Domus Aurea Romance [Part 7]

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : Don’t Touch My Girl – Boyfriend

==

Malam ini, sebelum besok ia menjadi salah satu staff pengajar di Domus Aurea. Donghae memaksa Seoyeon ikut dengannya kesuatu tempat. Seoyeon hanya mengeluh sambil sesekali melangkah dengan malas. Ia kesal dengan Donghae yang mengajaknya berkeliaran tidak jelas ditaman bermain sampai jam segini.
Sudah lebih dari empat jam mereka mengelilingi dan menaiki semua wahana yang ada.
“Kajja!! Ppali!!” teriak Donghae yang sudah beberapa langkah didepannya.

Seoyeon mengerucutkan bibirnya lalu mendelik kesal dan membalas teriakan Donghae dengan kesal sambil menghentakkan kakinya kuat – kuat.
“Aku capek!!!! Aku mau puulaaaangggg!!!”

Orang – orang disekeliling mereka menatap aneh kearah Donghae bahkan beberapa terang – terangan mendelik dengan curiga. Bagaimana bisa seorang namja membawa seorang yeoja yang amsih mengenakan seragam dan terlebih lagi yeoja itu berteriak minta pulang. Donghae langsung berlari dan membungkam mulut Seoyeon dengan telapak tangannya.
Seoyeon malah meronta – ronta minta dilepaskan mengingat Donghae tidak hanya menutup mulutnya, tapi hidungnya juga. Menyadari kalau wajah Seoyeon memerah, Donghae pun melepaskannya.

“Babo!! Aku bisa mati kalau kau menghentikan pernafasan ku seperti itu!!!!”
Setelah lepas dari Donghae, ia langsung memukul Donghae dengan tinju – tinju kecilnya yang tidak begitu sakit namun lumayan berasa di lengan dan dada bidangnya.
“Seo! Seo! Hentikan!”
“Oppa mau aku mati huh?!”
Seoyeon terus melancarkan pukulan demi pukulan. Hingga akhirnya Donghae mencengkeran kedua pergelangan tangan Seoyeon dengan satu tangan.
“Jangan main – main dengan ku, Seo. Atau kau akan mendapatkan hukuman. Arraseo?” bisik Donghae tajam dengan tatapan yang penuh dengan kemenangan.
Seoyeon balas menatapnya dengan tidak mau kalah sambil berusaha melepaskan kedua tangannya itu dengan susah payah karena tenaga Donghae snagat tidak sebanding dengan tenaganya.
“Apa? Memangnya oppa bisa apa terhadap ku huh?!” balasnya dengan kesal.
Donghae menyeringai dengan penuh kemenangan. Ia masih mengangkat kedua tangan Seoyeon diudara. Ia mendekatkan wajahnya, Seoyeon berusaha mundur namun langkahnya terkunci karena entah sejak kapan tangan Donghae yang satunya sudah melingkar dipinggangnya.
“Aniiii~~~” desisnya khawatir.

Donghae dengan susah payah menahan tawanya saat melihat yeojanya sudah memejamkan matanya dengan panik sambil membungkam mulutnya rapat – rapat. Wajahnya juga memerah. Terlintas ide iseng dipikirannya, ia melepas pelukkanya pada Seoyeon secara perlahan lalu mengambil ponselnya dan…

*ckrek!*

“HuahHaaaa….”
Mendengar tawa Donghae yang menggelegar dan ia sudah terlepas dari ancaman Donghae, Seoyeon langsung membuka matanya dan mengatur nafasnya yang tadi mulai tidak beraturan.
“Lihat ini Seo –a!! Kau seperti ingin buang air!! Hhaaa…”
Donghae menunjukkan foto itu secara singkat. Padahal yang terlihat adalah foto dengan kepanikkan namun Donghae memang sangat senang menggoda yeoja –nya itu.
“Andwaeeee!! Hapus itu!! ppali!!! Hapus!!!”
Seoyeon berusaha meraih ponsel Donghae yang diangkat tinggi – tinggi oleh si empunya. Dan lagi – lagi ia kalah, kali ini kalah tinggi lebih tepatnya. Donghae masih tertawa sepuasnya, baru kali ini ia bisa tertawa lepas seperti itu. Diam – diam ada perasaan lega menelusup didalam hatinya. Ia terus memperhatikan Seoyeon yang sibuk melompat – lompat, berusaha untuk meraih tangan kanannya.

“ARGH!”
Tiba – tiba saja Seoyeon jatuh ke aspal dan meringis kesakitan. Donghae langsung mengantongi HPnya dan jongkok dihadapan Seoyeon.
“Waeyo?”
“Pergelangan kaki ku…” rintih Seoyeon sambil berusaha menahan air matanya.
Donghae menatap pergelangan kaki Seoyeon, “Yang mana?”
“Kanan. Jangan sentuh!!” teriak Seoyeon panik.
Namun tampaknya Donghae tidak peduli. Ia malah meraih pergelangan kaki kanan Seoyeon dan menekanya dengan kuat.
“ANDWAEEE!! APPOOO!!” teriak Seoyeon histeris.
Beberapa orang menoleh lalu mengangguk wajar saat melihat kalau Donghae memegang pergelangan kaki yeoja itu, bisa ditebak kalau ia terkilir.
“Ssssttt!! Jangan teriak – teriak donk!”
“Bodoh! Oppa itu sakit!!!”
Seoyeon sudah tidak ada tenaga lagi buat melancarkan aksi pukulan terhadap Donghae. Ia kini menangis tanpa suara, karena rasanya sangat sakit sekali. Apalagi setelah ditekan secara tidak keprimanusiaan tadi.
“Ah! Bagaimana kalau aku yang obati disana?”
Donghae menunjuk salah satu bangku panjang taman yang kosong. Membayangkan Donghae melakukan hal seperti tadi membuat Soeyeon menggeleng dengan penuh semangat.
“Tidak usah! Terimakasih!”
Seoyeon berusaha bangun dengan susah payah. Donghae menatapnya dengan penuh rasa khawatir. Yeoja itu berhasil berdiri namun kini pergelangan kakinya malah dua sampai tiga kali lipat lebih sakit. Ia langsung kembali roboh namun ia sempat memegang pundak Donghae yang masih jongkok itu.
Mau tidak mau Seoyeon terisak pelan didepan Donghae. Namja itu semakin khawatir. Ia membantu Seoyeon berdiri, yeoja itu pun berusaha berdiri sambil mencengkeram tangan Donghae dengan kuat. Ia sendiri yakin kalau kini tangan namja –nya itu sudah memerah.
“Bisa jalan?”
“Molla~”
Donghae pun pelan – pelan melepaskan cengkraman Seoyeon ditangannya, dna benar saja. kini tangannya sangat merah. Seoyeon bingung namun ia masih berusaha berdiri dengan benar. Ia takut kalau Donghae meninggalkannya dalam keadaan begitu.
Donghae langsung berjongkok dihadapan Seoyeon. Yeoja itu memandangi punggung nama –nya dengan heran.
“Naiklah! Kau tidak bisa jalan kan?”
“Hajiman…”
“Kau mau ku tinggal disini?”
Mengingat saat ini dia tidak bisa apa-apa jadi ia tidak mungkin mau ditinggal sendirian ditaman bermain seluas ini. Ia sudah berpegangan pada bahu Donghae namun ia kembali ragu.
“Kenapa lagi?”
“Aku kan pakai seragam dan seragam itu…”
“Rok? Sudahlaahhh~ lagipula aku tidak berminat dengan yeoja kecil seperti mu” sahut Donghae jutek yang berhasil mendapatkan hadiah jitakkan cukup kuat dari Seoyeon.
“Awas kau ya! Setelah aku sembuh nanti, jangan pernah datang menemui ku!!”
Donghae lansgung menoleh dengan shock, karena maksudnya tadikan hanya bercanda kenapa jadi serius begini. Namun yang ia jumpai malah wajah kesakitan Seoyeon dan tangan kanannya memegangi lututnya sendiri.
“Seoyeon –a, cepatlah! Aku tidak suka melihat wajah kesakitan mu itu. itu benar – benar sangat jelek!” lanjut Donghae masih dengan tidak berkeprikemanusiaan.
“Sudahlah! Aku jalan sendiri saja!!” putus Seoyeon pada akhirnya.
Namun saat ia mencoba berbalik, rasa sakit dipergelangan kakinya semakin menguat. Donghae tersenyum kecil, pasti sebentar lagi yeoja –nya itu akan menyerah. Seoyeon menatap punggung Donghae lalu menghela nafas berat sekaligus pasrah. Ia pun akhirnya meraih bahu Donghae. Namja itu tersenyum, ia pun menggendong Seoyeon dipunggungnya.
Seoyeon memejamkan matanya karena ia malu. Donghae hanya tersenyum sambil berjalan dengan perlahan menuju sebuah ayunan terdekat.

Semilir angin meniup rambut panjang yeoja itu dengan lembut. Donghae bisa mencium wangi sakura jepang dari parfume yang biasa dikenakan Seoyeon. Ia tersenyum lalu mulai berbicara pelan namun bisa didengar Seoyeon dengan sangat baik.
“Kau pernah dengar dongeng – dongeng putri zaman dahulu? Ada sebuah kisah yang sangat mirip dengan kita saat ini. Seorang pangeran membantu putrinya yang terkilir. Bukankah itu sangat indah dan romantis?”

Seoyeon mendengarkannya dengan seksama, ia menyandarkan kepalanya dibahu Donghae. Ia membuka matanya dengan perlahan lalu berfikir sejenak.
“Oppa mungkin seorang pangeran, namun sayangnya aku bukan seorang putri”

Mereka pun sampai, Donghae menurunkan Seoyeon dari gendongannya dan meminta Seoyeon duduk diatas ayunan tunggal itu. Ia berjongkok dihadapan yeoja –nya itu, tersenyum sambil merapikan anak rambut Seoyeon yang membelai lembut wajah yeoja itu.
“Bagaimana kalau aku bilang kalau kau adalah seorang putri. Seorang putri hanya untuk ku?”

Seoyeon hanya diam namun tatapannya tetap melekat pada wajah tampan namja dihadapannya itu. Donghae masih mengulas senyuman manisnya. Dengan perlahan ia terus mendekati wajah Seoyeon. Sedangkan entah kenapa yeoja itu tidak mencoba menyingkir, ia memejamkan matanya saat ia bisa merasakan hembusan nafas namja tampan itu.
Dan ini untuk yang ketiga kalinya mereka berciuman dalam suasana yang mungkin lebih indah dari sebelum – sebelumnya. Mengingat biasanya Seoyeon selalu menghindar.

*Jeder! Jeder! (suara kembang api)*

Donghae melepaskan bibirnya dari bibir Seoyeon. Ia menengadahkan kepalanya menatap langit malam itu. langit hitam yang kini dihiasi banyak taburan percikan dari kembang api yang berwarna – warni.
“Seoyeon –a! Lihat itu!”
Donghae menunjuk kearah langit dengan penuh semangat. Ia masih berjongkok dihadapan Seoyeon namun kali ini pandangannya terarah ke langit. Begitu juga yeoja itu, ia tersenyum menatap langit indah malam itu.
“Aku senang bisa melihat hal indah ini bersama mu, Seoyeon –a?”
Donghae lagi – lagi memamerkan senyuman yang kali ini mengundang tangisan bahagia dari Seoyeon. Ia tersenyum namun air matanya tidak mau berhenti mengalir, hal ini membuat Donghae menggelengkan kepalanya lalu tersenyum merapikan rambut dan seragam Seoyeon layaknya seorang butler putri.
“Uljima…”
“Hiks… Oppa yang membuat ku menangis tiba – tiba…”
“Seoyeon, dengar kan aku baik – baik!”
Donghae mengusap kedua pipi Seoyeon dengan tangannya untuk menghapus air mata yeoja itu. Seoyeon menatapnya dengan bingung dan penuh tanda Tanya.

“Kalau suatu hari nanti terjadi hal yang tidak terduga, aku minta pada mu untuk selalu mempercayai ku. Sesulit apapun dan sepahit apapun nantinya, tetaplah sandarkan hati mu pada ku. Karena aku tidak akan pernah melepaskan mu, untuk selamanya”
Seoyeon menatap namja didepannya dengan penuh rasa bingung, namun ia memilih untuk tidak bertanya apa – apa karena tatapan mata Donghae berbeda dari biasanya. Lembut dan teduh. Ia memutuskan untuk mengangguk lalu tersenyum kecil.
“Aku akan selalu percaya pada oppa. Dan aku akan selalu mengingatnya!”
“Yaksok?”
“Ne!”
Mereka saling mengaitkan jari kelingking mereka lalu menempelkan dahi mereka dan saling bertukar senyuman sebelum akhirnya mereka tertawa riang.

***

Seoyeon pulang sambil mengendap – endap agar orangtuanya tidak tahu kalau ia pulang terlalu larut malam. Ia membuka pintu kamarnya pelan – pelan, Chunji tampaknya sudah tertidur pulas disana.
Seoyeon mengambil pakaian tidurnya lalu menutup pintu lemarinya dan masih berusaha agar tanpa suara. Namun tampaknya Chunji sudah bangun sejak tadi.
“Darimana saja, noona? Pulang selarut ini. Selalu menasehati kami dengan kata – kata bijak, tapi tindakan noona jauh dari kata bijak”

Seoyeon langsung menoleh dengan kilat. Ia tersenyum canggung.
“Kau bilang apa pada appa dan eomma ku?”
“Aku bilang kau tidur di asrama sekolah. Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?” balas Chunji sengit.
Seoyeon mendekat lalu tersenyum singkat sambil mengusap kepala Chunji dengan lembut, lebih kepada seorang kakak terhadap adiknya. Namun tampaknya Chunji sangat tidak ngaman dengan hal ini, ia menahan pergelangan tangan Seoyeon.
“Jangan bersikap manis. Karena aku bukan adik mu” ucapnya datar.
Ia langsung melepaskan tangan Seoyeon dan kembali berbaring lalu membelakangi Seoyeon yang masih menatapnya dengan bingung.
“Kau kenapa?”
“Lupakan!”

Seoyeon mengangkat bahu lalu melangkahkan kakinya, mendekat kearah pintu keluar namun ia segera berhenti dan menoleh kearah Chunji yang masih memunggunginya.
“Ku rasa besok kau bisa kesekolah dan kembali kerumah mu. Orangtua mu pasti sangat cemas kan? Selamat istirahat!”

*cklek!*

Pintu itu tertutup. Chunji berbalik lalu menatap kearah pintu kemudian ia tersenyum miris.
“Cemas ya? Seandainya saja mereka bisa mencemaskan aku. Dasar yeoja menyebalkan!”
Ia pun memutuskan untuk memejamkan matanya. Dan membiarkan dirinya terbawa ke alam mimpi.

***

Suasana Domus Aurea High School hari ini masih sama seperti sebelum – sebelumnya. Tenang dan selalu rapi. chunji sudah lebih dulu berangkat dari pada Seoyeon dan ia sudah bergabung kembali dengan Youngmin dan Niel yang terus – terusan membombardirnya dengan berbagai macam pertanyaan.

Sedangkan Seoyeon sendiri masih sibuk diruang OSIS bersama dengan Key dan Kevin. Seperti biasa juga, ruangan itu selalu sibuk terkendali.

“Bagaimana?”
Kevin menatap Seoyeon sambil sedikit memiringkan kepalanya.
“Ku rasa mereka mulai menjelma jadi anak yang baik!” sahut Seoyeon dengan bangganya.
Kevin ikutan tersenyum bahagia dan menghadiahi Seoyeon sebuah pelukan persahabatan. Berbeda dengan Key yang memang selalu serius itu.
“Kau tidak lelah, sunbaenim?” Tanya Seoyeon sambil memperhatikan grafik anggaran keuangan yang sedang dirancang oleh Key.
“Tumben seskali memanggil ku sunbaenim? Tapi rasanya aku keberatan, karena aku jadi terdengar lebih tua dari pada yang seharusnya”
Mau tidak mau Kevin dan Seoyeon langsung tertawa melihat ekspresi dan mendengar ucapan Key barusan. Lalu semuanya tiba – tiba saja terdiam saat sebuah email masuk yang langsung dibaca Key dan Key memberikan instruksi pada mereka berdua untuk diam.

“Ada apa?” Tanya Kevin dengan heran.
Key memandangi Seoyeon dan Kevin bergantian, “Donghae hyung… kembali!”

“MWO?!”
Keduanya langsung shock tanpa bertanya dulu. Dengan segera Key menghadiahkan keduanya pukulan dari beberapa lembar kertas terdekat yang ia gulung – gulung. Keduanya langsung memilih diam.
“Kalau orang sedang bicara, dengarkan sampai tuntas! Arraseo?”
Kevin dan Seoyeon mengangguk sambil membungkam mulut mereka masing – masing.
“Hyung akan menjadi staff pengajar di Domus Aurea High School dan aku berharap kalau Eunhyuk hyung tidak ikut serta”

“Kata siapa?”

Sebuah suara yang bukan dari mereka bertiga muncul begitu saja. dan ketiganya langsung terkejut saat melihat siapa yang sudah bersandar dengan manisnya dipintu masuk itu.
Seorang Lee Hyunjae.
Ia langsung masuk tanpa dipersilahkan dan meraih ketiga dongsaengnya itu kedalam satu pelukan hangat.
“Aku sangat merindukan kalian bertiga. Hhee… Selamat bergabung kembali~” ucapnya dengan riang sambil membagikan bunga berwarna merah yang entah ia dapat dari mana. Ketiganya hanya menerima bunga itu sambil menyunggingkan senyum yang berbeda.
Seoyeon dengan senyuman mirisnya, Kevin dengan senyuman bahagianya sedangkan Key dengan senyuman kesalnya.

***

Minho langsung menemui Donghae diruangannya ketika ia mendengar kalau Donghae masuk menjadi salah satu staff pengajar disekolah itu. ia membuka pintu ruangan Donghae dengan kasar dan orang yang ditujunya sedang menatap kearah laptop.
Mendengar pintunya dibuka secara kasar membuat Donghae mendongakkan wajahnya kemudian melukiskan senyuman singkat.

“Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Minho bahkan sebelum Donghae menyambut kedatangannya. Ia mendekati Donghae dan meletakkan kedua telapak tangannya diatas meja Donghae. Donghae langsung mengalihkan perhatiannya dari laptop itu dan menatap kearah Minho dengan sedikit kesal.
“Memangnya kenapa? Ini sekolah milik ku kan?”
Minho langsung memberikan senyuman mencibir, “Bilang saja kau takut aku akan bilang tentang semua kenyataan ini kepada Seoyeon!”

Donghae mendelik sejenak lalu berdiri dan menatap Minho dengan tatapan member peringatan dan kali ini ekspresinya benar – benar dingin sekilgus serius.
“Hentikan itu! atau aku tidak akan pernah membiarkan mu hidup dengan tenang!”

Minho tampaknya tidak begitu tertarik dengan ancaman Donghae. Ia malah balik menatap Donghae dengan tegas.
“Menyerahlah, percuma saja kau melakukan hal itu karena aku akan tetap dalam pendirian ku. Aku tidak peduli sejauh apapun kau berusaha untuk menghalangi ku”

Usai bciara seperti itu, Minho langsung keluar meninggalkan Donghae dengan emosinya yang meluap – luap. Namja itu membenturkan tinjunya ke tembok. Sedangkan diluar sana Minho berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau ia berhak atas semua ini.

***

Washington DC

Terlihat ada dua namja dengan usia yang masih muda tengah bermain game didepan layar sebesar 42 inchi.

*Drrt drrtt*

Getaran panjang, tanda telepon masuk itu begitu terasa disaku salah satu dari namja itu. ia menatap layar sentuh hpnya itu lalu tersenyum singkat sebelum mengangkat teleponnya.

“Eomma. Waeyo?” sapanya tanpa lebih dulu berbasa – basi.
Sesekali ia mengangguk lalu mengukir senyuman singkat. Beberapa saat kemudian jaringan telepon itu terputus. Ia menoleh kearah namja yang satunya dan tak lain adalah adik kandungnya sendiri.
“Sungjong –a, besok kita akan melakukan penerbangan ke Los Angeles. Mengambil beberapa barang keperluan sebentar lalu melanjutkan perjalanan ke Tokyo mengambil barang – barang kita yang tersisa. Baru kita akan pergi mengunjungi hyung”

Namja cantik bernama Lee Sungjong itu mengangguk singkat lalu kembali menatap kearah kakaknya dengan bingung karena bisa terlihat dari matanya yang ia kerjapkan beberapa kali.
“Yeol hyung! Memangnya hyung ada dimana?”
“Seoul, Korea”
Sungjong mengangguk lagi, kali ini sebagai tanda mengerti.

Sedangkan namja yang dipanggil Yeol itu memiliki nama panjang Lee Sungyeol malah menyibak tirai kamar apartemen mereka yang terletak dilantai 15.
“Hyung, kami datang untuk mengunjungi mu” bisiknya pelan.

TBC

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s