[Part 4] Love In Heaven

Title : Love In Heaven
Author : Ichen Aoi / Kim Seoyeon
Cast : You, Kim Jaejoong and Shim Changmin
Genre : Romantic, Angst
Rating : General

==

Bagaimana ini?

Bagaimana dengan perasaan ku?

Jawab aku…

Aku sekarang tinggal dirumah ahjumma sambil menunggu orang tua ku pulang dari Seoul. Jaejoong oppa tidak mengizinkan ku tinggal sendirian dirumah. Dan kami sering menghabiskan waktu bertiga bersama Changmin.

“Lihat! Itu salju pertama yang turun!!” teriak ku pada Changmin dan Jaejoong oppa. Keduanya menatap langit, kami tersenyum melihat butiran – butiran lembut itu jatuh ke bumi. Aku dapat merasakan genggaman hangat tangan mereka berdua. Dan syal yang kami pakai pun sama.

“___ – a, kau tidak ingin masuk? Disini mulai dingin”

Aku menatap Jaejoong oppa yang balas tersenyum sambil mengusap kepala ku dengan lembut.

“Masuklah bersamanya. Changmin benar, kau bisa beku disini”

“Oppa?”

“Aku akan disini sebentar lagi”

Aku sudah memutuskan tidak akan melepaskan genggaman hangat Jaejoong oppa. Dia oppa yang paling ku sayang. Aku mungkin bisa saja kehilangan orang yang ku sukai, namun tidak dengan oppa ku.

“Kalau begitu Changmin – ssi saja yang masuk duluan, aku akan menemani oppa disini”

Changmin mengangguk lalu pergi. Sedangkan aku menyandarkan kepala ku pada bahu kanan Jaejoong oppa. Ia masih menggenggam tangan ku. Sedangkan Changmin melihat punggung mereka dengan bimbang.

***

“Hyung, aku menyukainya!”

Ucapan Changmin membuat Jaejoong tersentak. Pena yang sejak tadi dipegangnya pun lepas dari genggamannya. Mendadak kertas berisi lirik yang ia tulis itu buyar dari pandangannya.

“Siapa maksud mu?”

“___, Aku menyukainya hyung”

Jaejoong tersenyum kecil lalu kembali mengambil pena kedalam genggamannya. Ia kembali menuliskan kata – kata disana. Namun kali ini hanya kata – kata kosong. Bukan kata – kata indah yang biasa ia buat.

“Sejak kapan kau menyukai ___?”

“Entah… mungkin saat pertama hyung mengenalkannya pada ku”

Jaejoong tersenyum lalu mengangguk kecil. Sedangkan Changmin memandang kosong keluar jendela kamar itu. Ia bermain dalam pikirannya dengan sekelebatan wajah yeoja itu bermain didalam otaknya. Sementara itu Jaejoong jadi kehilangan selera menulisnya. Ia berdiri, decitan hasil geseran kursinya menyadarkan Changmin.

“Mau kemana hyung?”

“Dapur. Kau mau ikut?”

“Ne! Aku juga sudah lapar”

Mereka meninggalkan ruangan itu. Cahaya dari jendela yang terbuka itu menyinari kertas yang sejak tadi ditulisi Jaejoong. Sebuah tulisan tertera disana.

jigeum waseon malhal suga obseo naui gijeok geumodeun ge hwansang gatta majimak ni moseub sok seoseohi gieok sogeman jamgyeojyeo ganeun gotman gatta

As of right now, I can’t say anything The miracle of you- it all seems like a fantasy The last image of you seems to be locked only in my memories I wonder if you are watching me from somewhere Even if I regret, it’s too late- I can’t see you anymore The tears of the shadows of my memories are watching over that place

***

“Ayooo semua maakaannn~”

Aku menyambut kedatangan Jaejoong oppa dan Changmin didapur. Tampaknya ini sudah waktunya jam makan siang. Aku senang liburan disini. Tersisa waktu satu minggu lagi untuk libur, rasanya aku ingin selamanya disini bersama mereka. Aku suka saat – saat bersama mereka. Itu sangat menyenangkan daripada kehidupan sekolah ku.

“___ – a? Mana eomma?”

“Sedang membantu eommanya Changmin, ahjumma bilang akan ada acara besar dipusat kota. Disana bisa bebas berjualan”

Jaejoong berfikir sebentar lalu menarik kursi untuknya dan terhenyak disana.

“Apa semua ini kamu yang masak?” tanya Changmin keheranan.

Aku tersenyum lalu mengangguk dengan pasti. Ia pun menarik kursi untuknya. Aku sibuk menyiapkan hidangan diatas meja. Ku lihat mereka mulai menyuap masuk makanan yang ku buat. Rasanya sangat berdebar. Ku harap masakkan ku enak.

“Bagaimana?”

“Tenang saja, semuanya enak kok!”

Jawaban oppa membuat ku senang. Aku menyukainya sungguh – sungguh sebagai oppa bukan yang lain. Karena sejak dulu, aku sangat menginginkan seorang kakak laki – laki tempat ku bermanja. Dan hanya Jaejoong oppa yang aku punya.

Kami pun makan dengan lahap siang itu.

***

Langit hari ini tampak mendung seolah ikut merasakan suasana berkabung hari ini. Mrs. Kim meninggal diusianya yang senja. Satu – satunya keluarga yang dimiliki seorang Kim Jaejoong. Kali ini namja itu tidak lagi bersinar. Wajahnya dan tatapan matanya meredup. Senyum hangatnya pun hilang entah kemana.

Disampingnya, aku berdiri dengan gaun warna hitam sebagai tanda penghormatan terakhir untuk Mrs. Kim. Aku melirik Jaejoong oppa sekilas. Wajahnya tampak datar. Aku kagum padanya, dia begitu tegar. Sedangkan aku?

Aku sudah menangis sejak tadi pagi, saat aku dan oppa menemukan ahjumma sudah terbujur kaku akibat penyakit jantung yang dideritanya.

“___ – a, gwaenchana?”

Aku bisa melihat Changmin menunjukkan ekspresi kehilangannya. Dia juga sangat dekat dengan ahjumma. Aku hanya mengangguk pelan sambil menghapus air mata ku dengan tissue didalam genggaman ku. Kami menatap Jaejoong oppa, ia masih menatap lurus kedepan.

“Oppa…”

Aku menarik ujung bajunya untuk menyadarkannya. Jaejoong oppa menoleh seperti orang linglung dan menatap ku sambil mengerjapkan matanya, berusaha melihat kenyataan.

“Wae?”

“Hyung, ekspresi mu membuatnya khawatir”

Jaejoong tersenyum seadanya saat mendengar penjelasan Changmin. Kemudian Jaejoong oppa mengusap kepala ku dengan lembut dan mengecup puncak kepala ku.

“Aku baik – baik saja. Sekarang sudah sepi, sebaiknya kita bertiga pulang”

Aku menatap sekeliling ku. Ne… Semua yang hadir kepemakaman ahjumma sudah tidak ada. Hanya tersisa kami bertiga.

“___ – a, pulanglah bersama Changmin!”

“Aniyo oppa”

“___ – a, jebal…”

Tatapan memohon Jaejoong oppa membuat ku tidak bisa menolak perintahnya. Aku bisa merasakan kalau tangan Changmin memegangi bahu ku dan akhirnya membawa ku pergi meninggalkan Jaejoong oppa ditengah pemakaman itu.

***

Changmin semakin sering menginap dikediaman Kim sambil membawa makanan dari rumahnya. Setelah Mrs. Kim meninggal, Jaejoong jadi jarang bicara dan tersenyum. Mungkin hanya sesekali saat ia melihat yeodongsaengnya menghiburnya.

“Dimana hyung?”

Changmin menatap berkeliling, mencari Jaejoong yang biasanya selalu duduk diruang makan bersama ketika makan malam tiba.

“Masih dikamarnya ku rasa”

“___ – a, tunggu disini!”

Changmin pun pergi menuju kamar Jaejoong yang masih tertutup rapat. Ia mencoba membukanya, namun sayang, pintu itu terkunci dari dalam.

“Hyung! Hyung!”

Panggilnya penuh ke khawatiran.

*cklek!*

Jaejoong mengintip dibalik pintu kamarnya. Wajahnya tampak pucat dan kurang energy. Ia juga jadi sedikit lebih kurus dari sebelumnya.

“Hyung, makan?”

“Aniyo… Aku tidak lapar!”

Jaejoong meninggalkan Changmin yang masih mematung didepan pintu. Changmin membuka pintu kamar itu dan masuk. Ia memandang sekeliling. Ada 2 piring makanan yang tampaknya tidak dimakan itu. Itu piring bekas makan siang dan malam kemarin.

“Kau tidak makan hyung?”

“Sudah”

“Seberapa banyak?”

“Tiga sendok, mungkin”

Changmin mengambil piring itu lalu membuang isinya ketempat sampah disamping meja belajar Jaejoong lalu mengambil bungkus plastiknya untuk dibuang keluar.

“Ku rasa hyung harus keluar untuk makan malam, atau ___ tidak akan makan lagi malam ini”

Jaejoong menatap Changmin heran.

“Lagi? Maksud mu ___ – a, kemarin tidak makan malam?”

“Begitulah~”

Changmin meninggalkan ruangan itu sambil membawa kantung sampah dan piring kotor. Jaejoong berfikir sejenak, lalu ia pun keluar menuju ruang makan.

“Oppa!!”

Rasanya senang sekali saat aku melihat Jaejoong oppa keluar kamarnya untuk makan malam bersama hari ini. Aku melirik Changmin – ssi sekilas, ia tersenyum kearah ku. Aku balas senyumannya dengan riang. Dengan segera aku menarik kursi untuk Jaejoong oppa.

“Hari ini oppa harus makan yang banyak!”

“Dia benar hyung! Eomma ku masak makanan lezat hari ini”

Ku lihat Jaejoong oppa hanya tersenyum menanggapi ocehan kami. Begini pun tidak apa, asalkan oppa keluar dan ada bersama kami. Akhirnya kami bertiga pun kembali makan bersama.

***

Satu bulan kemudian…

“___ – a, aku menyukai mu!”

Kata – kata itu meluncur dari mulut Jaejoong oppa. Hal ini sempat membuat ku membatu. Namun aku menyadari sesuatu, dia sangat suka bercanda.

“Oppaaa… jangan bercanda!! hHaa… Nanti aku bisa menganggapnya serius lho! Aku ini kan dongsaeng mu, lagipula ada orang yang ku suka. Jadi jangan buat hati ku goyah”

“Nugu?”

Pertanyaan Jaejoong oppa, ku rasa sukses membuat pipi ku memerah.

“Oppa mengenalnya dengan baik” jawab ku dengan misterius.

Aku yakin dalam sekejab oppa bisa menemukan jawabannya. Ia tampak berfikir sejenak lalu sebuah nama terlintas dalam pikirannya. Seseorang yang dia kenal dengan sangat baik hanya ada satu orang.

“Shim Changmin?”

Aku diam beberapa saat, lalu mengangguk dengan yakin. Jaejoong oppa pun mengusap kepala ku dengan lembut.

“Dia baik. Aku setuju jika kau bersamanya”

“Lalu, kenapa tadi oppa bilang suka?”

“Hhaa… Aku suka kau sebagai yeodongsaeng ku! ___ – a, sekarang ini hanya kau dan Changmin yang ku punya”

Aku jadi tidak tega dengannya. Wajahnya kembali murung dan sedih. Aku yakin kalau oppa sangat merindukan ahjumma. Aku pun begitu. Namun saat ini ahjumma yang baik sudah pergi dan mengawasi kami dari langit.

***

*author pov*

Tidak lama setelah itu, Changmin menyatakan cintanya pada mu. Ia sama sekali tidak tahu kalau Jaejoong pernah melakukan hal yang sama. Dan kau tidak pernah bilang apa – apa pada Changmin. Dan kau menerimanya karena memang menyukainya. Tanpa sadar, hari – hari berikutnya kalian lalui tanpa seorang Jaejoong.

Hari ini aku sangat bahagia karena Changmin membelikan ku sebuah gantungan lucu dan kembar tiga pula. Ku putuskan untuk memberikannya pada Jaejoong oppa malam ini. Aku terkejut mendapati rumah dalam keadaan gelap. Apa oppa sudah tidur duluan? Biasanya dia selalu menunggu ku pulang.

Aku masuk dan menyalakan lampu. Lalu aku memeriksa ruangan itu satu per satu. Tidak ada Jaejoong oppa disini. Ku putuskan untuk menelepon Changmin.

“Annyeong~” / “___ – a?”

“Ne” / “Waeyo jagiya?”

“Jaejoong oppa tidak ada dirumah. Apa dia dirumah mu?” / “Aniya”

“Jjinja?” / “Ne”

“Kemana oppa ku?” / “Aku akan kesana sekarang!”

Sambungan telepon kami terputus. Mata ku mulai samar karena air mata sudah terkumpul disana dan jatuh dengan perlahan.

“Jaejoong oppa~” lirih ku dengan suara yang parau.

***

Penduduk sekitar ikut membantu dalam pencarian Jaejoong. Dan hanya ditemukan sepasang sepatu dan mantel bulu kesayangan Jaejoong ditepi danau. Aku sangat terpukul mendapati kenyataan itu. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kemana perginya Jaejoong oppa?

“___ – a, gwaenchana?” bisik Changmin prihatin.

Aku menatapnya dengan sedih, marah, kesal dan kecewa. Memang bukan karena dia, tapi aku sudah tidak tahu harus melampiaskannya kepada siapa lagi.

“Mana mungkin aku baik – baik saja?? Di musim dingin ini ahjumma pergi!! Sekarang oppa ku satu – satunya. Aku sudah tidak punya siapa – siapa lagi disini!! Apa itu masih baik – baik saja?!”

Aku bisa melihat Changmin terkejut saat melihat ku memarahinya sambil menangis. Namun ia mengerti lalu mengusap lembut kepala ku, ini hal yang biasa dilakukan Jaejoong oppa pada ku. Hal ini semakin membuat dada ku sesak.

“Aku akan menjaga mu!”

Aku melepaskan pelukkannya dan memintanya untuk pergi meninggalkan aku ditepi danau ini. Aku yakin oppa ku akan datang menemui ku. Beberapa penduduk datang menghampiri aku dan Changmin. Wajah mereka tampak tegang sekaligus prihatin.

“Waeyo ahjussi?”

“Namja ini ingin memberikan kesaksian”

Tunjuk ahjussi itu pada seorang namja yang tampaknya seumuran dengan Changmin. Changmin satu tahun diatas ku. Aku tidak pernah memanggilnya oppa, karena panggilan itu hanya untuk Jaejoong oppa ku saja.

“Ne. Kemarin sebelum salju turun, aku disini untuk memancing. Ada seorang namja memakai mantel bulu dan sepatu yang sama seperti itu di ujung sana” namja itu menunjuk ke arah seberangnya.

“Tampaknya ia tidak melihat ku. Ia membuka mantel bulunya. Aku sedikit bingung, namun aku masih fokus pada ikan – ikan yang ku pancing. Lalu ia membuka sepatunya dan mulai mencelupkan kakinya ke air danau yang permukaannya sudah agak membeku ini. Saat aku mengambil ikan – ikan yang kedinginan dan bermunculan didarat, ada seperti suara benda keras jatuh kedalam air. Aku melihat namja itu terjun kedalam danau. Ku pikir dia itu hanya orang yang suka kegiatan ekstrim seperti bangsa Amerika sana. Dan satu jam dia tidak muncul dari dalam danau. Ku pikir dia baik – baik saja, maka ku putuskan untuk pulang”

Aku terkejut mendengar cerita namja dihadapan ku ini. Air mata ku tidak berhenti mengalir. Kaki ku kehilangan tenaganya. Changmin langsung menahan tubuh ku yang nyaris ambruk. Tidak lupa ia mengucapkan terimakasih kepada mereka. Semua pergi, tinggal kami berdua yang tersisa. Aku masih menatap pecahan permukaan danau yang sempat menjadi e situ. Disana oppa ku pergi. Aku menggenggam kuat gantungan yang sudah susah payah ku pilih dan kembar tiga itu.

“Oppaa~”

“___ – a, kita pulang sekarang?”

“Ani! Aku mau disini saja bersama oppa ku!”

“___ – a, dia akan sedih melihat mu begini”

“Ani! Dia akan lebih sedih lagi kalau aku tidak bersamanya!!”

Aku berusaha untuk melepaskan pelukkan Changmin yang menahan ku agar tidak melangkah diatas permukaan danau yang membeku itu. Aku hanya ingin melihat oppa ku. Aku hanya ingin melihat senyumannya. Aku tidak akan melepaskan genggaman tangannya. Aku ingin dia membelai lembut kepala ku dan mengecup kening ku seperti biasanya. Hanya itu…

Aku ingin oppa ku kembali pada ku…

***

Aku kembali menatap ruangan yang biasanya kami jadikan tempat untuk berkumpul bersama ahjumma. Rasanya waktu itu berlalu sangat cepat. Orangtua ku meminta ku kembali ke Seoul untuk mejalani pengobatan.

Sebenarnya rasa sakit dada ku saat ulangtahun Jaejoong oppa yang lalu itu bukan salah satu dari rencana. Itu memang kenyataan. Aku menderita kanker hati stadium akhir. Hidup ku tidak lama lagi. Makanya aku minta pada orangtua ku agar mereka mengirim ku kesini. Untuk bertemu ahjumma dan Jaejoong oppa. Aku tidak pernah menyangka akan menemukan cinta pertama ku disini.

Meski aku menemukan Changmin oppa…

Selamanya rasa sayang ku pada Jaejoong oppa tidak akan berkurang.

Aku merapikan album foto, dimana wajah kami selama liburan ini tergamba jelas disana. Aku menemukan sesuatu. Sebuah amplop surat berwarna merah. Aku membaca permukaan amplop itu, disana tertera nama ku. Tulisan ini…

Tulisan tangan yang rapi dan indah… Ini tulisan Jaejoong oppa…

Air mata ku kembali menetes tanpa diminta. Aku membuka lipatan kertas itu dengan tangan gemetar. Tulisan yang indah itu terpampang jelas dihadapan ku. Aku duduk dan membacanya dengan perlahan.

++

Dear ___ – a,

Yeodongsaeng tersayang ku dan terbaik ku yang hanya satu ku miliki didunia ini.

___ – a, didunia ini aku hanya punya tiga orang yang paling berarti dalam hidup ku. Eomma, kau dan Changmin. Aku sangat senang di musim dingin ini kita bisa menghabiskan waktu bersama – sama dan menambah satu orang anggota lagi, Changmin.

Changmin sangat baik. Dia teman pertama ku. Dia sudah seperti dongsaeng ku sendiri. Namun aku tidak menyangka kalau dia juga menyukai mu.

___ – a, masih ingat pernyataan ku waktu itu?

Itu bukan candaan yang biasa. Aku memang menyukai mu sebagai seorang namja terhadap yeoja. Aku tahu kalau kau hanya menganggap ku sebagai oppa mu saja. Aku bisa mengerti itu. Namun aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa menyukai mu seperti ini.

Aku kehilangan eomma…

Aku sangat terpukul dan merasa sendirian. Kau dan Changmin menyadar kan ku. Aku masih punya kalian. Namun sayang, kalian terus bersama tanpa ku belakangan ini. Aku sadar kalau kalian saling mencintai satu sama lain. Aku tahu aku egois dan terdengar tidak masuk akal, tapi aku benar – benar cemburu.

Ku putuskan lebih baik aku pergi…

Aku ingin kalian bahagia, namun aku tidak bisa terus – terusan begini. Aku benar – benar merasa kesepian. Hanya ini jalan terbaik…

Aku akan pergi ke danau yang kau sukai itu. Aku akan ada disana selamanya. Semoga kau dan Changmin sehat juga bahagia.

-Kim Jaejoong-

++

Air mata ku mengalir tiada henti. Aku sangat menyayanginya melebihi apapun. Aku masih ingat jelas saar oppa pertama kali bergabung didalam keluarga kami. Jaejoong oppa tampak canggung, bahkan tidak mau berdekatan dengan ku. Oppa lah yang menyelamatkan ku saat aku nyaris jatuh dari jurang saat camping waktu itu. Ia menolong ku, meskipun saat itu tangannya bergetar. Saat aku tanya alasan kenapa ia menolong ku, ia berbisik dengan suara yang sangat lirih dan membuat ku tersentuh.

[“Kau keluarga ku… Kau adik ku… Aku tidak ingin kehilangan mu sama seperti aku kehilangan orangtua ku… Aku tidak ingin sendirian… Mulai hari ini dan seterusnya, keluarga ini adalah yang berharga bagi ku”]

Sekarang semuanya berubah. Bukan aku yang meninggalkan oppa, tapi oppa yang meninggalkan ku. Padahal aku sangat ingin menghabiskan sisa hidup ku bersama keluarga ku dan oppa impian ku.

“Uhuk! Uhuk!”

Lagi – lagi darah keluar dari mulut ku. Aku tersenyum miris menatapnya. Waktu ku sudah dekat. Aku akan segera bertemu Jaejoong oppa, ahjumma dan keluarga kandung oppa. Aku tidak akan bisa mengatakan yang sejujurnya pada Changmin. Aku tidak ingin membuatnya merasa kehilangan lagi. Ku putuskan untuk meninggalkan rumah ini dengan secarik surat. Lalu ku bawa serta surat Jaejoong oppa bersama ku.

***

Changmin menatap dua pusara dihadapannya. Air matanya mengalir dengan perlahan. Ia kini sudah tumbuh menjadi namja dewasa. Ia sedang dalam masa trainee sebelum debutnya bersama sebuah group baru.

“Changmin, ini makam siapa?”

“Hyung pertama ku dan yeoja pertama yang ku cintai”

Ke – 3 namja yang sedang berdiri disekeliling Changmin mengangguk lalu menatap Changmin dengan air matanya.

“Sudahlah… Aku yakin mereka ingin kamu bahagia”

“Ne. Arraseo Yunho hyung” jawab Changmin seadanya.

“Sudaaahhh… Namja tidak boleh menangis!”

Namja bersama Junsu itu menghapus air matanya dan namja yang terakhir bernama Yoochun sibuk menabur bunga dikedua makam itu. Ia membaca nisan di makam itu lalu mengernyitkan alisnya.

“Kim Jaejoong? Kenapa sama dengan nama Jae hyung ya?”

Semua tertarik dan menatap nisan itu. Changmin tersenyum kecil. Jaejoong yang ini berbeda dengan Jaejoong yang sekarang.

“Berbeda jauh hyung! Jae hyung itu sangat iseng dan suka berbuat hal yang aneh – aneh, sedangkan Jaejoong hyung yang ini orangnya sangat baik, ramah dan pendiam”

*pluk!*

Jaejoong datang dan melempari mereka berempat dengan marsmallow yang sedang dimakannya dengan seenaknya itu.

“Kalian membicarakan aku?”

“Aniya hyung~” jawab Junsu, Yoochun dan Changmin bersamaan.

Yunho langsung menghampiri Jaejoong dan merangkulnya.

“Ayo semua pulang ke dorm! Kajja!”

Mereka berlima pun meninggalkan pemakaman itu. Lalu Changmin tersenyum dan berbisik kecil, lebih kepada dirinya sendiri sambil menatap punggung Jaejoong yang sedang bicara heboh dengan Yunho.

“Apa reinkarnasi itu benar ada?

Suasana sore itu kembali sepi, sunyi dan senyap. Bunga – bunga yang ditaburkan oleh Yoochun pun beterbangan tertiup angin sampai pada sebuah nisan dengan sebuah nama terukir disana –Kim Jaejoong-.

==END==

One comment

  1. UniKyu · June 11, 2012

    huaaaaa~
    trmehek-mehek..😥
    saya nangis seoyeon-ssi….
    geurohke wae???
    apa aku salah krn mnyukai & mnerima changmin?
    mungkin..
    tpi, knp jaejoong oppa hrs prgi? X(
    jdi prnyataan jaejoong oppa itu gk bcanda? oppaaaaaa~😥😥 *bnrn msih nangis

    eh, jamkkaman..
    klanjutn cerita haesicajae mn?

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s