[Part 21] Domus Aurea Romance

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : Why Did I Fallin Love With You? – TVXQ

==

Seoyeon kehabisan darah cukup banyak. Dan para dokter spesialis yang dipanggil Chunji langsung mengerahkan semuanya untuk mencari pasokan darah. Chunji terus terisak sambil mengenggam tangan Seoyeon yang dingin.
Youngmin dan Niel berdiri dibelakangnya dalam kebisuan. Mereka tidak tahu harus berbuat apa saat melihat kondisi Chunji saat ini. Sementara itu kenangan buruk Youngmin terus bangkit, bagaimana kalau ia kehilangan ‘noona’-nya lagi? Kepalanya mulai sakit, Niel mencoba untuk menenangkan Youngmin.

*cklek!*

Yuri memasuki ruang rawat itu lalu menaruh tangannya di bahu Chunji, putranya.
“Gwaenchanayo, Chunji –a?” bisiknya dengan lembut.
Chunji menoleh lalu meraih tangan kanan eommanya dan mulai terisak pelan. Yuri berdiri dan mengusap dengan lembut rambut putranya sambil menatap Seoyeon, yeoja yang sedang terbaring diruangan itu.
“Eomma akan membiayai semuanya, kau tenang saja. Uljima Chunji –a”

Sementara itu dikediaman keluarga utama Lee.
Semuanya sedang sibuk dengan perencanaan anggaran keuangan yang akan dikeluarkan untuk pesta pertunangan Donghae dan Yeona yang akan berlangsung dalam waktu dekat. Mungkin hanya tinggal hitungan minggu atau bahkan hari. Donghae enggan keluar kamarnya sejak tadi. Pikirannya semakin kacau saat ia mengetahui kalau Seoyeon benar – benar marah dan tidak membutuhkannya lagi.
Ia memandangi foto Seoyeon yang tersenyum dengan mengenakan seragam sekolahnya. Donghae sengaja menempelnya disamping rak bukunya agar tidak seorang pun bisa menyadarinya.
“Seoyeon –a…” lirihnya.

Kyuhyun datang dengan tergesa – gesa. Ia langsung menuju kamar Donghae, namun tampaknya ia mengurungkan niatnya ketika ia mengingat kondisi Donghae yang sedang kacau. Ia langsung berlari menujur ruangan lain. Sebuah ruang istirahat yang terletak dilantai paling atas rumah itu. Tempat dimana Donghae, Eunhyuk, Key dan Kevin menghabiskan waktu mereka ketimbang harus berkeliaran didalam rumah mewah yang terasa menekan itu.
Dugaannya benar, ketiganya sedang berkumpul disana dengan kegiatan yang terasa cukup membosankan.
“Kyu –ah?” Eunhyuk memandangi Kyuhyun yang masih berdiri mematung didepan pintu dengan nafas yang tersenggal – senggal.

“Hyung, Seoyeonie… Dia…”
“Ada apa? Katakan!” Kevin langsung berdiri dan menatap dengan penuh kekhawatiran.
“Dia dirumah sakit” lanjut Kyuhyun.
“Rumah sakit?” Key mengerutkan alis matanya, menunjukkan keheranannya.
“Sebaiknya kalian kesana!” usul Kyuhyun sebelum ketiga namja itu melemparkan pertanyaan lain untuknya. Dengan segera semuanya mengambil jaket mereka untuk segera pergi dari rumha itu dengan tergesa – gesa.

***

“Dimana namja pengecut itu huh?!”
Chunji memandangi Eunhyuk dengan tatapan murka. Ia mencari – cari keberadaan Donghae diantara ketiganya. Chunji berusaha menekan kemarahannya yang terasa sudah menumpuk itu sedangkan Eunhyuk mencoba untuk menenangkan situasi tegang ini. Ia juga tidak tahu apa permasalahan sebenarnya. Key, Kevin, Youngmin dan Niel memilih diam.

“Chunji –a, seharusnya kau memanggilnya dengan sebutan ‘hyung’ bukan?”
“Jangan bercanda dengan ku. Dia bukan hyung ku. Dia tidak lebih dari orang asing”
“Kalian satu ayah, ingat itu!”
“Berhenti membicarakan hal macam itu! Dimana dia?”
“Dia tidak datang bersama kami”

Chunji tersenyum meremehkan lalu tertawa mengejek. “Dia benar – benar kurang ajar!”
Eunhyuk langsung membuang pandangannya, ia sebenarnya tidak menerima kalau sepupunya itu dimaki – maki anak kecil yang menurutnya tidak tahu sopan santun itu. Namun ia ingat kalau semuanya berawal dari kesalahan Donghae sendiri.
“Apa maksud mu?”

Chunji membuka pintu ruang rawat Seoyeon. Eunhyuk, Key dan Kevin tersentak melihatnya. Kondisi Seoyeon bisa dibilang sangat tidak baik. Dengan tubuh pucat, selang infus yang terpasang dan bahkan alat bantuan pernafasan. Belum lagi mesin pendetektor detak jantung itu menunjukkan seberapa lemah jantungnya bekerja.
“Dia kritis… Kalian tidak tahu kan kalau ia mencoba bunuh diri? Dan kalian pikir semua ini karena siapa huh?!”

Kevin langsung berbalik, Key menatapnya dengan bingung.
“Mau kemana kau?”
“Aku ingin bicara dengan Dongahe hyung” jawab Kevin datar.
Sementara itu Chunji tertawa dengan miris, “Katakan padanya, jauhi Kim Seoyeon! Dan selamat atas pertunangannya yang akan segera berlangsung itu. Dan satu lagi, terimakasih telah membuat Seoyeon noona hancur”

*blam!*

Chunji membanting pintu itu didepan wajah Eunhyuk. Youngmin dan Niel memandangi ketiga namja itu sambil mengunyah permen karet dengan tenang.
“Katakan padanya, kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada noona –ku. Aku akan buat perhitungan dengannya” Youngmin tersenyum kecil sambil masuk kedalam ruang rawat itu setelah sebelumnya mendorong bahu Eunhyuk. Niel hanya menggelengkan kepalanya lalu menatap Kevin yang kini menoleh padanya.
“Donghae hyung harus berusaha sekuat dirinya melangkah sebesar harapannya dan keinginannya. Jika menyerah sampai disini mungkin semuanya akan menjadi akhir yang tidak menyenangkan. Kalian akan berfikiran kalau Chunji adalah anak yang tidak baik. itu karena kalian tidak mengenalnya dengan baik. Ku beri tahu satu hal ia menyayangi dan mencintai hal yang berbeda. Hal yang membuatnya bisa menyerah kapan pun dan mungkin bisa membuatnya semakin merasa kesepian”

Seperti biasa, Niel sang putra bangsawan selalu meninggalkan kalimat aneh yang membuat Key dengan senang hati berusaha memecahkannya dengan kemampuan otaknya itu. sementara itu ketiganya kembali ke kediaman keluarga Lee.

***

Kesehatan Seoyeon sudah berangsur pulih setelah seminggu ini menjalani perawatan yang diberikan oleh Yuri ahjumma. Tampaknya yeoja itu menyayangi Seoyeon ketika ia tahu kalau putranya begitu mengagumi yeoja itu. yuri juga sering mengunjungi Seoyeon dan berbagi pengalaman uniknya dengan yeoja itu.
“Nah… Hari ini kau bisa pulang, mungkin Chunji akan kehilangan diri mu karena ia tidak bisa melihat mu sesering ini”
“Eh? Kenapa begitu?”
“Ku dengar darinya kalau kau adalah orang yang cukup sibuk. Baiklah! Ini barang – barang mu dan supir keluarga akan mengantar mu pulang. Dan ingat! Kau harus bilang pada orangtua mu soal masalah kau dirawat disini”
“Mereka akan khawatir”
“Tapi mereka akan merasa sangat bersalah”
Yuri memberikan pengertian, ia menatap Seoyeon dengan penuh keyakinan. Seoyeon hanya tersenyum kecil sambil mengangguk.
“Akan ku pikirkan, gomawo ahjumma”
“Ne!”
Yuri melirik jam tangannya. Chunji masih ada disekolah saat jam – jam seperti ini. Ia memutuskan untuk membantu Seoyeon membawa barang – barangnya. Yuri menunjuk salah satu supirnya untuk mengantarkan yeoja itu pulang.

Mobil hitam itu berlalu meninggalkan rumah sakit sedangkan Yuri masih berdiri mematung disana. Ia menghela nafas berat.
“Kim Seoyeon… Dia yeoja –nya Donghae-ssi. Semoga Chunji tidak merasakan sakit yang ku rasakan karena berharap terlalu banyak. Yeoja itu sangat mencintai Donghae sekaligus sangat membencinya. Ku harap dia akan baik – baik saja”

***

Pagi ini kediaman keluarga besar Lee tampak sangat sibuk. Besok adalah hari pertunangan Donghae dan Yeona. Keduanya tampak sedang berjalan mengunjungi salah satu butik ternama untuk melihat gaun dan jas pasangan yang cocok untuk dikenakan nanti. Yeona tampak bahagia sedangkan Donghae sepertinya tidak begitu minat dengan acara ini.
“Oppa… menyanyilah untu ku” ucap Yeona dengan manja sambil menggandeng tangan Donghae. Sedangkan Donghae hanya menoleh singkat.
“Oppa~”
Kali ini Yeona membentuk kerucut kecil pada bibir mungilnya yang entah kenapa selalu membuat Donghae ingin menutupnya dengan lakban. Itu tidak sama dengan Seoyeon, bibir Seoyeon selalu membuatnya ingin menciumnya dengan lebih dan lembut. Tanpa sadar Donghae menyapukan ibu jarinya pada bibirnya sendiri.
Rasa rindu itu kembali muncul. Ia tidak tahu bagaima kabar Seoyeon saat ini setelah Kevin dan yang lainnya datang kekamarnya untuk memberitahukan hal buruk tentang kondisi yeoja itu. Namun ia tidak bisa keluar dari rumahnya sendiri. Ia tidak bisa bertindak egois atau para penjaga itu akan dipecat oleh eommanya sedangkan mereka memiliki keluarga untuk dihidupi.
“Oppa~ jebal… nde? Kenapa tidak mengucapkan kata – kata saranghaeyo atau joahe, seperti dulu lagi? Aku benar – benar merindukannya”

Donghae menghentikan langkahnya lalu menatap Yeona dengan kesal.
“Itu dulu! Sekarang semuanya berbeda. Jadi berhentilah bicara! Kau membuat telinga ku sakit, lalu hentikan begelayutan ditangan ku! Itu membuat ku risih, arraseo?!”
Donghae langsung melepas gandengan tangan Yeona. Sedangkan yeoja itu menghela nafas kesal sambil menghentakkan kakinya cukup kuat.

Sementara itu Seoyeon dan teman SMPnya, Hyoso tampak sedang asyik menjalani reunian mereka sambil sesekali berbagi cerita.
“Lalu, bagaimana dengan Donghae? Namjachingu mu itu. Ku dengar kalian akan bertunangan? Ya kan?” Hyoso menyenggol bahu Seoyeon dengan gemas.
Seoyeon tersenyum tipis lalu menggeleng pelan dan membuat Hyoso diam sambil memandangi sahabatanya itu dengan heran.
“Hajiman…”
“Bukan aku, tapi yeoja lain”
“Eh? Jinjja? Janga bercanda dengan ku, Seoyeon –a!”
Kali ini Hyoso mengacak rambut panjang Seoyeon dengan kesal. Seoyeon langsung menahan tangannya sambil menatap Hyoso dengan putus asa.
“Tapi aku serius!”
“Eo? Lupakan dia kalau begitu!”
Hyoso langsung menyendok pudding coklat yang tersaji didepannya. Sedangkan Seoyeon menatap kosong kearah luar jendela café tersebut.
“Kau tahu? Minho sakit keras” Hyoso menyandarkan tubuhnya pada kursi sambil memandang Seoyeon yang tampak terkejut itu.
“Dia tidak pernah bilang pada ku”
“Dia ke Amerika untuk menjalani perawatan bukan belajar. Dia home schooling. Ku dengar ia memaksakan diri kembali ke Seoul untuk bertemu dengan mu. Apa kau benar – benar tidak tahu akan hal ini?”
Hyoso tidak habis pikir kalau sejak berpacaran dengan sunbae yang kabarnya akan bertunangan itu dan itu pertanda kalau ia akan meninggalkan sahabat mungilnya ini, Seoyeon menjadi yeoja yang berbeda. Ia bahkan sampai tidak peka dengan Minho sedangkan mereka bertiga cukup dekat. Ya, Hyoso, Seoyeon dan Minho sudah bersahabat sejak awal mereka duduk di bangku SMP di Paran Junior High School.
“Apa dia akan kembali ke Seoul?”
“Ku rasa iya, tapi entah karena apa”
“Mungkin untuk menghadiri pesta pertunangan adiknya. Choi Yeona dan… Lee Donghae?”
Bibir Seoyeon seakan terkunci dan kata – katanya hilang begitu saja ketika ia melihat diseberang jalan sana ada Donghae yang sedang digandeng oleh Yeona. Yeoja itu tampak energik dan bahagia. Seoyeon tersenyum samar lalu setetes air mata jatuh begitu saja.
“Ada apa dengan mu, Seoyeon –a?”
Hyoso merasa sedikit kebingungan akan sikap Seoyeon yang tiba – tiba saja menangis itu. Namun Seoyeon malah tersenyum lalu berdiri, “Mata ku kemasukan debu. Aku harus ke toilet sebentar untuk mencuci muka”
“Ehmm… arraseo!”

Seoyeon langsung beranjak dari tempat itu. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju toilet. Ia memandangi wajahnya dicermin. Kondisi tubuhnya sedang kurang baik karena ia terus merasakan pusing dan kadang – kadang mual. Ia juga tampaknya memucat.
Seoyeon memejamkan matanya lalu membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari keran di westafel itu. Ia menyandarkan tubuhnya pada westafel itu lalu ia sedikit terkejut ketika ada seseorang membuka pintu. Yeona dengan gaun soft pinknya berdiri disana, memandangi Seoyeon.
Seoyeon langsung berdiri tegak dan mengambil tissue lalu beranjak keluar. Namun Yeona menahannya dengan beberapa kata yang terlontar dengan begitu jelas namun cukup untuk membuat Seoyeon semakin hancur.
“Eonni… Lepaskan Donghae oppa dan biarkan dia bahagia bersama ku”

Seoyeon langsung pergi meninggalkan tempat itu. Ia kembali ke mejanya dengan Hyoso lalu meraih tasnya.
“Hyoso –a, kita pergi sekarang! Aku ingin pulang”
“Seo, tapi makanan mu?”
“Lupakan!”
Hyoso langsung mengikuti langkah Seoyeon yang beranjak menuju keluar dari café itu sedangkan Donghae baru saja kembali kemejanya setelah ia memesan beberapa menu makanan. Sedangkan Seoyeon sibuk menarik Hyoso untuk segera keluar dari café itu. keduanya lewat dibelakang Donghae dengan begitu cepat.
Sedangkan Donghae berbalik dan mencari tempat yang kosong ketika didepan café itu berhenti sebuah taksi yang distop oleh Seoyeon. Ia dan Hyoso masuk kedalam taksi itu dan pergi. Donghae mengatur posisi duduknya untuk menghadap ke jendela.
Ia melirik sesuatu yang tergeletak diatas meja itu, sebuah kotak kecil. Donghae melirik kiri – kanan untuk mencari pemiliknya namun ia tampaknya tidak bisa menemukannya. Karena penasaran Donghae membuka kotak itu dan sebuah gelang perak serta sebuah lipatan kertas kecil jatuh dari sana. Donghae yang penasaran langsung membuka lipatan kertas kecil itu.

Dear My Baby,
Ini hadiah kecil dari appa dan eomma untuk ulangtahun mu yang ke-17. Seoyeon –a, kau sudah cukup besar sekarang. Kau mulai tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik. Kau juga anak yang penurut dan baik.
Semoga harapan dan kebahagian mu akan selalu berjalan dengan lancar. Ingat! Jaga diri mu baik – baik dan sayangilah orang yang menyayangi mu. Dan satu lagi, appa percaya pada mu.

Donghae menatap surat itu dengan sedikit bingung. Seoyeon. Sebuah nama yang disebutkan didalam surat itu membuatnya membeku. Tujuh belas tahun? Ulang tahun Seoyeon? Ia bahkan tidak tahu akan hal itu. Donghae langsung mengambil gelang itu dan mengamati liontin berbentuk hati itu dan sebuah ukiran kecil tertulis disana ‘Kim Seoyeon’. Donghae langsung berdiri dan masukkan gelang serta surat itu kedalam kotaknya lalu memasukkannya kedalam saku. Ia pergi keluar café itu dan menatap sekelilingnya berharap yeoja itu masih ada disekitar sana, namun langkahnya terhenti ketika Yeona entah sejak kapan sudah meraih lengannya.
“Oppa mau kemana?”
“Yeona, kau pulang sendiri. Aku ada urusan!”
“Hajiman… oppa!!!”
Yeona terlambat karena Donghae langsung masuk kedalam mobilnya dna pergi begitu saja dengan kecepatan tinggi. Yeona mendecak kesal lalu memutuskan untuk pulang dengan taksi.

Donghae terus berusaha menghubungi Kevin setelah beberapa kali barulah namja itu mengangkat teleponnya dengan malas.
“Mwoya hyung?” tanya suara diseberang sana tanpa mengucapkan salam sama sekali.
“Apa kau tau tanggal ulangtahun Seoyeon?”
“Kenapa menanyakannya pada ku? Seharusnya hyung jauh lebih tahu dari pada aku”
“Kevin –a~ jebal…”
“Saat kau melakukan hal buruk padanya. Sebenarnya itu hari ulangtahunnya yang ke-17. Tadinya kami berusaha menelepon mu untuk bekerjasama membuat pesta kejutan kecil. Sayangnya hyung malah memberikan kejutan besar”
“Jadi…”
“Sudahlah hyung!”

*klik!*

Mobil Donghae berhenti ketika sebuah taksi menghalangi laju mobilnya dan seseorang turun dari dalam taksi itu. Donghae sangat mengenalinya, ia adalah Seoyeon. Setelah taksi ittu pergi, Donghae pun turun dari mobilnya lalu melangkahkan kakinya dengan cepat kearah Seoyeon sebelum yeoja itu lari dari darinya.
“Seoyeon –a!”
Seoyeon menoleh lalu ia tampak terkejut. Seoyeon langsung mematung ditempatnya dan wajahnya memucat, tampaknya ia ketakutan.
“Ikut dengan ku!”
“Tidak mau!”
“Seoyeon –a, jebal…”
Seoyeon malah terus menggelengkan kepalanya. Donghae semakin mendekat dan mencoba menyentuhnya namun Seoyeon langsung mundur dan tubuhnya mulai bergetar.
“Seo… aku ingin kita bicara”
“Disini saja!”
“Didalam mobil ku? Bagaimana?”
“Mobil mu? Oppa… tidak! Aku tidak mau masuk kedalam mobil itu lagi!”
Seoyeon langsung berjongkok dan menutup kedua telinganya dengan tangannya. Ia menggeleng dengan cepat dan penuh dengan kepanikan. Donghae menyadari kalau beberapa orang yang lewat memandanginya dengan curiga. Donghae berjongkok dihadapan Seoyeon lalu mendekap yeoja itu dan itu berhasil membuat tubuh Seoyeon makin bergetar dan mendingin.
“Seoyeon –a, mianhaeyo… Jangan bersikap seperti ini pada ku” lirih Donghae.
Air matanya jatuh dengan perlahan sedangkan Seoyeon sudah terisak pelan sejak tadi. Donghae membantu Seoyeon untuk berdiri kemudian meraih tangannya.
“Baiklah kalau kau tidak mau masuk kedalam mobil ku, kita bisa bicara dengan tenang disini”

Seoyeon berusaha menatap wajah namja dihadapannya itu kemudian detak jantungnya kembali normal dan ia semakin tenang.
“Seoyeon –a, hubungan kita belum berakhir dan ku harap aku bisa menikahi mu secepatnya sebelum pertunangan ini dilaksanakan. Tidak ada cara lain selain membawa mu pergi. Dan maaf telah memberikan hadiah ulangtahun yang buruk bagi mu. Maafkan aku…”
Donghae memeluk Seoyeon dan menangis pelan dibahu yeoja itu sambil memejamkan matanya. Sedangkan Seoyeon hanya diam dan membeku karena ia tidak tahu harus berbuat apa lagi saat ini.
Sementara itu tanpa sengaja, Mrs. Lee melihat kejadian ini. Ia memandangi putranya yang sedang memeluk seorang yeoja dengan tajam. Ia mengetahui dengan pasti siapa yeoja tersebut. Kemudian ia tersenyum kecil.
“Semuanya akan berakhir dan ini yang terbaik untuk mu, Lee Donghae”

***

Hari ini adalah hari pertunangan Donghae dan Yeona. Donghae sudah merancang rencana untuk membatalkan semuanya dan membawa Seoyeon pergi bersamanya. Ia mengedarkan pandangannya, seluruh anggota keluarga beserta teman terdekat hadir dalam acara itu. Ia bisa melihat Eunhyuk, Kevin dan Key yang sedang ebrdiri dipojok sana dengan ekspresi tidak berminat. Donghae memandang kearah pintu lalu Chunji datang dengan seseorang… Ia adalah Seoyeon yang sedang mengenakan gaun biru selutut. Dia tampak begitu bersinar disana dan membuat Donghae tersenyum mengaguminya. Segalanya yang ada pada diri Seoyeon selalu tampak sempurna dimatanya.
Kevin langsung menyambut Seoyeon dan memeluknya dengan riang.
“Kau baik – baik saja kan?” tanya Key dengan ekspresi penuh kekhawatiran.
“Ne” Seoyeon berusaha mengulas senyuman diwajahnya.

Seoyeon mulai merasa tidak enak badan lagi. Chunji menawarkan diri untuk mengantarnya. Seoyeon bisa saja tersasar didalam rumah besar itu. Chunji menunggu Seoyeon didepan pintu sedangkan yeoja itu masuk kedalam dengan lemas.
“Kondisi ku semakin hari semakin lemah saja” keluh Seoyeon.
Lalu ia teringat sesuatu, alat pendeteksi kehamilan yang pernah diberikan perawat ketika ia menceritakan soal penyakit pusing dan mualnya. Seoyeon memandangi dirinya dicermin dengan ragu dan takut.
“Tidak, aku hanya kelelahan saja” ia berusaha menepis pemikirannya.
Ia langsung mengirimkan pesan singkat kepada perawat itu lalu dia meminta Seoyeon untuk mencobanya. Seoyeon memandanginya dengan ragu. Namun pada akhirnya ia mencobanya lalu menunggu beberapa detik. Beberapa detik yang membuat kehidupannya kembali berubah drastis. Air matanya turun dan tubuhnya menggigil dengan hebat. Ia menangis didalam sana dan membuat penampilannya berantakan.
Chunji yang khawatir dan mendengar suara tangisan langsung mendobrak pintu itu dengan paksa. Ia terkejut ketika mendapati Seoyeon tengah menangis sambil terduduk dilantai kamar mandi itu.
“Noona?”
Seoyeon menoleh lalu ia menangis didada Chunji. Ia benar – benar tampak kacau. Chunji sendiri tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Namun pandangannya terhenti pada sebuah benda yang tergeletak tidak jauh dari sana dan menunjukkan tanda positif. Chunji diam – diam meneteskan air matanya lalu memeluk Seoyeon dan membiarkan yeoja itu terus memangis sampai ia benar – benar lelah dan tenang.
“Gwaenchana noona… Uljima…”

Acara pertukaran cincin akan segera dilakukan. Namun Donghae tampak tidak tenang. Ia memandangi sekelilingnya untuk mencair Seoyeon. Dan ia terkejut ketika menemukan yeoja itu tampak berbeda. Matanya sembap dan Chunji sendiri tampaknya tidak membiarkan Seoyeon lepas dari dalam rangkulannya.
Donghae, Eunhyuk, Key dan Kevin langsung menghampiri Seoyeon dan Chunji.
“Ada apa?” tanya Eunhyuk dengan cepat.
Seoyeon hanya menundukkan wajahnya, Donghae menahan rasa cemburunya karena Chunji. Sedangkan Chunji memandangi keempatnya dengan tatapan datar.
“Hyung, selamat atas pertunangan mu. Dan mungkin aku akan menyusul mu dengan sebuah pernikahan bersama dengan Seoyeon noona. Sekarang kami izin pergi dari pesat ini. Seoyeon noona butuh istirahat”
Chunji membawa Seoyeon pergi sedangkan keempatnya mematung disana berusaha mencerna kalimat Chunji tadi. Namun Key langsung membeku ketika menyadarinya.
“Apakah… Seoyeon hamil?” bisik Key dengan tidak percaya.
Semuanya terkejut, terutama Donghae. Ia memandangi Key dengan tidak percaya lalu ia segera berlari keluar dari kerumunan pesta itu.

“DONGHAE!” teriak Eunhyuk.
Namun ia terlambat karena Donghae sudah menyeruak dibalik kerumunan dengan kecepatan tinggi. Ia yakin setelah ini acara pertunangan yang seharusnya membahagiakan ini malah menjadi kegagalan yang luar biasa.
Dengan segera Eunhyuk, Key dan Kevin berlarian mengikuti Donghae namun mereka terlambat karena Donghae sudah melaju cepat dengan mobilnya.
“Sial!” hardik Eunhyuk dengan kesal.
“Hyung, kita harus mengejarnya!” pinta Key dengan cepat.
Mereka bertiga langsung masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan Kyuhyun untuk mengantisipasi hal semacam ini.

Sementara itu Donghae terus menginjak pegal gasnya sampai kebatas maksimal. Ia seperti orang yang kesetanan didalam pikirannya hanyalah bagaimana cara mendapatkan Seoyeon kembali sekaligus mengetahui apakah itu benar atau tidak. Namun ia yakin semua itu benar karena Seoyeon tidak mungkin menikah di usia dini tanpa alasan yang kuat. Ia ingat bagaimana ketika yeoja –nya itu dengan penuh semangat menentang soal menikah di usia dini. Donghae semakin kacau, apalagi ia kembali teringat kalau hari itu adalah hari ulangtahun Seoyeon dan ia malah memberikan kado terburuk dalam kehidupannya.

Disisi lain, Kevin terus mencoba untuk menghubungi Seoyeon dan tidak ada satu pun panggilan yang dijawab olehnya. Ia tampak sangat cemas akan keadaan keduanya saat ini. Hyung dan sahabatnya.
“Ia bahkan tidak mengangkat telepon ku!” teriak Kevin putus asa.
“Kita harus mendapatkan salah satu dari mereka. Mendapatkan Donghae dan menahannya atau mendapatkan Seoyeon untuk menenangkan Donghae. Masalahnya aku tidak tahu kemana mereka pergi!” kali ini Key menghenyakkan dirinya dijok mobil dengan tatapan penuh dengan kekhawatiran.

Donghae terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dan akhirnya ia kehilangan kontrol. Didepan sana ada portal pembatas jalan yang sudah bergerak turun. Namun terlambat untuk Donghae memelankan laju mobilnya.

*brak!!*

Kejadiannya begitu cepat. Kilatan cahaya lampu mobil dan alarm pembatas jalan tampak menyilaukan. Mobil mewah milik Donghae kini hancur sedangkan kepala namja itu langsung terhantam setir mobil dengan sangat keras. Darah segar mengalir dari sana. Dan ia pun pingsan.

Sedangkan itu disaat yang sama Seoyeon membiarkan angin dingin malam menyentuh kulitnya. Ia tampak tidak baik saat ini. Wajahnya tampak lelah dan lebih pucat sedangkan Chunji sudah pulang lebih dulu. Seoyeon memintanya agar ia dibiarkan sendiri. Entah kenapa degupan jantungnya semakin kencang dengan seiring waktu dan pikirannya terarah pada Donghae.
Seoyeon meneteskan air matanya sambil mengusap perutnya dengan lembut.
“Semua akan baik – baik saja” lirihnya.
Namun tanpa sengaja, gelas plastik dari susu hangat yang dipegangnya jatuh diatas rerumputan dan menumpahkan isinya. Seoyeon memegang dadanya yang terasa sesak dan rasa khawatir menyelimutinya.
“Donghae oppa… Donghae oppa…” panggilnya dengan lirih sebelum ia akhirnya pingsan.

TBC

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s