This Heart [Part 2]

Title     : This Heart [Part 2]

Cast     : No Minwoo (Boyfriend)

            : Shin Ri Young

            : Gong Chan (B1A4)

            : Myung Soo (Infinite)

            : Kang Sohee

Genre  : Romance, Friendship.

—Review Part 1—

Keesokan harinya di Kampus…

Minwoo mempercepat langkah kakinya menuju kelas. Tak sabar rasanya ingin bertemu dengan Ri Young. Tapi betapa kecewanya Minwoo melihat Ri Young yang datang bersama Gong Chan sedang di parkiran.

“Bukankah rumah Gong Chan sangat jauh dengan rumah Ri Young?” gumam Minwoo sambil memperlambat langkahnya sengaja agar Ri Young dan Gong Chan yang sampai terlebih dahulu ke dalam kelas dan tidak menyadari keberadaannya.

“Ada apa dengan perasaan ini? Kenapa aku tidak suka Gong Chan mau menjemput Ri Young, bukankah justru itu bagus? Arrgh, perasaan macam apa ini!” Minwoo menjambak-jambak rambutnya frustasi. “Jikalau pun ini adalah cinta, kenapa aku harus jatuh cinta pada sahabatku sendiri.” Kata Minwoo lirih.

—End Review—

“Minwoooo, coba kau lihat jepit rambutku ini? Bagus tidak, aku baru membelinya semalam. Ottoke? Cocok tidak untukku?” Sohee segera mencegat Minwoo yang baru saja sampai di daun pintu kelas.

“Tanya saja pada Gongchan. Kalau dia bilang bagus, berarti aku juga berpendapat demikian.” Jawab Minwoo sambil melewati Sohee yang masih sibuk memainkan rambutnya dan segera mengambil tempat duduk di belakang Gongchan.

“Ya! Jawaban macam apa itu?” keluh Sohee seraya mengikuti Minwoo.

“Hahaha, Selera Minwoo itu sangat jelek Sohee, tidak ada gunanya kau bertanya pada orang seperti dia.” Ejek Gongchan.

“Kenapa duduk di belakang?” Riyoung mencoba menyapa Minwoo terlebih dahulu.

“Wae? Tidak boleh?” jawab Minwoo sambil mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tasnya.

“Kau marah padaku?” terka Riyoung.

Minwoo menghentikan aktifitasnya dan menatap tajam ke arah Riyoung. “Apakah kau tidak bisa membaca situasi?” tanya Minwoo ketus.

“Mianhee.” Kata Riyoung lirih.

“Jeongmal, kau ini! Apa kau pikir kata maaf itu bisa seenaknya diucapkan?” Minwoo sedikit membentak Riyoung.

Gongchan yang tengah asyik mengganggu Sohee segera menghentikan aktifitasnya, “Ya! Minwoo, kau ini kenapa lagi sih? Kenapa selalu memarahi Riyoung?” Gongchan memutar kursinya dan melihat Minwoo dengan tatapan tidak suka.

“Aku tidak memarahinya, aku hanya ingin ia belajar untuk bisa membaca situasi.” Bantah Minwoo. “Sudah, lihat ke depan lagi sana, moodku sedang tidak enak.” Sambung Minwoo sambil membuang muka pada Riyoung dan Gongchan.

*Ri Young POV*

Tidak usah bertingkah sok pintar dan merasa paling bisa aku rasa lebih baik. Berbicara dengan nada sombong seolah ilmu pengetahuan telah terekam seutuhnya di dalam otakmu dan selalu merasa kau yang tahu melebihi segalanya. Ayolah, buka matamu, betapa banyak orang yang tidak suka dengan sikapmu itu. Kau selalu mengajari orang lain yang bertanya denganmu dengan nada merendahkan. Meremehkan orang lain dengan segala sudut pandangmu yang membingungkan. Bertingkah menjilat di hadapan dosen. Selalu bersikap sok imut dengan gaya yang terlalu dibuat-buat. Entah hanya aku saja yang merasa tapi segala tingkah lakumu terlihat terlalu dibuat-buat itu sangat kelihatan. Cara berbicara yang dibuat-buat, cara tertawa yang selalu diatur sedemikian rupa untuk menarik perhatian orang lain, cara berjalan, makan, memperlakukan orang lain, semua selalu kau buat-buat. Sungguh memuakkan bagiku. Apakah aku yang salah memilihmu sebagai teman atau kau yang salah memilihku? Aku sungguh tidak bisa hidup dengan orang yang selalu ingin dimanja sepertimu, selalu ingin menjadi pusat perhatian orang-orang dan bertingkah centil. Aigoo, sungguh aku tidak bisa menjalin persahabatan dengan orang seperti itu. Jadi maaf kalau aku sering mengabaikanmu, karena aku memang tidak bisa bersama dengan orang yang tidak membuatku merasa nyaman. Jeongmal mianhee Sohee-ah.

*END POV*

Hampir saja Riyoung menjatuhkan laptopnya mendapati Myung Soo yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Beberapa kali Riyoung mengelus-elus dadanya dikarenakan jantungnya yang masih berdegup tak beraturan karena kaget.

“Sunbae? Ada apa? Mencari siapa?” tanya Riyoung sambil melirik Gongchan yang ada di sebelahnya.

“Ayo ikut denganku sebelum kita menjadi tontonan massal.” Jawab Myung Soo sambil menatap lurus ke arah Riyoung yang masih terlihat bingung. Riyoung baru sadar dengan kedatangan Myung Soo ke ruang kelasnya telah mampu menjadi magnet terkuat untuk membuat para mahasiswi berteriak histeris.

“Ada urusan apa kau dengannya?” Minwoo yang tadinya masih duduk di belakang tiba-tiba maju ke depan dan berdiri tepat di meja Riyoung dan bertatap muka dengan Myung Soo.

“Sesuatu yang tidak perlu kau tahu. Lagipula ini sudah jam istirahat, berarti bebas bagi siapa pun untuk keluar kelas.” Jawab Myung Soo dengan wajah datar. Ekspresi yang tidak pernah ditunjukkannya ketika bersama Riyoung.

“Kau mau ikut dengannya?” Tanya Minwoo kasar sambil memegang pergelangan tangan Riyoung dengan erat.

“Apa aku punya alasan untuk menolaknya?” Tanya Riyoung polos sambil menatap Gongchan berusaha meminta persetujuan.

“Hyung, ada perlu apa kau dengan Riyoung?” tanya Gongchan hati-hati pada Myung Soo.

“Kau tentu tahu apa yang disebut dengan privasi.” jawab Myung Soo tanpa menatap Gongchan.

“Hyung?” kata Riyoung dan Sohee berbarengan yang bingung dengan panggilan Gongchan terhadap Myung Soo.

“Kalian belum tahu? Aku dan gongchan adalah kakak beradik.” Jawab Myung Soo sambil melirik Gongchan sekilas.

“Bwooo?” teriak Riyoung kaget.

“Sudah tidak ada waktu lagi bagimu untuk terkejut, ayo segera ikut denganku.” Myung Soo melepaskan genggaman Minwoo dengan kasar dan menarik Riyoung keluar kelas. Sepanjang perjalanan mereka keluar kelas selalu dipenuhi dengan jerit histeris para mahasiswi yang merasa cemburu.

“Oppa! Kau tidak mengajakku juga?” teriak Sohee dengan centilnya karena merasa kalah saing dengan Riyoung, bagaimanapun semua orang akan iri melihat Riyoung diperlakukan seperti itu oleh seorang Myung Soo yang terkenal sangat jutek kecuali pada orang-orang yang dekat dengannya.

“Dia hyung kandungmu?” tanya Minwoo pada Gongchan yang masih memperhatikan Riyoung dan Myung Soo.

“Nee.” Jawab Gongchan lesu sambil duduk di kursinya.

“Apa dia menyukai Riyoung?” tanya Minwoo tidak sabar dan mengikuti Gongchan duduk juga.

“Molla, tapi aku takut jika memang seperti itu.” Suara Gongchan semakin mengecil.

“Kalian cemburu?” tanya Sohee dengan nada tidak suka karena dia selalu berpikir bahwa dia adalah yang terbaik. Hanya dia yang pantas untuk diperhatikan oleh orang-orang.

Minwoo dan Gongchan hanya saling bertukar tatap dan lebih memilih untuk diam daripada harus berpikir tentang jawaban yang harus diberikan kepada Sohee.

“Sunbae, aku mohon lepaskan tanganku, aku bisa berjalan sendiri.” Pinta Riyoung pada Myung Soo yang masih saja menarik tangannya sejak dari dalam kelas tadi.

“Pletaak.” Myung Soo menjitak kepala Riyoung.

“Appo.” Lirih Riyoung.

“Itu hukuman untukmu.” Kata Myung Soo sambil menarik Riyoung duduk di bawah pohon.

“Bwoo? Hukuman?” tanya Riyoung bingung.

“Kau lupa apa yang aku perintahkan padamu tempo hari?”

“Perintah?”

“Ya! Ternyata ingatanmu juga sangat lemah. Jeongmal, bagaimana bisa menyukai yang seperti ini.” Teriak Myung Soo sambil menyapu bersih penampilan Riyoung dari atas sampai bawah, tidak ada satu bagianpun yang ketinggalan.

“Mianhee, aku benar-benar lupa sunbae.” Riyoung menunduk karena takut menatap Myung Soo yang tampak sedikit kesal dengannya.

“Sebaiknya kau harus sedikit mengurangi kadar hobimu meminta maaf. Dan jangan sampai lupa lagi, aku memerintahkanmu untuk memanggilku OPPA. O-P-P-A!” Myung Soo menekankan kata oppa yang dia ucapkan.

“Ahh, nee, nee, nee, mianhee aku lupa.” Riyoung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kalau kau sampai lupa lagi, tamatlah riwayatmu.” Ancam Myung Soo seraya melemparkan deathglarenya yang cukup membuat Riyoung terlihat takut.

“Arraso, maksud sun, eh maksudku oppa memanggilku ada apa?”

“Mulai nanti sampai lusa kau harus pulang bersamaku.”

“Wae?”

“Nanti kau akan tahu sendiri. Setidaknya aku harus memastikan kalau dia tidak salah pilih.” Myung Soo mengacak-acak rambut Riyoung.

Riyoung terdiam mendapati Myung Soo yang memperlakukannya seperti itu dan mencoba bersikap biasa saja padahal dia sudah merasa sedikit salah tingkah.

*Riyoung POV*

Siapa yang tidak merasa senang jika orang yang selama ini dikagumi tiba-tiba menjari akrab dan selalu memperlakukan kita dengan cara yang membuat kita menjadi istimewa. Ada apa dengan Myung Soo oppa. Sebenarnya apa yang dia mau dariku? Dia salah pilih? Siapa yang dimaksudnya dengan dia? Dia benar-benar membingungkan. Aku juga tidak pernah menyangka bahwa dia dan Gongchan merupakan kakak beradik.

*END POV*

Sohee melingkarkan tangannya di pinggang Minwoo dan di sepanjang jalan selalu menyapa orang-orang yang dilewatinya, tapi bukan bermaksud untuk beramah tamah melainkan untuk pamer kepada semua orang. Riyoung meminta pulang bersama dengan Minwoo dikarenakan jarak rumah mereka yang berdekatan. Minwoo yang melihat Riyoung tengah berjalan menuju parkiran bersama Myung Soo langsung melajukan motornya ke arah mereka.

“Kau tidak pulang dengan Gongchan?” tanya Minwoo ketus.

“Hari ini dia akan pulang bersamaku.” Myung Soo langsung menjawab pertanyaan Minwoo tanpa memberikan kesempatan Riyoung untuk menjawabnya terlebih dahulu.

“Aku tidak bertanya padamu!” balas Minwoo ketus terhadap Myung Soo.

“No Minwoo, kecemburuanmu itu terlalu kelihatan. Tapi aku rasa kau harus merelakannya karena dia lebih pantas untuk orang lain yang lebih baik darimu.” Jawab Myung Soo dan segera menarik Riyoung untuk naik ke atas motor ninjanya dan memakaikan helm padanya.

“Apa maksud si bodoh itu?!” Minwoo merasa sangat kesal dengan ucapan Myung Soo yang dia rasa sangat melecehkannya.

“Cemburu? Ani, ani, ani, aku tidak mungkin cemburu pada Riyoung. Memangnya untuk alasan apa aku harus cemburu. Cinta? Haha, it’s impossible! Mana mungkin aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Selama ini aku hanya tidak suka jika dia dekat dengan laki-laki lain. Ingat, hanya tidak suka, tidak suka tidak bisa diterjemahkan dengan kata cinta. Karena sahabat dan cinta itu merupakan dua kebutuhan yang jelas berbeda. Tapi apa maksudnya dengan merelakannya untuk orang lain. Apakah dia mencintai Riyoung? Bukankah dia baru mengenal Riyoung. Mana bisa cinta tumbuh dalam waktu yang sesingkat itu. Apa dia hanya ingin mempermainkan Riyoung?” Minwoo masih sibuk dalam pikiran-pikiran anehnya yang masih berusaha untuk menterjemahkan perasaan apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Selalu marah-marah tidak jelas ketika melihat Riyoung bersama laki-laki lain.

“Minwoo-ahh, kenapa daritadi kau komat-kamit sendiri? Kita tidak jadi pulang?” Sohee mengguncang lengan Minwoo pelan dan membangunkan Minwoo dari pikiran-pikiran anehnya.

“Minhee, khajja kita pulang.” Jawab Minwoo sambil tersenyum.

“Apa hyung menyukai Riyoung? Tapi kenapa harus dia? Kenapa tidak gadis lain saja? Kenapa harus Shin Ri Young. Padahal hyung tahu kalau aku mencintai Riyoung, tapi kenapa dengan terang-terangan dia seperti ingin merebut Riyoung dariku. Bagaimanapun, Riyoung itu tipe orang yang selalu berpikir lurus. Jika sejak awal telah menjalin persahabatan maka selamanya akan tetap berpersepsi sebagai sahabat. Perhatian apapun yang aku berikan padanya hanya akan dianggapnya sebagai perhatian dari seseorang yang disebut sahabat. Ahh, jeongmal. Aku harus bagaimana? Menjauhi Riyoung? Membenci Myung Soo? Atau berpura-pura tidak peka dengan keadaan sekitar?” gumam Gongchan sambil melempar-lempar bantal yang ada di atas tempat tidurnya ke sembarang arah. Gongchan menghentikan kegiatannya saat dilihatnya ID Minwoo memanggilnya, segera saja dia mengangkat telepon dari Minwoo.

“Yobbose.”

“Apakah hyungmu menyukai Riyoung?” Tanpa membiarkan Gongchan untuk melanjutkan kata-katannya, Minwoo langsung menyerang Minwoo dengan pertanyaan yang sangat mengiris hati Gongchan.

“Ya! Ijikan aku untuk menyelesaikan kata yoboseeyo ku dulu.” Gerutu Gongchan. “Apa kau meneleponku hanya untuk sebuah pertanyaan seperti itu?” sambung Gongchan lagi.

“Hanya untuk sebuah pertanyaan seperti itu? Ini bukan hanya sekedar sebuah pertanyaan seperti itu Gongchan, ini menyangkut sahabat kita.”

“…”

“Still alive?”

“Molla.

“Bagaiamana bisa seperti itu? Kau ini kan adiknya? Masak kau tidak tahu tentang orang yang disukai oleh kakakmu?”

“Saudara bukan berarti kita saling mengetahui segalanya. Saudara juga memilki batasan privasi.”

“Nee, aku ,mengerti. Tapi aku…”

“Minwoo, aku mohon jangan membicarakan hal itu lagi padaku. Saat ini moodku sedang jelek.” Pinta Gongchan.

“Arrasso. Samapi jumpa besok.” “Kliik” Minwoo pun menutup teleponnya.

“Untuk saat ini aku benar-benar ingin berpura-pura tidak melihat, tidak tahu, tidak peka dengan keadaan yang sedang terjadi antara Riyoung dan Myung Soo. Aku benar-benar sakit jika harus membayangkan mereka, mereka, mereka. Arggh, aku harap apa yang aku khawatirkan hanya merupakan perasaan ketakutanku saja.

            Setelah selesai mengambil air mineral dari dalam kulkas, Gongchan mendengar suara motor kakaknya, Myung Soo memasuki garasi. Gongchan buru-buru mengintip keluar jadi jendela. Dilihatnya wajah Myung Soo yang tampak berseri-seri. “Sebahagia itukah wajahnya ketika bersama Riyoung?” umpat Gongchan sambil meremas-remas botol air mineralnya.

“Cklek.” Myung Soo mendapati Gongchan yang sedang berdiri di dekat pintu.

“Kau belum tidur?”

“Menurutmu?” Gongchan tersenyum sinia.

“Kau tidak mencurigai aku dan Riyoung kan?” selidik Myung Soo sambil tertawa kecil.

“Kenapa kau setega itu? Kau tahu kalau aku menyukai Riyoung, tapi kenapa kau malah merebutnya dariku?” Gongchan berusaha untuk menahan emosinya.

“Merebut? Aku tidak pernah merebut Riyoung.”

“Lantas apa maksud semua perilakumu terhadapnya tadi?”

“Salah jika aku bersikap seperti itu padanya?”

“Tentu saja!” Teriak Gongchan.

“Yang harusnya kau khawatirkan itu bukan aku, tapi sahabatmu sendiri, No Minwoo.”

“Maksudmu?”

“Meskipun dia sahabatmu, tidak menutup kemungkinan dia tidak berpotensi untuk merebut si gadis yang kau sukai itu.”

“Kau?”

“Sudahlah, aku lelah. Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang tidak seharusnya kau khawatirkan.” Myung Soo melangkah ke anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.

“Ya! Hyuung! Aku baru belum selesai bicara!”teriak Gongchan tapi Myung Soo hanya menanggapinya dengan lambaian.

*Myung Soo POV*

Cinta? Kenapa semudah itu sibodoh itu untuk menyimpulkannya? Apa seorang laki-laki yang mengajak seorang perempuan untuk pulang bersama itu berarti mereka sedang jatuh cinta? Si bodoh itu memang tidak pernah menggunakan fungsi otakknya dengan baik. Tapi baguslah, berarti yang aku kerjakan tidak sia-sia.

*END POV*

3 comments

  1. yeniandreas · December 17, 2011

    ayo author lanjutkan part selanjutnya , seru nihh hehe ..
    Waah keren apalagi cast’a Minwoo BF haha ..😀
    Lanjut ya thor ..

  2. Hyun34Min · February 6, 2012

    Lanjuuuuuut,thor.
    Sukaaaa

  3. Farfar Defrida · August 4, 2013

    Lanjuuutttt ttthhhoooorrr !!!!!
    Yg part selanjutnya udh keluar????

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s