My Lovely Girl [Sekuel] My Lovely Teacher (Part 4)

Title     : My Lovely Girl [Sekuel] My Lovely Teacher (Part 4)

Author : Siska Sri Wulandari

Cast     : Myung Soo [Infinite]

            : Kim Hana

            : Nam Wohyun [Infinite]

: Lee Howon (Hoya) [Infinite]

Cameo : Shin Ri Young

: Han Jihye

: Lee Taemin [Shinee]

: Jiyoung

: & Infinite member

—Review Part III—

*Taemin POV*

“Kau ini aneh sekali Taemin. Jangan terlalu mengekang Riyoung begitu, bagaimana kalau nanti Riyoung punya kekasih. Kau tidak bisa meminta Riyoung terus bersamamu.” Celetuk Hoya.

Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu. Apa selama ini aku terlalu mengekang Riyoung sehingga sampai saat ini dia masih single. Apa Riyoung seterkekang itu berteman denganku. Demi apapun aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak mau Riyoung jauh dariku karena hanya dia lah satu-satunya orang yang tulus berteman denganku. Tidak seperti anak-anak lain yang punya beribu alasan untuk menguntungkan dirinya sendiri berteman denganku.

*END POV*

Teman itu bukan untuk dimiliki seorang diri. Bukankah teman selalu membentuk rantai yang tak terpisahkan. Bagaimana jika setiap mata rantai itu selalu merasa ingin memiliki. Selamanya hanya akan saling melukai dan terpisahkan.

—End Review—

—Part IV—

“Ya! Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa aku harus tahu dari mulut orang lain? Kau anggap apa aku ini? Apa kau tidak menganggap aku penting? Haaa? Apa aku sama sekali tidak ada artinya lagi bagimu? Kenapa kau mengambil keputusan sendiri? Kenapa tidak mendiskusikannya dulu denganku? Kenapa kau menolaknya? Kenapa kau malah lebih memilih menjadi supir?! Ya! Kau tidak mendengarkanku? Kenapa kau diam saja?” Hana terus-terusan menyerang Myung Soo dengan kemarahannya. Hana baru saja mendapat kabar dari Hoya kalau Myung Soo baru saja menolak tawaran untuk menjadi artis dan lebih memilih menjadi supir.

“…” Myung Soo hanya diam dan mendesah kecil.

“Ya! Aku tidak butuh desahanmu! Jawab aku Myung Soo!” Hana geram dengan kediaman Myung Soo.

“Kenapa kau marah?” Suara Myung Soo terdengar dingin sekali ditelinga Hana.

“Bwoo?! Apa pertanyaanmu itu masuk akal?”

“Kalau kau tidak tahu apa-apa, jangan bersikap seolah kau tahu segalanya.” Jawab Myung Soo dingin.

“Klik.” Myung Soo memutuskan teleponnya, padahal Hana lah yang meneleponnya terlebih dahulu.

“Ya! Kenapa kau mematikannya? Kau marah padaku? Ya! Myung Soo.” Hana masih saja berteriak meskipun koneksi telepon mereka telah terputus. Berulang kali Hana berusaha menelepon Myung Soo lagi, tapi ternyata Myung Soo telah menonaktifkan ponselnya.

*Hana POV*

Ada apa lagi dengannya? Kenapa dia seperti tidak mempedulikanku? Apakah dia sudah tidak mencintaiku lagi? Ani, ani, ani, aku tidak boleh berpikiran jahat seperti itu. Aku harus percaya pada Myung Soo, harus! Tapi, dari apa yang aku baca dan dengar bahwa pacaran jarak jauh  jarang sekali yang berhasil. Selalu akan berakhir menyakitkan. Arrghhh, aku tidak boleh berpikir lebih aneh lagi dari ini! Tidak boleh!

*END POV*

*Myung Soo POV*

“Jebal, jangan berpikir yang tidak-tidak.” Gumamku sambil berusaha menutup mataku perlahan mencoba mencari ketenangan.

*END POV*

Ri Young masih menatap takut layar ponselnya. Ini sudah yang kesekian kalinya Hoya terus meneleponnya. Ri Young merasa tidak enak dengan Hoya karena ternyata appanya hanya menjadikan Myung Soo sebagai supir pribadinya. Sebenarnya appa Ri Young berniat untuk menjadikan Myung Soo sebagai asistennya, tapi ia diminta untuk memberikan Myung Soo pekerjaan yang kemungkinan besar akan ditolak oleh Myung Soo sehingga akan menerima tawaran appa Jihye untuk menjadi artis. Tapi ternyata Myung Soo lebih memilih menjadi supir dibanding menjadi seorang artis.

“Argh, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin mengatakan pada Hoya kalau ada konspirasi di balik semua ini.” Riyoung melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur dan menimpanya dengan bantal. Sepuluh menit kemudian, setelah merasa aman karena ponselnya telah berhenti berdering, Riyoung pun segera mengambil ponselnya lagi tapi segera mencampakkannya lagi ketika ponselnya berdering lagi dan mendapati ID Hana yang terpampang di layar ponselnya.

“Aigoo, tamatlah riwayatku! Ottohke? Aku benar-benar merasa bersalah.” Isak Riyoung sambil menutup kedua telinganya dan keluar kamar membiarkan ponselnya yang terus menjerit.

“Riyoung.” Sapa Myung Soo saat bertemu Riyoung di kampus. Myung Soo memang sengaja datang ke kampus untunk menemui Riyoung.

Riyoung yang masih merasa tidak enak terhadap Myung Soo malah berpura-pura tidak mendengar dan berlari kecil untuk menghindari Myung Soo yang terus mengikutinya. Tanpa sadar Riyoung menabrak Hoya yang berjalan berlawanan arah darinya. Ketika ingin menghindar lagi, Hoya menahan tangan Riyoung. “Chakkaman.” Pinta Hoya.

“Mianhee, jeongmal mianhee. Aku merasa sangat menyesal. Tapi aku janji akan segera menyelesaikan semuanya.” Riyoung membungkukkan badannya sambil terus meminta maaf pada Myung Soo dan Hoya yang masih bingung dengan tingkah lakunya dan segera berlalu lagi.

“Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat begitu takut? Padahal aku jauh-jauh ke sini hanya untuk berterima kasih padanya. Lirih Myung Soo sambil tetap memperhatikan Riyoung yang mulai menghilang ditelan kerumunan mahasiswa lainnya.

“Molla, aku juga heran dengan anak itu,  mendadak menjadi aneh seperti itu.” Jawab Hoya.

Hana masih berkutik dengan segala alat komunikasi yang biasa dia gunakan untuk berkomunikasi dengan Myung Soo. Tapi semua hasilnya sama saja. Myung Soo tidak ada menjawab satupun panggilan darinya. “Siapa yang harus aku hubungi? Hoya? Aku rasa dia bukan orang yang tepat. Atau mungkin Riyoung? Bukankah appanya yang memberikan pekerjaan itu pada Myung Soo?” gumam Hana sambil mencari nomor Riyoung di ponselnya dan menekan tombol berwarna hijau untuk menelepon Riyoung.

Riyoung yang sedang makan siang di kantin bersama Taemin segera mengangkat teleponnya buru-buru tanpa melihat terlebih dahulu ID orang yang meneleponnya karena getaran ponselnya yang membuatnya tersentak.

“Yobboseyo.” sapa Riyoung dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

“Riyoung-ssi? Boleh aku menanyakan sesuatu padamu?” jawab Hana di seberang sana.

“Riyoung-ssi?” gumam Riyoung sambil menjauhkan ponselnya dari daun telinganya dan melihat ID orang yang meneleponnya. “Astaga, kenapa aku angkat telepon dari Hana.” Gerutu Riyoung sambil menghentak-hentakkan kakinya karena gemas atas kebodohannya sendiri yang membuat Taemin keheranan melihat tingkah sahabatnya itu.

“Nee, apa itu?” tanya Riyoung ragu. Padahal tidak perlu ditanyakan pun, Riyoung sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh Hana terhadapnya.

“Kau tahu kenapa Myung Soo berubah?”

Riyoung terdiam. “Myung Soo berubah? Kenapa dia bertanya padaku? Bukankah aku baru mengenal Myung Soo. Kenapa menanyakan pertanyaan yang seharusnya ditanyakan pada orang yang jelas-jelas dekat dengan Myung Soo. Bukankah seharusnya Hana memaki-makiku karena memberikan pekerjaan sebagai supir kepada Myung Soo? Aigoo, kenapa semuanya jadi rumit seperti ini.” Gumam Riyoung sambil melirik Taemin yang tengah memperhatikannya dengan tatapan khawatir.

“Riyoung? Kau mendengarku kan?” Hana memanggil Riyoung.

“Nee, aku tidak mengerti dengan maksud pertanyaanmu? Kenapa bertanya seperti itu padaku. Aku tidak tahu kalau Myung Soo berubah, karena sepertinya dia masih terlihat biasa saja.” Jawab Riyoung jujur.

“Ohh, gomawo.” Jawab Hana lemas dan memutuskan teleponnya.

“Bersikap biasa saja? Jadi dia hanya bersikap seperti itu padaku? Apa dia benar-benar tidak mencintaiku lagi? Apa mungkin dia telah bertemu gadis lain yang jauh lebih baik dariku? Myung Soo? Bukankah dulu kau yang mengejarku mati-matian? Tapi kenapa sekarang kau mencampakkan aku dengan cara seperti ini. Kalau memang tidak bisa menjalin hubungan lagi, kenapa tidak mengatakannya saja. Kenapa membiarkanku tersiksa dengan keadaan seperti ini.” Hana mulai terisak. Air matanya semakin deras ketika melihat fotonya dan Myung Soo di layar ponselnya. “Kita bahkan belum genap satu bulan menjalani hubungan ini, tapi semuanya akan berakhir secepat ini.”

Riyoung meletakkan ponselnya perlahan di atas meja. Ditatapnya Taemin yang masih menatapnya dengan tatapan khawatir.

“Wae?” tanya Taemin sambil meletakkan sendoknya.

“Hana meneleponku.” Jawab Riyoung dengan tatapan menerawang.

“Lantas?”

“Dia bertanya kenapa Myung Soo berubah? Bukankah dia seharusnya memaki-makiku karena menjadikan Myung Soo sebagai supir?” wajah Riyoung terlihat stres.

“Sudahlah Riyoung-ahh, tidak usah terlalu dipikirkan. Harusnya mereka berterima kasih karena Myung Soo telah mendapatkan pekerjaan. Saat ini, tamatan SMA itu sangat sulit mencari pekerjaan.” Taemin mencoba menghibur Riyoung.

“Tapi tetap saja aku merasa bersalah.” Riyoung menundukkan kepalanya seraya memainkan jemarinya.

“Ya! kau itu terlalu baik. Selalu memikirkan perasaan orang lain padahal kau sendiri terluka.”

“Tapi..”

“Tidak ada tapi-tapian, pokoknya kau tidak boleh sedih! Ara! Aku tidak akan membiarkan sahabatku bersedih.” Taemin meraih tangan Riyoung dan menggenggamnya.

            Masih dengan gaya sok gantengnya, Wohyun berjalan dengan penuh kepercayaan diri melintasi koridor kampus yang sebentar lagi akan menjadi kampusnya, Universitas Seoul. Entah dengan alasan apa, Wohyun hanya tertarik pada kampus tempat gadis yang masih dicintainya sampai sekarang itu. Bukannya ingin menghapus segala kenangan tentang Hana, tapi Wohyun malah ingin tahu segalanya tentang masa lalu Hana. Untuk saat ini Wohyun memang belum seutuhnya merelakan Hana. Dilihatnya Hoya yang tengah berbincang-bincang dengan teman-temannya di ujung koridor.

“Hyuung. Lama tidak berjumpa.” Sapa Wohyun ramah pada Hoya.

Hoya menatap Wohyun sekilas dan kemudian melemparkan pandangannya kepada seluruh teman-temannya.

“Hyung?” Hoya mengulang kata-kata Wohyun dengan ragu. Wohyun hanya mengangguk bersemangat.

“Apa yang salah? Bukankah benar jika dia memanggilmu hyung. Justru aneh kalau dia memanggilmu oppa.” Goda salah satu teman Hoya sambil terkekeh.

“Ani, bukan seperti itu. Dari nadamu menyapaku terdengar bahwa kita sangat akrab.” Kata Hoya.

“Bukankah kita memang akrab hyung?”

“Sejak kapan?” protes Hoya.

“Sejak kita semua terlibat dalam kebohongan Hana Songsaenim.” Jawab Wohyun dengan nada seperti tidak terjadi apa-apa sama sekali.

Hoya hanya terdiam. Pantas saja Myung Soo masih sangat membencinya. Sifatnya benar-benar menyebalkan.

“Tapi aku tidak pernah berpikir bahwa kita adalah orang yang akrab.” Sambung Hoya sambil berlalu.

“Hati-hati Hyuuung!” teriak Wohyun sambil melambai-lambaikan tangannya, namun Hoya malah berpura-pura tidak mendengarnya.

            Riyoung baru saja ingat bahwa Perusahaan appanya sebentar lagi akan mengadakan audisi. Mungkin dengan cara audisi setidaknya Myung Soo masih mau memikirkan lagi tawaran sebagai artis. Riyoung pun memutuskan untuk datang ke kantor appanya untuk mengambil selebaran audisi agency mereka. Riyoung segera membereskan bukunya yang berserakan di atas meja di perpustakaan dan segera berlari keluar.

“Bruuk.” Riyoung menabrak sesuatu, ralat, bukan sesuatu tapi seseorang. Kini posisi tubuh Riyoung telungkup di atas lantai dan lututnya tampak sedikit berdarah. Namun tanpa basa-basi Riyoung segera berdiri tanpa mempedulikan rasa sakitnya. Setelah membungkuk sekilas sebagai tanda minta maaf tanpa melihat wajah orang yang tadi ditabraknya, Riyoung kembali melanjutkan larinya meski sedikit terseok-seok karena luka di lututnya yang ternyata cukup lebar.

“Noona, gwenchana?” Wohyun, yang ternyata adalah orang yang ditabrak Riyoung berusaha mengejar Riyoung, tapi sayang Riyoung telah hilang diantara kerumunan mahasiswa.

“Bukankah itu Riyoung noona? Kenapa dia buru-buru seperti itu?” batin Wohyun. Dilihatnya ada sesuatu yang tergeletak tak berdaya di atas lantai tempat tadi Riyoung terjatuh. Wohyun segera memungutnya. Ternyata sebuah ponsel. Pasti itu adalah ponsel Riyoung. Dibukanya flip ponsel Riyoung dan betapa terkejutnya Wohyun mendapati wallpaper ponsel Riyoung adalah foto Riyoung bersama Hoya. “Ternyata mereka adalah pasangan.” Batin Wohyun sambil tersenyum dan memasukkan ponsel Riyoung ke dalam saku celananya.

            Taemin terkejut ketika suara laki-laki yang menyambut panggilannya. “Nugu?” tanya Taemin. Wohyun membaca ID yang terpampang di layar ponsel Riyoung. “TaemTaem.” Gumam Wohyun. Apakah ini panggilan sayang Riyoung noona kepada Hoya hyung? Tapi dari suaranya jelas ini bukan suara Hoya hyung.”

“Ya! Apa yang kau lakukan pada Riyoung? Apa kau menculiknya? Awas saja kalau kau berani menyakitinya, aku akan membuat hidupmu menyesal!” Taemin berteriak-teriak tidak jelas yang membuat Wohyun menjadi sedikit panik.

“Ani, ani, kau salah sangka. Aku bukan orang jahat. Hanya saja tadi aku menemukan ponsel Riyoung noona yang terjatuh.”

“Riyoung noona?” suara Taemin terdengar menyelidiki. “Setahuku Riyoung tidak punya adik laki-laki, siapa laki-laki yang menyebutnya noona ini?” batin Taemin.

“Di mana kau sekarang?” tanya Taemin tidak sabar.

“Di depan perpustakaan Universitas seoul.”

“Kau berada di kawasan kampus juga? Tunggu aku di sana. Jangan mencoba untuk kabur.” Perintah Taemin tanpa memutuskan teleponnya.

            Sesampainya di depan perpustakaan, Taemin hanya melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan perpustakaan. Dengan memantapkan langkahnya, Taemin mengampiri  Wohyun yang sedang melamun dan segera memutuskan sambungan telepon mereka yang tadi sengaja tidak diputusnya untuk memastikan bahwa Wohyun tidak akan kabur..

“Di mana Riyoung?” tanya Taemin tanpa basa-basi ketika sampai di hadapan Wohyun.

Wohyun memalingkan wajahnya dan menatap Taemin. “Sepertinya aku pernah melihatmu. Ahh, kau pasti adalah temannya Hoya hyung dan juga Riyoung noona.” Kata Wohyun dengan riangnya.

“Nugu?” Taemin memicingkan matanya. “Tidak, ini bukan saatnya kau untuk memperkenalkan diri. Yang lebih penting adalah mana ponsel Riyoung dan di mana Riyoung saat ini?” Taemin langsung meneror jawaban dari Wohyun.

Wohyun memberikan ponsel Riyoung kepada Taemin dan menggeleng. “Aku tidak tahu kemana noona pergi. Tadi dia terlihat terburu-buru sekali. Dia bahkan lupa bahwa ponselnya terjatuh.

“Siapa kau sebenarnya? Daritadi kau memanggil Riyoung dengan sebutan noona. Apakah hubunganmu dengan Riyoung sedekat itu?” Belum sempat Wohyun menjawab pertanyaan Taemin, Taemin segera memotongnya. “Ani, ini juga bukan saat yang tepat untuk menanyakan hubungan mu dengan Riyoung. Aku harus menelepon Hoya terlebih dahulu.” Taemin pun mulai sibuk dengan ponselnya dan segera meminta Hoya untuk menemuinya sekarang juga. Tak berapa lama setelah itu, datanglah Hoya dengan terpogoh-pogoh.

“Ada apa? Kenapa kau terdengar panik sekali di telepon?” Napas Hoya terengah-engah.

“Riyoung tiba-tiba menghilang bahkan dia tidak sadar bahwa telah kehilangan ponselnya.” Jawab Taemin lirih.

“Jeongmal? Kau tidak bercanda kan? Bagaimana bisa?” Hoya terlihat panik.

“Hyung, kau tidak tahu di mana Riyoung berada? Apakah kalian sedang bertengkar?” tiba-tiba Wohyun mengikutsertakan dirinya dalam percakapan yang tadi hanya terjadi antara Hoya dan Taemin.

“Apa maksudmu?”

“Aigoo ini bukan saatnya kita untuk membahas hal lain kecuali mengenai Riyoung.” Taemin semakin panik dan memukul-mukul kepalanya sendiri.

“Hubungi saja orang rumahnya.” Wohyun kembali bersuara.

Hoya dan Taemin langsung bertukar pandang dan Taemin langsung sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi orang rumah Riyoung.

Hana menghela napas sedalam-dalamnya ketika selesai mengirimkan pesan singkat pada Myung Soo. Berharap apa yang dikirimnya itu hanyalah sebuah mimpi belaka. Bagaimana bisa semuanya harus segera diakhiri. Hana memasukkan tangannya ke dalam mantel tebalnya dan sedikit menggeliat karena kedinginan. Udara malam yang semakin menusuk sama sekali tidak menggoda Hana untuk masuk ke dalam asrama. “Apapun yang terjadi pada hubungan kita bukanlah salahmu, memang akulah yang bersalah.” Gumam Hana. Tanpa sadar air mata Hana tumpah lagi. “Air mata ini bukan untuk apa yang terjadi pada hubungan kita melainkan untuk kesalahanku yang selalu menyiksa dirimu. Mianhee, seharusnya aku memang tidak seharusnya membuatmu jatuh cinta padaku. Seharusnya kita memang tidak pernah bertemu. Seharusnya aku tidak menerimamu. Seharusnya aku tidak menyakitimu. Seharusnya tidak pernah ada kata kita di antara kau dan aku.” Hana berusaha untuk menghentikkan tumpah air matanya namun semakin Hana berusaha untuk menghentikannya semakin deras pula air matanya turun.

Tanpa sadar, Hana tertidur di halaman asrama karena menunggu jawaban dari pesan singkatnya pada Myung Soo tadi. “Apakah diam berarti iya?’ gumam Hana sambil memandangi layar ponselnya yang sama sekali tidak menandakan adanya pesan singkat yang masuk. “Aku masih belum bisa memastikannya, akan tetap aku tunggu jawaban kepastianmu.” Batin Hana lagi. Hana merasa ada yang menyentuh pundaknya. Hana menoleh, dan mendapati Caroline, teman satu kamarnya. Caroline memerintahkan Hana untuk masuk ke dalam kamar karena salju yang turun semakin banyak, Hana pun hanya menurut saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun. “Love is pain.” Celetuk Caroline pelan. Hana hanya diam dan berusaha untuk tetap bisa menjaga keseimbangan tubuhnya yang sedikit goyah ketika mendengar perkataan Caroline.

*Myung Soo POV*

Aku sangat terkejut membaca pesan singkat dari Hana. Apa aku terlalu kejam padamu sehingga kau bisa berkesimpulan seperti itu? Tahukah kau Hana, hanya kau satu-satunya yang aku cintai, tidak ada yang lain. Beribu wanita yang lebih baik daripada kau pun aku tidak peduli, aku tidak bisa kalau bukan kau. Hanya saja aku tidak bisa mengatakannya saat ini. Aku takut alasanku hanya semakin membebanimu. Maaf jika aku tidak membalas pesanmu. Aku tidak tahu kata apa yang harus aku gunakan agar tidak semakin menyakitimu.

TBC…

5 comments

  1. L_woo jinki · December 19, 2011

    aku suka bgt thor…critanya makin complicated aku g sabar nunggu lanjutanya ^^b lajutin yh thor jgn ampe stuck ditengah jalan😉

  2. puji · December 19, 2011

    nice story. . Jgn lama2 lanjutannya ya. .

  3. Hyun34Min · February 6, 2012

    Kyaaaa~ baru sadar ternyata MLP ada sekuelnya.. Daebak!

  4. kyuwonhae · August 6, 2012

    krreeennn thoorr🙂
    Lanjuuttt😀

  5. maria asti · April 3, 2013

    Argh Myung Soo!!
    Bilang aja, “percaya padaku chagiya,aku mencintaimu”
    (padalah gak tau isi smsnya, :P)

    Suka deh thor sama ff nie,
    Ditunggu kelanjutannya ya thor,🙂
    Jangan lama” dan banyak” partnya ya..🙂
    #readers banyak maunya,😛

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s