[Part 14] Domus Aurea Romance

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : Love In The Ice – TVXQ


Berita kedatangan Yoona ternyata cukup menghebohkan media masa. Bahkan termasuk seorang Kim Jaejoong dan istrinya, Jessica. Keduanya menatap kelayar televisi dengan gamang. Jaejoong mengepalkan tangannya pada sisi meja di café tersebut. Jessica mendekatinya lalu memegang bahu suaminya itu dengan lembut.
“Sudahlah yeobo –a”
“Tidak bisa begitu Sica! Karena dia dan keluarga besarnya itu, nyaris saja Seoyeon tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Bahkan Kibum harus bersusah payah mencari beasiswa, apa kau tidak lihat bagaimana cara mereka belajar setiap harinya? Aku merasa bukan appa yang baik untuk mereka”

Jessica meraih bahu suaminya dan meminta Jaejoong agar menatapnya. Namja itu menatap istrinya dengan tatapan kesedihan, kekecewaan dan luka. Bukan, bukan ditunjukkan untuk Jessica melainkan untuk dirinya sendiri.
“Dengarkan aku! Mereka tidak mengeluh dan semua ini membuat mereka belajar dewasa serta mandiri dan tumbuh menjadi anak – anak yang kuat. Percayalah pada mereka. Mereka akan baik – baik saja. Setelah Kibum menyelesaikan pendidikannya di Amerika sana, ia akan kembali dengan sebuah kesuksesan”
Jaejoong akhirnya menghela nafas sebagai tanda ia menyerah dan menyetujui semua ucapan istrinya itu. Ia mulai tenang lalu kembali menatap kepara pegawainya yang sibuk dengan pekerjaan mereka.
“Setidaknya kita bisa membantu orang dengan sebuah pekerjaan” bisiknya kecil.

***

Yoona tiba dibandara, Sungyeol dan Sungjong datang untuk menjemput sedangkan Donghae memilih untuk tetap tinggal diparkiran bersama mobil audy putih kesayangannya. Ia kesal karena hari ini Eunhyuk memilih berdiam diri dirumah sehingga ia harus menghadapi semuanya sendirian.

“Dimana hyung kalian?”
“Mobil” jawab Sungyeol singkat.
Sungjong hanya tersenyum singkat lalu melirik jam tangannya. Ia akan ada jadwal interview hari ini bersama salah satu stasiun televisi swasta.
“Eomma, aku harus memenuhi jadwal sebelum hyung manager menelepon ku dengan nada tegasnya itu”
Yoona menoleh, tersenyum lalu mengangguk pelan. Ia mengusap kepala Sungjong dengan lembut kemudian Sungjong segera melesat pergi. Sungyeol melirik handphonenya dan berharap managernya akan segera menelepon.
“Kau ada jadwal juga?”
“Euhm… Aniyo eomma tapi manager hyung bilang…”
“Penuhi semua jadwal mu, Sungyeol. Itu baik untuk citra dan karir mu. Eomma akan menemui hyung mu, sendirian”
Sungyeol langsung tersenyum dan pergi meninggalkan eomma angkatnya itu sedangkan Yoona melangkahkan kakinya menuju parkiran. Ia dapat mengenali yang mana mobil Donghae mengingat keluarga mereka punya semacam lambang khusus. Dan ia menemukannya pada sebuah plat mobil berwarna putih.
Donghae tersentak ketika eommanya sudah berada disisi mobilnya tanpa kedua dongsaeng angkatnya itu. Donghae membuka pintu depan namun Yoona malah masuk dan duduk dibelakang.
“Eomma, Sungyeol dan Sungjong?”
“Memenuhi kewajiban mereka”
Donghae memilih tidak banyak bicara, ia langsung mengendarai mobilnya dan pergi meninggalkan bandara.

***

Seoyeon melirik boneka beruang dan seikat bunga tulip diatas mejanya. Ia menemukannya tadi pagi didepan kamar asramanya. Ia melangkahkan kakinya lalu memeriksa apakah ada sebuah surat yang terselip disana. Nyatanya tidak ada, ia juga sedikit heran karena hari ini Minho tidak datang ke kamarnya untuk membawakannya sekotak susu.
Seoyeon mencoba menghubungi namja itu namun yang menjawabnya selalu mesin operator.
“Maaf, nomor yang anda hubungi berada diluar jangkauan…”

*klik!*

Entah kenapa rasanya ia jadi mengkhawatirkan namja satu itu. ia juga baru ingat kalau belakangan ini wajah Minho jadi lebih pucat daripada biasanya. Seoyeon melirik jam diatas meja belajarnya. Sebentar lagi bel masuk akan bordering.
Ia membuka almamaternya dan sebuah kertas jatuh disana. Ia mengambilnya lalu menatapnya sekilas. Itu adalah kertas yang ia temukan saat bersama Donghae. Seoyeon membukanya dengan perlahan. Ia tersenyum memandangi tulisan rapi namja itu.

Annyeong~
Hari ini aku bertemu yeoja kecil dan mungil. Ia sangat cantik. Ia menyukai warna biru, atau ku rasa begitu karena ia selalu memakai ikat rambut dan jepit berwarna biru.
Ku rasa aku jatuh cinta dengannya. Kata eomma ia putri dari keluarga Choi.
Aku jadi ingin membuat sebuah lagu untuknya. “Beautiful”.
Hhaaa…
Aku jadi malu sendiri. Tapi begitulah adanya.
Kalau aku kesepian aku akan mendengarkan lagu itu agar aku merasa dekat dengannya. Karena ku dengar keluarganya akan membawanya jauh dari Seoul. Sebuah tempat bernama New York ku rasa.
Kelak aku ingin menikah dengannya, aku akan bilang eomma akan hal ini. Semoga eomma menyetujuinya Hhee…

-Lee Donghae-

Seoyeon terpaku sesaat, ia bisa saja menganggap semua ini adalah cinta anak kecil semata tapi ada sebuah kalimat yang membuatnya terpaku begitu ‘Kalau aku kesepian aku akan mendengarkan lagu itu agar aku merasa dekat dengannya’.
“Bukankah dia mendengarkan lagu itu saat bersama ku? Apa dia kesepian dan masih mencintai yeoja itu?” bisik Seoyeon kecil.
Ia tersenyum namun air matanya jatuh dengan perlahan. Ia memandangi jam diatas meja belajarnya namun ia sudah tidak ingin pergi kesekolah untuk hari ini. Ia mengunci pintu kamarnya lalu kembali duduk ditepian tempat tidurnya.
“Bukan aku… Yeoja bermarga Choi. Bukan aku… Aku seorang Kim Seoyeon” bisiknya lirih. Ia melarih boneka beruang yang baru didapatnya itu lalu memeluknya dengan erat sambil terisak pelan.

“Yoona ahjumma sudah tiba di Seoul satu jam yang lalu”
Niel memberitahukan Chunji saat ia baru saja selesai membaca artikel yang ia dapat dari internet. Chunji memainkan pena dalam genggamannya.
“Kenapa dia harus kesini?”
“Ku dengar Domus Aurea akan segera memindah jabatan direktur utama dan pewarisnya kepada Donghae hyung” jawab Youngmin sambil mengunyah permen karet dilmulutnya dan membentuk gelembung balon.
“Lupakan! Dimana noona?”
“Molla, ia tidak terlihat memasuki gerbang hari ini”
Niel memang punya keahlian menyadap kamera dan koneksi jaringan komputer ia bahkan bisa membobol komputer meski menggunakan password yang sangat valid. Itulah sebabnya ia kadang hanya memandangi iPad atau alat elektronik apapun yang ia bawa.

***

Seoyeon melangkahkan kakinya dengan perlahan sambil sesekali tersenyum membalas beberapa guru yang menyapanya. Ia izin tidak masuk kelas hari ini dengan alasan tidak enak badan. Namun ia bilang kalau ia memiliki urusan dengan tugas OSISnya.

Ia membuka pintu ruang OSIS lalu disambut tatapan Key dan Kevin. Hari ini Seoyeon tampak seperti orang yang kelelahan dan pucat.
“Gwaenchanayo?” Kevin menghampirinya lalu memeriksa suhu tubuh Seoyeon.
“Ne. Hanya sedikit lelah. Key oppa, aku harus bicara dengan Kevin oppa”
Seoyeon menatap Key dan Kevin bergantian. Key tersenyum lalu mengagguk pelan. Seoyeon langsung menarik Kevin menuju ruang dalam yang biasa dipakai untuk beristirahat.
Seoyeon menutup pintu itu agar Key tidak menguping pembicaraan mereka.

“Ada apa sebenarnya?”
Kevin duduk disofa panjang sambil menatap Seoyeon dengan bingung.
“Berapa tahun Kevin oppa mengenal Donghae oppa?”

Kevin tersentak, ia menatap Seoyeon dengan bingung namun ia menjawab dengan tenang.
“Sejak kecil. Saat aku berusia 5 tahun, ku rasa”
Seoyeon menatap Kevin dengan tatapan sendunya. Ini bukan Seoyeon yang biasanya. Seoyeon kuat yang selalu ceria seolah tanpa beban dalam hidupnya. Kali ini benar – benar berbeda bahkan Kevin sendiri nyaris tidak yakin kalau yeoja dihadapannya ini adalah sahabatnya tersayang itu.
“Gwaenchana?” tanya Kevin dengan hati – hati.
“Siapa… yeoja bermarga Choi yang pernah dikenal Donghae oppa?”

Kevin berusaha menggali kedalam pikirannya kemudian terlintas sebuah nama didalam benaknya, ia menjawab pertanyaan Seoyeon sambil menyunggingkan senyumnya.
“Choi Yeona. Putri dari keluarga Choi. Namanya memang agak mirip dengan Yoona ahjumma justru mungkin disana daya tariknya. Dia tiga tahun dibawah Donghae dan berarti satu tahun dibawah mu”
“Dimana ia sekarang?”
“New York. Apa kau mengenal Yeona?”

Seoyeon menggeleng pelan lalu melukiskan senyuman datar diwajahnya namun tampaknya Kevin tidak begitu meyadarinya. Ia malah memandang Seoyeon dengan penuh selidik.
“Kau yakin Seoyeon –a? Kau kan berteman baik dengan oppanya, Choi Minho itu!”

Seoyeon menatap Kevin dengan terkejut lalu menggeleng pelan. Kevin hanya menganggukkan kepalanya lalu menatap Seoyeon yang sekarang sudah menghilang dari pandangannya.
“Kemana dia?” keluhnya dengan heran.

***

Donghae menelepon Seoyeon dengan sembunyi – sembunyi. Ia yakin kalau ia sudah diselidiki namun entah sampai dimana. Ia harus memberitahukan semua ini kepadanya sebelum ia tahu dari orang lain dan menimbulkan salah paham.
Namun nomor Seoyeon tidak aktif, tampaknya HPnya sama sekali tidak dihidupkan olehnya. Donghae sudah berkali – kali melangkahkan kakinya bolak – balik didepan jendela.

Sementara itu Seoyeon berada didalam kamarnya sambil menatap kosong keluar jendela. Sesekali ia menghela nafasnya. Ia melirik ponselnya yang tergeletak diatas tempat tidur. Seoyeon meraihnya dan menyalakannya banyak panggilan dan pesan masuk dari Donghae.
Seoyeon memutuskan untuk menelepon namja itu.
Tidak perlu menunggu lama karena Donghae langsung mengangkat teleponnya.

“Kenapa ponsel mu tidak aktif Seoyeon –a?”
“Mianhae”
“Ah sudahlah! Sekarang kau ada dimana? Aku harus bicara sesuatu dengan mu”
“Ne? Soal apa?”
“Seoyeon –a, kau dimana biar aku jemput kau sekarang”
“Asrama”

*klik!*

Seoyeon langsung memutuskan jaringan teleponnya. Ia tersenyum kecil lalu berdiri dan mengganti pakaiannya seadanya.

“Seoyeon –a?”

Donghae terkejut begitu melihat wajah Seoyeon yang pucat. Yeoja itu hanya tersenyum lalu menunjukkan ekspresi tenangnya yang biasa.
“Gwaenchanayo?”
“Ne!”
Donghae mengangguk pelan lalu meranngkul Seoyeon dan membawa yeoja itu kedalam mobilnya. Mereka hanya diam selama perjalanan itu. Tidak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan tampaknya mereka sedang sibuk dengan pikiran masing – masing.
Akhirnya mobil Donghae berhenti ditepian sungai Han. Ia mengajak Seoyeon keluar dan duduk ditepian sungai itu sambil ditemani suasana malam yang bisa dibilang cukup romantis.
“Oppa…”
Ucapan Seoyeon berhenti ketika Donghae akan beranjak pergi. Ia mengukir senyuman diwajah tampannya sambil memegangi kedua bahu Seoyeon.
“Aku beli makanan dulu. Kau disini saja, tolong jaga barang – barang ku”
Donghae langsung beranjak pergi meninggalkan ponsel dan iPodnya disana, diatas bangku kayu itu. Seoyeon duduk lalu memandangi iPod putih milik Donghae. Ia mengambilnya lalu memasang earphonenya.
Lagu itu terdengar indah, bahkan sangat indah.
Seoyeon melihat playlist disana, ternyata memang hanya ada satu lagu saja. hal ini membuat hati Seoyeon mencelos. Ia meneteskan air matanya lalu kembali meletakkan iPod itu disana. Lagi lagi satu kalimat dalam surat itu terbayang dalam benaknya, ‘Kalau aku kesepian aku akan mendengarkan lagu itu agar aku merasa dekat dengannya’.

Donghae kembali, ia duduk disamping Seoyeon dan tampaknya ia tidak menyadari kalau yeoja itu baru saja menangis. Seoyeon langsung menghapus air matanya dengan cepat.
“Ini!”
Donghae menyodorkan segelas susu hangat dan makanan ringan. Seoyeon menerimanya sambil berusaha tersenyum sewajar mungkin.
“Seo –a, aku… sebenarnya…”

Seoyeon memandangi Donghae, menanti hal apa yang ingin diucapkan oleh namja itu. Nyatanya kalimat namja itu tidak selesai karena Donghae kembali ragu. Ia mengulas senyum lalu meletakkan makanannya diatas bangku kayu panjang itu.
Ia mengambil makanan ditangah Seoyeon dan menaruhnya ditempat yang sama. Donghae langsung memeluknya dengan hangat. Seoyeon hanya diam, ia sama sekali tidak membalas seperti biasanya.
“Aku… Aku takut akan menyakiti mu…” bisik Donghae pelan.
“Kalau begitu, jangan menyembunyikan hal apapun dari ku dan jangan pernah membohongi ku” balas Seoyeon dengan nada yang sedikit bergetar.
“Seo…”
Donghae menuntun yeoja itu untuk berdiri lalu kembali memeluk tubuh mungilnya. Sementara itu sebuah mobil mewah berhenti tidak jauh dari sana. Pengemudinya adalah seorang yeoja cantik yang tampaknya sedang mengawasi pasangan itu.
Kemudian ia tersenyum kecil dan memacu mobilnya untuk pergi meninggalkan tempat itu.

***

Hari ini ada kunjungan mendadak dari pemilik Domus Aurea. Key, Kevin dan Seoyeon sudah bersama para staff pengajar untuk menyambut kedatangan orang tersebut. Sementara itu Key tampak gelisah, ia bahkan mengirim pesan singkat untuk Eunhyuk dan Donghae dengan cara sembunyi – sembunyi.
Yoona memasuki area sekolah itu dan langsung disambut dengan hangat dan sopan. Yesung sonsengnim langsung mempersilahkan Yoona masuk kedalam aula penyambutan. Didalamnya sudah ada para staff pengajar dan para anggota OSIS yang lain beserta 3 anggota utamanya.
“Silahkan Nyonya Lee. Ini para staff pengajar dan ini staff OSIS kami. Dan perkenalkan ini adalah tiga staff OSIS teratas disekolah ini. Kim Kibum, Woo Seung Hyun dan Kim Seoyeon”

Yoona langsung menatap Seoyeon yang membalasnya dengan senyuman ramah.
“Siapa nama mu?”
“Kim Seoyeon imnida”
“Kim Seoyeon? Nanti aku ingin bicara dengan mu” bisik Yoona.
Sedangkan Key dan Kevin terus mengawasi mereka. Ia berharap Yoona tidak mengenali yeoja itu sama sekali.

Yoona sudah selesai dengan urusan basa – basinya. Ia menelepon seseorang untuk segera mengatur jadwal penerbangan Sungyeol dan Sungjong kembali ke Paris secepatnya. Kemudian ia mendapati Seoyeon sedang berkumpul bersama beberapa hoobae yeojanya.

Yoona mendekati kerumunan itu lalu bicara dengan nada penuh perintah.
“Mianhae, bisa tinggalkan aku dan Seoyeon?”
Dengan segera para haksaeng itu pergi sambil berpamitan kepada Seoyeon. Seoyeon membalasnya dengan senyuman. Yoona memandangi Seoyeon dari atas sampai kebawah seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Siapa orangtua mu?”
“Ada apa, Mrs. Lee?”
“Jawab saja!”
“Kim Jaejoong dan Jessica Jung”
Mendengar kedua nama itu, Yoona langsung tersenyum dengan sinis.
“Ckckckckckck putri dari keluarga yang sudah bangkrut. Ku dengar orangtua mu membuat sebuah café bukan?”

Seoyeon terkejut karena yeoja paruh baya itu mengetahui masalah keluarganya dan ia tidak suka kalau ada orang yang merendahkan keluarganya dengan nada bicara yang jelas sekali terdengar dari mulut yeoja itu.
“Mianhaeyo, tapi itu bukan urusan anda!”
Seoyeon hendak beranjak pergi dari tempat itu namun langkahnya langsung terhenti saat mendengar Yoona bicara dengan suara yang lantang.
“Kau tahu siapa Donghae? Dia adalah seorang Lee! Dia putra ku, Seoyeon –ssi”

Seoyeon langsung menoleh dengan cepat.
“Maksud anda?”
Yoona melipat kedua tangannya didepan dada lalu tersenyum dengan puas.
“Dia pewaris tunggal Domus Aurea Company!”

Chunji sudah ada didekat sana sejak Yoona mendekati Seoyeon. Ia mendengar semua pembicaraan itu. Ia keluar dari balik didinding lorong dan menatap Seoyeon yang tampaknya sangat terkejut itu.

TBC

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s