Domus Aurea Romance [Part 4]

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : Love Should Go On – SHINee
Special Cameo : Yesung Super Junior
==

“Chunji!! Niel! Youngmin!! Berhenti membuat kegaduhan!!!”
Teriak Seoyeon dengan putus asa. Sudah satu jam dia terus dibuat kesal oleh keduanya. Bagaimana tidak? Disaat Seoyeon sedang sibuk menjelaskan bagaimana pentingnya mematuhi peraturan dan segalanya, ketiga hoobaenya itu malah sibuk bercengkrama dengan sesama mereka atau malah sibuk dengan handphone masing – masing.
“Untung saja aku tidak punya penyakit jantung ataupun darah tinggi!”
Ia merapikan buku – bukunya yang berserakan diatas meja dengan gerakan cepat sambil sesekali melirik kearah jam tangan biru, jam pemberian eommanya saat ia berhasil masuk kedalam Domus Aurea High School dengan beasiswa penuh.
“Sebentar lagi akan masuk jam pelajaran selanjutnya. Jadi kalian nanti tolong beri perhatian penuh pada staff pengajar, ilmu itu…”
“Berguna untuk kami, iyakan?” potong Youngmin dengan segera.
Seoyeon hanya menunjukkan cengirannya saja. Niel menggelengkan kepalanya pelan sedangkan Chunji menatap yeoja itu dengan malas.
“Sunbaenim, kau sudah mengulang ucapan mu itu lebih dari tiga kali!” keluh Niel.
“Jinjja?”
Seoyeon memebulatkan matanya dengan sedikit bingung. Ia sudah bicara panjang lebar selama satu jam terakhir ini dan jujur saja, ia memang menyadari hal itu. habisnya ia sudah kehabisan kata – kata.
“Ok! Aku akan kembali kekelas ku dan kalian bertiga, ingat pesan ku! Arraseo?”
“Arraseo ahjumma” jawab Chunji dengan kesal.
Seoyeon tersentak lalu mendelik kesal, “Ahjumma?”
“Habis kau cerewet! Sejak tadi hanya bisa mengulang kalimat yang sama!” tantang Chunji sambil menatap Seoyeon dengan malas.
Seoyeon hanya bisa diam lalu pergi meninggalkan kelas itu dengan kesal. Sementara itu Youngmin dan Niel kembali ketempat duduk mereka masing – masing sambil tersenyum mengamati Chunji yang mulai mengeluh sendiri itu.

***

Yesung sonsaengnim memasuki ruang kelas Seoyeon sambil mengembangkan senyumannya yang semakin membuat wajahnya manis. Seoyeon mendelik dengan tidak focus, ia memikirkan keadaan tiga hoobae yang sedang diasuhnya dengan susah payah itu.
“Apa mereka belajar dengan benar?” bisiknya pelan.

Yesung sonsaengnim mempersilahkan seseorang masuk. Ia adalah anggota baru dikelas itu. Para namja berharap kali ini mereka akan dianugrahi seorang yeoja lagi namun yang muncul malah seorang namja tampan dengan mata yang indah.
“Choi Minho imnida, saya baru saja kembali dari New York dan mulai hari ini akan bergabung dengan kalian. Mohon bantuannya!”
Minho membungkukkan tubuhnya nyaris 90 derajat kemudian setelah kembali berdiri tegak, ia langsung menyapu seisi kelas itu dan tatapannya berhenti pada satu – satunya yeoja dikelas itu. ia tersenyum samar.
“Sonsaengnim, bagaimana kalau aku duduk disamping Seoyeon saja?”
Mendengar namanya disebut, Seoyeon langsung mendongakkan kepalanya. Ia terkejut melihat Minho bisa berdiri didepan kelasnya saat ini. Rupanya Yesung sonsaengnim pun menyetujui permintaan Minho, ia meminta seseorang mengosongkan kursi disisi kanan Seoyeon dan Minho duduk disana dengan tenangnya.
“Minho –a, kenapa kau bisa disini?” bisik Seoyeon pelan dan hanya bisa didengar oleh Minho saja. Namja itu menatap Seoyeon lalu menyunggingkan senyumannya yang semakin membuat wajahnya semakin tampan.
“Kau pikir kenapa aku disini selain untuk menemui mu?”
Seoyeon sedikit kebingungan dengan jawaban Minho barusan. Ia menatap namja itu dengan tatapan heran dan bingung. Namun Minho memberikan kode dengan matanya untuk kembali belajar dan memperhatikan penjelasan Yesung sonsaengnim.

***

“Kau tahu? Ada sunbae baru!!”
“Ne. aku sudah melihatnya. Sangat tampan!”
“Ahh… ketampanannya tidak jauh beda dengan anggota OSIS”

Bisik – bisikan kecil itu terus menjalar dikalangan pelajar yeoja. Seoyeon mendengus kesal karena ia yakin sebentar lagi akan tersebar kabar kalau Minho mengenalnya. Dan itu sudah pasti akan menjadi topik hangat.
“Hidup ku… hiks… ketenangan hidup ku” keluhnya lemah.

Lorong menuju kantin

Minho melangkahkan kainya dengan snatai smabil menikmati pemandangan disekolah besar dan mewah itu sesekali ia menyunggingkan senyumnya.

“Ne. Seoyeon –a…”

Langkahnya terhenti ketika ia mendengar ada seseorang menyebutkan nama yeoja yang selama ini ia kejar secara diam – diam itu. Ia mengedarkan pandangannya dan berhenti pada dua orang namja dengan penampilan yang berbeda dari semua pelajar disekolah ini. Cukup bergaya dan fashionable. Ia yakin, mereka ini pasti OSIS yang diagungkan disekolah ini. Ia semakin mendekatkan jaraknya dengan kedua orang yang tidak lain adalah Key dan Kevin.

“Rahasiakan semua ini darinya!”
“Tapi seharusnya Seoyeon tahu siapa namjachingu –nya kan?”
“Kevin –a~ ini permintaan hyung. Kau tidak inginkan kalau Seoyeon malah canggung terhadap hyungdeul dan juga kita?”
“Memang sih. Dia terlalu lugu dan baik sehingga memilih cara menjauhi kita kalau mengetahui soal pewaris Domus Aurea dan semacamnya”
Akhirnya mereka Key menghela nafas berat dan Kevin terpaksa menyetujuinya. Mereka pun berbalik pergi meninggalkan tempat itu sedangkan Minho menyipitkan matanya sambil bersandar didinding sekolah itu. Ia mendengus kesal.
“Namjachingu –nya? Apa mungkin namja yang satu itu?” desisnya pelan.
Ia langsung mengambil ponselnya sebuah produk andalan Korea, Samsung. Ia menyentuh ponsel touch screen itu lalu.
“Ne. Annyeong ahjussi… Cari tahu tentang namja yang berhubungan dengan Kim Seoyeon, yeoja yang pernah ku suruh ahjussi untuk mencarinya. Secepatnya!”

*klick!*

Ia memasukkan ponsel itu ke sakunya lalu tersenyum sinis.
“Akan ku cari tahu siapa namja yang berani – beraninya mendahului ku itu!”
Kemudian dia beranjak pergi dari tempat itu. Dan cahaya matahari yang cukup panas menjejak dibelakang tubuhnya.
Langit biru itu… Cuaca cerah itu…
Suatu saat akan berubah menjadi buruk entah kapan. Namun dengan perlahan tetapi pasti. Begitu juga dengan takdir kehidupan diantara setiap manusia.

***

Seoyeon berdiri mematung didepan gerbang sekolahnya. Ia menunggu Donghae yang hari ini berjanji untuk menjemputnya. Seoyeon sudah tidak tinggal di asrama lagi sejak kehidupan keluarganya membaik. Appanya, Kim Jaejoong dan eommanya, Jessica Jung atau Mrs. Kim kini sedang merilis usaha baru.
Sebuah café restoran sederhana yang cukup nyaman. Belakangan ini banyak pelanggan yang datang dan memuji tempat itu. meski tergolong baru, mereka selalu memberikan pelayanan yang terbaik.
Mobil audy putih milik Donghae berhenti didepan Seoyeon. Namja itu membuka jendela mobilnya lalu tersenyum saat menjumpai yeoja –nya sudah menunjukkan ekspresi wajah yang cemberut dan kesal.

“Masuklah!” pinta Donghae.

Seoyeon berfikir sebentar, ia rasanya ingin menendang mobil putih itu seandainya ia tidak tahu kalau harga mobil itu cukup mahal. Pasti biaya perbaikannya juga cukup mahal bukan?
Seoyeon pun melangkahkan kakinya, namun gerakkannya terhenti saat ia merasa ada seseorang memegangi lengannya. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Minho tersenyum kearahnya.
“Minho –ssi?”
Tampaknya Seoyeon tidak menyangka akan hal ini. Ia menatap namja tampan itu dengan bingung, lalu bergantian menatap Donghae yang masih berada didalam mobilnya dan mengamati mereka berdua.
“Mana salam sampai jumpa besoknya?”
Seoyeon menatapnya dengan bingung sekaligus heran. Ia benar – benar tidak mengerti maksud dari namja dihadapannya itu. Tampaknya Minho tidak peduli dengan kehadiran Donghae disana. Ia malah menarik Seoyeon dan mendekatkan wajahnya dengan perlahan. Donghae langsung beranjak dengan cepat untuk keluar dari mobilnya namun…

*pluk!*

“Babo! Jangan berciuman didepan umum!”
Seseorang memukul kepala Minho dengan buku yang terbilang cukup tebal. Pegangan Minho langsung terlepas dan Seoyeon langsung mundur beberapa langkah. Ia melihat namja yang kini berdiri dibelakang Minho.
“Chunji –a?”
Kali ini ia benar – benar senang karena hoobaenya itu secara tidak langsung menolongnya dari situasi terjepit begitu. Ia tersenyum menatap Chunji dan teman – temannya. Youngmin dan Niel melambaikan tangannya dengan riang kearah Seoyeon.
“Kau ini namja atau bukan? Bukankah tadi itu sama saja dengan pemaksaan?”
Chunji menatap Minho dengan tatapan malas dan cueknya yang biasa. Donghae cukup bingung untuk beberapa saat namun ia tersadar dan langsung menyematkan jari – jarinya pada jari – jari tangan kanan Seoyeon.
Yeoja itu menoleh sekilas lalu kembali menatap hoobaenya. Minho mendelik kesal kearah Chunji lalu kembali melirik kesal kearah Donghae. Kedua namja ini benar – benar mengganggunya.
“Hei! Kau tidak sopan dengan sunbae mu!” balas Minho tidak mau kalah.
“Apa yang begini pantas disebut sunbae?”
Donghae mendelik tajam kearah Minho. Beberapa siswa kelas tiga, teman seangkatan Key dan Kevin keluar dari gerbang lalu langsung menyambut Donghae dengan riang.

“Hyung!”
“Hyung, bagaimana kabar mu?”
“Apa hari ini kita main basket lagi?”

Donghae langsung tersenyum riang. Ia menepuk bahu hoobae yang berada didekatnya.
“Kalian ini… ckckckck… Mianhae, hari ini aku mau kencan dengan yeoja –ku!”
Donghae menarik Seoyeon dan mencium pipi yeoja –nya itu dengan lembut. Seoyeon langsung membulatkan matanya dengan shock. Mengingat mereka masih berada diareal sekolah saat ini.

“Wuuuhuuu~”
Namjadeul itu langsung bersorak riang dan mengangguk sebagai tanda mengerti.
“Sampai nanti hyung!!” ucap mereka bersamaan.

Kerumunan itu pergi, Donghae kembali menatap Minho yang tidak mengerti kenapa pelajar Domus Aurea High School itu bisa seakrab dengan namja asing dihadapannya ini. Begitu juga dengan Chunji dkk.
“Perkenalkan, Lee Donghae. Ketua OSIS sebelumnya!”
Seoyeon memperkenalkan Donghae kepada mereka. Minho langsung terperanjat mendengar nama itu. Chunji, Niel dan Youngmin juga mengalami hal yang sama. Seperti yang kita tahu, semua pelajar namja disekolah ini memang bukan dari kalangan keluarga yang biasa.
Donghae tersenyum tipis lalu merangkul bahu Seoyeon.
“Kajja chagi!”

Seoyeon membungkuk 90 derajat kepada Minho, Chunji, Niel dan Youngmin sebagai tanda untuk berpamitan. Lalu ia segera memasuki mobil Donghae. Mobil audy putih itu pun melaju dengan cepat.
Minho mengepalkan tangannya, lalu ia beranjak menuju mobilnya yang masih terparkir di halaman sekolah. Sedangkan Niel dan Youngmin menatap Chunji yang masih berdiri mematung disana.
“Chunji –a?” panggil Niel.
“Gwaenchanayo?” Tanya Youngmin dengan nada kekhawatiran.

TBC

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s