Domus Aurea Romance [Part 5]

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : Why I Like You – Super Junior
Special Cameo : Onew SHINee

==

Minho menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong yang mengandung emosi tertahan. Ia sesekali mematahkan anak panah yang berada didalam genggamannnya. Onew, teman Korea yang bertemu dengannya di New York, itu melepaskan anak panahnya dan tapat menusuk pada titik merah pada papan sasaran dijung sana. Ia duduk disamping Minho lalu tersenyum singkat dan menatap lurus kedepan.
“Ada apa dengan mu tuan muda Choi?”

Mendengar suara Onew, ia tersadar lalu melirik dan mengulas senyuman lemah. Hanya didepan namja itu ia bisa menunjukkan kelemahannya, seseorang yang sudah dianggapnya sebagai hyungnya sendiri.
“Hyung, bagaimana rasanya kalau kau mencintai seseorang lalu kau harus pergi keluar negeri dan kembali untuk mencarinya tapi…”
“Tapi dia sudah bersama namja lain?”
Onew memotong ucapan Minho lalu tersenyum pahit. Ia juga pernah mengalami hal yang sama, malahan yeoja –nya itu kuni sudah menikah. Minho tersentak, ia baru menyadari kata – katanya malah membuka luka lama.
“Mianhae hyung” bisiknya lemah.
“Gwaenchana”
Onew menunjukkan senyumnya lalu berdiri dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku jeansnya. Ia bersandar pada pagar kayu dan melirik kebawah, arena pacuan kuda yang tengah ramai oleh beberapa banyak anak – anak pengusaha besar.
“Selama dia belum menikah, kau bisa membuat dua pilihan. Memperjuangkannya bersama mu atau membiarkannya bersama namja itu”
Minho memikirkan ucapan Onew barusan. Ia sedang mempertimbangkan dengan baik didalam hatinya. Pilihan kedua begitu berat. Waktu empat tahun untuk menyukainya dan terus bertahan itu bukan waktu yang singkat. Mungkin ia akan memilih jalan pertama. Entahlah… Dia masih sibuk mempertimbangkannya dengan banyak pemikiran lain.

***

Youngmin dan Niel terpaksa menemani Chunji pergi kesebuah game center yang tidak biasa mereka kunjungi. Bukan game center berkelas, hanya game center biasa yang dipenuhi banyak berandalan. Biasanya mereka memang tidak begitu suka berada ditempat yang penuh dengan keributan dan bau – bau alcohol. Namun kali ini berbeda, Youngmin dan Niel tidak mungkin melepaskan Chunji sendirian dalam keadaan seperti itu.

“Kenapa yeoja bodoh itu harus bersama namja semacam dia huh?!”
Chunji bicara lebih kepada dirinya sendiri. Ia memukul buaya – buaya yang bermunculan itu dengan sangat keras. Niel dan Youngmin meliriknya agak ngeri. Mereka tidak ingin alat itu rusak dan memunculkan masalah baru.
“Siapa yang dia bilang yeoja bodoh?” bisik Niel.
“Seo noona, ku rasa” jawab Youngmin sambil mengangkat bahunya dengan bingung.
Chunji terus meluapkan kemarahannya pada mesin – mesin game disana. Dan itu jauh lebih baik daripada ia meluapkannya dengan manusia.

Sementara itu…

Donghae mengantarkan Seoyeon ke café sederhana milik orangtuanya. Saat mereka memasuki café itu, Mr. Kim dan Mrs. Kim menyambutnya dengan riang.
“Donghae –ya, kau datang untuk mengantarkan putri kami?”
Jessica langsung menyambutnya dengan riang dan meraih kepala putrinya itu lalu mengecup keningnya singkat sedangkan Mr. Kim langsung menyuruh Seoyeon memberikan Donghae kursi.
“Gomawo ahjumma, ahjussi” Donghae memamerkan senyuman ramahnya.
Sepasang suami – istri itu langsung pergi kembali bekerja dan melayani para tamu. Seoyeon melirik sekilas kearah kedua orangtuanya.
“Oppa, aku harus membantu orangtua ku”
Seoyeon menatap Donghae, meminta pengertiannya. Namja itu tersenyum lalu mengusap kepala Seoyeon dengan lembut.
“Jangan menunjukkan wajah seperti itu didepan ku”
“Wae?” Tanya Seoyeon dengan wajah polosnya.
“Apa kau ingin aku tiba – tiba mencium mu didepan orangtua mu?”
Mendengar ucapan Donghae, kedua pipi Seoyeon langsung memerah. Ia mengalihkan pandangannya lalu meremas tangannya sendiri, sejujurnya ia masih malu dan merasa canggung karena kejadian itu.
“Seoyeon –a? kenapa?”
Donghae meliriknya sekilas. Seoyeon menggeleng pelan lalu menggigit bibirnya pelan. Ia kini mulai merasa gelisah setiap mengingat hal itu.
“Kau marah?”
“Ani oppa, aku malu. Aku tidak pernah melakukan hal semacam itu sebelumnya. Oppa tahu Minho? Namja yang tadi. Bahkan dengannya pun aku selalu menjaga jarak, entah kenapa belakangan ini dia jadi suka sekali asal memeluk seperti itu”
Rahang Donghae mengeras saat ia teringat kejadian tadi. Hampir saja yeojanya dicium namja asing yang tidak ia kenal. Namun bukankah ucapan Seoyeon barusan menjelaskan kalai dia orang pertama yang mendekati yeoja itu?
Mau tidak mau Donghae tersenyum senang. Mendapatkan sentuhan yang pertama. Saat ia berpura – pura hidungnya patah, ia bisa merasakan pegangan lembut yeoja dipipinya itu terasa dingin dan sedikit gemetaran.
“Kau tahu kalau aku tidak menyukai mu, Seoyeon –a?”
Donghae tersenyum sambil menatap yeojanya yang menunjukkan ekspresi shock itu. Donghae meraih tangan Seoyeon yang tergeletak diatas meja lalu mengecupnya dengan lembut.
“Aku tidak hanya sekedar menyukai mu. Aku juga mencintai mu dan menyayangi mu. Makanya, jangan pernah pergi dari ku” bisiknya pelan.
Seoyeon lagi – lagi dibuat luluh oleh sikap Donghae. Ia memejamkan matanya, ada rasa haru disana. Namun terasa ada setetes air ditangannya yang masih dalam genggaman Donghae. Ia membuka matanya dan mendapati namja itu sedang menutup matanya dan ada air mata disana.
Seoyeon dengan refleks menarik tangannya. Donghae tersentak, namun Seoyeon langsung berdiri dan mendekatkan diri kearah Donghae yang kini menatapnya dengan mata yang merah. Seoyeon meraih Donghae yang masih duduk itu lalu memeluknya.
“Uljima… Mianhae… Aku tidak akan pernah pergi dari sisi mu” ucap Seoyeon sambil mengelus rambut lembut terawat namja itu. Donghae pun membalass pelukkan Seoyeon sambil meneteskan air matanya tanpa suara.

*ckrek!*

Seorang ahjussi yang dibayar Minho tampaknya hari ini melakukan pekerjaannya dengan sangat baik karena ia berhasil mendapatkan gambar itu. Ia pun tampak menghubungi seseorang dengan ponselnya lalu beranjak pergi meninggalkan café itu.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Seoyeon mengemasi barang – barangnya. Donghae sudah pulang sejak tadi dan ia masih dicafe untuk membantu kedua orangtuanya yang tampak kerepotan itu. Ia pun izin pulang duluan dan kedua orangtuanya seperti kebanyakan, meminta putrinya berhati – hati.
Seoyeon menyusuri jalanan Seoul sambil sesekali melirik jam tangannya.

“Menjauhlah!!”

Seoyeon tersentak ketika ia mendengar ada suara ribut – ribut didalam sebuah gang kecil. Ia melirik kesana dengan takut – takut. Ada seorang remaja sedang dalam keadaan terjepit. Seoyeon mengamatinya dengan seksama. Namun ia benar – benar terkejut saat mengenali siapa remaja itu.
“Chunji –a?”
Serentak para berandalan itu langsung menoleh kearah Seoyeon. Seorang namja berbadan besar dan dengan tato yang banyak langsung melepaskan cengkraman tangannya dari kerah seragam Chunji. Namja manis nan tampan itu langsung tersungkur.
“Kau ini kenal dengannya? Apa kau ini yeojachingu –nya huh?!”
Seoyeon mundur langkah demi langkah saat namja sangar itu semakin dekat dengan dirinya. Ia melirik kearah Chunji, tampaknya hoobaenya itu sedang mabuk. Ia tahu benar kalau Chunji dan teman – temannya sangat terampil dalam urusan pukul memukul.
“Tapi kau boleh juga sebagai ganti bocah itu!” lanjut namja sangar itu dan kali ini sambil memegang helaian rambut samping Seoyeon yang selalu dibiarkan tergerai itu.
“Jangan mendekat!”
Seoyeon memperingatkan namja itu namun tampaknya ia tidak peduli. Chunji sendiri berusaha memperjelas penglihatannya yang mulai samar – samar itu.

*Buk! Bak!*

Suara pukulan tiba – tiba datang entah dari mana. Seoyeon menoleh dengan cepat kesisi kirinya. Ia menjumpai Niel dan Youngmin sedang berkelahi disana menghajar para berandalan itu dengan cepat. Seoyeon langsung menginjak kaki berandalan itu.
“Aw!! Yeoja kurang ajar!!”

Seoyeon tidak mempedulikan makiannya, ia langsung berlari cepat kearah Chunji dan berusaha membuatnya sadar. Ada namja lain yang membawa balok kayu lalu hendak menghantam Seoyeon namun ia entah bagaimana caranya, Chunji langsung menarik Seoyeon hingga jatuh dan pukulan itu meleset namun malah mengenai bahu kanannya.
“Arghh!”
Teriakan Chunji sukses membuat Yeoungmin dan Niel berbalik dan langsung menghajar berandalan itu dengan cepat hingga akhirnya berandalan itu kabur sebelum lebih babak belur dari yang sekarang ini.

Seoyeon langsung menatap Chunji yang kesakitan dengan sangat khawatir begitu juga Niel dan Youngmin. Mereka kini berada disekeliling Chunji. Bahu namja itu memar dan merah sekali.
“Noona, kita harus bagaimana?” bisik Youngmin.
“Antar dia pulang saja biar bisa dirawat keluarganya, iya kan?” Seoyeon memberikan ide yang paling sederhana dan paling umum.
“Tidak bisa, atau kita semua akan kena masalah” lanjut Niel.
Soeyon menatap keduanya bergantian dengan tatapan bingung.
“Orangtuanya bisa melakukan apapun. Dan ia bisa saja dipindahkan ke luar negeri, dimana pun itu, kalau melihat putranya babak belur seperti ini” jelas Youngmin.
Seoyeon mengangguk pelan lalu berfikir sebentar. Mau tidak mau ia yang akan membawa Chunji sendirian. Ia menatap kedua hoobaenya dengan tatapan penuh permohonan.
“Bagaimana kalau kalian membantu ku membawanya kerumah?”
Keduanya mengangguk. Niel langsung memapah Chunji untuk memasuki mobil milik Youngmin sedangkan Seoyeon membantunya dengan membukakan pintu mobil itu.
“Baru ditinggal sebentar, dia sudah membuat masalah seperti ini” keluh Niel.
Youngmin hanya menanggapinya dengan senyuman singkat dan melirik kebelakang jok mobilnya. Saat ini Seoyeon sedang membersihkan wajah Chunji yang kotor itu dengan tissue basah. Ada sedikit memar diwajahnya. Seoyeon pun membuka swaeter namja itu dan memperhatikan luka lebam dibahu kanannya.
“Ada yang punya es batu?” Tanya Seoyeon dengan polosnya.
“Noona, kau bisa mencarinya dirumah mu kan?” Niel membalikkan tubuhnya lalu tersenyum sedangkan Youngmin tampak menahan tawanya.
“Ah iya! Kau benar!”
Seoyeon lalu membetulkan posisi duduknya dan membiarkan Chunji yang setengah sadar itu duduk menahan sakit dibahunya.

***

Minho sudah melihat foto itu. Tampaknya ia tidak tinggal diam. Keesokan paginya, ia langsung pergi ke Domus Aurea Company. Sebuah perusahaan yang sedang bersaing ketat dengan perusahaan milik keluarganya.
“Dimana ruangan Lee Donghae?” tanyanya dengan tidak sabaran kepada sekretaris itu.
Yeoja itu tersentak ketika mendapati pewaris dari perusahaan saingan datang berkunjung dengan sangat tergesa – gesa dan mengenakan seragam sekolah milik Domus Aurea Company.
“Ada apa mencari ku, Choi Minho?”
Entah sejak kapan Donghae sudah berdiri dibelakangnya. Kemudian namja itu memberikan kode pada sekretarisnya agar meninggalkan mereka berdua. Yeoja itu langsung pamit pergi menuju tempat lain.

“Jangan dekati Kim Seoyeon!”
Minho menatapnya dengan tajam. Donghae lalu meliriknya dengan malas.
“Bisa tidak kalau kau bersikap lebih sopan terhadap sunbae mu?” balas Donghae dengan tenang. Minho membalas ucapan Donghae dengan tersenyum sinis.
“Hyung, bagaimana menurut mu kalau Seoyeon tahu kalau kau adalah bukan orang yang sekedar kaya. Tapi sangat kaya dan ia yakin pandangan orang akan negative padanya. Dan bagaimana kalau keluarga hyung yang super kaya itu mengetahui kalau hyung berpacaran dengan yeoja biasa saja?”
Donghae tersentak. Ia menatap Minho dengan penuh emosi.
“Apa maksud mu, Minho?”
“Hyung, jangan macam – macam dengan ku! Aku memegang rahasia mu dan kita lihat bagaimana reaksinya nanti”
Minho menunjukkan senyum merendahkannya lalu pergi meninggalkan ruangan itu. sedangkan Donghae menahan emosinya yang siap meledak kapan saja, ia pun memukul vas bunga dimeja kerjanya dan vas yang terbuat dari keramik itu langsung pecah.
Ia menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Ia harus bertindak hati – hati sebelum Minho mengacaukan hubungannya dengan Seoyeon.

***

Chunji membuka matanya. Sebuah ruangan asing langsung tertangkap oleh jarak pandangannya. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapatkan sunbaenya sedang tertidur pulas dalam kondisi yang tidak nyaman. Duduk dikursi dan merebahkan kepalanya dimeja belajar.
Chunji berusaha bangun namun kepalanya masih terasa berat.
“Noona…” bisiknya pelan.

Seoyeon merasakan cahaya matahari sudah memasuki kamarnya. Ia sudah bangun sejak tadi. Hanya saja masih terlalu pagi untuknya pergi kesekolah dan tidak mungkin ia meninggalkan Chunji sendirian dirumahnya. Sedangkan kedua orangtuanya belum pulang sejak semalam.
Ia membuka matanya dengan perlahan.
“Chunji? Kau sudah bangun?” tanyanya sambil meregangkan tubuhnya.

“Seoyeon –a?”
Mrs. Kim dan suaminya baru pulang setelah mendapat sebuah pesan singkat dari putrinya yang ingin menitipkan Chunji.
“Eomma, dia hoobae ku. Bisa tolong aku titip dia dirumah?”
Mendengar ucapan Seoyeon, Chunji langsung bangkit dengan cepat namun hal itu malah membuat bahu kanannya dua kali lipat lebih sakit dari sebelumnya. Wajahnya meringis kesakitan sambil memegangi bahunya.
“Kau tidak bisa sekolah dalam keadaan begitu!” ucap Mr. Kim yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping istrinya. Chunji melirik kearah keluarga itu.

Seoyeon mengambil tasnya.
“Sampai nanti! Dan jangan mengacaukan isi kamar ku! Arraseo?”
Seoyeon pun pergi kesekolahnya sedangkan Mr. Kim kembali keruang tengah.
“Aku akan membuatkan sarapan untuk mu”
Mrs. Kim mengulas senyuman singkat lalu ikutan beranjak pergi menyusul yang lain.

Sedangkan Chunji hanya bisa pasrah sambil mengedarkan pandangannya kekamar dengan nuansa soft blue itu. ia merasakan tubuhnya seperti remuk. Ia pun memutuskan untuk kembali tidur, lagipula kesempatan istirahat seperti ini cukup langka untuknya.
Ia pun tersenyum saat menyadari kalau tempat tidur, bantal dan segala ini kamar ini adalah milik noona sunbaenya yang mengesalkan itu.

TBC

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s