My Dream Namja, Donghae

Title : My Dream Namja Donghae
Author : Ichen Aoi
Cast : Lee Donghae Super Junior dan Kim Seoyeon
Backsound : Only Tears – Infinite
Note :
Tada~ setelah jeda yang amat sangat panjang. Kini saya kembali datang dengan oneshot sekuel My Dream Namja. Pasti kalian udah baca yang Kyuhyun, Sungmin, Siwon dan Ryeowook version kan? Kali ini saya datang membawa Donghae hHhaaa…
Buat yang belum baca silahkan lihat di fanfict librarynya 

Let’s start!
==

-Seoyeon POV-
Aku senang begitu mendengar akan ada Super Show di kota tempat ku lahir dan tinggal. Sehingga aku tidak memerlukan banyak biaya untuk hal ini. Memang terdengar sedikit egois tapi aku benar – benar bahagia dan berharap mereka bisa mengunjungi kota – kota yang lain. Rasanya aku jadi ingin membuat pesta kejutan kecil untuk mereka, Super Junior.
Tidak!
Ini bukan pertama kalinya Super Junior kesini. Ini kedua kalinya untuk mereka. Dan aku tidak akan pernah melupakan hal itu. Bukan karena aku pernah menontonnya atau bagaimana tapi karena penggalan kisah yang sangat memilkukan untuk ku. Aku masih ingat jelas selama satu minggu aku memikirkannya, seolah hidup tanpa arah.
Bagaimana tidak?
Aku sangat ingin melihat bias ku dari dekat. Aku memikirkannya selama dua minggu sebelum acara itu datang. Aku terus tersenyum mengingat bahwa aku bisa melihatnya dari dekat dan dengan jelas. Dan terlebih lagi dihari yang sama itu bertepatan dengan hari wisuda ku. Akhirnya aku lulus dari sekolah menengah atas ku. Bahagia sekali! Apalagi hasilnya bisa dibilang cukup baik dan aku menganggap melihatnya adalah kado atas kerja keras ku saat belajar selama ini.
Kado…
Hadiah…
Yang ku inginkan hanya melihatnya dari dekat dan tersenyum. Melihatnya secara nyata bukan dari video, gambar atau pun cerita – cerita fiksi yang ku tulis. Tapi aku benar – benar ingin melihatnya dalam wujud nyata. Wujud yang bisa ku sentuh dan ku tatap dengan nyata, menghirup udara didalam kota yang sama dan tempat yang sama.

“Seoyeon –a, ku dengar kau membuat sebuah project nde?”
Salah satu teman terdekat ku, Park Hyoso menyadarkan ku dari lamunan panjang. Aku tersenyum dan mengangguk dengan penuh semangat.
“Ne! akan ku pikirkan dan ku pastikan aku punya project dengan ELF yang lain. Ku harap kau dan yang lainnya membantu ku”
“Tentu saja!”
Hyoso mengangkat kedua ibu jarinya dengan penuh semangat. Aku hanya tersenyum kecil melihatnya dan memakan makanan siap saji yang kami pesan tadi. Meski sudah lulus sekolah, kami masih sering berjalan – jalan bersama dengan teman – teman yang lainnya nyaris setiap minggu. Dan aku bahagia karena mereka tidak meninggalkan ku ketempat jauh, seperti teman – teman dekat ku yang terdahulu. Setidaknya aku bersyukur karena aku memiliki mereka.

***

Malam ini, appa sedang sibuk dengan acara televisi favouritenya yang selalu menayangkan pembahasan politik, ekonomi atau hal – hal berat lainnya. Dan seperti biasa juga aku hanya sibuk dengan Jaejoong –ku, nama netbook tersayang ku.
Aku memandangi langit malam. Tampak datar, tidak ada bintang dan semacamnya. Mungkin karena polusi udara mempengaruhi kadar kabut diatas sana.
“Seandainya dia adalah bintang yang bisa menemani ku setiap malam…”

Sesuatu terlintas didalam benak ku. Aku tersenyum dan menggumam pelan, “Bintang?”.
Tanpa sadar aku tersenyum sendiri dan mengabarkan semuanya tentang project baru ku. Pin bintang yang sebenarnya pada awalnya hanya ingin ku berikan untuk Super Junior. Namun rasanya bukankah lebih menarik kalau semua ELF memiliki bintang yang sama dengan bintang mereka?
Ya… dia… mereka adalah bintang…
Bintang yang sangat tinggi diatas sana. Tidak mungkin bisa ku raih dengan tangan kosong.
“Lee Donghae oppa…” bisik ku pelan sambil tersenyum kecil dan menatap langit.

***

Tanggal pengumuman atau setidaknya isu tanggal konser tersebut sudah keluar dan sayang sekali banyak pelajar yang masih sibuk mengadakan acara kelulusannya, ku rasa. Pasti akan ada banyak ELF yang tidak datang. Bukankah lebih baik aku mengadakan sebuah project lain?
Menyampaikan surat salam cinta dari mereka untuk oppadeul ku tersayang. Aku sedikit menghela nafas berat ketika menyadari kalau mungkin Donghae oppa akan mendapatkan banyak surat dengan kata – kata manis itu.
Sudahlah…
Aku akan memberitahu semuanya akan hal ini. Aku kembali menghubungi Hyoso, Minyu dan Jaedong. Tiga yeoja yang sering menemani ku berburu Hallyu Idol dan yang terpenting mereka adalah ELF. Mereka setuju dan ini saatnya aku meminta mereka untuk menyebarkan project yang ku tangani ini.
***

Sekarang project itu sudah berjalan dua minggu lebih. Sudah banyak surat yang masuk beserta kado – kado dalam ukuran kecil. Dan lagi – lagi aku menerima titipan hari ini. Aku membukanya dengan penuh semangat. Aku tersenyum melihatnya karena lagi – lagi untuk seorang Lee Donghae. Aku memasukkannya bersama barang – barang untuk Donghae. Aku menyortirnya agar lebih mudah.
Ketika aku berdiri ada sebuah kado jatuh dari dalam kardus itu. Aku menghela nafas kesal lalu mengambilnya, namun aku seketika membeku. Didalamnya, dibenda itu ada sebuah ukiran yang tidak mungkin bisa ku hapus. Nama oppa dan yang memberinya kado. Entah kenapa secara refleks mata ku mulai berkaca – kaca.
“Oppa… Donghae oppa…” bisik ku pelan.
Dan kini setetes air mata sudah mulai jatuh. Aku duduk dilantai dalam kebisuan sambil memegangi hadiah titipan tersebut dan memandanginya dengan padangan yang kabur karena terhalangi air mata. Aku tidak pernah tahu kalau rasanya akan sesakit ini.
“Aku harus professional… Ini sudah tugas ku!”
Aku berusaha meyakinkan diri ku sendiri. Namun tampaknya sia – sia karena malah air mata semakin deras mengalir dipipi ku, membentuk sungai Han kecil. Lalu entah kenapa tiba – tiba saja aku malah menjadi demam. Sungguh memalukan.

Aku tidak masalah kalau ribuan yeoja didunia ini mengatakan cinta padanya lewat surat.
Tapi ini lewat sebuah benda?
Mungkin sekarang aku malah terdengar gila. Bagaimana bisa aku menangisi hal semacam ini?
Hal yang bahkan tidak jelas untuk orang lain namun menyakitkan untuk ku.

Mungkin sekarang aku terdengar bodoh dan gila.
Bagaimana ketika aku memandangi sebuah hotel tempat dia dulu menginap ketika datang ke kota ku. Disana daerah macet dan entah kenapa bus itu selalu berhenti tepat didepan hotel itu. kadang aku hanya memandanginya lewat kaca bus dengan mata yang berkaca – kaca. Mungkin tidak akan ada yang mempercayai ku kalau hal ini terjadi dari hari senin sampai sabtu. Belum lagi kalau sabtu dan minggu aku melewati tempat dia konser dulu. Dan sebuah gedung yang berdiri tegak didekat rumah ku bertuliskan SME Tower. SME… Terdengar seperti nama agensinya bukan?
Dan kini aku harus memberikan banyak ucapan cinta untuknya?
Akan ku berikan semuanya untuk seorang Donghae, tidak peduli seberapa sakitnya aku disini melihat semuanya. Aku berdiri sebagai orang yang ditumpahi banyak amanah dan aku akan menyampaikannya sebisa ku dan semampu ku.
Donghae oppa… terimalah semua salam cinta dari mereka…
Sedangkan dari ku… cukup hanya hati ku yang bicara…

***
Tadaa~
Hari ini adalah hari konser mereka. Aku sangat senang meski aku mendapatkan tiket yang diluar keinginan ku setidaknya aku bisa melihatnya… Melihat seorang Lee Donghae Super Junior. Semua barang titipan sudah ku sampaikan lewat staff promotor.

“Seoyeon a~!! mari berfoto!!!”
Seperti biasa, dimana pun tempat yang kami kunjungi pasti kami akan menyempatkan waktu untuk berfoto bersama.
Kali ini giliran ku memotret teman – teman ku. Backgroundnya adalah stadium arena konser. Aku memandangi stadium itu sambil tersenyum kecil. Namun pandangan ku terhenti saat melihat ada seseorang yang bersandar disana, didekat tiang stadium. Aku membeku seketika ketikan melihat namja itu tersenyum pada ku.
“Eh?”
Aku menoleh kebelakang berharap ada orang lain selain aku dan nyatanya tidak ada! Hanya aku yang sedang memandanginya dengan kegugupan.
“Donghae oppa…” bisik ku pelan.
Dia melambaikan tangannya pada ku sebelum akhirnya ia ditarik masuk oleh seseorang yang ku rasa itu adalah Lee Hyukjae.

“Ya! Bodoh! Berbahaya tau! Kau bisa membuat ke histerisan. Arraseo?”
Eunhyuk menjitak kepala Donghae dengan kesal. Sedangkan Donghae hanya mendelik kesal lalu melipat kedua tangannya didepan dada bidangnya.
“Aku hanya ingin melihat ke adaan, lagipula tidak ada yang menyadari keberadaan ku selain yeoja tadi”
“Yeoja? Kau melirik yeoja lagi?” bisik Eunhyuk dengan tidak percaya.
Donghae langsung menghadiahi Eunhyuk sebuah jitakkan kecil.
“Jangan ucapkan ‘lagi’, sepertinya aku selalu melakukan hal yang sama!”
“Kenyataannya memang begitu!” balas Eunhyuk tidak mau kalah.

Mereka berdua tidak menyadari kalau Leeteuk sudah berdiri dibelakang mereka bersama Kyuhyun dengan aura membunuhnya. Keduanya masih terus sibuk berdebat sampai akhirnya Leeteuk menjewer telinga mereka dengan kesal.
“Kalian ini!!!! Dari mana saja huh?!”
“Kami mencari hyung dengan susah payah tahu!” ucap Kyuhyun dengan kesal.
Mereka berempat langsung pergi ke backstage untuk mempersiapkan acara konser yang akan berlangsung sebentar lagi.

***

Ini adalah konser yang luar biasa!!
Mereka benar – benar membuat ku terpukau dan mematung. Perhatian ku tidak lepas dari Donghae oppa dan Luhan gege. Mereka begitu menarik dimata ku. Meski posisi duduk ku agak jauh dari stage namun aku menikmatinya. Aku menyukai mereka, sangat menyukai mereka. Musik terus mengalun didalam auditorium. Aku melihat kalau crane dibawah sana mulau muncul. Entah siapa yang mau naik, aku tidak peduli. Yang penting aku cukup menikmati siapapun yang ada didepan ku.
Aku menoleh kearah ponsel ku, karena sebuah pesan singkat masuk. Namun teman disisi kiri ku mulai sibuk menyenggol bahu ku.

“Ne??”
“Ish!!” serunya kesal sambil menatap kedepan.

Aku memutuskan untuk kembali memandang kedepan dan Donghae oppa!! Dia yang menaiki crane itu. Aku tidak berharap banyak, aku tidak perlu apapun soal perhatiannya namun aku hanya sedikit berharap kalau aki bisa melihat wajahnya dalam jarak kurang dari 2 meter ini. Dia terus menoleh kedepan, bukan ke arah ku. Aku terus berharap ia akan menoleh dan dengan perlahan ia menoleh.
Entah kenapa mata ku mulai berkaca – kaca, aku berharap dia tidak melihatnya tapi… dalam jarak sedekat ini dan hanya aku satu – satunya yang duduk dalam diam sedangkan yang lain mulai berdiri sambil berteriak – teriak.
Ia tersenyum…
Apakah ia tersenyum untuk ku?
Aku memandangnya dengan tidak percaya, namun entah ilusi atau apa. Dia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Membuat ku harus mengerjapkan mata ku berkali – kali berharap semuanya bukan mimpi. Namun sayangnya crane kembali turun.

Kejadian itu terus terbayang didalam benak ku. Rasanya aku tidak percaya. Aku masih duduk di kursi ku sambil menghela nafas khawatir. Hyoso menoleh kearah ku dan meraih tangan ku.

“Kajja!! Kau tidak mau pulang huh?!”

Aku hanya tersenyum kecil lalu mengambil banner dengan tangan kiri ku yang bebas. Ia langsung menarik tangan ku untuk menuruni tangga dan keluar stadium. Kami sama – sama menunggu beberapa teman kami yang tadi terpisah karena tidak semuanya mengambil kelas yang sama. Ada yang di festival dan box. Aku memutuskan untuk menghubungi namsaeng ku agar ia tidak menguci rumah sebelum aku pulang.
Bisa saja ia berfikiran aku akan menginap dirumah Hyoso lagi kan?

Aku merogoh saku ku, mencari ponsel ku. Nyatanya tidak ada. Aku kembali mengambil tas ku dan mengacak – acak isinya. Tidak ada!! Aku menatap Hyoso dengan khawatir.

“Ponsel ku??” tanya ku dengan panik sambil memandangi Hyoso.

Hyoso malah balik menatap ku dengan bingung. Aku baru ingat kalau aku menaruh ponsel ku dengan asal. Mungkin saja terjatuh dilantai arena konser tadi. Aku langsung menitipkan tas dan beberapa barang bawaan ku kepada Hyoso. Lalu aku berlari menuju lantai atas dengan escalator. Suasana diluar sudah mulai gelap dan bagian dalam arena konser tadi bisa dibilang belum sepenuhnya jadi. Aku mencoba memberanikan diri ku. Namun bodohnya lagi aku ini bukan orang yang mudah hafal suatu jalan dalam satu kali kunjungan.

“Oh My God!!” desis ku kesal.

Aku langsung melangkahkan kaki ku entah kemana yang jelas aku harus menemui salah satu staff untuk mengetahui keberadaan ponsel ku.

*bruk!*

“Aw!! Argh… Mianhaeyo~”

Ucap ku dengan kepala tertunduk berharap bukan staff galak berjenggot yang waktu itu ku termui saat antrian tiket. Aku benar – benar khawatir tapi lebih khwatir lagi kalau yang ku tabrak bukanlah manusia?! Arghhh!!!
Orang itu mengulurkan tangannya. Putih sekali… tidak!! Ini pasti bukan manusia. Aku langsung berjongkok dan menutupi kedua wajah ku dengan tangan ku. Berharap hantu itu cepat menghilang. Namun tindakan ku cukup bodoh, seharusnya aku larikan?

*pluk!*

Kini makhluk itu malah menepuk bahu ku dengan tenang. Membuat ku semakin menggigil aja. Aku terus berusaha merapatkan mata ku. Namun tangan itu menyentuh jemari ku yang dengan telaten menutup wajah ku. Aku berusaha mengabaikannya dan memperjuangkan keselamatan ku, atau begitulah tapi tangannya sangat dingin. Aku jadi lemas karena ketakutan. Akhirnya dengan sisa tenaga yang ku punya aku mencoba untuk membuka mata ku dengan perlahan.

“HAH?!” teriak ku tidak percaya lalu berdiri begitu saja.

Dia…
Seorang namja…
Namja yang tampan…
Tampan sekali…
Aihhh~ memikirkan apa aku ini?!! Dia… Lee… Tunggu dulu? Mana mungkin?

“Annyeong~!” sapanya dengan senyuman ramah di bawah sana. Ia masih dalam posisi jongkok.

Aku mengerjapkan mata ku lagi dan berharap ini bukan mimpi lalu aku mencoba mencubit kedua pipi ku sendiri.
“ARGH!!”
Sial!! Rasanya sakit sekali. Aku yakin sekarang pipi ku mulai memerah dan jika semua ini nyata berarti ini adalah hal yang memalukan!! Sangat memalukan. Bagaimana bisa aku bertindak sekampungan ini didepan seorang Lee Donghae Super Junior?

Kini Donghae oppa berdiri dan tersenyum menatap ku dengan lembut. Belum sempat ia membuka mulutnya aku langsung histeris ketika menyadari kalau diluar sudah mulai gelap mungkin sudah jam 7 malam dan lagi… PONSEL KU?!

“AGH!! Ponsel ku!!” teriak ku panik.

Aku langsung berlari meninggalkan Donghae oppa entah menuju kemana yang jelas aku harus menemukan ponsel ku. Kembali!! Dan itu harus!! Apalagi aku kan hanya punya satu buah ponsel dan uang ku sduah habis untuk membeli tiket Super Junior. Menyedihkan sekali hidup ku saat ini.

Aku menelusuri tempat duduk ku tadi dan sesekali melirik ke kolong. Aku sudah berkali – kali tersenyum kearah crew yang sedang membongkar dekorasi panggung. Rasanya aku benar mau menangis saja. Aku tidak punya ponsel lagi dan bisa saja aku dimarahi eomma dan appa ku lagi. Aku duduk dilantai beton itu dengan lemas. Sambil menghela nafas berat.

“Kau mencari ini?”

Suara ini…

“Donghae oppa?”
Ia tersenyum lalu berjongkok dihadapan ku sambil mengusap kepala ku dan menyodorkan ponsel ku yang entah kenapa bisa ada padanya.

“Darimana…”
“Tadi ada staff yang sibuk dan bilang ia menemukan ponsel. Lalu aku pikir itu milik mu, karena kau tadi berteriak soal ponsel dengan cukup kencang dan aku berfikir kalau kau akan kembali lagi ketempat duduk mu kan?”
“Tempat… duduk?”
“Aku melihat mu dari crane tadi”

Aku meraih ponsel ku lalu memasukkannya kedalam saku. Kami berdua berdiri lalu saling berpandangan satu sama lain. Ternyata kalau dari jarak sedekat ini dia memang benar – benar lebih tinggi dari pada aku. Dan dia benar – benar tampan.

“Gomawo” bisik ku kecil nyaris tanpa suara.

Donghae oppa menyunggingkan senyumnya lalu menarik nafasnya dalam dan menaruh kedua tanggannya kedalam saku jeansnya lalu duduk disalah satu kursi yang terdekat. Ia menatap lurus kedepan sambil tersenyum dan sesekali bersenandung kecil. Sedangkan aku sendiri masih berdiri ditempat ku sambil menatap wajah sampingnya dan entah kenapa air mata ku turun begitu saja. aku tidak sedih dan sama sekali tidak berharap banyak, tapi aku bahagia karena aku diberi kesempatan untuk melihatnya dari dekat bukan dalam penampilan stage.

“Uljima… duduklah” pintanya sambil melirik kursi disampingnya.
“Teman ku menunggu ku…” jawab ku mencoba untuk tenang.
“Mereka akan menunggu mu. Karena barang – barang mu ada pada mereka kan?”
“Bagaimana oppa tahu?”
“Aku melihat memikan ponsel mu lalu banner yang ada dipangkuan mu kau tarus dikolong usai melakukan sesuatu dengan ponsel mu dan ponsel mu kau taruh ditas yang ada dikolong kursi juga. Apa aku salah?”

Ucapan namja tampan dihadapan ku ini hanya bisa membuat ku tersenyum. Ia memperhatikan ku? Benar – benar memperhatikan ku. Aku menarik nafas dalam lalu duduk dengan perlahan disampingnya dan menatap para crew SM yang sedang merapikan barang – barang panggung.

“Apa yang kau lakukan untuk bertemu dengan ku?” tanyanya tiba – tiba.
“Tiket?” tanya ku dengan ragu namun ia mengangguk dengan pasti dan pandangannya masih lurus kedepan menatap deretan kursi kosong didepan kami.
“Menabung. Apalagi memangnya?”
“Dengan uang mu?”
“Tentu saja. Memangnya ada apa?”

Pertanyaan yang sangat aneh menurut ku. Kenapa ia berbicara soal bagaimana aku mendapatkan tiket? Apa aku terlihat seperti anak manja? Orang ini membuat ku kesal saja!

“Sejak kapan kau menyukai… kami?” tanya Donghae sambil menatap ku dan mengangkat sebelah alis matanya. Aku tersenyum kecil lalu menghela nafas panjang dan kembali memandang lurus kedepan. Aku tidak tahu aku bisa menahan air mata ku atau tidak saat aku akan menceritakan segalanya padanya.

“Aku menyukai sunbae oppadeul. Namun aku mendengar lagu Don’t Don di radio dan mulai mencari siapa penyanyinya. Setelah aku tahu nama group itu Super Junior, aku kembali teringat soal artikel yang ku koleksi. Dan itu artikel yang berisi biodata kalian di album U. Ternyata aku sudah mengenal kalian sejak Kyuhyun oppa baru saja masuk kedalam group. Sayangnya aku tidak menyadarinya. Aku sudah cukup lama menyukai kalian… bukan dalam hitungan hari… bukan dalam hitungan minggu… bukan dalam hitungan bulan…”

Entah kenapa air mata ku tiba – tiba menetes tanpa alasa. Aku bisa merasakan kalau Donghae oppa mulai memandangi ku lagi, aku tidak berani menoleh lalu tersenyum dan menunjukkan kalau aku baik – baik saja. Karena kenyataannya aku tidak baik – baik saja.

“Kalian ingat tahun lalu kalian datang ke Jakarta?” aku bertanya tanpa menoleh.
“Ne” jawabnya dengan suara yang pelan.

“Waktu itu aku baru saja lulus dari sekolah. Aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli tiket konser gabungan itu. Tapi oppa tau? Itu hari wisuda ku… Aku terus tersenyum memikirkannya. Bagaimana dihari ini aku akan bernafas dalam satu udara, menginjak tanah yang sama dan terlebih lagi hotel dan tempat acara itu benar – benar dekat dari rumah ku. Aku yang biasanya tidak bisa makan telat malah dihari itu tidak makan sama sekali. Aku terlalu bahagia, mungkin saja kan?”
“…”

Tidak ada jawaban. Mungkin saja ini hanya mimpi dan Donghae oppa tidak pernah ada disamping ku. Atau mungkin ia terlalu malas untuk mendengarkan cerita ku namun setidaknya aku ingin membaginya bukan dalam tulisan tapi dalam keadaannya yang nyata. Aku hanya tersenyum, prihatin dengan keadaan ku sendiri.

“Aku pergi dengan teman – teman ku menuju lokasi konser. Banyak ELF menanti kalian disana. Aku tersenyum sambil menguatkan diri ku sendiri kalau aku akan melihat wajah asli kalian sebagai kado kelulusan ku. Nyatanya mobil – mobil yang lewat semua berkaca hitam, tidak tembus pandang. Dan aku tidak berhasil karena lampu parkiran sengaja dimatikan dan menciptakan suasana yang remang – remang terlebih lagi saat itu matahari sudah tenggelam. Beberapa teman ku menangis, aku tahu ini salah kami yang tidak membeli tiket kalian. Tapi tidak bisakah kami melihat walau hanya sekilas? Aku berusaha tersenyum, sebelumnya aku sempat terisak dan Hyunri, teman ku, ia memelukku berusaha menguatkan hati ku. Namun sedetik kemudian aku malah tersenyum lebar dan mengatakan kalau aku baik – baik saja sampai kami semua memutuskan untuk ke bandara…”

Aku menarik nafas ku dalam lalu memejamkan mata ku dan membiarkan air mata mengalir dikedua pipi ku dengan cukup deras. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Yang ku tahu aku ingin mengeluarkan semuanya…

“… Oppa… Aku sudah menunggu disana selama 3 jam lebih tapi aku dan teman – teman ku tetap tidak berhasil. Kalian masuk lewat pintu yang jaraknya tidak jauh dari tempat ku menunggu. Apa aku terlihat menyedihkan? Mengagumi dan berjuang sekeras itu tapi tetap tidak berhasil. Apa aku seorang ELF yang gagal? Teman – teman ku mulai bilang pada ku kalau mereka rasanya ingin menjadi seorang antis. Aku hanya bisa membalas mereka dengan senyuman yang entah apa artinya. Aku berusaha menguatkan hati ku… Buat apa cinta ku selama bertahun – tahun ini kalau dalam satu hari derita saja aku bisa berubah menjadi antis?”

Aku rasanya sudah tidak sanggup lagi dengan semua ini. Tangis ku pecah seketika dan aku mulai terisak. Kali ini benar – benar nyata karena aku bsia merasakan ada tangan yang meraih bahu ku lalu merangkul ku dan menenggelamkan kepala ku pada dada bidangnya. Apakah semua ini benar – benar nyata atau hanya ilusi ku saja? entahlah… Yang jelas aku butuh sandaran…

“Uljima…”
“Oppaa… hiks… Kau tahu? Aku… hiks… Aku hanya ingin melihat bias ku dalan bentuk nyata… hiks… bukan lewat video yang selama ini ku download… Aku hanya ingin mendengar suaranya yang bernyanyi untuk ku… hiks… Aku tahu… Kalian adalah bintang dilangit sana… Aku tahu itu… Donghae oppa… Aku hanya ingin melihat mu dari dekat dan nyata…”
“Kau sudah melihat ku kan? Kalau begitu, jangan menangis lagi… Arra?”

Aku terus menangis sambil mencengkeram kemeja bermotif kotak – kotaknya berharap aku bisa benar – benar sadar dari mimpi dan khayalan ku. Nyatanya sama saja. Ia benar – benar ada bersama ku, saat ini.
Aku mulai tenang dan dengan perlahan aku mendorong tubuhnya agar sedikit menjauh dari ku. Aku menghapus air mata ku dengan tissue yang disodorkannya kearah ku. Ia tersenyum lalu menarik nafas dalam.
“Kau mau aku bernyanyi apa untuk mu?”
“Only Tears…”
-Seoyeon POV end-

Donghae tersenyum sejenak. Bukan lagu Super Junior yang ia minta melainkan lagu lain yang memiliki arti sangat menyedihkan, menurutnya. Entah kenapa yeoja mungil disampingnya sangat ingin ia menyanyikan lagu itu. Donghae menarik nafasnya dalam – dalam lalu mulai bersenandung pelan. Sedangkan Seoyeon terus memejamkan matanya. Air mata masih mengalir disana dengan perlahan.

o nan.. nege jul su inneunge eobseo
missing U
ttatteutan maldo motae
I missing U
gamhi baral sudo eobseo
I missing U
ireoke mireonae
naegen gajingeon simjangppun motnan nomira

[Translate]
Oh, I.. I don’t have anything I can give you,
(but I’m) missing you.
I can’t even give you loving words,
but I’m missing you.
I can’t even boldly wish for you to be mine,
but I’m missing you.
So I push you away.
Because I’m a guy who has nothing but his own heart.

Akhirnya Donghae selesai bernyanyi, Seoyeon membuka matanya lalu tersenyum. Donghae memandanginya dengan tidak mengerti. Bagaimana yeoja itu bisa tersenyum dengan lagu perpisahan seperti itu?

“Aku bisa tenang sekarang. Aku akan baik – baik saja. Gomawo…” ucap Seoyeon dengan nada yang lemah lalu ia berdiri mantap Donghae sambil sekali lagi tersenyum. Lebih kepada berusaha menunjukkan senyuman cerianya kearah Donghae.

“Kau…”
“Sudah hampir jam 8 malam, ku rasa aku membuat teman – teman ku menunggu terlalu lama”

Donghae mengerti, ia berdiri lalu ia menahan tangan Seoyeon dengan lembut.

“Temui aku dibandara pada jam kepulangan kami malam ini. Ku rasa kau sudah tahu jamnya kan? Tunggu aku di pintu masuk. Dan pastikan kau datang… Arraseo?”
Seoyeon memandanginya dengan bingung namun Donghae hanya tersenyum canggung dan berlari kearah Eunhyuk yang entah sejak kapan sudah ada didepan pintu masuk. Keduanya langsung menghilang begitu saja sedangkan Seoyeon memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

***

-Seoyeon POV-
“Bandara? Semalam ini?”

Hyoso tampaknya sedikit terkejut dengan permintaan ku. Ku rasa ia cukup marah karena aku membuat dia dan yang lainnya menunggu. Tapi aku masih tidak berani mengatakan hal yang sejujurnya pada mereka.

“Jeballl~” kali ini aku memohon dengan wajah yang ku buat memelas dan pada akhirnya membuat Hyoso menyerah. Ia langsung menarik ku kedalam taksi untuk menuju bandara.

Sudah satu jam aku menunggu dibandara yang ACnya cukup dingin. Namun tidak ada tanda – tanda kedatangan Super Junior disana. Hyoso memutuskan untuk memesan dua buah makanan ringan dari fastfood terdekat.

“Ini!”

Hyoso menyodorkan ku sekotak ayam potong namun belum sempat aku meraihnya ada orang lain yang menarik tangan ku dengan cepat dan membuat ku menoleh kearahnya.

“Donghae oppa?” bisik ku dengan tidak percaya.

Aku bisa melihat Hyoso mematung dan member Super Junior mulai berdatangan sambil tersenyum kearahnya satu per satu. Aku berusaha mejaga jarak dengan tangan kiri ku. Aku tidak mau ada fans yang melihat kelakuan aneh manusia satu ini.

“Mau apa kau?” bisik ku dengan sedikit khawatir.
“Memberikan ini!”

Ia mengeluarkan sebuah kalung perak dasi sakunya. Design talinya sama persis dengan gelang pemberian appanya yang selalu melingkar dipergelangan tangannya. Aku mencoba untuk meraih kalung itu namun Donghae oppa malah mengangkat tangannya jauh lebih tinggi. Membuat ku sedikit kesal. Lalu ia dengan tegas menepuk kedua bahu ku dan membuat ku membeku. Ia memberi kode agar aku melihat kearah matanya dan aku mengikutinya.
Aku menatap matanya yang jernih itu dan aku bisa merasakan ada sesuatu terpasang dileher ku. Aku tersadar kalau ia baru saja memakan ku kalung pemberiannya. Aku menunduk, menatap liontin kalung itu… inisial LD? Lee Donghae kah? Aku kembali mengangkat wajah ku untuk mengucapkan terimakasih namun…

*cup*

Ciuman singkat mendarat dibibir ku begitu saja. Aku yakin sekarang kalau aku sudah benar – benar membeku. Ia mengusap kepala ku dengan lembut lalu tersenyum.

“Maafkan aku… Maaafkan aku karena telah membuat mu menunggu dan membuat mu berjuang terlalu keras. Mianhaeyo…” bisiknya pelan tepat ditelinga ku ketika ia mulai memelukku dengan perlahan.

“Donghae –ya, kajja! Kita bisa ketinggalan pesawat” ucap Leeteuk dengan lembut sambil melemparkan senyuman manisnya ke arah ku. Donghae oppa melepaskan pelukkannya lalu mengangguk pelan dan melambaikan tangannya kearah ku.

Sedangkan tubuh ku melemas dan aku terduduk dilantai bandara sambil meneteskan air mata. Aku menangis tanpa suara. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ku saat ini. Yang aku tahu adalah satu hal, dia benar – benar nyata. Hyoso menepuk bahu ku dengan lembut.

“Seoyeon –a, lambaikan tangan mu kearahnya. Dia terus menatap mu dari ujung sana” bisik Hyoso pelan. Aku mengangkat wajah ku, aku bisa melihat Donghae oppa ada dibalik dinding kaca itu. Ia menatap ku dengan khawatir lalu ia langsung tersenyum ketika aku melambaikan tangan ku ke arahnya.

Lalu semuanya pergi…
Aku dan Hyoso bisa mendengar suara panggilan penerbangan itu. Aku pun menggenggam liontin kalung ini dengan erat berharap aku bisa bertemu dengannya lagi.

-END-

5 comments

  1. arvina ELFishy · July 26, 2012

    huaaaa…berharap itu aku… Mian klw donghae oppa bs poppo smua yeoja yg bgitu entahlah mungkin bnr2 aku akan jd antis. Masuk akal kan? Brarti dy playboy cap go meh dong…ckckck
    Oppa drimu msh suci kan? Hehe

  2. Lee yoon ji · July 30, 2012

    Benar benar mengharukan

  3. hanna cristyna · August 29, 2012

    andai aja aq mengalami kejadian spti itu. . #khayalantingkattinggi

  4. 워님아 · June 14, 2013

    omfg php tingkat dewa … i wish i can be like that…… *pray*
    good imaginary

  5. anna jae · January 15, 2014

    ADA YG VERSI EUNHYUK NYA GA THOR??????????? JEBAL.. BUATIN DUNK..
    GOMAWO

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s