Part 3 : Aurea Love (I and You?)

Title : Aurea Love
Author : Ichen Aoi
Cast : Lee MyungHae, Park Jiyeon dan Lee Ji Eun
Support Cast : No Minwoo Boyfriend & Choi Min Ki NU’EST
Special Cast : Lee Donghae & Kim Seoyeon
Genre : Friendship, Romance
Sequel of : Dormitory High School and Domus Aurea Romance
Backsound : Rolly Polly – T-ARA

==

Pagi ini Myunghae bangun dengan keadaan badan yang seolah remuk. Ia masih bisa mengingat kejadian kemarin ketika ia menemani eomma –nya untuk pergi berbelanja di sebuah mall. Bagaimana bisa ia sampai dikira selingkuhan eommanya dan mendapatkan pukulan high heels?
Bukannya minta maaf secara langsung, yeoja bernama Jiyeon itu malah tersenyum kaku lalu pergi begitu saja meninggalkan dirinya ditengah tontonan banyak orang. Memalukan.

“Myungmyung –a, waktunya sarapaaann~”

Myunghae langsung membuat kerutan pada alisnya dan mendelik kesal. Entah sudah berapa kali ia bilang soal nama panggilan ini. Tampaknya eommanya benar – benar tidak peduli akan hal ini karena sejak kemarin ia hanya tersenyum sambil bilang kalau Jiyeon itu gadis cantik yang sangat ingin dia jadikan menantu. Sangat ekstrim.

Myunghae beranjak dari tempat tidurnya lalu keluar dengan pakaian seadanya. Kaos putih polos dengan celana pendek selutut dan dengan rambut yang berantakan. Kalau saja ia tidak putih dan tidak tampan mungkin ia sudah terlihat seperti orang gila saat ini belum lagi ia melangkahkan kakinya sambil terus menguap.
Donghae yang melihat hal ini langsung melempar handuk kearah Myunghae yang langsung diambilnya dengan sigap dan matanya langsung terbuka lebar.

“Aish~ Appa!!”
“Mandi dulu sana! Kau pikir ini sudah jam berapa huh?”
“Ku rasa masih sangat pagi, bahkan untuk sarapan”
“Kau salah! Setengah jam lagi bel Domus Aurea High School akan berdering dan mendapati seorang ketua OSIS yang sempurna datang terlambat?”

Kalimat Donghae barusan langsung menyadarkan Myunghae. Ia melirik kearah eommanya yang hanya mengangkat bahu lalu menunjuk kepada jam dinding yang memang sesuai dengan ucapan Donghae barusan.

“MWOYA?! ANDWAE!!” teriak Myunghae histeris lalu kembali kekamarnya dengan membawa handuk yang diberikan Donghae tadi.
“Dia pemalas, persis dengan mu” ucap Seoyeon sambil mendelik kearah Donghae yang sudah rapi dengan pakaian kantornya dan hendak menyambut datangnya sarapan.
“Kau tahu? Dia juga cerewet, sama seperti mu” tambah Donghae sambil tersenyum penuh dengan kemenangan yang langsung menuai jitakkan dari Seoyeon.

***

Myunghae melangkahkan kakinya dengan gontai dikoridor sekolah. Ia tidak sempat sarapan begitu melihat waktu yang semakin krisis tadi. Seandainya appa –nya tidak bicara apa – apa mungkin ia akan telat selama 15 menit untuk pertamakali dalam hidupnya.

“Kau tidak sarapan ya?” tanya Sehun dari balik berkas – berkas yang sedang dikoreksinya.

Myunghae mengangguk dengan lemah lalu ia melirik kearah Tao yang baru saja mengeluarkan kotak bekalnya. Diantara mereka, Tao dan Minwoo –lah yang paling suka dengan makanan. Namun tampaknya ia tidak bisa meminta bantuan pada Minwoo, karena keberadaan orang satu itu belum diketahui.

“Kau mau makan, Myunghae –a?” tawar Tao sambil menyodorkan sebuah roti gulung yang langsung diambil Myunghae dengan sigap.

*brak!*

Pintu ruangan itu menjeblak terbuka dan Ren masuk dengan ceria sambil menaruh tasnya diatas meja kerjanya, semuanya menatap namja itu dengan heran. Apa yang membuat Ren sebahagia itu dipagi ini? Dan tampaknya Ren mengerti arti tatapan teman – temannya itu, ia langsung mendekati ketiganya dan menunjukkan art nail yang baru.

“Kalian lihat? Aku butuh waktu lima jam untuk membuat karya seni seindah ini!” ucapnya dengan penuh antusias. Myunghae akhirnya memilih untuk fokus pada makanannya sedangkan Sehun kembali menatap berkasnya dan Tao memilih untuk merapikan seragam bela dirinya untuk ia pakai siang ini.

“Kalian tidak antusias?” tanya Ren heran.

Ketiganya hanya diam membisu tanpa bicara apapun. Ren duduk ditempatnya dengan kesal. Lalu sekali lagi pintu itu terbuka dengan bunyi yang keras. Myunghae mendelik kearah Minwoo yang baru saja datang dengan nafas yang tersengal – sengal. Tampaknya ia habis berlari di sepanjang koridor sekolah.

“Kau kenapa?” Myunghae menatapnya dengan heran.
“Aku? Hhosh…hosh… Aku menghindari peramal gila!” ucap Minwoo putus asa lalu duduk ditempatnya dan berusaha merileks –kan seluruh otot tubuhnya yang tegang dan lelah karena sprint tadi.
“Peramal?” tampaknya Sehun tertarik akan hal ini.
“Ne! Kalian tahukan yeoja dengan aura mistis? Yahh… Dia sangat terkenal karena sangat suka meramal keburukan, bukan keberuntungan misalnya kau akan terpeleset lalu lima menit kemudian kau benar – benar akan terpeleset”
Minwoo menjelaskan dengan panjang lebar dengan keempat temannya yang memperhatikan penjelasannya dengan mimik yang serius.
“Namanya?”
“Ahh masa kalian tidak tahu? Itu… Siapa ya?” Minwoo malah balik bertanya dan langsung dihadiahi jitakkan oleh teman – temannya yang lain.

Myunghae memikirkan sesuatu lalu ia kembali teringat pertemuannya dengan seorang pelajar bernama Ji Eun yang benar – benar memiliki aura berbeda, menurutnya.
“Lee Ji Eun?”

Tao, Sehun, Ren dan Minwoo menatap Myunghae lalu keempatnya mengagguk dengan serempak. Mereka langsung saling bertukar pandang lalu tiba – tiba menghenyakkan tubuh masing – masing dan bersandar pada kursi.

“Sebenarnya kalau diperhatikan dia itu cukup manis” Minwoo bicara sambil menerawang.
“Asalkan dia tidak berpenampilan seperti itu dan mencintai seni” lanjut Ren.
“Hanya fashion –nya yang sebaiknya dirubah” tambah Sehun.
“Mungkin karena dia terlalu datar dan tidak bisa berinteraksi” Tao melengkapkan.

Begitu mendengar kalimat dari Tao, semuanya langsung menoleh dan menatap namja itu dengan tajam.

“Sama seperti mu, datar!” keluh Myunghae pada akhirnya.

Ren, Sehun dan Minwoo mengangguk bersamaan sedangkan Tao hanya memasang wajah kebingungan sedangkan Myunghae manatap keluar jendela sambil memikirkan tindakkan yang akan ia ambil kedepannya untuk sekolah itu dan untuk menunjukkan pada kedua orangtuanya kalau dia adalah putra yang bisa dibanggakan. Terlebih lagi pada eommanya, ia benar – benar ingin terlihat dewasa agar eommanya berhenti memanggilnya dengan panggilang ‘Myungmyung’.

***

Myunghae memutuskan untuk memeriksa ruang club IT secara langsung karena ini sudah ke –tiga kalinya OSIS mendapatkan keluhan soal ketidaknyamanan keruangan ini. Ia yakin kalau ini masalah AC yang sudah tidak berfungsi lagi atau mungkin rusak. Untuk memastikan keadaan ini, ia harus melihatnya sendiri secara langsung.

Myunghae melangkahkan kakinya dengan perlahan. Tiba – tiba saja ia memikirkan untuk pergi ke rooftop. Ia sedang ingin menciptakan sebuah lagu baru untuk ditampilkan dalam drama musikal sekolahnya nanti. Harga diri Domus Aurea terletak pada kepiawaian pelajarnya dalam menciptakan sesuatu yang baru, maka Myunghae tidak akan bermain – main dengan hal itu.

Langkahnya terhenti ketika ia melihat ada seorang yeoja duduk di anak tangga dengan kepala tertunduk dan dengan rambut di kepang dua lengkap dengan poninya yang agak berantakan. Kali ini Myunghae tidak terkejut, ia orang yang mudah terbiasa dengan hal aneh meski baru sekali ia temui.

“Lee Ji Eun?” tanyanya dengan penuh kehati – hatian.

Benar saja, siswi itu adalah Ji Eun. Yeoja itu mengangkat wajahnya dan menatap Myunghae dengan ekspresi datar, namun Myunghae yakin ia melihat ada kilatan kesedihan dan kesunyian disana. Ia memutuskan untuk mendekati yeoja itu lalu menepuk bahunya dengan lembut.

“Daripada kau duduk tidak jelas disini dan mungkin akan ketahuan sonsaengnim kalau kau sedang bolos, lebih baik kau menemani ku kelantai atas. Bantu aku mencari sebuah inspirasi” ucap Myunghae panjang lebar.

Ji Eun sedikit terkejut, baru kali ini ada orang selain keluarganya yang bicara sepanjang dan seakrab itu dengannya. Awalnya ia tidak yakin dan menganggap kalau Myunghae sedang main – main namun ia kembali teringat soal image perfect ketua OSISnya itu. Tidak mungkin Myunghae sedang mengejeknya.

“Kajja! Jangan menatap ku seperti itu kkkkk~”

Myunghae membantu Ji Eun berdiri lalu menggiring yeoja itu untuk pergi bersamanya menuju lantai atas.

Sudah satu jam Myunghae hanya berbaring menatap langit lalu berguling ke kiri dan ke kanan tanpa melakukan apapun. Buku notenya dan pulpen juga masih tergeletak ditempat yang sama, disamping kanan kepala Myunghae.
Ji Eun hanya duduk disampingnya dengan jarak sekitar 50 cm. Yeoja itu sesekali melirik kearah Myunghae. Tampaknya baru kali ini ia melihat Myunghae dengan sikap seperti itu. Biasanya namja itu berjalan dengan penuh wibawa, bicara dengan tegas, bicara dengan lembut dan penuh dengan perhitungan juga selalu tersenyum ramah kepada siapa saja yang ia jumpai.

“Kau… Sebenarnya…”

Myunghae langsung bangun dan duduk lalu menatap Ji Eun dengan takjub.
“Kau bicara pada ku?” tanya Myunghae sambil mengerjapkan matanya dengan heran.

Ji Eun mengangguk dengan perlahan, ada sedikit gerakan ragu disana. Myunghae langsung memeluk yeoja itu dengan senang dan mengacak ujung kepalanya dengan lembut.
“Anak baik! Akhirnya kau bicara juga, aku sedang sibuk mencari inspirasi untuk lagu yang akan ditampilkan dalam drama musikal nanti. Kau tahu? Domus Aurea itu selalu sempurna dan aku akan mempertahankannya. Jadi, apa kau punya ide?”
“Kenapa tidak sesuaikan dengan tema dramanya saja?” tanya Ji Eun dengan suara lemah yang nyaris tidak terdengar seandainya saja pikiran Myunghae tidak ada ditempatnya, untung saja ia sedang dalam keadaan fokus.

“Kau benar!!”

Myunghae tersenyum lalu jemarinya yang panjang dan indah langsung mengambil pulpen dan menuliskan kata – kata manis pada notenya. Sedangkan jari kirinya sibuk mengetuk – ngetuk lantai sebagai tanda kalau ia sedang mencari nada dengan ritme yang tepat.
Ji Eun dengan perlahan mulai nyaman dan tersenyum kecil.

Akhirnya Myunghae selesai dengan lirik lagunya, ia langsung menatap Ji Eun dan memegangi kedua bahu gadis itu dengan riang.
“Lee Ji Eun, kau sangat cerdas!! Bagaimana kalau nama mu ku tulis disini sebagai salah satu pencetus tema? Uhmm… Kalau Lee Ji Eun terlalu biasa… Anggap saja kita mengerjakan ini berdua ok? Jadi apa nama yang tepat untuk mu?”

Myunghae benar – benar banyak bicara dan sangat ceria bila sudah menyangkut masalah kreatifitas dan seni terutama musik, tentunya. Ji Eun menatapnya dengan polos.
“Aku dan kamu?”

Myunghae membulatkan matanya lalu tersenyum senang.
“Sekali lagi kau benar!! Aku dan kau! I and You… I-You? Tunggu!! Tulisannya sangat jelek kalau begini, bagaimana kalau ku tulis huruf I dan U. IU kan bacanya sama dengan I dan You? Itu nama panggung mu, bagaimana?”

Ji Eun sama sekali tidak bermaksud memberikan ide atau semacamnya, ia hanya bertanya namun memang Myunghae yang cukup kreatif kalau bermain dengan huruf. Ia tidak bisa apa – apa selain menerimanya dengan senang hati. Dengan perlahan pandangannya terhadap Myunghae yang tidak bisa berteman dengan siapapun itu berubah. Ia namja menarik yang hangat dan… tampan.

“Jadi akan ku tulis disini Myunghae dan IU. Kau suka kan?” tanya Myunghae lagi untuk meyakinkan dirinya kalau Ji Eun benar – benar setuju, yeoja itu mengangguk lalu tersenyum kecil. Myunghae membalas senyumannya dengan ceria. Ia langsung berdiri dan mengambil alat tulisnya lalu mengantonginya kedalam saku jaketnya.

“Ji Eun, sekarang kita harus kembali kekelas. Penjelasan sonsaengnim soal mata pelajaran itu benar – benar penting dan mempermudahkan kita. Kajja!”

Yeoja itu menatapnya dengan takjub lalu mengangguk, ia berdiri dan mengikuti langkah Myunghae dari belakang.

***

Jiyeon menatap dirinya dicermin besar yang menutupi seluruh dinding ruangan itu. Jiyeon adalah salah satu siswi disekolah seni. Ia berfokus pada dance. Bahkan ia mausk dalam jajaran pelajar terbaik disekolahnya itu.
Jiyeon mengikat rambut panjang indahnya ke atas sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang indah. Ia mengerutkan alisnya lalu menggeleng pelan. Tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.

“Babo!! Aku masih malu karena kejadian kemarin. Kenapa aku bisa seceroboh itu? memukuli orang karena sebuah kesalahpahaman dan di depan umum?! Aish~ Jinjja!!!”

Jiyeon meluruskan kakinya dilantai itu. kemudian ia memutuskan untuk menyudahi latihan dancenya hari ini karena masih ada banyak mata pelajaran yang harus ia kejar. Lagipula ia tidak ingin melaporkan nilai jeleknya pada kedua orangtuanya yang sudah percaya memasukkannya kedalam sekolah seni.

Jiyeon mengemasi barang – barangnya lalu menyampirkan tasnya dibahu kanan dan mengikat tali sepatu ketsnya dengan simpul yang sederhana. Ia menarik nafas dalam lalu keluar dari ruangan itu.

TBC

2 comments

  1. chachavip · July 15, 2012

    hmm.. Suka bgt myungheiu moment disini.. Tapi feelingku yg bakal sama myunghe itu jiyeon deh. Gpp deh,, iu mau di pair sama sapa aja aku suka,, abis cocok semua. Hehhe
    Update soon

  2. Dear Dhiyah · October 3, 2012

    Myunghee Jiyeon y g da ???

Leave your comment and like if you like this story XD

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s