Part 2 : No Matter How Far

Chapter 2 riliiiiiis. Aduh, tapi masih kurang panjang yah? Dan moment ultah Sehunnya belum ada juga. –Baiklah kalau begitu. Entar pas ultahnya Lulu aku kelarin langsung. Hahaha.Happy reading.😀

Title : No Matter How Far
Auhtor : Nadya Febiriani
Genre : Yaoi, Romance
Cast : Xi Luhan
Oh Sehun
Another EXO Members

Saat yang paling tidak kuinginkan pun tiba. Semua member EXO telah berkumpul di ruang tunggu. Tidak seperti biasanya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Chanyeol maupun Baehyun untuk mengganggu kami saat sedang di ruang tunggu bandara. Biasanya tawa mereka berdua akan pecah setelah mereka sukses membuat korban kejahilan mereka marah. Namun tidak kali ini, tidak satu pun yang bersuara diantara mereka. Semuanya menunggu dalam diam. Yang terdengar hanyalah suara orang-orang yang berlalu lalang disekitar kami.

Aku melirik kearah Luhan yang bersender dibahu kiriku. Matanya terpejam. Apakah Ia tertidur? Atau mungkin… aah, mungkin benar, Ia tertidur. Kami semua memang tidak tidur cukup semalam. Aku memegang lututnya lalu menyenderkan kepalaku ke kepalanya.

“Sehun?” Luhan berbisik.

“Hm?”

“Kau masih mengantuk, ya?”

“Ne.” Aku berbohong. Bagaimana mungkin aku bisa mengantuk disaat seperti ini? Sebentar lagi kita akan berpisah, Hyung!

“Ooh. Baiklah, tetaplah seperti ini sampai terdengar panggilan untuk kalian.” Ujar Luhan sambil memeluk pinggangku.

Tangan kiriku mengusap-usap rambutnya. “Ne, Hyung.” Setelah itu kami pun kembali terdiam.

Aah, aku merasa dadaku mulai sesak. Mataku mulai memanas. Jangan menangis Oh Sehun, Luhan akan ikut menangis jika Ia melihatmu menangis. Dan kau tidak ingin melihat Luhan-mu menangis kan?

Tiba-tiba…

“Pesawat tujuan Korea Selatan dengan nomor penerbangan KR121 telah memasuki Bandara Internasional Beijing. Para penumpang mohon segera bersiap-siap untuk memasuki pesawat.”

Aku menegakkan kepalaku dan bersiap-siap berdiri. Namun aku bisa merasakan Luhan mempererat pelukannya.

“Hyung, pesawatnya sudah siap. Aku harus…”

“Sehun-ah, tidak bisakah kau menunggu sebentar lagi?” Luhan memotong kata-kataku. Suaranya bergetar. Ya Tuhan, Ia menangis lagi.

“Baiklah, Hyung.”

Semua member EXO, manager-nim dan para kru sudah siap dengan bawaan mereka masing-masing. Para member EXO-K dan EXO-M mulai berpelukan satu sama lain. Aku bisa melihat Tao hampir menangis saat memeluk member EXO-K satu persatu. Ah, Tao gege, kau ini, dibalik keahlain wushu-mu yang luar biasa, ternyata kau benar-benar seorang maknae. Kris gege yang gagah seperti seorang pangeran selalu ada disampingmu, Ia selalu bisa menenagnakanmu jika kau hampir menangis dan selalu berhasil. Aku belum pernah melihat kau menangis. Tuhan, andai saja aku dan Luhan-ku bisa seperti kalian yang akan selalu bersama, aku tidak perlu melihat Luhan-ku ini menangis.

“Sehun-ah.” Tiba-tiba Jongin sudah duduk disampingku. Ia tersenyum sambil menepuk-nepuk bahuku.

“Kkamjong-ah~.” Aku merengek sambil menarik-narik kerah jaketnya. Air mataku sudah hampir mengalir keluar.

“Ya, Oh Sehun, ayolah, kau ini seorang pria! Kalian hanya akan berpisah untuk sementara, tidak akan lama. Kau pasti bisa menjalani masa-masa itu dengan baik.”

“Oh, Kim Jongin.” Luhan menegakkan posisi duduknya. “Mudah sekali kau berkata begitu. Hiks~ kau tahu tidak, aku sama sekali tidak tidur semalam, aku… aku… hiks~ aku benar-benar tidak siap harus berpisah dengan Sehunnie. Hiks~ hiks~” Ujar Luhan sambil terisak-isak. (*rada lebay yah, efek nangisnya? Mian, abaikan)

“Sudahlah, Hyung.” Aku berdiri. Kai dan Luhan ikut berdiri.

“Sehunnie~” Luhan menggenggam tanganku erat-erat dengan kedua tangannya. “Jangan tinggalkan aku.” Ia menangis seperti anak kecil yang akan ditinggal oleh ibunya dipasar malam seorang diri. Aku ingin memeluknya, tapi jika akau melakukan itu, mungkin saja aku tidak akan melepasnya dari pelukanku.

“Hyung, kau tahu kan aku juga tidak ingin berpisah denganmu? Mianhae Hyung, sudah saatnya kita berpisah. Hanya sementara, Hyung, hanya sementara, ingat.” Aku memaksakan sebuah senyuman.

Perlahan-lahan Luhan melonggarkan pegangannya pada tanganku. Tubuhnya masih berguncang karena menangis.

Aku segera mengenakan tas ranselku, begitu mendengar manager-nim sudah memanggilku dan Kai. Para member EXO-M segera menghampiri kami berdua dan satu-persatu dari mereka memeluk kami.

“Jaga dirimu baik-baik. Pastikan kau selalu makan tepat waktu, jangan berlatih sampai larut malam dan jangan lupa minum vitamin jika kalian sudah mulai sibuk. Aku tidak ingin mendengar kabar buruk tentangmu, jika berita itu sampai ketelinga Luhan, Ia pasti sedih. Sebagai leader, aku tidak ingin salah satu anggotaku bersedih. Ingat, jaga dirimu baik-baik Oh Sehun.” Ujar Kris saat kami berpelukan. Aku mengangguk lalu melepaskan pelukan kami.

“Jaga diri kalian baik-baik, ya.” Ujar Chen dan Xiumin bersamaan.

“Ya, sampai berjumpa lagi teman-teman.” Sahut Lay. Tao hanya bisa memandang kami dengan tatapan sedih sambil menepuk-nepuk punggung Luhan yang masih menangis.

Aku mendekat kearah Luhan lalu mencium keningnya. Aku memejamkan mataku, membiarkan air mataku mengalir rmembasahi pipiku (sumpah, asa geuleuh pas ngetik bagian ini. *plak!). setelah menciumnya cukup lama, aku memegang bahunya dan menatap matanya lekat-lekat.

“Aku berjanji Hyung, ini tidak akan lama. Kita pasti akan bertemu lagi.” Luhan mengangguk lemah. Panggilan manager-nim terdengar lagi. Kai menepuk bahuku lalu mengangguk, mengisyaratkan untuk segera memasuki pesawat. Aku membalas anggukannya, menatap Luhan sekali lagi sebelum akhirnya berjalan menyusul member EXO-K lainnya.

Goodbye, Beijing. Goodbye my lover.

—++—

Aku langsung berlari ke kamarku setalah Kris membuka pintu asrama kami. Baru saja aku akan membanting pintu, tiba-tiba Kris sudah ada dibelakangku dan menahan pintu kamarku agar tetap terbuka.

“Aku ingin bicara.” Ujarnya pelan. Aku mengangguk. Aku berjalan menuju ranjangku lalu duduk di pinggirnya. Kris mengambil kursi dari pojok ruangan, Ia meletakkan kursi itu dihadapan lalu Ia pun duduk.

“Ehem.” Ia berdeham sebelum menatap mata bengkakku dalam-dalam. “Soal kau dan Sehun, sebaiknya kau jangan bersedih terlalu lama. Aku tidak bisa memintamu untuk tidak memikirkannya, tapi aku harap kau bisa tetap melakukan pekerjaanmu dengan baik meskipun pikiranmu selalu tertuju pada Sehun. Kau juga tidak boleh sakit, selain karena akan membuat kami khawatir, Sehun juga pasti akan sedih jika Ia tahu kau tidak baik-baik saja disini.” Kris menasehatiku.

“Hao.” Jawabku singkat.

“Ah, ngomong-ngomong, anak itu akan berulang tahun tanggal 12 nanti kan?”

“Iya.”

“Mungkin kau ingin mengunjunginya? Maksudku, barangkali kau ingin bertemu dengannya untuk memberinya kado ulang tahun? Kalau kau mau, aku akan bicara dengan manager. Kau akan kuizinkan ke Korea sehari saja.” Hey, Wu Yi Fan, apa kau baru saja biacara padaku?

Aku mengerutkan alisku, menatapnya penuh tanya.

“Kai tidak mendengarku? Aah, atau kau tidak mau ke Korea? Baiklah, kalau begitu lupakan saja.” Ujar Kris lalu beranjak dari duduknya.

“Tunggu!” aku terlonjak dari dudukku. “Maksudmu? Aku boleh ke Korea tanggal 12 nanti?” tanyaku tidak percaya. Kris mengangguk sambil tersenyum. Tanpa sadar aku langsung memeluk Kris.

“Wu Yi Fan, wo ai ni.”

“Ya, ya, ya, sekarang kau istirahat saja dulu, kau tidak ti…”

“Ehem!” Tanpa kami sadari ternyata Tao sudah berdiri di ambang pintu sambil melipat tangannya di depan dada. Tatapannya terlihat seolah-olah Ia berkata ‘kau tidak akan selamat Xi Lu Han!’. Aku pun tertawa pelan lalu melepas pelukanku.

“Tenang Tao, Ia tidak mengatakan sesuatu yang sangat berarti padaku. Hahahaha. Jangan menatapnya seperti itu.” Ujar Kris sambil tertawa dan menghampiri Tao. Ia mengacak-acak rambut Tao yang sedang cembertu dengan gemas. “Ia hanya terlau bahagia karena aku mgnizinkannya untuk ke Korea pada hari ulang tahun Sehun. Itu bagus kan?”

“Zhen de ma?” Tao membelalakkan matanya. Kris mengangguk-angguk semangat. “Wah, itu bagus! Kau baik sekali! Hebat! Bolehkan aku menitipkan sesuatu untuk Sehun?” Tao mendadak menjadi bersemangat.

“Tentu, kalian semua boleh menitipkan sesuatu untuk Sehun padaku.” Jawab Luhan antusias.

“Haha, yasudahlah. Luhan, sebaiknya kau istirahat sekarang. Selamat beristirahat. Ayo, Tao, aku akan memasakkan sesuatu untukmu.” Kris merangkul Tao lalu berjalan kearah dapur.

Aku menutup pintu kamarku lalu mengehempaskan tubuhku ke atas ranjang. Aku mengambil bantal lalu menekannya ke wajahku dan langsung berteriak sekuat tenaga sambil menendang-nendangkan kakiku keudara. Aku benar-benar bahagia, terlalu bahagia.

Hei, Oh Sehun, tunggu kejutan dariku di hari ulang tahunmu. Hahaha. Wo ai ni.

-TBC-

5 comments

  1. Cho hae nie · August 29, 2012

    Bagus thor !XD

  2. the cuties hunhan · October 21, 2012

    telat abis nih aku review nya, mian ya thor? keren keren nih ff, hunhan nya bikin yg banyak donk thor! aku sering baca di tempat lain, tp publishnya kelamaan…

  3. julia park · March 14, 2013

    wah hebat . . . !
    Author daebakkk . . . ! *.*.

  4. riHan_deer · May 1, 2013

    like this, thor !!

  5. Farhana · July 5, 2013

    anyyeong.. pendatang bru yang tersesat disini.. nyari ff hunhan nyasar disini #plak..
    ff ini lucu.. ^_^ walaupun bru nyadar ini part 2 tpi gppa lah. nice ff^_^

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s