My Lovely Girl [Sekuel] My Lovely Teacher (Part 3)

Title     : My Lovely Girl [Sekuel] My Lovely Teacher (Part 3)

Author : Siska Sri Wulandari

Cast     : Myung Soo [Infinite]

            : Kim Hana

            : Nam Wohyun [Infinite]

           : Lee Howon (Hoya) [Infinite]

Cameo : Shin Ri Young

              : Han Jihye

             : Lee Taemin [Shinee]

            : Jiyoung

           : & Infinite member

Tidak ada tempat yang bisa aku kunjungi selain kafe ini. Ahh, menyebalkan sekali. Rasanya aku bisa mati bosan dengan kehidupan semacam ini. Tanpa Hana, aku juga masih berstatuskan pengangguran ditambah lagi dengan masalah Wohyun dan laki-laki itu. Kenapa masalah selalu datang bertubi-tubi seperti ini.

“Buuk”

Aku terlonjak kaget dari kursiku ketika melihat seorang laki-laki setengah baya yang tiba-tiba muncul di hadapanku dengan gerakan lompatan seperti itu. Masih agak wajar kalau usianya masih tergolong cocok untuk bertingkah seperti itu, tapi ahjussi-ahjussi seperti dia seharusnya lebih menjaga tulang-tulangnya yang nantinya akan menjadi masalah terbesar dalam sisa masa tuanya.

            Belum lagi aku pulih dari rasa kagetku tiba-tiba ahjussi itu menarik kursinya dan memepetkannya dengan kursiku. Merasa terancam dengan refleks aku pun segera mundur tapi tangannya malah menahanku. Aku sama sekali tidak melakukan perlawanan. Sedetik kemudian ahjussi aneh itu telah mendaratkan tangannya di wajahku. Ia seperti sedang menekuni setiap lekuk wajahku. Setelah puas mengobrak-abrik wajahku kini tangannya beralih ke tubuhku. Ditariknya aku agar berdiri dan lagi-lagi ahjussi-ahjussi aneh itu menggerayangiku. Ya! Entah kenapa gerak tangannya lebih cepat dari setiap perlawanan yang akan aku berikan.

“Perfecto.” Tersungging senyum aneh dari ahjussi aneh itu yang membuatku benar-benar merinding.

“Ya! Apa yang kau lakukan!” hardikku sambil berdiri menjauh darinya. Semua pengunjung kafe melihat ke arah mejaku.

“Sempurna! Sempurna! Kau memang dilahirkan untuk menjadi bintang besar. Aigoo, kau terlalu lama bersembunyi dari panggung kepopuleran nak.” Ahjussi aneh itu berucap semangat sambil mengangkat-angkat kedua tangannya seperti orang yang sedang berorasi.

“Aku ini orang miskin. Percuma kalau mau memerasku hanya buang-buang tenaga saja.” Kataku ketus.

“Bwoo? Ahh, wajahmu itu yang akan memeras banyak harta untukmu.”

“Apa kepalamu baru saja terbentur? Dari tadi omonganmu sangat ngelantur.”

“Aku bisa mengorbitkanmu sebagai artis.”

“Apa?”

“Artis! Artis! Artis! Wajahmu akan muncul di mana-mana.” Lagi-lagi gayanya seperti orang yang sedang berorasi.

Aku diam. Hanya mengekspresikan rasa bingungku dengan menghujaninya dengan ekspresi aneh.

“Ya! Kau belum sadar juga ya? Aku ini pencari bakat. Instingku mengatakan bahwa kau bisa menjadi salah satu aset terbesar bagi dunia hiburan di Korea. Arasso? Ayo, sekarang ikut aku, kita akan mengurus semua kontrak kerjanya.” Ahjussi-ahjussi aneh itu menarik tanganku.

“Artis? Pencari bakat? Atau apapun itu, aku tidak peduli.” Kataku ketus sambil menghempaskan tangannya.

“Wae? Aku tahu kau sedang membutuhkan uang. Dengan kau menjadi artis maka apapun yang kau inginkan bisa terwujud dengan mudah.” Seringai ahjussi aneh itu.

“Jangan pasang tampang menyeramkan seperti itu!” aku bergidik dan benar-benar ingin menonjok wajahnya yang menyebalkan itu.

“Bwoo? Wajahku memang seperti ini sejak lahir!” gerutu ahjussi aneh tersebut sambil memegangi wajahnya yang baru saja aku hina.

“Apa dengan menjadi artis aku bisa kaya?” tanyaku sambil memasang tampang serius.

Ahjjussi aneh itu mengangguk dengan penuh semangat.

“Bisa membuatku menjadi seseorang yang disegani?”

Ahjjussi aneh itu mengangguk lagi.

“Aku bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan?”

Ahjjussi aneh itu mengangguk lagi.

“Termasuk sebuah kebebasan?”

Hampir saja ahjussi aneh itu mengangguk lagi, tapi segera ditahannya gerakan kepalanya dan menatapku.

“Kau tahu kan bagaimana pola hidup para artis?”

“Nee, karna itu aku tegaskan aku MENOLAK!” kutekankan kata-kata menolak pada ahjussi aneh itu sambil meninggalkan beberapa lembar uang bayaran makananku di meja dan segera berlalu.

“Chakkaman, kau bisa memikirkannya terlebih dahulu.” Lagi-lagi ahjussi aneh itu menarik tanganku seperti seorang kekasih yang sedang bertengkar dengan pasangannya yang otomatis membuatku lagi-lagi menjadi pusat perhatian karena pasti mereka sedang berpikir yang tidak-tidak tentang kami.

“Sirheo! Jangan paksa aku.”

“Ini kartu namaku, jika kau berubah pikiran segera hubungi aku, maka dalam sekejap kau akan menjadi seorang superstar.” Ahjussi aneh itu mengedipkan matanya yang membuat bulu kudukku serasa mau rontok sambil menyematkan kartu namanya dalam kantong hoodieku.

“Aigoo!” rutukku sambil berlari meninggalkan ahjussi aneh tersebut.

            Aku memarkirkan motor ninjaku ke tepian dan segera berlari kecil menuju tempat Hoya. Aish, kenapa dia harus mengajakku ke tempat seperti ini. Pantai? Sadarkah dia tempat macam apa yang dia jadikan sebagai tempat pertemuan kami. Jangan-jangan Hoya tidak normal. Selain ingin berbicara denganku dia juga. Andwaee, dia terlalu keren untuk menjadi seseorang yang tidak normal. Aku bergidik dan tiba-tiba pikiranku kembali melayang pada ahjussi aneh siang tadi yang masih menjadi trend topic di dalam otakku yang sedang dipenuhi dengan tumpukan masalah. Aigooo…

“Yo!” Hoya melambai-lambaikan tangannya ketika dilihatnya aku.

Aku hanya tersenyum simpul membalas lambaiannya.

“Mianhee aku agak sedikit terlambat.”

“Gwenchana, mian kalau aku mengajakmu ke sini karena kebetulan aku dan teman-temanku sedang berada di sini makanya aku putuskan untuk bertemu di sini.” Jelas Hoya panjang lebar.

Aku sedikit merasa lega ternyata tidak hanya kami berdua saja yang ada di sini. Atau mungkin aku yang terlalu mengada-ada. Haa, pikiran-pikiran aneh ini pasti akibat kekacauan yang ada di dalam otakku.

“Ini dia Riyoung yang aku ceritakan tempo hari.” Hoya menunjuk seorang gadis yang duduk di sampingnya.

“Riyoung imnida.” Gadis itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum lembut.

“Myung Soo imnida. Haruskah aku memanggilmu noona?” balasku sambil membalas uluran tangannya.

“Ahh, tidak usah, kesannya tua sekali, cukup panggil aku Riyoung. Aku sudah menceritakan tentangmu pada appaku, jadi besok dia mau bertemu denganmu. ottoke?”

“Tentu, tentu aku bisa.” Jawabku bersemangat.

“Besok aku akan menjemputmu jam 8 pagi, jadi bersiap-siaplah.”

“Nee, gomawoo noona.”

“Cukup panggil aku Riyoung.”

“hehe, mianhe Riyoung.” Aku jadi salah tingkah karena tidak terbiasa hanya memanggilnya dengan nama saja.

“Riyoung-ahh, bolehkah aku ikut juga? Sudah lama aku tidak bertemu dengan appamu.” Tiba-tiba seorang namja berwajah cantik yang dari tadi tengah bermain pasir ikut berbicara.

“Tentu saja, appa juga pasti senang bisa bertemu denganmu lagi.”

“Bisa-bisanya gadis sewaras dirimu bisa mempunyai tetangga se-absurd Taemin.” Gerutu Hoya sambil menjitak kepala Taemin.

“Ya! Daripada kau laki-laki aneh! Bergaullah dengan manusia, jangan hanya dengan laptop saja!” Taemin membalas jitakan Hoya.

“Kau!” teriak Hoya.

“Sudah, sudah. Kalian terlihat begitu memalukan.” Lerai Riyoung.

“Gomawoyo juga hyung karena telah membantuku.” Aku kembali berterima kasih pada Hoya hyung yang telah membantuku mencari pekerjaan.

“Berterima kasihlah pada Hana dan Riyoung, dalam hal ini aku tidak banyak membantu.” Kata Hoya sambil merangkul Riyoung.

*Riyoung POV*

“Berterima kasihlah pada Hana dan Riyoung, dalam hal ini aku tidak banyak membantu.” Kata Hoya sambil merangkulku.

“Ommo, ommo, ommmo, siapapun tolong bantu aku untuk bernapas, sepertinya aku sedikit lupa bagaimana caranya bernapas. Ahh, Hoya apa yang telah kau lakukan. Sadarkah kau kalau sekarang kau sedang apa? Kalau kau hanya menganggap ini sebagai rangkulan biasa, maka bagiku ini merupakan moment yang paling berharga dalam hidupku. Aku bisa tewas di tempat jika kau merangkulku lebih lama dari ini. Aigoo. Kau benar-benar tau bagaimana cara untuk mengacaukan hatiku.

*END POV*

“Ya! Hoya jelek, jangan seenaknya merangkul Riyoungku!” Taemin berusaha melepaskan tangan Hoya yang masih menempel di pundak Riyoung.

“Wae? Kita ini kan teman. Benar kan Riyoung?” tanya Hoya sambil melirik Riyoung yang hanya diam saja.

“Teman! Ani, ani! Kau itu hanya teman satu kelompok Riyoung tidak lebih dari itu!”

“Dan kau juga hanya tetangga Riyoung kan?” Hoya memang sangat senang mengusili Taemin yang memang tidak suka jika Riyoung lebih dekat dengan orang lain, karena hanya Riyounglah satu-satunya teman bagi Taemin.

“Pokoknya satu-satunya teman dekat Riyoung itu hanya aku, jadi kau jangan sok dekat juga dengannya.” Dengus Taemin sambil menarik Riyoung.

“Kalian benar-benar berisik” gerutu Riyoung.

Aku hanya bisa tersenyum simpul menikmati pemandangan itu. Bukankah menyenangkan punya teman. Teman yang benar-benar seorang teman. Bukan teman yang hanya ada pada saat kau sedang berbahagia dan tiba-tiba bermigrasi entah kemana ketika kau dalam kesusahan. Menyenangkan sekali hidup dikelilingi orang-orang yang selalu tulus padamu. Teman, sesuatu yang sangat berharga melebihi apapun.

            Dengan kesal jihye melangkahkan kakinya keluar mall dengan tergesa-gesa. Baru saja ayahnya menelepon tidak bisa menjemputnya pulang berbelanja dikarenakan ada urusan mendadak. Sebenarnya biasanya jihye selalu pergi dengan menggunakan mobil pribadinya, hanya saja saat ini mobilnya sedang berada di bengkel. Jihye melangkahkan kakinya di ambang pintu keluar mall setelah dilihatnya di luar sedang hujan deras.

“Aigoo, bagaimana ini? Aku harus memanggil taxi.” Gerutu Jihye sambil melihat ke sekelilingnya berharap ada taxi yang lewat. Karena tidak ada tanda-tanda taxi yang akan lewat, Jihye pun memutuskan untuk sedikit maju ke halaman mall, namun tiba-tiba sebuah mobil mengklaksonnya yang tiba-tiba muncul di tengah jalan.

“Kau sudah bosan hidup ya?!” teriak laki-laki yang baru saja keluar dari parkiran itu sambil menyembulkan kepalanya dari jendela mobilnya.

“Harusnya kau yang lebih memperhatikan jalan!” Jihye tidak mau kalah.

“Jelas-jelas kau yang tiba-tiba muncul.”

“Kenapa selalu pejalan kaki yang disalahkan!” Jihye ngotot dan menghampiri mobil laki-laki tersebut.

“Sudah salah jangan berlagak sok terpojokkan” laki-laki itu berteriak juga.

“Ya! Aku sudah basah kuyup seperti ini kau masih memarahiku!”

“Shut up!” teriak laki-laki tersebut sambil menutup kaca mobilnya dan meninggalkan Jihye yang masih mencak-mencak.

“Kau! Lihat saja kalau nanti bertemu denganmu lagi, akan ku buat kau menyesal telah memarahiku!” teriak Jihye dari kejauhan sampai mobil laki-laki itu benar-benar hilang dari pandangannya.

*Wohyun POV*

Di tengah hujan seperti ini kenapa masih cari masalah sih. Bahkan di jalan seperti ini masih bisa-bisanya ada orang yang tidak hati-hati. Sudah salah masih bersikukuh tidak mau disalahkan. Dasar gadis arogant. Dia pikir dia siapa seenaknya memarahiku seperti itu. Appa dan ummaku saja tidak pernah membentakku seperti itu. Dasar gadis gila. Kalau bertemu lagi akan aku jadikan dia pergedel!

*END POV*

Di SF (Shin Family) Agency (Nama apaan ini*maksa banget namanya — )

Wohyun menghentikan langkahnya saat dilihatnya Myung Soo dan beberapa temannya baru saja masuk ke dalam. Hari ini appanya sedang ada rapat dengan pemilik perusahaan agensi artis di sini dan ia diminta untuk menemani appanya ke sini. Wohyun pun segera menghampiri Myung Soo.

“Sedang apa di sini?” tanya Wohyun yang hanya dihujani tatapan sebal oleh Myung Soo.

Hoya, Riyoung dan Taemin hanya membungkungkuk sekilas saat melihat kedatangan Wohyun. Tanpa ba-bi-bu Myung Soo tetap saja melanjutkan jalannya dan mengisyaratkan yang lain untuk mengikutinya. Tapi dicegat oleh Wohyun. Hoya yang sejak awal sudah mengetahui masalah antara Myung Soo dan Wohyun hanya tersenyum simpul.

“Aigoo, kenapa kalian berdiri di tengah jalan seperti ini sih.” Jihye menerobos kerumunan Myung Soo dkk karena merasa mereka menghalangi jalan masuknya dengan berdiri bergerombol begitu di depan pintu masuk.

“Kau!” teriak Wohyun dan Jihye serentak.

“Jihye-ah.” Panggil Riyoung kemudian.

Melihat siapa yang memanggilnya, Jihye langsung melupakan aksinya untuk beradu mulut dengan Wohyun.

“Riyoung-ahh, sudah lama sekali tidak bertemu denganmu.” Jihye langsung memeluk Riyoung.

“Jeongmal bogoshippo.” Seru Jihye. Jihye yang tadinya tampak begitu sombong dan arogant menjadi terlihat begitu lembut di hadapan Riyoung.

“Nee, aku juga sangat merindukanmu.” Riyoung membalas pelukan Jihye.

“Aigoo, gadis sombong sepertimu punya teman juga rupanya.” Ejek Wohyun.

Jihye tidak menggubris Wohyun dan hanya melotot sekilas ke arah Wohyun.

“Tumben kau kemari Riyoung-ahh?” tanya Jihye sambil melepaskan pelukannya.

“Kau juga tidak biasanya ke sini. Aku kemari karena ingin bertemu dengan appa ku agar mempekerjakan temanku.” Jawab Riyoung sambil menunjuk Myung Soo.

“Emmb, sepertinya aku pernah melihatnya.” Jihye meletakkan tangannya di dagunya dan mencoba  mengingat-ingat wajah Myung Soo. “Tapi mungkin aku salah orang. Aku juga kemari hanya untuk mengantarkan file-file appaku yang tertinggal. Bukankah Joon ahjussi sedang rapat dengan appaku.

“Ne, sepertinya begitu. Arasso, nanti kita bertemu lagi ya.” Pamit Riyoung dan diikuti anggukan Jihye.

“Ya! Myung Soo, memangnya kau mau bekerja sebagai apa di sini!” teriak Wohyun ketika melihat Myung Soo tetap berjalan meninggalkannya dan tidak mau menggubrisnya.

“Kenapa daritadi kau selalu mengabaikan dia?” tanya Riyoung sambil melihat ke belakang.

“Aku tidak mengenalnya.” Jawab Myung Soo dingin.

“Tapi…”

“Sudahlah Riyoung, jangan tanya-tanya lagi tentang namja tadi. Dia punya hubungan yang complicated dengan namja tadi. Ara?” jelas Hoya pada Riyoung yang masih menuntut penjelasan lebih dari Myung Soo.

“Arasso.” Riyoung menurut.

“Riyoung-ahh, kenapa kau tidak pernah cerita padaku kalau kau punya teman dekat selain aku?” rajuk Taemin yang tidak suka melihat keakraban Riyoung dengan Jihye.

“Hahaha, kau tidak perlu khawatir Taeminie. Selamanya aku akan selalu menjadi temanmu. Jihye itu anak dari sahabat appaku yang juga merupakan rekan kerjanya. Appaku menyuruhku untuk mendekati Jihye dan berteman dengannya karena katanya Jihye itu kekurangan teman karena terlalu arogant dan suka meremehkan orang lain. Awalnya aku ragu, tapi ternyata dia cukup menyenangkan jika kita memperlakukan dia dengan benar.”

“Janji tetap akan menjadi temanku?” Taemin masih menuntut lebih.

“Ne, ne, ne.” Riyoung mengangguk semangat.

“Kau ini aneh sekali Taemin. Jangan terlalu mengekang Riyoung begitu, bagaimana kalau nanti Riyoung punya kekasih. Kau tidak bisa meminta Riyoung terus bersamamu.” Celetuk Hoya.

Hening. Taemin hanya menunduk dan aku juga hanya terdiam. Awkward moment.

*Taemin POV*

“Kau ini aneh sekali Taemin. Jangan terlalu mengekang Riyoung begitu, bagaimana kalau nanti Riyoung punya kekasih. Kau tidak bisa meminta Riyoung terus bersamamu.” Celetuk Hoya.

Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu. Apa selama ini aku terlalu mengekang Riyoung sehingga sampai saat ini dia masih single. Apa Riyoung seterkekang itu berteman denganku. Demi apapun aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak mau Riyoung jauh dariku karena hanya dia lah satu-satunya orang yang tulus berteman denganku. Tidak seperti anak-anak lain yang punya beribu alasan untuk menguntungkan dirinya sendiri berteman denganku.

*END POV*

Teman itu bukan untuk dimiliki seorang diri. Bukankah teman selalu membentuk rantai yang tak terpisahkan. Bagaimana jika setiap mata rantai itu selalu merasa ingin memiliki. Selamanya hanya akan saling melukai dan terpisahkan.

4 comments

  1. L_woo jinki · November 29, 2011

    waaaaaahhhh seru2 g sabar bwt nunggu lanjutannya. chinggu boleh ngasih pendapat g? gmn klo epd ntr ksih review dikit dari chapter sblmnya. soalnya suka kadang2 lupa critanya udh nyampe mana. dan suka males klo mesti buka dlu chapter sblmnya…. for all DAEBAK hehehe gomawo🙂

  2. puji · December 15, 2011

    lanjutannya msh lama ya thor?

    • idolfanfiction · December 15, 2011

      Baru aja rilis kelanjutannya😀
      jangan lupa RCL ya🙂

  3. kyuwonhae · August 6, 2012

    cerita y smkin seruuu🙂
    Lanjuutt😀

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s