[Part 13] Domus Aurea Romance

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : Ma Boy – Sistar19
==

“Bodoh! Kalau kalian mau melakukan hal semacam itu ya jangan didepan umum donk!” protes Eunhyuk sambil menarik Seoyeon yang masih dalam pelukkan Donghae. Kevin dan Key hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan memutuskan untuk menonton saja, mereka tidak ingin terlibat dalam urusan cinta orang lain.
“Siapa yang menyuruh mu untuk melihatnya huh?!” tanya Donghae tidak mau kalah.
Tangan kanannya masih menahan pergelangan tangan Seoyeon yang berdiri diantara mereka sambil memandang kedua namja itu bergantian.
“Ya lagian aku kan punya mata ini nih!” tunjuk Eunhyuk tidak sabaran.
“Kenapa tidak tutup saja mata mu seperti dua hoobae manis kita disebelah sana?” balas Donghae sambil mendongak kearah Kevin dan Key.

Seoyeon tersenyum lalu tertawa kecil. Eunhuk dan Donghae menatapnya dengan heran.
“Aku harus pergi sekarang, aku harus membuktikan kalau Chunji tidak bersalah!”
Seoyeon beranjak pergi.

Mendengar nama Chunji disebut, Eunhyuk langsung menatap Donghae sedangkan Donghae sendiri malah memper –erat cengkramannya, membuat pergelangan tangan Seoyeon sedikit sakit.
“Jangan terlibat lebih jauh dengan Yuri ahjumma” ucap Donghae datar.
Seoyeon memandangnya dengan heran lalu tersenyum dan mengangguk kemudian ia melepaskan cengkraman tangan Donghae yang sudah mengendur itu. Donghae manatap punggung Seoyeon seiringan dengan langkah kaki yeoja itu yang terus menjauh.

***

Ternyata sangat mudah untuk membuktikan seorang Lee Chan Hee tidak terlibat dalam kasus obat – obatan terlarang itu. Karena baik Youngmin ataupun Niel sudah bertindak cepat untuk mengatasi hal ini. Dan pelaku yang sebenarnya pun sudah di skorsing pihak sekolah dan mungkin akan dikeluarkan dari sekolah itu.

Youngmin meregangkan tubuhnya sambil menulis beberapa angka dalam sebuah kertas putih panjang. Ia sibuk dengan kertas itu sedangkan disampingnya ada Niel yang sibuk dengan mp3 playernya.
Youngmin mengambil ponselnya dari saku lalu tampak sibuk menelepon seseorang diseberang sana.
“Ne. Aku sudah menuliskan angka nominalnya. Kalian tinggal urus transferannya saja. Jangan sampai keluarga ku tahu akan hal ini, arraseo?”

Youngmin memutuskan jaringan teleponnya, Niel menoleh sekilas lalu tersenyum dan menghenyakkan tubuhnya di sofa sambil memainkan kabel earphonenya.
“Kita biarkan Chunji bersenang – senang dulu dengan noona. Sebelum nanti Yoona ahjumma dan Yuri ahjumma datang dan tidak membiarkan mereka tenang. Saat hal itu tiba, kita harus sudah siap untuk menjaga Chunji. Sahabat kita yang tertutup dan sok kuat itu”
“Ne. Aku tidak tega ia difitnah menggunakan obat terlarang. Dan bayaran yang diminta para ahjussi itu cukup besar, aku tidak ingin orangtua ku tahu akan hal ini. Sebaiknya membayar mahal untuk membungkam mulut para mafia itu kan?” tanya Youngmin sambil tersenyum memperingatkan kearah Niel yang hanya balas mengangguk.

Atas saran Youngmin dan Niel, Chunji kini sudah berdiri didepan pintu kamar asrama Seoyeon. Ia sudah berdiri sejak 10 menit yang lalu, namun tidak ada yang dilakukannya selain memandangi daun pintu itu dengan ragu.

*cklek!*

Seoyeon membuka pintunya lalu menatap lurus kedepan dengan bingung.
“Chunji –a?”
“Uhmm… Noona, ku dengar dari Young dan Niel kalau noona yang menemukan pelakunya. Dan karena itu aku kesini untuk… berterimakasih?”
Chunji menatapnya dengan ragu. Seoyeon sebenarnya agak bingung juga karena ia tidak menemukannya melainkan pelakunya sendiri yang datang dan mengaku padanya. Rasanya tidak pantas ia menerima rasa terimakasih itu, karena ia tidak berbuat apa – apa.
“Hajiman aku…”

“Eh, Niel dan Young bilang akan pergi ketaman bermain bersama aku dan noona. Kita diminta pergi duluan jadi…”
Chunji menatap ke kiri padahal disana tidak ada siapapun dan tidak ada apapun. Seoyeon tersenyum kecil melihat sikap Chunji yang menurutnya manis itu. ia langsung menarik tangan Chunji lalu tersenyum setelah namja itu menatapnya dengan terkejut.
“Dongsaeng ku yang manis, kajja!”
Mereka pun pergi dengan riang sambil sibuk mengontak Youngmin maupun Niel.

Onew bersikeras untuk membawa Minho pergi keluar negeri untuk pengobatan lebih lanjut mengingat kondisinya yang semakin menurun. Minho memutuskan untuk kembali melakukan pengobatan dan home schooling di New York seperti sebelumnya. Sedangkan masalah perusahaan di Seoul akan ditangani oleh Choi Yeona, yeodongsaengnya dengan beberapa staff kepercayaan mereka.
Minho tidak akan pergi tanpa bicara seperti sebelumnya. Ia sudah menyiapkan sebuah hadiah kejutan untuk memberikan salam perpisahan sementara. Ia membeli sebuah boneka beruang dan seikat bunga tulip.

Ia sudah beberapa kali mengetuk pintu kamar asrama Seoyeon, namun tidak ada jawaban disana. Ia sudah menunggu dengan cara ebrdiri dan bersandar pada dinding kamar itu namun tidak ada tanda – tanda kehidupan disana. Sudah tiga jam ia berdiri disana. Telepon dari Onew sudah beberapa kali masuk namun ia tidak ingin mengangkatnya karena ia tahu kelanjutannya, Onew akan menanyakan keberadaannya lalu menariknya pulang atau kembali kerumah sakit.

“Seoyeon –a… Eodiga?” bisiknya lirih.

Buku – buku tangannya mulai memucat begitu juga dengan wajahnya. Minho merasakan tubuhnya tidak akan sanggup bertahan disana, ia pun meninggalkan semuanya didepan pintu kamar Seoyeon lalu ia memutuskan untuk beranjak pergi.

***

“Noona! Lihat ini! Ahhh~ kita memang saudara yang serasi~!”
Youngmin menunjukkan foto – foto yang dicetak otomatis yang mereka dapatkan dari beberapa wahana yang tadi mereka naiki itu. Chunji dan Niel berjalan dibelakang keduanya. Niel berjalan dengan santai sambil menikmati kembang gulanya sedangkan Chunji terus – terusan menggerutu karena Seoyeon tampaknya lebih tertarik bersama Youngmin.

“YA!” teriak Chunji saat ia menghentikan langkahnya.

Youngmin, Seoyeon dan Niel yang sudah beberapa langkah didepannya langsung menoleh dan menatap Chunji dengan bingung.

“Waeyo nae Chunji?” tanya Youngmin dramatis.

Membuat Niel menahan tawanya sedangkan Seoyeon menunjukkan ekspresi yang tidak berbeda jauh dengan Niel. Hanya saja ekspresinya lebih natural.
“Kau dan noona sejak tadi berjalan seperti sepasang couple saja!” gerutunya kesal.

Seoyeon menaikkan alis matanya lalu menunjuk dirinya dan Youngmin.
“Aku? Dia? Kami kan sepakat untuk jadi kakak – adik, apa itu salah?”
Niel yang mulai mengerti langsung berbalik, membelakangi situasi ini sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangannya menahan tawa keluar meledak dari sana. Youngmin tampaknya melihat situasi ini berubah jadi menarik. Ia menghampiri Chunji lalu merangkul bahunya.
“OK! Aku akan bersama mu selalu Chunji –a~”
“Menjijikkan!” desis Chunji.

Seoyeon tampaknya memang tidak mengerti namun menurutnya, dari kesimpulan yang ia ambil sendiri. Tampaknya Chunji tidak suka berjalan sendiri, sebagai sunbae yang baik ia memutuskan untuk berjalan dengan Chunji saja.
“Kalau begitu kau dengan ku saja, bagaimana?” tanya Seoyeon dengan polos.

Youngmin langsung berlari kearah Niel dan merangkulnya keduanya langsung bersorak dengan riang.
“Let’s Go!!”
“Ne!”
Seoyeon menjawabnya dengan penuh semangat lalu menarik tangan Chunji lagi.

Mereka sudah terlalu banyak bermain wahana ditaman bermain itu dan kini mereka duduk kelelahan dikursi taman sambil meneguk cola yang tadi dibeli dari seorang tukang asongan. Seoyeon merasakan sakunya bergetar, ia mengambil ponselnya lalu membaca sebuah pesan masuk yang membuatnya tersenyum kecil.
Ia memasukkan ponselnya kembali kedalam sakunya dan ia merasakan ada benda lain didalam sakunya. Ia mengeluarkannya dan menatapnya.
“Ini kan…”
Sebuah kertas yang dilipat kecil. Ia bersandar pada kursi taman itu. youngmin, Niel dan Chunji berpamitan untuk membeli makanan dikedai yang tidak jauh dari sana. Seoyeon hanya tersenyum sambil mengangguk satu kali.
Tatapannya kembali focus pada lipatan kertas itu. Ia menarik nafas pelan lalu ia mulai membuka lipatan – lipatannya.

“Seoyeon –a?”

Belum selesai membuka lipatan kertas itu, Donghae sudah ada dihadapannya dan memandangnya dengan penuh senyuman. Seoyeon langsung kembali melipat kertas itu dengan terburu – buru dan memasukkannya kembali kedalam sakunya.
“Kajja!”
Donghae menarik tangannya untuk pergi dari tempat itu namun Seoyeon menahannya.
“Aku kesini bersama Chunji, Niel dan Youngmin. Aku harus berpamitan dulu dengan mereka. Tunggu sebentar, oppa!” pinta Seoyeon.

Namun saat ia menoleh, ketiganya sudah kembali sambil membawakannya sebungkus kentang goreng.
“Noona, ini!”
Chunji menyodorkannya pada Seoyeon yang menerimanya sambil tersenyum. Belum sempat ia berbicara, Donghae sudah lebih dulu meraihnya dari belakang.
“Mianhae, aku harus mengajak sunbae kalian ini pergi! Kajja Seoyeon –a!”
Donghae menarik tangan Seoyeon dan Seoyeon berusaha untuk mengimbangi langkah Donghae yang cukup cepat. Ia sempat menoleh kebelakang lalu membungkukkan sedikit tubuhnya sebelum mereka memasuki mobil berwarna putih itu.

“Chunji –a?”
Niel berusaha menyadarkan Chunji yang masih terdiam mematung ditempatnya. Chunji menoleh lalu tersenyum kecil dan merangkul kedua sahabatnya itu.
“Ayo kita ke game center!” ajaknya dengan penuh semangat yang ganjil.
Youngmin dan Niel hanya bisa saling pandang lalu mengangkat bahu dengan bingung.

***

“Bagaimana dengan tugas dikantor oppa?”
Seoyeon menoleh kesamping dan menatap Donghae yang tampak konsen menyetir. Donghae sudah kembali ke kantornya kerena ia mulai bosan dengan sekolah yang tidak membutuhkan staff tambahan itu. Lagipula belakangan ini Minho tampaknya jarang terlihat disekolah lagi.
“Biasa saja, tidak ada yang istimewa”

Seoyeon membentuk vocal O pada mulutnya sambil mengangguk lalu kembali menatap lurus kedepan. Sebenarnya ia ingin menanyakan soal lagu itu tapi tampaknya Donghae tidak ingin membahas hal itu, seperti sebelumnya. Ia pun menghenyakkan tubuhnya lalu menatap keluar jendela.

“Ada yang ingin kau tanyakan, Seo –a?” tanya Donghae tanpa mengalihkan pandangannya.
Seoyeon menggeleng lalu tersenyum samar. “Tidak ada”

Setelah sekitar dua jam perjalanan akhirnya mobil Donghae berhenti disebuah tempat. Lebih tepatnya disebuah bangunan tua yang kosong. Seoyeon sedikit bergidik ngeri. Ia memandangi Donghae dengan sanksi.
“Kajja!” ajak Donghae yang kini sudah keluar lebih dulu dari Seoyeon.
Yeoja itu tampak ragu dan enggan keluar, namun Donghae membuka pintu untuknya. Mau tidak mau ia keluar dan memandangi bangunan didepannya dengan ngeri.
“Op…pa…?”
“Ayo masuk!”
Donghae melangkah didepan Seoyeon, sedangkan yeoja itu masih mematung dan menggeleng dengan kuat. Donghae menoleh lalu mendecak kesal dan menarik tangan Seoyeon namun yeoja itu menahannya dengan kuat.

“Kajja Seoyeon –a~!!”
“Andwaeyo!!”
“Seo –a!”
“Aniyo!!”
“Seoyeon –a! Mau ikut dengan baik – baik atau dengan paksaan?”
“Tidak mau dua – duanya!!”
“Baiklah!”

Seoyeon mengira kalau Donghae sudah menyerah namun dugaannya salah. Donghae langsung menghampirinya dan menggendongnya dengan gendongan ala putri. Saat mereka diambang pintu masuk gedung tua itu dengan refleks Seoyeon mengaitkan kedua tangannya keleher Donghae dan menyembunyikan wajahnya didada bidang namja itu.

“Seoyeon –a, lihat kedepan!”
“Tidak mau!!”
“Seoyeon –a?”
“Sudah ku bilang kalau aku tidak mau!!”
“Seoyeon –aa… Kau menguji kesabaran ku!”
“Tidak maaauuuu!!!!”

Kini Donghae bisa merasakan kalau tubuh yeoja itu sedikit bergetar didalam gendongannya. Ia menghela nafas berat lalu tersenyum dengan lembut.
“Jangan takut begitu Seoyeon –a, ada aku disini. Tenanglah…”
Seoyeon kini mencengkeram kemeja Donghae semakin kuat dengan tangan yang gemetar. Donghae menurunkan yeoja itu namun tubuh Seoyeon limbung dan Donghae langsung menahannya.
“Percayalah pada ku. Bukankah kau sudah berjanji untuk percaya pada ku?”
“Ne”

Seoyeon memberanikan dirinya lalu dengan perlahan membuka matanya dan menoleh kedalam bangunan tua itu. Bukan kegelapan yang ia dapat melainkan sebuah pemandangan kota yang indah. Lagi pula bangunan dalam gedung tua itu tidak seburuk penampilan luarnya atau memang Donghae dengan sengaja mendesignnya seperti itu.
Banyak hiasan lampu warna warni yang membelit tiang – tiang besar penyangga bangunan itu. Dan banyak lagi lampu dengan cahaya warna – warni yang ditata dengan sedemikian rupa disana ditambah lagi dinding roboh yang langsung memperlihatkan pemandangan kota dengan lampu – lampu yang berwarna warni.
Seoyeon kini mencoba fokos pada design lampu – lampu dibangunan tua itu dan ternyata membentuk sebuah lambang hati yang besar. Matanya berkaca – kaca lalu ia menoleh kearah Donghae yang tersenyum dibelakangnya sambil membentangkan kedua tangannya.
Seoyeon tersenyum lalu melangkahkan kakinya dengan perlahan kedalam pelukkan Donghae. Namja itu memeluknya dengan erat lalu mengecup singkat ujung kepala Seoyeon.

“Sudah ku bilang kan untuk percaya pada ku?”
“Ne”
“Jangan pernah ragukan aku. Arraseo?”
“Ne”
“Dan yang paling penting jangan pernah pergi dari ku”
“Ne”
“Janji ini berlaku untuk seumur hidup mu dan kau harus menepatinya”
“Ne”
“Dan berjanjilah untuk membagi segalanya dengan ku termasuk kesedihan dan beban hidup mu”
“Ne, oppa”
“Jika sesuatu terjadi, peganglah tangan ku. Aku akan memberikan mu kekuatan untuk kita berjuang menghadapi segalanya. Arraseo?”
“Ne”

Donghae melepaskan pelukannya lalu ia tersenyum kecil saat melihat wajah Seoyeon yang merah dan matanya yang basah. Ia mengecup lembut kelopak mata Seoyeon lalu mencium bibirnya dengan lembut. Tangannya melingkar erat dipinggang yeoja itu sedangkan Seoyeon hanya berdiri kaku sambil memejamkan matanya.
Adegan mereka ini dilatar belakangi serangkaian lampu warna – warni yang membentuk lambah hati. Seolah menjadi bingkai indah untuk keduanya.

Sedangkan malam itu terus berlanjut dan semakin larut.

Ditempat lain, Minho sedang mengemasi barang – barangnya dengan sedikit gontai karena ia lagi – lagi tidak bisa menemui Seoyeon untuk mengucapkan salam perpisahannnya itu. Ia menghela nafas berat lalu memandangi ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat untuk yeoja itu.

Berbeda dengan Chunji yang kini tengan berbaring di aspal dingin rooftop asrama sambil memandangi lautan bintang. Ia tersenyum kecil ketika entah kenala bintang – bintang itu malah melukiskan wajah Seoyeon dimatanya. Ia mengambil ipodnya lalu memasang earphonenya dan memejamkan matanya, membiarkan angin malam itu membelainya dengan lembut.

***

Yoona mengemasi barang – barangnya sambil mengecek daftar barang yang akan ia bawa dengan teliti. Lee Seung Gi, suaminya itu sibuk didepan laptop dengan kacamatanya dan jari – jarinya yang dengan cepat menekan keyboard dihadapannya.
“Besok kau akan ke Seoul?” tanyanya sambil mengalihkan pandangan dari laptopnya.
“Ne. Aku harus mempersiapkan Donghae untuk semua ini bukan?”
Ia tersenyum sambil memandang suaminya. Seung Gi hanya mengangguk pelan lalu kembali pada pekerjaannya.
“Kapan kau akan menyusul?”
“Saat kau sudah selesai mempersiapkan putra kita”
“Arraseo!”
Yoona terus merapikan barang – barangnya kedalam koper. Seung Gi berdiri lalu memeluk istrinya dari belakang dan mengecup pipinya dengan lembut.
“Jaga diri mu disana. Dan kabarkan kepada ku bagaimana keadaan Donghae, Sungyeol dan Sungjong disana.”’
“Ne”
Yoona tersenyum lalu ia menggenggam tangan suaminya yang melingkar ditubuhnya itu.

Waktu yang sama ditempat yang berbeda.
Lee Minho memandangi Yuri yang sejak tadi meremas tangannya sendiri dengan ekspresi yang cemas. Ia tahu kalau Yoona akan segera datang ke Seoul dan itu berarti Seung Gi pun akan segera datang ke Seoul. Ia cemas kalau Chunji akan berbuat yang aneh – aneh nanti.
“Chagiya?”
Yuri menoleh lalu tersenyum, “Oppa”
“Waeyo?”
“Ani, aku hanya cemas dengan Chunji”
Lee Minho tersenyum lalu menghampiri istrinya itu, ia sangat mencintai Yuri. Ia tahu kalau Chunji bukan anaknya melainkan anak dari hyung kandungnya, Seung Gi. Namun ia menerima semuanya dengan lapang dada.
“Dia akan baik – baik saja. ia sudah cukup dewasa”
“Mianhaeyo oppa” lirih Yuri.
Namja itu langsung meraih tubuh Yuri dan memeluknya. Membiarkan yeoja itu disana untuk menenangkan dirinya.

TBC

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s