa berbahasa Korea dengan lancer karena aku pernah tinggal disana. Umma-ku adalah orang Korea. Mereka pindah kamari karena mereka ingin aku bersekolah dengan tinggi atas bantuan kakek-nenek dari Appa-ku disini. Kau tahu maksudku?” Jelas Ashley. Jessica hanya mengangguk tanda ia mengerti.

 

“Ashley, kita mengerjakan tugasnya sekarang tau nanti?” Tanya Jessica tiba-tiba. Ashley sedikit tersentak dengan pertanyaan Jessica itu.

 

“Sekarang. Ayo ke kamarku saja.” Ashley berjalan kea rah kamarnya. Sedangkan Jessica mengikuti Ashley dari belakang. “Masuklah dulu. Aku ambil camilan terlebih dahulu.” Tambah Ashley. Ia membuka pintu kamarnya, menyuruh Jessica masuk kedalam.

 

DEG!

 

Jessica terdiam di ambang pintu. Ia melihat ke sekeliling. Matanya tak pernah lepas dari gambar yang menempel di dinding kamar Ashley. Gambar atau lebih sering kita sebut dengan poster.

 

“Kamar ini..”

 

Kamar Ashley dipenuhi dengan poster SNSD. Bahkan lantai bawahnya pun terpampang gambar SNSD. Jessica menutup mulutnya. Ia merasakan nyeri yang menjalari hatinya.

 

“Ashley, ini..” Jessica menunjuk dinding kamar Ashley. Ashley hanya tersenyum tipis melihat hal itu.

 

“Mereka adalah idol-ku. Sooyeon, aku ingin bertanya sesuatu. Kenapa kau pergi dari SNSD? Tahukah kau bahwa mereka sangat menginkanmu kembali? Bahkan, saat press conference SM Town LA sabtu lalu, mereka tetap ingin kau ada di atas panggung bersama mereka.”

 

“Mianhae~ aku hanya ingin sendiri tanpa mereka. Aku ingin lolos dari belenggu SNSD. Aku ingin sendiri tanpa mereka. Jangan buat aku menyesal, Ashley..”

 

“Kau sudah sepantasnya menyesal.”

 

Brakk!

 

Ashley membuka laci mejanya dengan kasar. Ia menarik satu amplop putih dari dalam sana. Ia menyodorkan amplop putih itu pada Jessica.

 

“Apa ini?”

 

“Bukalah. Kau bisa dating atau tidak. Tapi, aku sangat berharap kau dating denganku kesana.”

 

Jessica membuka amplop putih itu. Ia menarik kertas yang ada didalamnya. Anii.. Itu bukan kertas biasa. Tapi, itu sebuah.. Tiket konser?

 

“Tiket konser SM Town LA? Untuk apa kau memberiku tiket ini?”

 

“Agar kau tahu, bagaimana SNSD sekarang. Aku hanya ingin membuatmu kembali kesana. Dan bernyanyi lagi dengan mereka.”

 

“Kenapa kau seperti ini?”

 

“Karena aku, SONE, SNSD, semua hoobae-sunbaemu, keluargamu, teman-temanmu, ingin kau cepat kembali dan menjadi Jessica SNSD!! Kau tahu itu?”

 

“Mianh—“

 

“Ini terserah kau ingin dating atau tidak. Aku tak akan memaksamu. Maaf aku membentakmu. Hanya sedang tak bisa kontrol emosi.”

 

“Aku ikut.”

 

*****

 

-SM Town LA’s Day-

 

Jessica dan Ashley berjalan diantara kerumunan fans. Jessica mengeratkan genggaman tangannya pada Ashley. Hingga mereka masuk kedalam gedung.

 

“Kemarilah. Ini tempat kita.”

 

Jessica duduk ditempat yang sudah ditentukan. Ia duduk di sebelah kanan Ashley. Ia merasa aneh dengan suasana sekitar. Bukankah, seharusnya ia biasa saja? Lagipula, dia sudah terbiasa dengan tempat crowded seperti ini.

 

“Let’s say hello to Girls Generation!!”

 

Suara MC itu membuyarkan lamunan Jessica. Ia manatap lurus kea rah panggung. Ia melihat SNSD tersenyum, senyum palsu mereka. Jauh dalam hati mereka ingin Jessica kembali dan berdiri di atas panggung.

 

“Hello~ we’re Girls Generation.”

 

“Wow, you girls seem very fresh. SNSD is the most beautiful lady tonight, hahaha.. I’m goint crazy now. Um, one of you could speak the words of opening or welcoming this time.”

 

“Taeyeon onnie will make it.”

 

“Yes. Eum, this speech dedicated to Jessica Jung in everywhere she is. Sica-ah, kau tak merindukan kami kah? Kenapa kau pergi? Kami sangat ingin memelukmu kembali, dan membuatmu tersenyum kembali. Kau dima sekarang? Kabarmu baik-baik saja kan? Jangan lupa jaga kesehatan, annyeong..”

 

“Waahh~ you girls, missed Jessica a lot?”

 

“Yes, of course.”

 

Ditempat Jessica duduk sekarang, ia sudah menitikkan air matanya. Bahkan ia meremas tangannya dengan kasar. Sudah tak tahan dengan aura di bangunan ini.

 

“Kau tahu kan, bahwa mereka ingin kau kembali? Jangan terlalu egois.” Ujar Ashley mengingatkan Jessica. Ia menatap Ashley dengan nanar. Pandangan matanya terasa kabur.

 

“Itu lagu baru mereka, Hoot. Mereka sekarang berlatih menjadi SNSD yang memilikki 8 member. Kau lihat senyuman mereka? Itu semua palsu. Mereka sebenarnya juga tertekan.”

 

“Aku bisa. Aku bisa hidup tanpa mereka. Aku masih kuat dengan semua yang kupilih. Aku pergi. Maaf membuatmu jadi menyia-nyiakan uang. Permisi.”

 

Jessica sudah tidak tahan dengan apa yang ia lihat. Jessica keluar dari bangunan itu, meninggalkan Ashley yang masih ada di dalam. Segera ia mengambil ponselnya mengetik pesan singkat.

 

 

To : Ashley

 

Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak akan kalah.

 

 

Segera ia berlari kembali ke apartemennya. Saat sudah sampai, Jessica langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan hampa.

 

Drrtt~ drrttt~ ddrrrttt~

 

Ponsel Jessica begetar lama. Pertanda ada panggilan yang masuk. Jessica meraih ponselnya yang ada di meja belajarnya.

 

“Hallo?”

 

“Sica my barbie~ annyeong..”

 

“Donghae oppa? Waeyo?”

 

“Kau tidak melihat SM Town LA? Kau tak kemari Sica?”

 

“Ani. Aku sibuk dengan kuliahku oppa.”

 

“Baiklah. Aku akan ke apartemenmu. Kirimi pesan berisikan alamatmu. Aku akan kesana.”

 

“Tapii..”

“Aku merindukanmu. Jebal..”

 

“Baiklah.”

 

Pip!

 

 

Jessica memutus sambungan teleponnya dengan Donghae. Ia segera mengirimkan pesan singkat yang berisikan alamatnya pada Donghae.

 

“Aku juga merindukanmu oppa.”

 

Perlahan Jessica merebahkan tubuhnya dan akhirnya ia tertidur.

 

 

*****

 

Ting! Tong! Ting! Tong!

 

“Yes, wait for a minute.”

 

Jessica berlari menuju pintu rumahnya. Cklek! Ia membuka pintu itu. Tampak seorang namja berbalu jaket hitam. Namja itu menggunakan kaca mata hitam dan sya.

 

“I’m sorry, looking for someone?” Tanya Jessica dengan lembut. Namun, namja itu masih tak menjawab Jessica. Malah sibuk memandangi Jessica. “I’m sor—hmm..“

 

Namja itu membekap mulut Jessica dan mendorong Jessica masuk kedalam. Jessica berusaha untk berontak. Sampai akhirnya namja itu melepaskan tangannya dari mulut Jessica.

 

“Ya!! What are you doing?!!” Tanya Jessica dengan nada marah. Ia menatap namja itu geram. Lagi, namja itu tak menjawab pertanyaan Jessica. “Hey! Please answer me! Who are yo—“

 

GREB!

 

Jessica merasakan pelukan yang hangat dari namja itu. Jessica mengenali pelukan ini. Pelukan yang selama ini dirindukannya. Ia mengenal namja ini.

 

“Donghae oppa?” Pelan Jessica. Ia tak lagi berontak di pelukkan namja itu. “Oppa, ini benar dirimu?”

 

“Betapa kejamnya dirimu melupakanku. Kau tak mengenali aku. Namjachingu-mu sendiri.” Ujar namja itu yang ternyata adalah Donghae. Jessica tersenym tipis. Ia mengeratkan pelukannya pada Donghae. Melepas kerinduan masing-masing.

 

“Aku merindukanmu oppa. Bagaimana kabarmu?” Pelan Jessica. Ia masih memeluk Donghae dengan lembut.

 

“Aku juga merindukanmu. Seharusnya aku yang bertanya bagaimana kabarmu. Kau kurus begini. Apa kau tak pernah makan? Kau tidak bisa memasak kan?” Tanya Donghae bertubi-tubu. Jessica sedikit tersinggung dengan kata ‘Tidak bisa memasak.’

 

“Aku bukan Jessica yang dulu oppa. Aku sudah berubah. Aku sudah bisa memasak, aku sudah bisa segala urusan rumah.” Jawab Jessica.

 

“Benarkah?!” Tanya Donghae tidak percaya sambil melepaskan pelukannya pada Jessica. Donghae memegang kedua tangan Jessica. Ia mencoba menyakinkan perkataan Jessica.

 

“Apa oppa perlu bukti? Aku akan memasakkan makanan untuk oppa, agar oppa percaya.” Tantang Jessica. Ia mengangkat sebelah alis matanya. Menyipitkan matanya pada DOnghae yang tampak berpikir.

 

“Baik. Aku terima tantanganmu itu Jessica Jung!”

 

Jessica melangkahkan kakinya ke dapur. Sedangkan Donghae sudah duduk di meja makan apartemen Jessica. Matanya tak terlepas dari sosok yang sedang sibuk dengan masakannya. Setelah 30 menit berlalu, Jessica sudah menghidangkan masakannya di depan Donghae.

 

“Ini oppa. Makanlah..”

 

“Gomawo.”

 

Donghae segera mengambil sendok dan memakan masakan Jessica. Sedangkan Jessica tak lelahnya menatap namja di depannya.

 

“Bagaimana?”

 

“Kau sudah pintar Sica!”

 

“Kau kalah karena menantangku oppa.”

 

“Baiklah. Aku mengakuinya.”

 

Jessica hanya tersenyum tipis. Sedangkan Donghae meneruskan aktifitasnya. Jessica mulai merasakan aneh yang menjalari hatinya jika menatap Donghae.

 

‘Aku sudah menetapkan hatiku. Kau bisa Jung Soo Yeon!’

 

“Sica! Aku punya hadiah untukmu.” Ujar Donghae tiba-tiba. Jessica tersentak. Ia langsung memandang ke arah Donghae. Donghae mengambil sesuatu dalam tas ransel hitamnya. “Ta Da~”

 

“Op..oppa..” Jessica tampak terbata-bata dengan hadiah yang diberikan oleh Donghae. Sebuah kalung indah berwarna perak. Donghae hanya tersenyum manis.

 

“Ini. Kalung cantik untuk orang yang cantik.”

 

“Oppa, aku tidak bisa menerima ini. Maafkan aku..”

 

Jessica bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju lemari es di dapur. Donghae terdiam, namun detik berikutnya dia mengikuti Jessica. Wajahnya seakan terkejut akan pernyataan Jessica tadi.

 

“Apa maksudmu Sica?” Tanya Donghae meminta penjelasan. Jessica meminum air putih dari gelas yang dia siapkan. “Sica, please tell me.”

 

“Oppa, aku ingin kita berhenti sampai disini. Aku ingin sendiri. Anggap saja hari ini adalah salam perpisahan dariku sebelum kau kembali lagi ke Korea. Maafkan aku oppa.” Jelas Jessica. Donghae membelalakkan matanya. Dia tak percaya kata-kata itu akan keluar dari mulut kekasihnya. Kekasih? Bisa dibilang, mantan kekasih setelah hari ini.

 

“Sica, aku masih belum mengerti apa maksudmu. Jelaskan semua perkataanmu tadi.” Pinta Donghae. Ia terus mengikuti Jessica dibelakangnya.

 

“Oppa..” Jessica berhenti. Ia menarik nafasnya agar bisa meneruskan kata-katanya. “Aku bukan Jessica yang dulu lagi. Aku ingin keluar dari keterkaitan dengan SNSD. Aku ingin berhenti berpikir tentang Korea. Bersamamu, aku pasti akan terus berpikir tentang Korea dan itu termasuk SNSD. Aku bukan bagian dari mereka lagi oppa. Aku ingin berhenti. Mulai saat ini, kita juga berhenti oppa. Aku mohon mengertilah..” Suara Jessica tampak sedikit parau. Terlihat dia sedang menahan air matanya itu mati-matian. Ia tak boleh lemah lagi bukan? Dia sudah berjanji akan hal itu. Dia bukan yeoja yang lemah.

 

“Sica..”

 

“Tolong oppa, mengertilah..”

 

Donghae menuntun tangannya untuk menarik Jessica dalam pelukannya. Jessica hanya bisa pasrah dengan hal itu. Donghae membelai rambut hitam Jessica dengan lembut.

 

“Aku tahu. Aku mengerti alasan dari keputusanmu ini. Tapi, ambillah kalung ini sebagai tanda aku mencintaimu. Walaupun kau tak akan bersamaku lagi.”

 

“Baiklah oppa. Aku akan menerimanya.”

 

“Dan jangan lupa. Kalau kau berniat untuk kembali ke Korea, semua masih terbuka lebar. Pintu SM Entertainment, pintu masuk kedalam dunia SNSD kembali. Dan terlebih.. Pintu masuk ke dalam hatiku. Aku masih membuka lebar hatiku untukmu Jessica. Aku akan menunggumu. Sampai kau mau kembali padaku lagi.”

 

 

[End of Flashback]

 

 

*****

 

“Kini aku kembali. Aku kembali karena aku merindukan kalian. Aku ingin memeluk kalian lagi. Namun, entah apa kalian masih mau bertemu dengan..hiks..denganku. Maaf aku tidak berpamitan dengan kalian. Kalian boleh memarahiku dikala kalian bertemu denganku nanti. Hiks.. Hiks..”

 

Sedikit terisak perih tatkala ia ingat dengan member SNSD yang lain. Jessica merindukan mereka. Bolehkah dikatakan Jessica masih saudara mereka?

 

“Aku akan bertemu kalian nanti. Tunggulah aku..”

 

Jessica mulai melangkahkan kakinya kembali. Ia pergi ke tempat yang bisa membuat hati dan pikirannya tenang. Dan nanti, ia pasti akan menghampiri SNSD kembali.

 

 

 

–  T     B    C  –

9 comments

  1. Ichen Aoi · November 7, 2011

    Saeeennnnnggg!!
    LANJUTKAN!!
    #Haesicashipper

  2. haesicahyunin · November 9, 2011

    Lanjutkannn.. Daebakkk.. Hae ama Sicca musti Kudu Wajib Bersatuuuu

    • ahzania · November 9, 2011

      ne, d lnjut kok chingu..

  3. dindarada · November 9, 2011

    Waah .. Wajib lanjut ..

    • ahzania · November 12, 2011

      ne..
      pasti lnjut kok!😀

  4. Vanies · November 13, 2011

    Lanjut!!!!
    Yang cepet ya eonn🙂

    • ahzania · November 14, 2011

      ne..
      di tunggu yah?
      klo da mood, pasti cpet deh!

  5. vankaka · November 4, 2014

    HaeSica.. kenapa putus-_-
    mereka harus bersatu *lol
    Next next next!!

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s