[Part 22-end] Domus Aurea Romance

Title : Domus Aurea Romance
Author : Ichen Aoi
Cast : Kim Seoyeon
Lee Donghae Super Junior
Chunji Teen Top
Choi Minho SHINee
Support cast : banyak, temukan sendiri Hhee…
Note : Sekuel ke dua dari Dormitory High School
Backsound : I Will Love You – Hyorin SISTAR

==

Jaejoong dan Jessica tampak sangat panik. Mereka melangkahkan kaki dengan sangat cepat untuk menuju ruang rawat Seoyeon. Chunji dan yang lainnya pada akhirnya harus memberitahukan keadaan Seoyeon saat ini mengingat kondisi yeoja itu terus menurun. Namun mereka tampaknya masih menutupi masalah kehamilannya dengan Donghae.
Kibum pun saat ini sedang berusaha mengorek informasi dari Chunji yang tampaknya tidak berniat untuk buka mulut. Ia ingin Seoyeon sendiri yang bilang akan hal ini.

“Kalian terlalu banyak menyembunyikan rahasia soal yeodongsaeng ku” keluh Kibum.
Ia pun memutuskan untuk pergi ke kantin rumah sakit. Ia ingin membeli beberapa makanan kecil untuk orangtuanya. Ini sudah waktunya makan siang. Kibum mengedarkan pandangannya lalu tatapannya terhenti pada sebuah ruangan yang cukup berisik. Ada suara yeoja menangis disana. Kibum pun sedikit mengintip kedalam. Ia memandangi wajah pasien tersebut.

“Donghae –ssi?”

Namun dahinya berkerut karena ia sama sekali tidak mengenal yeoja yang sedang menangis disamping namja itu. Namja yang ia ketahui sebagai namjachingu dongsaengnya. Atau lebih tepatnya ‘pernah’. Karena ia tahu bagaimana marahnya Seoyeon saat menyuruh namja itu pergi.

*bruk!*

Kevin tidak sengaja menabrak Kibum yang baru saja mengalihkan perhatiannya untuk melanjutkan perjalannya. Dibelakang Kevin, Key langsung menahan tubuh sahabatnya itu sedangkan Eunhyuk menatap Kibum dengan bingung.
“Mianhae” ucap Kibum pelan lalu pergi meninggalkan mereka.

Sedangkan ketiga namja itu langsung masuk kedalam ruang rawat Donghae. Mereka agak menyipitkan matanya ketika mendapati Yeona sedang terisak disana.
“Uljima… Air mata mu tidak akan merubah keadaan” ucap Eunhyuk dengan nada yang datar.
Yeona langsung menoleh dan menatap ketiga namjadeul itu dengan kesal.
“Kalian bertiga!! Kenapa tidak menghalangi Donghae oppa huh?!”
“Menghalangi? Dan membiarkan hyung bertunangan dengan mu huh?” balas Kevin tidak mau kalah.
“Setidaknya ia akan baik – baik saja jika bertunangan dan menikah dengan ku! Bukan dengan yeoja pembawa masalah itu!!” teriak Yeona dengan putus asa.
“Siapa yang kau maksud dengan pembawa masalah huh?!” kali ini Key menatap Yeona dengan cukup tajam. Eunhyuk langsung menengahi mereka bertiga dan meminta Yeona agar diam, namun tampaknya yeoja itu tidak berniat untuk membungkam mulutnya.
“Siapa lagi kalau bukan yeoja gampangan itu?! ia selalu mengejar Donghae oppa meski tahu kalau Donghae oppa adalah tunangan ku!!”

*Plak!*

Kevin menampar Yeona. Wajah namja itu berubah jadi merah padam. Ia bukanlah orang yang mudah marah kalau tidak ada masalah yang menurutnya penting dan serius.
“Janga kata – kata mu nona Choi!” desisnya dengan kesal.

Key langsung meraih tangan Yeona dan membawanya keluar ruangan itu lalu menutup pintu ruang rawat tepat didepan wajah yeoja itu. Yeona yang kesal malah memaki – maki pintu didepannya.

Sementara itu Eunhyuk berdiri disamping tempat tidur Donghae. Ia menatap sepupunya itu dan menghela nafas dengan berat.
“Donghae –ya, aku tahu kau sudah sadar saat yeoja kecil itu meraung – raung. Jangan bersikap lemah dan berpura – pura dihadapan ku, Lee Donghae”
Dan benar saja, Donghae langsung merubah posisi tidurnya. Ia tersenyum kecil lalu mulai bicara dengaan suara yang pelan.
“Lee Hyukjae, tidak ada yang bisa ku sembunyikan dari mu. Dimana dokternya, aku ingin perban ku dibuka. Terlalu gelap, membuat ku sesak”

Key langsung berdiri dan ia pergi keruang dokter. Sedangkan ketiganya tampak sibuk saling bertukar cerita dengan serius.

Dokter itu melepaskan perban Donghae dengan perlahan. Tidak ada luka serius pada wajahnya, hanya ada beberapa luka memar yang dalam hitungan hari akan memulih kembali. Namun satu hal yang diyakini dokter itu, Donghae mungkin saja kehilangan penglihatannya.

“Maaf sebelumnya, tapi mungkin akan ada beberapa gangguan. Saya harap semua bisa menerimanya dengan lapang dada”

Ucapan dokter itu membuat Eunhyuk, Key dan Kevin memandang sang dokter dengan kebingungan. Jangan tanyakan dimana Mrs. Lee, ia kesal dan sangat marah karena Donghae kabur begitu saja dari acara pertunangannya. Sedangkan Mr. Lee memang sedang menjalani usahanya di luar negeri lagi.
Donghae dengan perlahan membuka matanya, awalnya ia bisa melihat ada cahaya buram yang masuk namun lama – kelamaan cahaya itu memudar dan akhirnya berubah jadi gelap. Air mata turun dengan perlahan dikedua pipinya.

“Dokter… Apa… Saya buta?” bisiknya lemah.

Eunhyuk, Key dan Kevin langsung terkejut dan mendekati ranjang Donghae. Mereka menuntut penjelasan kapada sang dokter.
“Maafkan saya. Namun ada benturan kencang di kepala anda yang menyebabkan terganggunya syaraf fungsi penglihatan anda”
Usai bicara seperti itu, dokter itu langsung pergi meninggalkan ruang rawat Donghae. Donghae bisa mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Ia menghela nafas berat lalu memejamkan matanya.

“Lebih baik kalian tinggalkan aku sendiri dulu”

Tidak ada yang bicara. Mereka langsung menuruti permintaan Donghae. Ruangan itu kembali sunyi dan senyap hanya terdengar suara kicauan burung gereja dari luar jendela. Donghae mencoba membuka matanya dan berusaha melihat namun semuanya hanya sia – sia belaka. Tidak ada satu pun pantulan cahaya yang datang. Yang ada hanya kegelapan saja.

Seoyeon membuka matanya dengan perlahan. Kepalanya terasa pusing. Ia memandangi sekitarnya. Wajah oppanya, Kibum langsung masuk kedalam penglihatannya.

“Op… pa…”
“Seoyeon –a, appa dan eomma baru saja pulang karena café sedang ramai pengunjung. Kau ini terlalu kelelahan dan dokter meminta mu untuk istirahat. Dan… Seoyeon –a, apa kau menyembunyikannya dari keluarga mu?”

Seoyeon memandangi Kibum dengan bingung. Namun Kibum langsung memeluk Seoyeon dengan hangat. Air matanya jatuh dengan perlahan.

“Mianhaeyo… aku tidak bisa menjaga mu. Aku bukan oppa yang baik untuk mu”
“Oppa?”
“Usia kandungan mu sudah 13 hari. Aku memaksa Niel mengatakannya pada ku. Youngmin dan Chunji tidak bicara apapun juga dokter yang merawat mu”
“Mianhe…”
“Seoyeon, siapa yang melakukannya?”
“….”
“Apakah dia namja itu? Donghae?”

Seoyeon mendorong tubuh Kibum lalu tersenyum dengan mata yang sayu.
“Aku baik – baik saja. jangan katakan apa pun pada appa dan eomma”
Akhirnya Kibum menyetujuinya. Dan ia menyimpan rahasia Seoyeon bersamanya.
***

Seoyeon bangun dari tempat tidurnya. Ia memutuskan untuk melihat – lihat keluar. Kadang pemandangan Seoul bisa menjadi sangat indah untuknya.

*bruk!*

Seoyeon menatap kearah suara. Ada seorang pasien namja yang tampaknya terjatuh, ia langsung menghampirinya untuk membantu namja itu berdiri.
“Gwaenchanayo?” tanyanya dengan lembut.
Bukan jawaban yang ia dapatkan melainkan sebuah nama untuknya.
“Seoyeon –a?”
Seoyeon menatapnya dengan bingung lalu ia sangat terkejut setelah melihat siapa namja itu. Dia adalah Lee Donghae. Seorang Donghae yang selama ini bersamanya. Seoyeon tersentak, ia handak mundur dan berlari pergi namun sesuatu menghalanginya. Tatapan Donghae. Tatapan namja itu tidak terfokus dan tampak sedang mencari – cari.
“Seoyeon –a, apakah itu kamu?”
Seandainya ini dalam keadaan biasa, mungkin Seoyeon akan tertawa sambil memukul namja itu dengan kesal. Namun kali ini berbeda, bagaimana bisa Donghae tidak melihat dirinya yang kini sedang mematung dihadapannya?
“Seoyeon –a, jawab aku! Aku sedang tidak bercanda… aku… buta…” ucap Donghae dengan nada yang lirih.
Seoyeon tersentak, air matanya langsung turun. Ia meraih Donghae dan memeluknya dengan lembut. Namja itu terisak pelan didalam pelukkannya begitu juga dengan Seoyeon sendiri.
“Oppa…” lirihnya sambil terus memeluk namja itu.
Mereka berdua berpelukan sambil duduk dilantai rumah sakit yang dingin. Entah apa yang sedang mereka pikirkan saat ini. Tidak ada yang saling bicara satu sama lainnya, mereka hanya saling terisak pelan.

***

Pertunangan Seoyeon dan Chunji akan segera berlangsung. Yeona masih tidak mau melepaskan Donghae sedangkan orangtua Seoyeon memang tidak setuju kalau Seoyeon masih terus melanjutkan hubungannya dengan Donghae. Pertunangan ini juga harus segera dilaksanakan secepatnya karena usia kandungan Seoyeon sudah mendekati usia satu bulan.
Semua anggota keluarga sudah mengetahui soal masalah ini. Bahkan Jaejoong pernah datang dan meminta pertanggung jawaban dari keluarga Donghae namun sayangnya Yoona malah meminta Seoyeon mengugurkannya.
Sedangkan Donghae masih dirawat dirumah sakit dan belum mengetahui apa – apa tentang masalah ini. Yeona pun hari ini datang untuk memberiitahukan masalah ini.

“Annyeong oppa~”
“Yeona –ya?”
“Ne!! aku membawakan undangan pertunangan sekaligus pernikahan Seoyeon eonni”
Donghae langsung beranjak duduk saat mendengar ucapan Yeona. Ia mencari yeoja itu dan meraih bahunya cukup kencang.

“Apa maksud mu? Jangan bohong pada ku!!”
“Donghae oppa… aku tidak bohong. Seoyeon eonni akan menikah dengan Chunji. Aku tidak menyangka ia akan memilih namja yang lebih muda darinya, meski hanya satu tahun”

*brak!!*

Eunhyuk datang lalu menarik Yeona keluar. Untung saja ia datang disaat yang tepat. Kevin dan Key menyeruak masuk lalu duduk dikursi yang ada ditepi ranjang rawat tersebut. Donghae dapat mengetahui dengan pasti siapa yang datang dari wangi parfum mereka.
“Apa itu benar?” bisi Donghae pelan.
“Ne. Lusa. Lusa Seoyeon akan menikah dengan Chunji, adik tiri hyung” jawab Key dengan pasti. Donghae membuang arah pandangannya. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Rasanya sakit, tertekan dan perih. Ia tidak berkata apa – apa dalam beberapa menit. Kemudian ia tersenyum kecil namun air mata mengalir dikedua pipinya.
“Aku tahu… Aku yang buta ini sudah tidak pantas untuknya. Dia benar – benar meninggalkan ku sekarang”

Eunhyuk yang baru masuk lagi itu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana sambil mempertimbangkan hal yang ingin ia bicarakan dengan sepupunya itu. jika ia terus diam, Donghae mungkin akan menganggap kalau Seoyeon sangat kejam meninggalkannya seperti ini.
“Donghae –ya, aku tidak menyalahkannya”
“Apa maksud mu Hyukie –a?”
“Ku rasa kau harus tahu. Dia hamil anak mu dan usianya sudah hampir menginjak satu bulan. Keluarganya tidak ingin Seoyeon hamil tanpa suami. Lalu Chunji datang dan menawarkan dirinya. Bahkan keluarga Lee dari pihak Chunji menyetujuinya asalkan diantara keduanya tidak ada masalah”
“Kenapa tidak datang pada keluarga ku?”
“Mereka sudah mencobanya namun eomma mu malah memberikan keluarga Kim sejumlah uang agar anak itu digugurkan. Makanya tidak ada cara lain. Dan kali ini aku tidak bisa mencegah pernihakan ini. Aku tidak ingin anak mu lahir tanpa ayah”

Eunhyuk berbalik dan mendapaai Seoyeon sudah berdiri mematung disana. Yeoja itu menggigit bibir bawahnya menahan tangisnya. Ia tidak ingin Donghae menyadari kehadirannya. Kevin dan Key yang mengerti langsung pergi meninggalkan tempat itu bersama Eunhyuk.
Seoyeon masuk dengan perlahan. Donghae menghela nafasnya dengan berat.
“Suster, apakah mereka sudah pergi?”
“Ne” jawab Seoyeon dengan pelan dan berusaha tenang.

Donghae menghapus air matanya lalu merebahkan tubuhnya kembali. Ia menghela nafas berat sambil bergumam pelan.
“Aku mencintainya… sangat mencintainya… sekarang semuanya benar – benar berakhir dan membuat ku hancur…”
Donghae bisa merasakan ada aura lain disisinya. Seoyeon, yang ia kira suster masih berdiri disana sambil memandangi namja itu dengan kepedihan yang mandalam.
“Tinggalkan saya! Saya rasa saya butuh sendirian”
“Tapi ini jam makan siang anda”
Seoyeon terus berusaha setenang mungkin. Namun tampaknya percuma menyembunyikan suaranya, karena Donghae bisa mengenalinya dengan sangat mudah. Suara yang selalu ia harapkan ada untuknya dan mengucapkan kata – kata yang bisa memulihkannya saat ini.
“Seoyeon –a?!”
“…”
Tidak ada jawaban karena Seoyeon sedang berusaha menahan isak tangisannya. Donghae mencoba berdiri dan beranjak dari tempat tidurnya namun ia malah kehilangan keseimbangannya. Seoyeon langsung menahan tubuh kekar namja itu. Donghae langsung memeluknya dengan erat.
“Seoyeon –a… jebal… jangan tinggalkan aku…”
“…”
Tidak ada jawaban.
Seoyeon berusaha melepaskan pelukan Donghae. Ia terisak pelan lalu dengan perlahan membantu Donghae kembali ketempat tidurnya. Ia meraih wajah namja itu dan mencium bibirnya dengan singkat sebelum ia pergi. Donghae terus memanggil namanya, Seoyeon dapat mendengarnya dengan jelas. Ia menangis dan terus berlari, menjauh dari rumah sakit itu.

***

Hari ini adalah hari pertunangan sekaligus pernikahan antara Seoyeon dan Chunji. Minho juga hadir dalam acara ini. Entah bagaimana perasaannya saat ini. Chunji melangkahkan kakinya menuju lantai dua. Ia membuka pintu itu dan menatap Seoyeon yang masih duduk didepan cermin dengan gaun putihnya. Ia benar – benar terlihat cantik. Chunji menutup pintu dibelakangnya. Seoyeon berdiri dan menatap Chunji lalu tersenyum kecil.

“Aku tidak pernah menyangka semuanya bisa jadi seperti ini”

Seoyeon tampak memaksakan tawanya. Chunji terus mendekat lalu menyudutkan yeoja itu pada meja rias. Seoyeon memandangi Chunji dengan heran dan sedikit khawatir.

“Ada apa, Chunji –a?”

Chunji tidak menjawab sama sekali. Ia mengunci tubuh Seoyeon yang dibelakangnya terhalangi meja rias. Namja itu mencium bibir Seoyeon dengan panas lalu beralih pada leher jenjang yeoja itu. Namun ia tidak meninggalkan bekas apapun. Ia melakukannya dengan lembut. Sesuatu jatuh di terasa dijemari namja itu, Seoyeon menangis tanpa suara. Chunji melepasnya dan melangkah mundur dengan perlahan.

“Pergilah…”

Seoyeon memandangi Chunji dengan heran. Lengan kanannya memegangi lehernya yang tadi dicium Chunji. Ia tersenyum kecil lalu manatap lantai keramik.
“Apa maksud mu? Kau ingin melepaskan ku? Apa yang tadi hanya bentuk ujian dari mu semudah apa aku mudah ditakhlukan?”

Chunji menggeleng pelan lalu ia memeluk Seoyeon dan kembali mencium bibir yeoja itu dengan lembut. Rasanya basah dan asin, karena Seoyeon terus menangis. Chunji terus menciumnya tiada henti dan tidak memberikan sedikit ruang untuk yeoja itu bernafas sampai dirasa sudak terlalu sesak. Ia melepaskan Seoyeon lalu memandangnya dengan tatapan terluka.

“Jika aku memilih bersikap egois, aku tidak akan melepaskan noona semudah ini. Anggap saja yang tadi itu adalah salam perpisahan dari ku. Karena aku tahu sekeras apapun aku berusaha mendapatkan noona, pikiran dan hati noona akan terus bersama Donghae hyung. Pergilah… Aku yang akan menangani pesta ini, sendiri”

Seoyeon menatap Chunji dengan terkejut. Namun ia berusaha meyakinkan dirinya. Seoyeon pun pergi lewat pintu belakang sedangkan Chunji meneteskan air matanya sambil menatap dinding dan memegangi bibirnya sendiri. Ini adalah pertama kali ia melakukannya dengan yeoja yang ia cintai dengan tulus namun ini juga jadi yang terakhir untuknya.

***

Seoyeon memegangi gaunnya dengan susah payah. Ia terus berlari sepanjang lorong rumah sakit lalu ia berhenti disebuah ruang rawat. Seoyeon membuka pintu itu dengan perlahan. Donghae tampak duduk sambil memandang kearah jendela. Ia tidak bisa melihat apapun namun instingnya yang mengajarinya dan menuntunnya seperti itu.
Bunyi berisik ditimbulkan oleh hak sepatu Seoyeon dan membuat Donghae menoleh. Wajahnya tampak pucat dan matanya sembap. Ini bukan hal yang baik. Seoyeon meraih tangan namja itu dan menggenggamnya dengan erat.

“Seo…yeon… ah?” tanya Donghae dengan ragu.
“Ne… Oppa…” balas Seoyeon ditengah isakan tangisnya.
“Kenapa disini bukankah hari ini…”
“Chunji memutuskan untuk melepaskan ku”
“Seo –ah, jangan memberikan ku harapan kosong… Kau bahkan tidak tahu kalau semalaman aku tidak bisa tidur dan sibuk menangisi kebodohan dan kemalangan ku sendiri. Jika harus kehilangan mu… mungkin itu jalan yang terbaik… Kau bisa melepaskan ku dan hidup bahagia”
Seoyeon diam sejenak lalu ia menyentuh bibir Donghae dengan jemari lentiknya dan menciumnya dengan singkat.
“Bagaimana kalau kebahagian ku adalah bersama oppa dan aku tidak akan melepaskan oppa? Apa oppa akan mengusir ku?”

Mereka diam untuk beberapa saat. Lalu Donghae tiba – tiba saja beranjak dari tempat tidurnya. Namun sayangnya ia jatuh dan terduduk dilantai. Ia terisak pelan.
“Seoyeon –a… jebal… jangan pergi lagi…”
“Tidak akan pernah lagi” balas Seoyeon yang membantu Donghae duduk dilantai.
Kemudian Donghae meraih tubuh Seoyeon dan memeluknya dengan hangat. Donghae meluruskan kakinya dan membiarkan Seoyeon duduk dipangkuannya dengan posisi menyamping lalu merebahkan kepala yeoja itu didada bidangnya. Yeoja itu terlelap. Tangannya masih digenggam Donghae dengan erat diatas gaunnya. Donghae tersenyum sekilas lalu dengan perlahan memejamkan matanya. Tidak peduli sedingin apapun lantai rumah sakit itu. Dengan adanya Seoyeon disisinya sudah cukup membuat hatinya hangat.

Sementara itu Minho yang hendak menjengguk Donghae membuka pintu kamar rawat itu dengan perlahan. Sebuah pemandangan menyakitkan dilihatnya dengan sangat jelas. Subnae dan yeoja yang ia cintai sedang tertidur sambil saling bergenggaman tangan dengan posisi duduk dilantai. Bahkan Seoyeon masih mengenakan gaun yang seharusnya menjadi gaun pernikahannya hari ini.
Minho tersenyum kecil, “Aku akan melihat mu sampai akhir Seoyeon –a…”

***

Lima tahun kemudian…

“Appaaa~!!!”
Teriakan itu membuat Donghae terpaksa harus bangun dari tidurnya. Ia menggeliat pelan sebelum Seoyeon datang dan menariknya hingga jatuh dari tempat tidur. Donghae melangkahkan kakinya menuruni tangga. Lalu tercium aroma masakan dari dapur. Ia langsung tampak bersemangat dan masuk kedapur lalu memeluk Seoyeon dari belakang.
“Jagiyaa~”
“Berisik!! Cepat mandi sana! Lalu jangan lupa antar MyungHae ke sekolah”
“Mana morning kiss ku?”
Seoyeon langsung tersenyum kesal dan menyodorkan mulut ikan yang sedang ia bersihkan kebibir Donghae yang sukses membuat namja itu kelimpungan.
“YA!! Kau!!”
“Cepat pergi kekamar mandi tuan Lee Donghae atau aku akan menyeret mu ke taman dan menyiram mu dengan selang air!!!” ancam Seoyeon sambil mengacungkan spatula ditangan kanannya dengan kesal.
“Jagiyaa, setidaknya kan jangan curang!!”
“Maksudnya?”
“Kenapa hanya MyungHae yang selalu dimandikan setiap pagi? Lalu aku harus bersusah payah mandi sendiri huh?!”
“YA!! LEE DONGHAEEE!!!!! Pergi dari sini sebelum aku menggoreng mu seperti ikan – ikan yang lainnya!!” teriak Seoyeon dengan histeris.

Donghae menjulurkan lidahnya lalu segera pergi dari tampatnya dan mendatangi MyungHae yang sedang sibuk diruang tengah dengan tali sepatunya.
“Appa, cepat antar aku ke sekolah! Appa sih enak tidak dimarahi sonsaengnim, sedangkan aku? Aku bisa mendapatkan hukuman!!”
“Tapi aku dimarahi eomma mu. Bayangkan setiap hari eomma mu…”
“YA!! LEE DONGHAE!! Awas kau bicara yang aneh – aneh!!!”
Seoyeon yang mengantisispasi ucapan Donghae tiba – tiba muncul dari balik dapur dengan pandangan mengancam yang membuat Donghae langsung diam dan berlari ke kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari dapur. Ia mengintip dibalik pintu kamar mandi.
“Seoyeon –a, kau yakin tidak ingin masuk?!” tanya Donghae memastikan sekali lagi.
Seoyeon langsung melayangkan sebuah lap tangan kearah Donghae yang dengan sigap menutup pintu kamar mandi dengan cepat.
“Dia membuat ku gila!!” bisik Seoyeon dengan kesal.

Sementara MyungHae sarapan diruang makan, Seoyeon kembali kekamarnya yang ia tempati bersama Donghae lalu mengambil sebuah kotak dibawah tempat tidurnya. Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya satu per satu. Salah satunya adalah surat terakhir yang ditulis oleh Minho.

My dear, Seoyeon.
Seoyeon –a…
Aku menyadari sesuatu. Kau mencintai Donghae hyung dengan teramat dalam. Aku melihat kalian duduk dilantai rumah sakit sambil bergenggaman tangan. Aku mencintai mu dan menyayangi mu. Aku ingin melihat mu bahagia selamanya meski bukan dengan ku.
Seoyeon –a…
Kehidupan ku tinggal sedikit lagi. Mungkin ketika kau membaca surat ini, aku sudah tidak ada didunia ini. Namun aku ingin menjadi bagian dalam kebahagiaan mu.
Ku putuskan untuk mendonorkan mata ku untuk Donghae hyung agar aku bisa menatap kebahagiaan mu selamanya.
Aku mencintai mu… untuk selamanya…

Choi Minho

-END-

4 comments

  1. shintaam · May 20, 2012

    endingnye keren😀

  2. elfishy · May 25, 2012

    keren…hiks..hiks..tpi te2p keren bgt😀

  3. Chanhae · July 22, 2012

    AMAZING!!
    Bru skali ak bca ff se-daebak ini, demi apapun ff ini daebak pake bnget thor. JJANG. brasa kek ntod drama..

  4. Lola · August 13, 2012

    Auuthoorrr terharu bgt aku baca nya ..
    DAEBAK DAEBAK !
    Ending’a keren abis🙂

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s