[Part 12] Domus Aurea Romance

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : Blue – Big Bang
==

Donghae mengantar Seoyeon sampai didepan asrama Domus Aurea High School sejak tadi keduanya hanya diam tanpa bicara sedikit pun. Donghae menatap lurus kedepan seolah tidak ingin melihat Seoyeon, sedangkan yeoja itu menoleh dengan kaku.
“Ehm… Oppa…”
Donghae masih tidak menolah. Seoyeon tersenyum getir lalu membuka pintu mobil mewah itu dan menarik nafas dalam. Ia menganggukan kepalanya entah untuk apa. Sementara itu mobil Donghae langsung melesat pergi dengan cepat.

Seoyeon menatap tempat awal mobil itu berhenti dengan nanar. Ia masih mematung disana ia mengukir senyuman getir dan kaku dibibirnya. Ia pun berbalik dan mendapati Chunji sudah berdiri mematung disana.
“Kau? Kenapa jam segini belum tidur?” tanya Seoyeon sambil berjalan menghampiri Chunji dan menepuk bahunya pelan. Chunji menghela nafas berat dan menimbulkan sedikit asap karena udara diluar cukup dingin.
‘Seharusnya aku yang bertanya, kenapa masih diluar bersama… Donghae sunbaenim?”
Seoyeon tersenyum lalu mencubit kedua pipi Chunji dengan gemas, sedangkan Chunji berusaha melepaskan kedua tangan Seoyeon dari pipinya.
“Jangan bodoh! Kau lupa, dia itu… dia itu… namjachingu ku…”
Tatapan Seoyeon kembali sendu. Ia lepas Chunji lalu melangkah pergi dengan perlahan. Sedangkan Chunji hanya diam disana sambil menatap ke arah ujung jalan.

Seoyeon terus menaiki tangga dengan langkah yang amat sangat pelan. Ia masih terkejut karena kejadian tadi adalah pertamakalinya seorang Donghae bicara dengan nada semarah itu padanya. Ia pun duduk dengan perlahan di anak tangga lalu menekuk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya dalam lipatan tangannya diatas lutut.
Bahunya bergerak naik – turun seirama dengan isak tangisnya yang seperti bisikan. Tiba – tiba saja punggungnya terasa hangat, Seoyeon menoleh dan mendapati Minho sudah duduk disampingnya sambil mengukir senyuman tenang penuh karisma.
“Masih memakai seragam dimalam selarut ini huh?” tanya Minho dengan nada marah yang dibuat – buat, mau tidak mau akhirnya Seoyeon tersenyum dengan matanya yang sedikit merah.
“Minho –a~ kau ini selalu berbuat yang aneh – aneh saja!”

Minho meraih kepala Seoyeon lalu menyandarkannya pada bahu kanan dan menyelimuti tubuh depan mereka dengan mantel tebal Minho yang cukup lebar.
“Aku tahu kalau kau tidak ingin kemana pun dengan suasana hati begini. Meski aku tidak tahu masalah mu apa. Sebaiknya kau istirahat. Tidurlah! Aku aka nada disini, menjaga mu” bisik Minho pelan.
Seoyeon menarik nafasnya sebentar lalu tersenyum samar dan langsung memejamkan matanya. Setidaknya ia memang butuh istirahat dan malam ini ia tidak sendirian. Minho menyadari kalau Seoyeon sudah tertidur, itu bisa diketahuinya dari nafas Seoyeon yang berhembus dengan teratur. Ia tersenyum kecil lalu memutuskan untuk memejamkan matanya juga disana dalam posisi duduk pada anak tangga yang sama.

***

“Ya hyung! Mau apa berangkat sepagi ini?!” teriak Key sambil sesekali menguap.

Donghae memaksa Eunhyuk, Kevin dan Key ikut dengannya untuk berangkat sekolah cukup pagi. Donghae menggiring mereka bertiga ke asrama, ia ingin minta maaf pada Seoyeon soal kemarahannya yang tiba – tiba kemarin itu.
Mereka berempat kini sudah berdiri didepan pintu kamare Seoyeon. Saat Kevin meraih kenop pintu itu, Eunhyuk menahan tangannya. Kevin bingung namun ia segera menatap kearah yang sama dengan Eunhyuk. Begitu juga dengan Key dan Donghae.

Sedangkan Seoyeon yang tidak menyadari kehadiran keempatnya masih terus tersenyum sambil sesekali menahan tawanya ketika Minho terus – terusan menceritakan leluconnya yang cukup menghibur Seoyeon.
Namun ia merasa sedikit heran ketika Minho berhenti bicara dan menatap lurus kedepan. Seoyeon ikut menatap kearah yang sama. Ia sedikit terkejut mendapati ada empat namja yang berdiri mematung didepan pintu kamarnya. Seoyeon tersenyum senang saat ia melihat ada Donghae diantara mereka, ia memutuskan untuk minta maaf soal iPhod itu. Namun Minho langsung menahan tangannya saat Seoyeon mulai melangkah dan otomatis langkah Seoyeon terhenti.
“Waeyo Minho –ya?” tanya Seoyeon dengan heran.
Minho langsung menarik Seoyeon untuk berdiri disampingnya. Donghae yang kesal langsung melangkah maju namun Eunhyuk langsung menahan bahunya. Ia sedang tidak ingin ada keributan disana.

“Seo –a! Kenapa sepagi ini kau bisa bersama namja itu?”
Akhirnya Kevin yang bersuara karena mereka terus berdiri dalam kebisuan untuk beberapa detik. Seoyeon tersenyum dengan kaku karena ia takut terjadi kesalahpahaman disini.
“Ne. Aku mengantarkan buku ke ruang Minho, kami kan satu kelas” ucap Seoyeon dengan lancar namun Minho langsung mendelik kearahnya dan menatap Donghae dengan tatapan penuh kemarahan.
“Donghae sunbae! Apa yang kau lakukan padanya semalam?”

Seoyeon terkejut, ia langsung menatap kearah Minho begitu juga dengan Eunhyuk, Key dan Kevin yang kini menunjukkan ekspresi terkejut sekaligus meminta kejelasan.
“Minho –a~ sudahlah…” bisik Seoyeon dengan khawatir.
Ia berusaha menunjukkan senyum ‘baik – baik’ saja pada semuanya namun tampaknya semua tidak mempercayai senyuman yang lebih mirip seringai kaku itu.

“Seharusnya aku yang bertanya dengan mu. Apa yang kalian lakukan semalaman? Aku tahu ia belum kembali ke kamarnya karena rok seragamnya masih sedikit kusut apalagi sepagi ini. Dia selalu rapi. Dan tataan rambutnya itu juga tidak rapi” jelas Donghae panjang lebar.
Kali ini trio itu menatap kearah Donghae dengan tidak percaya sedangkan Seoyeon sedikit tercengang lalu buru – buru merapikan rok dan rambutnya dengan kaku, meski jelas itu sudah terlambat.
“Donghae, sejak kapan kau sangat memperhatikan yeoja sampai seperti itu?” bisik Eunhyuk dengan tidak percaya. Ia bahkan sampai membelalakkan matanya. Kevin malah menatap Donghae dengan takjub. Sedangkan Key menyipitkan matanya, “Kau seperti stalker, hyung”.

Minho tersenyum meremehkan lalu menyipitkan matanya dan menatap Donghae dengan sinis. Ia mengehmbuskan nafas kesalnya.
“Aku mengenalnya cukup lama. Aku tahu ia tidak akan menangis tanpa alasan dan aku juga tahu ia tidak akan kembali dalam sebuah ruangan jika ia sedang sedih. Ia akan menetap diluar entah dimana itu, yang jelas tempat pertama ia duduk. Maka disitulah ia akan bermalam dan biasanya ia memilih anak tangga” jelas Minho tidak kalah detail dengan Donghae.

Kali itu tatapan trio itu pindah kepada Minho. Eunhyuk menggelengkan kepalanya dengan takjub, Kevin sampai membuka sedikit mulutnya sedangkan Key menatap Donghae dan Minho bergantian dengan tatapan heran.
“Bagaimana bisa mereka mengamati Seoyeon sampai sejauh itu?” bisik Key pada Eunhyuk dan Kevin. Keduanya hanya saling pandang dan mengangkat bahu dengan ekspresi yang sama bingungnya.

“Seoyeon… kau… menangis?” tanya Donghae dengan perlahan.
Seoyeon langsung tersenyum dan menggeleng pelan. Minho menatap Seoyeon dengan kesal lalu memegangi kedua bahu yeoja itu dan menatapnya dalam.
“Kau terlalu baik untuk tidak menunjukkan padanya. Dia harus tau kalau kau menangis karena dia! Karena semalam kau baru pulang bersamanya kan?”
“Tapi aku baik – baik saja, Minho –a”

Donghae langsung melangkah maju untuk mengambil Seoyeon dari Minho namun lagi – lagi ia kalah cepat karena Youngmin yang entah datang darimana langsung menariknya dengan cukup kuat dan berlari meninggalkan tempat itu bersama Seoyeon yang kebingungan.
“HEH?!” Eunhyuk dan Kevin melongo melihat kejadian barusan.
Key yang memang selalu jeli dan cepat langsung melangkah dengan cepat.
“Hey!! Jelaskan dulu baru pergi!!” teriak Eunhyuk frustasi.
“Ada sesuatu yang gawat. Itu yang dikatakan ekspresi Jo Youngmin tadi!!” balas Key.
Semua langsung berlarian mengikuti Key sedangkan Donghae menatap Minho tajam. Minho melangkah dengan perlahan dan kini ia ada disamping Donghae.
“Dengarkan aku! Jangan sok menjadi pangeran pelindungnya kalau kau tidak mengenalnya dan menyakitinya. Aku tidak akan segan, Donghae sunbaenim”
Donghae mengepalkan kedua telapak tangannya untuk menahan emosinya yang sudah sampai diujung kepalanya. Sedangkan Minho terus melangkah kearah yang berlawanan dengan Donghae sambil memegangi dadanya yang tiba – tiba terasa sesak.

***

*plak!*

Wanita itu menampar Chunji didepan umum. Chunji hanya diam, tidak berusaha untuk membela dirinya sama sekali atas semua tuduhan yang menyudutkan dirinya. Youngmin menarik tangan Seoyeon untuk menyeruak diantara kerumunan sedangkan Niel menyambut mereka dengan ekspresi yang khawatir.
“Bagaimana?”
“Mrs. Lee menamparnya barusan” lapor Niel.
“Heh?! Menampar? Ada apa sebenarnya ini?” Seoyeon meminta penjelasan dari keduanya. Namun pertanyaannya segera terjawab saat Mrs. Lee kembali bicara. Namun yang membuat Seoyeon lebih tercengang lagi adalah saat melihat siapa Mrs. Lee itu.
“Mwoya? Kwon Yuri top model itu?!”
Ia cukup tahu banyak tentang dunia fashion karena dulu eommanya juga berkecimpung didunia itu. Dan yeoja yang ada dihadapannya itulah yang menjadi salah satu saingan terberat eommanya saat dulu masa – masa kejayaan mereka.

“Eomma tidak pernah mengajarkan mu untuk membuat pelarian pada obat – obatan terlarang itu kan?!” bentak Yuri, namun Chunji hanya diam sambil sedikit menundukkan kepalanya. Pelajar Domus Aurea yang menonton hal ini mulai saling berbisik – bisik.
“Bicaralah!! Mengakulah!! Atau kau mau eomma tampar lagi huh?!” kali ini suara Yuri jauh lebih kencang dan tegas dari sebelumnya.
Sejujurnya ini juga tontonan yang membuat khalayak Domus Aurea terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Chunji berasal dari keluarga terpandang dan eommanya cukup terkenal didunia entertainment.

“Mianhae!”
Seoyeon langsung berdiri disamping Chunji dan menyunggingkan senyum ramahnya. Yuri kini menatap Seoyeon dengan penuh tanda tanya dan dengan tatapan yang sedikit tidak berminat.
“Siapa kau?”
“Aku sunbae yang mengawasi Chunji, Young dan Niel. Aku…”
“Kau yang mengawasi? Pasti kau lalai! Karena…”
“Aku akan bertanggung jawab dan akan berusaha membuktikan kalau Chunji tidak terlibat dalam masalah obat – obatan itu. Kalau dia terbukti bersalah, aku bersedia untuk menanggung hukumannya”
Seoyeon menatap wanita didepannya dengan sedikit takut. Meski agak sedikit ragu tapi ia memang memiliki tanggung jawab atas hoobaenya itu. Chunji menoleh kearah Seoyeon lalu membuat gelembung dari permen karet yangsedari tadi dikunyahnya.
Ketika pecah, ia langsung membelakangi eommanya dan menghadap Seoyeon lalu memegangi kedua bahunya.
“Bagaimana kalau memang iya aku melakukannya?” ucapnya dengan tajam.
“Aku percaya kau tidak melakukannya!” balas Seoyeon tidak mau kalah.
“Terserah!”
Chunji berbalik lalu menatap eommanya dan tersenyum getit lalu melempar pandang kearah Youngmin dan Niel yang berdiri dideretan depan kerumunan itu. Matanya mulai berkaca – kaca saat bola matanya bertemu dengan mata coklat eommanya.
“Apa aku harus membuat masalah dulu agar kau mau memperhatikan ku, eomma?” ucapnya tajam dan penuh dengan kesedihan juga rasa tertekan.

Mungkin bagi orang yang ada disana ia terdengar seperti anak yang kurang ajar. Namun Youngmin dan Niel tahu kalau selama ini Chunji merasa kesepian makanya mereka selalu berusaha untuk meluangkan waktu mereka untuk Chunji.

Donghae bersama dengan ketiga temannya itu datang dan menyeruak diantara kerumunan. Mereka mematung saat melihat siapa wanita yang berdiri ditengah sana. Eunhyuk menatap Donghae sekilas sedangkan Key dan Kevin hanya saling bertukar pandang.

“Donghae oppa?”
Seruan Seoyeon membuat Yuri menoleh kebelakang dan melihat siapa yang kini berdiri dibelakangnya itu. Orang yang mungkin bisa dibilang putra tirinya bersama dengan keponakannya juga dua orang asset berharga perusahaan Domus Aurea.
“Chunji? Siapa nama panjang mu?” tanya Eunhyuk dengan heran.

Chunji sama sekali tidak menjawab. Namun Key yang menjawba dengan nada yang seolah tidak percaya.
“Seharusnya aku menyadarinya, Lee Chan Hee”
Key memberi tekanan pada marga ‘Lee’. Chunji hanya tersenyum samar lalu menatap Donghae, ternyata namja itu memang benar – benar tidak tahu siapa dirinya. Percuma selama ini ia mencoba membuat orang itu kesulitan dengan sikap – sikapnya.
“Kalian bahkan tidak mengenali ku kan? Anak yang terbuang, kalian tidak akan pernah peduli akan hal itu. Aku sadar kalau aku berbeda dengan kalian” ucap Chunji dengan getir lalu berbalik pergi meninggalkan tempat itu disusul dengan Youngmin dan Niel.

Seoyeon menatap semuanya dengan kebingungan. Ia benar – benar tidak mengerti dengan situasi dihadapannya sekarang ini. Yuri menatap Seoyeon.
“Kau, aku ingin kau benar – benar membuktikan ucapan mu yang tadi nona Kim”
Seoyeon hanya bisa mengangguk dengan kaku.

Yuri melangkahkan kakinya kearah Donghae lalu berbisik kecil namun bisikan itu masih bisa didengar oleh Eunhyuk, Key dan Kevin.
“Aku tahu kau membenci ku. Tapi tolong jangan benci putra ku. Jaga dia! Hanya dia yang berharga dan tersisa untuk ku”

Donghae masih berdiri mematung disana meski Yuri sudah pergi dengan mobil mewahnya sedangkan Seoyeon masih berdiri dengan ketidak tahuannya. Kerumunan yang kebingungan itu pun bubar dan memutuskan untuk tidak ikut campur masalah ini. Karena masalah ini tampaknya melibatkan perusahaan besar itu.

***

Seoyeon kembali mengerjakan tugasnya yang bertumpuk. Ia memutuskan untuk mengambil pakaian ganti di asramanya. Sesekali ia menatapi warna – warni bunga yang tumbuh dihalaman asramanya sambil saling menggosokkan kedua telapak tangannya berharap bisa menjadi lebih hangat. Ia sedang tidak ingin memikirkan masalah pribadinya dengan Minho dan Donghae karena ada yang lebih penting dari hal itu, Chunji. Apalagi masalahnya sampai seserius ini.

“Seoyeon –a!! Seo!! Gawat! Donghae!!!!”
Eunhyuk yang tiba – tiba datang langsung menarik bahu Seoyeon cukup kuat. Seoyeon menoleh sambil meringis kesakitan.
“Apa?”
“Donghae mencoba bunuh diri!”
“MWO?!”
Seoyeon terbelalak lalu menatap Eunhyuk dengan tidak percaya. Namun tampaknya yang muncul malah ekspresi keseriusan. Mau tidak mau Seoyeon ikut khawatir juga.
“Dimana dia?”
“Loteng sekolah!!”
“Jinjja?”
“Buat apa aku bercanda disaat sepenting ini?!”

Seoyeon mengangguk dan memutuskan untuk percaya karena ia melihat Eunhyuk cukup berantakan dan frustasi. Mereka segera berlari dengan cepat menuju loteng sekolah.

Donghae sedang berdiri diujung sambil menatap kebawah. Kearah jalan raya dengan banyak laju kendaraan yang tiada henti. Sesekali ia menghela nafas berat sambil memikirkan masalah yang baru saja diketahuinya. Ia memang tahu kalau ia punya adik tiri namun ia tidak menyangka kalau orang itu adalah hoobaenya sendiri.
“Aku akan keluar dari Domus Aurea, lagipula aku tidak punya perkerjaan yang tetap disini” keluhnya sambil mempertimbangkan keputusan barunya.

Ia memang melamar menjadi salah satus taff pengajar namun tampaknya sekolah itu tidak membutuhkan staff tambahan. Nyatanya ia lebih sering duduk menganggur diruangannya sedangkan Eunhyuk dengan senang hati berkeliling sekolah sambil menebar senyumnya.

*pluk*

Tiba – tiba ia merasakan tubuhnya menghangat. Donghae menatap tubuh depannya, ada tangan yang melingkar dipinggangnya. Ia jadi geli kalau membayangkan kebiasaan aneh Eunhyuk. Ia langsung bergidik ngeri dan berusaha melepaskan pelukan itu.
“Hyuki!! Kau jangan beriskap aneh seperti ini huh?!”
Donghae berbalik sambil membentak orang yang ia sangka Eunhyuk namun sedetik kemudian ia terkejut saat mendapati ternyata Seoyeon –lah yang memeluknya dari belakang.
“Heh?!” ia seidkit tercengang.

Seoyeon menunduk lalu bicara dengan suara yang bergetar dan menandakan kalau saat ini ia sedang menangis dan berusaha untuk menahannya.
“Jangan pergi… Maafkan aku… Jangan bunuh diri… Ku mohon… Maafkan aku…” ucapnya dengan nada suara yang tidak beraturan. Donghae menatapnya heran terlebih lagi saat mendengar kata ‘bunuh diri’. Ia menatap kesekelilingnya dan mendapati Eunhyuk yang pura – pura menatap kelain arah. Tidak jauh dari sana ada Key yang bersandar didinding sambil menatap lurus kearahnya dan disampingnya ada Kevin yang duduk santai sambil memegangi cemilan keripik ditangannya.
Keduanya menunjuk kearah Eunhyuk. Donghae manatap Eunhyuk dengan tajam sedangkan namja itu hanya menunjukkan cengirannya yang seolah merasa tidak bersalah. Donghae mendengus kesal namun ia kembali menatap Seoyeon yang masih menunduk dan terisak pelan.
“Seo –a, aku….”
“Oppaaa… Jeongmal mianhaeyo… Jangan bunuh diri oppa… Kalau memang semua karena aku, aku akan menjauhi mu dengan perlahan. Jangan cemaskan hal itu. Aku bisa melakukannya asal oppa bisa tenang”
Donghae memegang kedua bahu Seoyeon lalu salah satu tangannya mengangkat wajah yeoja itu agar menatapnya. Donghae sedikit terkejut karena wajah Seoyeon cukup memeraj karena menangis, ia tampak kacau.
“Aku tidak akan bunuh diri meski pun aku ingin. Jadi berhenti menangis!”
“Hajiman… Hyuki oppa…”
“Jangan dengarkan orang gila itu!”

“HEH?!” Eunhyuk hendak protes mendengar kalau ia dikatai orang gila namun ia tidak jadi melanjutkan ucapannya karena pasangan didepannya itu mulai melakukan hal yang membuat Eunhyuk malu sendiri.

Donghae memegangi pinggang Seoyeon dan membuat yeoja itu berjinjit. Bibir mereka saling bertemu lagi. Sedangkan angin disekitar sana tampaknya cukup menikmati adegan itu karena mereka berhembus dengan lembut dan nyaman.

Dengan refleks, Kevin dan Key menutup matanya sedangkan Eunhyuk mengalihkan matanya meski sesekali ia mencoba untuk melirik kearah pasangan itu.
Donghae melepaskan ciumannya lalu tersenyum dan kali ini mencium kening Seoyeon singkat. Kemudian ia meraih tubuh yeoja itu dan memeluknya cukup erat.

TBC

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s