[Part 10] Domus Aurea Romance

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : I Knew It – BEAST/B2ST

==

Seoyeon memandangi dirinya di cermin kemudian menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia melirik jam tangannya, hari ini Park Hyoso sahabatnya di Paran High School akan kembali ke Seoul usai melaksakan pertukaran pelajar untuk satu tahun setengah di Singapore. Ia memutuskan untuk menjemputnya ke bandara.
Ia mematikan komputer di kamar asrama yang baru saja ia pakai itu. Ia berbalik lalu tersentak ketika ia mendapati Chunji sudah berdiri didepan pintu sana.
“Chunji –a, kau membuat ku terkejut!”
Seoyeon kesal. Ia mengambil sepatu ketsnya dirak sepatu dan sibuk memakainya.
“Noona, sudah berapa kali kau melakukannya?”
Pertanyaan aneh Chunji membuat Seoyeon mengangkat kepalanya. Ia kemudian menatapnya dengan heran, namun Chunji hanya menggeleng dan menghela nafasnya.

Seoyeon berdiri lalu ia hendak melangkah keluar pintu namun Chunji menahan tangannya.
“Apa lagi?” tanya Seoyeon sambil menatap Chunji dengan sedikit kesal. Sejujurnya ia masih marah karena ucapan Chunji yang tiba – tiba saja menanyakan hal yang menurutnya paling tidak mungkin. Karena seisi Domus Aurea High School tahu kalau ia sudah memiliki seorang namjachingu.
“Noona bisa jatuh kalau seperti itu!”
Chunji melirik kearah tali sepatu Seoyeon yang masih belum terikat dengan rapi. Namja itu langsung jongkok dan mengikatnya dengan simpul yang amat sangat rapi. Seoyeon menatapnya dengan bingung, sebenarnya ia tidak tega kalau harus marah pada hoobaenya itu namun rasanya untuk saat ini bukanlah masa yang tepat untuk bersikap manis padanya.

“Seoyeon noona~ ku dengar kau akan ke bandara kan? Mau ku antar?”
Youngmin datang dengan memakai kaos putih biru lengkap dengan syal yang melilit dilehernya dan celana jeans yang semakin menonjolkan kesan casual. Seoyeon langsung menoleh kedepan disana Youngmin sudah tersenyum dengan riang.
“Biarkan aku menjadi dongsaeng yang baik untuk mu, noona” lanjut Youngmin.
Tampaknya ia tidak menyadari kehadiran Chunji yang masih berjongkok disana. Setelah Chunji berdiri, Youngmin langsung menatapnya dengan sedikit terkejut.
“Chunji –a?”
Chunji menatap Seoyeon dan Youngmin bergantian. Sebelum Chunji berfikiran yang aneh – aneh, Seoyeon langsung melangkah melewatinya dan menghampiri Youngmin.
Seoyeon langsung menarik Youngmin pergi dari tempat itu meninggalkan Chunji yang hanya bisa berdiri mematung disana.

***

Sudah sejak tadi mereka berdua hanya diam tanpa berbicara satu patah kata pun. Mau tidak mau Youngmin yang saat ini mencoba mensejajari langkah Seoyeon meliriknya lalu menghela nafas dan mencoba untuk membuka pembicaraan.
“Noona, eumm… Kenapa kita tidak pergi bertiga dengan Chunji?”
Seoyeon sama sekali tidak menjawab.

“Seoyeon –a!!”

Suara panggilan seorang yeoja langsung membuat Seoyeon dan Youngmin menoleh. Park Hyoso, dengan mantel bulu, high heels melangkah sambil melepaskan kacamata hitamnya. Youngmin terperangah sejenak, kalau Seoyeon begitu manis dan terkesan mungil berbeda dengan Seoyeon yang terkesan dewasa dan cantik.
“Seoyeon –a~ Bogoshipeoyo~”
“Nado Hyoso –a~”
Keduanya berpelukan sambil tersenyum riang. Youngmin menatap keduanya sambil bingung mau berbuat apa. Hyoso melepaskan pelukannya lalu mengacak rambut Seoyeon dengan lembut.
“Masih sama seperti dulu ya? Tapi ku dengar kau sudah mempunyai namjachingu bukan?”
Seoyeon mengangguk pelan, tatapannya beralih pada Youngmin yang masih berdiri disampingnya.
“Perkenalkan, Jo Youngmin. Dongsaeng angkat ku disekolah”
“Park Hyoso imnida”
Keduanya berjabat tangan. Seoyeon tersenyum kecil melihat keduanya. Seoyeon menyenggol bahu kanan Youngmin dengan pelan dan dengan tatapan meledek. Ia yakin kalau dongsaeng barunya itu diam – diam mengagumi Hyoso.
“Jangan seperti itu Young!”
Youngmin langsung menunduk malu. Hyoso dan Seoyeon tersenyum kecil melihatnya. Mereka bertiga pun berjalan menuju parkiran mobil.

***

Mobil milik Youngmin berhenti didepan sebuah café yang terletak dipinggiran jalan Seoul. Ia baru saja menyampaikan pesan dari Chunji kalau namja itu ingin bertemu dengan Seoyeon dan Seoyeon menyetujuinya.
Ia turun sambil menggosokkan kedua telapak tangannya yang mulai mendingin. Ia melirik kekiri dan kanan, mencari sosok hoobaenya itu. Youngmin masih menyetop mobilnya disana.
“Noona? Hari cukup dingin apa aku antar noona pulang saja?” tanya Youngmin pada akhirnya.
Seoyeon menatapnya sekilas lalu menggeleng sambil menyunggingkan senyumannya. Kali ini ia mencoba meniup – niup tangannya berharap bisa menjadi hangat. Mengingat sebentar lagi akan memasuki musim dingin.

Seoyeon tersentak karena tiba – tiba saja ada seseorang dari belakang yang melilitkan syal tebal di lehernya. Youngmin tersenyum dari kursi kemudinya, kemudian ia memutuskan untuk berpamitan.
“Noona, Chunji –a, aku pulang ya. Chunji –a, jaga noona ku baik – baik. Ok?”

Seoyeon menoleh kebelakang dan mendapati Chunji sedang tersenyum kearah Youngmin. Chunji pun melambaikan tangannya kearah Youngmin. Mobil itu pun terus menjauh dari pandangan.
Chunji menatap Seoyeon dengan ragu. Ia menggigit bibir bawahnya sebagai tanda ia cemas untuk memulai pembicaraan sedangkan Seoyeon masih menatapnya. Menunggu sebenarnya apa yang ingin dibicarakan oleh hooba –nya itu.
Mereka berdua berdiri cukup lama sekitar 10 menit disana hanya saling mematung tanpa ada yang memulai pembicaraan. Seoyeon pun tersenyum kecil lalu menepuk bahu Chunji pelan.
“Waeyo? Kenapa kau sekaku itu? Tidak seperti biasanya”
Mau tidak mau Chunji pun tersenyum juga. Ia sejujurnya masih sedikit segan bertemu dengan Seoyeon karena kasus pernyataan tentang perasaannya waktu itu. Chunji memasukkan kedua telapak tangannya ke kantong.
“Eh… Tadi dengan Youngmin ke bandara?” tanya Chunji ragu dan kaku.
Seoyeon mengangguk lalu tersenyum kecil, “Menjemput chingu ku”
“Oh…”
Lagi – lagi hening untuk beberapa saat. Namun sedetik kemudian Chunji tampak panik dan langsung menarik Seoyeon kedalam gang sempit. Ia menyuruh Seoyeon merunduk, mereka bersembunyi dibalik bak sampah.
Terdengar suara derapan kaki yang semakin menjauh. Chunji mengintip kearah jalan raya sebentar lalu ia menarik Seoyeon untuk segera keluar dari gang sempit yang bau itu. seoyeon hanya terus mengikuti Chunji yang menariknya entah kemana.

“Aish!! Mwoya?!”
Tiba – tiba Chunji kelihatan panik. Ia langsung menarik Seoyeon kedalam bangunan terdekat. Beberapa orang yang tadi sepertinya mengikuti mereka itu pergi tanpa mengetahui kalau Chunji bersembunyi disebuah bangunan yang ternyata adalah tempat karaoke.

“Ada yang bisa kami bantu?”
Chunji langsung menoleh ketika mendengar ada seseorang dibelakang mereka. Seoyeon mengikuti apa yang Chunji lakukan masih dalam diam.
“Ehh…”
“Tidak ada salahnya kalau kita karaoke –an kan? Sudah terlanjur disini” ajak Seoyeon.
Chunji tampak mempertimbangkan sesaat kemudian ia mengangguk. Mereka pun memesan ruangan karaoke untuk dipakai selama 2 jam.
Seoyeon sudah menunggu didalam sedangkan Chunji masih mengurus pembayaran. Tiga kartu’nya telah diblokir. Dengan terpaksa ia mengeluarkan kartu tabungan pribadinya. Ia mengeluh kesal.
“Untuk apa mereka mengikuti ku terus sih? Mana kartu kredit dan ATM semua diblokir. Aishhh… Mereka ini!”
“Ada apa?”
Seoyeon sudah mematung dibelakangnya, menunggu hoobaenya itu masuk kedalam ruang karaoke. Ia memandangi Chunji dengan heran, namja itu hanya menunjukkan senyuman kakunya.
“Kajja!”

Dua jam telah berlalu, baik Chunji ataupun Seoyeon tampak bahagia. Mereka berdua tersenyum dan tertawa sejak tadi.
“Aku tidak tahu suara mu sebagus itu Chunji –a?”
Seoyeon menatap hoobaenya dengan masih mengukir senyum. Chunji menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia sedikit salah tingkah hari ini.
“Sudahlah~ belajar sana!”
Seoyeon jadi ingat kalau besok masih hari masuk sekolah. Chunji mengangguk ragu lalu kembali menatap Seoyeon.
“Eh… Noona memaafkan ku?”
“Eh?”
Seoyeon berfikir sebentar, ia menimbang – nimbang kasus apa kali ini. Namun ia teringat kembali soal masalah pernyataan waktu itu. seoyeon tersenyum lalu mengangguk. Akhirnya Chunji menatap Seoyeon sejenak kemudian kembali tersenyum.
Chunji pun menyetop bus dan masuk kedalamnya. Seoyeon menatap namja itu dengan heran sambil bergumam pelan, “Sejak kapan Chunji naik kendaraan umum?”

Sedangkan didalam bis Chunji baru saja ingat kalau ia tidak mengetahui rute bus.
“Astaga! Ini gara – gara eomma menyita semuanya!” desisnya kesal.

***

Seoyeon kembali ke asramanya sambil mengembangkan senyumannya. Jujur saja, ia memang butuh waktu refreshing seperti tadi. Ia bersenandung kecil, lalu langkahnya terhenti sejenak saat melihat Minho sudah berdiri didepan pintu kamar asramanya.
“Minho –a?”
Namja itu menoleh lalu tersenyum senang saat melihat Seoyeon berdiri disana. Wajahnya tampak pucat dan ini membuat Seoyeon sedikit khawatir. Ia langsung mengambil langkah cepat untuk menghampiri namja itu.
“Minho –a, kau sakit?”
Seoyeon langsung bertanya begitu ia berhadapan dengan Minho. Namja tampan itu hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.
“Aku hanya sedikit lelah. Aku ingin bicara dengan mu ditaman depan asrama”
Seoyeon pun mengangguk pelan. Mereka berdua berjalan beriringan menuju taman depan. Sesekali Seoyeon melirik kearah Minho, takut sewaktu – waktu namja itu tumbang begitu saja dihadapannya.
“Kau terpesona dengan ku huh?” ledek Minho karena ia merasa Seoyeon mencuri – curi pandang kearahnya sejak tadi.
“’Tidak. Aku hanya takut kau pingsan”
Minho tersenyum kecil mendengar ada nada kekhawatiran disana. Mereka pun duduk dibangku panjang taman sambil sesekali menghela nafas. Keduanya menatap kelangit.

“Seoyeon –a, apa kau sekarang bahagia?”
“Ne. waeyo?”
“Apa dulu kau pernah menyukai ku?”

Pertanyaan Minho membuat Seoyeon menoleh dengan cepat. Diam – diam ia mengakui bahwa dulu ia memang menyukai seorang Choi Minho. Namun sejak namja itu memutuskan keluar negeri meski Seoyeon mencoba untuk menunggunya kenyataannya sekarang berbeda. Ia sudah memiliki orang yang mencintainya dan menjaganya dengan tulus. Ia menghargai semua itu dan ia tidak ingin menyakiti orang itu hanya karena cinta masalalunya.

“Kenapa bertanya hal semacam itu?”
“Bagaimana kalau aku jawab kalau aku juga menyukai mu sejak dulu dan aku ingin memulainya bersama mu?”

Minho mengalihkan perhatiannya dari langit, kini kedua mata bulatnya menatap Seoyeon yang duduk disampingnya dan juga sedang menatapnya dengan sedikit terkejut. Yeoja itu mematung dan menatap Minho dengan tidak percaya sedangkan namja itu hanya tersenyum dengan tatapan lembutnya.

***

Karena kedatangan Sungyeol dan Sungjong, akhirnya Donghae, Eunhyuk, Key dan Kevin kembali ketempat tinggal mereka yang lama. Sebuah rumah yang terbilang cukup mewah. Diatas pintu masuk rumah itu terdapat sebuah lambang yang hampir menyerupai permata. Itu adalah lambang keluarga besar Lee pemilik dari Domus Aurea.
Keenamnya duduk diruang tengah. Donghae menatap kedua dongsaeng angkatnya itu dengan tatapan menyelidik.
“Untuk apa kalian kesini?”
“Memenuhi permintaan eomma untuk mengawasi segala bentuk kegiatan hyung” jawab Sungyeol dengan tenang. Disampingnya, duduk Sungjong yang seperti biasa sibuk dengan iPhodenya. Key dan Kevin menatap keduanya dengan tidak suka sekaligus khawatir.

Melihat suasana jadi tegang, Sungjong langsung melepas earphonenya dan membuka benda semacam laptop yang sangat kecil yang bisa diperkirakan mungkin hanya berukuran 10 inchi.
“Kami sudah menyelidiki semuanya. Hyung sedang menjalin hubungan dengan seorang yeoja dari kalangan biasa dan dia merupakan hoobae dua tahun dibawah hyung di sekolah kita. Dia juga merupakan siswi pertama sekaligus satu – satunya pelajar yeoja di Domus Aurea tahun lalu. Saat ini ia menjabat sebagai salah satu staff OSIS. Bagaimana? Apa ada informasi yang salah?”
Keempat namja itu terperangah mendengar laporan Sungjong barusan. Mereka tidak menyangka kalau keduanys sudah menyelidiki sampai sejauh ini.
“Aku mohon kalian…” Kevin begitu panik.
Namun Sungyeol memotong ucapannya, “Kami akan merahasiakan semua ini dari eomma, tapi tidak tahu akan bertahan sampai kapan”
“Hyung, sebaiknya kita melindunginya” tambah Sungjong.

Eunhyuk mengernyitkan dahinya, “Memangnya ada apa?”
“Eomma akan segera mengumumkan siapa pewaris Domus Aurea selanjutnya dan tentu saja itu adalah hal menarik untuk media pers. Dan eomma mungkin sewaktu – waktu akan datang untuk mengunjungi hyung secara langsung” jelas Sungjong dengan cukup cepat.
Key dan Kevin saling bertukar pandang dengan penuh kekhawatiran.
“Aku akan melakukan apapun untuk melindunginya” ucap Donghae dengan penuh keyakinan. Sedangkan yang lain kini mulai khawatir masalah baru akan dimulai.

***

“Habis dari mana saja kau?”

Chunji langsung menoleh begitu mendengar suara yang begitu familiar ditelinganya. Kwon Yuri, seorang yeoja cantik yang merupakan eomma dari Chunji. Chunji menatap eommanya dengan sedikit kesal.
“Aku habis dari rumah Youngmin bersama dengan Niel”
“Jangan berbohong!”
“Aku tidak bohong eomma. Kenapa eomma juga memblokir semua keuangan ku? Menyita mobil ku? Aku sampai harus naik bis umum dan nyaris nyasar pula” keluh Chunji dengan masih berusaha menutupi kecurigaan eommanya.
“Eomma bilang, jangan berbohong Chunji –a!”
Chunji menarik nafas dalam mendengar ada nada tekanan dalam kalimat eommanya tadi.
“Jangan bilang kalau eomma yang menyuruh ahjussi – ahjussi itu mengikuti ku seharian ini!”
“Karena eomma peduli pada mu dan ingin mengawasi mu, Chunji –a”
Ia mendekati putranya yang kini masih berdiri didepan pintu masuk tanpa bergeming. Sebenarnya ia lebih memilih melepaskan segala macam bentuk embel – embel keluarga besar Lee yang selalu menuntut seluruh anggota keluarganya tampil dengan sangat sempurna.
“Eomma, berhentilah untuk berpura – pura mengkhawatirkan dan peduli pada ku. Eomma sama saja dengan pria itu! Dia berpura –pura peduli pada eomma lalu malah mencampakkan eomma setelah ia berjanji pada eomma untuk menikahi eomma dan menceraikan istrinya yang cantik itu! Lalu apa sekarang? Eomma malah dijodohkan dengan keluarga laki – laki itu untuk menutupi semua aib besar keluarga Lee!”

*plak!*

Yuri menampar Chunji dengan cukup keras. Matanya mulai berkaca – kaca dan ia dengan susah payah untuk tidak menangis dihadapan putra tunggalnya itu.Ia kembali ingat semua kilas balik masa lalunya.
“Jangan bicarakan hal itu lagi, Lee Chan Hee” ucapnya pelan disela – sela isak tangisnya.

Chunji menatap eommanya dengan tatapan nanar. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk mengucapkan semua itu seperti ini, hanya saja ia sudah tidak bisa menahan semuanya lagi. Sudah cukup keluarga besar itu menyingkirkan ia dan eommanya dengan perlahan.
“Eomma, aku hanya butuh pengakuan dari appa ku sendiri” bisik Chunji lemah.
Mendengar hal itu, Yuri langsung berbalik pergi kedalam rumahnya dan meninggalkan Chunji yang masih mematung didepan pintu masuk dengan tatapan penuh kepedihan.

TBC

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s