Bad Boy (Let It Go)

Title                 : Bad Boy (Let It Go)

Author             : Siskha Sri Wulandari

Cast                 : Heo Young Saeng (ss5o1)

                        : Wu Yi Fan /Kris (EXO M)

                        : Park Jihee (OC)

Genre              : Romance, complicated

Length             : Series

Backsound      : Let It Go (Heo Young Saeng)

            Jihee meminum winenya dengan sekali teguk seraya menatap Young Saeng yang duduk di hadapannya dengan tatapan penuh amarah. Sudah hampir dua jam mereka berada di bar tersebut, namun tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Young Saeng. Young Saeng hanya diam sambil memperhatikan penyanyi bar yang sedang bernyanyi di atas panggung dan sesekali meminum wine tanpa berniat memulai pembicaraan. Jihee yang mulai gerah akan situasi tersebut segera meletakkan gelasnya dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang cukup gaduh dan merapikan posisi duduknya agar tepat menghadap Young Saeng.

            “Aku mau kita putus.” Jihee menatap dalam-dalam mata Young Saeng yang akhirnya mengalihkan pandangannya. Young Saeng membalas tatapan Jihee dengan dingin. Jihee berharap Young Saeng menolak keputusannya, Ia hanya menggertak.

            “Terserah padamu saja.” Jawab Young Saeng dingin sambil terus menatap Jihee yang balas menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

            “Terserah?” Ulang Jihye, tidak menyangka bahwa kata itu yang akan dikeluarkan oleh Young Saeng. Akhir-akhir ini Young Saeng memang bersikap semakin dingin padanya, tapi tidak pernah dibayangkannya bahwa Young Saeng akan bereaksi seperti itu ketika Ia meminta untuk mengakhiri hubungan mereka. Terserah. Astaga, apakah hubungan mereka selama ini hanya dianggap lelucon oleh Young Saeng.

            “Kau minta putus, ya sudah terserah padamu saja.” Jawab Young Saeng dingin, masih menatap Jihee.

            “Kau pikir hubungan kita lelucon. Aku baru saja memintamu untuk mengakhiri hubungan kita dan kau hanya menjawab terserah. Apa itu artinya kau sudah lama tidak memiliki perasaan lagi padaku?” Tanya Jihee sinis sambil mencondongkan tubuhnya ke hadapan Young Saeng.

            “Aku tidak bilang bahwa aku sudah tidak memiliki perasaan lagi padamu.” bela Young Saeng, namun kini nada bicaranya terdengar semakin dingin.

            “Apa kata terserah mengartikan bahwa kau masih memiliki perasaan padaku?”

            “Kau terlalu banyak menuntut dan semua keinginanmu selalu aku turuti. Jika perpisahan ini adalah keinginanmu, maka tidak ada yang bisa ku lakukan selain mengabulkannya.” Young Saeng mengambil gelas winenya dan minum dengan perlahan. Sudut matanya masih memperhatikan Jihee yang tengah melotot padanya.

            Jihee menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi dan menarik napas perlahan berusaha menenangkan diri. Bagaimanapun Ia tidak boleh hilang kendali di hadapan Young Saeng. Ia sedang menimbang-nimbang kata-kata yang tepat agar Young Saeng merasa takut kehilangannya.

            “Kau tidak ingin tahu alasanku meminta putus?” Tanya Jihee lirih masih dengan posisi bersandar, ada nada berharap di dalamnya.

            “Ani, simpan saja alasan itu untuk dirimu sendiri, sesuatu yang beralasan itu sungguh merepotkan.”

            Jihee terperanjat dan bangkit dengan cepat. “Kau!” Jihee menggantung kata-katanya, merasa tidak ada gunanya lagi berdebat dengan Young Saeng. Jihee pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Young Saeng. Young Saeng hanya diam, menatap kepergian Jihee sampai hilang dari pandangannya dan menghela napas perlahan. “Aku tidak akan memaksa jika kau tidak ingin menjadi milikku lagi. Aku rasa kita tidak akan kehilangan apa-apa karena perpisahan ini.”Batin Young Saeng.

“Hey, aku dengar kau putus dari Jihee?”

Young Saeng mengalihkan pandangannya dari Ipad yang sedang dipegangnya pada laki-laki jangkung yang berada di depan meja kerjanya.

“Kau wartawan gosip?” Tidak mau ambil pusing akan kedatangan Kris yang tiba-tiba, Young Saeng kembali menatap layar Ipadnya dan mulai menyentuh layar, kembali tenggelam pada pekerjaannya. Kris terkekeh, mendapati reaksi rekan kerjanya tersebut.

“Emmb.” Kris bergerak menarik kursi dan duduk di hadapan Young Saeng. Ia melipat tangannya dan mencondongkan tubuhnya ke hadapan Young Saeng. “Apa ketika Jihee memintamu putus kau bersikap sedingin ini juga?” Tanya Kris tepat sasaran namun dengan nada bercanda, Ia tahu Ia benar.

Young Saeng menghentikan tangannya di udara, menatap Kris datar dan meletakkan Ipadnya di atas meja. “absolutely kau mengenalku Kris.” Desah Young Saeng, sedikit kesal akan setiap pertanyaan Kris yang selalu sama setiap kali Ia baru saja putus dengan kekasihnya.

Lagi-lagi Kris terkekeh, membuat poninya sedikit tersibak dan menggoyang-goyangkan tangannya. “Setidaknya, kau harus bersikap seolah-olah kau takut kehilangannya Saengi.” Kris menatap lucu Young Saeng.

“Aku tidak suka berpura-pura.”

“Bukankah kau tidak pernah benar-benar menyukai gadis-gadis yang berkencan denganmu?”

“Aku menyukai mereka.”

Kris memutar bola matanya. “Baiklah aku ralat, maksudku bukankan kau tidak pernah mencintai mantan-mantanmu tersebut?”

“Aku pikir untuk sampai ke tahap itu butuh suatu proses.”

“Tapi kau tidak pernah sampai ke tahap itu Young Saeng. Kau sudah bukan anak kecil lagi, kau laki-laki dewasa. Sudah saatnya kau serius menentukan pilihan hidupmu.”

“Bukankah kau juga tidak pernah serius dalam menjalin hubungan?”

“Aku pikir Jihee gadis yang sempurna. Dia cantik, sexy, dan anggun, sama sekali tidak akan mempermalukan seorang Heo Young Saeng.” Ujar Kris sambil menggerakkan tangannya menggambarkan liuk tibuh Jihee.

“Kau lebih muda dariku, kenapa tidak pernah memanggilku Hyung?”

“Baiklah, cantik, sexy dan anggun belum cukup dalam kriteriamu.”

“Jangan menasehatiku seolah kau lebih berpengalaman dariku.”

“Hidup ini keras, kau ingin mencari wanita yang bagaimana lagi?” lagi-lagi Kris tidak menghiraukan perkataan Young Saeng.

Young Saeng menghela napas, “Keluar!” Perintah Young Saeng singkat namun dengan nada bicara yang sangat menindas bagi siapa pun yang mendengarnya.

Kris mendecak. “Jinjaa! Arrasso! Kau benar-benar menjengkelkan!” Kesal Kris dan bersiap berdiri. Namun sebelum posisinya benar-benar berdiri, Kris mengambil berkas yang ada di atas meja Young Saeng dan mencampakkannya ke sembarang arah karena kesal terhadap Young Saeng yang selalu mengintimidasi pendapatnya. Young Saeng hanya menatap Kris datar, sudah biasa akan tingkah laki-laki jangkung tersebut yang terkadang sedikit kekanakan.

            Young Saeng mengalihkan pandangannya saat merasa ada seseorang yang menabrak mejanya. “Maaf.” Sesal orang yang telah menabrak mejanya. Untuk beberapa detik Young Saeng terpaku pada gadis yang ada di hadapannya begitu pula sebaliknya.

            “Ahh, dunia benar-benar sempit.” Keluh Jihee.

            Young Saeng terkekeh. “Mau bergabung bersamaku?” Young Saeng mempersilahkan Jihee duduk di depannya.

            Jihee memelototkan matanya “Mwoo?!” Kaget Jihee.

            “Apa?” Tanya Young Saeng polos.

            “Jangan bilang kau tiba-tiba amnesia. Kau masih ingat bukan kalau dua hari yang lalu kita baru saja putus?” Jihee memijat dahinya, kesal dengan sikap Young Saeng yang memang lupa atau pura-pura lupa.

            “Ohh.” Balas Young Saeng sambil tersenyum. “Kalau sekarang kau sedikit saja memohon padaku, mungkin kita bisa kembali seperti semula.” Sambung Young Saeng.

            “Memohon?” Kening Jihee mengerut. Semakin hari tingkah mantan namjachingunya tersebut semakin aneh.

            Young Saeng menatap Jihee. “Kau tidak bisa melakukannya?” Young Saeng diam sebentar dan melanjutkan kembali kata-katanya. “Itulah yang membuat kita tidak bisa bersama. Kita sama-sama memiliki gengsi yang tinggi dan tidak mau mengalah. Kau dengan egomu dan aku dengan egoku. Kita sama-sama egois.”

            “Cih, bukannya aku tidak mau memohon, tapi kau terlalu dingin bagiku. Kekasih macam apa itu?”

            Lagi-lagi Young Saeng terkekeh. Bagi Jihee, laki-laki yang sedang di hadapannya saat ini masih sama mempesonanya seperti saat pertama kali mereka bertemu. Ia bisa menjadi seseorang yang begitu menawan dengan senyumannya dan dingin dengan tatapannya. Sampai sekarang pun Ia masih belum tahu orang seperti apa Heo Young Saeng itu. Tapi yang jelas, kesan pertama saat bertemu Young Saeng akan selalu membuat hati seluruh wanita luluh. Entah pesona seperti apa yang dimilikinya.

            “Benarkah aku sejahat itu? Semua orang selalu mengeluh akan sikapku yang terlalu dingin. Tapi kenapa aku tidak pernah merasa begitu?” ujar Young Saeng sambil tersenyum yang membuat lesung pipihnya terlihat dengan jelas.

            “Mana ada orang jahat yang mau mengakui dirinya jahat.” Keluh Jihee.

            Young Saeng memiringkan kepalanya, menengadahkan kepalanya ke atas. Jihee mengamati tingkah Young Saeng sambil menggerutu tidak jelas. “Aku pergi!” Ujar Jihee.

-Young Saeng POV-

Flashback

            “Narae, maukah kau menjadi yeojachinguku?”

            “Terserah.”

            “Apakah terserah berarti iya?”

            “Terserah kau menganggap seperti apa.”

End of Flashback

            Aku memijit-mijit dahi saat kenangan itu lagi-lagi datang. Saat seorang Lee Narae menerima cintaku setelah penolakan untuk yang kesekian kalinya. Harusnya aku sadar bahwa Narae sudah terlalu lelah untuk menanggapiku. Harusnya aku sadar, kata terserah yang Ia ucapkan adalah penolakan secara tidak langsung. Harusnya aku sadar dari dulu sebelum semuanya malah semakin merusak segalanya. Cintaku yang semakin besar, Narae yang tetap tidak bisa mencintaiku dan permintaan putus dari Narae. Aku sama sekali tidak bisa melakukan perlawanan. Aku hanya bisa pasrah. Aku pikir dengan aku melepaskannya maka aku tetap akan bahagia asalkan Ia bersama laki-laki yang dicintainya. Tapi nyatanya, sampai sekarang bayang-bayang Narae yang telah resmi menjadi istri Park Jung Min tetap menghantuiku. Karena Rasa itu masih ada.

            Diantara semua mantanku hanya Narae yang menerima pernyataan cintaku. Aku tidak pernah meminta untuk memulai suatu hubungan dan juga tidak pernah meminta untuk mengakhiri suatu hubungan. Gadis-gadis itu yang datang padaku. Dan aku hanya bisa menjawab terserah saat mereka memintaku untuk memulai dan mengakhirinya. Andai saja hatiku bisa sesederhana itu. Terserah dan mengiyakan segala keputusan. Tapi sampai saat ini hatiku tetap tidak mau menerima kenyataan bahwa Narae tidak pernah mencintaiku.

-END POV-

2 comments

  1. KwonLady · April 20, 2012

    ngengatung BGt.. ,

  2. rini mardiani · September 16, 2012

    Kenpa seperti ini ? ? ? Hoi hoi hoi ala gumiho kekekekeke aduh greget nie , , apakah ada lnjutan nya ? Aq harap ada ckckckcck

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s