[ONESHOOT] Can I Meet You To Say ‘Joahe’?

Can I Meet You To Say ‘Joahe’?

Title : Can I Meet You To Say ‘Joahe’?
Cast : You and Your Bias
Author : Kim Seoyeon a.k.a Ichen Aoi
Genre : General, Romantic
Backsound : Obsession – Kiseop & AJ (U-KISS) and Fiction – B2ST
Desclaimer : Fanfiction ini murni karya saya. Dan cast ini adalah para readers dan bias
masing – masing.
For attention :
Ini ff oneshoot yang author buat sebagai sarana untuk berterimakasih kepada readers semua. Terimakasih yang sebanyak – banyaknya atas dukungan terhadap ff ‘In My Heart (SuJu is One)’ dan 2 note sharing. Jeongmal kamsahamnida~
#bowsbarengHae
-Kalian bisa mengisi “___” dengan nama kalian dan bias kalian (perhatikan konten kalimat)-

Backsound : Obsession – Kiseop & AJ (U-KISS)

You’re my obsession…

Hari ini sangat cerah. Aku bisa merasakan kalau hari ini akan jadi hari yang baik untuk ku. Lagi – lagi aku berharap ada keberuntungan dipihak ku. Selalu begitu, mengharapkan keberuntungan yang tidak pasti. Aku memang hanya yeoja biasa yang lemah dan tidak memiliki semacam hal berharga dalam kehidupan ku kecuali keluarga ku dan bias ku.
Aku melangkahkan kaki ku dipinggiran jalan sambil sesekali menendang kerikil yang ebrada ditrotoar. Kendaraan terus berlalu – lalang disekitar ku. Kadang rasanya ingin merasakan kesejukkan desa. Aku menghela nafas sesekali lalu meresapi sebuah lagu yang dinyanyikan oleh dia… Bias ku tersayang.
Entah sejak kapan aku sudah menjadi gila dengan mencintai seorang idola Korea. Mencintainya bukan sebagai fans melainkan sebagai seorang yeoja terhadap seorang namja. Kadang aku berfikir kalau aku ini sangat berlebihan. Tapi aku hanya mencoba jujur untuk perasaan ku. Hanya itu.

*ddrrtt ddrrrttt*

HP ku bergetar dan ku lihat layarnya, ternyata sebuah telepon masuk. Aku tersenyum, sebuah nama tertera dilayarnya. Dia chingu terbaik yang pernah ku miliki, satu satunya teman berharga untuk ku diantara ribuan teman ku yang lain.
“Annyeong~” / “Ya! Lama sekali kau mengangkat teleponnya!”
“Mianhae, aku masih dijalan. Wae?” / “Kau sudah lihat pengumuman diweb kemarin?”
“Web? Web apa?” / “Undian tiket konser idola kita!!”
“Paling – paling gak dapet” / “___ – a, kau mendapatkannya! Kau dapat 2 tiket!!”
“Jjinja??” / “Ne! kau sudah janjikan yang satunya untuk ku?”
“Tentu saja! Aku kerumah mu sekarang!” / “Tidak perlu, kita langsung ke kantor webnya saja”
“Geurae, annyeong!” / “Ne”

*klik*

Aku tidak bisa menahan senyuman ku. Aku mendapatkan tiketnya! Aku akan pergi ke Korea dan bertemu dengannya. Aku akan bertemu dengannya! Dengan bias ku tercinta!
Ya Tuhan…
Terimakasih atas keberuntungan ku hari ini.
***
Suatu ruang latihan di Seoul.

Sebuah ruangan cukup besar dan dikelilingi cermin yang menutupi dinding beserta peralatan sound system disalah satu sudutnya memberi kesan yang sesuai kalau itu adalah sebuah ruang latihan disalah satu agensi idola di Korea. Terlihat beberapa orang namja tengah sibuk melatih dancenya. Peluh sudah jatuh dipelipis mereka.
“Baiklah, semuanya istirahat dulu!” ucap sang leader memberikan instruksi kepada membernya yang lain.
Namja – namja itu langsung duduk dilantai, beberapa diantara mereka mengambil minuman dan handuk. Ada juga yang meluruskan kaki.
“Hyung, semoga kita bisa tampil dengan sangat baik!”
“Tentu saja! Kita harus menampilkan yang terbaik untuk semua fasn diluar sana!”
“Ne! Mereka juga sudah mengeluarkan uang saku mereka”
“Juga meluangkan waktu mereka”
Mereka semua mengangguk – angguk sebagai tanda setuju lalu melemparkan senyum satu sama lainnya. Kemudian mereka menumpuk tangan mereka menjadi satu.
“Berlatih yang serius!”
“Persembahkan yang terbaik untuk fans”
“Jangan kecewakan manager, fans, crew dan agensi”
“Hwaiting!” teriak mereka bersamaan.
Salah satu dari namja itu tersenyum menatap member yang lain dan melirik HPnya untuk melihat jam dan pesan singkat yang mungkin dikirimkan dari keluarganya.
***
Hari H.

Aku sangat bahagia karena hari ini adalah hari keberangkatan ku ke Korea bersama satu sahabat ku untuk menonton konser idola kami. Tanpa aku sadari air mata ku menetes dengan perlahan. Akhirnya… Akhirnya aku bisa melihatnya dari dekat.
“___ – a? ada apa?”
“Tidak apa – apa, aku hanya terharu”
“Hhaa… Kau benar! Sebenarnya aku agak malu mengakuinya, tapi semalam aku menangis karena tidak menyangka akan pergi bersama mu ke Korea sana untuk menontonnya”
“Kau ternyata lebih cengeng dari ku!”
Sahabat ku itu langsung acting cemberut begitu mendengar ledekan dari ku. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya itu.
***
Dari beribu – ribu bintang dilangit…
Kenapa hanya kamu yang ku pilih?
Karena cahaya mu mampu terangi hati ku…

“Ayo! Ayo saatnya siap – siap untuk menonton konsernya. Jangan sampai terlambat! Kalian akan duduk di seat VVIP dengan 100 kursi terbatas. Itu adanya persis didepan panggung. Jangan sampai salah ya!”
Sang panitia yang ramah itu mulai memberitahukan hal yang ingin ku tanyakan tadi. Kami semua langsung bersiap – siap. Rombongan kami berjumlah 15 orang terdiri dari 5 crew dan 10 pemenang kuis. Aku bersyukur bisa menjadi salah satu dari orang – orang yang beruntung itu. Pihak panitia menyewakan sebuah mini bus untuk membawa kami ke lokasi konser.

Namja – namja itu sudah bersiap di backstage dengan para penata make up dan kostum. Beberapa dari mereka banyak yang melakukan hal berbeda. Ada yang memutuskan untuk tidur agar nanti rileks, ada yang latihan ulang dance, mengetes suara, main game, makan snack dan mendengarkan lagu yang akan dibawakan lewat earphonenya.
“Kalian semua siap?” tanya sang leader sambil menatap membernya satu per satu.
Ia bisa melihat ada beberapa rasa takur disana. Leader itu tersenyum lalu menepuk pelan bahu membernya satu per satu dan terakhir mengusap lembut kepala sang magnae.
“Aku yakin kalian semua pasti bisa! Aku percaya pada kalian! Fans percaya kita akan menampilkan yang terbaik! Agensi juga percaya pada kita hingga membentuk konser tunggal semacam ini dan crew rela kelelahan karena kita. Jadi, apa ada alasan untuk mengecewakan mereka?”
Leader itu berhasil membuat keraguan dan ketakutan para membernya menjadi sebuah tekad dan rasa percaya diri. Dan namja itu tersenyum sambil mengangguk dengan pasti kearah sang leader. Senyuman pun terkembang diwajah mereka.
“Ayo! Sudah waktunya tampil!”
Sang produser acara sudah meminta mereka untuk naik panggung. Mereka semua saling menatap satu sama lain seolah saling mentransfer kekuatan.
***
Lampu – lampu dimatikan dan yang tersisa hanya lampu – lampu penghias panggung. Layar besar didepan sana mulai menyala dan menampilkan VCR singkat lengkap dengan nama member group itu. Aku benar – benar tidak bisa menahan air mata ku. Aku sangat senang, aku sangat bahagia. Ini adalah sebuah keajaiban untuk ku.
Teriakan penonton mulai memekakkan telinga. Aku sama sekali tidak bisa membuka mulut ku apalagi berteriak seperti yang lainnya. Kaki ku terasa lemas. Aku hanya bisa menangis dalam duduk ku. Dari sini aku bisa melihat satu per satu member group itu bermunculan dan beraksi diatas panggung.
Ya Tuhan… Ini sebuah keajaiban. Ini keajaiban! Benar – benar keajaiban!
***
Kelompok tour kami akan menetap di Korea selama satu minggu dan tentu saja aku memiliki waktu luang untuk sekedar berjalan – jalan disekitar sini.
Salju…
Salju sama sekali tidak akan pernah turun dinegeri tropis ku. Namun dua hari belakangan ini ada dua hal yang tidak biasa menimpa ku. Melihat aksi oppa diatas panggung yang berkilau dan telapak tangan ku yang menyentuh lembutnya salju.
Aku melihat sebuah pohon besar yang rindang disana. Aku memutuskan untuk mendekat dan bersandar disana. Dari sini aku bisa melihat pemandangan indah yang serba putih. Aku menyukainya meski ini terlalu dingin.
“Ada dua hal ajaib yang terjadi pada ku sejak kemarin”
Aku memberikan jeda pada kata – kata ku lalu tersenyum dan menarik nafas dalam.
“Kemarin aku melihat konser ___ oppa dan hari ini aku bisa menyentuh juga melihat salju”
“Kau bukan orang Korea?”
Suara seorang namja membuat ku terkejut. Aku menoleh dengan perlahan ke sisi kanan ku. Aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak mungkin ku lihat dalam jarak sedekat ini. Aku mundur beberapa langkah untuk menjauh darinya.
“Kenapa mundur? Bukankah aku ini bias mu? Terdengar sekali dari ucapan mu tadi”
Ya, dia adalah bias ku digoup itu. Bagaimana bisa semua ini terjadi? Aku bertemu dengannya dalam jarak sedekat ini. Ia tersenyum sangat manis lalu bersandar pada batang pohon besar itu dengan santainya.
“Jangan menjauh seperti itu! Kau membuat ku merasa bersalah dengan kemunculan ku yang tiba – tiba dan mengejutkan mu”
“Aku hanya… Tapi bagaimana…”
“Aku sejak tadi disini sebelum kamu bersandar dipohon ini. Sedang kosong jadwal, aku memutuskan untuk kabur dari dorm dan kesini. Sesekali beristirahat diluar bolehkan?”
Aku hanya diam menatap oppa didepan ku yang terus menunjukkan senyuman manisnya yang selalu sukses membuat ku kagum padanya dan semakin mencintainya.
Aku bisa melihat dia sibuk mencari sesuatu di saku mantelnya dan ia mengeluarkan HPnya lalu membaca sesuatu disana dan menepuk dahinya pelan. Aku hanya bisa mematung dan memperhatikan sikapnya yang aneh itu.
“Mianhae, aku harus kembali. Latihan akan segera dimulai! Oh ya, ku harap besok kita bisa bertemu disini dan di waktu yang sama. Aku akan dating untuk menemui mu. Annyeong!”
Dia langsung menghilang dari hadapan ku dan aku berusaha mencerna ucapannya tadi kedalam otak ku. Bukankah itu tandanya ia ingin bertemu dengan ku lagi?

Namja itu tersenyum saat ia berbalik dari hadapan mu. Kamu sama sekali tidak menyadarinya kalau saat ini dia sedang tersenyum bahagia sambil bergumam pelan.
“Aku senang memiliki fans yang baik!”
***
Hari keempat di Seoul.

Aku pergi ketempat yang sama. Aku mempercayai ucapannya. Atau karena aku memang menginginkannya? Entahlah… Yang ku tahu kalau aku harus disini agar aku bisa bertemu dengannya lagi. Oppa ku… Idola ku… Cinta ku… dan hidup ku…
Dia meminta ku berada ditempat yang sama dan di jam yang sama. Namun dia belum juga datang sedangkan salju terus turun dengan perlahan.

5 menit…

15 menit…

Buku – buku jemari tangan ku mulai kehilangan rasa. Semuanya serasa membeku. Aku bahkan tidak bisa merasakan hangatnya darah yang mengalir didalam tubuh ku.

30 menit…

45 menit…

Udara semakin dingin. Mantel ku ditembus udara yang semakin menusuk tulang ku itu. Kini telapak kaki ku mati rasa. Apa aku akan mati membeku disini karena menunggu mu?

1 jam…

1 jam 30 menit…

Kaki ku sudah tidak bisa menopang tubuh ku yang semakin lama terasa semakin membeku. Dan dengan perlahan tubuh ku merosot dan kini aku jongkok sambil bersandar pada batang tubuh pohon besar ini. Aku memeluk lutut ku sendiri. Apa aku akan mati dengan cara seperti ini? Apa aku terlalu berharap dan bermimpi bisa bertemu dengan oppa lagi?
Aku pun memejamkan mata ku dengan air mata yang mengalir dengan perlahan. Entah kenapa lama – kelamaan aku merasakan kehangatan ditubuh ku. Sesuatu seperti menyelimuti tubuh ku, saat ku buka mata ku ada seseorang sedang memeluk ku. Kepalanya ia sandarkan dibahu kanan ku.
“Nugu?” tanya ku dengan perlahan setelah aku berhasil menemukan suara ku lagi.
“Ini aku!”
Namja itu melepas pelukkannya dan menatap ku dari jarak yang dekat. Ia tersenyum dengan sangat manis. Oppa, idola yang ku cintai.
“Oppa… akhirnya kau datang…”
“Mianhae, tadi aku diminta mengirim beberapa berkas latihan ke agensi”
“Ku pikir oppa tidak akan datang”
“Aku pasti datang! Bukankah aku yang meminta mu untuk bertemu dengan ku disini lagi?”
Senyumannya benar – benar menenangkan ku. Ia membantu ku berdiri.
“Kita minum cokelat hangat di café terdekat. Aku yang akan mentraktir mu, sebagai permohonan maaf ku karena telah membuat mu menunggu ku ditengah salju begini”

Café

“Cokelat hangatnya dua gelas ya! Dan lengkap dengan susu”
Aku membiarkan oppa memesankan sesuatu untuk ku, karena aku juga tidak tahu harus memesan apa. Dia kembali tersenyum dan menatap ku, itu semua berhasil membuat ku merasa kalau pipi ku panas dan mungkin merona merah sekarang.
“Siapa nama mu?”
Pertanyaan tiba – tiba darinya membuat ku menatapnya dengan penuh keterkejutan.
“Aku kan hanya menanyakan nama mu. Aku ingin mengenal mu”
“___, itu nama ku oppa”
Aku berusaha menghilangkan nada gemetar didalam suara ku.
“Hhaa… Jangan kaku begitu. Nama mu bagus, aku menyukainya!”
Aku tidak bisa mengeluarkan ucapan terimakasih. Aku hanya menunduk untuk menyembunyikan rasa malu ku. Jangan tanyakan bagaimana perasaan ku saat ini. Karena rasanya jantung ku bisa melompat keluar kapan saja. Rasanya sangat tidak sopan kalau aku tidak mengucapkan terimakasih.
“Oppa…”
Belum sempat aku menyelesaikan kata – kata ku, dia sudah beranjak dari duduknya lalu menatap ku dengan tatapan merasa bersalah.
“Mianhae, manager hyung meminta ku untuk segera hadir ditempat latihan. Bagaimana kalau kita saling bertukar nomor HP saja? Berapa nomor mu?”
Aku tidak pernah menyangka kalau oppa akan menanyakannya. Aku pun menyebutkannya dengan perlahan sambil berdoa dalam hati semoga kombinasi angka yang ku sebutkan itu benar. Ia tersenyum lalu mengambil mantelnya.
“Aku akan menghubungi mu malam ini, annyeong ___ – a”
Dia pergi dari hadapan ku. Selalu saja begitu, membuat ku melayang dan serba salah lalu menghilang begitu saja bersama angin.
***
Ini sudah hari ke – empat aku berada di korea, tinggal 2 hari lagi aku di Seoul. Karena tepat dihari ke – 7 aku dan rombongan harus kembali ke Indonesia. Dan hal ini membuat ku jadi sangat ingin bertemu dengannya dan berbicara panjang lebar dengannya. Sebuah pesan singkat masuk kedalam ponsel ku. Nomor asing? Dengan penasaran dan penuh pengharapan, aku membuka pesan singkat itu.

(Annyeong ___ – a, ini aku, ___ . Sudah ku tepati janji ku untuk menghubungi ku. Tolong disave ya^^. Mianhae, hari ini aku sibuk latihan dan aku sangat yakin kalau hyung manager tidak akan membiarkan salah satu dari kami keluar)

Aku hanya bisa tersenyum miris memandangi ponsel ku dan pesan singkat itu. Padahal waktu ku tinggal sebentar lagi dan belum tentu aku akan kembali ke Seoul. Semuanya mungkin benar – benar factor keberuntungan bukan takdir. Aku terlalu berharap banyak.
***
Backsound : Fiction – B2ST

Satu hari sebelum kembali ke Indonesia

Ya Tuhan berikan keajaiban – Mu untuk ku hari ini. Aku ingin bertemu dengannya dan menyatakan kalau dia bias ku, kalau aku menyukainya dan menyayanginya dengan tulus. Aku sudah setengah hari ini menunggu pesan darinya yang tidak kunjung datang. Sekarang di Seoul sudah pukul 4 sore. Matahari pun mulai meredup.
Apa aku tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya?

Malam pun tiba, aku mengambil tiket penerbangan besok. Jam 10 pagi. Apa aku bisa bertemu dengan oppa? Apa aku bisa bertemu dengan bintang ku lagi?
“___ – a, belum tidur?”
Teguran chingu ku membuat ku sedikit terkejut. Jujur, aku memang belum menceritakan pertemuan ini pada siapa pun.
“Belum ngantuk” jawab ku sambil menyunggingkan senyum.
“Besok jangan kesiangan ya”
Aku mengangguk sedangkan chingu ku kembali terlelat ditempat tidurnya. Aku putuskan untuk memberanikan diri dengan mengiriminya pesan singkat. Semoga dia membacanya.
3 jam sebelum keberangkatan

Aku harus ketaman itu! Harus! Mungkin saja oppa sedang berada disana dan menunggu ku. Mungkin ia sedang merencanakan sebuah kejutan. Semuanya mungkin saja terjadi. Aku masih berusaha menyemangati diri ku sendiri meski aku tahu rasanya sangat berat dan menyakitkan.
“Mau kemana?” tanya chingu ku penasaran.
“Ke suatu tempat! Jangan tunggu aku, karena aku akan menyusul sendiri ke bandara”
“Kau yakin?”
“Ne. Sampai nanti!”
Aku membawa tas ransel kecil ku turut serta sedangkan koper ku dengan senang hati dibawa chingu ku. Isi koper itu pakaian kami berdua kok, jadi tidak masalah jika dia ingin membawanya.

2 jam lagi…

Aku masih menunggunya. Aku sudah tidak bisa berlama – lama disini, butuh satu jam perjalanan menuju bandara. Ku putuskan untuk mengirimkan SMS padanya berulang kali. Semuanya tidak ada yang dibalas, semuanya pending. Sebenarnya apa yang terjadi?

1 jam 15 menit lagi…

Tidak bisa! Aku tidak bisa menunggunya lebih dari ini. Aku harus segera pergi menuju bandara. Ya Tuhan semoga ada keajaiban kelak yang bisa mempertemukan aku dengannya disisa waktu ini.
Aku melangkah dengan gontai meninggalkan taman itu. Dapat ku rasakan pipi ku terasa hangat karena air mata yang turun dengan perlahan. Jangan tanyakan bagaimana perasaan ku, karena rasanya sangat kecewa, sakit dan takut. Apa mungkin semua ini hanya pertemuan fiksi belaka? Apa pertemuan itu memang sebenarnya tidak pernah terjadi?
***
Suara keras dentuman music mengalir didalam ruangan penuh cermin itu. Beberapa namja tampak sedang serius berlatih dance. Manager tersenyum senang melihatnya.
“Bagus! Kalian nanti istirahatlah, akan ku belikan makanan dan minuman”
“Gomawo hyung!” ucap namjadeul itu serempak.
“Kita berlatih satu kali lagi!” perintah sang leader.
Lagi – lagi mereka membentuk formasi dari awal. 5 menit berlalu. Kini semuanya memutuskan untuk beristirahat. Ada beberapa namja yang mengelap peluhnya dengan handuk, meminum air mineral dan meluruskan kakinya.
“Hyung! Ponsel mu tidak aktif ya? Manager hyung menelepon mu tadi untuk menanyakan pesanan kita semua. Hyung mau apa?” tanya namja lain padanya.
Bias mu berfikir sejenak lalu memamerkan senyumannya.
“Hhee… Aku lupa charger HP. Pinjam chargeran donk!”
Ia meraih charger yang disodorkan salah satu anggota. Karena tidak ada yang mengambil keputusan maka sang leader mengambil ponsel itu lalu menyebutkan pesannya.
“Bibimbap, Bulgogi dan Kalbijim. Samakan saja semuanya hyung”

Sementara itu bias mu duduk dipojok ruangan dekat dengan stop contact. Ia menyalakan ponselnya. Lalu sekitar 25 message masuk ke ponselnya. Ia tersenyum kecil saat melihat nama pengirimnya, semuanya message dari mu. Ia membukanya dari yang paling pertama dikirim.

Message 1 : Oppa…
Message 2 : Oppa… bisa bicara dengan mu?
Message 3 : Oppa marah pada ku?
Message 4 : Oppa kenapa pesan yang ku kirim pending terus?
Message 5 : Hufht… Jangan bilang ini fake number.
Message 6 : Oppa… Jebal…
Message 7 : Oppa… Kau membuat ku menangis sekarang…
Message 8 : Ada yang ingin ku bicarakan. Hal ini penting bagi ku!

Message 24 : Ini hari terakhir ku di Seoul. Kenapa pesan ku tidak ada yang terkirim? Atau terkirim tapi oppa tidak membalas pesan ku? Oppa… Jeongmal bogoshipoyo~
Message 25 : Oppa… aku di bandara sekarang. Aku sudah 2 jam menunggu mu ditaman biasa. Jangan tanyakan kenapa, aku juga tidak mengerti. Yang aku tahu, aku sangat ingin bertemu dengan mu. Oppa aku belum bilang secara langsung kalau oppa bias ku kan? Oppa… Aku memang akan terdengar seperti gila, tapi aku menyukai mu. Benar – benar menyukai mu dalam arti sesungguhnya. Aku tidak perlu jawaban, aku hanya ingin oppa tahu. Oppa, aku masih berharap keajaiban datang dan mempertemukan aku dengan mu untuk yang terakhir kalinya. Oppa tahu, aku saat ini sedang menangis menanti detik – detik perpisahan kita. Penerbangan ku jam 10 hari ini.

*deg!*

Biasmu terkejut dan entah kenapa ia merasakan ada sesuatu yang hilang. Dadanya tiba – tiba saja sakit dan sesak. Matanya memanas. Entah kenapa kamu bisa menelusup jadi yeoja special dihatinya. Ia menggenggan ponselnya dengan kuat lalu menatap hyungnya yang sedang duduk sambil meneguk air mineralnya.
“Hyung, aku harus ke airport!”
“Ada apa memangnya?”
“Hyung! Nanti akan ku jelaskan, sekarang tolong bantu aku. Nanti bilang pada manager hyung kalau aku pergi keluar sebentar saja!”
Dengan segera ia meraih mantelnya dan pergi secepat yang ia bisa. Dompet, HP dan kunci mobil sudah ada didalam sakunya.
***
Airport…

Tidak ada yang bisa ku perbuat, segalanya telah berakhir. Aku hanya bisa meratapi semuanya. Namun satu yang begitu sangat ku inginkan, aku ingin dia menyebut nama ku satu kali lagi sebelum aku benar – benar pergi meninggalkan kota ini.
“___ – a, ada apa? Kenapa menangis?”
“Aniya, aku rasa aku akan terus mengingat satu minggu selama disini. Mungkin saja aku tidak akan pernah bisa kembali lagi bukan?”
“Kau benar! Dan itu membuat ku sedih”
Aku tahu itu salah satu yang benar dan terngiang didalam pikiran ku. Namun ada yang lebih penting lagi, aku berpisah dengan oppa ku… bias ku… dan juga cinta ku… Aku memang bukan sekedar fans yang bisa dinilai secara biasa, aku menyukainya, aku mencintainya dalam arti yang sebenarnya. Aku tahu ini memalukan, menangis di bandara. Tempat dimana banyak orang berlalu lalang kesana kemari.
Tapi inilah aku. Aku terlalu rapuh dan tidak bisa melakukan apa – apa lagi. Perjuangan ku akhirnya ada batasnya. Namun itu tidak akan bisa membuat ku menemui batas dimana aku mencintainya dengan sungguh – sungguh.
Ya Tuhan…
Dengarkan doa ku sekali lagi ini saja. Pertemukan aku dengannya. Tidak ada jalan yang mustahil bagi – Mu, sedangkan aku akan selalu menemui jalan buntu tanpa bantuan dari – Mu. Tuhan… ku mohon… izinkan aku mendengar suaranya dan biarkan dia memanggil nama ku. Hanya itu pinta ku saat ini.
Dengan berat hati aku duduk di sini, menunggu panggilan penerbangan. Mata ku tidak tinggal diam, aku menantinya. Lebih tepatnya, menanti keajaiban yang membawa pangeran ku kesini dan menemui ku. Miracle… I need miracle…

Sementara itu bias mu diluar sana bersama mobilnya terjebak dilampu hijau *seinget ku, sama ama Jepang. Lampu hijau buat pejalan kaki dan lampu merah buat mobil*. Ia sudah berkali – kali memandang lampu lalu lintas itu, namun warnanya masih belum berubah. Ia melirik jamnya berkali – kali dan memandangi ponselnya. Berharap pesan dan telepon dari mu masuk kesana. Nyatanya semua masih sama, HP itu sama sekali tidak bordering.
Kemudian ia memacu kecepatan mobilnya dengan lebih saat kendaraan dijalan raya itu diizinkan melintas oleh si lampu lalu lintas.
“Ku mohon… tunggu aku…” bisiknya pelan dan terdengar putus asa.

[Perhatian! Penerbangan dengan nomor xxx dengan pesawat xxx tujuan penerbangan xxx akan segera lepas landas. Para penumpang dipersilahkan untuk menaiki pesawat. Terimakasih]
*anggap aja pakai bahasa inggris/korea*

Aku menghela nafas berat mendengar pengumuman yang baru saja di kumandangkan. Ini jalan terakhir ku, mungkin tidak akan ada kesempatan lagi setelah ini. Jadi aku putuskan untuk mengikuti rombongan dan meninggalkan kesempatan terakhir yang telah usai ini. Aku berusaha menahan air mata ku, aku tidak ingin dipandang aneh.
“___ – a, tenanglah”
“Aku sedang mencoba untuk tenang” jawab ku datar.
Ya, sudah berulang kali aku meneguk air mineral ditangan ku. Dan berulang kali aku mengatur pernafasan ku, agar aku tenang. Hasilnya nihil. Semua terasa menyakitkan dan menyesakkan di sini. Dihati ku. Jantung ku serasa dicengkram kuat.
Entah kenapa aku mulai beranggapan kalau pertemuan ku dengannya bukanlah hal yang nyata, apa mungkin itu efek dari menontonnya saat konser kemarin. Apa benar semua itu mimpi? Namun kenapa semua terasa begitu nyata dan indah?
Jika semua ini mimpi, rasanya aku ingin bangun secepatnya dan menghapus semua ingatan ku tentangnya dan semua pertemuan – pertemuan itu. Semuanya hanya membuat ku sesak dan menderita. Semua barang – barang ku sudah aman dibagasi pesawat. Aku mencari tempat duduk ku. Kami serombongan duduk berdekatan, beberapa dari mereka mulai saling berbagi cerita ini – itu. Sedangkan aku? Aku hanya diam sambil menatap keluar jendela pesawat. Banyak orang dibawah sana, namun tidak ada pangeran ku.
“Kau kenapa sih? Sejak semalam kau aneh sekali”
“Mungkin efek kelelahan dan sedih meninggalkan kota ini”
Aku berusaha mengulas senyuman diwajah ku yang mungkin sudah tampak kusut ini. Aku begitu memikirkannya hingga aku lupa kalau aku sama sekali belum memakai make – up.
Aku menghenyakkan tubuh ku pada kursi pesawat sambil memasang headset ku. Sebuah lagu darinya bersama groupnya itu terdengar sangat jelas ditelinga ku. Aku mengenali suaranya, suara lembutnya… Tanpa sadar air mata ku menetes jatuh.

[Perhatian! Para penumpang diharapkan menggunakan pengaman yang tersedia karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas]

“Opppaaa…” bisik ku lirih.
Aku tahu teman – teman ku mulai memperhatikan ku dan menatap ku dengan kebingungan.
“___ – a, kau kenapa?”
“Hikss… Aku ingin bertemu dengannya… Meski itu untuk yang terakhir kalinya” ucap ku ditengah – tengah isak tangis ku. Sahabat terbaik ku memeluk ku, berusaha menenangkan ku. Aku tahu pasti, tidak ada satu pun diantara mereka yang bisa menebak kenapa aku menangis.
Rasanya sangat sakit dan menyesakkan….
Tuhan… Ku mohon…
Izinkan aku bertemu dengannya…
Berikan aku keberuntungan lagi…

“Mianhe, penerbangan menuju ke Indonesia?”
“Akan segera lepas landas”
Namja itu tampak semakin panic, wajahnya memucat. Peluh sudah membasahi wajahnya. Penampilannya sudah sangat berantakan, mengingat ia berlari dari sana kemari mencari terminal penerbangan yang dimaksud.
Beberapa fans menyadari kehadirannya dan berusaha memperoleh fotonya, sedangkan namja itu hanya membalas senyum seadanya. Ia mengedarkan pandangannya berkeliling. Lalu ia berlari menuju dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan di area lepas landas tersebut. Ia bisa melihat pesawat yang dimaksud sudah menutup tangga dan pintunya. Ia semakin kacau. Bias mu langsung meraih ponsel disakunya dan berusaha menghubungi mu, namun percuma saja. Didalam pesawat, HP dinon-aktifkan.
Bias mu langsung berlari kencang menuju ruang informasi.
“Maaf, anda dilarang masuk!”
“Ku mohon… izinkan aku! Ini menyangkut perasaannya!”
“Maaf, kami tahu anda seorang idola. Tapi kami tetap tidak bisa mengizinkan”
“Jebal… Izinkan aku… Sebelum pesawatnya pergi meninggalkan Seoul”
Bias mu meneteskan air matanya. Sehingga penjaga itu membiarkan bias mu masuk. Namja itu langsung berlari dan mencari sebuah microfon yang sedang di operasikan.
“Ku mohon, sambungkan dengan pesawat tujuan Indonesia. Sekarang juga!”
“Hajiman…”
“Ppali!”
Akhirnya bias mu berhasil menguasai microfon tersebut. Sedangkan dia bisa melihat jelas kalau pesawat yang kamu tumpangi itu sudah mengambil ancang – ancang untuk meninggalkan landasannya.

[Mianhe… Mianhae…

Didalam pesawat yang kamu tumpangi…

[Mianhe… Mianheyo… ___ imnida]

Aku tersentak mendengar suara oppa dipengeras suara. Beberapa yeoja memekin senang mendengarnya. Mungkin ini bagian dari promosi atau pun sebuah service penerbangan. Bisa saja itu suara yang sudah direkam sebelumnya. Mengingat hal ini membuat ku semakin galau saja.

[Mianhe mengganggu kenyamanan kalian, namun aku ada keperluan mendesak dan sangat penting yang menyangkut perasaan ku dengan seseorang. Ku harap kalian semua mengerti. Pesan ini ku tunjukkan untuk ___. ___ – a, mianhe aku tidak membaca pesan mu. Ceritanya panjang. Satu hal yang ingin ku katakan agar kau mengetahuinya. Joahe… Jeongmal joaheyo… Jadi ku mohon, tinggallah disini untuk beberapa waktu lagi]

Semua mata teman – teman ku langsung terarah pada ku. Air mata ku yang tadi mengalir karena sedih kini terhenti karena keheranan.
“___ – a, itu untuk mu!”
“Jjinja?”
“Ne! Benar – benar untuk mu! Cepat turun dari pesawat, biar aku temani!”
Sahabat ku membantu ku turun pesawat untuk bertemu dengan oppa. Saat aku turun dan menatap lurus kedepan. Aku sangat tercengang mendapati bias ku sudah berdiri disana. Wajahnya tampak lelah. Aku mendekatinya dan memandanginya dengan seksama. Ia tersenyum manis. Peluhnya tampak membasahi wajah tampannya. Matanya… merah?
“Oppa, apa kau menangis?”
“Ne, aku pikir aku tidak bisa bertemu dengan mu lagi ___ – a”
Dia menyebutkan nama ku lagi. Air mata ku lagi – lagi jatuh tanpa diminta. Aku bahagia. Oppa memeluk ku dengan hangat sambil membelai lembut pipi ku, menghapus air mata yang mengalir disana.
“Joahe… Jeongmal joaheyo”

Chu~

Oppa mencium bibir ku singkat dan lembut. Ya Tuhan… Aku mencintainya… Aku sangat mencintainya…
==END==

8 comments

  1. sparkyu_mutmut · November 13, 2011

    i’m first??
    keren FF.a chingu!! ^^b
    kta”.a menohok hati banget…

    • idolfanfiction · November 30, 2011

      Hhee… ntar admin sampein🙂

      “Thor, bahasamu thor!”

  2. GameAh · November 14, 2011

    Katanya keren2🙂 jadi ngebayangin aku ama bias😀 hahah~

    Sayangnya cuman oneshoot😦 cumannya dipart-in

    • idolfanfiction · November 30, 2011

      biasnya… Kyuhyun ya?
      keliatan dari nama ID chingu🙂

  3. NurulJ2R · November 29, 2011

    keren chingu…😀
    feel-nya dapet bgt..😀

  4. storyofmydream · July 3, 2012

    so sweet bgt sih….

  5. thisismylittleworld · February 16, 2014

    annyeong, gapapa ya commentnya pake akunku sendiri.FFnya kereeeennn.. terharu serius.gue langsung ngebayangin ini sama Minwoo ahaha. daebak lah ‘-‘)b

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s