Untitled [Part 1]

Author : Agnia Afri Yunita | @afriyunita on Twitter
Nadya Febiriani | @nadya940201 on Twitter

Cast : Han Ji-Hye
Han Ri-Young
Ahn Jae-Hyo
Kim Myung-Soo

Cameo : Shin Ri-Young
Song Bi-Eum
Kang Minhyuk

Annyeong…😀

Wahahaha. Akhirnya ini FF bisa ke-publish juga.

Meskipun belom ada judulnya, tapi publish dulu ah. Bisi keburu males.😄
Hahaha. Baiklah, readers, selamat membaca.
Semoga FF ini tidak membosankan bagi kalian.
Kalo perlu nagih kelanjutannya.😄
#disambit sendal jepit

Eniwei, buat para readers yang punya ide buat judul FF ini, langsung komen aja yah..

Komawo sebelumnya.😀

*JIHYE POV*

“Sudah aku putuskan, keluarga kita membutuhkan seorang anak laki-laki untuk meneruskan kepemimpinanku di perusahaan keluarga.” ujar Appa memulai pembicaraan. Ya, hari ini Appa mengumpulkan kami; Eomma, Onni, dan aku di ruang keluarga secara tiba-tiba. Ternyata ini alasannya. Lagi-lagi membicarakan masalah perusahaan keluarga.

“Jadi maksud Appa, Appa meragukan potensi kedua putri Appa ini, untuk memimpin perusahaan? Lalu apa maksud dari ‘membutuhkan seorang anak laki-laki’? Appa dan Eomma akan mengangkat seorang anak laki-laki? Apa-apaan itu? Mengangkat seorang anak laki-laki sedangkan kalian memiliki dua orang putri yang berpotensi untuk menjadi pemimpin perusahaan keluarga kita? Jelas sekali kalian telah meragukan kami!” Riyoung, Onni-ku melontarkan banyak pertanyaan. Dari nada bicaranya, sepertinya dia emosi.

Ya, aku rasa memang wajar kalau dia emosi dengan keputusan yang Appa dan Eomma buat tanpa berdiskusi dulu dengan kami berdua. Mengangkat seorang anak laki-laki bukanlah suatu hal yang bisa dianggap enteng. Ini menyangkut tentang perubahan dalam susunan anggota keluarga. Onni yang selalu dalam posisi ‘leader’ bagiku pasti merasa gerah karena dengan adanya orang itu di dalam rumah posisinya sedikit demi sedikit akan tergerus. Aku tau betul Onni bukanlah jenis yang suka diungguli oleh seseorang yang baru dikenalnya. Dan lagi, meski aku merasa tidak memiliki potensi apapun untuk menjadi pemimpin perusahaan keluarga menggantikan Appa, tapi tetap saja aku merasa sedikit kecewa karena mereka tidak menanyakannya pada kami dulu.

“Hhh, Onni. Seharusnya kau bilang ‘potensiku’ saja, bukan ‘potensi kami berdua’. Aku kan sama sekali tidak memiliki potensi untuk memimpin perusahaan. Selain tidak mampu, aku juga anak kedua, dimana-mana yang menjadi penerus perusahaan itu kan anak pertama.” ujarku sambil menatap Onni. Melirik lebih tepatnya. Menatapnya langsung dalam kondisi emosinya yang sedang labil hanya akan membunuhku secara diam-diam. Jujur kukatakan, matanya terlalu tajam. Dan aku tidak begitu menyukai itu.

“Tidak, Jihye. Eomma yakin kalian berdua memiliki potensi itu. Maksud kami mengangkat seorang anak laki-laki bukan berarti kami meragukan potensi kalian, kami hanya ingin kalian fokus pada pendidikan kalian untuk saat ini. Kami tidak ingin, pendidikan kalian terganggu jika kelak kalian menjadi pemimpin perusahaan. Begitu juga sebaliknya.” Eomma berusaha menghibur sekaligus mencairkan suasana ruang keluarga yang sudah mulai seperti di dalam iglo.

“Ah, Eomma benar. Untuk saat ini pendidikan kita memang lebih penting. Kau juga selalu mengatakan itu kan, Onni?” aku mengangguk-angguk menyetujui kata-kata Eomma barusan.

“Kau jangan ikut-ikutan menasihatiku!” bisa kulihat Onni melotot padaku. Matanya seolah-olah menyiratkan kalimat Itu-Bohong-Besar-Jangan-Percaya. Aku hanya merespon dengan mengerucutkan bibirku.

“Sudahlah, lagipula keputusan kami sudah bulat. Kami akan mengangkat seorang anak laki-laki lalu mendidiknya selama dua atau tiga tahun agar bisa menjadi pemimpin yang baik.” ujar Appa tegas.

“Dua atau tiga tahun?? Aku akan lulus kuliah dalam jangka waktu itu. Setelah lulus aku bisa langsung mengambil tempat itu, kan? Bilang saja Appa memang tidak percaya pada kami. Cih.” Onni masih belum menyerah ternyata. Ahh~ bagaimana ini?? Aku sangat takut jika Appa dan Onni sudah bertukar tatapan tajam seperti ini. Mereka memang sama-sama batu! Tidak ada yang mau mengalah jika sudah berdebat, sampai salah satunya hancur. Aku bergidik sendiri membayangkan kata ‘hancur’. Eomma menatapku, seolah bertanya ‘apa yang harus kita perbuat pada dua batu ini?’.

“Eumm~ Chagiya…” Eomma mengelus pundak kiri Appa. Mencoba menenangkannnya. Saat itulah kulihat Onni bergerak. Aku pikir dia akan mempraktekkan salah satu jurus taekwondo-nya disini. Aku bahkan sudah mengambil ancang-ancang untuk kabur dari sampingnya.

“Yah, baiklah. Keputusan kalian sudah bulat, mau protes bagaimanapun juga, keputusan itu tidak akan berubah kan? Itu artinya mau tidak mau kami harus setuju. Tapi, aku aku harap, anak laki-laki itu tidak akan mengecewakan kita semua. Sudah selesai kan rapatnya? Aku duluan. Masih banyak tugas yang harus kuselesaikan untuk besok.” Dia melangkah pergi setelah menyelesaikan kalimatnya. Mwoya?? Apa itu benar Onni-ku?? Tidak biasanya dia akan langsung mengalah seperti itu. Aigoo~

“Eh, Onni? Appa, Eomma, aku juga masih banyak tugas untuk besok. Hehe. Selamat malam.” aku mengejar Onni sampai ke kamarnya.

Sesampainya didepan kamar Onni, aku langsung memelankan langkahku dan mengikutinya masuk. Hanya tinggal selangkah lagi untuk memasuki kamarnya, Onni langsung menutup pintu dan hampir mengenai wajahku.

“Yaa!! Bagaimana kalau pintunya menghantam wajahku? Menyebalkan!” aku mendengus kesal lalu pergi menuju kamarku yang bersebelahan dengan kamarnya.
*END POV*

Riyoung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Wajahnya dibenamkan dalam-dalam pada sebuah bantal.

“Hhh~ Apa-apaan itu?” gumamnya. Ia tidak mempedulikan teriakan Jihye di luar sana yang meminta pertanggungjawaban atas wajahnya yang nyaris terhantam pintu kamar. Ia menatap langit hitam dari jendela kamarnya yang terbuka lalu membenamkan wajahnya lagi.


School of Performing Arts Seoul…

“Hhh!” Jihye menyandarkan punggungnya pada kursi kayu itu. Matanya menatap ke depan, tapi sama sekali tidak terfokus pada sesuatu atau seseorang. Riyoung, sahabatnya yang bangga karena memiliki nama yang sama dengan Onni-nya menatapnya bingung.

“Waeyo?”, tanya Riyoung. Jihye menoleh sekilas, masih bungkam. Ia terlihat ragu.

“Waeyo??”, Riyoung mengulang pertanyaannya lagi. Kali ini terdengar nada sedikit memaksa. Jihye menoleh lagi. Ditatapnya Riyoung dalam-dalam.

“Kau tau kalau kau sahabat terbaikku, kan?”. Jihye akhirnya bersuara. Ia menatap Riyoung dalam. Riyoung hanya menjawab dengan anggukan.

“Kau tau aku hanya percaya padamu, kan?”. Jihye mendekatkan wajahnya pada Riyoung dan memperdalam tatapannya pada sahabatnya itu. Entah kenapa, perlakuan Jihye padanya membuat jantungnya berdegup kencang. Ia merasakan hal yang tak biasanya Ia rasakan saat bersama Jihye. Ia mulai merasa bahwa sebenarnya Ia mencintai sahabatnya sendiri.

Apa sih?!! Author galau.
Okeh, abaikan. Kembali ke lap…top!

Riyoung memiringkan kepalanya sejenak. Menatap sahabatnya penuh tanya, namun akhirnya mengangguk juga.

“Kalau aku menitipkan rahasiaku padamu kau akan menjaganya tetap tertutup sampai aku bilang itu boleh dibuka. Iya, kan?” Jihye mencengkeram kedua lengan Riyoung sampai sahabatnya itu berjengit menahan sakit.

“Ah, mian.” Jihye segera melepaskan cengkeramannya dari lengan Riyoung. Riyoung mengelus-elus kedua lengannya dengan wajah masam. Lagi-lagi ia mengangguk.

“Arasseo. Cham arasseoyeo.” Ujarnya mantap. Senyum Jihye mengembang. Ia memberi isyarat agar Riyoung mendekat sehingga ia bisa membisikkan sesuatu di telinganya. Riyoung menurut. Selama kurang lebih tiga menit mereka berada dalam posisi yang tidak bisa dikatakan enak dilihat itu. Mereka sama sekali tidak menggubris orang-orang lain yang menatap mereka dengan tatapan aneh.

“Begitulah~” Jihye mengakhiri ceritanya masih dengan berbisik.

“Mwo??! Appa dan Eomma-mu ak~”

Buru-buru Jihye menyumpal mulut Riyoung dengan segumpal roti agar pekikkannya tidak berlanjut. Ia menatap Riyoung kesal.

“Ah~ mian, mian. Aku terlalu shock. Hehe.” Jawabnya sambil mengunyah roti yang disumpalkan Jihye pada mulutnya. “Jadi orang tuamu akan mengangkat anak laki-laki untuk dijadikan pemimpin perusahaan keluargamu? Menggantikan Appa-mu?” kali ini Riyoung berbisik. Jihye mengangguk.

“Tapi bagaimana bisa? Keluargamu kan memiliki Riyoung Onni yang seperti itu?” Jihye menahan tawanya ketika Riyoung mengucapkan nama Onni-nya dengan tatapan penuh kekaguman, meski yang disebut namanya tidak ada di depan mereka.

“Geulseyo. Aku juga tidak begitu mengerti cara berpikir Appa dan Eomma.”

Peep… peep…peep…

Jihye mengeluarkan ponsel dari saku roknya. “Appa?”

“Yeoboseyo, Appa? Eh? Hari ini? Eumm~ tapi aku ada latihan orkestra… Baiklah, aku usahakan. Ne.”

KLIK.

“Ternyata Appa dan Eomma tidak main-main. Mereka benar-benar bergerak sangat cepat.” Jihye bergumam sendiri.

“Mwo? Kau ngomong apa?” Riyoung menatapnya. Jihye hanya menggeleng.

Universitas Daekyung, fakultas seni, jurusan musik…

“Appa sudah tau jawabanku. Tidak. Aku tidak akan ikut menjemput calon anak Appa itu. Aku akan berada di kampus sampai malam. Sampai nanti.”

KLIK.

Bieum menatap sahabatnya dengan tatapan heran. “Waeyo?”

Riyoung hanya menggeleng. “Aniya. Ayo masuk kelas.” Ia menarik tangan Bieum yang masih menatapnya penuh tanya. Ia semakin heran saat sahabatnya itu berulang-ulang menghela napas. Ia ingin bertanya lebih lanjut. Namun ia tau betul hal semacam itu hanya akan membuat mood yeoja itu semakin kacau. Akhirnya ia memilih diam saja.

“Kalian berdua, jangan lupa latihan hari ini, ya!”

Dua yeoja itu hanya mengangguk sekilas pada namja yang berteriak tadi. Kang Minhyuk, ketua klub teater, mahasiswa tingkat dua. Meski memilih jurusan musik, tapi keduanya memilih ekskul teater untuk mengisi waktu luang.

“Ne, sunbae. Kami tidak akan lupa.” Bieum menambahkan sebelum namja itu benar-benar hilang dari pandangan mereka di tikungan. Tak lupa senyum manisnya yang bisa membuat hati namja manapun berdesir ketika melihatnya. Riyoung melengos dengan senyum kecil menghias bibirnya.

“Ara. Jadi alasanmu masuk jurusan ini adalah orang itu, kan? Nuga? Minhyuk sunbae?”

Bieum terkejut. Ia mendadak gugup. “A-aniya! Tidak seperti itu. Jiwa musikkulah yang memanggilku untuk masuk jurusan ini.” Ia berusaha tersenyum meyakinkan.

Riyoung hanya mengibaskan tangannya. “Itu bohong besar.” Ujarnya sambil terkekeh.

“Yaa!! Kau sendiri~”

Sisa perjalanan mereka menuju kelas berakhir dengan kejar-kejaran dan berusaha menangkap kepala masing-masing untuk dijitak.

To Be Continue…

Gimana FFnya? Rame kan??😀
Hahaha, rame ga rame, yang penting readers suka.
#disambit lagi pake pasangan sendal jepit yang tadi
Komawo ya readers, udah nyempetin baca ini FF.
Hehehe.
Jangan lupa RCL yah…
Kritik dan saran juga diharapkan loh…
Maklum lah, saya (Nadya) author amatiran. Jadi, saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari readers sekalian supaya FF” berikutnya bisa makin baik lagi.

Hohoho.
Sekali lagi mkasih yah readers. =)
#author bow bareng bias

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s