[Part 15] Domus Aurea Romance

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : Someday – Ukiss
==

Seoyeon menatap Mrs. Lee dengan tidak percaya. Namun yeoja paruh baya itu hanya tersenyum meremehkan lalu melangkahkan kakinya meninggalkan sekolah itu. Seoyeon masih berdiri mematung ditempatnya. Ia masih belum mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Memang segala yang dimiliki Donghae serba mewah dan mahal tapi ia tidak pernah menyangka kalau namja itu adalah pewaris dari perusahaan raksasa itu.
Seoyeon memandang dengan bingung dan matanya terasa panas. Belakangan ini ia merasa Donghae telah banyak mengecewakannya mulai dari lagu itu dan kini namja itu membohonginya. Sebuah kalimat dari eommanya kembali terlintas didalam pikirannya, ‘Seoyeon –a. putri eomma yang cantik. Kalau kamu tinggal diasrama itu, eomma dan appa akan menyetujuinya dan tidak akan melarang mu. Tapi… Tolong jangan terlalu dekat dengan keluarga dari kalangan pemilik Domus Aurea Commpany. Arrachi?’

Seoyeon menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu masalahnya apa namun ia menghormati orangtuanya yang merawat dia sejak dari kandungan. Seseorang memegang bahunya dari belakang dan hal ini membuat Seoyeon menoleh.
“Chunji –a?”

“Gwaenchana?”

Seoyeon membalasnya dengan senyuman sambil mengangguk namun detik berikutnya ia mulai terisak. Chunji meraih Seoyeon dan memeluknya dengan erat. Ia tidak tahu kenapa noona didepannya ini begitu tidak suka bersosialisasi dengan orang berstatus kaya raya seperti hyungnya itu.

Disaat yang sama, Donghae datang keruang OSIS dengan nafas yang tersenggal – senggal. Ia memandangi Key dan Kevin yang sedang memasang ekspresi khawatir.
“Dimana? Dimana Seoyeon?!”
Kevin menggeleng namun Key malah melirik ponselnya.
“Mereka bilang melihat dia di lorong lantai satu”
Tanpa bicara apapun, Donghae langsung kembali berlari menuju lantai satu dengan cepat. Ia menghentikan langkahnya ketika ia melihat Chunji menepuk bahu Seoyeon dan Donghae bisa melihat kalau yeoja itu sedang memangis. Ia ingin meraih yeoja itu namun langkahnya kembali terhenti karena Chunji lebih dulu memeluknya. Donghae mengepalkan tangannya, menahan emosi namun ia tidak bisa begitu saja menyalahkan Chunji atas semua ini.
Ia mencoba mengerti kalau Seoyeon butuh seseorang untuk jadi penopangnya saat ini.

Chunji melepaskan pelukkannya, ia merangkul bahu Seoyeon dan membawa yeoja itu pergi sedangkan Donghae memutuskan untuk membawa dan menjelaskan semuanya kepada Seoyeon. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat lalu membalikkan bahu Chunji dengan cepat. Chunji dan Seoyeon menoleh kearah Donghae dengan cukup terkejut.
Donghae langsung meraih pergelangan tangan Seoyeon.
“Aku ingin bicara!”

Seoyeon menahan tangannya, “Disini saja!”
“Ikut aku, Seo –a!”

Seoyeon berusaha agar Donghae melepaskan tangannya namun tampaknya Donghae tidak berniat melakukan hal itu sama sekali. Chunji menatap mereka lalu ia meraih bahu Seoyeon.
“Kajja noona!”

Donghae menepis tangan Chunji dengan cepat lalu menarik Seoyeon dengan paksa. Ia seperti menyeret yeoja itu dengan kasar. Chunji hendak memukul Donghae namun entah sejak kapan Youngmin dan Niel sudah menjadi pagar untuknya.
“Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dulu!” bisik Youngmin.
Niel memandangi Chunji lalu menarik namja itu meninggalkan sekolah sedangkan Youngmin menatap punggung Donghae dan Seoyeon sambil tersenyum samar dan penuh dengan kesedihan.
“Ku harap noona dan Chunji akan baik – baik saja”

***

Onew mengunjungi Minho dirumah sakit bersama yeojachingunya. Mereka membawa banyak buah – buahan. Onew mengulas senyuman singkatnya sambil menatap Minho yang terbaring dikasur rumah sakit.
“Bagaimana kondisi mu?”
“Hyung, kapan aku bisa mendapat donor jantung?”
“Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?”

Onew melirik Minho lalu menarik nafas dalam. Ia berusaha menghilangkan rasa khawatirnya dan mengulas senyuman singkat dibibirnya.
“Tenang saja, kau tidak separah itu Tuan Muda Cho”
“Hyung… beritahu aku!”

Onew terdiam sedangkan yeojachingunya sibuk mengambil kotak bekal yang ia masak dirumah untuk makan siang mereka bertiga. Makanan khas Korea yang agak sulit dicari di New York jika kau tidak tahu dimana tempat yang tepat.
“Chagiya, lihat ini! Pemilik Domus Aurea akan menjodohkan putra pertamanya dengan… Choi? Choi Yeona?”
Yeoja itu menatap heran lalu memandangi Minho. Sedangkan kedua namja itu terkejut bukan main, Minho langsung merebut ponsel itu. Ia membacanya dengan cepat. Sebuah artikel yang mejelaskan kalau sebentar lagi akan diumumkan tanggal pertunangan seorang Lee Donghae dengan Choi Yeona.
“Yeona? Choi? Bukankah itu…”
“Ne. Yeodongsaeng ku. Dia sempat tinggal di Seoul bersama halmeoni sebelum aku dipindahkan ke Seoul. Dan ku dengar ia cukup akrab dengan Donghae hyung. Tapi… Seoyeon –a? Bagaimana dengannya?”
Minho mendadak khawatir dan panic. Onew mengangkat sebelah alis matanya.
“Kau mengkhawatirkan hubungan mereka?”
“Hyung, aku tahu kalau Seoyeon sangat mencintainya dan pada akhirnya aku tidak bisa berbuat apa – apa selain mendukungnya sebagai seorang… sahabat yang baik” bisik Minho dengan lemah.
“Istirahatlah! Aku akan mengecek kebenarannya dengan bertanya langsung pada eomma mu!”
Onew langsung beranjak keluar dari ruang rawat itu meninggalkan yeojachingunya bersama Minho yang tampak pucat dan tertunduk lesu. Yeoja itu tersenyum lalu memegang pundak Minho dengan lembut.
“Gwaaenchana. Aku dan Onew oppa akan selalu membantu mu”
“Gomawo noona”
Minho menarik nafas dalam lalu menghenyakkan tubuhnya ketempat tidur dan berusaha untuk memejamkan matanya.

***

“Oppa~!”
Seoyeon menghentakkan pegangan Donghae, namja itu berhenti dan menatapnya. Seoyeon memandang namja itu sebentar lalu mengalihkan perhatiannya ketika ia menyadari kalau matanya mulai terasa panas.
“Seoyeon –a, kau kenapa?”
“Gwaenchana”
Seoyeon melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Donghae namun namja itu bergerak lebih cepat, ia memeluk Seoyeon dari belakang dengan erat.

“Sebenarnya aku…”
“Domus Aurea Commpany adalah milik keluarga Lee. Dan itu akan diwariskan pada oppa, selama ini oppa tidak pernah bilang apa – apa pada ku. Lalu soal yeoja bermarga Choi itu…”
“Choi?”

“Donghae –ya!!”
Eunhyuk berlari kearah mereka berdua. Eunhyuk menatap Seoyeon sekilas lalu mengangguk sambil tersenyum dan kembali menatap Donghae. Ia tampak sangat panik.
“Kau harus ikut aku sekarang!” ucap Eunhyuk sambil menarik tangan Donghae namun namja itu menahannya, ia ingin menjelaskan sesuatu pada Seoyeon namun rupanya tarikan Eunhyuk jauh lebih kuat.
“Hae! Ikut aku atau kau akan menyesal!”

Donghae menatap Seoyeon sejenak. Yeoja itu hanya diam mematung ditempatnya. Donghae pun memandang Eunhyuk, meminta pengertiannya walau hanya sebentar saja.
“Aku akan menyelesaikan masalah ku dulu dengan Seoyeon”
“Ne. Tapi ku harap kau sudah harus tiba di apartemen sebelum malam. Ingat! Apartemen bukan di rumah! Arraseo?”
“Ne!”
Eunhyuk menghela nafas sebentar lalu menatap Seoyeon dan memandangi yeoja itu sekilas. Ia tersenyum dan mengacak rambut Seoyeon dengan lembut.
“Jaga diri mu dan percaya pada ikan bodoh ini! Dan… Jangan pernah lari meninggalkannya”
Ia pergi meninggalkan Donghae dan Seoyeon yang menatapnya dengan kebingungan.

Donghae tidak mau berfikir panjang lagi, ia langsung menatap Seoyeon dan memegangi kedua bahunya berusaha menatap bola mata cokelat milik yeoja itu sedangkan Seoyeon terus berusaha mengabaikan hal ini.
“Seo, dengarkan aku! Aku… Aku hanya takut kehilangan mu, makanya aku tidak bisa mengatakan soal keluarga ku itu”
“Tapi ini sudah terlalu lama untuk oppa menyembunyikannya dari ku!”
“Jika kau tahu dari awal maka kau tidak akan pernah bersama ku. Bukankah begitu Seoyeon –a? aku tidak punya pilihan lain selain menyembunyikannya dari mu”
“Lalu sekarang oppa mau apa dari ku huh?!”

Seoyeon menatap Donghae dengan mata yang berkaca – kaca. Namja itu memandanginya dengan sedih lalu memeluknya dengan erat.
“Aku menginginkan diri mu seutuhnya dan jangan pernah pergi dari ku. Apapun yang terjadi, percayalah pada ku”
Seoyeon mencengkeram lengan kemeja Donghae sambil terisak didalam pelukan namja itu. Meski ia merasa telah dibohongi, namun pada dasarnya ia telah jatuh cinta terlalu dalam. Sehingga akan sulit baginya untuk merangkak keluar.

***

Eunhyuk memandangi jam yang menggantung didinding apartemennya dengan kesal. Karena Donghae belum juga pulang. Key dan Kevin juga semakin cemas. Donghae harus tahu semua ini sebelum Yoona ahjumma bertindak lebih jauh.
Eunhyuk mencoba menghubunginya, namun tidak ada satu panggilan telepon yang dijawab oleh Donghae.
“Kemana makhluk bodoh itu?!” desis Eunhyuk kesal.

Sementara itu Donghae tengah sibuk membuka bungkus kembang api. Sementara Seoyeon membantunya menyalakan api dari sebuah pemantik besi.
“Terlalu banyak angin, tidak akan menyala” keluh Seoyeon.
“Kau ini, mengeluh terus sejak tadi”
Seoyeon membuat kerucut kecil dibibir mungilnya dengan kesal. Ia sudah berkali – kali menyalakan api tapi harus mati berulang kali karena tiupan angin yang cukup kencang.
“Aku lelah! Lupakan soal kembang api! Aku mau pulang saja!”
“Seoyeon –a~ ayolah~”
“Ani! Kerjakan sendiri!”

Seoyeon berdiri dan merapikan roknya dari rumput yang menempel. Donghae mendecak kesal lalu ikut berdiri dan ia menjatuhkan sesuatu, sebuah iPhod berwarna putih. Donghae langsung mengambilnya dengan cepat. Seoyeon tersenyum samar lalu bicara ketika Donghae masih membungkuk untuk mengambil iPhod itu.

“Siapa yeoja bermarga Choi itu?”
“Maksud mu?”
“Oppa membuat lagu itu untuknya. Apa dia… yeodongsaeng Minho?”
“Eh?”

Donghae terdiam sejenak. Seoyeon menarik nafasnya lalu tersenyum dan berusaha membuat suasana disekitarnya kembali ceria. Ia menarik lengan kemeja Donghae dan tersenyum.
“Lupakan! Anggap saja aku tidak pernah bertanya”
“Seoyeon –a… Dia masa lalu ku”
“Apa dia cinta pertama oppa?”
“Ne. Dan lagu ini memang untuknya”
“Uhm.. Arraseo. Ku rasa oppa masih menyukainya!”
“Kenapa bicara seperti itu?”
“Karena oppa akan mendengarkan lagu itu jika oppa merasa kesepian agar oppa merasa sedang bersamanya. Ku rasa oppa masih kesepian meski bersama dengan ku, iya kan?”
Donghae mamandangi Seoyeon dengan tidak mengerti.

Donghae hendak bicara, namun seseorang menutup matanya dari belakang. Seoyeon terdiam memandang yeoja yang berdiri dibelakang Donghae sambil tersenyum kearahnya dan memintanya diam.
“Nugu?” Donghae berusaha melepaskan tangan itu.
Dan ia sukses!
Yeoja itu menyunggingkan senyumnya lalu memandang Donghae sejenak dan memeluknya dengan cukup erat. Seoyeon tersentak, karena ia sama sekali tidak mengenali yeoja itu. Donghae berusaha melepaskan yeoja itu namun yeoja itu malah tersenyum dengan senang.
“Lama tidak berjempu oppa. Yoona ahjumma meminta ku untuk datang menemui mu, dan oppa tidak ada dirumah jadi aku putuskan untuk pulang namun aku menemukan oppa disini bersama… nugu?”
Yeoja itu memandangi Seoyeon dengan heran sambil mengulurkan tangannya.
“Kim Seoyeon imnida” jawab Seoyeon dengan datar.
“Ah! Seoyeon eonni? Eonni adalah yeoja ideal oppa! Pantas saja aku merasa pernah melihat eonni. Minho oppa punya banyak foto eonni dikamarnya. Waktu itu aku masih SD jadi tidak begitu ingat wajah eonni Hhee…”
“Kau…” Seoyeon memandang yeoja itu dengan tidak percaya.
“Ne! Choi Yeona imnida! Aku calon tunangan Donghae oppa”

Donghae terkejut. Ia langsung memandang Seoyeon yang menatap Yeona dengan tidak percaya. Seolah tahu apa yang akan terjadi, Donghae langsung meraih pergelangan tangan Seoyeon yang entah kenapa Seoyeon bergerak lebih dulu dengan cepat. Ia langsung mengibaskan tangan Donghae dan membuat namja itu tercengang.
Seoyeon mengeluarkan sebuah lipatan kertas kecil dan menggenggamnya dengan erat.

“Eonni?”
Yeona memandanginya dengan heran sedangkan ia sendiri sedang merangkul tangan kiri Donghae. Seoyeon menatapnya dengan mata yang berkaca – kaca. Dadanya tiba – tiba saja terasa sesak.

“Aku mau kembali ke asrama. Annyeong!”
Seoyeon langsung berbalik. Donghae melepaskan tangan Yeona dan berlari mengejar Seoyeon lalu memeluknya dari belakang.
“Seo…”
“Oppa… jebal…”
“Seoyeon –a… Sudah ku bilang ia hanya masa lalu”

Namun tampaknya Yeona tidak tinggal diam, entah sejak kapan ia sudah berada dihadapan pasangan itu lalu tersenyum datar.
“Donghae oppa, lepaskan eonni! Jangan buat aku, calon istri mu ini cemburu dan Seoyeon eonni, pulang dan istirahatlah”

Seoyeon melepaskan pelukan Donghae lalu melesat dengan langkah cepat menuju pemberhentian bus. Donghae memandang Yeona dengan marah.
“Apa – apaan ini?”
“Oppa belum tahu kalau orangtua kita sedang mengatur semuanya?”
Donghae tercengang sedangkan Yeona tersenyum lalu melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan tempat itu.

TBC

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s