REMEMBER (Wipe Your Tears For Me) part I

wed.051011.09:55am.inmyroom

Cast : -Park Yeo Min-Lee Sung Yeol (Infinite)-Kim Sung Gyu (Infinite)-

Author : Agnia Afri Yunita a.k.a Han Ri Young


cuap -cuap :

annyeong hasaeyo! agnia imnida. kkkkkk~ fiuhhh.. (narik napas) entah ini bisa disebut sebagai debut atau enggak. yang penting ngisi note #plakk!😄 semua author sepertinya memimpikan saat-saat ini ya..? meskipun enggak seberapa dibandingkan karya author seonbae lain yang lebih berpengalaman, tapi ketika menulis ini pikiranku benar-benar terkuras *lebay! XP judul awalnya sebenernya PLEASE, REMEMBER ME! tapi waktu lihat wiper mobil tetangga jadi jatuh cinta sama kata ‘wipe’. jadilah judulnya seperti yang diatas kekekeke😛 nah! enjoy😀


October 5th 2011, the dawn after that nightmare

Please stay here, I’m asking you a favor, I’ll treat you better

I can’t let you go yet

“ ahh! “

Yeoja itu tersentak bangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah. Ia baru saja bermimpi buruk. Buruk sekali! Tatapannya terlihat panik dan untuk sementara waktu ia seperti kehilangan ‘kesadaran’. Baru setelah beberapa menit ia menarik napas panjang dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan, frustasi. Ia berdiri dan mengitari kamarnya yang gelap. Diliriknya sekilas beranda di balik tirai. Masih gelap. Ia kembali berjalan menuju sudut kamarnya yang lain dan berhenti tepat di depan meja rias. Ia menatap cermin besar yang dipasang di situ dan terpaku menatap seorang yeoja yang juga sedang menatap padanya.

Yeoja itu mengenakan gaun hitam selutut dan stocking yang juga berwarna hitam. Rambutnya yang panjang terurai begitu saja di atas bahu dan punggungnya, sebagian yang lebih pendek menutupi wajahnya yang terlihat pucat. Matanya bengkak dan sembap, dan cekung. Tatapannya tanpa ekspresi. Bibirnya kering dan keriput. Yeoja itu menatapnya nanar.

“ kau mengerikan! “ desisnya pada yeoja itu. Yeoja itu hanya mengernyit, lalu berkata, “ kau lebih mengerikan. “

“ kau sangat kotor, kau… kau… kau tidak terurus!! “ ia berteriak marah. Namun yeoja itu menjawabnya dengan sangat lembut.

“ kau lebih buruk dari itu. “

Yeoja itu mengangkat tangan, menyentuh wajahnya perlahan. Dan ia hanya mampu menatap ngeri pada tangannya sendiri. Ia bergidik.

“ kenapa aku melakukan gerakan yang sama denganmu?! Sihir apa yang kau lakukan, hah?? “ lagi-lagi ia berteriak marah, namun lagi-lagi yeoja itu hanya tersenyum.

“ masa kau tidak ingat ini wajah siapa? “ tanyanya santai. Ia terus mengelus-elus wajahnya yang tampak kacau itu.

“ itu… “ ia tergagap. Ia ketakutan dan mundur beberapa langkah. “ itu… wajah… ku… “

Yeoja itu mengangguk senang. “ geurae, ini wajahmu. Ini juga wajahku. “

“ aniyo… “

“ kau adalah aku. Aku adalah kau. “ yeoja itu berjalan mendekat. Seringainya yang lebar membuatnya semakin mengerikan.

“ aniyo! “

“ kau adalah bayanganku. Aku adalah bayanganmu. “

“ aniyo! ANIYO!! “ ia meraih tongkat baseball dan melemparnya ke arah yeoja itu. Yeoja itu menghilang seiring bunyi PRANGG!! Yang sangat keras dan serpihan-serpihan cermin yang berhamburan di udara. Refleks ia menunduk di balik kursi dan menutupi kepala dengan dua tangannya.

“ ahh… “ ia meringis ketika sebuah serpihan kecil yang tajam menancap di punggung tangan kirinya. Lalu suara yang kering dan parau itu terdengar lagi.

“ kau tidak akan bisa lari dariku. Kita menempel. Kita satu tubuh, satu wajah. Kita menggunakan semuanya bersama-sama. “

“ DIAM! “ ia menutup telinganya rapat-rapat, namun suara mengerikan itu masih saja terdengar.

“ kau dan aku adalah satu. Aku bagian darimu. Kau bagian dariku. Namamu Park Yeo Min. dan namaku juga Park Yeo Min. “

Yeoja yang bernama Park Yeo Min itu menggeleng kuat-kuat. Matanya dipejamkan, namun air mata tetap mampu menerobos keluar dari celahnya. Ia terus berteriak, “ DIAM! DIAMM!! Aku Park Yeo Min dank au bukan!! Aku tidak mengenalmu!! Kau setan! SETAN!! Pergi dari apartemenku! PERGI! PERGIII!! “

Ia berteriak sangat keras, dan setelahnya ia tidak mendengar suara mengerikan itu lagi. Suara itu benar-benar hilang dan suasana menjadi begitu hening. Ia tidak mendengar apa-apa selain detak jantung dan desah napasnya sendiri. Juga jarum-jarum jam dinding yang bergerak teratur di luar kamar. Bahunya merosot. Ia menumpukan kepalanya di antara kedua lututnya. Pikirannya benar-benar kacau.

KRIING… KRINGG… KRIINGG…

Ia tersentak kaget ketika telepon di samping tempat tidurnya bordering. Alih-alih menjawab, ia hanya terpaku memandanginya sampai dering itu berhenti. Lalu bordering lagi, lagi, dan lagi. Lalu berhenti lagi. Yeo Min tetap terpuruk di tempatnya duduk saat sebuah suara terdengar dari kotak suara. Suara namja.

[ Yeo Min~ah ini aku, Sung Gyu. Mian kalau kau merasa terganggu. Aku menelepon kesini karena ponselmu tidak aktif. Ng… aku hanya ingin memastikan, apa kau baik-baik saja? Kalau kau merasa butuh teman mengobrol, aku akan bolos kuliah hari ini. Aku akan ke apartemenmu dan menemanimu seharian. Aku akan di sana sampai kau merasa lebih baik. Ng… kalau sampai jam 6 kau belu mengabariku, aku akan datang. Eum, itu saja… jalgayo… ]

KLIK! Tut… tuut… tutt…

Yeo Min melirik jam alarm di sisi telepon, 05:50. Dahinya mengernyit. “ apa aku lupa memasang alarm? “ gumamnya, tapi kemudian ia menggeleng. Alarm itu sudah di-setting untuk berbunyi setiap jam 3 setiap paginya. Ia mendesah panjang, lalu mengambil keputusan bahwa mungkin alarm itu telah berbunyi jam 3 tadi. Mungkin ia tidak dengar. Mungkin mimipi buruk itu yang menyumpal telinganya supaya ia tidak terbangun saat alarm itu berbunyi. Terlalu banyak kata ‘mungkin’ yang berkelebat di benaknya. Mungkin salah satunya benar. Atau mungkin tidak ada yang dengar sama sekali. Yeo Min menggeleng frustasi. Ia benar-benar tidak tau kemungkinan mana yang berpihak padanya.

Perlahan ia bangkit dan berjalan limbung menuju meja kecil di sisi tempat tidur. Diraihnya gagang telepon dan jarinya sibuk memencet tombol-tombol angka. Ia terdiam menunggu orang itu menjawab panggilannya.

“ Yeo Min~ah? “ jawab suara itu tergesa-gesa.

“ aku sudah mendengar pesanmu. Terima ksaih karena mencemaskan aku. Tapi aku baik-baik saja. Sungguh. Kau tidak perlu datang dan bolos kuliah. Ah, ya! Hari ini aku juga akan ke kampus. Aku ada kelas. “ Yeo Min mengucapkannya datar. Suaranya polos tanpa ekspresi. Sung Gyu terdiam cukup lama sebelum menjawab.

“ aku akan menjemputmu. “

“ aniyo. Tidak perlu. Aku berngkat dengan Sung Yeol. Biasanya juga begitu, kan? “

“ Sung Yeol?? “

“ eum. Ah! Aku harus cepat-cepat menyiapkan sarapan. Sebentar lagi dia pasti datang minta makanan. Hahaha… “ bahkan Yeo Min sendiri pun bergidik mendengar tawanya yang kering. “ sudah, ya… “ lirihnya sebelum meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya. Matanya beralih pada serpihan kaca kecil yang menancap di punggung tangan kirinya. Dengan satu sentakan ditariknya serpihan itu hingga tercabut sepenuhnya. Ia terpaku menatap darah yang keluar dari luka itu.

“ sakit… “ gumamnya. Namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kesakitan. Ia menggesekkan punggung tangan yang berdarah itu pada gaun hitam yang ia kenakan. Lagi dan lagi, sampai darahnya berhenti mengalir. Ia bangkit, keluar dari kamarnya menuju dapur. Dari salah satu lemari dikeluarkannya kotak P3K, lalu mengolesi lukanya dengan kapas yang dibasahi alkohol. Setelah mandi, berpakaian, dan merapikan rambut, Yeo Min mulai sibuk di dapur. Memasak air, menyeduh dua cangkir the, membakar empat lembar roti, menggoreng dua butir telur, dan mencuci beberapa apel. Hanya itu menu sarapan yang mampu ia siapkan tiap paginya dalam waktu yang sesempit ini. Ia baru saja meletakkan apel-apel itu di keranjang buah di atas meja makan ketika bel di pintu depan berbunyi. Yeo Min bergegas mendatanginya dengan wajah berseri-seri. Melalui lubang sempit di daun pintu ia mengintip keluar. Lalu dengan tersenyum lebar dibukanya pintu itu cepat-cepat.

“ aku mencium bau surga. “

Namja jangkung itu mengendus-endus sambil memejamkan matanya. Yeo Min tertawa geli.

“ ah… Sung Yeol~ “

“ oppa! “ potong namja yang bernama Sung Yeol itu sambil menarik Yeo Min ke dalam pelukkannya. “ panggil aku oppa. Harus berapa kali aku mengatakannya? Aku kan pacarmu, lagipula aku juga lebih tua. Jadi kau harus memanggilku oppa. Arasso? “

Yeo Min tersenyum geli, namun ia mengangguk juga. “ ara~ “ jawabnya. Ia melepaskan diri dari pelukan Sung Yeol dan menariknya masuk ke dalam ruang makan yang sekaligus dapur apartemennya. “ oppa, ayo kita sarapan! Semuanya akan jadi tidak enak jika sudah dingin. “

Mereka duduk berhadapan di meja kayu itu. Yeo Min melepas celemeknya dan menyampirkannya pada sandaran kursi. Lalu dengan cekatan jari-jarinya yang ramping mengoleskan selai kacang dam cokelat di atas dua lembar roti, menumpuknya, lalu meletakkannya di atas piring Sung Yeol. Namja itu terus memandang setiap gerak-geriknya sambil tersenyum, seolah tidak ingin melewatkan satu hal pun yang dilakukan Yeo Min. yeo Min melakukan hal yang sama dan menaruhnya di atas piringnya sendiri. Diambilnya garpu dan sendok, lalu mulai memotong-motong roti bakarnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Dua suapan. Yeo Min berhenti mengunyah ketika menyadari piring Sung Yeol tidak tersentuh sama sekali. Ia mendongakkan kepalanya, menatap Sung Yeol.

“ kenapa tidak dimakan? Kenapa hanya memandangiku saja? “

“ aku sedang merekam dirimu. Menghapal semua gerak-gerikmu dan menyimpannya baik-baik di dalam otakku. “

Yeo Min mengernyit bingung. “ merekam? “ tanyanya.

“ eum. Jika suatu saat nanti salah satu dari kita harus pergi lebih dulu, aku tidak akan menyesal. Karena aku telah memenuhi pikiranku dengan sosokmu, senyummu, semuanya. Jika saat itu datang dan aku merasa ragu, takut, dan kesepian, aku akan memutar kembali ingatanku tentangmu. Dan aku pasti akan baik-baik saja. “

Kerutan di dahi Yeo Min semakin dalam. “ ng… geuraeyo. Lalu, kenapa kau tidak makan? “

Sung Yeol menatap piringnya serta roti bakar dan telur goreng di dalamnya. Lalu cangkir the yang masih mengepul. Ia tersenyum tipis. “ aku pasti akan merindukan ini. “ gumamnya lirih.

“ kalau begitu, habiskan. Aku kan sudah capek-capek membuatnya untukmu. “ Yeo Min menggerutu. Namun Sung Yeol masih tetap diam. “ oppa sudah bosan dengan menu sarapan ini? “

Yeo Min hanya bergumam lirih, namun itu mampu membuat Sung Yeol mendongak tiba-tiba dan menatapnya sedih. Ia menggeleng kuat-kuat. “ aniyo. Bukan begitu. “

“ jangan –jangan oppa tidak pernah menyukai sarapan buatanku? “ Yeo Min menggerutu lagi dan Sung Yeol jadi salah tingkah karenanya. “ aku minta maaf karena hanya bisa menyiapkan ini untuk sarapan setiap hari, kau tau kan waktuku tidak banyak? “

“ Yeo Min~ah… “

“ gokjonghajima. Mulai hari ini aku akan belajar membuat menu sarapan yang lain, dan mulai besok aku akan mencoba bangun lebih pagi. Tapi kau harus janji untuk menghabiskan sarapanmu. Huh? “

“ Yeo Min~ah… “

Yeo Min menunduk dan kembali menyuapkan potongan-potongan roti bakar ke dalam mulutnya. Ia tersenyum ketika Sung Yeol mulai menyentuh sarapannya walaupun hanya menggigit ujungnya saja.

“ gomawo. “ gumamnya sambil tersenyum. Lama ia terdiam memandangi piringnya yang tinggal setengah penuh. Bibirnya bergetar dan pandangannya berkabut. Lama-kelamaan kabut itu mengalir membasahi pipinya. Kemudian ia terisak-isak hebat. Digigitnya bibirnya kuat-kuat untuk meredam tangisnya, namun tangisnya justru semakin keras.

Sung Yeol panik melihat yeoja yang sangat ia cintai menangis sesenggukan tanpa alas an yang jelas. Ia meraih tangan Yeo Min, menggenggamnya erat-erat dan berusaha menenangkannya.

“ kenapa menangis? “

Yeo Min sesenggukan. Butuh beberapa saat untuknya mampu bersuara.

“ tadi malam aku mimpi buruk. Sangat buruk! Aku benar-benar ketakutan… mimpi itu benar-benar mengerikan dan… dan rasa takut itu masih kurasakan sampai sekarang. Oppa… aku takut… “

Sung Yeol bisa merasakan tangan mungil Yeo Min bergetar dalam genggamannya. Ia mengangkat satu tangannya, menyentuh dagu Yeo Min yang basah dan mengangkat wajahnya yang terus menunduk. Dengan lembut dihapusnya air mata itu.

“ kau tau kan aku paling benci melihatmu menangis?! Jangan menangis lagi. Jebal. Kau harus tetap tersenyum. Untukku. Huh? “

Yeo Min menyerut hidungnya untuk yang terakhir kalinya, lalu mengangguk.

“ nah! Itu baru yeoja-ku. “ Sung Yeol tersenyum, tapi kemudian ia kembali merengut melihat luka kecil namun dalam di punggung tangan kiri Yeo Min. “ ini kenapa? Kau membiarkan dirimu terluka lagi, ya? Aku kan sudah bilang tidak boleh. “ ia mengeluarkan selembar plester dari dalam tasnya dan menempelkannya di atas luka itu dengan hati-hati.

“ jangan terluka lagi, sekecil apapun itu. Aku tidak akan mengizinkan. “

Yeo Min menggigit bibir bawahnya sampai sakit. Air matanya sudah mengumpul di kelopak dan terus mendesak keluar. Tapi ia sudah berjanji pada namja di depannya ini bahwa ia tidak akan menangis lagi. Ia mencoba tersenyum.

TBC

hehe.. gaje?? author juga berpikir begitu😄 mohon dimaklumi yaa~
ditunggu RCLnya >ngarepbenerdah<

ps : bacanya sambil dengerin Infinite – Paradise🙂
annyeong! ^^

One comment

  1. helloimxo · November 30, 2011

    Wah nice FF😀
    Yeol nya perhatian banget sama yeojanya🙂

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s