[Part 7-LAST PART] Sent Your Wish in 1999


Note : Ini adalah Magic Corp

Tittle : Sent Your Wish in 1999 [Part 7-LAST PART]

Author: Kim Seoyeon a.k.a Ichen Aoi

Cast :

Kim Taeyeon SNSD

Kim Jong Woon/Yesung Super Junior

Lee Jin Ki/Onew SHINee

Alexander Lee Eusebio/Xander U-Kiss

Kim Jaejoong DBSK/JYJ

Suport Cast :

Lee Sunkyu/Sunny SNSD

Kim Heechul Super Junior

Cheondung /Thunder MBLAQ

Super Junior, SNSD, U-Kiss and SHINee

Nb : Mian telah membuat kalian menunggu sampai lupa nih ff ^^ karena tiba – tiba saja saya kehilangan imajinasi hiks… dan saya kembali datang dengan LAST PART! Mian kalau endingnya sangat mengecewakan ^^ (FF Part 6 terakhir di publish bulan Mei klo gag salah ^^)

Taeyeon sekarang ini dalam keadaan parah. Dimana – mana ada alat – alat kedokteran yang merekat ditubuhnya. Yeoja itu terlihat sangat lemah dan pucat. Onew sedari tadi menggenggam tangan dingin yeoja itu.

Kini ia dapat melihat dengan jelas masa depan Taeyeon tanpa terhalangi lagi. Sunny dan Jaejoong tiba disana bersamaan.

“Dimana Taeng?” tanya Jaejoong pada Xander yang menunggunya didepan pintu ruang rawat. Xander membuka pintu itu lalu mempersilahkan Jaejoong dan Sunny masuk.

“Taeengg!!” Sunny langsung berhambur untuk memeluk sahabatnya itu.

Jaejoong menatapnya dengan tidak percaya. Bukankah selama ini ia selalu mengawasi Taeyeon dan menjaganya, namun semua ini nyaris diluar perhitungannya. Ia memeluk tubuh dingin Taeyeon. Sunny menatapnya berusaha menyangkal perasaannya selama ini.

“Oppa, apa yeoja itu Taeyeon?” tanya Sunny dengan ragu – ragu.

“Apa maksud mu?”

“Dia… tidak mungkin! Dia dongsaeng mu!”

“Sunny… kami bukan saudara kandung, kami tidak ada ikatan darah sama sekali. Aku adalah anak angkat keluarga itu” jawab Jaejoong datar.

Sunny menutup mulut untuk menahan suara isak tangisnya. Ia kini benar – benar bingung akan apa yang harus dia perbuat. Menerima semuanya atau merasa hidup ini tidak adil? Dia pun tidak mengerti harus bagaimana sekarang. Apa dia harus bersikap seperti yang dikatakan Yesung si peramal?

Sunny melangkahkan kakinya dengan berat keluar ruang rawat Taeyeon. Ia memang mencintai Jaejoong tapi dia lebih menyayangi Taeyeon, sahabatnya yang selalu ada untuknya.

“Baiklah, demi kehidupan ku, Taeyeon dan kebahagiaan oppa. Aku akan melupakan semuanya”

Bisik Sunny pelan.

Sementara itu Jaejoong masih menangis, ia tidak bisa mengontrol air matanya sesuatu membuat dia lengah dan mengakibatkan Taeyeon jadi begini. Dia menyalahkan dirinya sendiri.

“Hero…” suara asing itu terasa begitu dekat dengannya.

Jaejoong menoleh, begitu pula dengan Xander dan Onew. Yesung berdiri didepan pintu sambil menatap lurus kearah Jaejoong yang sedang menggenggam erat tangan Taeyeon.

“Taeng… nae yeodongsaeng?” tanya Yesung pelan.

Jaejoong tidak menjawab dengan suara, hanya tatapan dinginnya terus menjalari Yesung. Onew dan Xander semakin tidak mengerti akan apa yang sedang terjadi dihadapan mereka. Membaca pikiran dan meraba masa depan pun tidak mungkin bagi mereka. Jaejoong dan Yesung memiliki sesuatu yang tidak bisa ditembus siapa pun.

“Mian, aku dan Onew akan menunggu diluar” putus Xander yang menarik Onew pergi.

Yesung hanya menggeser tubuhnya sedikit agar kedua dongsaengnya itu bisa keluar. Jaejoong menarik nafas dalam lalu memutuskan untuk fokus pada Taeyeon yang terbaring lemah didepannya. Yesung memutuskan untuk melangkah semakin dekat.

“Jaejoong, kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku?”

“Apa perlu aku menjawab pertanyaan dari orang yang menyebabkan kematian appa ku? Sedangkan aku hanya punya appa didunia ini, sekarang tidak lagi”

Jaejoong masih bicara dengan ekspresi datarnya.

“Aku tidak pernah membunuh appa mu. Kau salah paham Jae!”

“Kau bahkan sama sekali tidak menghormati ku!”

“Arra! Jae hyung! Berhenti membuat ku lebih menderita dari ini. Mungkin kau akan menganggap aku ini seorang pembohong ataupun semacamnya. Tapi aku benar – benar merindukan masa kecil kita. Meskipun aku harus memanggilnya dengan sebutan ahjumma”

Jaejoong berdiri mendengar ucapan Yesung. Kini mereka saling bertatapan dengan rasa kebencian disana.

“Kau mau eomma mu? Ambil saja! Aku tidak peduli! Aku hanya ingin menjaga Taeyeon sebagai dongsaeng ku”

“Jangan bercanda hyung! Kau pikir aku tidak tahu kalau kau mencintainya sebagai seorang yeoja! Sadar hyung! Dia ini dongsaeng kita!”

“Kau tahu? Aku bukanlah anak ahjumma itu!”

Pernyataan Jaejoong membuat Yesung menatapnya dengan terkejut.

“Maksudnya?”

“Aku bukan anaknya. Kau lah anak kandungnya” jawab Jaejoong kembali datar.

Dilain sisi, Zhang Li Yin berdiri mematung didepan pintu ruang rawat Taeyeon. Air matanya mengalir deras mendengar perseteruan kedua putranya didalam. Ia tahu kalau ia salah karena telah memilih salah satu. Tapi dia benar – benar mencintai Junsu bukan Kangin. Dia tidak menginginkan Yesung namun dia sangat menyayangi Jaejoong.

“Ahjumma?” tanya Xander yang heran karena yeoja itu mematung didepan pintu.

“Ah? Ne?”

“Apa ahjumma ini eommanya Jaejoong hyung dan Taeyeon?” tanya Xander lagi.

“Kenapa tidak masuk saja?”

Pertanyaan Xander dijawab dengan senyuman. Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan itu dan mendapati kedua putranya tengah berdiri saling menatap dengan tatapan kebencian.

“Annyeong~” sapanya dengan tenang seolah tidak terjadi perseteruan disana.

Kedua namja itu menoleh sekilas. Jaejoong kembali duduk sambil menggenggam tangan Taeyeon sedangkan Yesung memilih pindah ke sisi satunya dan bersandar pada meja disamping tempat tidur.

“Ah… ada Jong Woon juga rupanya. Apa kalian sedang saling melepas rindu? Sayang sekali Taeyeon harus terbaring lemah disini” ucap Liyin sambil menahan air matanya dan berusaha untuk tetap terlihat innocent.

“Eomma, kenapa waktu kecil kau meminta ku memanggil mu ahjumma?” tanya Yesung tiba – tiba. Zhang Liyin menatap Yesung, ia tidak percaya kalau namja itu akan menayakan hal semacam itu. Bahkan ia belum meyiapkan jawabannya.

“Ahjumma… berhenti berpura – pura kalau kau eomma ku. Kalau kau mau, aku bisa menjelaskan semua ini pada Taeyeon nanti” Jaejoong melanjutkan dengan nada bicara yang dingin.

“Kenapa kalian tidak menyambut ku dengan baik huh?” tanya Liyin berusaha tenang.

Jaejoong dan Yesung menatap Zhang Liyin dengan tatapan lelah dan memohon. Mereka butuh kejelasan atas status mereka saat ini. Sementara itu Taeyeon sadar, ia mendengar semua percakapan itu sejak Liyin, eommanya datang.

“Eomma…beritahu aku… siapa oppa ku…” ucapnya lemah.

Semua langsung menatap kearah Taeyeon yang sedang menangis. Jaejoong menggenggam tangannya dengan erat. Yesung hanya menatapnya, ia tidak berani menyentuh yeoja itu.

Liyin terdesak. Ia mendekati Taeyeon, Jaejoong berdiri dan memberikan kursinya pada Liyin. Taeyeon menatapnya dengan tatapan sedih dan meminta penjelasan.

“Mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahu kalian semua. Terlebih lagi untuk mencegah perasaan mu, Kim Jaejoong…” Liyin menatap Jaejoong yang balas menatapnya dengan terkejut.

“Kalian bertiga adalah anak – anak ku. Hanya saja kalian lahir dari ayah yang berbeda. Kim Jaejoong, kau adalah putra pertama ku. Kau adalah putra dari Junsu. Dia Astro King lantai 14. Itu alas an kau pernah menjadi Astro King meski hanya beberapa bulan. Kenyataannya kemampuan itu selalu menurun pada keturunan selanjutnya. Kim Jong Woon, kau adalah putra kedua ku. Kau lahir karena aku dipaksakan menikah dengan Kangin, Astro lantai 13. Aku tidak pernah mencintainya, makanya aku masih menjalin hubungan dengan Junsu secara diam – diam. Sampai kakek kalian tahu dan mengusir Junsu dari Korea dikarenakan aku mengandung mu, Jong Woon. Maka aku harus menjadi ibu yang bertanggung jawab. Sayangnya Junsu membawa Jaejoong pergi. Dan sebuah kecelakaan terjadi, hanya Jaejoong yang selamat dan Junsu – ku meninggal. Aku sangat terpukul dan menganggap Jong Woon – lah yang membunuh orang yang paling ku cintai didunia ini. Sedangkan Taeyeon, dia adalah putri ku dan pengusaha Kim. Dia adalah yeodongsaeng kalian. Kalian bisa membenci ku, tapi jangan benci Taeyeon dan suami ku”

Liyin terisak. Taeyeon mengusap punggung lengan eommanya, air matanya juga mengalir. Ia tidak bisa melihat eommanya dalam keadaan tersiksa begitu.

“Eomma…”

“Taeng… eomma mohon, jangan benci eomma” isaknya lagi.

“Aku tidak akan pernah membenci eomma” jawab Taeyeon.

Liyin memeluk putrinya itu. Sementara Yesung harus mengalami kenyataan pahit kalau dia adalah putra yang tidak diinginkan eommanya sedangkan Jaejoong harus berusaha mengubur perasaannya dalam – dalam. Mereka berdua sedang bertarung dalam pikrian masing – masing. Tidak ada satu pun yang bergerak.

Zhang Liyin berdiri lalu menatap putranya satu per satu.

“Kalian bisa membenci ku, karena aku yang membuat kalian jadi begini. Maafkan aku. Aku memang bukan eomma yang baik. Maafkan aku”

Yesung tertawa miris dan pelan ia menghapus air matanya dengan ibu jarinya lalu menatap wanita paruh baya didepannya itu.

“Eomma, kau bahkan sangat tidak menginginkan aku. Sebegitu bencinya kah kau pada ku?”

“Yesungie… mianhae…” ucap Liyin lemah.

Yesung kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.

“Babo… Sampai detik ini kau belum mengakuinya sebagai anak mu…” Jaejoong akhirnya berbicara dengan nada yang sangat terdengar kecewa dan sedih.

“Jaejoong, eomma tahu kau membencinya. Karena dia appa mu terbunuh”

Jaejoong hanya diam. Ia tahu ia sangat membenci Yesung, namun rasanya ada yang salah disini. Di hatinya. Perlahan kebekuannya mencair.

“Eomma… aku menginginkan saudara ku!”

Jaejoong berlari keluar mengejar Yesung yang sudah menghilang sejak tadi.

***

“Hyung, kau kenapa?” Onew menatap Yesung khawatir.

“Hyung mau kami temani jalan – jalan?” tanya Xander lagi.

Tidak ada jawaban, Yesung hanya menggelengkan kepalanya dan tatapannya masih sama, begitu memilukan dan penuh dengan kesedihan.

“Aku hanya ingin hari ulangtahun ku dirayakan bersama keluarga ku” bisiknya pelan.

“Hyung, kami kan juga keluarga mu!” protes Xander.

“Ne! Lagipula, kalau dipikir – pikir keluarga Xander hyung hanya Yesung hyung” jawab Onew asal. Ia mengira Xander akan menjitaknya seperti biasa, sayangnya Xander malah tersenyum miris dalam diamnya.

“Apa aku salah bicara?” tanya Onew hati – hati.

Yesung menjitak kepalanya cukup keras, “Babo!”

“Sudahlah~ tidak apa. Didunia ini aku masih punya kalian dan Magic Corp yang sudah seperti rumah ku itu!” sahut Xander akhirnya.

“Hyung, aku tidak mau punya rumah seperti Magic Corp yang isinya si aneh Heechul hyung!” sahut Onew dengan sengit. Yesung hanya tersenyum mendengar pembicaraan keduanya.

***

Siang ini dan untuk pertamakali sejak dia memutuskan untuk meninggalkan Magic Corp. Jaejoong kembali manatap gedung bernuansa putih biru itu dengan sedikit enggan. Ia sama sekali tidak menikmati masa – masa kejayaannya disana yang ia dapatkan karena status keturunannnya. Ia melangkahkan kakinya memasuki gedung Magic Corp. Dia melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis.

“Astro King Master!” seru Sooyoung, resepsionis utama Magic Corp.

“Soo, aku kan sudah berhenti” sahut Jaejoong sedikit kesal.

“Tapi lantai 14 masih kosong sampai saat ini. Dan setahu ku yang mengisinya adalah pendiri Magic Corp lalu appa anda dan anda sendiri” jawab Sooyoung dengan bijak dan sangat formal.

“Terserah kalian mau mengosongkan ruangan itu atau tidak! Aku mau bertemu Yesung, dia Astro lantai berapa?” tanya Jaejoong tidak sabaran.

“Astro lantai 11. Oh ya, Astro King lantai 13 meminta anda untuk menemuinya jika anda mampir kesini, ku rasa dia benar kalau anda datang kesini” Sooyoung menunjukkan senyum ramahnya. Jaejoong lagi – lagi menghela nafas berat dan tatapannya kembali sendu.

“Bilang pada Heechul hyung, jangan paksa aku kembali karena aku sama sekali tidak menginginkannya. Seharusnya dia bisa menjadi Astro King Master, hanya saja dia tidak suka terlibat aturan ketat. Maka aku juga begitu!”

Jaejoong meninggalkan resepsionis dan pergi menuju lift yang akan membawanya ke lantai 11.

***

Yesung masih memikirkan perkataan eommanya kemarin. Ia sampai tidak bisa tidur semalaman karena mengingta pengakuan pahit dari mulut eommanya sendiri.

“Seharusnya dia menggugurkan ku sejak dulu” bisiknya parau.

“Yesung!”

Namja itu menoleh kearah pintu saat melihat ada yang memanggil namanya. Ia sedikit terkejut melihat kedatangan hyungnya itu. Yesung berdiri lalu mempersilahkan Jaejoong duduk di sofa tunggu.

“Ada apa kesini? Ingin memaki ku lagi? Atau kau ingin tertawa puas melihat ku terkekang disini? Jujur saja, aku memang merindukan masa – masa dimana kita menjadi sepasang saudara. Tapi aku tahu kau tidak menyukainya dan aku sedang tidak ingin berdebat siang ini!”

Ucap Yesung panjang lebar sambil menyuguhkan segelas minuman hangat dan beberapa cemilan jahe. Jaejoong menatapnya sesekali.

“Kau betah disini?” tanyanya kemudian.

“Kalau pun tidak, aku bisa apa?” balas Yesung sambil duduk dihadapan Jaejoong.

“Kau hidup dari semua tipu muslihat ini?” tanya Jaejoong lagi.

“Jangan bicara seolah kau manusia biasa”

“Kenapa tidak memanggil ku hyung?”

Pertanyaan Jaejoong membuat Yesung terperangah menatapnya dengan heran.

“Kau…”

“Sangat tidak sopan terhadap hyung – mu sendiri”

“Kau kan yang melarang ku”

“Mianhae kalau begitu, aku tidak akan melarang mu lagi. Kau bisa kembali kerumah bersama kami. Bagaimana pun juga kau dongsaeng ku”

Kali ini Yesung bisa melihat kalau Jaejoong tersenyum meski hanya sekilas dan samar sekali. Ia bisa merasakannya, dia kebingungan. Salah satu keluarganya mengakuinya.

“Jangan bercanda dengan ku!”

“Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?”

Yesung menatap hyungnya. Air matanya menetes. Jaejoong menepuk bahunya pelan.

“Kau harus tinggal bersama keluarga mu. Jangan buat aku menyesal karena telah menurunkan harga diri ku seperti ini dengan memohon padamu untuk kembali kedalam keluarga Kim”

“Hyung, eomma tidak akan pernah setuju!”

“Jika eomma tidak setuju, aku yang akan menanggung hidup mu. Maka, jika kau tidak suka disini kau bisa berhenti sesuka mu dan melanjutkan kuliah ditempat manapun. Kita bisa hidup bertiga dengan Taeng”

Mendengar nama dongsaeng semata wayang mereka, Yesung menatap Jaejoong khawatir.

“Hyung, bagaimana dengan Taeyeon dan perasaan mu?”

“Jangan bercanda! Aku ini orang yang tegar dan sangat cepat menerima keadaan. Kau pikir aku akan terpuruh begitu saja huh?!”

Jaejoong memamerkan senyumannya, meski ia tahu semua itu tidak akan mudah. Mereka saling diam untuk beberapa saat tanpa ada yang memulai pembicaraan sedikit pun.

“Mianhae, aku terburu – buru bisakah aku minta diramal… Jaejoong oppa?? Jongwoon sunbae??”

Keduanya menoleh dan mendapati seorang siswi berseragam SMA yang tak lain tak bukan adalah Sunny.

“Aha! Kau kan yeoja yang waktu itu minta ku ramalkan dengan seorang namja… kalau tidak salah namanya… euhm… Kim… tunggu dulu!”

Yesung menatap Jaejoong dan Sunny bergantian.

“Hyung, kau mengenalnya?” selidik Yesung.

“Dia teman Taeyeon sejak SD” jawab Jaejoong bingung.

“Jangan – jangan maksud mu…” belum selesai Yesung bicara, Sunny langsung berlari dan membungkam mulut Yesung dengan tangan mungilnya.

“Andwaaaeee!!! Tutup mulut mu sunbae!!”

Jaejoong melihat keduanya dengan heran. Yesung merasa kesulitan bernafas. Akhirnya Sunny melepasnya dengan susah payah.

“Kau! Jangan bicara sedikit pun!” kini kedua pipi Sunny merona merah.

“Arraseo!! Asal kau berhenti membuat ku jengkel!” protes Yesung.

“Kalian ini teman satu sekolah ya?” Jaejoong menyadari sesuatu.

“Ne. Aku, Taeyeon dan yeoja ini satu sekolah. Mereka hoobae ku” jawab Yesung santai lalu kembali ketempat duduknya dan meninggalkan Sunny bersama Jaejoong.

“Kalian jangan buat keributan! Aku mau istirahat!”

“Aish! Jjinja!” runtuk Sunny pelan sedangkan Jaejoong malah melahap hidangan didepannya.

–END–

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s