[Part 19] Domus Aurea Romance

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : Can You Hear Me – Taeyeon SNSD
==

Seoyeon mengerjapkan matanya beberapa kali sampai ia mulai terbiasa dengan cahaya yang pelahan masuk ke matanya. Ia menatap sekelilingnya dengan enggan, semua terasa asing namun seseorang tampak sedang terlelap disisinya.
“Chunji –a?”

Chunji bergerak dalam lelapnya, ia memandangi Seoyeon. Mereka sedang ada dirumah sakit untuk perawatan Seoyeon yang entah kenapa belakangan ini sangat mudah pingsan.
“Ada apa dengan ku?” tanya Seoyeon dengan wajahnya yang masih pucat.
“Noona terlalu lelah berfikir dan bertindak. Tekanan darah mu menurun sehingga kau sering mengalami pingsan. Itu kata dokter yang memeriksa mu”
Chunji berdiri lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana seragamnya. Membuat Seoyeon ingat kalau ia belum pulang sejak kemarin.
“Seragam ku?”
“Perawat yang menggantinya. Aku meminta mereka mengirimnya ke laundry”

*cklek!*

Pintu ruangan itu terbuka. Youngmin dan Niel masuk sambil mengembangkan senyumannya. Seperti biasa, Youngmin langsung berbaur dan memeluk Seoyeon dengan lembut.
“Noona? Gwaenchanayo?”
“Ne Youngminie –ah, aku hanya sedikit lelah” ucap Seoyeon pelan bahkan nyaris terdengar seperti bisikan.

Beberapa hari kemudian kesehatan Seoyeon kembali pulih, Kibum menjemputnya dengan sangat khawatir. Ia merasa bersalah karena telah membiarkan yeodongsaengnya itu terlibat masalah serumit ini. Ia bahkan menutupi perginya Seoyeon dari kedua orangtua mereka.
“Seo?”
“Oppa, apa sebaiknya aku menyerah saja huh?”
“Ku lihat kalian saling mencintai. Aku melihat saat kau dibawa kabur olehnya”

Seoyeon terkejut lalu menatap Kibum dengan sedikit takut. Ia tidak ingin orangtuanya semakin marah akan hal ini. Lagipula ia sudah mencoba menyembunyikan semuanya. Orangtuanya tidak akan curiga selama apapun ia tidak kembali kerumah karena Domus Aurea High School memiliki asrama.

*ccciiiittttttttttttttt!!!*

Kibum mengerem mobilnya dengan mendadak ketika ada sebuah audy putih memblokir jalannya. Seseorang keluar dari dalam mobil itu lalu membuka pintu tempat Seoyeon duduk dan menarik yeoja itu keluar dengan cepat.
Kibum hendak mengejar namja itu, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat plat mobil audy putih itu. Itu adalah mobil yang sama dengan waktu itu. Mobil yang terparkir dihalaman Domus Aurea High School saat pertama kali ia bertemu dengan Donghae.
“Sebaiknya mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri” bisiknya pelan lalu mengawasi mobil audy yang kian menjauh itu.
Kibum pun menyalakan mobilnya dan memacunya menuju kediaman keluarganya.

***

Seoyeon terus memukuli lengan dan bahu namja itu dengan cukup keras. Namja itu hanya diam sambil terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia membuka kacamata hitam dan syal yang menyembunyikan wajahnya tadi.
Seoyeon langsung terdiam setelah melihat siapa yang membawanya kabur dari mobil oppa kandungnya itu. ia langsung menghempaskan tumbuhnya di jok mobil dan menatap keluar jendela.
“Kenapa diam?” tanya namja itu datar.
“Mau apalagi sekarang?” balas Seoyeon dengan sebuah pertanyaan.

Donghae terus memacu mobilnya sampai kesebuah parkiran lantai paling atas salah satu Mall besar di Korea. Ia turun dari mobilnya lalu mengenggam tangan Seoyeon.
“Kajja!” ajaknya, namun Seoyeon tidak mau turun. Ia masih diam disana.
“Seoyeon –a?”

Seoyeon menghela nafas berat lalu memilih untuk mengalah dan keluar dari mobil itu. mereka berdua berjalan dalam diam. Donghae menggiringnya terus melewati tangga darurat hingga mereka sampai di rooftop, lantai paling atas dan tempat terbuka.
Semilir angin malam berhembus dengan damai dan menelusup kebalik pakaian mereka. Seoyeon diam – diam merasakan kedinginan, ia hanya memasukkan kedua tangannya kedalam kantung mantel bulu yang dibawa Kibum untuknya.

“Sekarang oppa mau apa lagi?” tanya Seoyeon berusaha tenang.
“Seoyeon –a, aku akan menolak pertuangan itu sebisa ku. Jadi ku mohon tunggu aku. Jangan bersikap seperti ini pada ku. Jebal…”
“Tidak! Eomma mu bisa melakukan apa saja untuk keinginannya dan aku tidak ingin ia menekan oppa lebih dari ini… Turuti saja… Lalu kita akhiri semua ini”

Seoyeon berusaha meyakinkan dirinya sendiri atas semua ucapannya. Sedangkan Donghae menatapnya dengan tidak percaya, ia terlihat sangat kecewa. Ia tersenyum pahit.

“Hanya sebatas ini kau mencintai ku, Seoyeon –a?”
“Oppa… Jangan egois. Mungkin ini untuk kebaikan kita”

Seoyeon menundukkan kepalanya, ia berusaha untuk tidak menangis. Donghae menahan emosinya, ia memegang kedua bahu Seoyeon dengan cukup kencang membuat yeoja itu menahan rasa sakit. Tiba – tiba saja ia kembali teringat dengan kejadian diruang OSIS yang lalu. Rasa ketakutan kembali menyelubunginya dan membuat tubuhnya menggigil.
“Op… pa…” lirihnya.

Donghae menyadarinya, ia langsung melepaskan Seoyeon dan mengangkat wajah Seoyeon yang mulai memucat.

“Seoyeon, berhenti meragukan ku dan percaya pada ku. Apa semua janji itu belum cukup untuk mu? Kenapa kau tidak menepatinya?”
“Aku…”
“Seoyeon! Kenapa kau membuat ku jadi gila begini hanya dengan memikirkan mu?”
“Aku…”
“Seoyeon –a, kau pikir kau siapa huh?! Bisa mempermainkan perasaan ku sampai seperti ini!!”
“Aku tidak…”
“Seoyeon –a!! Seharusnya aku tidak jatuh cinta pada mu sejak awal kalau kau selalu seperti ini. Takut, ragu dan kau bahkan jarang sekali menjadikan ku sandaran untuk mu. Aku semakin yakin kalau selama ini kau hanya main – main dengan ku!”
“Oppa… Aku…”
“DIAM! Sebaiknya kau tidak perlu bicara apa-apa lagi sekarang! Aku sudah mengerti semuanya, mungkin eomma benar kalau kau hanya mengincar harta keluarga ku. Kau tahu kan kalau aku ini pewaris tunggal perusahaan terbesar di Korea?”

Seoyeon hanya diam, ia menggigit bibirnya dengan kuat. Ia tidak akan bicara apa – apa karena Donghae –nya tidak menginginkannya untuk bicara. Ia tidak ingin membuat namja itu semakin marah atau semacamnya. Ia sadar kalau sekarang ia hanya berdua dengan Donghae. Tidak ada orang lain yang bisa melindunginya lagi. Dan ia tidak bisa juga tidak ingin lari.

“Ahh ya! Kau tidak mungkin tidak mengenal seorang Lee Donghae. Tunggu! Jangan katakan kalau selama ini kau bersandiwara”

Donghae terus bicara dan membentaknya. Seoyeon memejamkan matanya, ia tidak bisa melihat sorot mata tajam dan kemarahan Donghae saat ini. Hatinya terlalu sakit melihat namja dihadapannya itu hancur namun ia tidak akan menarik kata – katanya atau Mrs. Lee akan terus semakin menekan Donghae.

“Seharusnya aku sadar sejak awal kalau kau hanya mempermainkan ku atas dasar balas dendam untuk orangtua mu kan?! Kau sama saja dengan mereka! Cih! Sungguh rendahan!”

*plak!*

Dengan refleks Seoyeon langsung menampar Donghae. Wajahnya yang pucat kini memerah karena marah. Ia tidak terima kalau orangtuanya yang tidak tahu apa – apa malah dituduh tanpa bukti nyata.
“Jangan hina keluarga ku! Oppa bisa membenci ku semau mu! Tapi jangan bawa – bawa keluarga ku apalagi orangtua ku dalam masalah ini!”

Donghae memegangi pipi kanannya yang ditampar cukup keras oleh Seoyeon. Nafas yeoja itu begitu memburu karena marah, pipinya sudah basah karena air mata. Mungkin saat ini ia merasa sangat sakit hati namun ia tidak bisa berbuat apa –apa lagi. Karena semua ini tidak sepenuhnya kesalahan Donghae.
“Seo…” bisik Donghae dengan kecewa.
“Lupakan aku! Lupakan kalau kita pernah menjalin hubungan! Lupakan kalau kita pernah saling mengenal! Anggap saja aku melakukan balas dendam karena kemauan ku sendiri! Anggap saja aku memang mempermainkan mu dan tidak pernah mencintai mu sekalipun didalam hidup ku!!”

Seoyeon terus berusaha bicara disela – sela isak tangisnya sedangkan Donghae memandanginya dengan tidak berdaya. Ia tidak bisa membedakan apakah semua itu benar atau hanya usaha Seoyeon untuk membuatnya membenci yeoja itu.
“Seo… tidak bisa semudah itu! Kau benar – benar mempermainkan perasaan ku sampai sejauh ini”
“Kalau memang benar, kau mau apa? Membunuh ku? Silahkan!” tantang Seoyeon.

Donghae mengatupkan mulutnya, rahangnya mengeras karena marah. Ia langsung menarik tangan Seoyeon dengan kuat menuju mobilnya.
“Lepaskan aku!! Lepaskan!!” teriak Seoyeon sekuat yang ia bisa. Ia tahu aka n ada hal yang tidak beres setelah ini. Ia berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan Donghae, namun tenaga namja itu jauh lebih kuat daripada dirinya.

*bruk!*

Donghae mendorong Seoyeon masuk kedalam jok belakang mobilnya.
“Kau memang tidak lebih dari yeoja gampangan yang sering ku temui! Kau tidak berbeda dengan mereka yang hanya menginginkan harta ku!”
“Oppa! Lepaskan aku sekarang!! Atau aku tidak akan pernah memaafkan mu!” teriak Seoyeon dengan panik dan histeris.
Donghae membuka kemejanya, Seoyeon terus berusaha membuka pintu yang berada dibelakangnya. Tubuhnya sudah menggigil dengan hebat.
“Op… pa… Jebal… Kau mau apa?”
“Kau telah menghancurkan segalanya Seoyeon –a, dan aku akan mengambil apa yang berharga dari mu”

Seoyeon menggeleng dengan kuat.
“Oppa… Jangan… Jangan lakukan itu, ku mohon… Op… humphhh”
Donghae langsung mencium bibir Seoyeon dengan kasar, membuat ujung bibir yeoja itu berdarah. Sedangkan Seoyeon terus berusaha melepaskan diri dari Donghae yang kini sudah menguasainya. Namun ia tidak bisa berbuat lebih banyak ketika namja itu sudah melepaskan mantel yang dipakainya dan menarik dressnya.
“OPPPAAAAAAAA!! ANDWAEEEEEEEEE!!” teriak Seoyeon semakin histeris ketika ada sesuatu merasukinya. Dan selanjutnya telah menjelma menjadi hal yang tidak terduga dan pengalaman buruk untuknya.

*prang!*

Gelas yang dipegang oleh Jessica jatuh berserakan dilantai. Kibum dan suaminya, Jaejoong menoleh kearah dapur dengan khawatir.
“Eomma?”
“Seoyeon, dimana dia?”
“Di asrama kan?” tanya Jaejoong sambil melirik putranya.
“Ne” jawab Kibum dengan ragu.
Ia melirik jam tangannya, seharusnya Seoyeon sudah menghubunginya saat ini. Karena ia sempat mengirimi yeodongsaengnya pesan singkat untuk segera menghubunginya kalau sudah menyelesaikan urusannya nanti. Seoyeon tidak mungkin lupa akan hal itu. ia tidak pernah membiarkan siapapun mengkhawatirkannya.
“Eomma, aku tidur duluan!”
Kibum tersenyum canggung lalu langsung berlari keatas menuju kamarnya dan menutup pintunya. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan menghubungi Seoyeon.

[Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif…]

“Seoyeon –a…” bisiknya khawatir.

***

Sementara itu Eunhyuk sudah berulang kali mencoba menghubungi ponsel Donghae sayangnya ponsel itu seperti tidak bertuan, tidak ada yang menjawab panggilan teleponnya sedangkan firasatnya mulai tidak beres. Semalam Donghae dikabarkan tidak kembali kekediamannya namun ia tidak juga kembali keapartemen itu.

“Seoyeon, pikiranku tertuju pada yeoja itu” bisik Kevin sambil menekan rasa khawatirnya. Key membantu Eunhyuk untuk terus mencoba menghubungi Donghae namun hasilnya nihil. Kyuhyun datang dengan tergesa – gesa dan langsung menutup pintu ruangan itu.
“Gawat! Semalam Donghae hyung… pergi bersama yeoja itu dalam keadaan mabuk!”

Eunhyuk langsung berdiri dan menatap Kyuhyun dengan tajam.
“Mabuk kata mu?!”
“Ya, selain itu… dia juga dalam keadaan marah. Ia bisa melakukan apa saja pada yeoja itu” lanjut Kyuhyun dengan sangat khawatir.
“Dasar namja bodoh! Dia benar – benar bodoh!” ucap Eunhyuk dengan kesal.

Mereka berempat langsung memakai mantelnya dan pergi dengan mobil yang dikendarai Kyuhyun menuju sebuah tempat yang sudah diselidiki Kyuhyun.

Seoyeon membuka matanya dengan berat, ia yakin sekali kalau semalam ia pingsan saking shocknya. Seluruh tubuhnya serasa remuk. Ia meraih jaket terdekat lalu menutupi tubuhnya sendiri. Di jok depan ia bisa melihat Donghae yang sedang terisak didepan kemudinya. Ia sudah memakai seluruh pakaiannya hanya saja kemejanya tampak berantakan.

Pandangan Seoyeon kembali kabur karena air matanya mulai kembali menggenang disana. Ia tidak bicara, baginya sekarang semua sudah benar – benar berakhir. Tubuhnya pun seolah tidak mampu lagi menopang rongga kehidupannya. Ia hanya diam menatap kosong kedepan, ke langit – langit mobil. Ia seperti mayat hidup saat ini. Bahkan tubuhnya saja memucat.
Donghae menoleh kebelakang saat ia menyadari kalau Seoyeon sudah bangun.
“Seo –a…” lirihnya pelan.

Namun tidak ada reaksi disana. Seoyeon hanya mengatupkan bibirnya dan masih menatap kosong kedepan. Donghae bisa melihat ada setetes air mata meluncur dengan lancar diujung matanya. Dan hal ini membuat Donghae semakin merasa frustasi.
“Seoyeon –a, jawab aku dan katakan kau baik – baik saja!”
“…”
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali. Donghae memukul setirnya dengan keras.

“DONGHAE!!”
Suara teriakan Eunhyuk langsung merebut perhatiannya. Ia bisa melihat tidak hanya Eunhyuk yang datang. Ada Kevin, Key dan Kyuhyun juga. Eunhyuk membuka pintu mobil Donghae dengan paksa.
“Dimana Seoyeon?!” bentak Eunhyuk yang langsung meraih kerah kemeja Donghae yang berantakan. Kevin mengedarkan pandangannya lalu tatapannya berhenti pada jok belakang mobil Donghae.
“SEOYEON –A?!!” teriaknya.

Ketiga namja yang lain langsung menoleh. Key menatapnya tidak percaya. Bagaimana bisa yeoja itu hanya ditutupi sebuah jaket yang bahkan tidak hanya sampai seperempat pahanya.

“Hyung! Lepaskan jaket mu?!” teriak Key kearah Eunhyuk.
Eunhyuk yang paling stylist selalu memakai jaket yang cukup panjang. Eunhyuk langsung melepaskan jaketnya. Key memberikannya kepada Kevin. Kevin langsung meminta semuanya membelakangi Seoyeon. Ia langsung memakaikan jaket itu dan mengunci resletingnya.
Ia menarik Seoyeon keluar. Kevin sempat melihat ada bercak darah di jok belakang tersebut membuat ia mengatupkan rahangnya kencang sambil menatap Donghae dengan marah. Bagaimana pun juga Seoyeon adalah sahabatnya yang selalu berusaha ia lindungi.
Key membantu Kevin menggendong tubuh Seoyeon dan menindahkannya ke mobil yang mereka pakai.
“Mau kalian bawa kemana dia?!” Donghae lansgung keluar dan menghalangi keduanya.
Eunhyuk langsung meninju wajah Donghae berharap sepupunya itu sadar.
“Kau benar – benar gila Lee Donghae!” desisnya.

“Lee Donghae?… Donghae op…pa…” akhirnya Seoyeon bicara dengan lirih lalu ia pingsan. Dan tubuhnya semakin mendingin juga semakin memucat. Kyuhyun yang memang serba bisa itu langsung mengecek kondisi Seoyeon.
“Dia kritis. Kita harus membawanya kerumah sakit sekarang!”

Mereka semua langsung bergegas pergi meninggalkan Donghae yang masih mematung lalu kembali terisak dan duduk bersandar pada lantai beton itu sambil bersandar pada mobilnya. Ia benar – benar tidak menyangka akan melakukan sampai sejauh itu. Ia meraih dress yang semalam Seoyeon kenakan lalu memeluknya dengan erat dan terisak pelan.

Sementara itu di New York…

“Hyung, sebaiknya aku bertemu dengan Seoyeon…”
“Jangan bilang untuk yang terakhir kalinya” balas Onew sambil tertawa pelan.
Hari ini Minho sudah diizinkan untuk berjalan – jalan keluar. Ia memanfaatkannya untuk berkeliling didekat – dekat rumah sakit.
“Aku merindukan dan mengkhawatirkannya hyung”
“Karena kau mencintainya, Minho”
Minho tersenyum kecil saat mendengar ucapan Onew. Ia menghela nafas berat lalu menatap kearah langit yang biru itu, berharap ada jalan lain dan harapan baru untuknya agar bisa tetap hidup didunia ini jauh lebih lama lagi.

TBC

For the next backsound Prisiner Of Love – Utada Hikaru

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s