Part 2 :: LOVE IN HEAVEN

Title : Love In Heaven
Author : Ichen Aoi / Kim Seoyeon
Cast : You, Kim Jaejoong and Shim Changmin
Genre : Romantic, Angst
Rating : General
Song : Say No – Hangeng
Note : Meski author akui sangat telat! Tapi lagi suka banget sama lagunya Han gege yang Say No… Han gege suaranya masih sama… Masih sama kayak seorang Hankyung… Bedanya? Kali ini Han gege menyanyikan full satu lirik… pas jadi Hankyung maybe 1 sampai 3 baris… Selebihnya masih sama… Masih Han yang punya 12 adik dan 2 kakak…^^

==

Perhasahabatan yang baik terus terjalin antara Changmin dan Jaejoong hingga mereka duduk di bangku SMA. Bahkan setiap pulang sekolah, Changmin menyempatkan diri untuk mampir kerumah Jaejoong. Karena ibu angkat Jaejoong sangat pandai membuat ramyun yang entah kenapa memiliki rasa dan campuran yang berbeda dan lezat.

“Apa hari ini kau kerumah ku lagi?”

“Ne. Hyung!”

Changmin selalu menjawab dengan yakin. Jaejoong hanya tersenyum menanggapinya yang selalu tampak bersemangat itu. Mereka berdua berjalan beriringan.

Mereka berdua disambut dengan hangat oleh Mrs. Kim.

“Ah! Min – a, kau datang lagi rupanya nak”

Wanita itu menyunggingkan senyuman hangatnya sambil mempersilahkan Changmin masuk. Jaejoong sudah masuk lebih dulu dan menaruh peralatan sekolahnya dikamar.

“Eomma bikin ramyun special lagi?”

“Ne. Eomma tahu kau akan mengajak Min – a kesini”

“Bukan aku yang mengajaknya, tapi dia yang mengikuti ku”

Jawaban Jaejoong mengundang tawa Changmin. Sedangkan eommanya hanya menggelengkan kepala melihat putra dan chingunya itu.

“Mianhe ahjumma… Aku selalu merepotkan”

“Gwaenchana. Setidaknya Jaejoong punya teman dan namdongsaeng. Lagi pula, ahjumma jadi merasa memiliki dua orang putra”

Kali ini Jaejoong mendelik dan berekspresi seolah dia marah.

“Eomma… Aku menyesal! Karena Changmin, kasih sayang mu untuk ku kini terbagi dua”

Changmin langsung mendekati Jaejoong dan memijat bahunya pelan.

“Sudahlah hyung, ikhlaskan dan pilih aku jadi namdongsaeng mu”

“Aku tidak mau punya dongsaeng yang merepotkan!” ledek Jaejoong.

Sementara itu Mrs. Kim hanya mendengarkan mereka sambil tersenyum lalu menyiapkan makan malam. Seperti biasa juga, Jaejoong dan Changmin akan melahapnya dengan semangat sampai habis.

***

Tidak seperti biasa, hari ini Jaejoong tidak datang kekelas Changmin untuk mengantarkan bekal makanan yang dibuatkan oleh Mrs. Kim. Karena itu, dia berinisiatif untuk mencari Jaejoong dikelasnya.

“Mianhe sunbaenim, apakah Jaejoong hyung ada?”

Semua menatap Changmin dengan heran. Changmin sama sekali tidak mengerti dengan suasana didalam kelas ini, sampai ada seorang namja besar bicara dengannya.

“Mau apa kau mencarinya? Apa dia melakukan sesautu yang tidak baik pada mu?”

“Mwo? Aniya~ Jaaejoong hyung orang yang baik kok” jawab Changmin sambil menggelengkan kepalanya dengan kebingungan.

“Baik? Ku peringatkan pada mu demi kebaikan mu. Jangan bergaul dengan anak pembunuh itu!” hardik namja besar itu diikuti anggukan teman sekelasnya yang lain.

Changmin sudah mengepalkan tangannya. Ia tidak terima hyung dan chingu kesayangannya dihina begitu dikelasnya sendiri.

“Apa maksud sunbae?”

“Ayahnya seorang pembunuh! Ayahnya masuk penjara kotor dan mati bunuh diri disana! Dia bukan anak dari keluarga baik – baik. Aku heran kenapa Mrs. Kim mau merawat anak dari keluarga seperti itu”

Changmin tersentak. Ia mengeram kesal lalu berbalik pergi meninggalkan kelas yang tampaknya sudah tidak bersahabat itu. Dan baginya, ini pertama kali untuknya mengetahui siapa orangtua Jaejoong yang sebenarnya. Selama ini, Jaejoong selalu menghindar setiap Changmin menanyakan tentang keluarga kandungnya. Namun ia harus tahu kebenaran dari mulut Jaejoong langsung. Maka ia memutuskan untuk mengunjungi rumah Jaejoong, lagi.

***

*tok! Tok! Tok!*

Mrs. Kim membuka pintu rumahnya. Seorang namja tampan berdiri dan tersenyum manis didepan pintunya. Mrs. Kim menyambutnya dengan baik lalu mempersilahkannya masuk.

“Kau mencari Jaejoong?”

“Ne ahjumma. Dimana hyung?”

“Dikamarnya!”

Changmin langsung membungkukkan badannya dan pergi menuju kamar Jaejoong.

*Tok! Tok! Tok!*

“Masuk saja, tidak dikunci!” teriak Jaejoong dari dalam kamar.

Changmin membuka kenop pintunya dan mendapati Jaejoong dengan kaos polos dan celana santainya sedang duduk didepan meja belajar sambil menuliskan sesuatu. Changmin mendekatinya dan membacanya dari belakang.

“Hyung, membuat lagu lagi?”

Jaejoong menoleh saat mendengar suara Changmin.

“Kau… Hhee… Ne. Aku sedang ingin menulis”

Changmin duduk ditempat tidur Jaejoong sambil membuka halaman demi halaman sebuah buku yang berisi lukisan – lukisan.

“Hyung, gambar – gambar ini hyung yang buat?”

“Bukan, itu milik yeodongsaeng ku”

“Yeodongsaeng? Rasanya aku baru sekali ini mendengar hyung punya saeng”

Changmin mengerutkan alisnya. Jaejoong tersenyum, melihat ekspresi kebingungan diwajah Changmin. Ia menghentikan aktifitasnya lalu menatap Changmin sambil tersenyum hangat.

“Dia itu putri kandung dari adik eomma ku. Dulu sewaktu kecil, dia sering sekali datang kesini dan membawa banyak lukisan – lukisannya”

Changmin mengangguk sebagai tanda mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh Jaejoong. Jaejoong pun kembali menekuni kertas yang sedang dicoretnya sejak tadi. Beberapa saat kemudian, Changmin baru ingat soal maksud kedatangannya kerumah Jaejoong. Ia menarik nafas dalam dan mengubur rasa khawatir kalau – kalau Jaejoong marah setelah mendengar pertanyaannya.

“Hyung, kenapa hari ini tidak masuk?”

“Aku sedang tidak enak badan, sejak kemarin” Jaejoong menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas dihadapannya itu.

“Hyung… Boleh aku tanya sesuatu?”

“Tanya saja, aku akan menjawabnya dengan jujur” lagi – lagi Jaejoong tidak mengalihkan perhatiannya dari kertas lirik tersebut.

“Hyung, ku harap kau tidak marah”

“Tidak akan Shim Changmin”

Changmin tersenyum mendengar jawaban Jaaejoong. Dia tahu kalau Jaejoong tipe orang yang selalu menepati janjinya. Hal ini membuatnya sedikit tenang.

“Apa benar appa hyung itu seorang pembunuh?”

*pluk!*

Pena yang sedari tadi dipegang Jaejoong, terlepas dari tangannya. Changmin menatapnya sedikit khawatir. Jaejoong memutar tubuhnya lalu menghadap ke arah Changmin, ia menarik nafas dalam sejenak, memandang saengnya itu lalu tersenyum. Senyuman hangat yang sama saat pertama kali mereka berjupa. Senyuman yang mengisyaratkan persahabatan.

“Kau kekelas ku?”

“Uhmm… Mianhe hyung, aku hanya sedikit heran hari ini hyung tidak mengantar bekal seperti biasa” jawab Changmin sedikit kaku.

“Aku tidak bisa mengelak. Aku tidak akan membohongi mu, namun itulah keadaannya. Appa ku membunuh eomma karena sebuah kecemburuan. Mereka mengatakan yang sebenarnya… Aku bukan anak dari keluarga baik – baik. Mrs. Kim terlalu baik pada ku. Jadi, sekarang terserah dengan mu, Changmin. Aku tidak memaksa mu untuk tetap jadi teman ku”

Lagi – lagi Jaejoong menunjukkan senyuman hangatnya, namun kali ini ada yang berbeda. Senyuman itu terlihat rapuh dan sedih. Bahkan matanya yang biasa bercahaya itu kini meredup dan menatap Changmin dengan sendu.

“Hyung…”

“Jangan paksa dirimu Changmin. Mereka mungkin akan memusuhi mu jika tahu kalau kau berteman dengan ku. Aku tahu teman – teman itu sebuah hal yang penting dan menyenangkan…”

“Hyung! Dengarkan aku dulu!”

Changmin menaikkan nada suaranya dan membuat Jaejoong memotong ucapannya dan menatap Changmin dengan heran.

“Waeyo?”

“Hyung… Aku mengenal mu bukan satu atau dua tahun, aku tahu mana teman yang baik untuk ku. Hyung, tidak peduli bagaimana latar belakang keluarga mu, yang ku lihat hanya bagaimana hyung yang sebenarnya. Hyung, kau dan appa mu orang yang berbeda meski didalam diri hyung mengalir darah appa mu”

Baru sekali ini ada yang mau berteman dengan tulus seperti Changmin. Jaejoong menyayanginya sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Jaejoong selalu senang menatap Changmin yang menunjukkan wajah cerianya. Ia merasa memiliki seorang teman sekaligus namdongsaeng.

“Kau sudah dewasa rupanya” ucap Jaejoong ringan lalu kembali menghadapi kertas diatas mejanya sambil kembali menggenggam pena.

“Hyung…”

“Waeyo? Ada yang ingin kau tanyakan lagi?”

“Ne. Apakah semua lirik lagu yang hyung buat itu ada hubungannya dengan kehidupan mu? Aku selalu suka dan terperangah setiap membaca kata – kata yang kau buat. Semuanya seolah hidup dan nyata. Bahasa halus dan penuh dengan makna”

“Apa itu berat untuk mu?”

“Aniya, aku menyukainya hyung”

Jaejoong hanya mengangguk sambil tersenyum tanpa menoleh kearah Changmin, namun dia tahu kalau hyung kesayangannya itu tidak marah padanya. Itu pun sudah membuatnya tenang.

“Kau tidak les? Kenapa kau kerumah ku dijam segini, les baru selesai saat matahari terbenam kan? Dan ini masih cukup sore untuk itu”

“Aish! Aku sangat mengkhawatirkan mu, hyung! Aku sampai lupa kalau ada jadwal les hari ini. Hufht… Biarlah… Hyung, aku ke dapur ya… Lapar~”

“Sesuka mu Changmin – a”

Changmin nyengir lalu melepas tas ransel dan meninggalkannya. Ia pergi menuju dapur. Sedangkan Jaejoong menatap keluar jendela sekilas lalu tersenyum.

“Tuhan mengirimi ku seorang teman dan adik yang baik… Terimakasih…” doanya tulus.

Jaejoong pun kembali merangkai kata diatas kertas putih itu.

***

Next part…

“Annyeonghaseyo~”

“Dia… nugu?”

“Hhaa… Gomawo atas bantuannya, dia pasti senang!”

“Jadi dia yang hyung ceritakan waktu itu?”

“Apa keahlian khusus mu?”

“Aku tidak punya bakat seperti kalian!”

“Kau! Belajarlah yang benar! Aku percaya pada mu”

Kira – kira ada apa ya? Kok bocoran next partnya agak ruwet? (-,-)

#authoryangbingungsendiri

One comment

  1. cassiopeiay · May 31, 2012

    ternyata bapaknya jaejoong yaampun…… tp gpplah yg penting kan bkn jaejoongnya yg kyk gitu hehehe

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s