Domus Aurea Romance [Part 6]

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : Tic Toc – Infinite
Special Cameo: Kwon Yuri SNSD and Lee Minho

==

Donghae langsung mengemasi barang – barangnya, bagaimana pun caranya ia harus menghalangi Minho. Bukan karena ia takut terhadap hoobae -nya itu, tapi ia terlalu mencintai Seoyeon. Yeoja pertama yang melihatnya sebagai dirinya sendiri bukan karena embel – embel Domus Aurea atau semacamnya.
“Tuan muda, apa anda serius?”
“Apa aku terlalu bodoh dan tidak memikirkan hal ini?”
Yeoja itu, yang merupakan sekretaris kepercayaan keluarga Lee, langsung menunduk mendengar ucapan tajam Donghae yang tidak biasanya itu. Namun ia mengerti dengan baik, karena pada dasarnya sajangnimnya itu adalah orang yang lembut kepada siapapun.
“Yuri noona, tolong jangan beritahu keluarga ku soal hal ini”
Nada bicara Donghae kembali melembut setelah ia menyadari sikapnya tadi kurang baik. Yeoja itu tersenyum dan mengangguk dengan pasti lalu ia memberikan berkas – berkas yang tertutup rapi didalam sebuah map biru. Salah satu dari kertas itu bertuliskan…

Domus Aurea High School

Donghae memasukkan berkas itu kedalam tasnya lalu pergi dari ruangannya itu dengan cepat.

***

Seoyeon membersihkan ujung roknya dengan kesal. Ia salah duduk saat menunggu bus umum tadi. Seharusnya ia tidak duduk di halte dengan cat kursi yang masih basah. Untung saja saat itu ada ahjumma yang berbaik hati mau membantu membersihkan cat diroknya dengan entah cairan apa hingga akhirnya berefek pada basahnya rok itu.
“Bagaimana aku bisa kesekolah?” keluhnya kesal.
Ia terus berusaha agar rok itu bersih dan kering. Sudah beberapa bus lewat begitu saja dihadapannya.

“Noona!”
Panggilan seseorang membuatnya menoleh dan ia mendapati wajah manis hoobae -nya, Youngmin sedang memberhentikan mobil tepat dihadapannya.
“Mau bareng kesekolah?” tawar Youngmin.
Seoyeon langsung mengangguk tanpa bicara apapun. Ia langsung masuk dan duduk di jok depan mobil, disamping Youngmin. Namja itu tersenyum lalu menghela nafas lembut. Ia menatap lurus kedepan lalu menimbang – nimbang akan hal yang ingin ia bicarakan dengan sunbaenya itu.
“Noona, apa kau marah dengan kami?”
“Kami?”
Seoyeon menatap Youngmin dengan tidak mengerti. Ia mengerutkan alisnya.
“Ne. Aku, Niel dan Chunji”

Seoyeon berfikir sejenak lalu tersenyum dengan tatapan lurus kedepan. Ia kembali teringat masa – masa tahun pertamanya di Domus Aurea yang begitu datar dan sepi seandainya saja ia tidak memiliki teman – teman seperti Donghae, Eunhyuk, Kevin dan Key.
“Awalnya aku marah. Tapi Key oppa dan Kevin oppa bilang kalau ini impian OSIS. Memiliki pelajar seperti sekolah pada umumnya”
Youngmin mengangguk sebagai tanda kalau ia mengerti. Kemudian ia melirik Seoyeon yang masih menatap keluar sambil tersenyum kecil. Sebuah ide iseng terlintas didalam pikirannya.
“Noona, bagaimana kalau misalkan aku menyukai mu?”

Seoyeon terperanjat, ia langsung membulatkan matanya dengan shock.
“M-MWO?!”

Melihat respon dari Seoyeon membuat Youngmin tertawa kecil.
“Seharusnya aku foto ekspresi mu tadi agar Chunji melihatnya! Hhaa… Aku hanya bercanda noona, jangan dianggap seserius itu”
Seoyeon langsung mendelik kesal sekaligus lega.
“Kau nyaris membuat ku mati kena serangan jantung”
“Hhaa… Aku tidak berniat menjadikan mu yeojachingu ku, bagaimana kalau kau jadi noona ku saja?” tawar Youngmin sambil mengedipkan sebelah matanya.
Seoyeon mengerucutkan bibirnya lalu berfikir sejenak. Kemudian ia tersenyum dan mengangguk dengan penuh semangat. Lagipula ia anak tunggal dan bukankah memiliki adik semanis Youngmin itu akan menyenangkan?
Mereka pun melanjutkan perjalanan kesekolah sambil berbagi cerita tentang pengalaman menarik mereka satu sama lain. Seoyeon sama sekali tidak tahu kalau Youngmin menginginkan sesuatu darinya.

***

Youngmin menaruh tasnya diatas meja lalu segera menghampiri Niel yang tampak sedang sibuk dengan handphone touchscreennya. Tampaknya ia sedang sibuk main game karena beberapa kali ia melakukan gerakan aneh.
“Niel!”
Niel menoleh sejenak lalu kembali menatap kelayar handphonenya dengan serius.
“Kau baru sampai?”
“Ne. Tadi aku berangkat dengan Seoyeon noona”
Mendengar nama sunbaenya disebut, Niel langsung menoleh dengan kaget dan membulatkan matanya dengan tidak percaya.
“Jangan bilang kau…”
“Tidak – tidak. Kan aku sudah bilang dia mirip noona ku yang sudah meninggal itu. hHaa… Kau tahu kan? Sikap keras kepala dan menyebalkan mereka itu sama!”
Youngmin tertawa dengan berat. Niel langsung merangkul bahunya dan menepuk – nepuknya pelan. Ia tidak ingin mengingatkan kejadian buruk itu lagi. Sebuah kecelakaan yang membuat Youngmin merasa bersalah bahkan nyaris seumur hidupnya.
“Lalu untuk apa kau bicara sesenang itu?”
“Chunji! Ku rasa teman kita yang bodoh dan tidak peka itu mulai menyukainya”
Niel menatap Youngmin dengan ekpresi berfikir sekaligus mempertimbangkan lalu ia mengangguk dengan cepat. Dan langsung tersenyum senang.
“Kau benar Young!”
Mereka pun sepakat untuk mendekatkan Chunji dengan Seoyeon. Namun sedetik kemudian Niel teringat sesuatu.
“Young, noona sudah punya namjachingu!”
Youngmin lalu mengerutkan dahinya, “Ahh~ kau benar! Ya sudahlah, kita buat mereka akur saja. Lagipula apa kau tidak pusing mendengar mereka terus – terusan saling adu mulut?”
Niel tertawa pelan melihat ekspresi jengkel Youngmin. Kemudian ia menepuk bahu chingunya itu dan mengedipkan sebelah matanya.
“Ku rasa Chunji tidak akan berbuat macam – macam lagi. Dan ku rasa ia masih dalam rawatan keluarga noona Hhaaa…”
Mengingat hal itu, Youngmin juga ikut tertawa. Mereka rasanya ingin melihat ekpresi Chunji saat menyadari kalau noona menyebalkanlah yang merawatnya. Pasti itu jadi tontonan yang sangat menarik untuk mereka.

***

Seoyeon sedang berjalan sambil membawa beberapa buku yang baru saja ia pinjam dari perpusatakaan. Ia membawanya dengan sedikit susah payah mengingat ia membawa beberapa buku tebal. Ia sedang menuruni tangga untuk menuju kekelas satu, melanjutkan pemberian bimbingan untuk Niel dan Youngmin, tanpa Chunji.
Namun ia sudah membuatkan banyak catatan baru untuk hoobaenya yang satu itu. ia sama sekali tidak memperhatikan langkahnya karena ia merasa sudah cukup terbiasa dengan sekolah itu sampai kaki kanannya salah menapak ke anak tangga yang satu tingkat lebih bawah daripada seharusnya.
Ia kehilangan keseimbangannya lalu buku – buku ditangannya jatuh berserakan dan menimbulkan bunyi yang cukup keras. Ia sudah pasrah kalau tubuhnya akan menghantam lantai keramik itu.

*pluk!*

Ia memejamkan matanya berharap ia tidak melihat kejadian selanjutnya. Misalnya saja darah yang mungkin saja mengalir dipelipisnya atau semacamnya. Nyatanya ia baik – baik saja. ia bisa merasakan ada jemari yang memeluknya dengan cukup erat.
Ia membuka matanya perlahan dan mendapati ia jatuh terduduk didalam pelukkan Minho. Namja itu meringis pelan.
“Minho –ssi?”
Seoyeon langsung berdiri, merapikan roknya dan kembali berjongkok dihadapan Minho. Melihat kondisi namja itu dengan seksama. Tatapan matanya begitu khawatir.
“Gwaenchana?” lanjutnya lagi.
Minho membuka matanya lalu mengangguk pelan kemudian tersenyum.
“Hanya sedikit sakit. Namun aku baik – baik saja”
“Jinjja?”
“Ne. Kenapa kau bodoh sekali melangkah tanpa melihat?”
Lanjut Minho sambil memunculkan ekspresi kesal yang dibuat – buat, membuat Seoyeon mendelik kesal. Kenapa juga belakangan ini banyak namja yang mengatakan kalau ia bodoh?
Ia langsung berdiri dan memutuskan untuk membiarkan Minho seperti itu saja. Namun langkahnya terhenti karena Minho lebih dulu menahan pergelangan kakinya.
Seoyeon mendelik kesal lalu berusaha melepaskannya.
“Lepaskan!” perintah Seoyeon tidak sabaran.
Minho langsung berdiri namun kini tangannya memegangi pergelangan tangan Seoyeon. Ia mendekatkan tubuhnya kepada yeoja itu, sedangkan Seoyeon semakin mundur. Namun Minho malah tersenyum dengan lembut lalu memeluknya.
Minho menyandarkan kepalanga dibahu Seoyeon, menghirup wangi shampoo lembut dan parfume yang biasa dipakai yeoja itu. Ia memejamkan matanya. Ekspresinya melunak, ia sedang memikirkan sesuatu. Hal berat yang selama ini ia coba untuk tepis dan ia coba untuk menyembunyikannya serapat mungkin.
Mungkin suatu saat nanti akan menyeruak keluar begitu saja. karena kenyataan tetaplah kenyataan yang tidak akan pernah bisa terelakkan meski ia mencoba untuk menepis dan meolaknya secara perlahan.
Sebuah tatapan rapuh yang selalu ia sembunyikan dari siapapun termasuk yeoja yang saat ini berada dalam dekapannya. Ia hanya bisa menunjukkannya dengan samar dan tersembunyi.

***

Ruang Staff Pengajar Domus Aurea High School

Sebuah berkas masuk kesana dan membuat geger seisi staff pengajar disekolah itu. beberapa dari mereka saling bertukar pandang dengan heran. Bagaimana bisa seorang pewaris Domus Aurea Company mengajukan dirinya sendiri untuk menjadi salah satu staff pengajar bantuan disana?
Namun tidak ada salahnya. Mempekerjakan Lee Donghae tidak akan menambah bugjet pengeluaran untuk gaji, bahkan Donghae malah menaikan gaji para staff pengajar itu sebesar 10% dari gaji mereka sebelumnya. Lagipula, ia adalah orang cerdas yang cukup dikagumi para hoobaenya disekolah itu.

“Jadi, bagaimana?”
Donghae menatap staff pengajar yang merupakan gurunya terdahulu itu satu per satu. Ia tersenyum dengan sangat manis dan bersikap cukup baik. ia memang ahli menyembunyikan kenyataan kalau ia merasa takut ditolak. Ia gelisah dengan keberadaan Minho disekolah itu, namun mengeluarkan namja itu dari sekolah dengan memanfaatkan kekuasaannya bukanlah cara baik dan gentle untuknya.
Diam – diam ia berdoa dalam hati berharap semuanya akan berjalan dengan lancar dan memungkinkan untuknya selalu mengawasi pergerakan namja itu.

Semua staff pengajar saling bertukar pandang lalu tatapan mereka tertuju pada kepala sekolah mereka yang tampaknya masih merasa seidkit shock.
“Jadi bagaimana Pak?”
Donghae menatap kepala sekolah itu dengan tatapan penuh keyakinan dan kesungguhan. Seorang namja duduk dibalik meja lengkap dengan papan nama yang bertuliskan.

Park Jung Soo (Kepala Sekolah)

Ia menatap Donghae dengan lekat lalu mengangguk setuju. Donghae pun menjabat tangan para staff pengajar itu satu per satu dengan riang. Kemudian ia memutuskan untuk memulainya besok tanpa memberitahu Seoyeon.
Bukankah lebih menyenangkan kalau semua ini dijadiikan kejutan?

***

Chunji sudah menghabiskan banyak waktu dirumah Seoyeon dan ia memutuskan untuk pergi membantu Mr. & Mrs. Kim di café. Lagipula ia tidak pernah melakukan semua ini sebelumnya. Ia juga tidak pernah merasakan kehangatan keluarga seperti ini sejak ia berusia 7 tahun. Sehingga semua ini membuatnya dua kali lipat lebih bahagia meskipun ia sedikir lelah.
“Chunji, meja nomor 7 dipojok sana. Dan ini untuk meja di nomor 14”
Mrs. Kim member instruksi kepada Chunji yang langsung mengangguk dengan penuh semangat. Jangan tanyakan soal bahunya, karena sekarang ini ia sudah baikan berkat ramuan – ramuan yang disajikan Mr. Kim meski rasa pahitnya masih enggan hilang dari tenggorokan.

Chunji bergerak dengan sangat cepat dan lihat seolah ia terbiasa melakukan semua ini. Padahal semua ini hanya kebiasaannya saja dalam menjaga image. Ia melirik kearah pintu masuk, saat ada seorang pengunjung memasuki café itu.
Ia menatapnya dengan lekat lalu terkesiap. Itu adalah appanya, Lee Minho. Atau lebih tepatnya ayah angkat yang kebetulan marganya sama dengannya. Ia mendengus kesal lalu berbalik. Mrs. Kim melihat kejadian ini lalu menatap Chunji dengan bingung.
“Apa kau sakit lagi?”
“Ania, aku hanya butuh masker. Ku rasa aku kurang enak badan”
Mendengar ucapan Chunji membuat Mrs. Kim mengerutkan alisnya lalu mengangguk dengan penuh kekhawatiran.
“Istirahatlah, jangan sampai sakit karena hal ini. Seoyeon tidak akan suka”
“Jessica ahjumma, aku masih bisa bekerja. Beri aku kesempatan!”
Chunji memohon dengan menunjukkan ekspresi memelasnya. Mrs. Kim menatap kearah suaminya yang ternyata sudah berdiri, bersandar pada dinding café sambil memperhatikan namja kecil itu.
“Jaejoong ahjussi?”
“Tidak bisa! Jessica benar! Istirahatlah, biar kami yang urus. Kalau kau sudah merasa baikan, kau bisa membantu kami lagi. Bagaimana?”
Namja tampan itu tersenyum dengan lembut sambil melirik istrinya, mengharapkan persetujuan dan disambut dengan anggukan singkat. Chunji menyerah. Ia tidak bisa melawan lebih dari ini karena keduanya sudah seperti keluarganya sendiri.
Ia pun berjalan menuju ruang istirahat. Sedangkan sepasang suami – istri itu kembali melakukan pekerjaan mereka.
Chunji menatap keduanya dari jendela yang bisa mengawasi langsung seluruh isi café itu. tanpa sadar air matanya menetes dengan perlahan. Ia terisak pelan. Ia membiarkan untuk sekali ini saja ia menangis sendirian diruangan itu.
Sudah lama ia ingin menangis karena ada perasaan kesepian yang terus menekannya hingga ke dasar. Ia tidak pernah mengeluh dan menangis meski ia sangat ingin. Karena seseorang dari keluarga Lee tidak pantas menunjukkan dan melakukan hal semacam itu. Sesakit dan semenderita apapun dirinya, tidak boleh kelihatan lemah oleh siapapun.

***

Minho menelepon hyungnya, Onew. Lebih tepatnya orang yang sudah ia anggap sebagai hyungnya sendiri itu. Ia duduk ditaman depan Domus Aurea Hisgh School sambil meluruskan kaki panjangnya, berusaha nyaman dan relaks.

“Hyung?” / “Minho? Biasakan memberi salam. Aku sudah bilang berapa kalikan?”
“Hhee… Ne. Hyung. Lain kali akan ku lakukan!” / “Sesuka mu. Ada apa?”
“Hyung, aku memutuskan untuk maju!” / “Maju?”
“Masalah yeoja, hyung~” / “Oh… Hhee.. Aku nyaris saja lupa”
“Hyung… Kau ini!” / “Bukankah dia sudah mempunya namjachingu?”
“Aku menyukainya, aku tidak peduli meski ia sudah memiliki seorang namja” / “…”

Tidak terdengar jawaban dari ujung sana untuk beberapa saat. Minho menantinya namun tampaknya Onew tidak ingin bicara sama sekali.
“Hyung?” / “Minho, kau serius?”
“Ne. Aku tidak pernah main – main kan hyung?” / “Ku harap kau tidak menghalalkan segala cara untuk masalah ini”
Senyuman Minho memudar ketika ia mendengar ucapan Onew dengan sangat jelas. ‘Segala cara’, itu yang sedang dilakukannya saat ini. Segala cara dengan jalan apapun asalkan ia bisa memperoleh seorang Kim Seoyeon kembali. Ia yakin kalau ia bilang akan hal ini pada hyungnya itu, hyungnya mungkin akan marah dan sejenisnya.
“Anio hyung…” / “Suara mu terdengar ragu. Dengarkan aku! Jika kau memang mencintainya, biarkan dia memilih dan bahagia. Jangan terlalu memaksa, aku tidak ingin melihat saeng ku terluka dan hancur dengan sendirinya”
“Ne hyung. Aku mengerti!” / “Baiklah! Sekarang lebih baik kau belajar yang benar”
“Ne. Annyeong”

*klik!*

Minho memutuskan jaringan teleponnya. Ia menghembuskan nafas berat lalu kembali menatap langit biru cerah disana. Ia sedang mempertimbangkan kembali akan langkah – langkahnya itu. Namun sedetik kemudian ia mendapatkan keyakinanya. Ia memutuskan tidak akan mundur lagi.
TBC

One comment

  1. ChoiSulli · April 6, 2014

    bagus banget eonni! mianhae baru komen di part 6 xD terlalu serius nih! good luck eonni!

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s