Domus Aurea Romance [Part 3]

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : Boyfriend – Boyfriend

==

Donghae menarik Seoyeon untuk berteduh dibawah sebuah pohon rindang. Ia menatap Seoyeon, tubuh yeojanya itu basah bahkan sampai ke jaket biru muda yang ia kenakan. Sudah tidak ada yang bisa dipakai sebagai penghangat lagi disana. Ia melirik dirinya sendiri lalu menghela nafas kesal. Karena dia juga basah.
“Oppa, buku pelajaran ku? Bagaimana ini?”
Bukannya mengkhawatirkan dirinya sendiri, ia malah memikirkan nasib buku pelajarannya. Donghae mengutuk dirinya sendiri setelah ia ingat kalau buku – buku disekolah itu sangat langka dan hanya bisa didapatkan disekolah. Seoyeon bisa mendapat masalah meski ia seorang anggota OSIS sekalipun.
“Tenang saja. Key dan Kevin yang akan menjelaskan pada staff pengajar nanti” putusnya.
Seoyeon hanya mengangguk dan memutuskan untuk menuruti ucapan Donghae, seperti yang pelajar Domus Aurea bilang, keputusannya selalu tepat.
“Sekarang ku antar kau kerumah. Tapi…”
Seoyeon sibuk mengusap – usap bahunya sendiri berharap ia bisa sedikit lebih hangat. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa dingin yang mulai datang dan menusuk.
Donghae kembali menatapi yeoja –nya itu dari atas hingga bawah. Semuanya benar – benar basah. Ia berfikir sebentar, ia tidak bisa mengantar yeoja itu sampai masuk ke areal perumahan sederhana tempat Seoyeon tinggal karena gangnya memang sempit. Mana mungkin ia membiarkan yeojanya berpenampilan seperti itu?
Kalian tahukan bagaimana jadinya kalau pakaian kalian basah dan bisa membentuk tubuh kalian dengan sangat sempurna??
“Bodoh! Kenapa aku jadi melihatnya terlalu lama?” desis Donghae kesal karena ia mulai merasa ada yang aneh didirinya. Seoyeon hanya mendengarnya bicara dengan suara yang seperti bisikan.
“Waeyo?” ia menatap Donghae dengan polos.
Donghae hanya bisa mengeluh dalam hati, kenapa yeoja ku sepolos ini sih?
“Lupakan! Kajja!”
Donghae langsung menarik Seoyeon masuk kedalam audy putihnya yang terparkir dengan manis dipinggiran sana.

***

Perfection Collection

*klining*

Bel yang tergantung diatas pintu butik itu berbunyi ketika Donghae membuka pintunya. Ia terus menempel dengan Seoyeon dan membalas tatapan namjadeul yang melihat kearah yeojanya dengan tatapan sipit mengancam. Dan membuat para namja itu langsung menunduk atau pura – pura menatap kearah lain.-“Mau apa kesini? Kenapa tidak langsung pulang?”

Donghae tersenyum manis lalu menatap Seoyeon yang mulai risih, mengingat pakaian mereka basah dan harus masuk kedalam tempat umum seperti itu.
“Cepat masuk keruang ganti itu. Aku akan berjaga didepannya dan aku akan meminta pramuniaga mencarikan pakaian yang cocok untuk mu!”
Seoyeon mengangguk lalu beranjak pergi. Donghae langsung memanggil pramuniaga dengan member kode pada tangannya.
“Euhmm.. bisakah kau memilihkan satu set pakaian full yeoja? Yang manis ya modelnya”
“Satu set?” Tanya pramuniaga itu dengan bingung.
Donghae terlihat gugup, ia bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada pramuniaga ini. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kaku.
“Euhmm.. begini. Tadi hujan, yeoja ku masih memakai seragam dan semua basah”
Donghae sengaja memberikan tekanan pada kata ‘semua’. Pramuniaga itu diam sejenak lalu mengangguk dan tersenyum, mengerti apa yang dimaksud customernya itu.
“Warnanya?”
“Biru”
“Biru semua sampai kedalam?” pramuniaga itu bertanya dengan wajah yang serius.
“Aishh.. semuanya biru sajalah pokoknya!”
Donghae menggerutu kesal dalam hatinya.
Bagaimana bisa pramuniaga itu bertanya sampai hal sedetail itu?
Pramuniaga itu kembali, Donghae menunjuk ruang ganti tempat Seoyeon berada. Pramuniaga itu memberikan pakaian itu pada Seoyeo, yeoja itu memakainya lalu ia keluar dari ruang ganti dengan setelah mini dress selutut dengan warna soft blue.
Donghae tersenyum melihatnya. Ini pertamakali baginya melihat Seoyeon memakai pakaian lain selain pakaian tidurnya dan seragam sekolahnya. Mengingat mereka memang tidak pernah berkencan dihari libur.
“Neomu yeoppeo~ hhee… Kajja! Biar ku antar kau pulang. Tapi… sepatunya basah juga kan?” Donghae baru ingat sesuatu.
Ia langsung meminta pramuniaga mencari sepatu yang pas dengan pakaian Seoyeon. Akhirnya semua persiapan selesai. Selesai membayar dikasir, Donghae hendak menarik Seoyeon keluar namun Seoyeon menahan tangan namja itu.
“Pakaian mu?”
Donghae mengetuk kepalanya sendiri dengan kepalan tangannya dan tentu saja cukup pelan.
“Aishh.. pantas saja terasa dingin sejak tadi!” gerutunya.
“Hhaa… biar aku pilihkan!”
Seoyeon langsung melesat dan tidak butuh waktu lama, ia kembali dengan setelan pakaian namja kasual yang bergaya dan sangat cocok untuk Donghae.
Donghae menatap setelan itu, Seoyeon mengangguk lalu tersenyum dengan manis sambil memiringkan sedikit kepalanya ke kiri. Donghae akhirnya berbalik lalu ia mendelik sejenak kearah namja-namja yang masih berdiri didekat yeojanya itu.-
“Seoyeon –a, jangan bicara dengan namja asing! Arraseo?”-
Seoyeon menunjukkan wajah bingungnya, namun ia tetap mengangguk. Lagipula siapa juga –
yang akan mengajaknya bicara? Aneh sekali…
Donghae mengulas senyuman lega lalu masuk kedalam ruang ganti itu. Sedangkan Seoyeon duduk tidak jauh dari sana.

*pluk!*

Seseorang menepuk bahunya dengan lembut dan membuatnya sedikit terkejut. Namun senyuman Seoyeon langsung mengembang ketika ia tahu siapa yang menepuk bahunya itu.
“Minho??” tanyanya dengan penuh semangat.
Namja tampan itu mengangguk lalu duduk disamping Seoyeon. Butik itu memiliki kursi panjang sebagai tempat para costumer menunggu. Seperti saat ini contohnya.
“Sendiri?” Tanya Minho sambil mengukir sebuah senyuman diwajahnya.
“Ania! Aku bersama…”
Seoyeon langsung berhenti ketika ia mendapati entah sejak kapan Donghae sudah berdiri dibelakang disisi kiri Minho dengan tatapan menyelidik seperti itu.
“Oppa?” Tanyanya bingung.
Menyadari kalau tidak mungkin Seoyeon memanggilnya oppa, maka ia menoleh kearah yang sama dengan yeoja itu. ia melihat dengan jelas wajah namja yang pernah mencium Seoyeon ditaman mall waktu itu.
“Seoyeon –a, bukankah aku sudah bilang kalau…”
“Dia teman sekelas ku. Di Paran Junior High School” potong Seoyeon untuk melakukan pembelaan terhadap dirinya. Lagipula ia juga tidak ingin Donghae salah paham dan marah karena hal semacam ini.
“Ohhh…”
Donghae menghela nafas lega. Paling tidak namja dihadapannya ini adalah namja baik – baik. Ia menngukir senyum ramahnya yang ia tunjukkan untuk Minho lalu melirik jam silver ditangan kirinya.
“Seoyeon –a, sebaiknya aku mengantar mu pulang sekarang”
Seoyeon langsung berdiri dan berjabat tangan dengan Minho. Namun rupanya namja itu mungkin saja salah mengerti, uluran tangan Seoyeon malah ditariknya dengan cepat dan memeluknya dengan erat.
“Sampai nanti” bisiknya pelan.
Donghae agak sedikit terkejut melihatnya, namun mungkin saja ini sebuah bentuk keakraban lain kan? Bisa saja mereka memang bersahabat.
Merasa tidak enak, Seoyeon berusaha melepaskan pelukkan Minho lalu berjalan dengan cepat dan berdiri disamping Donghae. Ia menunduk sebentar kearah Minho untuk berpamitan. Donghae pun menggandengnya pergi.
Minho menatap punggung pasangan itu lalu sebuah senyuman kecil terukir disana.
“Aku menemukan mu… hufh… namja tadi itu rasanya aku pernah lihat. Dimana ya?”
Ia befikir sejenak lalu menggeleng pelan.
“Aku bisa menanyakannya besok disekolah” bisiknya penuh dengan suara kemenangan.

***

Pagi ini Seoyeon keluar dari kamar asramanya dengan tersenyum gugup, sudah dua kali Donghae melakukan hal yang tidak terduga olehnya. Jika sebelumnya ia selalu bersikap canggung dan menjauh, kini sebaliknya. Rasa segannya pada Donghae mulai mencair.
Sesekali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal ataupun sibuk merapikan rambutnya yang memang sudah rapi. Ia bahkan sama sekali tidak menyadari kalau Key dan Kevin sudah membuntutinya sejak tadi.
“Kau lihat itu?” bisik Kevin.
Key mengangguk lalu kembali menyipitkan matanya.
“Kau tahu sesuatu?” tanya Kevin lagi.
Key hanya menggelengkan kepalanya.
Mereka berdua berhenti setelah Seoyeon menoleh kebelakang dan mendelik kearah mereka berdua dengan tatapan curiga.
“Sedang apa kalian dibelakang ku, sunbaenim?”
Seoyeon memberikan tekanan pada kata terakhir dalam kalimatnya tadi.

*bruk! Prang!*

Ketiganya menoleh serentak kebelakang setelah mendengar keributan itu. suara kaca pecah itu menarik perhatian para pelajar Domus Aurea High School. Mereka berlarian untuk melihat hal apa yang sedang terjadi saat ini. Dalam sekejab lapangan penuh oleh semua pelajar disekolah itu.
Namun mereka segera memberikan jalan saat melihat Key, Kevin dan Seoyeon yang datang untuk melihat keadaan. Disana sudah ada Heechul sonsaengnim yang menatap ruang guru dengan nanar. Sebuah bola basket tergenggam ditangannya.
“Siapa yang melakukan semua ini?!” tanyanya dengan galak.
Semua yang berkerumun disana diam, mengunci mulut masing – masing.

Diluar dugaan, Chunji maju diantara kerumunan itu. Ia mengangkat tangan kanannya.
“Aku! Aku yang melakukannya”
Heechul sonsaengnim langsung mendekati Chunji dan hendak menamparnya namun entah bagaimana caranya, Seoyeon sudah ada dihadapan hoobaenya itu. Dan Key dengan refleks menahan tangan sonsaengnim, agar tidak salah sasaran.
Heechul sonsaengnim menatap Chunji dengan geram sedangkan namja itu memandang lurus kepada punggung Seoyeon yang berdiri kokoh didepannya kini.
“Sonsaengnim, sekarang dia dan teman – temannya ada dibawah pengawasan kami. Aku mohon maaf karena aku yang menangani mereka tapi aku kehilangan kewaspadaan ku. Maafkan aku”
Seoyeon membungkukkan tubuhnya. Heechul sonsaengnim langsung menelan kemarahannya, bagaimana pun juga semua anggota OSIS adalah orang special yang sudah membantu para staff pengajar.
“Baiklah, aku tidak akan ikut campur dengan anak yang ada dipengawasan OSIS. Hanya saja, tolong peringatkan mereka bertiga!” ucap Heechul sonsaengnim dengan tajam lalu meninggalkan lapangan sekolah itu.
Seoyeon mengambil nafas lega. Kevin langsung menghampirinya untuk melihat keadaan sahabat – sahabatnya itu.
“Gwaenchana Seoyeon –a?”
“Ne!” Seoyeon mengangguk dengan pasti.
Key berbalik dan menatap Chunji yang kini menatapnya dengan cuek.
“Hei kau! Jangan sampai ku dengar ada laporan lagi kalau kau masih macam – macam dibawah pengawasan Seoyeon, ketua yayasan tidak akan memaafkan mu”
Kalimat terakhir diucapkannya dengan sangat pelan dan hanya bisa didengar oleh Chunji saja. Sampai saat ini masih ada rahasia yang mereka simpan dengan rapat dari Seoyeon.
Masalah Donghae dan Eunhyuk yang merupakan pewaris perusahaan besar Domus Aurea Company. Setelah mendengar pernyataan Seoyeon ditahun pertama bahwa ia akan menjaga jarak dengan petinggi perusahaan itu, ia tidak ingin terlibat dengan kehidupan rumit para pengusaha kaya. Maka mereka berempat sepakat akan hal ini.
Lagipula tampaknya Donghae memang tidak ingin Seoyeon tahu masalah ini. Dan ada bagusnya juga, setidaknya Seoyeon menatap Donghae sebagai seorang Donghae bukan pewaris perusahaan besar itu.
Usai bicara seperti itu, Key berbalik dan menatap Seoyeon yang mengerutkan alis matanya. Penasaran akan apa yang sedang ia bisikkan pada Chunji tadi. Ia mengusap kepala yeoja itu dengan lembut.
“Nae yeodongsaeng, jika kau direpotkan oleh mereka silahkan panggil kami. Kami akan menanganinya dan membantu mu”
Seoyeon mengangguk. Ia senang karena Key memperlakukannya seperti seorang adik dan Kevin selalu menjadi tempat sandarannya. Ia merasa seperti mempunyai keluarga baru yang sangat peduli dengannya.

Key dan Kevin pergi meninggalkan Seoyeon. Sedangkan yeoja itu menatap kearah tiga hoobaenya. Tampaknya Niel dan Youngmin cukup setia kawan sehingga mereka tidak meninggalkan Chunji sendirian disana.
“Sunbae, siapa ketua yayasan sekolah ini?” Tanya Chunji dengan nada datar.
Seoyeon terkejut mendengar pertanyaan itu, ia menatap hoobaenya dengan heran.
“Maksudnya?”
“Lupakan!”
Chunji meninggalkan Seoyeon yang menatapnya dengan bingung. Youngmin mendekati Seoyeon dan menepuk bahunya pelan.
“Noona, biarkan saja! Dia memang suka seperti itu”
“Ne. Young benar!” tambah Niel dengan penuh semangat.
Seoyeon hanya membalas ucapan mereka berdua dengan tersenyum heran.

TBC

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s