My Lovely Girl [Sekuel] My Lovely Teacher (Part2)

Title     : My Lovely Girl  [Sekuel] My Lovely Teacher (Part2)

Author : Siska Sri Wulandari

Cast     : Myung Soo [Infinite]

            : Kim Hana

            : Nam Wohyun [Infinite]

: Lee Howon (Hoya) [Infinite]

Cameo : Shin Ri Young

: Han Jihye

: Lee Taemin [Shinee]

: Jiyoung

: & Infinite member

Nb: cast bisa bertambah kapan saja. Author lagi miskin judul, jadi Cuma nambahin sekuel di depan judul yang pertama. Author butuh bantuan untuk nentuin judul. Yang ada masukan tolong dibantu yaa#Pak Tarno modeon. Gomawo…

Happy Reading ^^

*Yeoja “aneh” POV*

“Mianhee, nona. Bisakah kau berhenti mengibas-ngibaskan rambutmu? Rambutmu menusuk mataku.” Kata namja yang tadi menepuk pundakku sambil menunjuk matanya yang berair.

Ommo, Ommo, Ommo! Dia benar-benar tampan. Bahkan lebih tampan dari Wohyun. Astaga dia benar-benar menggemaskan. Tanpa sadar aku terus memperhatikannya, sampai akhirnya dia menggoyang-goyangkan tangannya di hadapanku dan aku pun tersadar dari hipnotis ketampanannya.

“Mianhee, Mian, aku tidak sengaja.” aku merogoh tasku dan mengeluarkan obat mata. Aku pun memegang pipinya dan bermaksud meneteskan obat mata tersebut yang sepertinya membuatnya syok.

“Heekh? Kau mau apa?” tanyanya kaget sambil mundur beberapa langkah.

“Matamu merah, harus segera diobati.” Kataku yang tetap berusaha menggapai matanya.

“Ahh, tidak usah. Aku baik-baik saja.” Jawabnya sedikit histeris sambil keluar dari antrian dan menuju meja kasir yang lain, meskipun antriannya lebih panjang.

“Pasti dia menganggapku aneh. Aigoo, dia benar-benar tampan”. Gumamku sambil berusaha mencari keberadaan namja tampan itu.

*END POV*

            Myung Soo merasa kesal karena daritadi ponsel Hana tidak bisa dihubungi. Dia tahu dengan siapa saat ini Hana sedang menelepon. Ya, siapa lagi kalau bukan dengan Hoya. Pernah terlintas rasa cemburu melihat kedekatan Hana dan Hoya, tapi Myung Soo segera membuang jauh-jauh pikiran semacam itu. Untuk apa cemburu pada sahabat kekasih sendiri, toh selama ini Hoya lah yang selalu menjaga Hana. Tiba-tiba seseorang memanggil nama Myung Soo.

“Myung Soo.” Sapa Wohyun dengan ramah yang membuat Myung Soo menjatuhkan ponsel yang daritadi di pegang olehnya.

“Kau? Bagaimana bisa kalian di sini?” Myung Soo segera berdiri dari duduknya.

“Annyeong, bagaimana kabarmu?” tanya laki-laki setengah baya yang ada di hadapan Myung Soo.

“Belum puaskah kalian menghancurkan kami?” tanya Myung Soo ketus.

“Kau lupa apa yang dikatakan Hana, kita harus akur-akur karena kita ini bersaudara.”  Wohyun merangkul pundak Myung Soo sambil tersenyum.

“Cihh, tidak usah kau bawa-bawa Hana dalam urusan ini.” Myung Soo menghempaskan rangkulan Wohyun dengan kasar.

“Bersikaplah lebih sopan pada tamu, chaggi.” Tiba-tiba ibu Myung Soo keluar dari dapur.

“Umma, apa perlu hal seperti itu kita lakukan pada mereka!” Myung Soo menunjuk Wohyun dan ayahnya secara bergantian dengan menggunakan telunjuknya.

“Duduklah.” Pinta ibu Myung Soo lembut.

“Gomawo ahjuma, maksud kedatangan kami kemari hanya ingin bertemu Myung Soo dan…”

“Dan apa?” tanya Myung Soo ketus.

“Aku akan membiayai kuliah Myung Soo.” Jawab ayah Wohyun sambil merapikan dasinya.

“Bwoo? Apa katamu? Membiayai kuliahku? Kau pikir aku ini pengemis? Eoh?” bentak Myung Soo.

“Tenanglah chagi.” Ibu Myung Soo berusaha menenangkan Myung Soo.

“Kami hanya ingin membantumu.” Kata Wohyun.

“Pernahkah aku mengatakan aku butuh bantuan kalian? Tidak usah berlagak baik padaku. Aku sudah cukup mengenal seberapa liciknya kalian. Pergilah!” Myung Soo membuka pintu rumahnya dan mengusir Wohyun dan ayahnya,

“Kami benar-benar ingin membantumu.” Ayah Wohyun kembali bersuara.

“Berikan saja bantuanmu itu pada orang lain!” bentak Myung Soo.

Dengan terpaksa Wohyun dan ayahnya pergi meninggalkan kediaman Myung Soo.

*Myung Soo POV*

Aku harus segera mendapatkan pekerjaan agar mereka tidak beranggapan lagi kalau kami membutuhkan mereka. Setelah luka yang dia sisakan pada kami dengan mudahnya dia datang untuk menawarkan bantuan. Cih, sampai kapan pun aku tidak akan pernah sudi. Tapi kenapa umma tidak bisa berhenti untuk selalu bersikap baik pada bajingan seperti dia. Begitu sulitkah dia untuk dilupakan? Apakah luka yang ditinggalkannya masih kurang bagi umma untuk membencinya? Saat ini aku benar-benar butuh sosok Hana di sisiku. Aku sangat merindukan senyumannya. Aigoo, sampai kapan kesanggupanku untuk berpisah dengannya.

*END POV*

***

“Apa yang saat ini sedang kau lakukan?

Aku sedang memikirkanmu.

Apakah kau juga memikirkanku?” Yang kesekian kalinya Hana menulis kalimat-kalimat tersebut di bukunya. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Aku rindu dengan wajah dinginmu yang selalu mengkhawatirkanku.

Hana mengambil ponselnya ketika mendengar ponselnya berdering, tanda ada yang menelepon. Betapa senangnya Hana mendapati id Myung Soo yang tertera di layar ponselnya. Hana pun dengan terburu-buru mengangkat telepon dari Myung Soo. Belum sempat Hana mengatakan halo, Myung Soo langsung membuka pembicaraan.

“Bisakah kau tersenyum untuk mengurangi bebanku?” kata Myung Soo lirih.

“Ada masalah?” jawab Hana dengan nada cemas.

“Mereka kembali mengusik kami.”

“Mereka siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan Wohyun dan ayahnya.”

“Kau masih belum bisa memaafkan mereka?”

‘Molla, aku juga bingung. Aku membenci mereka tapi kadang-kadang hati nuraniku memberontak ketika aku bertindak kasar pada mereka.”

“Hilangkan dendammu maka hati nuranimu takkan berontak lagi.” Jawab Hana bijak.

“Semua orang selalu mengatakan bahwa tidak baik mendendam pada orang lain, tapi mereka tidak tahu bagaimana sulitnya melupakan sebuah dendam.”

“Arrasso, tapi kau tidak mungkin hidup dengan dendam.”

“Bantu aku Hana, aku benar-benar butuh kau di sini. Ayah Wohyun berniat membantu membiayai kuliahku, aku harus segera mendapatkan pekerjaan agar tidak dianggap remeh oleh mereka.”

“Kau bisa meminta bantuan Hoya untuk mencarikanmu pekerjaan, nanti aku akan berbicara padanya.” Hana mencoba memberikan solusi.

“Apakah itu tidak merepotkannya?”

“Gwenchana, dia pasti mau membantu kita.” Hana mencoba menyakinkan Myung Soo.

“Terkadang aku sedikit cemburu ketika kau terlalu bergantung padanya.” Sindir Myung Soo.

“Hahaha. Jiinjaa? Yang benar saja, kau cemburu pada orang yang salah. Tidak akan ada perasan sayang diantara kami selain sebatas sahabat.”

“Nee, nee, aku percaya pada kalian.” Kata Myung Soo.

“Aku ingin melihat ekspresi cemburumu.” Goda Hana.

“Aku sedang tidak mood untuk diganggu.”

“Aish, kau ini lupakan saja masalah itu, semuanya pasti akan segera beres.” Tambah Hana.

“Blaa, Blaa, Blaa.”

“Blaa, Blaa, Blaa.”

–Skip—

***

“Hoya, bisakah kau bantu aku mengerjakan soal yang ini?” tanya Ri Young pada Hoya yang duduk di sampingnya.

“Mana?” tanya Hoya sambil mengalihkan pandangannya dari bukunya dan mulai membantu mengerjakan soal Ri Young.

“Gomawo.” Kata Ri Young setelah Hoya selesai mengerjakan soalnya.

“Hmmb.” Jawab Hoya sambil kembali fokus pada tugasnya.

Taemin menyikut Hoya. “Sampai kapan kau mau terus menjomblo?” tanya Taemin.

Hoya menatap Taemin dengan aneh cukup lama yang membuat Taemin jadi salah tingkah.

“Haruskah kau melontarkan pertanyaan bodoh seperti itu di saat jam pelajaran seperti ini?”

“Bwoo? Pertanyaan bodoh katamu. Kau yang bodoh!” teriak Taemin sambil berdiri dari kursinya sehingga membuatnya ditegur oleh dosen yang saat itu sedang mencatat di papan tulis.

“Hahaha, sekarang terbuktikan siapa yang bodoh!” Ejek Hoya sambil memeletkan lidahnya pada Taemin yang hanya bisa menggerutu.

“Kalian ini berisik sekali sih.” Ri Young ikut-ikutan memarahi Taemin dan Hoya.

“Dia yang memulai.” bantah Hoya sambil fokus pada soalnya.

Tidak sadarkah kau akan keberadaanku? Tidak pernahkan kau lihat senyumku saat kau ada di dekatku? Tidak pernahkah kau mendengar detak jantungku yang tak karuan setiap kau bersamaku? Kau yang tidak sadar atau memang kau pura-pura tidak menyadarinya? Eoh?” gumam Ri Young sambil menggigit ujung pensilnya dan kembali fokus pada tugasnya.

***

            Jiyoung menendang-nendang kerikil yang ada di jalan setapak yang sedang di lewatinya.

“Aaah, aku benar-benar harus menemukan laki-laki itu.” teriak Jiyoung sambil kembali menendang kerikil yang ada di hadapannya. Tiba-tiba matanya tertuju pada seorang namja yang sedang membaca buku di dalam mobilnya.

“Tuk, Tuk, Tuk.” Jiyoung mengetuk kaca jendela mobil tersebut.

Hoya yang sedang asyik membaca pun terpaksa menghentikan kegiatannya melihat kedatangan Jiyoung dan membuka kaca jendela mobilnya.

“Annyeong, ingat aku?” tanya Jiyoung sumringah sambil menunjuk-nunjuk dirinya.

“Nuguya?” tanya Hoya sambil berusaha mengingat-ngingat.

Jiyoung menunjuk-nunjuk matanya yang akhirnya berhasil membuat Hoya menemukan ingatannya tentang Jiyoung.

“Kau.” Kata Hoya dengan sedikit nada khawatir.

“Kau sudah ingat?” tanya Jiyoung centil.

“Nuguya?” tiba-tiba Taemin datang dan menepuk pundak Jiyoung dari belakang.

“Pertanyaanku juga sama untukmu. Ahh, bukan untukmu tapi untuk kalian.” Jawab jiyoung sambil menatap Ri Young sinis dan memperhatikannya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.

“Dia yeojachingumu?” tanya Jiyoung sinis sambil menunjuk Ri Young yang ada di sebelah Taemin.

Hoya, Taemin dan Ri Young hanya diam berjamaah melihat tingkah aneh Jiyoung.

“Kau yeojachingunya?” tanya Jiyoung lagi sambil sedikit mendorong tubuh mungil Ri Young.

“Tentu saja bukan.” Jawab Ri Young sedikit kesal yang tidak suka dengan sikap Jiyoung.

“Mianhee, kami harus pergi.” Hoya mengisyaratkan Taemin dan Ri Young untuk masuk ke dalam mobil. Ri Young dan Taemin pun segera masuk ke dalam mobil.

“Chakkaman. Aku belum tahu siapa namamu.” Jiyoung meraih tangan Hoya yang akan menutup kaca jendelanya.

“Aku rasa kau tidak perlu tahu siapa namaku.” Jawab Hoya sedikit gugup karena mulai merasa risih dengan sikap Jiyoung.

“Ani! Tentu aku perlu tahu siapa namamu.”

“Lee Howon! Tapi kau cukup memanggilnya Hoya!” Taemin menjawab pertanyaan Jiyoung dengan kesal sambil menutup kaca jendela di samping Hoya.

Hoya pun segera mengegas mobilnya. “Bagaimana kau bisa menemukan psikopat seperti dia.” Kata taemin sambil bergidik.

“Aku tidak sengaja bertemu dengannya.” Jawab Hoya cepat khawatir Taemin salah paham.

“Iih, aku lebih suka wanita-wanita kalem seperti Ri Young.” Kata Taemin sambil menunjuk Ri Young dengan sudut matanya. Hoya pun melirik Ri Young dari kaca spion.

“Sudah ketemu bukunya?” tanya Hoya pada Ri Young yang duduk di bangku belakang.

“Nee.” Jawab Ri Young singkat dan segera memalingkan wajahnya ke luar jendela.

Begitu banyak yang mengagumimu, pantas kalau kau tidak bisa merasakan keberadaan hatiku yang sepenuhnya telah kuberikan padamu.” Gumam Ri Young sambil menepuk-nepuk dadanya pelan. “Appo.” Batin Ri Young.

Hoya yang menangkap pemandangan tersebut hanya memberikan tatapan bingung pada Ri Young, gadis yang selama beberapa hari ini menjadi dekat dengannya karena satu kelompok belajar dengannya.

***

“Cantik, kaya, cerdas dan memiliki segala kesempurnaan yang diinginkan oleh para gadis. Jadi tidak salahkan kalau aku bersikap sombong? Justru memang ditakdirkan bersikap seperti itulah gadis seperti aku.” Gumam Jihye sambil terus mematut dirinya di depan cermin hiasnya. “Aku bahkan lebih cantik dari Song Hye Gyo.” Gumamnya lagi.

“Jihye, berhentilah bercermin. Matamu tetap akan ada dua meskipun kau berjam-jam berdiam diri di depan cermin.” Tiba-tiba ayah Jihye mengagetkannya dan berdiri di ambang pintu kamar Jihye.

“Appa!” kesal Jihye dengan nada manja.

“Bantulah appamu ini untuk mencari artis baru.”

“Cari saja yang lain, sudah kubilang kan aku tidak mau menjadi artis!”

“Kau ini! Hidup sebagai artis itu sangat menyilaukan. Kau lihatkan betapa makmurnya orang-orang yang telah appa mu ini terbitkan menjadi bintang Top di Seoul.

“Bukankah appa sudah kaya? Berarti aku tidak perlu lagi bekerja keras kan?” tanya Jihye sinis.

“Nee, nee, nee. Setidaknya bantu ayahmu ini untuk mencari calon artis baru.”

“Aku terlalu sibuk appa.” Gerutu Jihye sambil memijit-mijit wajahnya.

“Kau ini! Ubah sikap arogantmu itu kalau ingin mendapatkan laki-laki baik.”

“Selalu saja ujung-ujungnya membicarakan hal itu.” Protes Jihye.

“Sudahlah, appa capek berdebat denganmu!” Ayah Jihye membanting pintu kamar Jihye dengan kesal.

“Ck, aku juga kesal dengan sikap appa.” Rutuk Jihye sambil memandang pintu kamarnya sekilas dan kembali dengan aksi bercerminnya.

***

TBC…

Part ini khusus untuk pengenalan-pengenalan tokoh baru yang akan muncul di part-part selanjutnya. Gomawo. Semoga nggak ngebosenin J

5 comments

  1. L_woo jinki · November 25, 2011

    like this thor…bikin penasaran ajh, cepetan dong thor bikin lg lanjutannya….please ngepost nya jgn lama2 yah….trus klo bisa sering2 dong bikin ff ttg infinite. asal tau ajah thor yg baca nih ff tuh dah byk. soalnya gwa promosiin sama temen2 gwa. tpi mereka tuh pd males bwt ngekomen. percaya deh ama gwa. pokoknya gwa tunggu lanjutannya yah… gomawo🙂 *reader byk minta*

  2. postal rates · December 2, 2011

    i love your blog, i have it in my rss reader and always like new things coming up from it.

  3. kyuwonhae · August 6, 2012

    young rin suka hoya ??? Waahh ky y cocok toh😀

  4. Crystal Princess Shin Ri Sung · August 28, 2012

    Cameo-nya Shin Ri Young?Hampir sama kayak nama koreanku,Shin Ri Sung.🙂

  5. Amel Lee · August 18, 2013

    Ommo.. jadi bener ya yeoja aneh itu si jiyoung -____-” udah curiga sih dari awal… jihye itu siapa thor ? *watados* *plakkkk*

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s