[Part 18] Domus Aurea Romance

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : Going Crazy – Teen Top


==

Choi Yeona baru saja tiba dirumah sakit tempat kakaknya dirawat. Ia langsung kesana begitu ia menginjakkan kakinya di New York. Ia memutuskan untuk mengabarkan hal ini dengan mulutnya sendiri. Sedangkan orangtuanya sendiri sudah tiba di Tokyo sebelum melanjutkan perjalanan menuju Seoul.

Yeona membuka pintu ruang rawat dan ia melihat ada Onew beserta yeojachingunya sedang mengunjungi kakaknya. Ia tersenyum lebar lalu menyapa semuanya dengan riang.

“Annyeonghaseyo~”

Minho, Onew dan yeoja asing itu menoleh dengan serentak. Onew dan yeojachingunya langsung izin berpamitan keluar ruangan. Yeona menatap Minho dengan riang.

“Oppa, aku akan bertunangan dengan Donghae oppa. Dia kan cinta pertama ku sejak dulu!”

“Apa kau bahagia?”

“Ne!”

Minho menatap adiknya dengan pandangan bimbang. Yeona selalu terlihat bersinar jika sudah menyangkut Donghae.

“Apa kau tahu namja itu sudah memiliki kekasih?”

“Seoyeon eonni? Mereka akan segera putus. Tidak mungkin kan kalau terus menjalin hubungan?” Yeona menjelaskan dengan cepat namun dengan nada yang masih sama.

“Lepaskan Donghae, Yeona –ya…” ucap Minho dengan lemah namun sanggup membuat Yeona membeku dan tercengang.

“Ku mohon… Ini demi kebahagiaannya. Tolong jangan egois” lanjut Minho, namun kali ini ia menatap adiknya dengan penuh permohonan. Sedangkan Yeona memandangi kakaknya dengan tidak percaya. Apakah ini sebuah tanda tidak restu dari oppanya itu?

*ddrttt drtttt*

Yeona menjauh dari kakaknya, ia mengangkat sebuah telepon dari eommanya.

“Ne? besok? Ya aku akan segera kembali ke Seoul hari ini juga”

Yeona menutup teleponnya lalu menatap Minho yang masih tampak pucat karena penyakitnya. Ia memandangi Yeona dengan tatapan lemah dan memohon pengertian namun Yeona hanya menggeleng dengan pelan sambil menunjukkan ekspresi menyesalnya.

“Oppa, aku mencintainya sejak dulu. Mianhaeyo…”

Yeona pergi dan meninggalkan Minho dengan tatapan hampanya.

Mereka berdua hanya saling diam sambil menatap satu sama lain. Sedangkan ditempat lain dan diwaktu yang sama, Seoyeon masih diam dalam duduknya disebuah ruang kamar yang tidak ia kenal. Semuanya tampak mewah dan rapi.

*tok tok tok*

Seoyeon tidak menjawab, ia hanya memandang kearah pintu kamar itu dengan lemah dan tidak bersemangat. Pintu itu terbuka dan nampaklah sosok Chunji yang datang bersama Youngmin serta Niel. Mereka membawa banyak bungkusan makanan.

“Annyeong noona~!” sapa Youngmin yang langsung meletakkan plastic bawaannya dilantai dan memeluk Seoyeon dengan hangat.

Seoyeon mencoba tersenyum namun ia masih sedikit bingung. Tampaknya Chunji tidak berniat untuk menjelaskan semua ini, maka sebagai gantinya Niel yang tersenyum sambil menaruh beberapa kaleng minuman didalam kulkas dan menjelaskan semuanya.

“Semalam noona pingsan, Chunji sangat panik. Ia menelepon Youngmin untuk meminjam salah satu kamar hotel milik keluarganya”

“Youngmin? Hotel?”

Seoyeon menandangi Youngmin yang kini duduk disampingnya dengan heran. Ia menamang sering bersama mereka namun ia tidak pernah tahu ketiganya berasal dari keluarga seperti apa. Hanya Chunji, karena Yuri, salah satu bagian dari keluarga Lee yang merupakan pemiliki Domus Aurea Company yang pernah datang kesekolah.

“Ne. Keluarga Youngmin adalah pemilik jaringan hotel termewah dan termahal di Korea bahkan merupakan salah satu relasi dari Domus Aurea Company” jawab Chunji.

Sedangkan Youngmin hanya sibuk dengan ponselnya. Seoyeon sudah tidak tahu harus terkejut atau apa mengingat banyak latar belakang mengejutkan dari semua pelajar top disekolah swastanya itu.

“Lalu kau?” kali ini Seoyeon berbalik menatap Niel.

Niel hanya tersenyum kecil, “Aku tidak ada hubungannya dengan Korea”.

Youngmin berdiri lalu menepuk bahu Niel sambil tersenyum ramah, “Dia ini putra mahkota bangsawan Prancis. Di Seoul hanya sendiri namun kediamannya dijaga ketat oleh puluhan bodyguard dan dilayani belasan pelayan. Bukankah begitu Ahn Daniel?”

Niel hanya balas tersenyum sambil meneguk segelas air mineral ditangannya.

Sekarang ini rasanya Seoyeon mulai tidak percaya dimana ia tinggal, masih dibumi atau diplanet aneh lainnya. Bahkan ia diam – diam sedikit menyesal karena telah memaksakan diri untuk bisa belajar di Domus Aurea High School. Seperti dugaannya, terlibat dengan orang – orang kaya bisa membuat kehidupannya menjadi tidak tenang.

“Jangan bengong seperti itu, noona. Jessica Jung, eomma mu adalah seorang putris fashion. Dan appa mu, Kim Jaejoong seorang pengusaha sekaligus orang yang berbakat dalam bidang music. Itu cukup mengagumkan” Chunji mengacak rambut Seoyeon dengan lembut.

“Dari mana kau tahu?”

“Dulu, perusahaan keluarga noona adalah perusahaan fashion saingan kami” lanjut Chunji dengan tenang.

Seoyeon menoleh, ia tidak tahu kalau hoobaenya ini mengetahui sampai sejauh itu. namun pada akhirnya ia sudah kebal dengan semua kejadian mengejutkan yang terjadi.

***

“Sudah sepantasnya pertunangan ini diilaksanakan secepatnya”

Yoona menegaskan hal itu pada suaminya, Lee Seung Gi. Mr. Lee barus aja tiba di Seoul kemarin untuk menghadiri acara pertunangan putranya dengan yeoja pilihan istrinya itu. Ia hanya diam sambil meminum air yang disediakan untuknya.

“Kau yakin chagi?”

“Ne. Donghae dan Yeona sudah saling mengenal sejak mereka masih kecil. Bukankah dulu Donghae sendiri yang minta agar ia bisa menikah dengan Yeona?”

Mr. Lee hanya mengangguk sambil mendengarkan penjelasan istrinya dengan baik. Toh ia tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Baginya cukup jika semua menyetujui hal in dan jika semua ini baik untuk keluarganya.

Sedangkan Seoyeon sudah memutuskan kalau ia akan bicara langsung dengan Mrs. Lee. Chunji mengantarnya sampai kedepan gerbang rumah besar itu, sebenarnya ia ingin ikut masuk kedalam sana hanya saja ini bukan saat yang tepat untuk bertemu dengan seseorang yang seharusnya menjadi ibu tirinya itu.

Seoyeon menatap sekelilingnya dengan tenang sambil mencari sosok wanita cantik nan angkuh yang pernah ia temui disekolahnya beberapa waktu yang lalu. Sedangkan beberapa pelayan wanita datang menghampirinya.

“Ada yang bisa kami bantu?”

“Mrs. Lee?”

“Sedang ada pertemuan diruang tengah”

Seoyeon memabalas anggukan dan senyuman pelayan itu. Salah satu dari mereka langsung menjabat tangan Seoyeon dengan ramah.

“Noona Kim Seoyeon?”

Seoyeon hanya mengangguk dan membalasnya dengan senyuman canggung.

“Tuan muda Lee banyak bercerita tentang anda. Setiap kami menyiapkan seragam sekolah untuknya ia akan selalu ribut dengan kerapihan pakaiannya”

“Jinjja?”

Seoyeon menatap yeoja manis berseragam pelayan keluarga besar itu dengan sedikit terkejut. Ternyata Donghae sudah sampai sejauh itu, mau tidak mau dengan perlahan wajahnya memerah.

Keduanya telah sampai diruang tengah. Yeoja itu pamit pergi sedangkan Seoyeon menunggu dari kejauhan, ia bisa melihat ada Donghae disana sedang duduk dengan ekpresi kesal.

“Jadi kapan pertunangan ini dilaksanakan?”

“Dua hari lagi?”

“Yeona pasti akan senang”

“Jadi dua hari lagi? Baiklah!”

“MWOYA?! Aku…”

Donghae langsung berdiri dengan kesal ia menunjukkan kemarahannya namun kalimatnya terhenti ketika ia melihat ada seorang yeoja berseragam yang berdiri di ambang pintu. Dan Mrs. Lee menyadarinya ia menoleh dan menatap Seoyeon dengan tajam.

Yeona yang sedari tadi duduk dengan tenang kini ikut berdiri lalu meraih tangan Donghae dan merangkulnya dengan erat. Donghae meliriknya sekilas dengan terkejut sedangkan Seoyeon hanya memandangi keadaan ini dan membeku beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum pahit.

“Chukkae”

Ia berbalik meninggalkan tempat itu sambiil berusaha menahan air matanya agar tidak turun sedangkan Donghae masih berdiri mematung disana untuk beberapa saat dan menatap seluruh orang yang ada disana. Ia berusaha melepaskan tangan Yeona namun tampaknya yeoja itu ingin tetap menahan Donghae agar tidak pergi.

Namun pada akhirnya Donghae berhasil melepaskan tangan yeoja itu dari lengannya. Ia berlari menyusul Seoyeon yang sudah lebih dulu berlari didepannya.

Seoyeon terus berlari sejauh yang ia bisa. Ia tahu kalau ia bukan siapa – siapa meski sebesar apapun cintanya terhadap Donghae namun semuanya tidak akan pernah menjadi nyata soal kebahagiaan dan ketenangan mereka berdua. Ia merasa berdosa terhadap kedua orangtuanya yang sudah jelas tidak menyetujui semua ini.

“Seharusnya aku tidak melakukan ini sejak awal”

Seoyeon terisak pelan. Ia bahkan sama sekali tidak lagi mempedulikan tetesan air hujan yang mulai membasahi seragam sekolahnya itu. Ia berdiri didepan sebuah etalase toko yang sudah tutup, perlahan tubuhnya merosot dan akhirnya berjongkok lalu bersandar pada tembok.

Air matanya menjadi satu dengan air hujan malam itu.

“Apa kau menyesal, noona?”

Suara itu…

Ia mengenal suara itu dengan sangat baik. Hoobaenya yang selalu membuatnya kerepotan sekaligus tertolong belakangan ini. Chunji. Ia membawa sebuah payung. Ia berdiri lalu menghalangi cipratan air kubangan jalanan dengan tubuhnya dan tangan kanannya memegangi payung untuk melindungi Seoyeon agar tidak lebih basah dari yang sekarang ini.

Saat Seoyeon mendongakkan wajahnya, ia melukiskan senyuman manisnya yang khas. Bukan lagi senyuman menggoda yang biasa ia tunjukkan pada ribuan yeoja diluar sana. Hanya kepada Seoyeon ia bisa menunjukkan senyuman itu, bahkan Niel sendiri tidak pernah menyangka akan hal ini.

“Chunji –a? Sedang apa kau disini? Pulanglah… Belajar yang benar, bukankah kau bilang besok kau ada ulangan harian?”

Seoyeon mencoba tersenyum, meski matanya yang merah itu sudah memperjelas kalau ia baru saja menangis. Chunji tidak menjawab, ia melepas mantelnya lalu berjongkok dihadapan Seoyeon dan meletakkan telapak tangannya diatas kepala yeoja itu lalu menepuknya pelan.

“Untuk sekali ini saja, anggap aku seorang namja bukan seorang hoobae yang harus kau lindungi, noona. Bisa kan hari ini kau menurut pada ku?”

Perkataan Chunji terdengar aneh ditelinga Seoyeon. Ia memandangi namja dihadapannya itu dengan bingung, mereka memang hanya beda satu tahun saja. Tapi itu sama sekali tidak bisa merubah kenyataan kalau mereka adalah sunbae dan hoobae.

Donghae mengambil mantelnya dengan terburu – buru, eommanya melihat Donghae dengan heran namun sedetik kemudian ia menyadari sesuatu. Ia langsung berdiri didepan pintu, menghalangi Donghae untuk melangkahkan kakinya keluar dari rumah besar itu.

“Donghae! Berhenti!”

Donghae menatap eommanya dengan tatapan memohon, ia tidak bisa membiarkan Seoyeon berkeliaran diluar sana sedangkan cuaca hari ini sedang buruk dan baru saja diberitakan kalau aka nada badai menerpa Seoul malam ini.

“Eomma… Jebal…”

“BERHENTI MELAWAN, LEE DONGHAE!! Kau memilih yeoja itu dibandingkan eomma mu? Berani sekali dia bisa mempengaruhimu sampai sejauh ini!!”

Lagi – lagi tuduhan tak beralasan dilontarkan eommanya untuk Seoyeon. Donghae sudah mencoba bersabar belakangan ini, entah kenapa semuanya jadi terasa sangat berat dan sulit untuknya.

“Eomma, sekali ini saja. Maafkan aku tidak menjadi anak yang baik untuk mu”

Donghae menarik eommanya pelan dari depan pintu lalu ia segera berlari keluar menembus hujan dengan sebuah payung biru ditangannya. Ia yakin kalau Seoyeon belum berjalan jauh dari komplek mewah rumahnya itu.

“Berdirilah noona!” pinta Chunji sambil membantu Seoyeon berdiri dengan tangan kirinya.

Yeoja itu hanya diam dan menuruti ucapan Chunji. Namja manis itu tersenyum melihat sikap Seoyeon yang berubah padanya. Biasanya ia selalu berada didepan Chunji sebagai seorang senior dan anggota OSIS yang berkewajiban untuk melindungi dirinya sebagai pelajar kelas satu di Domus Aurea. Namun kali ini yeoja itulah yang ia coba untuk lindungi.

Seoyeon merasakan buminya berputar cepat dalam pandangannya dan pandangan matanya mulai terlihat samar – samar. Chunji bisa merasakan kalau yeoja itu demam saat ia meraih tangan Seoyeon tadi. Kali ini ia memandanginya dengan tatapan berkali lipat lebih khawatir daripada sebelumnya. Seoyeon kehilangan keseimbangannya, Chunji langsung meraih pinggang yeoja itu dan menahan tubuhnya sebelum roboh ketanah. Seoyeon memegangi kepalanya dengan tangan kanannya.

“Chunji –a… Mianhae… Kali ini aku tidak bisa melindungi mu sebagai seorang sunbae yang baik…”’ lirihnya pelan.

“Noona…”

“Aku tidak bisa menjadi contoh sunbae yang baik. Mianhaeyo…” kali ini Seoyeon terdengar sedang terisak pelan. Chunji semakin mengeratkan pelukan tangan kanannya dipinggang Seoyeon karena mungkin yeoja itu bisa jatuh kapan saja. Tangan kirinya agak kesulitan memegangi payung itu.

Donghae datang dari belakang mereka, ia bisa melihat dengan jelas kalau Chunji sedang melingkarkan tangannya disana, ditubuh yeojanya itu. Ia melangkah semakin cepat untuk merebut kembali yeojanya. Namun tiba – tiba saja langkahnya terhenti, padahal jaraknya hanya tinggal beberapa senti saja. Ia bisa mendengar Seoyeon terisak pelan.

“Noona… Tenanglah…”

Ia juga bisa mendengar suara Chunji dengan jelas.

Sebuah taksi melintas disamping mereka. Chunji langsung menyetop taksi itu, tepat saat itu Seoyeon pun pingsan. Dan perkiraan namja itu benar. Ia melepas payungnya lalu menggendong tubuh ramping yeoja itu.

Donghae masih berdiri mematung disana. Ia bisa melihat bibir pink Seoyeon berubah jadi lebih pucat, begitu juga dengan wajahnya. Entah kenapa ia rasanya pantas untuk menerima semua yang saat ini sedang dilihatnya, Seoyeon dilindungi namja lain yang bukan dirinya.

Ada sebersit rasa sesak didadanya dan rasa bersalah dihatinya. Chunji berhasil memasukkan Seoyeon kedalam taksi itu dan ia pun segera masuk kedalam taksi yang akan membawanya pergi menuju kediaman keluarga Chunji.

Donghae hanya bisa memandangi kepergian taksi itu dengan nanar. Ia menggigit bibirnya untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Karena memang tidak ada dalam sejarah kalau seorang pewaris Domus Aurea harus menangis karena seorang yeoja.

Namun tampaknya ia benar – benar ingin menangis dan berteriak seperti orang frustasi, karena ia memang benar – benar sedang frustasi saat ini. Ia menggigit bibirnya sendiri dengan kuat sehingga ada darah menetes keluar diujung bibirnya.

Ia menyadarinya ketika rasa asin darah itu merembes kedalam mulutnya. Ia mengambil sapu tangan dari sakunya. Sapu tangan biru safir dengan ukiran bintang, pemberian Seoyeon tahun lalu saat mereka menggelar festival kebudayaan terbuka di Domus Aurea High School.

Ia mengelap darah itu sambil memandangi sapu tangan itu dengan ragu. Lalu ia pun mengambil iPhonenya dan menghubungi seseorang diseberang sana.

***

Eunhyuk baru saja menyampaikan berita terbaru kepada Key dan Kevin soal Seoyeon. Lagi – lagi memang tidak ada cara lain selain membawa yeoja itu kabur dan pergi sejauh mungkin.

Mereka langsung mengontak seorang pengawal terpercaya keluarga Lee. Seorang namja tampan amsuk ketempat peristirahat ketiganya dengan senyuman tenang diwajahnya.

“Kenapa memanggil saya, tuan muda?” namja itu sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum ia bicara. Itulah adat istiadat kesopanan yang dipelajarinya untuk melayani keluarga besar itu.

“Aku tahu, kau yang membantu Seoyeon meloloskan diri. Bagaimana kalau kau membantu kami?”

Tawaran Eunhyuk membuatnya mengulas senyum singkat lalu matanya terlihat menyorot dengan tajam.

“Aku tidak membantunya, aku hanya melakukan apa yang seharusnya ku lakukan”

“Cho Kyuhyun, keturunan pengawal bangsawan yang cukup terkenal akan ketangguhannya dan sangat setia pada tuan yang dipilihnya. Bukankah itu benar? Berarti kau memilih Donghae hyung mu itu kan?” lanjut Eunhyuk.

Kyuhyun memandang Eunhyuk sekilas lalu tersenyum kecil. Donghae dan Eunhyuk sudah ia kenal sejak kecil bahkan mereka sudah memiliki hubungan batin sejak dalam kandungan. Kyuhyun selalu merasa sendirian namun ia berusaha kuat karena kedudukannya yang memang sudah ditetapkan oleh garis keturunan.

Donghae dan Eunhyuk menganggapnya seperti dongsaeng kecil yang patut dijaga, bukan seorang pengawal yang harus menjaga keamanan mereka setiap saat. Itulah sebabnya Kyuhyun sangat menghargai keduanya.

“Kau mengenal ku dengan sangat baik Lee Hyukjae” sahut Kyuhyun dengan evil smirknya membuat Kevin dan Key menghela nafas lega dan Eunhyuk tertawa kecil.

“Rasanya sudah lama kita tidak bicara dalam bahasa yang biasa. Kau selalu menjaga jarang terhadap kami karena status kedudukan mu. Ku harap kau bisa membantu kami lagi”

Permohonan Eunhyuk disambut dengan anggukan oleh Kyuhyun. Lalu namja itu pergi meninggalkan ruangan itu dengan tersenyum lega. Setidaknya ia mereka masih mengingat hubungan persaudaraan singkat itu.

TBC

hHee…

backsoundnya ke tuker…

Part selanjutnya baru Can You Hear Me by Taeyeon SNSD

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s