[Part 20] Domus Aurea Romance

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : Prisoner Of Love – Utada Hikaru

==

Seoyeon segera dilarikan kerumah sakit karena kondisinya yang terus menurun. Kevin sudah terisak pelan sejak tadi sedangkan Key berusaha untuk menenangkannya. Eunhyuk meremas tangannya sendiri dengan khawatir. Kyuhyun hanya berdiri mematung pada sisi tembok rumah sakit, ia bisa melhat kalau Donghae sedang dalam keadaan amat sangat kacau.
“Hyung, aku harus menemui Donghae hyung” ucap Kyuhyun sambil menatap Eunhyuk dengan cemas.
Eunhyuk tersenyum kecil lalu menunjuk kebelakang dan disana sudah ada Donghae yang sedang melangkahkan kakinya tergesa – gesa kearah mereka.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Donghae begitu ia sampai dihadapan Eunhyuk.
“Masi kritis. Ku rasa kau membuatnya tertekan, tuan muda” jawab Kyuhyun.
Ia tahu kalau Eunhyuk tidak akan bicara sama sekali ketika ia sedang marah.

Kevin langsung menghadap kearah Donghae dan menatapnya dengan tajam.
“Hyung, kau telah menodainya dan menghabisi masa depannya!”
Key langsung menahan tubuh Kevin agar tidak memulai aksi pukul memukul disana. Donghae menundukkan kepalanya, ia merasa pantas untuk dipukul saat ini.

“Sudahlah, hyung hanya sedang kacau” Kyuhyun berusaha menengahi suasana tegang itu.
“Kacau? Lalu seenaknya menekan orang lain?!” balas Kevin dengan teriakan putus asa dan membuat beberapa pengunjung rumah sakit menoleh kearahnya.

Seorang dokter keluar dari ruangan itu lalu melirik namjadeul itu.
“Dimana orangtuanya?” tanya dokter itu dengan heran.
Mereka tidak tahu harus memberitahukan hal ini atau tidak. Kalau sampai keluarga Kim tahu mungkin masalah ini bukan lagi masalah cinta melainkan masalah antara keluarga Kim dan keluarga Lee yang memang sedari dulu selalu bersitegang karena masalah bisnis.
“Kalau begitu… Siapa diantara kalian yang… suaminya? Dia bukan korban pemerkosaan kan?” dokter itu memandangi namja – namja yang sedari tadi diam itu dengan curiga.

Semua menatap Donghae, menunggu reaksi darinya. Eunhyuk hendak membuka mulutnya ketika Donghae tidak kunjung bicara namun Kyuhyun menahannya untuk memastikan jawaban Donghae.
“Aku! Aku… suaminya” suara Donghae terdengar parau.
Kevin, Key, Eunhyuk dan Kyuhyun mengawasi Donghae dengan seksama sambil mendengarkan penjelasan dokter dengan terperinci.

“Begini tuan, istri anda mengalami tekanan batin dan kekerasan. Apa anda memaksanya? Saya rasa ia sangat shock. Mungin setelah sadar nanti ia akan sedikit terguncang jadi saya harap anda menjaganya agar ia tidak mengalami tekanan emosional. Lagipula kondisi kesehatannya memang sedang tidak baik. Maaf, saya harus memeriksa pasien saya yang lain. Permisi” dokter itu pergi dengan langkah yang cepat menuju ruang selanjutnya.

Donghae mengepalkan kedua tangannya dengan penuh kemarahan yang rasanya ia ingin salurkan pada dirinya sendiri. Kevin memilih untuk masuk dan melihat kondisi Seoyeon bersama dengan Key. Kyuhyun melirik jam tangannya.
“Aku akan menyembunyikan kasus ini dari Nyonya Besar. Dan ku rasa ia sudah mencari ku. Permisi”

Kini hanya tinggal Donghae dan Eunhyuk. Eunhyuk menarik nafas dalam lalu menepuk bahu Donghae dengan pelan. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum bertindak” ucapnya datar.
“Hyung! Seoyeon –a sudah sadar!” Kevin mengabarinya dengan wajah yang berseri – seri.
Eunhyuk dan Donghae langsung masuk kedalam ruang rawat itu.

Seoyeon membuka matanya dengan perlahan. Ia memandangi sekelilingnya. Disana ada Kevin, Key dan Eunhyuk yang berdiri menatapnya sambil tersenyum hangat. Sedangkan disampingnya sudah ada wajah yang sangat familiar untuknya.
Ia langsung membuka matanya dengan lebar dan menatap Donghae dengan terkejut. Semua agak bingung dengan sikap aneh Seoyeon. Bahkan Kevin mulai terisak lagi dan Key menepuk bahunya dengan lembut.
“Kau…” bisik Seoyeon dengan pelan.

“Seoyeon –a, dia Lee Donghae. Donghae – mu” Eunhyuk mengusap kepala Seoyeon dengan lembut. Seoyeon menatap Eunhyuk dengan tenang lalu ia kembali menatap Donghae yang tampaknya kini semakin frustasi saja.

“Dong… Donghae oppa?”
“Ne. Seoyeon –a, ini aku”
Donghae langsung meraih Seoyeon kedalam pelukkannya namun Seoyeon langsung memberontak sekuat tenaga. Ia terisak pelan, air mata sudah mengalir di kedua pipinya. Donghae berusaha menenangkannya namun tidak berhasil.
“Lepaskan aku!! Lepaskan aku!!”
Akhirnya Donghae melepaskan pelukkannya. Ada beberapa tetes air mata yang mengalir dikedua pipinya yang mulus itu.

“Seoyeon –a…”
“Oppa… Jangan sentuh aku lagi… Jebal…”
“Seoyeon –a, mianhaeyo…”
“Andwae!! Aku bukan Seoyeon yang dulu! Aku sudah kotor, aku tidak pantas lagi untuk mu. Oppa… jebal… tinggalkan aku…”
Seoyeon benar – benar menangis dan terisak cukup kencang. Ia terus menjaga jarak dengan Donghae menggunakan kedua tangannya. Ia tampak sangat kacau. Donghae mencoba untuk menyentuhnya namun setiap ia melakukannya maka Seoyeon akan semakin histeris.
“Seoyeon, itu… itu aku yang melakukannya…” ucap Donghae dengan getir.
“TIDAK!! Tidak mungkin Donghae oppa melakukan itu pada ku! Jangan berbohong!!”
“Seoyeon –a…”
“Donghae oppa akan selalu menjaga ku dan aku percaya padanya. Ia selalu ada untuk ku. Ia menjaga dan membela ku… Sedangkan orang itu… Orang itu bukan Donghae oppa!! Dia orang lain!! Dia… dia… hiks…”
Seoyeon membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya.
“Seoyeon –a, mianhaeyo… Aku akan menjaga mu… benar – benar menjaga mu…”

Donghae mencoba untuk meraih Seoyeon namun yeoja itu kali ini terus merapat pada sandaran tempat tidurnya sambil memeluk bantal rumah sakit itu dengan erat. Ia menari selimutnya untuk menutupi sekujur tubuhnya yang mulai menggigil. Masih tersisa rasa perih disana dan itu membuat Seoyeon semakin hancur.
“Tidak… Jangan… Tinggalkan aku. Aku tidak bisa menjaga diri ku… Aku tidak pantas lagi untuk mu, oppa… Pergi… Jebal…”
Tubuh Seoyeon semakin menggigil. Donghae kini benar – benar putus asa. Ia menatap Seoyeon dengan sangat frustasi sekaligus sedih dan menyesal.
“Seoyeon –a… dengarkan aku! Aku yang melakukannya maka aku yang akan bertanggung jawab”
“Tidak! Bukan! Orang itu bukan Donghae oppa, Donghae oppa selalu bilang agar aku mempercayainya dan aku percaya ia akan melindungi ku juga menjaga ku… Bukan menghancurkan ku…”

Donghae dapat merasakan kalau tubuhnya ditarik mundur. Ia langsung menoleh dan menatap Chunji yang sudah berdiri dibelakangnya sambil menatapnya dengan marah. Disisi kiri – kanan dongsaeng tirinya itu sudah ada Youngmin dan Niel. Sedangkan Eunhyuk, Key dan Kevin sama – sama tidak beranjak dari posisi mereka.

“Aku sudah mendengar semuanya dari pengawal keluarga. Kyuhyun hyung. Ku harap sekarang hyung pergi dari sisi Seoyeon, sejauh mungkin”
Chunji memberikan tekanan nada peringatan pada kalimatnya.
“Dia yeoja ku!! Tidak ada hubungannya dengan mu!!” balas Donghae dengan nada yang sama dengan Chunji, penuh peringatan tajam.
“Kau tidak pernah membahagiakannya. Kau malah menghancurkannya sekarang kau bilang kalau dia yeoja mu? Bukankah itu memalukan? Kau melakukannya karena marah dank au merasa bahwa dia mempermainkan mu kan? Kau tidak percaya padanya lalu sekarang kau bilang dia yeoja mu? Kau namja yang menyedihkan!” desis Chunji.

Donghae menatap Seoyeon yang masih terisak. Chunji meraih yeoja itu dan memeluknya.
“Noona., uljima…” bisik Chunji kecil.
Youngmin menatap Seoyeon sekilas lalu ia langsung meninju wajah Donghae.

*bruk!*

Tidak ada yang berniat memisahkan mereka ketika sebuah hantaman lain dari Youngmin menghajar sisi wajah kanan Donghae. Donghae sudah tersungkur dilantai rumah sakit tanpa membalas sedikit pun.
“Kau telah menghancurkan noona ku!!”

*bug!*

“Kau telah merampas apa yang berarti darinya dengan paksaan!!”

*bug!*

“Kau tidak lebih dari laki – laki dipinggiran jalan kotor itu!”
Setelah dirasa cukup, Niel langsung menahan Youngmin yang akan melayangkan tinjunya lagi. Ia menahan tubuh temannya itu dengan kuat. Sementara Chunji sibuk melepas peralatan rumah sakit yang menempel ditubuh Seoyeon. Ia menggendong yeoja itu kedalam pelukkannya.
“Mau kau bawa kemana dia?” tanya Kevin dengan khawatir.
“Dia akan lebih baik berada dibawah perawatan aku dan teman – teman ku. Jauh dari namja itu!” ucap Chunji sambil melirik tajam kearah Donghae.

Chunji keluar diikuti oleh Youngmin sedangkan Niel menatap kearah sunbaenimnya itu dengan memamerkan senyuman ramahnya.
“Mianhaeyo… Anak itu, Youngmin. Dia menganggap Seoyeon sunbae sebagai noonanya. Mereka sangat mirip. Dan… noona Young meninggal bunuh diri setelah diperkosa karena ini sebuah aib besar bagi keluarga besarnya. Maka semua menutupi kebenarannya dan bilang kalau noonanya bunuh diri karena cinta. Jadi ku harap kalian mengerti. Dan Donghae hyung, berhati – hatilah dengan Youngmin. Temperamennya hampir sama dengan mu. Mungkin kalau kau tetap tidak membalasnya dan ia masih memukul mu… Bisa saja hyung meninggal hari ini. Sekali lagi maafkan kedatangan kami yang sedikit membuat kegaduhan. Annyeong!”
Niel langsung pergi meninggalkan ruangan itu. Donghae menatap kasur rawat Seoyeon yang kosong. Kevin, Niel dan Eunhyuk menatap Donghae dengan malas lalu pergi meninggalkan ruangan itu dan membiarkan Donghae sendirian disana sambil terisak pelan.

***

Seoyeon sudah kembali sehat, ia pun kembali ke Domus Aurea High School dengan sisa – sisa kekuatannya dan mencoba meyakinkan dirinya kalau ia harus membuat orangtua dan kakaknya bangga. Ia tidak menceritakan masalah itu pada siapapun. Hanya Eunhyuk, Key, Kevin, Chunji, Niel, Youngmin, Kyuhyun dan orang itu sendiri yang tahu, Lee Donghae. Seoyeon terus melangkahkan kakinya dengan biasa sambil membalas senyuman hoobaenya satu per satu. Ia jauh lebih pendiam dari pada yang seharusnya.

Korea khususnya Seoul sudah memasuki musim dingin dan butiran salju turun dengan perlahan. Seoyeon melangkahkan kakinya menuju gerbang luar untuk menunggu bis umum yang akan lewat didepan sekolahnya itu. Biasanya Donghae akan datang menjemputnya namun entah kenapa belakangan ini ia tidak ingin menemui namja itu dan terus memintanya untuk pergi sejauh mungkin dari kehidupannya.
Seoyeon mengadukan kedua telapak tangannya agar terasa lebih hangat. Syalnya tertinggal disekolah karena ia terlalu buru – buru. Jika tidak, Key dan Kevin akan memaksanya untuk pulang bersama mereka sedangkan ia sedang tidak ingin.
“Kau bisa sakit karena kedinginan, noona”

Chunji tiba – tiba saja sudah berada dibelakang Seoyeon dan melilitkan syal abu – abu dileher Seoyeon dari belakang. Seoyeon mengenggam syal yang melilit lehernya itu. terasa hangat namun tetap tidak bisa membuat hatinya membaik.
Chunji melangkahkan kakinya dengan perlahan dan kini berdiri dihadapan Seoyeon. Ia tersenyum kecil namun tatapannya begitu sedih dan seolah tersakiti. Ia tidak tega melihat yeoja yang dicintainya dalam keadaan seperti ini.
“Seoyeon noona…”

Seoyeon masih berdiri mematung sambil memejamkan matanya dan terisak pelan. Kilasan kenangan buruk itu kembali terlintas didalam otaknya dan membuat tubuhnya bergetar. Ia berusaha menenangkan dirinya dan menahan tangisannya. Chunji langsung memeluk yeoja itu dan menepuk – nepuk punggungnya dengan lembut. Seoyeon sendiri langsung menangis didalam pelukkan Chunji. Ia benar – benar butuh seseorang untuk dijadiikan sandaran saat ini. Ia tidak bisa menghadapi semuanya sendirian.
“Menangislah kalau itu bisa membuat mu merasa lebih baik” bisik Chunji.
Seoyeon terus meluapkan emosinya, ia menangis sambil menahan suara tangisannya di seragam Chunji. Ia tidak ingin orang lain menatap curiga kearah hoobaenya itu, namun ia juga tidak bisa berhenti menangis.

Sementara itu Eunhyuk yang kebetulan ingin menjemput Seoyeon untuk menggantikan Donghae itu menatap keduanya dari kejauhan. Ia memandang salju dikakinya lalu kembali mengangkat wajahnya. Ia menoleh kesisi kiri lalu kanan dan kembali menatap Chunji yang sedang memeluk Seoyeon.
“Aku tidak tahu harus apa sekarang. Ah… Lebih baik ku biarkan saja, saat ini Seoyeon pasti butuh sandaran. Lagipula namja kecil itu tampaknya bisa menjaga putri kami. Ku harap Donghae tidak akan pernah tergantikan” bisiknya kecil lalu berbalik pergi meninggalkan tempat itu.

***

Sudah satu minggu ini Donghae tidak bisa menemui Seoyeon dimana pun, yeoja itu terus menghindar setiap kali ia mencoba mendekat. Sedangkan Seoyeon sendiri kini sudah tinggal disebuah apartemen yang hanya diketahui oleh dia dan oppanya.
“Kau yakin tidak akan menemuinya?” tanya Kibum dengan khawatir.
Baik Kibum dan keluarganya serta keluarga Lee sama sekali tidak tahu soal kejadian pahit itu. Ia sengaja menyembunyikan semuanya agar tidak membuat keluarganya khawatir.
“Oppa~ buat apa bertemu dengan anak dari orang yang sudah menghancurkan keluarga kita? Anggap saja kalau selama ini aku salah dan tidak sengaja menjalin hubungan dengannya”
“Tapi aku melihat mu semakin hari semakin kacau, Seoyeon –a”
Kali ini Kibum membuatkan segelas coklat hangat untuk dirinya dan yeodongsaengnya itu. Ia merapikan rambut panjang Seoyeon yang tampak kurang rapi itu dengan jemarinya.
“Lihatlah! Kau bahkan bukan lagi little princess ku yang cantik seperti dulu”

Seoyeon mendelik kesal lalu mencoba menyingkirkan tangan Kibum dari kepalanya.
“Pergi kau daripada terus – terusan mengganggu ku!”
Kibum menghela nafas berat, ia menyerah untuk menghibur dan membujuk yeodongsaengnya itu. Ia kali ini mengganti wajahnya dengan ekspresi serius.
“Aku tahu kau terluka, cobalah temui dia dan bicaralah untuk mencari jalan keluarnya”
Seoyeon yang sedang tidak mood hari itu merasa kalau emosinya sudah tertahan diujung kepalanya. Ia berdiri lalu memukul meja dengan keras.

*brak!*

“Sudah ku bilang sekarang aku sangat membencinya dan aku sangat menyesal telah mencintainya! Jadi berhenti meminta ku untuk bertemu dengannya!! Arraseo?!”
Seoyeon akhirnya marah dan berteriak dengan air mata yang kembali jatuh dipipinya.
“Seoyeon -…”
Kibum memandang kebelakang Seoyeon dengan khawatir. Seoyeon kembali duduk lalu memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing karena semua masalah ini.

“Seoyeon –a…”
Suara namja kali ini bukan lagi suara Kibum. Seoyeon menoleh kebelakang sedangkan Kibum sendiri menarik nafas khawatir sekaligus berat. Disana, didepan pintu itu Donghae sudah berdiri mematung. Seoyeon agak terkejut dan sedikit khawatir ia namun berusaha untuk menyembunyikannya.

“Apa kau sebenci itu dengan ku?”
“Ya”
“Apa kau tidak ingin melihat ku lagi?”
“Ya”
“Apa kau benar – benar ingin aku pergi dari mu untuk… selamanya?”

Kali ini Seoyeon diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Baik Donghae ataupun Kibum sama – sama menunggu jawaban Seoyeon. Namun kali ini Seoyeon sama sekali tidak bersuara, ia hanya mengangguk lalu berbalik dan menundukkan kepalanya.
“Kau yakin? Tapi aku akan…” tanya Donghae lagi, ia ingin memastikannya sendiri.
“Pergilah…” suara Seoyeon terdengar lemah.

Donghae memandangi yeoja yang memunggunginya itu dengan tatapan penuh permohonan. Ia tahu kalau ia salah telah berbuat seperti itu namun itu benar – benar diluar kendalinya. Donghae menarik nafas dalam lalu berbalik pergi, dan Kibum langsung menyusul namja itu dengan cepat. Ia menahan bahu Donghae.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi saat aku membiarkan mu untuk membawanya dan menyelesaikan masalah kalian tapi… Mianhae, saeng ku sedang marah. Kau bisa berkunjung lain waktu lagi”
Donghae hanya mengangguk pelan lalu tersenyum sedangkan Seoyeon keluar dan menatap keduanya dengan kesal.
“Oppa! Pulanglah! Bilang pada appa dan eomma kalau aku baik – baik saja!”
Kibum langsung menoleh dengan terkejut dan menatap adiknya itu dengan bingung dan penuh rasa kekhawatiran.
“Hajiman Seoyeon –a kau…”
“Belajarlah untuk kuliah mu dan cepat selesaikan lalu oppa baru bisa kembali untuk mengunjungi ku lagi. Sekarang pulanglah!” pinta Seoyeon dengan tegas.

Kibum tidak ingin menambahkan beban pikiran Seoyeon, ia mengangguk pelan lalu pergi sedangkan Donghae masih berdiri disana, berharap Seoyeon akan datang padanya dan membicarakan semua ini untuk memperbaiki segalanya.
“Seo aku…”
“Jangan pernah datang lagi…”

Donghae belum sempat bicara lagi namun Seoyeon langsung berbalik meninggalkannya dan mengunci pintu apartemennya. Donghae pun menarik nafas dalam lalu pergi. Sedangkan Seoyeon terisak pelan dibalik pintu itu. Ia duduk bersandar disana sambil menahan tangisnya agar tidak bersuara.

***

Hari ini Seoyeon tidak pergi kesekolah dan sejak pagi tadi ia hanya duduk diam didalam apartemennya sambil menatap keluar jendela dengan tatapan lemah tanpa tujuan. Mala mini pun masih sama. Matanya terlihat sembap dan penampilannya begitu berantakan. Tampaknya seharian ini ia memang tidak melakukan apapun selain berbaring lalu duduk termenung didepan jendela. Wajahnya pun memucat.

Ia berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia memandangi wajahnya sebentar di westafel lalu tersenyum miris kepada pantulan dirinya dicermin.
“Aku sangat mencintainya dan keluarga ku. Aku tidak bisa menjaga diri ku dan tidak bisa mengontrolnya juga telah mengecewakan orangtua ku. Aku harus apa sekarang?” ucapnya lemah lalu kembali terisak. Ia memegangi pinggiran westafel lalu kembali memandangi dirinya dicermin. Ia memandangi cermin itu dengan kesal lalu memukulnya dengan kepalan tangannya.

*prang!*

Cermin itu pecah dan pecahannya berserakan dilantai kamar mandi. Kini punggung lengannya berdarah, namun Seoyeon hanya tersenyum dengan air mata terurai.
“Sakit… Perih… Namun tidak sesakit perasaan ku saat ini” lirihnya pelan.
Seoyeon jongkok dan mengambil salah satu dari pecahan kaca itu. Ia melangkah kan kakinya masuk kedalam bathtub lalu menyalakan keran airnya. Ia membaringkan tubuhnya disana, lalu tangan kanannya yang menggenggam pecahan kaca itu ia dekatkan kepergelangan tangan kirinya.
“Semuanya akan segera berakhir… Rasa sakit ini…” bisiknya pelan.
Kemudian ia menggoreskan pecahan kaca itu diipergelangan kirinya. Darah segar langsung mengalir deras disana. Seoyeon tersenyum lalu memejamkan matanya dengan perlahan.

Sementara itu hari ini Chunji memutuskan untuk mengunjungi Seoyeon. Ia sudah berhasil mendapatkan alamat apartemen Seoyeon dari Youngmin dan Niel yang sudah beberapa hari belakangan ini mencari tahu soal tempat tinggal Seoyeon.
“Kau yakin kita naik kesana bersama? Bagaimana kalau noona marah?” tanya Niel dengan khawatir. Youngmin sejak tadi hanya diam dan memutuskan untuk mengikuti saja.
“Tidak akan! Anggap saja kita sedang memberikan sebuah kejutan” usul Chunji dengan riang. Mereka pun menaiki lift menuju kekamar Seoyeon. Dan setelah itu mereka berhasil menemukan kamar tempat Seoyeon tinggal.
Youngmin mengetuk pintuny berulang kali namun tidak ada jawaban. Niel mencoba memutar kenop pintu itu ternyata sama sekali tidak dikunci, Seoyeon sebenarnya lupa menguncinya sejak ia kembali dari minimarket kemarin karena ia terlalu banyak pikiran.
Ketiganya masuk dengan perlahan namun ruangan itu tampak sepi.
“Seoyeon noona? Ini aku, dongsaeng mu!” teriak Youngmin tidak sabaran.
“Jangan berisik!” Niel mendelik kesal.

Samar – samar terdengar suara keran yang menyala.
“Tampaknya ia sedang ada ditoilet” putus Niel pada akhirnya.
Namun Chunji terus mendekat kearah pintu toilet itu dan ia menatapnya dengan curiga.
“Chunji –a! Jangan mesum begitu!” Youngmin memberikan peringatan.
Namun tampaknya Chunji tidak peduli. Kini ia terus melangkah mendekati pintu kamar mandi itu dan benar saja, ada genangan air disana. Chunji langsung panik, ia menatap Youngmin dan Niel.
“Bantu aku mendobrak pintu ini!”
“M-MWO?!” teriak keduanya bersamaan.
“PPALI!!”
Youngmin dan Niel langsung mendekat dan mereka pun menyadari kalau ada yang tidak beres disana. Ketiganya langsung berusaha mendobrak pintu itu.

*brak!*

Pintu itu menjeblak terbuka, Chunji langsung masuk dan mendapati tubuh pucat Seoyeon dengan darah dilantai kamar mandi itu. Youngmin dan Niel shock melihat keadaan ini. Chunji langsung berusaha mengeluarkan tubuh Seoyeon dari bathtub. Ia kemudian langsung menggendongnya, tidak peduli dengan air dan darah yang kini sudah menempel dikemeja dan almamater seragam sekolahnya.
Mereka langsung membawa Seoyeon pergi diiringi tatapan penuh tanda tanya dan kekhawatiran pengunjung lain. Youngmin langsung menghampiri meja resepsionist dan memintanya untuk segera membereskan kamar tempat Seoyeon menginap.
Niel sudah siap didepan kemudi, Chunji memasukkan tubuh Seoyeon kedalam mobil itu. youngmin duduk didepan, disamping Niel ia mengeluarkan banyak kain perban dan melemparnya kebelakang.
“Hentikan darahnya!”

Chunji langsung meraihnya dan berusaha untuk menghentikan tetesan darah ditangah kiri Seoyeon. Ia memerbannya dengan paksa. Ia menangis menatap yeoja itu lalu memeluknya dan mencium dahinya.
“Noonaa… jebal…” lirihnya pelan.

Niel dan Youngmin menatap Chunji dari kaca depan. Baru sekali ini mereka melihat Chunji menangis seperti itu setelah mereka masih kecil dulu. Dimana ia tahu kalau ia adalah anak gelap dari hubungan rahasia antara eommanya dengan pemilik Domus Aurea Company, Lee Seung Gi. Saat itulah terakhir ia menangis histeris seperti ini, mau tidak mau Niel dan Youngmin berkaca – kaca melihatnya.
Mereka pun membawa Seoyeon secepatnya menuju rumah sakit.

TBC

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s