[Part 9] Domus Aurea Romance

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : Flavour of Life – Utada Hikaru

==

Seoyeon menatap namja dihadapannya itu dengan tidak percaya. Sedangkan namja itu tersenyum dengan sangat manis. Ia menunduk lalu mengecup ujung kepala Seoyeon dengan penuh rasa kasih sayang.
“Lama tidak berjumpa dengan mu, Seoyeon –a atau lebih tepatnya My Little Princess”
Seoyeon mengembangkan senyumannya lalu memeluk oppa kandungnya itu, Kim Kibum. Selama ini ia belajar di Amerika sana dengan beasiswa tentunya, namja itu punya impian untuk mengembalikan kehidupan keluarganya seperti dulu lagi.
Kim Jaejoong dan Jessica Jung, orangtua mereka, sebenarnya bukan dari kalangan orang biasa. Jessica Jung dikenal sebagai putri fashion dimasanya dulu dan Jaejoong sendiri adalah model terkenal. Setelah menikah, keduanya memutuskan untuk berhenti dari dunia hiburan dan membangun sebuah perusahaan fashion yang cukup ternama. Namun karena suatu masalah, kini perusahaan itu bangkrut bahkan mungkin sudah dilupakan oleh banyak orang.

Kibum merangkul saengnya menyusuri taman itu. Kemudian Seoyeon menyadari sesuatu dan ia menatap oppanya dengan tidak percaya.
“Bagaimana oppa bisa masuk?”
“Sekolah mana yang tidak mengizinkan seorang mahasiswa hasil beasiswa Hardvard untuk melakukan yang namanya riset?”
Seoyeon langsung memukul Kibum dengan gemas. Namja itu masih sama, masih sama narsisnya seperti dulu. Namun kenyataannya memang begitu, ia seorang namja yang cerdas dan selalu menjadi panutan Seoyeon.

“Seoyeon –a, aku ingin bicara dengan mu…”

Seoyeon dan Kibum langsung menatap lurus kedepan dan mendapati Donghae sudah berdiri didepan sana dengan kepalan tangannya. Seoyeon yang kebetulan masih kesal hanya balas menatapnya dengan marah.
“Oppa, kajja!”
Tangan kirinya menarik tangan Kibum namun tangan kanannya ditahan oleh Donghae yang lebih dulu meraihnya. Kibum memandangi keduanya dengan tidak mengerti.
“Lepaskan aku, Donghae oppa!”
Seoyeon berusaha melepaskannya namun ia malah menarik Seoyeon dengan kuat hingga pegangannya pada Kibum langsung terlepas. Merasa dongsaengnya diperlakukan dengan kasar Kibum langsung berusaha meraih dongsaengnya. Namun Donghae langsung menarik Seoyeon kebelakang tubuhnya dengan cepat.

“Kau!”
Kibum hendak melancarkan pukulan kewajah Donghae namun Seoyeon langsung berteriak untuk mencegahnya.
“ANDWAE OPPA! Dia… Dia namjachingu ku”
Seoyeon menatap Kibum, meminta pengertian. Donghae yang merasa terbela hanya tersenyum dengan penuh kemenangan.
“Kenapa kau malah dirangkul namja asing ini huh?!” kini Donghae beralih pada Seoyeon.

Mau tidak mau Kibum tersenyum kecil, ia mengerti kalau namjachingu dongsaengnya ini sedang dilanda cemburu dan kesalahpahaman. Maka Kibum memutuskan untuk sedikit bermain – main.
“Kenapa memangnya? Itu urusan ku dan dia kan? Kalau aku menyayanginya, kau mau apa?”
Seoyeon membelalakkan matanya lalu menjitak kepala Kibum dengan cukup kuat menggunakan tangannya yang bebas. Kibum lansung meringis kesakitan.
“Saeng~ kau bisa membuat ku bodoh tau!”
“Kau memang bodoh! Berhenti bersandiwara dengan sikap seperti itu. Aku jadi ngeri jangan – jangan kau ini menderita penyakit sister-complex!”

Kali ini gantian Donghae yang menatap keduanya dengan bingung.
“Dia Kim Kibum, oppa ku”
“Kim Kibum? Key?” Tanya Donghae tidak mengerti.
Kibum langsung mendelik kesal. “Jangan bilang ada namja lain yang namanya sama dengan ku. Aihh~~ aku sudah bilang dengan appa dan eomma untuk segera mengganti nama ku dengan yang lebih baik”
“Belajarlah bersyukur oppa, dari pada kau tidak punya nama!”
Seoyeon langsung menarik tangan Donghae untuk pergi meninggalkan Kibum. Kibum menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil lalu ia menelepon seseorang yang entah siapa.

***

Seoul International Hospital

Hari ini Minho bisa kembali keapartemennya, Onew membantunya untuk membereskan barang – barang Minho dirumah sakit. Sesekali ia memandangi dongsaengnya itu dengan mempertimbangkan sesuatu, bicara atau tidak. Dan rupanya Minho menyadari akan hal ini. Ia menepuk bahu Onew dengan pelan.
“Hyung? Apa ada yang ingin hyung katakan pada ku?”
Onew langsung mengambil nafas lega dan menatap Minho.
“Euhm… Begini sebenarnya aku tidak tega membiarkan mu sendirian lagu…”
Onew bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya namun pintu ruang rawat itu sudah terbuka dan seorang yeoja manis melangkahkan kakinya dengan riang sambil membawa sebuket bunga lili putih.
“Annyeong oppa!” sapanya sambil memamerkan senyum riang.

Minho terperangah lalu menatap Onew, meminta penjelasan. Bagaimana yeoja manis itu bisa ada diruang rawatnya saat ini. Onew hanya tersenyum salah tingkah sambil mengangguk pelan.
“Onew oppa meminta ku datang untuk menemani oppa. Kata Onew oppa, Minho oppa di Seoul sangat kesepian dan membutuhkan aku. Sebagai seorang dongsaeng yang baik hati maka aku datang jauh – jauh dan mengambil cuti dari sekolah ku di Paris” jelasnya panjang lebar.
Minho mendelik kearah Onew yang kini memasang wajah innocent. Akhirnya ia menyerah, toh ia tidak ingin dengan kasar mengusir adiknya, Choi Yeona yang sudah pasti akan menangis lalu lebih berbahaya lagi kalau sampai menelepon orangtua mereka. Bisa – bisa ia akan dikembalikan ke sekolahnya yang dulu, di New York.
“Oklah! Kalau begitu bantu aku!” pinta Minho.
Onew bernafas lega lalu ia dan Yeona membantu Minho mengemasi barang – barangnya.

***

Seoyeon menarik Donghae tanpa sadar. Ia sebenarnya masih marah dengan namja itu hanya saja ia benar – benar tidak menyadari kalau tangan kanannya sibuk menarik namja itu. sedangkan Donghae yang merasa sudah dimaafkan hanya tersenyum sambil mengikuti tarikan Seoyeon.
Yeoja itu berhenti lalu menghela nafas kesal dan kembali mengeluh.
“Siapa yang menyuruh Kibum oppa pulang? Appa? Eomma? Aishh… Jinjja~ Kedatangannya hanya akan membuat kepala ku pusing!! Eotteoke?”
Seoyeon menghela nafas kesal, ia sudah melepaskan tangan Donghae sejak tadi.

Seoyeon berbalik lalu terkejut ketika ia mendapati Donghae sudah berdiri dibelakangnya.
“Mwoya?! Waeyo? Kau mengikuti ku huh?!” tuduhnya dengan kesal.
Sekarang Donghae menatapnya dengan bingung, “Kan kau yang menarik ku”
“Heh? Aku?”
Seoyeon menunjuk dirinya sendiri, Donghae mengangguk pelan masih dalam ekspresi kebingungan. Yeoja itu menghela nafas lagi untuk kesekian kalinya. Ia langsung memutuskan untuk duduk di hamparan rerumputan itu.

Donghae akhirnya menyadari kalau Seoyeon tidak sengaja menariknya. Ia ikut duduk disamping Seoyeon lalu menatap yeoja itu dengan ragu.
“Kau masih marah dengan ku?”
Seoyeon melirik sekilas tanpa mengeluarkan suara lalu kembali membuang pandangannya. Kali ini ia memandangi jarinya yang sedang sibuk memilin – milin rumput disana. Donghae menatap yeoja itu dengan bingung.
“Seoyeon –a, aku….”

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!”

Tiba – tiba saja Seoyeon berteriak histeris dan membuat Donghae terkejut. Seoyeon langsung menoleh kearah Donghae dan memeluknya sambil masih berteriak ketakutan. Seoyeon terus mengguncang – guncangkan tubuh namja itu.
“Singkirkan diaaa!!!!” teriak Seoyeon berkali – kali.
Donghae merasa sakit dipundaknya, karena Seoyeon tidak mau berhenti dan bersikap tenang.
“Tenang Seoyeon –a! ok?”

Seoyeon memeluk Donghae dengan erat sambil memejamkan matanya. Donghae menatap kesekeliling yeoja itu dan ia menjumpai seekor serangga seperti kumbang.
“Kumbang?” tanyanya heran.
“Singkirkan dia!! Aku tidak mau melihatnyaa!!” ucap Seoyeon panik.

Kemudian Donghae menyadari sesuatu dan tersenyum kecil.
“Kau takut serangga?”
“Aniyo! Aku hanya tidak menyukainya!” bantah Seoyeon dengan masih memejamkan matanya dan memeluk Donghae.
Donghae mendapatkan ide baru.
“Oh… Kau tahu tidak sekarang serangga itu ada dimana?”
“Ani”
“Di punggung seragam mu!” ucap Donghae dengan nada dramatis.

“ANDWAAEEEE!!”

*bruk!*

Kali ini Seoyeon dua kali lipat lebih histeris dari sebelumnya. Ia benar – benar menabrak tubuh Donghae, berusaha mencari perlindungan. Ia memejamkan matanya serapat mungkin. Kali ini Donghae diam – diam menyesal dalam hati karena punggungnya terasa sakit menghantam tanah karena dorongan Seoyeon. Ia meringis pelan lalu berusaha membuka matanya. Seoyeon masih memeluknya dan kini ada diatas tubuhnya, namun ia merasakan ada yang aneh disana. Tangan yeoja itu gemetar, Donghae mencoba meraih tangan yeoja itu dan ternyata Seoyeon juga mengeluarkan keringat dingin.
“Seoyeon –a?”
Donghae mencoba memanggilnya namun Seoyeon sama sekali tidak bergeming. Donghae menghela nafas pelan.
“Aku sudah mengusirnya”
“Jinjja?” tanya Seoyeon dengan nada yang bergetar.
“Ne”

Seoyeon membuka matanya dengan perlahan. Ia terkejut saat menyadari kalau ia menindih tubuh Donghae. Ia langsung menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya yang menapak direrumputan dan keduanya berada persis didekat telinga Donghae. Mereka saling berpandangan untuk beberapa saat.
Baru kali ini Seoyeon benar – benar memperhatikan wajah namja itu. Begitu tegas, tampan dan menawan. Mata yang dimiliikinya begitu teduh dan menenangkan. Donghae masih diam, ia membiarkan Seoyeon terus begitu. Ia ingin melihat apa yang akan dilakukan Seoyeon selanjutnya.
Mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lainnya. Lalu semilir angin sejuk pun ikut membelai mereka dengan lembut. Donghae pun masih diam saja. Seoyeon memejamkan matanya dengan perlahan, kepalanya bergerak turun dan disambut hangat dengan Donghae yang melingkarkan tangannya dipinggang yeoja itu.
Seoyeon mencium bibir Donghae sekilas, ia bisa merasakan kalau wajahnya memerah. Ia langsung kembali membenamkan kepalanya dibahu kanan Donghae. Namja itu tersenyum kecil sambil menutup matanya.

Chunji yang kebetulan hendak kembali keasrama untuk mengambil buku tugasnya yang tertinggal itu masih berdiri mematung tidak jauh dari sana. Ia bisa melihat dengan jelas kalau Donghae berbaring direrumputan dan melingkarkan tangannya ditubuh Seoyeon yang berbaring diatasnya usai berciuman tadi.
Ia menagtupkan bibirnya rapat – rapat sambil mengepalkan tangannya. Namun tidak ada tatapan kemarahan disana, yang ada hanyalah sebuah kepedihan. Ia menarik nafas sejenak lalu menatap langit biru diatas sana. Kemudian ia memalingkan wajahnya dan segera pergi dari tempat itu.

***

Bandara, Seoul

Hari ini Sungyeol dan Sungjong mendarat di Korea. Keduanya tampak berpenampilan sangat stylist, mereka sudah mengabarkan keluarganya di sana untuk menjemputnya. Keduanya tampak sibuk mencari – cari sang penjemput. Beberapa wartawan sibuk mengambil gambar mereka bahkan beberapa fans ada yang meminta mereka untuk berfoto bersama.
Namun mereka menolaknya dengan lembut dan sopan.

“Hei! Kenapa kalian ke Seoul?”

Mereka berdua menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang berbicara. Eunhyuk sudah berdiri disana dengan pakaian yang tidak kalah modisnya sambil memakai kacamata. Ia kemudian melepaskan kacamata dan memandang keduanya dengan serius.
“Hyung!”
Sungjong langsung menghampirinya dengan senang sedangkan Sungyeol menyusul dibelakangnya.
“Kajja!”
Eunhyuk memberikan kode dengan matanya dan mengajak keduanya untuk segera berjalan mencapai mobilnya yang sudah terparkir didepan sana.

Key dan Kevin masih sibuk didepan komputer mereka. Kevin tampaknya menemukan sesuatu, ia langsung menarik Key untuk melihat kelayar laptopnya. Ada sebuah judul tercetak tebal disana.

Pemilik Domus Aurea Company Meminta Kedua Putra Angkatnya Untuk Mengawasi Sang Pewaris Tunggal?

Key langsung duduk lemas dikursinya. Ia semakin yakin kalau sebentar lagi akan ada masalah besar dalam keluarga besar Lee.
“Kita harus apa? Kalau mereka semua sampai melaporkan soal Seoyeon pada Lee ahjumma dan… Seoyeon –a…” Kevin tidak bisa menyelesaikan ucapannya.
Mereka semua tahu benar bagaimana kerasnya keluarga itu. Mereka mengenal Donghae, Eunhyuk dan keluarganya bukan satu atau dua tahun tapi sudah belasan tahun yang lalu ketika Domus Aurea Company menjaring anak – anak pengusaha kaya yang memiliki kemampuan lebih. Key dan Kevin termasuk didalamnya.
Sebenarnya tidak masalah bagi Donghae, Eunhyuk, Kevin dan Key untuk tidak mengikuti semua pelajaran disekolah ini karena memang perusahaan besar itu sudah memberikan mereka banyak pelajaran dan pengetahuan sejak mereka berusia 5 tahun dan dididik langsung oleh staff pengajar mahal yang sudah teruji kemampuannya. Namun seperti biasa, Key selalu berada diatas mereka dengan nilai sempurna.
Sebenarnya ada rahasia yang mereka berempat simpan selain masalah Seoyeon. Mereka begitu merasa kesepian karena pada dasarnya mereka dididik dengan baik untuk menjadi seorang penguasa. Kehidupan sosial mereka dibatasi dan mereka dituntut untuk selalu tampil sempurna. Itulah sebabnya mereka agak sulit berbaur dengan yang lain.
Namun Kevin dan Key selalu berusaha untuk berada ditengah kelas bersama pelajar yang lainnya. Sedangkan Donghae dan Eunhyuk selalu merasa tidak biasa akan hal itu. Namun sejak kedatangan Seoyeon semuanya berubah.
Dengan perlahan mereka bisa menempatkan diri mereka ditengah – tengah masyarakat dengan semestinya.
“Mungkin aku akan membawa Seoyeon pergi sejauh mungkin, tidak peduli mereka harus semarah apa pada ku nantinya. Dia sahabat pertama ku selain kalian. Dan dia yeoja pertama yang bisa memandang kita sebagai manusia normal”
Kevin menatap keluar jendela dengan penuh keyakinan. Baru kali ini Key melihat Kevin dengan wajah serius seperti itu. Ia tersenyum kecil lalu mengangguk.
“Kau benar. Hanya dia yang bisa menganggap kita manusia biasa, bukan orang yang perlu diagungkan dan disegani. Hanya dia yang tidak melihat ada jarak kedudukan harta diantara kita” ucap Key dengan jelas.

Keduanya saling bertukar senyum lalu menatap keluar jendela. Kearah langit biru yang terbentang luas diatas sana.

***

Sungyeol melirik kearah Eunhyuk yang mengemudikan mobilnya dengan serius. Dijok belakang, Sungjong sibuk mendengarkan iPhode’nya sambil menatap kelayar iPhode itu sesekali jari – jemarinya sibuk menyentuh touch screen.
“Hyung, dimana Donghae hyung?”
Eunhyuk melirik sekilas, “Dia sedang sibuk. Untuk apa kalian kesini?”

Sungyeol menyender pada jok mobil mahal itu kemudian tersenyum kecil.
“Eomma meminta kami untuk mengawasi Donghae hyung dan memberikannya laporan berkala. Dia ingin putra mahkotanya bertindak sempurna”
Sungjong menatap kearah kedua hyungnya dengan serius sambil melepaskan earphone putihnya, ia ingin menyimak pembicaraan mereka selanjutnya.
“Kenapa keluarga Lee selalu menuntut semuanya bahkan teman – teman penerusnya bertindak dengan sempurna, apa mereka pikir kami ini mainan?”
Eunhyuk menahan emosinya. Ia tahu kalau ini bukan salah kedua adik sepupunya itu. Donghae juga sudah memperingatkannya untuk tidak meluapkan kemarahan pada keduanya. Mereka hanya menuruti apa yang diminta orangtuanya.
“Aku tahu rasanya lelah. Dan kami juga ingin bebas hyung. Sejujurnya kami kesini bukan karena menuruti permintaan eomma saja. Kami merindukan kalian” jawab Sungyeol.
Sungjong pun mengangguk sambil tersenyum.
“Yup! Kami ingin belajar bebas dari Donghae hyung dan Hyuki hyung. Jadi jangan cemas. Kami bisa memberikan laporan palsu pada eomma sesuai dengan scenario yang hyung buat”

Eunhyuk menatap keduanya dengan sedikit terkejut. Sedangkan Sungyeol tersenyum bersama Sungjong yang memamerkan senyuman riangnya yang biasa. Mau tidak mau Eunhyuk pun ikut terseyum, paling tidak ia dan Donghae dalam keadaan aman saat ini.

TBC

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s