My Lovely Girl [Sekuel] My Lovely Teacher (Part 5)

Title     : My Lovely Girl [Sekuel] My Lovely Teacher (Part 5)

Author : Siskha Sri Wulandari

Cast     : Kim Myung Soo [Infinite]

           : Park Hana

           : Kim Wohyun [Infinite]

           : Lee Howon (Hoya) [Infinite]

Cameo: Shin Ri Young

           : Han Jihye

           : Lee Taemin [Shinee]

           : Jung Jiyoung

           : & Infinite member

NB : Marga Myung Soo, Wohyun & Hana diubah, karena terjadi beberapa kesalahan di chapter-chapter sebelumnya. Yang nggak sadar ya Alhamdulillah, yang sadar author hanya bisa minta maaf#plaak

—Review Part IV—

Hana menghela napas sedalam-dalamnya ketika selesai mengirimkan pesan singkat pada Myung Soo. Berharap apa yang dikirimnya itu hanyalah sebuah mimpi belaka. Bagaimana bisa semuanya harus segera diakhiri. Hana memasukkan tangannya ke dalam mantel tebalnya dan sedikit menggeliat karena kedinginan. Udara malam yang semakin menusuk sama sekali tidak menggoda Hana untuk masuk ke dalam asrama. “Apapun yang terjadi pada hubungan kita bukanlah salahmu, memang akulah yang bersalah.” Gumam Hana. Tanpa sadar air mata Hana tumpah lagi. “Air mata ini bukan untuk apa yang terjadi pada hubungan kita melainkan untuk kesalahanku yang selalu menyiksa dirimu. Mianhee, seharusnya aku memang tidak seharusnya membuatmu jatuh cinta padaku. Seharusnya kita memang tidak pernah bertemu. Seharusnya aku tidak menerimamu. Seharusnya aku tidak menyakitimu. Seharusnya tidak pernah ada kata kita di antara kau dan aku.” Hana berusaha untuk menghentikan tumpah air matanya namun semakin Hana berusaha untuk menghentikannya semakin deras pula air matanya turun.

Tanpa sadar, Hana tertidur di halaman asrama karena menunggu jawaban dari pesan singkatnya pada Myung Soo tadi. “Apakah diam berarti iya?’ gumam Hana sambil memandangi layar ponselnya yang sama sekali tidak menandakan adanya pesan singkat yang masuk. “Aku masih belum bisa memastikannya, akan tetap aku tunggu jawaban kepastianmu.” Batin Hana lagi. Hana merasa ada yang menyentuh pundaknya. Hana menoleh, dan mendapati Caroline, teman satu kamarnya. Caroline memerintahkan Hana untuk masuk ke dalam kamar karena salju yang turun semakin banyak, Hana pun hanya menurut saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun. “Love is pain.” Celetuk Caroline pelan. Hana hanya diam dan berusaha untuk tetap bisa menjaga keseimbangan tubuhnya yang sedikit goyah ketika mendengar perkataan Caroline.

*Myung Soo POV*

Aku sangat terkejut membaca pesan singkat dari Hana. Apa aku terlalu kejam padamu sehingga kau bisa berkesimpulan seperti itu? Tahukah kau Hana, hanya kau satu-satunya yang aku cintai, tidak ada yang lain. Beribu wanita yang lebih baik daripada kau pun aku tidak peduli, aku tidak bisa kalau bukan kau. Hanya saja aku tidak bisa mengatakannya saat ini. Aku takut alasanku hanya semakin membebanimu. Maaf jika aku tidak membalas pesanmu. Aku tidak tahu kata apa yang harus aku gunakan agar tidak semakin menyakitimu.

—End Review—

Part V

            Sudah dua jam dosen matematikanya berkicau di depan kelas, tapi selama itu juga Hana sama sekali tidak memperhatikan pelajarannya. Mata Hana menerawang lurus ke arah layar proyektor seolah sedang memperhatikan, padahal pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Posisi bertopang dagu yang dilakukannya sejak masuk kelas pun sama sekali tidak mengalami perubahan sampai sekarang. Ponselnya sengaja diberi nada ketika ada pesan masuk, selama ini untuk pesan masuk Hana hanya menandakannya dengan getaran, tapi demi sebuah pesan singkat yang sangat dinanti-nantikannya sejak tadi malam Hana memberikannya nada. Caroline, teman satu kamar Hana yang duduk di tepat di sampingnya terus memperhatikan tingkah Hana sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya. “This is not you.” Desis Caroline seraya kembali mencatat.

            Tiba-tiba ponsel Hana berdering, tanda ada pesan yang masuk. Hana langsung terlonjak kaget dan berdiri dari kursinya. Matanya berbinar-binar dan senyum yang tersungging lebar menampakkan giginya yang tertata rapi. Semua orang termasuk Mr. Ken, dosen matematikanya memusatkan perhatian pada Hana. Caroline yang duduk di samping Hana pun berusaha untuk memanggil Hana dan menyuruhnya kembali duduk, tapi Hana sama sekali tidak menggubrisnya. Mata Hana sama sekali tidak lepas dari layar ponselnya. Seisi kelas masih memperhatikan Hana dan menunggu reaksi Hana selanjutnya. Saat itu, waktu terasa berhenti dan terfokus pada Hana. Raut wajah Hana yang tadinya begitu sumringah berubah menjadi kusut lagi. “ Hoya.” Kata Hana pelan sambil menatap sedih Caroline yang masih memegang lengannya. “Get Out!” tiba-tiba Mr.Ken berteriak yang membuat seluruh mahasiswa kaget dengan suaranya yang sangat keras. Hana menatap ponselnya dan Caroline secara bergantian. Tanpa berusaha melakukan pembelaan diri agar tetap bisa mengikuti pelajaran, Hana segera keluar kelas. Inilah kali pertama baginya diusir dari kelas. Masalah kecil seperti ini tentu bisa menjadi masalah besar bagi seorang mahasiswa yang menggantungkan dirinya pada bantuan beasiswa.

            “Gwenchana?” Hana membaca pelan pesan singkat dari Hoya. “Waeyo?, kenapa harus kau yang bertanya seperti itu? Tentu saja aku tidak baik-baik saja, aku akan baik-baik saja jika Myung Soo yang menanyakan hal ini.” Keluh Hana sambil membuka batrai ponselnya dan mencampakkannya ke dalam tasnya dengan kasar. “Ya! Myung Soo, apa yang harus aku lakukan? Beri tahu aku! Kenapa kau mendiami ku seperti ini!” teriak Hana dan kemudian menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya. “Aku yang jahat padamu atau kau yang membiarkan aku terlihat jahat!” kata Hana lagi disela-sela tangisnya.

“Whaaat? Menggoda? Appa pikir aku wanita penggoda?” Jihye melempar majalah fashion yang tadi sedang asyik ditekuninya sebelum ayahnya datang.

“Ani, bukan wanita penggoda.” Klarifikasi ayah Jihye sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Lantas disebut apa wanita yang diminta untuk mendekati seorang pria untuk sebuah tujuan yang tidak benar?” protes Jihye sambil membenarkan posisi duduknya.

“Kau hanya perlu membujuknya untuk menjadi artis appa.”

“Apa appa pikir aku bodoh? Aku tahu permintaaan selanjutnya. Pasti appa memintaku untuk mendekatinya, menggodanya, menjadikannya namjachinguku, dan memaksanya untuk menjadi artis appa? Right?, sudahlah, hentikan obsesi appa padanya!”

“Ya, Jihye appa tidak sejahat itu. Mintalah bantuan Riyoung untuk membantumu. Bukankah Riyoung mengenalnya?”

“Eoh, setelah menyuruhku menjadi wanita penggoda sekarang appa menyuruhku untuk memanfaatkan sahabatku sendiri? Apa aku serendah itu di mata appa?”

“Ya! Bukan memanfaatkan. Kenapa kau selalu menafsirkan permintaan appamu ini dengan hal-hal negatif, bisakah kau sedikit berpikir positif pada appa mu ini?”

Jihye menatap sinis appanya dan menggeleng tegas. “Wajah ini, bukan untuk menjerumuskan!” Jihye menunjuk wajahnya dengan ekspresi kesal dan mendorong ayahnya untuk keluar dari kamarnya.

“Ayah tidak meminta secara gratisan. Ayah pasti akan membayarnya. Uang jajan tambahan? Mobil baru? Liburan? Atau apapun yang kau mau.” Iming-iming appa Jihye.

“Sirheo!” jawab jihye tegas seraya menutup pintu kamarnya.

“Kenapa aku harus selalu diusir oleh putriku sendiri!” gerutu appa jihye ketika berhasil dikeluarkan oleh Jihye.

            Myung Soo terus memandangi selebaran audisi yang diberikan Riyoung tadi malam. Di bacanya berulang-ulang dan terus membalik-balik selebaran tersebut seperti mencari huruf yang hilang dari selebaran tersebut. “Kenapa dia juga jadi ikut-ikutan ngotot memaksaku menjadi artis?” Gumam Myung Soo pelan. Myung Soo mengalihkan pandangannya ke luar melalui kaca mobil. Saat ini Myung Soo sedang berada di depan perusahaan appa Riyoung, tuan Joon. Tentu saja, karena dia merupakan supir pribadi tuan Joon. “Anggaplah ini sebagai imbalan untukku yang telah memberikanmu pekerjaan.” Kata-kata Riyoung tempo hari kembali terngiang-ngiang di telinga Myung Soo. “Bukannya aku tidak tahu diri dan tidak bisa berterima kasih atas pertolongan yang telah kau berikan, tapi jika aku memilih jalan hidup sebagai artis maka akan banyak pihak yang semakin tersakiti.” Bayangan Hana tiba-tiba muncul di dalam pikirannya. Semuanya seperti kaset rekaman yang sedang diputar ulang. Saat dimana ia pertama kali bertemu Hana, betapa menyebalkannya baginya sosok Hana yang selalu bersikap sok pahlawan, saat di mana dia mulai merasa ada yang aneh ketika melihat senyum Hana, rasa cemburu yang muncul akibat skandal yang muncul antara Hana dan Wohyun sampai rasa cemburu tak beralasan pada Hoya yang notabenenya adalah sahabat Hana. Hingga betapa sulitnya menyadarkan Hana akan ketidakpekaannya bahwa Ia juga mencintai Myung Soo. Semua itu terasa begitu berharga untuk dihancurkan oleh jarak dan juga pekerjaan seperti ini. “Apakah semua pertolongan harus dibalas dengan imbalan.” Batin Myung Soo sambil meremas-remas selebaran audisi tersebut.

            Wohyun tersenyum puas memandangi Universitas yang kini telah resmi menjadi kampusnya. Setelah cukup lama berdiri di depan gerbang Universitas Seoul, Wohyun melangkah riang menuju gedung utama. Walau baru berumur satu hari resmi menjadi mahasiswa Universitas Seoul tapi Wohyun sudah berhasil membentuk fansclub dari para wanita-wanita penggemarnya yang terkadang bersikap sangat menakutkan. “Dimana-mana aku selalu jadi idola.” Gumam Wohyun sambil terus berjalan dengan santainya.

Riyoung menatap kolam yang ada di hadapannya dengan sendu sambil terus mengulang-ngulang kata-kata yang tadi malam dilontarkan oleh Hoya.

“Waeyo? Ada yang salah jika memasang foto itu? Bukankah hal itu wajar? Kita adalah teman, wajar saja jika Riyoung memakai foto kami berdua sebagai wallpapernya.”

“Ya, itu memang sangat wajar. Kita adalah teman. Foto berdua merupakan hal yang wajar dilakukan oleh seorang teman.”

-Flashback-

Riyoung kaget ketika Ia memasuki rumahnya dan mendapati sudah ada Taemin, Hoya bahkan Wohyun di dalam rumahnya. Masih dengan kepala yang penuh rasa kaget Taemin langsung heboh melihat lutut dan pergelangan kaki  Riyoung yang diperban.

“Ya! Apa yang terjadi padamu? Ada apa dengan lututmu? Pergelangan kakimu? Kenapa semuanya diperban seperti itu? Rambutmu juga kenapa acak-acakan seperti itu? Riyoung? Gwenchana?” Taemin heboh sendiri melihat kondisi Riyoung sambil meraba-raba kepala dan kaki Riyoung. Tuan Joon dan Myung soo yang baru saja masuk hanya bisa tersenyum melihat tingkah Taemin.

“Aku baik-baik saja.” Jawab Riyoung sambil tersenyum.

“Ini bukan saat yang tepat untuk tersenyum. Tidak mungkin tidak apa-apa kalau sampai diperban seperti ini. Ahjussi, apa yang sebenarnya terjadi pada Riyoung?” Taemin menuntut penjelasan juga pada tuan Joon karena tidak puas terhadap jawaban Riyoung.

“Dia tadi jatuh di kampus, makanya lututnya seperti itu. Karena terburu-buru keluar dari taxi pada saat sampai di kantor paman, kaki Riyoung tersangkut dan membuatnya kembali terjatuh dari pintu mobil dan melukai pergelangan kakinya.” Jelas tuan Joon seraya melonggarkan dasinya.

“Ada apa? Kenapa kau seterburu-buru itu?” selidik Taemin.

“Ada sesuatu yang aku cari di kantor appa.” Jawab Riyoung. Myung Soo menatap Riyoung dengan tatapan merasa bersalah, karena demi dirinya lah Riyoung menjadi seperti ini.

“Kenapa kau tidak sekhawatir Taemin?” Wohyun mengagetkan Hoya yang daritadi hanya bisa cekikikan melihat tingkah Taemin.

“Ehh, bukannya wajar? Taemin itu teman terdekat Riyoung.” Jawab Hoya sambil menahan tawanya.

“Apakah perhatian seorang namjachingu tidak boleh lebih besar daripada perhatian seorang teman terdekat?”

“Namjachingu?” tanya Hoya sambil memiringkan wajahnya.

“Kau pikir aku tidak tahu kalau kalian adalah pasangan?” Wohyun tersenyum pongah.

“Apa yang kau maksud dengan kalian itu adalah aku dan Riyoung?” tanya Hoya ragu sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Tentu saja hyuung.” Jawab Wohyun geram.

“Hey, ternyata kau juga menurun sifat kesoktahuan Myung Soo.”gerutu Hoya.

“Aissh, masih tidak mau mengaku!” Wohyun mengambil ponsel Riyoung yang tegeletak di atas meja. “Ini! Ini buktinya! Masih mau menyangkal lagi!” Wohyun terlihat sangat gemas dan menyodor-nyodorkan ponsel Riyoung ke wajah Hoya yang terlihat sangat bingung.

Hoya meraih ponsel Riyoung dan mengerutkan dahinya. “Waeyo? Ada yang salah jika memasang foto itu? Bukankah hal itu wajar? Kita adalah teman, wajar saja jika Riyoung memakai foto kami berdua sebagai wallpapernya.” Jawab Hoya sambil memandang Riyoung dan Taemin yang ternyata daritadi mengdengarkan obrolan mereka.

“Bwo? Apa kau bilang?!” Taemin merebut ponsel Riyoung dan melihat wallpaper Riyoung dengan gusar. Ini tidak boleh!’ Taemin mengutak-atik ponsel Riyoung dan manggantinya dengan wallpaper mereka berdua.” Ini lebih baik, kau tidak boleh memasang foto bersama orang asing, apalagi orangnya seaneh Hoya!” celetuk Taemin sambil memamerkan wallpaper yang baru saja digantinya sambil nyengir kuda.

“Ya, terserah kau sajalah Taemin.” Jawab Hoya yang kesal karena Taemin menyebutnya orang aneh.

“Jadi kalian bukan pasangan?” tanya Wohyun tidak percaya.

“Tentu saja bukan, Riyoung mana mau berpasangan dengan makhluk abnormal seperti dia.” Taemin menunjuk Hoya yang masih terlihat kesal.

“Anak muda zaman sekarang.”  Appa Riyoung hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah teman-teman putrinya itu. “Riyoung, setelah selesai dengan teman-temanmu segeralah istirahat.” Nasehat tuan Joon seraya naik ke lantai dua.

“Sebaiknya kalian semua segera pulang, Riyoung sudah sangat lelah.” Kata Myung Soo.

“Ya, itu benar! Kami pamit dulu ya Riyoung.” Pamit Hoya sambil menjitak kepala Taemin dan menariknya dengan paksa keluar.

“Ya! Dasar aneh! Jangan perlakukan aku seperti ini!” teriak Taemin sambil berusaha melepaskan dirinya dari tarikan Hoya.

“Istirahatlah.”Perintah Myung Soo dan segera keluar mengikuti yang lainnya.

“Nee.” Jawab Riyoung hampir tak terdengar.

-End Of Flashback-

“Teman, terkadang aku sangat benci kata itu.” Gumam Riyoung lirih.

            Hari ini, Riyoung meminta Myung Soo untuk menemuinya di halaman belakang kampus untuk mengingatkan bahwa audisi kantor ayahnya akan dilaksanakan lusa.

“Aku pikir kau adalah orang yang benar-benar tulus, tapi sepertinya kau juga tipikal orang yang harus menerima imbalan dari bantuan yang telah kau berikan. Malang sekali aku berpikir bahwa kau adalah orang baik. Pasti kau mengorbankan aku demi menolong ayah dari sahabatmu itu kan?” Myung Soo duduk membelakangi Riyoung sambil menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan wajah kecewanya.

Riyoung menghela napas. ”Mungkin akan lebih baik kalau kau berpikir bahwa aku bukanlah orang baik.” Suara Riyoung terdengar parau. Hatinya sangat sakit mendengar perkataan Myung Soo. Ternyata Myung Soo berpikir sampai sejauh itu tentang permintaannya menyuruhnya menjadi artis. Tapi karena tidak mau ketahuan kalau ini adalah ulah ayahnya dan ayah Jihye Riyoung rela untuk menjadi orang jahat di mata Myung Soo.

“Tapi penilaian tetaplah penilaian. Aku tidak mau audisi ini hanya dalih agar aku mau menjadi seorang artis. Jika kemampuanku tidak memadai untuk menjadi artis maka gugurkan aku.” Nada bicara Myung Soo sangat datar namun kata-katanya begitu menyakitkan.

“Nee, kau tenang saja. Gomawo.” Riyoung berdiri dengan posisi tetap membelakangi Myung Soo.

“Sampai sekarang aku belum bisa mempercayai orang-orang baru dalam kehidupanku seutuhnya. Tapi entah kenapa, sejak pertama kali aku mengenalmu aku yakin bahwa kau adalah orang baik, tapi sekarang meski aku tetap berusaha menyakinkan diriku bahwa kau adalah orang yang benar-benar tulus tapi pada kenyataanya tidak seperti itu. Ternyata memang tidak ada orang yang pernah tulus membantuku.” Myung Soo berkata dingin.

“Nee, tetaplah beranggapan seperti itu.” Riyoung berkata lirih sambil menggenggam erat ujung blazernya. “Aku memang bukan orang baik.” Sambung Riyoung lagi.

“Lupakan Hoya hyung, orang sepertimu sama sekali tidak pantas untuknya.”

Riyoung tersentak.

“Kau tahu?”

“Aku bukan Taemin hyung yang selalu menganggap kau adalah miliknya saja, aku juga bukan Hoya hyung yang selalu tidak menyadari keberadaanmu.”

“Karena aku orang jahat maka kau berpikir aku tidak pantas untuk Hoya?”

“Lantas kau pikir kau pantas untuknya?”

“Bahkan jika aku tidak menjadi seperti ini pun, aku memang tidak akan pernah pantas dengan Hoya. Karena dia memang tidak pernah mengganggap keberadaanku.”akhirnya tangis Riyoung pecah, Riyoung menghapus air matanya kasar dan berlari sekencang mungkin meninggalkan Myung Soo yang masih membelakanginya dan tetap tidak mau menoleh kebelakang.

*Myung Soo POV*

Ternyata memang tidak pernah ada orang yang tulus kepadaku selain Hana. Aku sangat kesal dengan Riyoung yang ternyata tidak sebaik yang aku pikirkan. Dia memberikanku pekerjaan hanya untuk menjebakku mengikuti audisi ini. Pasti ini adalah permintaan dari si pencari bakat aneh itu. Aku sangat benci terhadap orang yang hanya berpura-pura baik hanya untuk suatu tujuan yang menguntungkan dirinya sendiri. Tapi, entah kenapa aku merasa sangat bersalah ketika mengatakan hal itu padanya. Hati kecilku seolah berontak kalau dia adalah orang jahat, terlebih ketika aku mengatakan bahwa dia tidak pantas untuk Hoya Hyung. Astaga, bagaimana bisa aku berkata seperti itu pada Riyoung. Lagipula sebenarnya aku akui Riyoung dan Hoya adalah pasangan serasi. Tapi, tapi, tapi dia hanya memanfaatkan kebutuhanku demi kepentingannya! Dia bukanlah orang yang baik!

*END POV*

“Ya, aku memang orang jahat. Aku sama sekali tidak pantas untuk Hoya. Hoya tidak pernah menganggap keberadaanku.” Riyoung terus menggumam disela-sela tangisnya seraya berlari.

            Hana membaca pesan dari Riyoung bahwa Myung Soo akan mengikuti audisi yang diadakan oleh perusahaan appanya. Mengetahui hal itu Hana sangat senang karena akhirnya Myung Soo mau mencoba untuk menjadi artis sehingga tidak perlu lagi menjadi supir.

“Tapi, kenapa Myung Soo sama sekali tidak menghubungiku? Mungkin aku bisa memberikannya kejutan dengan hadir pada saat dia audisi.” Hana sangat girang mendapati Myung Soo telah berubah pikiran. Dengan segera Hana mengirimi pesan kepada Myung Soo.

“Jeongmal bogoshippo. Aku sudah tidak sabar lagi ingin bertemu denganmu chagi.” Hana tersenyum simpul membaca ulang pesannya kepada Myung Soo sebelum mengirimkannya.

            Myung Soo masih bertanya-tanya akan maksud dari pesan yang baru saja didapatnya dari Hana. “Bertemu denganku?” kata-katanya seolah kami akan bertemu dalam waktu dekat ini. Tapi bagaimana caranya? Sudahlah, yang penting sekarang aku hanya perlu mempersiapkan diri untuk gagal audisi sehingga aku bisa lepas dari semua belenggu ini dan hubunganku dengan Hana pun akan kembali baik-baik lagi.” Gumam Myung Soo sambil menatap foto Hana di atas meja belajarnya. “Saranghanta.”

9 comments

  1. fesli · May 4, 2012

    Lanjut

  2. purpzzmeii · June 2, 2012

    Ini koq gak ada tulisan TBC nya??
    Masi lnjut gk thor?🙂 thx ..

  3. tika · July 23, 2012

    Waaa,, ceritanya bagus chingu🙂

  4. kyuwonhae · August 6, 2012

    mwoo … Gantung bgt neh😦
    Ending y . Bkin seqeul lg jebal🙂

  5. maria asti · April 3, 2013

    Lanjut thor!!!
    aduh,penasaran banget!!
    Ni walaupun castnya bertaburan,tapi tetep gak bingung bacanya,🙂

    Buruan ya thor,,
    Aku selalu menunggu kelanjutannya,🙂😀😛

  6. hanalivinia · June 16, 2013

    Walaupun bacanya ngebut tapi ceritanya daebbakk !! (Y)
    Tapi ini udah ending ya ? Kok kayak ngegantung gitu?
    Lanjutin dongg.. Jebal.
    Soalnya main cast nya nama aku ‘Hana’ kkk~

    Gomawo^^

  7. Farfar Defrida · August 3, 2013

    Ini msh lanjut kn thor????
    Sorry bru commen disini….
    Tpi klo msh lanjut, koq smpe skarang blum ada lanjutannya??? Jngn berhenti ditengah jalan thor… #Guling2
    Q suka bngt ama critanya!!! Jdi please dilanjutin, ne ???! #Maksa bngt
    Ttp smangat thorr !! (^-^)9

  8. Amel Lee · August 18, 2013

    Lanjut dong thor ???? penasaran tingkat ubun ubun ini😦
    mana lanjutannya thor T____T
    huwaaaaaaaaa hiks hiks *menangis terseok seok (?)*
    thor, please comeback to me (?) *jungkir balik*
    kenapa kau menggantung ini cerita seperti kau menggantungkan hidupku padamu thor *maksud loe* -_____-“

  9. DewiChaki · October 27, 2013

    Huwaaa nemu epep bgus ^^ aishhh dlnjut dong trnyta myungsoo orgx cuek tp trnyta cnta bgt sm hana :3

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s