[Oneshoot] Waiting

 

Title                 : Waiting

Author             : Siskha Sri Wulandari

Cast                 : Xi Luhan [EXO-M]

                        : Kim Soyeon [OC]

                        : Kim Jong In/Kai [EXO-K]

                        : Byun Baekhyun [EXO-K]

Genre              : Romance

Rating             : General

Length             : Oneshoot

Seoul, 5 February 2011        

Saat itu Luhan sedang menimbang-nimbang di mana sebaiknya Ia duduk. Hari ini perpustakaan kota sangat lenggang. Ketika melihat ada seorang gadis yang duduk di meja di depan sebuah rak novel, Luhan memutuskan untuk duduk di sana. Duduk seorang diri di perpustakaan sebesar itu cukup mengerikan juga pikirnya. Dengan langkah pasti Ia berjalan menuju meja gadis tersebut dan duduk di depannya. Setelah nyaman dengan posisi duduknya, Ia segera menyalakan laptop.

            Sebelum benar-benar tenggelam pada tugas kuliahnya, Luhan menyempatkan diri melirik gadis yang duduk di depannya. Sejak kedatangannya, gadis tersebut tetap tidak pernah mengalihkan mata dari novel yang tengah dibacanya. Ketika melihat gadis itu, Luhan tertegun dan terlihat sedang mencermati sesuatu. Ia ingin memastikan bahwa di balik bingkai kaca mata baca gadis tersebut ada air mata yang menggenang. Tidak sadar sedang diperhatikan, gadis tersebut malah mengusap matanya dengan kasar. Setelah itu membalik halaman selanjutnya. Kemudian mata gadis tersebut membulat, seolah terkejut dengan apa yang ada di depannya. Semenit kemudian Luhan baru sadar bahwa novel yang tengah dibaca oleh gadis itulah yang menyebabkan ekspresinya berubah-ubah tak menentu.

            Luhan hampir saja menjerit karena konsentrasinya buyar saat mendengar beberapa orang bernyanyi kroyokan dari ponsel gadis di depannya tersebut.

            “Wae? Jangan ganggu aku! Tidak bisakah kau membiarkan noona-mu ini tenang?” Seolah tidak menyadari Luhan yang terganggu, gadis tersebut bicara dengan volume yang keras.

            Sambil memijit dahinya, Luhan sengaja mendengarkan pembicaraan gadis tersebut.

            “Sirheo!”

            “Gila!”

            “Ani, bisakah kau bilang padanya noona-mu ini tidak punya waktu? Hah!” gadis tersebut membanting novel yang daritadi masih dipegangnya.

            Luhan sedikit terlonjak.

            “Nona.” Ujar Luhan perlahan. Tapi yang dipanggil masih sibuk marah-marah terhadap lawan bicaranya di ujung sana. Sebelum Luhan menyelesaikan kalimatnya, gadis tersebut segera merapikan barang-barangnya dengan gaduh, berjalan terburu-buru tanpa melirik Luhan, seolah tidak menyadari keberadaan Luhan atau mungkin, memang tidak menyadarinya.

            Luhan menghela napas. Mungkin lebih baik jika gadis berisik itu tetap berada di sana. Terserah Ia mau membentak siapa saja di ujung sana. Daripada harus seorang diri di perpustakaan yang sangat luas tersebut, rasanya sedikit menakutkan.

            Soyeon melangkah tergesa-gesa, sudah tidak sabar ingin memaki-maki secara langsung orang yang tadi dibentak-bentaknya di telepon. Setelah sampai, Soyeon langsung memukul kepala adiknya dengan novel yang dipinjamnya dari perpustakaan kota. Yang dipukul segera berbalik cepat sambil mengusap kepalanya yang sakit.

            “Ya noona!” Tidak ada yang pernah membullynya selain noona-nya sendiri.

            “Soyeon.” Laki-laki yang sama sekali tidak ingin diakui keberadaannya oleh Soyeon berdiri dan menatap Soyeon lekat-lekat.

            “Aku dengar kau akan dijodohkan lagi.” Suara lembut Baekhyun terdengar memuakkan bagi Soyeon.

            “Mereka akan melakukannya terus sampai.” Soyeon terdiam, sadar kalimat selanjutnya hanya akan membuat Ia semakin terjebak ke dalam paksaan seorang Baekhyun. “Sampai, ya kau tahulah bagaimana tabiat kedua orang tuaku.” Elak Soyeon.

            Baekhyun menghela napas. “Segera temukan pilihanmu sendiri, maka mereka akan segera berhenti melakukannya.” Sebelum melanjutkan kata-katanya Baekhyun terlebih dahulu menghela napas lagi, takut sebelum sempat Ia menyelesaikan kalimatnya Soeyon akan langsung menimpukinya dengan tas.

            “Aku bisa menjadi pilihan itu.” Ujar Baekhyun berpura-pura tenang. Ia selalu merasa gugup setiap kali menawarkan diri pada Soyeon.

            Soeyon sudah hapal kata-kata itu. Setiap kali memohon untuk kembali, selalu kata-kata itu yang dilontarkan Baekhyun, dan Baekhyun dan Kai sudah hapal bagaimana reaksi Soyeon. Meski begitu, Baekhyun tidak pernah bosan mengulanginya, entah sampai kapan.

            “Ahh, Seoul sepertinya semakin panas.” Kai mengibas-ngibaskan tangannya. Dengan teratur Ia beranjak dari kursi. “Aku butuh udara segar.” Kilah Kai seraya berjalan dengan perlahan. Kai sudah terlalu lelah mendengar pertengkaran noona-nya dan Baekhyun.

            “Kau? Pilihan?” Kai masih mendengar suara cempreng noona-nya membentak Baekhyun.

            “Melupakan masa lalu adalah yang terbaik untuk kita.”

            “Mwoya? Kau memintaku untuk melupakan bagaimana kau mengkhianatiku? Aku bukan anak SMA lagi yang gampang kau tipu!”

            “Aku mencintaimu.”

            “Kalau kau mencintaiku kenapa kau mengkhianatiku.”

            “Gadis itu yang menggodaku.’” Baekhyun diam sejenak, seolah mencari keberanian untuk menyelesaikan kalimatnya. “Aku tergoda.” Lirih Baekhyun.

            “Salahku jika kau tergoda?” Soyeon tersenyum merendahkan.

            “Kenapa kau begitu keras kepala. Kau tahu bahwa hidupmu tidak akan pernah tenang selama teror perjodohan itu masih ada.”

            “Kenapa saat itu kau tergoda?”

            Hening.

            Soyeon tahu Baekhyun akan langsung kehilangan kata-katanya jika Ia melontarkan pertanyaan itu. Mana ada laki-laki yang mau mengakui alasannya tergoda pada gadis lain pada mantan pacarnya.

Seoul, 7 February 2011

            Luhan baru saja meletakkan beberapa enslikopedia yang tadi dipinjamnya dari perpustakaan ke dalam keranjang sepeda saat seorang gadis hampir saja menabrak dirinya dan sepedanya. Kim Soyeon. Soyeon terengah-engah dan tengah mengatur napasnya. Luhan hanya bisa menatap Soyeon dalam diam. Luhan belum sadar bahwa Soyeon adalah gadis yang tempo hari marah-marah di dalam perpustakaan. Luhan baru menyadarinya saat Soyeon mengangkat kepala dan menatapnya garang.

            “Ya! Kenapa diam saja! Cepat tolong aku!” Teriak Soyeon sambil menoleh ke belakang dengan panik.

            “Niga.” Sahut Luhan.

            “Apa?! Ahh, ini bukan saat yang tempat untuk berkenalan.” Lagi-lagi Soyeon memarahi Luhan. Luhan mulai berpikir bahwa teriakan dan bentakan adalah ciri khas gadis itu. Melihat Luhan yang masih diam di tempat dan tidak bereaksi apa-apa, Soyeon segera naik ke atas sepeda.

            “Cepat naik!” Soyeon menarik-narik ujung kemeja Luhan dengan tidak sabar.

            “Eoh?” Luhan semakin bingung akan ulah Soyeon.

            “Ya! Aku sedang dalam bahaya. Bawa aku kemana saja!”

            “Bahaya?”

            “Ya, bahaya! Aku bisa mati jika aku tertangkap.”

            Melihat kepanikan di wajah Soyeon membuat Luhan tidak mempunyai pilihan apa-apa selain mengiyakan semua perintah gadis yang tidak dikenalnya itu. Baru saja Luhan mendaratkan pantatnya di atas jok sepeda, Soyeon langsung memeluk pinggang Luhan. Luhan tersentak, dan dengan sopan berusaha melepaskan tangan Soyeon dari pinggangnya tapi terhenti saat Soyeon mulai berteriak lagi.

            “Ayolah cepat! Aku bisa mati!”

            Dengan terpaksa Luhan mengayuh sepedanya sekencang mungkin, kemana saja yang bisa membuat gadis yang ada di boncengannya tersebut merasa aman. Bahkan Ia tidak tahu bahaya apa yang sedang mengancam Soyeon. Mati katanya, apakah ada yang berniat mencelakainya? Batin Luhan. Tapi dilihat dari gaun yang dikenakannya dan sandal yang hanya sebelah, Ia terlihat seperti seorang pengantin yang kabur dari pernikahannya. Entahlah, Luhan memutuskan untuk tidak menduga-duga terlalu banyak identitas gadis yang ditolongnya tersebut. Saat ini, menghentikan teriakan gadis itu jauh lebih penting.

            Luhan menghentikan sepedanya dan mengisyaratkan agar Soyeon turun, Soyeon pun menurutinya. Baru saja Luhan akan turun, Soyeon lagi-lagi berteriak.

            “Ya! Kau benar-benar tidak peka ya?” Teriak Soyeon gemas.

            Luhan menghela napas mencoba untuk sabar, cukup sudah baginya selama perjalanan tadi mendengar teriakan Soyeon yang menyuruhnya untuk mengayuh lebih cepat.

            “Nona, bisakah kau tidak berteriak-teriak ketika berbicara?” Tanya Luhan frustasi.

            Bukannya merasa bersalah, Soyeon malah semakin emosi. “Tidak ada alasan untuk tidak berteriak-teriak padamu!”

            Luhan hanya memandang Soyeon prihatin dan berbalik.

            “Ya Babo! Kau menyuruhku menuruni bukit ini seorang diri dengan gaun yang aku kenakan?!” Bentak Soyeon.

            Luhan baru sadar, ternyata hal itulah yang daritadi dipermasalahkan oleh Soyeon. Dengan sangat terpaksa Luhan mengulurkan tangannya, dengan kasar Soyeon meraihnya. Luhan pun menuntun Soyeon berjalan menuruni bukit kecil dimana sekarang mereka berada. Setelah sampai, Luhan langsung merebahkan dirinya di atas rerumputan, sedangkan Soyeon mencuci muka dengan air sungai yang ada di depan mereka.

            “Nona.” Sahut Luhan sambil duduk.

            Soyeon menoleh.

            “Bolehkah aku tahu apa yang terjadi padamu?”

            “Ahh.!” Soyeon menjatuhkan pantatnya di atas tanah. “Aku kabur dari pernikahanku!”

            “Bwoo!!!” Panik Luhan. “Ottokhe, ottokhe! Aku baru saja menghancurkan pernikan seseorang!” Luhan bertambah panik.

            Soyeon memutar bola matanya. “Aku memang tidak menginginkan pernikahan itu. Entahlah, orang tuaku ingin sekali aku menikah muda. Padahal aku masih berstatus sebagai mahasiswa semester empat. Mereka selalu menjodohkanku dan aku selalu menolaknya. Tapi mereka tidak pernah lelah.” Soyeon diam sejenak dan menerawang. “Tapi aku tidak menyangka mereka akan melakukan hal gila seperti ini. Merencakan pernikahan bodoh ini!” Soyeon mulai marah-marah lagi. “Pagi-pagi ketika aku baru saja bangun aku sudah mendapati diriku berpakaian seperti ini. Setelah tahu bahwa aku akan dinikahkan aku segera kabur.” Soyeon mengakhiri ceritanya dengan helaan napas penuh kesal.

            “Siapa calonnya?” Tanya Luhan penasaran.

            “Mantan pacarku.” Jawab Soyeon malas.

            Luhan tidak bertanya lagi, sadar bahwa Soyeon sudah tidak berniat untuk bercerita lebih dari itu.

            “Aku lelah seperti ini terus.” Keluh Soyeon sambil mencampakkan sandalnya yang hanya sebelah ke dalam sungai.

            “Kapan mereka akan menghentikannya?”

            “Sampai aku menemukan calonku sendiri.’

            Luhan mengangguk-angguk. Kenapa tidak kau bawa saja namjachingumu? Kau pasti punyakan.” kekeh Luhan.

            Soyeon membulatkan matanya. “Kalau ada sudah aku lakukan dari dulu!” Bentak Soyeon.

            Luhan tersentak. Lagi-lagi gadis itu berteriak dan membentak.

            “Sejak mantanku berselingkuh aku sudah cukup paham betapa brengseknya laki-laki. Aku sudah malas menjalin hubungan lagi.”

            “Tidak semua laki-laki brengsek!”

            “Tidak semua. Contohnya aku.” Soyeon melanjutkan kalimat Luhan. “Semua laki-laki pasti berkata seperti itu. Mana ada maling mengaku maling, mana ada bajingan mengaku bajingan.”

            Luhan mengerucutkan bibirnya. Tidak suka dicap sebagai laki-laki brengsek. “Aku bisa membuktikannya!” Sahut Luhan bersemangat.

            Soyeon hanya menanggapi dengan mengangkat sebelah alis dan bahunya.

            “Ya! Bagaimana kalau aku membuktikannya dengan mu!” Tantang Luhan.

            “Maksudmu?”

            “Kita berkencan. Mencoba berperan sebagai sepasang kekasih.”

Soyeon menganga, tidak percaya akan kata-kata laki-laki yang ada di hadapannya tersebut. Mereka bahkan tidak saling mengetahui nama masing-masing dan sekarang berkencan katanya. Soyeon melirik ensiklopedia- ensiklopedia yang bertengger manis di dalam keranjang sepeda Luhan, berpikir bahwa akibat terlalu banyak belajar membuatnya tidak tahu bagaimana etika ketika mengajak seorang gadis berkencan.

Seoul, 5 April 2012

Soyeon menitikkan air mata saat mengingat masa lalunya bersama Luhan. Saat pertama kali mereka bertemu, kencan pertama bersama Luhan dan masa-masa percobaan menjadi sepasang kekasih. Ia masih ingat Luhan yang selalu protes padanya saat Ia berbicara terlalu keras bahkan terkesan berteriak. Ia juga masih ingat bagaimana Luhan mengajarkannya bahasa mandarin. Soyeon masih ingat itu, tapi entah bagaimana dengan Luhan. Semuanya terasa begitu cepat saat Luhan mengalami kecelakaan bus saat berangkat kuliah. Tiga bulan berlalu, tapi tetap tidak ada perubahan, Luhan tetap terbaring lemah di rumah sakit dengan bantuan kabel-kabel yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.

Dokter memutuskan untuk menghentikan alat-alat bantu pada Luhan. Semua keluarga Luhan telah menyetujuinya, mereka sudah pasrah dan tidak sanggup lagi melihat Luhan yang harus menggantungkan hidupnya pada alat bantu. Dokter bilang Luhan sudah tidak memiliki harapan lagi, Ia masih bisa bertahan hanya karena alat bantu yang masih dipasang pada tubuhnya. Tapi tidak untuk Soyeon. Baginya, sekecil apapun itu, pasti masih ada harapan. Soyeon terus berjuang agar dokter tidak melepaskan alat-alat bantu tersebut.

“Noona.” Panggil Kai. “Minumlah ini!” Kai menyodorkan secangkir teh hangat pada Soyeon.

            Kai tahu noonanya sangat terpukul. Kai juga cukup paham akan kondisi Luhan yang sudah tidak bisa terselamatkan. Dulu teman dekatnya juga begitu. Mengalami kecelakaan dan koma selama tiga bulan. Ia bisa bertahan hanya karena alat bantu dan akhirnya alat bantu itu tetap tidak bisa membuatnya bertahan lebih dari tiga bulan. Ia juga paham bagaimana perasaan orangtua Luhan yang setiap hari harus menyaksikan anaknya bergantung pada alat-alat bantu seperti itu. Tapi Ia juga paham bagaimana perasaan noonanya. Perasaan gadis yang sedang jatuh cinta.

            “Kau percaya keajaiban Kai?” Tanya Soyeon lirih.

            Kai diam dan tidak menanggapinya. Ini yang kesekian kalinya noonanya bertanya seperti itu.

            “Noona, setiap ada awal pasti ada akhir. Setiap manusia pasti akan menemui kematiannya.” Kai tahu Soyeon pasti akan terluka jika mendengarnya bicara seperti itu. Tapi Ia sudah lelah melihat noonanya yang terus-terusan menyiksa dirinya sendiri.

            “Tidak, sampai aku tahu bagaimana perasaannya padaku.” Lirih Soyeon.

            “Makanya jangan bermain-main dengan yang namanya kencan! Noona pikir kencan itu bisa dilakukan oleh orang yang tidak saling menyukai! Sekarang ketika kau jatuh cinta padanya rasakan sendiri akibatnya! Kalau kau tidak melakukan kencan bodoh itu, berpura-pura sebagai sepasang kekasih maka kau tidak akan jatuh cinta padanya dan kau tidak akan berat untuk melepaskannya! Bentak Kai. Kai sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Melihat Soyeon yang menangis Kai merasa begitu menyesal. Ia hanya ingin menyadarkan noonanya bahwa Luhan sudah tidak punya harapan lagi. “Jangan egois, tidak hanya noona yang terluka, orang tua Luhan hyung jauh lebih terluka.”

Seoul, 7 April 2012-08.00 KST

Air mata terpedih yang tercurah di atas makam

adalah untuk kata-kata yang tak terungkapkan dan

pekerjaan yang tak terselesaikan.

                                                                        -Harriet Beecher Stowe –

 

            Soyeon memandangi tubuh Luhan yang masih lengkap dengan kabel-kabel alat bantu. Dadanya naik turun tidak beraturan. Dua jam lagi Ia tidak akan bisa melihat dada Luhan yang naik turun tidak beraturan. Semuanya akan berakhir. Ia masih bisa berharap Luhan masih menunggunya dan bisa bertahan. Seseorang akan bertahan hidup lebih lama jika masih menunggu seseorang. Soyeon mengecup kening Luhan cukup lama. Kecupan pertama darinya untuk Luhan, Ia berharap tiba-tiba Luhan membalasnya, meski Ia tahu itu mustahil. Soyeon sudah memutuskan untuk pergi saat alat itu dicabut dari tubuh Luhan, Ia tidak ingin menjadi saksi kematian Luhan, ia tidak sanggup.

Seoul, 7 April 2012-10.00 KST

            Soyeon tengah mengemasi hadiah-hadiah pemberian Luhan ketika kencan pura-pura mereka dulu. Ia takut tidak mampu melakukannya lagi setelah menghadiri pemakan Luhan. Tiba-tiba ponsel di dalam saku celananya bergetar, Kai yang menelepon.

            “Yobboseyo.”

            “Noona! Noona sekarang aku percaya keajaiban!” Teriak Kai diujung telepon.

            “Wae?”

            “Karena Luhan hyung bertahan demi memberi tahu bagaimana perasaannya padamu! Ketika dokter akan melepas alat bantu tiba-tiba Ia menangis. Ia masih punya harapan! Saat ini dokter sedang berusaha. Luhan hyung sedang berjuang! Dia bertahan karena menunggumu noona!”

Seoul, 7 April 2012-12.00 KST

“Kenapa menangis?” Tanya Luhan lirih.

“Ya! Beraninya kau mau meninggalkanku!” Bentak Soyeon.

Luhan terkekeh. “Tiga bulan tidak melihatmu, ternyata kau belum berubah ya.”

“Cepat katakan padaku!” Perintah Soyeon dengan memaksa.

“Arrasso. Saranghee. Would you be my girl?” ujar Luhan lirih, Ia berusaha menggenggam tangan Soyeon, tapi Ia terlalu lemah untuk melakukan itu.

Soyeon meraih tangan Luhan dan menggenggamnya. “Jebaal, jangan pernah tinggalkan aku lagi.”

“Nee, selama kau menungguku maka aku akan selalu bertahan demimu.” Balas Luhan.

FIN

Sabtu, 120421

 

2 comments

  1. gorjesspazzer world's · May 9, 2012

    Uwaaaaaaa sedih banget !!
    Ku kira Oppa bakal pergi ….
    Nyatanya tidak …
    Syukurlahhhhh. Oppa-ku memang ga boleh pergi !!!

    “karna LuHan hyung bertahan demi memberi tahu bagaimana perasaannya padamu” kata” ini so sweet bangett …..
    Aku suka …

    Oiia ku kira disini Kai jadii orang ketiganya ekhh ternyata Adenya …
    Hehehehehe

  2. Moon Yeon ♥ Myungsoo · July 24, 2012

    uaaaa luhaaannnnn…!! T____T
    sedih amat…
    baekhyun bisa jadi playboy yah ._.v

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s